Sabtu, 07 Juli 2018

Kelam Kerkhof Purbalingga


Sore itu, derau suara kendaraan yang melintas di jalan sedikit mengurangi suasana senyap kerkhof Purbalingga,  tempat dikuburkannya jenasah orang-orang Belanda yang tutup usia di Purbalingga. Walau suasana kerkhof mulai gelap, namun hal tersebut lantas tak mengurangi rasa penasaran saya dan kawan-kawan dari Banjoemas Heritage menegnai salah satu jejak kolonial di Purbalingga ini.

Keadaan kerkhof Purbalingga saat ini.
Berbicara tentang sebutan kerkhof; sebutan untuk makam-makam Belanda di Indonesia, sebutan ini asalnya dari gabungan dua kata Belanda, yakni Kerk yang berarti gereja dan hof(f) yang berarti halaman. Oleh karena itu kerkhof dapat diartikan sebagai halaman gereja. Hal ini merujuk pada kebiasaan masyarakat Eropa Barat di pedesaan yang menguburkan sanak saudara mereka di halaman gereja. Gereja menjadi pilihan tempat penguburan karena halaman gereja dianggap suci dan pada abad ke-16 gereja, menjadi titik fokus yang penting dalam kehidupan masyarakat di pedesaan, sehingga untuk menunjukan keberlangsungan suksesi kepada khalayak, maka jasad keluarga yang telah tiada dikuburkan di halaman gereja ( Kerrigan, 2017; 141 ). 
Letak kerkhof Purbalingga.
Namun kebiasaan itu kemudian mulai pudar setelah populasi penduduk kian meningkat. Halaman gereja mulai penuh sesak dengan makam-makam dan nyaris tiada tempat untuk jasad baru. Sementara itu wabah penyakit yang biang keladinya berasal dari jasad yang kurang dikubur dalam di halaman gereja, secara ganas meluas lewat perantara umat yang baru saja menghadiri ibadah di gereja. Para ahli kesehatan pun segera menganjurkan agar pemerintah membuka lahan makam baru yang letaknya agak jauh dari permukiman ( Kerrigan, 2017; 145 ). Pada akhirnya, orang-orang Eropa kembali mengulang kebiasaan lama dari zaman Romawi, yakni membuat permakaman di di sebelah jalan utama di luar kota dan kerkhof Purbalingga adalah wujud dari gagasan ini.




Bentuk-bentuk pusara di kerkhof ini nyaris seragam dan tiada yang tampak istimewa. Bentuknya cenderung kaku dan minim pernak-pernik seperti patung atau ukiran ornamen. Ukurannya pun juga tak besar-besar amat. Walau demikian, besar kecilnya sebuah pusara tak mengurangi peran pusara itu sebagai sebuah monumen, monumen untuk keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Lapisan luarnya tampak baru saja diperbaiki, tanda bahwa pemerintah di sini masih cukup peduli dengan keberadaan kerkhof Purbalingga.
Makam Wilhelmine Hoff.
Kusam pada makam-makam ini menciptakan nuansa kelam pada Kerkhof Purbalingga. Dimanapun itu, yang namanya permakaman pasti lekat dengan nuansa kelam, muram, dan duka. Hal itu tak lepas dari fungsi permakaman sebagai tempat menguburkan jasad yang sudah meninggal. Karena itulah seni yang terlihat pada makam tak jauh-jauh dari urusan maut seperti makam milik Wilhelmine Hoff. Bentuknya sekilas seperti sebuah tiang patah, yang dalam seni permakaman ( funerary art ) merupakan makna dari putusnya kehidupan di dunia dan simbol duka.



Makam yang telah diberi nomor.
Di kerkhof ini, saya mendapati makam-makam yang diberi nomor, tanda bahwa kerkhof Purbalingga di masa lalu sudah diatur dengan baik. Pengaturan kaveling makam dirintis oleh pemakaman Kensal Green di Inggris sejak era Victoria ( 1830an hingga 1900an ). Selain mengatur kaveling makam, pengelola Kensal Green juga menyediakan jalan ke arah pemakaman yang dapat dilalui oleh kereta jenazah. Model pemakaman Kensal Green kemudian ditiru oleh penyedia jasa pemakaman baik yang dikelola swasta, pemerintah, ataupun gereja. Selain menyediakan kaveling makam, pengelola makam juga menyediakan kereta jenazah, peti mati, dan jasa perawatan makam ( Kerrigan, 2017; 147-148 ).
Bangunan yang tampaknya dipakai sebagai tempat persemayaman jenasah sebelum dikubur.
Kerkhof Purbalingga memiliki sebuah bangunan kecil yang mungkin saja dulunya adalah tempat jenazah disemayamkan sebelum dimasukan ke liang lahat. Fungsinya hampir mirip dengan rumah duka. Membincangkan kerkhof tentu tak lepas dari tata upacara kematian. Peraturan mengenai tata upacara kematian diterbitkan dalam Java Courant 1 Juli 1846. Disebutkan dalam peraturan itu, bahwa upacara pemakaman dapat dilakukan sesudah pukul enam malam. Dalam buku Kebudayaan Indis, Djoko Soekiman menerangkan bahwa adalah suatu keagungan bila penguburan diadakan di malam hari, ketika matahari sudah terbenam. Aura duka pada upacara pemakaman terasa kental dengan penerangan dari cahaya lilin dan obor yang seringkali dibawa dalam jumlah banyak, tidak peduli dengan harga lilin dan minyak yang saat itu cukup mahal. Karena dilakukan pada saat hari sudah gelap, pidato belasungkawa ditiadakan. Lagipula orang yang sudah hadir di pemakaman sejak pukul 6 sore sudah kelelahan dan malah ada yang mencemaskan kehadiran roh jahat penghuni kuburan ( Soekiman, 2014; 129 ).
Salah satu nisan di kerkhof Purbalingga.
Karena faktor usia dan cuaca, beberapa batu nisan sudah tak bisa terbaca. Batu nisan dar marmer yang semula putih bersih berubah menjadi sedikit kehitaman akibat kerak jamur yang menempel. Pada permulaan masa kolonial, batu-batu nisan didatangkan dari Coromandel, dari jenis batuan arduin biru atau kunsteen biru. Hiasan sesuluran dipahatkan pada tepi batu nisan, sementara di atas nama si mati dipahatkan hiasan lambang keluarga yang dibingkai karangan bunga. Memasuki abad ke-19, batu nisan yang dipakai pada kerkhof mengalami perubahan. Pahatan hiasan pada batu nisan menjadi jarang. Batu yang dipakai merupakan batu marmer putih yang ditambang dari Gunung Carrara, Italia.

Berdasarkan makam tertua di kerkhof ini, yakni makam A.J. Vincent dan Claudien van Haak, kerkhof Purbalingga sudah ada sejak tahun 1865. Pada abad ke-19, abad saat, pemerintah kolonial di tingkat lokal mulai getol membuka lahan makam di wilayah pinggiran yang tanahnya masih luas. Lahan makam ini tentunya diperuntukan bagi warga Belanda atau campuran. Yang menarik adalah keberadaan makam perempuan di kerkhof ini. Di masa itu,jumlah perempuan Eropa masih terbatas di Hindia-Belanda. Para penguasa masa kolonial pada mulanya terdiri dari orang militer, pedagang, dan aparat pemerintah. Mereka datang tanpa anak atau isteri dikarenakan perjalanan laut waktu itu dari Belanda sampai Nusantara sangat lama dan berbahaya. Setelah ada jaminan keamanan pada perjalanan laut, apalagi setelah dibuknya terusan Suez yang mempersingkat waktu tempuh pelayaran, maka perempuan-perempuan kulit putih mulai berdatangan ke Hindia-Belanda ( Soekiman, 2012;24-25 ).


Referensi

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis, dari zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok : Komunitas Bambu.

Kerrigan. Michael, 2017, Sejarah Kematian ; Tradisi Penguburan dan Ritus-ritus Pemakaman dari Zaman Kuno sampai Zaman Modern. Jakarta : Elex Media Computindo.

Jatmiko. W. 3 April 2011. Kuburan Belanda Purbalingga dalam https://www.banjoemas.com/2011/04/kuburan-belanda-purbalingga.html

Selasa, 26 Juni 2018

Memandang Stasiun Tawang, Stasiun Terelok di Hindia-Belanda.

Suatu hari di Semarang, saya memandang sebuah bangunan kuno yang begitu cantik dengan atap kubahnya, bangunan yang sama dengan yang dipandang oleh seorang wartawan dari warta harian Bataviaasch Nieuwsblad pada hari bangunan itu diresmikan 100 tahun silam. Keesokan harinya, wartawan tadi menyanjung bangunan yang kemarin ia pandang sebagai stasiun terelok di Hindia-Belanda. Ya, bangunan yang saya sedang saya pandang saat ini adalah Stasiun Tawang nan jelita. 
Bangunan utama Stasiun Tawang.
Stasiun Tawang, nama yang sudah tidak asing di telinga warga Semarang, terutama untuk mereka yang sering berpergian dengan kereta. Sudah lebih dari seabad Stasiun Tawang senantiasa melayani penumpang setiap hari dalam sepanjang tahunnya. Ia hanya libur ketika lantai stasiunnya tergenang banjir rob, fenomena alam yang menjadi permasalahan wilayah Semarang bawah.  Secara administratif, Stasiun ini beraa di kelurahan Tanjung Mas, kecamatan Semarang Utara, kota Semarang dan berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia ( Persero ) Daerah Operasional IV Semarang.
Stasiun Tawang pada tahun 1920 ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Memandang dari sisi sejarah, stasiun yang memiliki bentang panjang 175 meter ini adalah stasiun kedua yang dibangun oleh Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij di Semarang setelah Stasiun Samarang NIS di desa Kemijen. Usia kedua stasiun milik perusahaan ini terpaut cukup jauh. Stasiun Samarang NIS dibangun pada tahun 1867 dan menjadikannya sebagai stasiun kereta tertua di Hindia-Belanda. Sementara itu, Stasiun Tawang baru dibangun pada tahun 1911 untuk menggantikan Stasiun Samarang NIS yang dirasa sudah kurang mumpuni untuk pelayanan penumpang. Tidak seperti Stasiun Samarang NIS di Desa Kemijen yang letaknya berada dekat dengan pelabuhan, letak Stasiun Tawang dipilih di sebelah utara kawasan Kota Lama yang saat itu menjadi jantung niaga Semarang. Tujuannya tentu saja agar bisa menjaring lebih banyak penumpang. Saat itu, wilayah utara kota lama masih berupa tanah rawa sehingga mau tak mau para insinyur harus bergelut dengan kondisi tanah labil yang dapat mengancam konstruksi bangunan. Mereka akhirnya mengakali permasalahan tersebut dengan cara membuat suatu landasan plat beton dan selama beberapa bulan plat ini diberi beban dua kali massa bangunan. Setelah dirasa cukup barulah di atasnya didirikan bangunan beton bertulang dengan empat kolom yang memikul atap kubah. Kendati demikian, agar seluruh bangunan tak turut ambles ke bawah, maka bagian sayap kiri dan kanan stasiun dipisahkan dari konstruksi bangunan utama.
Stasiun Tawang beberapa bulan setealh diresmikan ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Tatkala matahari mulai menapaki langit pada hari pertama bulan Juni 1914, cahaya paginya menyingkap sebuah bangunan stasiun yang baru saja selesai sebulan sebelumnya. Pada siang harinya, stasiun ini ramai dengan orang-orang yang hendak menyaksikan upacara peresmian. Di antara mereka terdapat pejabat pemerintah dan pembesar N.I.S. Setelah diresmikan, stasiun itu kemudian diberi nama Stasiun Tawang. Dengan penuh rasa kagum mereka yang hadir memandang keindahan bangunan stasiun rancangan arsitek Ir. Sloth-Blauwbower itu. Sebelum dirancang, sang arsitek diberi masukan oleh direksi N.I.S agar merancang sebuah bangunan stasiun yang tak perlu terlampau megah ukurannya namun tidak boleh terlihat hambar. Hasilnya sangat memuaskan. Khalayak begitu antusias ketika stasiun itu resmi dibuka dan para wartawan yang hadir menyanjung keindahan stasiun baru itu dalam surat warta yang terbit keesokan harinya. Grooste en Moosite, termegah dan terelok. Begitulah harian Batviaasch Nieuwsblad edisi 2 Juni 1914 menyanjung bangunan stasiun ini.
Panorama Kota Lama dari udara, tampak bangunan Stasiun Tawang di sebelah utara ( sumber : media-kitvlv.nl ).
Stasiun Tawang diresmikan di waktu yang tepat karena pada waktu yang sama, pemerintah kolonial sedang mengerahkan segala daya upaya untuk menggelar pameran akbar Koloniaale Tentoostelling di Semarang dalam rangka menyongsong seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis; sebuah ironi karena pameran untuk memperingati kemerdekaan dari penjajah justru digelar di tanah jajahan. Pameran tersebut ditaksir akan dibanjiri pengunjung dari berbagai penjuru mengingat pameran itu baru kali pertama digelar di Hindia-Belanda. Sebab itulah dibukanya Stasiun Tawang disambut dengan antusias oleh pemernitah kolonial karena hal itu sangat membantu kelancaran perhelatan penting mereka. Berbincang mengenai akhir pameran Koloniaale Tentoosteling, pameran yang sedianya menjadi ajang pemerintah kolonial memamerkan tanah jajahan mereka kepada masyarakat dunia berakhir dengan kerugian pasalnya di daratan Eropa pecah perseteruan besar antar kerajaan kuat di Eropa. Sejarah mengenal perseteruan itu sebagai Perang Dunia Pertama. Memang kerajaan Belanda tidak terseret dalam pusaran perang keji ini, namun situasi keamanan global yang sedang bergolak membuat orang enggan untuk pergi jauh. Walau gelaran Koloniaale Tentoostelling telah usai namun bukan berarti stasiun ini kembali sepi. Sebaliknya Stasiun Tawang justru lekas menjadi stasiun kereta teramai di Semarang. Hal ini karena Stasiun Tawang merupakan batu pijakan pertama untuk memasuki wilayah Vorstenlanden dan pedalaman Jawa Tengah yang kaya dengan perkebunan dan sarana militer.
Bangunan sayap Stasiun Tawang.
Rangka atap.
Keindahan Stasiun Tawang terlihat sepadan dengan gedung Lawangsewu, kantor dari perusahaan N.I.S.M yang menjalankan stasiun ini dan kedua bangunan ini menjadi simbol kejayaan N.I.S.M sebagai sebuah maskapai kereta di zamannya. Stasiun Tawang dimahkotai oleh sebuah kubah yang bertengger di puncaknya. Sementara fasad depannya terlihat menawan dengan tiga kaca jendela besar yang di atasnya diberi dekorasi. Dekorasi itu menampilkan roda kereta bersayap, simbol perusahaan N.I.S. Di bawahnya, terdapat kanopi yang cukup lebar. Kegunaanya ialah untuk menghalau terik matahari dan hujan masuk ke dalam pintu masuk stasiun.
Tiang penopang.

Cupola.


Relief perunggu buatan Willem Brouwer.
Relief roda bersayap.
Masuk ke dalam bangunan utama, kumandang lagu Gambang Semarang mengalir merdu di dalam bangunan yang menjadi ruang tunggu penumpang itu. Ruang tunggu setinggi 20 meter ini begitu memikat mata ketika cahaya matahari menembus kaca cupola yang berada di atas atap. Dengan disokong oleh empat tiang penopang, bangunan ruang tunggu ini tampak begitu kokoh. Relief perunggu karya Willem Brouwer turut andil dalam memperelok interiornya. Relief tersebut menampilkan lokomotif uap yang sedang menempuh perjalanan. Dahulu tulisan, N.I.S pernah terpampang pada salah satu relief namun tulisan tersebut kini sudah terhapus. Walau sudah terjadi beberapa perubahan demi mengikuti tuntutan zaman, namun kekunoan Stasiun Tawang belum hilang.
Peron Stasiun Tawang.
Hari itu, Rutinitas Stasiun Tawang berlangsung seperti biasa. Berbagai kereta dari berbagai arah datang dan pergi, mengisi dan meninggalkan stasiun. Stasiun ini dapat dikatakan stasiun yang super sibuk karena hampir semua kereta penumpang yang melintasi jalur utara singgah di sini.  Dalam sehari, stasiun ini bisa disinggahi lebih dari selusin kereta seperti kereta Majapahit, Kertajaya, Sembrani, Matarmaja, Argo Bromo Anggrek, Menoreh, Ambarawa Ekspress, Kalijaga, Kamandaka, dan lain sebagainya. Deru suara mesin lokomotif yang singgah di antara keenam jalur aktifnya masih setia menggetarkan dinding stasiun. Bedanya jika dulu kala suara mesin uap yang mengisi udara stasiun, kini suara itu sudah tergantikan dengan gemetar suara mesin diesel.

Eksterior Stasiun Tawang.
Interior Stasiun Tawang tempo dulu. Bagian ini adalah ruang tunggu penumpang kelas satu ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Selain ruangan kantor dan ruang tunggu penumpang, Stasiun Tawang dahulu memiliki beberapa fasilitas yang memanjakan penumpang. Untuk memberi pelayanan ekstra bagi pengguna jasa mereka, N.I.S menyiapkan tiga konter loket di dalam. N.I.S juga menyediakan sebuah kios buku dan koran di bagian ruang tunggu penumpang. Menariknya lagi, Stasiun Tawang untuk pertama kalinya menyediakan salon serta kamar mandi yang terpisah untuk wanita. Sembari menunggu kedatangan kereta, para penumpang dapat menikmati hidangan yang disajikan oleh restoran kelas satu di Semarang, Restaurant Smabers. Slogan “pembeli adalah raja” secara sungguh-sungguh diterapkan oleh N.I.S pada stasiun terelok mereka ,Stasiun Tawang, yang keelokannya masih terpancar sampai hari ini.

Referensi
Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Stasiun Kereta Api; Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten ; Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Het Nieuwe N.I.S-station te Semarang. Bataviaasch Nieuwsblad 2 Juni 1914, No.149

iem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij

Senin, 21 Mei 2018

Lacak Jejak Pabrik Gula Klampok, Banjarnegara

( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Akhir bulan Juni 2017, Klampok, Banjarnegara. Cahaya matahari pagi itu terasa hangat. Awan kelabu tipis perlahan sirna, berganti dengan kubah langit biru. Cuaca hari itu mendukung penjelajahan saya bersama kawan-kawan Komunitas Banjoemas Heritage ke bekas PG Klampok, satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Banjarnegara.
Lokasi PG Klampok, tak jauh dari pusat pemerintahan distrik Purwareja ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Semua orang tentu tahu bahwa bumi Indonesia tercinta ini dikaruniai Tuhan berupa hamparan tanah subur sehingga hampir segala jenis tanaman dapat tumbuh di sini. Namun kesuburan tanah ini juga menjadi sumber penderitaan rakyat Nusantara selama lebih dari seabad karena bangsa asing seperti Belanda untuk mengeruk kekayaan alam demi keuntungan mereka sendiri. Maka, tidak lama setelah Belanda berhasil memantapkan kekuasaanya di sini, lewat kebijakan cultuurstelsel mereka membuka lahan perkebunan untuk ditanam dengan tanaman bernilai tinggi di pasaran. Salah satunya adalah tebu. Perkebunan tebu mulai dibuka dibarengi dengan pendirian pabrik gula.
Emplasemen PG Klampok awal tahun 1900an ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Di Karesidenan Banyumas, industri gula dirintis oleh PG Kalibagor pada 1830an. Kesuksesan PG Kalibagor kemudian mendorong pengusaha partikelir lain untuk mendirikan PG baru di Karesidenan Banyumas. Salah satunya adalah A.W. de Rijke dari firma patungan De Rijke, Groscamp & Co. Disahkannya UU Liberal pada 1870 yang membuka keran ekonomi tanah kolonial kepada pemodal Belanda tidak disia-siakan oleh de Rijke dan ia sendiri kemudian mendirikan perusahaan Soerabaia Bank en Handels Co. Lewat perusahaan itu, ia mendirikan PG Klampok pada 1880an dan PG Sempalwadak pada 1891. Namun karena memiliki kinerja buruk, PG Klampok dijadikan perusahaan tersendiri di bawah nama N.V. Cultuurmaatschappij Klampok. J.F. de Ruyter de Wildt, administrator pertama PG Klampok tetap berada di kursi jabatannya ( Wiseman,2001; 366 ).
Sisa tembok belakang PG Klampok.

Foto satelit PG Klampok. Keterangan 1 : Bekas lokasi pabrik. 2 : Bekas rumah administrateur. 3 : Deretan eks rumah dinas PG Klampok. 4 : Kantor pos Klampok. 
Tibalah kami di situs PG Klampok. Tiada bangunan pabrik yang besar dengan cerobong yang tinggi menjulang di sana. Satu-satunya yang tersisa dari PG Klampok hanyalah barisan tembok batu-bata tua di belakang pabrik. Di tempat berdirinya PG Klampok kini sudah menjadi gudang semen. Pabrik gula Klampok sendiri sudah lama pupus dan tampaknya dihancurkan di masa pendudukan Jepang. Sungguh tragis sekali nasib pabrik ini. Di masanya, ia adalah pabrik gula paling modern di Jawa karena menjadi pabrik gula pertama yang sudah tereletrikfikasi. Listrik-listrik itu dipakai baik untuk menggerakan mesin ataupun rumah karyawan. Untuk tanah perkebunan, PG Klampok memiliki lahan seluas 3000 bouw. Untuk membawa tebu dari tanah perkebunan ke pabrik, dibuatlah jaringan lori yang panjang totalnya sekitar 140 km, setara dengan jarak Amsterdam Den Haag. Seusai tebu digiling dan diolah menjadi gula, berkarung-karung gula dari PG Klampok diangkut dengan kereta api. Dahulu PG Klampok dilintasi oleh jalur kereta milik perusahaan kereta swasta Serajoe Daal Stoomtram Mij yang stasiunnya berada di sebelah barat pabrik. Keberadaan jalur kereta di dekat pabrik gula Klampok merupakan bentuk simbiosis mutualisme antara perusahaan pemilik pabrik dengan perusahaan jasa kereta. Dengan kereta, hasil olahan pabrik dapat dikirim ke pasaran dengan mudah dan cepat dan perusahaan kereta mendapat keuntungan dari jasa pengangkutan tersebut.

Gubernur Jenderal Hindia-Belanda A.W.F. Idenburg yang pernah mengunjungi PG Klampok tahun 1915.

Kedatangan Gubernur Jenderal ke PG Klampok. Keterangan 1 : Gubernur Jenderal Idenburg. 2 : Administrateur PG Klampok, W. van der Haar. 3 : Residen Banyumas Dove. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Gubernur Jenderal seusai menengok pabrik. Keterangan 1 : Gubernur Jenderal Idenburg. 2 : Administrateur PG Klampok, W. van der Haar. 3 : Residen Banyumas Dove. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
24 Agustus 1915 adalah hari yang teramat istimewa untuk PG Klampok karena pada hari itu, akan ada tamu agung dari Batavia yang berkunjung ke pabrik yang terletak di tepi Sungai Serayu itu. Tamu ini bukan sembarang tamu karena ia adalah orang nomor satu di koloni Hindia-Belanda, Gubernur Jenderal A.W.F Idenburg. Seperti yang diwartakan Weekblad voor Indie terbitan 5 september 1915, lawatan Zijn Execelentie ke PG Klampok didampingi oleh Residen Banyumas saat itu, Doeve dan kepala pabrik, W, van der Haar, dan bupati Banyumas. Setelah mengelilingi pabrik yang baru saja diperbesar tahun 1912 itu, Sebelum pulang, manajemen pabrik memberi cinderamata berupa album foto pabrik.
Salah satu lori PG Klampok ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).

Mesin sentrifugal( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).

Pompa ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Gubernur Jenderal Idenburg begitu puas dan terkesan dengan kinerja PG Klampok yang dalam pandangannya adalah gambaran dari semangat para kapitalis Belanda dalam memajukan industri gula kolonial kala itu. Namun ia mungkin tak tahu, bahwa kemajuan yang diraih industri gula saat itu tak lepas dari peluh derita para petani yang tanah aset mereka direnggut secara halus. Kala itu, para pemodal tidak dapat memiliki tanah namun sebagai gantinya mereka menyewa tanah pada petani. Para petani secara halus dipaksa menanam ladangnya dengan tebu. Pemandangan hamparan hijau tanaman padi, segera berganti dengan lebatnya batang-batang tebu yang tinggi. Nasib para petani yang semula bebas mengurus lahannya, kini berakhir menjadi buruh pabrik gula yang terikat kontrak. Tak jarang masa tanamnya melebihi waktu cocok tanam padi sehingga produksi gula terganggu dan stok beras menipis di pasaran. Dengan pendapatan yang amat kecil, nasib mereka kian sengsara karena mereka masih ditarik pajak yang mencekik.
Gambaran petani tebu yang sedang memulai bercocok tanam ( sumber : media-kitlv.nl ).
Waktu-waktu kejayaan PG Klampok telah habis. Tahun 1930 adalah tahun getir bagi industri gula di Jawa. Meredupnya industri gula tak lepas dari tersungkurnya harga gula di pasaran dunia akibat krisis keuangan atau malaise. Produksi gula diciutkan sehingga banyak pabrik gula yang ditutup pada tahun 1933, salah satunya adalah PG Klampok. Seiring waktu, bangunan pabrik yang pernah dikunjungi oleh Gubernur Jenderal itu pun lenyap dan hanya menyisakan dinding belakangnya saja.





Bekas rumah dinas pegawai PG Klampok.
Kantor pos Klampok.
Walau PG Klampok telah musnah, namun beberapa jejaknya masih dapat dilacak di dekat dulu PG Klampok pernah berdiri yakni, di sekitar lapangan Balai Latihan Kerja Klampok. Di sana masih  berdiri rumah-rumah bergaya Indis peralihan yang diperuntukan pada para tenaga ahli pabrik seperti chemist, machinist, zinder, dan akuntan. Beberapa rumah bagian depannya memang sudah dirombak untuk keperluan tertentu, namun bentuk aslinya. Mengapa rumah-rumah itu dibangun di dekat pabrik ? Sebelumnya perlu dipahami tugas-tugas para pekerja pabrik gula tadi. Chemist adalah karyawan yang ahli dalam menentukan mutu produksi gula. Kemudian machinist berperan dalam perawatan mesin pabrik, baik mesin penggiling atau lori tebu. Sementara itu, tugas pengawasan proses pembibitan, penanaman, dan pemanenan di perkebuan diserahkan kepada Zinder ( Wiseman, 2001; 394-401 ).Dengan kesibukan pegawai yang tiap hari bergumul dengan urusan pabrik, tentu mereka butuh tempat tinggal yang dekat dengan pabrik. Apalagi saat itu kendaraan masih jarang, tidak seperti sekarang dimana para karyawan pabrik dapat tinggal di luar emplasemen pabrik. Sehingga untuk menunjang kinerja pegawai maka kompleks perumahan pegawai pabrik gula zaman Belanda, seperti PG Klampok, selalu dibangun di dekat pabrik.
Bekas rumah adminsitrateur yang kini menjadi kantor BLKP Klampok, Banjarnegara.
Interior rumah administrateur. ( sumber : Weekblad voor Indie 25 September 1915 ).
Persis di sebelah barat lapangan BLK, terdapat kantor BLKP Klampok. Walau bagian depan sedikit beralih rupa ( beranda depan ditutup dan ditambah kanopi ), namun dinding sampingya tidak bisa menipu jika itu adalah bangunan tua. BLKP Klampok menempati bekas rumah administrateur PG Klampok. Dalam struktur manajemen pabrik gula, administrateur adalah jabatan yang paling tinggi karena dialah yang menjalankan segala urusan dalam pabrik. Salah satu administrateur yang pernah tinggal di situ adalah W. van der Haar. Di masa kepemimpinannya, ia PG Klampok dimutakhirkan dan mendapat kunjungan kehormatan dari Gubernur Jenderal Idenburg.

Bekas makam di dekat PG Klampok.
Pelacakan PG Klampok tak berhenti sampai di bekas pabrik dan kompleks rumah pegawai saja. Sedikit menjauh ke utara, memasuki hutan bambu, kami menjumpai keberadaan beberapa makam Belanda yang jumlahnya tak sampai sepuluh buah. Sayangnya semua prasasti yang semula melekat di makam itu sudah hilang tak diketahui kemana rimbanya. Walhasil kami tidak mengetahui siapa saja yang dimakamkan di sini.

Referensi

Fajar Riadi. 30 Maret 2018. " Cara Penguasa Genjot Produksi Gula" dalam https://historia.id/modern/articles/cara-penguasa-genjot-produksi-gula-P0o5g

Jatmiko W. 28 Desember 2012. "Suikerfabriek Klampok" dalam  http://www.banjoemas.com/2010/10/suikerfabriek-klampok.html

Petrik Matanasi. 7 April 2017. "Swastanisasi Gula, Meliberalkan Jawa" dalam https://tirto.id/swastanisasi-gula-meliberalkan-jawa-cmhe

Suhendra. 7 April 2017. " Pasang Surut Industri Gula Indonesia " dalam https://tirto.id/pasang-surut-industri-gula-indonesia-cmhg

Weekblad voor Indie edisi 5 September 1915.

Wiseman, Roger. 2001. " Three Crises : Management in The Colonial Java Sugar Industry". Tesis. Adelaide : University of Adelaide, Departement of History.