Senin, 21 Mei 2018

Lacak Jejak Pabrik Gula Klampok, Banjarnegara

( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Akhir bulan Juni 2017, Klampok, Banjarnegara. Cahaya matahari pagi itu terasa hangat. Awan kelabu tipis perlahan sirna, berganti dengan kubah langit biru. Cuaca hari itu mendukung penjelajahan saya bersama kawan-kawan Komunitas Banjoemas Heritage ke bekas PG Klampok, satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Banjarnegara.
Lokasi PG Klampok, tak jauh dari pusat pemerintahan distrik Purwareja ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Semua orang tentu tahu bahwa bumi Indonesia tercinta ini dikaruniai Tuhan berupa hamparan tanah subur sehingga hampir segala jenis tanaman dapat tumbuh di sini. Namun kesuburan tanah ini juga menjadi sumber penderitaan rakyat Nusantara selama lebih dari seabad karena bangsa asing seperti Belanda untuk mengeruk kekayaan alam demi keuntungan mereka sendiri. Maka, tidak lama setelah Belanda berhasil memantapkan kekuasaanya di sini, lewat kebijakan cultuurstelsel mereka membuka lahan perkebunan untuk ditanam dengan tanaman bernilai tinggi di pasaran. Salah satunya adalah tebu. Perkebunan tebu mulai dibuka dibarengi dengan pendirian pabrik gula.
Emplasemen PG Klampok awal tahun 1900an ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Di Karesidenan Banyumas, industri gula dirintis oleh PG Kalibagor pada 1830an. Kesuksesan PG Kalibagor kemudian mendorong pengusaha partikelir lain untuk mendirikan PG baru di Karesidenan Banyumas. Salah satunya adalah A.W. de Rijke dari firma patungan De Rijke, Groscamp & Co. Disahkannya UU Liberal pada 1870 yang membuka keran ekonomi tanah kolonial kepada pemodal Belanda tidak disia-siakan oleh de Rijke dan ia sendiri kemudian mendirikan perusahaan Soerabaia Bank en Handels Co. Lewat perusahaan itu, ia mendirikan PG Klampok pada 1880an dan PG Sempalwadak pada 1891. Namun karena memiliki kinerja buruk, PG Klampok dijadikan perusahaan tersendiri di bawah nama N.V. Cultuurmaatschappij Klampok. J.F. de Ruyter de Wildt, administrator pertama PG Klampok tetap berada di kursi jabatannya ( Wiseman,2001; 366 ).
Sisa tembok belakang PG Klampok.

Foto satelit PG Klampok. Keterangan 1 : Bekas lokasi pabrik. 2 : Bekas rumah administrateur. 3 : Deretan eks rumah dinas PG Klampok. 4 : Kantor pos Klampok. 
Tibalah kami di situs PG Klampok. Tiada bangunan pabrik yang besar dengan cerobong yang tinggi menjulang di sana. Satu-satunya yang tersisa dari PG Klampok hanyalah barisan tembok batu-bata tua di belakang pabrik. Di tempat berdirinya PG Klampok kini sudah menjadi gudang semen. Pabrik gula Klampok sendiri sudah lama pupus dan tampaknya dihancurkan di masa pendudukan Jepang. Sungguh tragis sekali nasib pabrik ini. Di masanya, ia adalah pabrik gula paling modern di Jawa karena menjadi pabrik gula pertama yang sudah tereletrikfikasi. Listrik-listrik itu dipakai baik untuk menggerakan mesin ataupun rumah karyawan. Untuk tanah perkebunan, PG Klampok memiliki lahan seluas 3000 bouw. Untuk membawa tebu dari tanah perkebunan ke pabrik, dibuatlah jaringan lori yang panjang totalnya sekitar 140 km, setara dengan jarak Amsterdam Den Haag. Seusai tebu digiling dan diolah menjadi gula, berkarung-karung gula dari PG Klampok diangkut dengan kereta api. Dahulu PG Klampok dilintasi oleh jalur kereta milik perusahaan kereta swasta Serajoe Daal Stoomtram Mij yang stasiunnya berada di sebelah barat pabrik. Keberadaan jalur kereta di dekat pabrik gula Klampok merupakan bentuk simbiosis mutualisme antara perusahaan pemilik pabrik dengan perusahaan jasa kereta. Dengan kereta, hasil olahan pabrik dapat dikirim ke pasaran dengan mudah dan cepat dan perusahaan kereta mendapat keuntungan dari jasa pengangkutan tersebut.

Gubernur Jenderal Hindia-Belanda A.W.F. Idenburg yang pernah mengunjungi PG Klampok tahun 1915.

Kedatangan Gubernur Jenderal ke PG Klampok. Keterangan 1 : Gubernur Jenderal Idenburg. 2 : Administrateur PG Klampok, W. van der Haar. 3 : Residen Banyumas Dove. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Gubernur Jenderal seusai menengok pabrik. Keterangan 1 : Gubernur Jenderal Idenburg. 2 : Administrateur PG Klampok, W. van der Haar. 3 : Residen Banyumas Dove. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
24 Agustus 1915 adalah hari yang teramat istimewa untuk PG Klampok karena pada hari itu, akan ada tamu agung dari Batavia yang berkunjung ke pabrik yang terletak di tepi Sungai Serayu itu. Tamu ini bukan sembarang tamu karena ia adalah orang nomor satu di koloni Hindia-Belanda, Gubernur Jenderal A.W.F Idenburg. Seperti yang diwartakan Weekblad voor Indie terbitan 5 september 1915, lawatan Zijn Execelentie ke PG Klampok didampingi oleh Residen Banyumas saat itu, Doeve dan kepala pabrik, W, van der Haar, dan bupati Banyumas. Setelah mengelilingi pabrik yang baru saja diperbesar tahun 1912 itu, Sebelum pulang, manajemen pabrik memberi cinderamata berupa album foto pabrik.
Salah satu lori PG Klampok ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).

Mesin sentrifugal( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).

Pompa ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Gubernur Jenderal Idenburg begitu puas dan terkesan dengan kinerja PG Klampok yang dalam pandangannya adalah gambaran dari semangat para kapitalis Belanda dalam memajukan industri gula kolonial kala itu. Namun ia mungkin tak tahu, bahwa kemajuan yang diraih industri gula saat itu tak lepas dari peluh derita para petani yang tanah aset mereka direnggut secara halus. Kala itu, para pemodal tidak dapat memiliki tanah namun sebagai gantinya mereka menyewa tanah pada petani. Para petani secara halus dipaksa menanam ladangnya dengan tebu. Pemandangan hamparan hijau tanaman padi, segera berganti dengan lebatnya batang-batang tebu yang tinggi. Nasib para petani yang semula bebas mengurus lahannya, kini berakhir menjadi buruh pabrik gula yang terikat kontrak. Tak jarang masa tanamnya melebihi waktu cocok tanam padi sehingga produksi gula terganggu dan stok beras menipis di pasaran. Dengan pendapatan yang amat kecil, nasib mereka kian sengsara karena mereka masih ditarik pajak yang mencekik.
Gambaran petani tebu yang sedang memulai bercocok tanam ( sumber : media-kitlv.nl ).
Waktu-waktu kejayaan PG Klampok telah habis. Tahun 1930 adalah tahun getir bagi industri gula di Jawa. Meredupnya industri gula tak lepas dari tersungkurnya harga gula di pasaran dunia akibat krisis keuangan atau malaise. Produksi gula diciutkan sehingga banyak pabrik gula yang ditutup pada tahun 1933, salah satunya adalah PG Klampok. Seiring waktu, bangunan pabrik yang pernah dikunjungi oleh Gubernur Jenderal itu pun lenyap dan hanya menyisakan dinding belakangnya saja.





Bekas rumah dinas pegawai PG Klampok.
Kantor pos Klampok.
Walau PG Klampok telah musnah, namun beberapa jejaknya masih dapat dilacak di dekat dulu PG Klampok pernah berdiri yakni, di sekitar lapangan Balai Latihan Kerja Klampok. Di sana masih  berdiri rumah-rumah bergaya Indis peralihan yang diperuntukan pada para tenaga ahli pabrik seperti chemist, machinist, zinder, dan akuntan. Beberapa rumah bagian depannya memang sudah dirombak untuk keperluan tertentu, namun bentuk aslinya. Mengapa rumah-rumah itu dibangun di dekat pabrik ? Sebelumnya perlu dipahami tugas-tugas para pekerja pabrik gula tadi. Chemist adalah karyawan yang ahli dalam menentukan mutu produksi gula. Kemudian machinist berperan dalam perawatan mesin pabrik, baik mesin penggiling atau lori tebu. Sementara itu, tugas pengawasan proses pembibitan, penanaman, dan pemanenan di perkebuan diserahkan kepada Zinder ( Wiseman, 2001; 394-401 ).Dengan kesibukan pegawai yang tiap hari bergumul dengan urusan pabrik, tentu mereka butuh tempat tinggal yang dekat dengan pabrik. Apalagi saat itu kendaraan masih jarang, tidak seperti sekarang dimana para karyawan pabrik dapat tinggal di luar emplasemen pabrik. Sehingga untuk menunjang kinerja pegawai maka kompleks perumahan pegawai pabrik gula zaman Belanda, seperti PG Klampok, selalu dibangun di dekat pabrik.
Bekas rumah adminsitrateur yang kini menjadi kantor BLKP Klampok, Banjarnegara.
Interior rumah administrateur. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Persis di sebelah barat lapangan BLK, terdapat kantor BLKP Klampok. Walau bagian depan sedikit beralih rupa ( beranda depan ditutup dan ditambah kanopi ), namun dinding sampingya tidak bisa menipu jika itu adalah bangunan tua. BLKP Klampok menempati bekas rumah administrateur PG Klampok. Dalam struktur manajemen pabrik gula, administrateur adalah jabatan yang paling tinggi karena dialah yang menjalankan segala urusan dalam pabrik. Salah satu administrateur yang pernah tinggal di situ adalah W. van der Haar. Di masa kepemimpinannya, ia PG Klampok dimutakhirkan dan mendapat kunjungan kehormatan dari Gubernur Jenderal Idenburg.

Bekas makam di dekat PG Klampok.
Pelacakan PG Klampok tak berhenti sampai di bekas pabrik dan kompleks rumah pegawai saja. Sedikit menjauh ke utara, memasuki hutan bambu, kami menjumpai keberadaan beberapa makam Belanda yang jumlahnya tak sampai sepuluh buah. Sayangnya semua prasasti yang semula melekat di makam itu sudah hilang tak diketahui kemana rimbanya. Walhasil kami tidak mengetahui siapa saja yang dimakamkan di sini.

Referensi

Fajar Riadi. 30 Maret 2018. " Cara Penguasa Genjot Produksi Gula" dalam https://historia.id/modern/articles/cara-penguasa-genjot-produksi-gula-P0o5g

Jatmiko W. 28 Desember 2012. "Suikerfabriek Klampok" dalam  http://www.banjoemas.com/2010/10/suikerfabriek-klampok.html

Petrik Matanasi. 7 April 2017. "Swastanisasi Gula, Meliberalkan Jawa" dalam https://tirto.id/swastanisasi-gula-meliberalkan-jawa-cmhe

Suhendra. 7 April 2017. " Pasang Surut Industri Gula Indonesia " dalam https://tirto.id/pasang-surut-industri-gula-indonesia-cmhg

Weekblad voor Indie edisi 5 September 1915.

Wiseman, Roger. 2001. " Three Crises : Management in The Colonial Java Sugar Industry". Tesis. Adelaide : University of Adelaide, Departement of History.

Minggu, 13 Mei 2018

Sejarah Perang Dunia Kedua yang Terpendam di Benteng Pendem Bagelen



30 menit adalah waktu yang saya butuhkan untuk menempuh perjalanan dari Purworejo kota ke situs Benteng Pendem yang tersebar di Desa Bapangsari, Desa Tlogokates, dan Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Dari jalan raya Purworejo-Yogyakarta, saya masih harus melalui jalan kecil yang kira-kira hanya bisa dilalui satu mobil saja.
Pergerakan Jepang di Hindia-Belanda.
Sejarah Benteng Pendem Kalimaro tak bisa dilepaskan dari sejarah kedatangan pasukan Jepang ke Purworejo sebagai bagian dari upaya penaklukan Jepang untuk menduduki koloni-koloni Eropa di Asia Tenggara seperti Hindia-Belanda pada Perang Dunia Kedua. Saat itu, akibat embargo yang dibuat Amerika memaksa Jepang yang miskin SDA untuk menaklukan wilayah Asia Tenggara yang kaya SDA, salah satu yang diincar adalah Hindia-Belanda. Dalam menghadapi peperangan, Hindia-Belanda hanya mengandalkan KNIL ( Koninklijke Nederlands Indische Leger ) yang tak lebih dari penjaga dalam negeri ( Roccher dan Santosa, 2016;176 ). Sementara untuk menghadapi ancaman dari luar, Hindia-Belanda bergantung dengan kerja sama militer dengan AS, Inggris, dan Australia dalam satu komando, ABDACOM dibawah pimpinan Jend. Archibald Wavell.
Kapal penjelajah Jepang, IJN Haguro, kapal inilah yang menenggelamkan HNMLS De Ruyter.


HNMLS De Ruyter, kapal dimana Laksamana Karel Doorman menemui ajalnya.
Setelah menguasai Filipina dan Singapura, terbukalah jalan menguasai Hindia-Belanda. Genderang perang pun segera ditabuh. Dalam rancangan operasinya, dibagi tiga jalur. Jalur pertama dari timur, dengan Maluku dan Timor sebagai sasaran. Jalur kedua dari tengah dengan Kalimantan dan Sulawesi. Jalur ketiga dari barat dengan Sumatera. Setelah ketiga wilayah tadi berhasil dikuasai, Jepang lantas mengincar Jawa yang menjadi pusat pemerintahan dan komando ABDACOM.
Laksamana Karel Doorman, pemimpin armada sekutu yang gugur di Lau Jawa.



Laksamana Takeo Takagi, pemimpin armada Jepang yang berhasil mengalahkan armada Sekutu di Laut Jawa. Sempat memimpin armada Jepang dalam pertempuran Laut Coral sebelum hilang dalam pertempuran Saipan.
Armada Sekutu di Laut Jawa pimpinan Karel Doorman berhasil dibinasakan armada Jepang pimpinan Takeo Takagi dalam pertempuran Laut Jawa. Keunggulan kekuatan udara Jepang menjadi kunci kemenangan mereka. Kekalahan sekutu membuka jalan untuk Jepan dalam penaklukan Jawa( Cribb & Cahin, 2012;206 ). Segera saja pada 1 Maret 1942, secara serentak Jepang mendaratkan pasukannya di Jawa pada tiga tempat berbeda, yakni di Merak, Eretan Wetan dan Kragan untuk menjepit markas ABDACOM di Bandung. Setelah mendarat, Jepang mulai merangsek ke beberapa kota di Jawa dan salah satunya Purworejo. Purworejo diduduki oleh unit Yamamoto yang berada di bawah detasemen Sakaguchi yang mendarat di Kragan. Setelah menduduki Yogyakarta, pada 6 Maret 1942 pagi pukul 04.30 unit Yamamoto bergerak ke barat untuk menyerang Cilacap. Sebelum sampai di Purworejo, unit Yamamoto mendapat perlawanan sengit dari pasukan KNIL dari Batalyon Infanteri Ke 2 yang berjaga di tenggara kota Purworejo. Jepang pun berhasil melumpuhkan Pasukan KNIL. Alhasil, pada pukul 11.00, seluruh Purworejo berhasil dikuasai Jepang dan mereka melanjutkan serangan ke barat ( Angkasa Edisi Koleksi XLIX 2006;90 ).
Peta pergerakan tentara Jepang dalam penaklukan Jawa 1942.


Jenderal Hitoshi Imamura, komandan Angkatan Darat Jepang di Jawa yang sedang mengkoordinir pendudukan Jawa.
Setelah militer Belanda di Jawa ditundukan Jepang, Belanda akhirnya terpaksa mengakui kedigdadayaan Jepang di Kalijati. Selama pendudukan Jepang di Jawa, beberapa bungker berlapis beton dan batang pohon kelapa didirkan di tempat strategis untuk mempertahankan pantai selatan dari pendaratan musuh. Salah satunya di Kalimaro, Bagelen yang berada di selatan gugus perbukitan Menoreh. Dalam penelitian Wiyan Ari Tanjung yang bertajuk Latar Belakang Penempatan dan Fungsi Benteng Pendem Kalimaro Purworejo, disebutkan bahwa tempat itu dipilih karena letaknya yang berada di pucuk bukit memberi kelelusasan pandang bagi pihak bertahan dan sebaliknya musuh akan kesulitan menyerang pihak bertahan yang ada di atasnya. Selain untuk mengantisipasi pendaratan musuh di pantai, Jepang juga menjadikan Benteng Pendem Kalimaro sebagai tempat untuk mengintai jalur perhubungan darat Cilacap-Yogyakarta yang melintasi Bagelen.
Persebaran bunker di Situs Benteng Pendem. Peta dibuat oleh Wiyan Ari Tanjun ( 2008 ).
Sebelum membangun, penduduk yang tinggal di sekitar diharuskan untuk pindah karena lahannya akan dipakai sebagai sarana pertahanan. Penduduk Kalimaro dan sekitarnya, baik yang muda atau tua, dipekerjakan untuk membangun pillbox. Selain itu, mereka juga ditugaskan melapisi jalan menuju kubu dengan batang pohon kelapa karena jalan menuju Kalimaro menjadi becek di kala musim hujan tiba, sehingga pengangkutan logisitik akan terhambat manakala jalan tadi menjadi becek. Penduduk yang ikut bekerja membangun benteng mendapatkan upah tergantung usia dan jenis pekerjaan ( Angkasa XLIX, 2008;91 ).
Pemandangan laut selatan Jawa, tempat dimana Jepang memperkirakan pendaratan Sekutu.
Dengan kubu pertahanan yang sudah dibangun di sepanjang pesisir selatan, Jepang sudah siap menanti kedatangan musuh. Apa daya, musuh yang ditunggu tak kunjung datang. Berbalik dengan pandagan Jepang, Sekutu sadar bahwa pantai selatan walau letaknya lebih dekat dengan Australia bukanlah tempat yang tepat untuk mendaratkan pasukan. Pertahanan yang dibuat Jepang di ujung selatan perbukitan Menoreh itupun sia-sia.
Casemate di situs benteng pendem. Tampak kubah pemantau di atas kubu.
Ruangan di dalam casemate. Keterangan 1 : Ruangan amunisi. 2 : Ruangan komunikasi.


Bekas dudukan meriam.
Akhirnya tibalah saya di situs Benteng Pendem Kalimaro. Di situs itu, saya bersua dengan sebuah kubu beton yang disebut casemate. Casemate adalah kubu meriam yang diberi struktur perlindungan. Di situs ini, terdapat dua buah casemate dengan posisi ketinggian yang berbeda. Saya pun mencoba masuk ke dalam salah satu casemate itu. Sayang, di dindingnya tertoreh coret-coretan hasil dari ulah orang tak bertanggungjawab. Sampah dedaunan berserakan di lantai yang sudah tertimbun tanah. Di dalam casemate, terdapat empat ruang. Ruangan terbesar dipakai sebagai tempat meriam, lalu ada ruang kecil yang dipakai sebagai ruang radio untuk komunikasi, dan di sebelahnya terdapat ruangan tempat menyimpan proyektil. Casemate itu dilengkapi dengan semacam kubah kecil sebagai ruang pemantau.
Lubang intai pada casemate. Dari sinilah pergerakan musuh dipantau.


Pintu masuk salah satu casemate. Tampak bekas pintu masuk yang dibongkar.

Lalu darimana asal sebutan Benteng Pendem ? Disebut Benteng Pendem karena gua-gua itu seperti terpendam tanah. Benteng-benteng beton itu memang sengaja dibuat terpendam dan disamarkan dengan lingkungan sekitar dengan maksud untuk mengelabui pengamatan musuh. Karena tersamarkan, maka tidak menimbulkan bayangan tajam jika dilihat dari udara. Timbunan tanah tadi juga mampu menahan ledakan peluru meriam kapal atau bom pesawat musuh. Untuk memudahkan gerakan pasukan yang bertahan, antar kubu dibuatkan jaringan parit agar mampu bergerak dari satu ke kubu lainnya,misalnya untuk mengisi sektor pertahanan yang terancam, ( Angkasa,86; 2010 ). Selain untuk pergerakan, parit-parit tadi juga dijadikan sebagai tempat menembak yang aman. Namun karena tergerus erosi dan sudah diubah menjadi lahan pertanian, maka parit-parit Benteng Pendem kini sudah tidak tampak lagi wujudnya. Di Pasifik, bunker-bunker seperti benteng pendem cukup ampuh menahan laju serangan sekutu walau pada akhirnya Jepang kalah perang.
Meriam tipe 3 140 mm yang dipakai luas oleh Jepang untuk mempertahankan pantai.
Melihat lubang tembaknya yang lumayan besar, saya memperkirakan jika meriam yang dipakai adalah meriam tipe 3 140 mm yang diperkenalkan tahun 1914 dan sejak saat itu menjadi meriam utama angkatan laut. Dari casemate ini, laras-laras meriam diarahkan ke pantai untuk menyapu musuh yang sedang mendarat. Dengan jarak tembak maksimum hampir 20 km, peluru yang dimuntahkan meriam itu dapat mencapai pantai selatan Purworejo. Meriam-meriam tersebut dirakit di tempat karena ukurannya yang besar sulit di bawa apalagi jika melalui medan perbukitan.


Pillbox-pillbox.


Pintu masuk salah satu pillbox yang sudah terpendam tanah.
Senapan mesin tipe 92 atau Juki, senapan mesin yang digunakan untuk mempertahankan pillbox. Sekutu menjulukinya " Burung Pelatuk" karena suaranya. ( Koleksi Museum Sasmita Loka Bintaran ).
Selain casemate, di beberapa pucuk bukit atau lereng di Desa Bapangsari terdapat pillbox-pillbox, kubu pemantauan yang ukurannya lebih kecil. Karena letaknya itulah, untuk menuju ke sana saya harus bersusah payah mendaki dan menuruni bukit. Belum lagi banyak pillbox yang sudah diselimuti tanaman liar sehingga semakin mempersulit pencarian. Untuk pertahanan, pillbox-pillbox itu dilengkapi dengan persenjataan senapan mesin tipe 92 kaliber 7,7 mm. Senapan mesin itu baru memuntahkan peluru jika musuh sudah masuk dalam jarak 1.500 m dari titik tembak. Kadang mereka menggunakan senapan Arisaka manakala peluru senapan mesin sudah habis. Penempatan pillbox-pillbox itu sudah direncanakan dengan matang, dimana mereka ditempatkan di titik-titik yang diperkirakan akan menjadi jalan prajurit Sekutu bergerak menyerbu posisi mereka, sehingga lawan yang hendak menduduki casemate di puncak bukit dapat dihadang ( Tanjung, 2008; 67 ).


Bunker-bunker yang sengaja dipendam tanah untuk perlindungan.
Bagian dalam salah satu bunker.
Tentara Jepang tinggal di dalam bunker-bunker yang berada di lereng bukit tidak jauh dari casemate untuk mempercepat pergerakan jika terjadi serangan darurat. Bunker itu juga sekaligus menjadi tempat penyimpanan segala keperluan yang diperlukan tentara seperti senjata, amunisi, obat, dan makanan. Logistik didatangkan dari markas di Purworejo yang menempati bekas tangsi KNIL.

( Ilustrasi pendaratan sekutu dari film Letters from Iwo Jima dan Flags of Our Father ) 

Walau hal ini tidak mungkin terjadi, namun saya mencoba membayangkan seandainya Sekutu melakukan pendaratan besar-besaran di pesisir selatan Purworejo. Bayangan saya mungkin sama dengan adegan film Letters from Iwo Jima. Di film itu, digambarkan pasukan Marinir Amerika mulai mendarat di pantai Iwo Jima dengan kendaraan amfibi. Sementara tentara Jepang sudah membuat persiapan terbaik mereka dengan membuat bunker-bunker bawah tanah dan pillbox yang disamarkan. Ketika jumlah pasukan Amerika yang mendarat semakin banyak dan perlahan bergerak maju ke garis depan, tiba-tiba mereka diberi sambutan mengejutkan oleh tentara Jepang berupa rentetan tembakan senapan mesin dan hujan artileri yang ditembakan dari pillbox yang disamarkan. Perlawanan sengit terjadi hingga akhirnya pulau itu jatuh setelah dibombardir dengan pesawat bomber.

Dari 11 bunker yang disebutkan Tanjung dalam penelitiannya, saya hanya menemukan 9 bunker saja. Sementara sisanya gagal saya temukan karena sudah tertutup tanaman liar. Mungkin akan lebih baik lagi jika di situs ini diberi papan petunjuk arah ke setiap bunker sehingga pengunjung umum tidak tersesat manakala menelusuri bunker-bunker di situs ini. Semoga situs yang menjadi saksi sejarah Perang Dunia Kedua dan pendudukan Jepang di Indonesia ini dapat digarap dengan lebih baik lagi.

Referensi

Angkasa. 2010. Marine at The Pacific, Pertempuran Terdahsyat Marinir Sepanjang Sejarah. Jakarta;Penerbit Gramedia.

Angkasa Edisi Koleksi XLIX. 2008. Perang Asia Timur Raya, Kedigdayaan Dai Nippon. Jakarta; Gramedia Majalah.

Crib, Audrey dan Kahin, Audrey.2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok ; Komunitas Bambu.

Wiyan Ari Tanjung. 2008. Latar Belakang Penempatan dan Fungsi Benteng Pendem Kalimaro Purworejo. Skripsi. Yogyakarta; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada

Rabu, 18 April 2018

Benteng Pendem Cilacap, Benteng Terkuat di Hindia-Belanda

Sebuah kapal besar melintas di atas gelombang laut Cilacap, satu-satunya kota bandar yang terdapat di pantai selatan Jawa. Di sanalah ia hendak bersauh sebentar sebelum kembali berlayar ke bandar lain. Di ujung selatan kota bandar itu, terdapat sebuah benteng kuno peninggalan Belanda yang dengan tenang menyaksikan pergantian hari demi hari. Di masa kolonial, ia menyambut kapal-kapal yang hendak bertandang di Cilacap, di masa Perang Dunia Kedua, ia tak bisa berbuat apa-apa ketika bom-bom pesawat Jepang menghujam Cilacap, hari ini, ia menjadi salah satu daya tarik wisata di Cilacap. Benteng itu kini dikenal dengan nama Benteng Pendem Cilacap…
Benteng Pendem dilihat dari maps.google.com.
Suatu siang di bulan Juli tahun 2017, selepas dari Kerkhof Cilacap, saya dan rombongan Banjoemas Heritage bertandang ke Benteng Pendem Cilacap. Tidak seperti benteng pada umumnya, sejatinya tidak ada nama yang jelas untuk benteng ini. Sebutan yang dikenal sekarang merujuk pada struktur benteng yang sengaja dipendam tanah untuk menahan peluru artileri. Benteng Pendem sendiri dalam dokumen lama disebut Kustbatterij op De Lantong te Tjilatjap atau Benteng Pantai di Tanjung Cilacap.
Gambar rancang benteng Pendem berbentuk poligonal.
Benteng Pendem ( Fort ) diletakan di pintu gerbang pelabuhan untuk menghalau kapal usuh,
Berbicara tentang sejarah benteng ini, tentu masih ada persinggungan dengan nilai penting Cilacap di mata Belanda. Lama sebelum orang Eropa menginjakan kaki di Nusantara, pesisir selatan pulau Jawa masih dipandang sebelah mata. Tiada nilai strategis dari wilayah yang berada di luar jalur dagang ini sehingga di sepanjang pesisir ini tak ada satupun kota bandar di sini. Sepinya kapal yang melintas disebabkan oleh kondisi alam yang memiliki ombak besar yang timbul akibat dasar laut yang curam. Sehingga celakalah kapal jika berlabuh di sana. Sebab itulah pesisir selatan lebih tertinggal dibanding pesisir utara bahkan ketika Belanda tibapun pesisir selatan masih terpinggirkan. Saat Belanda mendengar berita mendaratnya  sebuah kapal berbendera Inggris di Nusakambangan, barulah Belanda mengadakan usaha untuk menggali pantai selatan. Salah seorang Belanda, Cornelia Coops kemudian menyelediki pesisir selatan pada 1698. Kendati demikian, Belanda masih enggan mengembangkannya.
Gubernur Jenderal Jean Jacob Roschussen mengembangkan pelabuhan Cilacap untuk kepentingan militer dan ekonomi. Sekembalinya ke Belanda, ia diangkat menjadi Perdana Menter. 
Setelah dipukul tentara Inggris dari pantai utara pada tahun 1811, barulah Belanda sadar perlunya sebuah pintu belakang yang bisa menjadi pintu keluar andaikata mereka diblokade. Di sepanjang selatan Jawa, Cilacap adalah tempat terbaik untuk dijadikan pelabuhan karena terlindung oleh Pulau Nusakambangan dan berada di mulut Sungai Donan yang lebar. Namun keunggulanan tadi juga ada titik lemahnya karena karena tidak menutup kemungkinan dengan keadaan pantainya yang tenang, musuh dapat merintangi perairan Cilacap sehingga sukar bagi kapal Belanda untuk keluar masuk. Selain untuk kepentingan militer, Belanda juga melihat potensi Cilacap yang dapat dikembangkan untuk pelabuhan dagang. Hasil bumi yang berasal dari karesidenan Bagelen dan Banyumas seperti gula, minyak kelapa, tapioka, dan kopra dapat diekspor keluar lebih cepat. Karena itulah sejak masa Gubernur Jenderal J.J. Rochussen ( 1845-1851 ), mulai dibuat perencanaan pembangunan pelabuhan baru Cilacap dan sekitar rentang tahun 1886-1888, pelabuhan itu akhirnya dibangun (Departement of Public Works, 1920; 39 ).


Blockhouse, tempat tentara dapat menembakan senanpannya dengan aman.
Begitu berartinya Cilacap di mata Belanda sehingga pemerintah kolonial beritikad untuk mempertahankan pintu belakangnya yang penting ini. Salah satu langkah yang ditempuh untuk mengamankan Cilacap adalah dengan menempatkan benteng tepat di gerbang masuk Cilacap. Setelah mendirikan Benteng Klingker dan Benteng Karangbolong di Nusakambangan, didirikanlah sebuah benteng baru yang lebih kuat di tanjung Cilacap pada tahun 1861 ( Kemendkibud, 2014; 144 ).
Pintu masuk benteng. Benteng Pendem dahulu dilengkapi dengan jembatan angkat.
Parit dan dinding Benteng Pendem. Di bagian dinding tampak celah yang dipakai sebagai lubang  tembak.



Parit pelindung benteng


Kamipun kemudian menyusur beberapa bagian benteng yang kini tinggal separo saja. Sisi utara benteng disisihkan untuk menjadi area tangki minyak. Di kala benteng ini masih utuh, apabila dipandang dari udara, maka Benteng Pendem terlihat seperti sebuah bintang. Untuk perlindungannya, benteng ini dilindungi dengan parit dan tanggul tanah. Pada masa pembangunan benteng pendem, lahir teknologi explosive shells yang langsung meledak begitu peluru menghantam target sehingga dinding bata tebal langsung rubuh akibat ledakan. Sebagai tanggapan dari teknologi explosive shells para insinyur zeni menyempurnakan benteng pertahanan dengan benteng berbentuk poligon. Dinding-dinding bata diganti dengan gundukan tanah tebal. Parit diperdalam kemudian sisi-sisinya tidak lagi landai tapi tegak lurus. Benteng Pendem diperkuat lagi dengan blockhouse atau rumah tembak prajurit. Saat itu, prajurit KNIL dibekali dengan senapan standar infanteri buatan Belgia-Belanda karya Edouard de Beaumont tahun 1871.
Barak prajurit yang dibangun tahun 1871.


Lapangan di tengah benteng.


Untuk kebutuhan air, benteng pendem dilengkapi sumur yang berada di dalam tembok benteng, sehingga kebutuhan air bersih tetap ada walau benteng pendem dikepung.
Kami kemudian sampai di ruang barak. Para prajurit benteng tinggal di barak berupa 14 kamar tidur yang berderet memanjang. Pada salah satu kamar, tertoreh sengkalan “1871”, tahun barak itu dibangun. Para prajurit KNIL yang dulu bermarkas di sini mendapat fasilitas yang berbeda. Untuk prajurit Eropa, mereka mendapat selimut katun tebal. Sementara prajurit bumiputra diberi sarung yang diberi cap khusus agar tidak tertukar ( Rocher dan Santosa, 2016;14 ). Agar tidak terjadi pemberontakan dari tentara bumiputra, kamar kompi serdadu Eropa dibuat terpisah namun dalam jarak yang dekat. Dalam buku Forts in Indonesia diuraikan bahwa barak itu dipakai sebentar saja gara-gara pecah wabah malaria yang menjangkiti prajurit di dalam benteng dan mengakibatkan korban jiwa. Letak benteng yang berada di pesisir yang lembab menjadi kerajaan nyamuk-nyamuk Anopheles. Setelah Cilacap terhubung dengan jalur kereta pada 1888, buru-buru prajurit meninggalkan benteng maut itu dan pindah ke garnisun di pedalaman yang lebih sehat.
Ruang perwira.


Pintu gerbang benteng,



Ruang penjara.


Ruang klinik.


Gudang amunisi.


Ruang akomodasi.
Dari ruang barak, kami beranjak ke bagian tengah benteng. Di sana terdapat ruang terbuka dan ruang-ruang dengan kegunaaan tertentu yang mengitari lapangan tadi. Ruang-ruan tadi meliputi ruang penjara, ruang akomodasi, gudang senjata, gudang amunisi, dan klinik. Agar susah diincar, maka ruang-ruang tadi dipendam tanah. Dari situlah sebutan Benteng Pendem berasal.
Tangga menuju bagian atas benteng.


Bekas tempat meriam.
Kustbateri atau Coastal Batterij atau bateri pantai Cilacap adalah puncak teknologi pertahanan yang pernah dibangun Belanda di Indonesia. Sebagai sebuah bateri, meriam yang dipasang di benteng pendem lebih banyak jumlahnya dibanding benteng biasa. Dengan meriam berkaliber 25 cm, benteng ini siap meladeni musuh yang hendak mendarat di Cilacap. Satu meriam pantai setara kekuatannya dengan tiga meriam kapal perang. Kuatnya pertahanan ini tentu bertalian dengan pentingnya Cilacap di mata Belanda karena Cilacap menjadi satu-satunya penghubung mereka dengan dunia luar jika suatu saat terjadi hal buruk di Jawa.
Bekas tempat meriam yang dibangun menjelang Perang Dunia Kedua.
Setelah ditinggalkan pada tahun 1888 silam, menjelang kemelut Perang Dunia Kedua, Belanda kembali memakai benteng ini. Kali ini benteng pendem diperkuat dengan teknologi pertahanan terakhir berupa meriam turret yang dilindungi kubu dari beton, bahan bangunan yang sudah dikenal pada saat itu dan lebih kuat ketimbang bata. Batalyon Pantai dan Pertahanan Udara 6 di bawah komando brigade Cilacap bertugas di benteng ini. Saat Perang Dunia Kedua meletus, benteng ini sempat berjumpa dengan kapal perang berbendera Amerika, USS Houston, pada bulan Februari 1942 dan ternyata itu adalah perjumpaan terakhirnya karena satu bulan kemudian, kapal itu gugur di Selat Sunda. Bom-bom yang dijatuhkan dari udara oleh pesawat Mitsubishi G3M  milik Jepang jelas tak bisa dilawan benteng yang lebih berfokus ke pesisir bukan ke udara. Walau sudah diperkuat kembali, pada akhirnya benteng itu gagal melindungi kota Cilacap dari serbuan musuh yang lebih mutakhir persenjataanya.

Referensi
Departement of Public Works. 1920. Netherland East India Harbours. Singapore: C.A. Riberio & Co.

Junearto, Wendy Fansiya. 2014. Fungsi Benteng Peninggalan Belanda di Kabupaten Cilacap : Pendekatan Lokasional, Yogyakarta; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Skripsi.

Rocher, Jean dan Iwan Santosa. 2016. KNIL ; Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Perancis. Jakarta; Penerbit Kompas

Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.