Minggu, 27 Desember 2015

Cerita Dibalik Loji Gedongan

Tak terlintas di benak saya bahwa di tepi Jalan Purworejo-Godean ; jalan yang kerap saya lalui jika pulang kampung, berdiri beberapa bangunan lawas yang keberadaanya masih belum banyak diketahui oleh orang. Bangunan-bangunan itu seolah ingin bertutur sekilas tentang sejarah tempat mereka berdiri, Gedongan. Inilah kisah saya di Jejak Kolonial, mengungkap jejak bangunan kolonial di Gedongan.


Gedongan pada peta tahun 1933. Perhatikan tanda-tanda kotak merah di tengah yang menjadi tanda keberadaan bangunan kolonial (sumber : maps.library.leiden.edu).
Berjarak 13 km dari kota Yogyakarta, Desa Sumberagung, hanyalah sebuah desa biasa yang berada di bawah Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Namun desa ini memiliki satu hal yang tidak semua desa lain miliki, yakni warisan sejarah berwujud bangunan kolonial. Ketika berjumpa dengan bangunan itu pertama kali secara tak sengaja, timbul sebuah pertanyaan di benak saya. Bagaimana bisa sebuah bangunan kolonial berdiri di sebuah desa yang tampaknya tidak memiliki sumberdaya atau nilai penting di mata penjajah ?
Letak bangunan tua di Gedongan.
Letak bangunan-bangunan kolonial itu berada di Dusun Gedongan, persisnya di seputaran Balai Desa Sumberagung. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah persimpangan jalan yang cukup ramai. Menilik namanya, keberadaan bangunan kolonial berupa rumah tinggal itu jelas ada sangkut pautnya dengan asal nama dusun itu. Gedong sendiri merujuk pada sebutan orang-orang Jawa terhadap bangunan yang dibuat dari bahan yang lebih kuat dan ukurannya lebih besar.
Bangunan rumah kopel yang telah ditinggalkan.
Sunyi menyambut saya ketika kaki ini mulai menjejakan ke dalam pekarangannya yang penuh semak belukar. Walau bangunan itu tampak terlantar, namun ia masih menunjukan kekokohannya. Bangunan itu sebetulnya merupakan bekas sepasang rumah tinggal yang dibikin dalam satu atap alias rumah kopel. Dari luar, dua rumah itu sama-sama tak dihuni. Pintu dan jendela krepyaknya masih terkunci rapat, tiada cara untuk mengetahui isinya selain lewat celah kecil yang ada di pintu belakang. Dari celah kecil itu, bagian dalam rumah tersebut terlihat kotor dengan pecahan genting yang terserak dimana-mana. Terang sekali bahwa rumah itu sudah lama ditinggal oleh empunya.
Deretan kamar di bagian belakang.
Di belakang bangunan utama, berjejer deretan kamar-kamar. Deretan kamar-kamar di rumah yang sedang saya sambangi ini rupanya saling berpunggungan dengan deretan kamar di rumah sebelah, sehingga bangunan ini tampak berbentuk huruf “T” jika dilihat dari atas. Di kamar-kamar itulah, pembantu si tuan rumah tinggal. Walau si tuan rumah  memiliki istri dari Belanda, belum tentu si istri sanggup atau mau mengurus urusan rumah tangga. Maka sebuah rumah tangga Belanda dapat dipastikan memiliki pembantu ; atau di masa kolonial disebut babu atau jongos yang diambil dari orang-orang berkulit cokelat. Mereka akan membereskan beberapa pekerjaan rumah tangga sesuai dengan keterampilan seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengasuh anak. Tak jarang para pembantu perempuan dikawini tanpa dinikahi oleh si tuan rumah. Persingggungan keluarga Eropa dengan para babu dan jongos itu secara perlahan menciptakan kebudayaan baru hasil persilangan kebudayaan Jawa dan Eropa, Kebudayaan Indis.
Loji paling otentik di Gedongan yang saat ini ditempati oleh keluarga Mas Luthfi.
Berada di sebelah barat Balai Desa Sumberagung, saya mendapati sebuah bangunan kuno lain dengan bentuk yang sedikit berbeda dengan bangunan kuno yang sudah saya sambangi tadi. Ia tampak menonjol dengan atap pelana yang menghadap ke depan. Di bawahnya, terdapat sebuah beranda dengan hiasan gigi talang yang cantik. Di ruang tamu yang terdapat di samping beranda tadi, Mas Luthfi, penghuni rumah ini dengan ramah menyambut saya. “ Rumah ini ketika dulu saya beli kondisinya tidak terawat “, terangnya. “ Saya temukan juga semacam sesajen di berandanya. Dulu rumah ini memang dikenal angker sehingga banyak orang iseng yang meletakan sesajen di sana dengan tujuan dapat nomor “, tutur Mas Luthfi seraya menujuk tempat ia dulu menemukan sesajen. “ Yah, tapi setelah kita beberapa bulan kita tinggal di sini, syukurlah tidak ada hal aneh yang terjadi “, terangnya.

Bagian dalam.
Setelah beramah tamah, beliau menawarkan kepada saya untuk melihat bagian dalam kediamannya. Dengan senang hati saya terima tawaran beliau. Bagian dalam rumah itu terdiri dari sebuah ruang tengah yang cukup lapang dengan dua kamar di samping kiri. Beringsut ke belakang, saya ditunjukan sebuah sumur tua yang menurut empunya rumah, “ tidak pernah kering walau sudah musim kemarau”. Ia pun menunjukan kepada saya sebuah genting, “ yang tak pecah walau jatuh dari atap “.
Sisa loji yang kemungkinan merupakan tempat tinggal Administrateur.
Sisa pagar depan.
Sejatinya, persis di seberang rumah-rumah kuno tadi masih ada sebuah rumah kuno lain yang dulu lebih besar ukurannya. Letaknya berada di belakang sebuah minimarket modern sehingga dari jalan bangunan itu tak bakal terlihat. Sayangnya bangunan besar itu kini tinggal tersisa separo saja. Namun sisa bangunan itu sampai sekarang masih ditempati. Di dinding terasnya, terdapat sebuah lubang kecil memanjang yang dipakai sebagai tempat memasukan surat. Sementara itu di samping barat rumah ini, terdapat semacam bangunan yang saya asumsikan masih satu bagian dari rumah ini. Dari sisa pagar yang masih tersisa di tepi jalan, rumah ini jelas memiliki halaman yang luas. Lalu bagaimanakah ceritanya rumah ini tinggal separo saja ?

Bekas lubang surat.
Bangunan yang dahulu menyatu dengan bangunan tempat tinggal administrateur.
Bangunan tempat tinggal bergaya lama di sebelah timur Indomaret. Tidak diketahui apakah bangunan ini masih asli atau sudah mengalami penambahan.
Balai Desa Sumberagung. Berdiri di atas bekas rumah peninggalan Belanda yang hancur pada masa agresi militer.
Cerita tentang rumah-rumah yang ada di Gedongan ini, walau tak begitu lengkap, saya dapatkan dari sesepuh Gedongan, Bapak Suyudi namanya – yang beberapa saat lalu kembali ke pangkuan-Nya. Ia tinggal di tempat yang dulu pernah dipakai sebagai pembangkit listrik, persis bersebelahan dengan kediaman keluarga Mas Luthfi. Dengan daya ingat yang masih bagus, beliau membeberkan bahwa di masa clash atau Agresi Militer Belanda II, rumah-rumah ini dijadikan sebagai markas pejuang. Oleh Belanda tempat ini dihujani tembakan mortir. 

Pabrik Gula Rewulu (sumber : troppenmusuem.nl).
Pabrik Gula Demakijo (sumber : troppenmusuem.nl).
Walau menurut kesaksianya tak ada korban jiwa yang jatuh, namun bangunan-bangunan itu mengalami rusak parak parah. Bangunan yang rusak meliputi rumah yang tinggal separo di sebarang jalan tadi dan sebuah rumah yang kini di atasnya telah berdiri Balai Desa Sumberagung. “ Namun saya sendiri kurang tahu siapa yang membangun bangunan-bangunan itu karena sewaktu saya lahir, bangunan ini sudah tidak dihuni oleh orang Belanda lagi “, papar Bapak Suyudi yang juga seorang veteran. “ Namun dari cerita orang tua, rumah-rumah itu dulu ditempati oleh mandor perkebunan tebu untuk pabrik gula Demakijo, Rewulu, dan Sendangpitu “, paparnya. Tiga pabrik gula yang disebutkan beliau kini tinggal nama saja.

Sabtu, 12 Desember 2015

Prembun, Sepenggal Kolonial di Ujung Timur Kebumen

Terletak di ujung timur Kabupaten Kebumen, tak banyak yang tahu bahwa di pernah berdiri sebuah pabrik gula di Prembun. Pabriknya memang telah terkubur oleh sang kala, tapi jejak sejarahnya masih bisa ditemui. Inilah sebuah ikhtisar tentang sepenggal kolonial di ujung timur Kebumen.
Lokasi kecamatan Prembun dalam peta Kabupaten Kebumen (warna ungu).
“ Lain kali kalau mau foto-foto bilang ke sini dulu ya mas ! “, perintah bapak polisi itu. “ Siap pak !”, sahut saya. “ Kalau sudah izin kan nanti bisa lihat-lihat dalam “, sambungnya. Bermula dari kecerobohan saya yang lupa meminta izin pada penjaga, saya justru mendapat kesempatan emas untuk melihat lebih dekat bangunan tua yang kini menjadi kantor Polsek Prembun itu. “ Ini dulu bangunan dari zaman kolonial Belanda mas “, terang polisi lain. Balutan kolonial memang masih begitu kentara di kantor yang berada di pinggir jalan raya Kebumen-Purworejo. Lihatlah jendela krepyak yang masih utuh terpasang di tempatnya. Beranda depan yang tinggi ditopang oleh tiang-tiang dari kayu jati. Halaman depannya juga amat luas sehingga belasan mobil dapat terparkir di situ.

Bangunan bekas tempat tinggal rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor Polsek Prembun.
Lokasi rumah adminsitrateur pada foto lama.
Beranda depannya berhias dengan lantai tegel bercorak puspa, yang sekilas gayanya mengingatkan saya pada seni hias art nouveau yang pernah digandrungi orang pada akhir abad ke-10. Bangunan itu sepertinya tidak diperuntukan sebagai kantor polisi, melainkan untuk sebuah rumah tinggal. Dari ukuran dan luasnya halaman, jelas bukan sembarang orang yang dulu pernah menghuninya. “ Dahulu yang tinggal di sini itu katanya pegawai pabrik gula, tapi saya tidak tahu pabrik gula mana “, terang polisi tadi.
Bekas ruang kamar-kamar pembantu yang saat ini menjadi asrama polisi.
Lantai tegel bergaya art nouveau di bagian serambi depan polsek Prembun.
Lantai tegel bercorak geometris di bagian dalam Polsek Prembun.
Bangunan bekas paviliun di samping kanan bangunan utama Polsek Prembun.
Suikerfabriek Remboen atau PG Prembun adalah pabrik gula yang dimaksud bapak polisi tadi. Wajar jika bapak polisi tadi tidak mengetahuinya karena keberadaan pabrik itu tampaknya sudah lekang dari ingatan orang-orang sekitar. Catatan kawan saya dari Banjoemas Heritage, Milo Jatmiko, menyebutkan bahwa pabrik gula itu sudah ada sejak tahun 1889. Pabrik gula milik Belanda tertua di Karesidenan kedu itu dikuasai oleh sebuah perusahaan agrobisnis partikelir, Java-Suikercultuur Maatschappij dan kantor polisi yang sedang saya sambangi saat ini dahulunya adalah kediaman adminsitrateur atau kepala operasional PG Prembun. Tidaklah heran apabila bangunan itu tampak megah laksana istana mengingat administrateur adalah jabatan tertinggi di lingkungan pabrik. Salah satu administrateur yang pernah berdiam di situ ialah J.G. Tjassens Keizer.
Bangunan kolonial di dalam SMP N 1 Prembun dan lokasinya  pada foto lama.
Tersembunyi di balik gerbang SMP N 1 Prembun, saya menjumpai sebuah bangunan kolonial yang entah apa fungsinya. Apakah ia dulunya merupakan rumah wakil administrateur, kantor administrasi, atau societeit, tempat pegawai bersenang-senang ? Dari sana, saya kemudian melesat menyeberangi jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.
Foto udara PG Prembundi ambil dari sebelah utara (sumber : troppenmuseum.nl).
Foto udara PG Prembun diambil dari sebelah tenggara. Tampak dengan jelas pemandangan kompleks pabrik dan perumahan pegawai (sumber : troppenmuseum.nl).
Sisa-sisa PG Prembun saat ini.
Tatkala saya sudah berada di seberang jalan, benak saya membayangkan sebuah pabrik gula besar yang di bagian mukanya terpampang angka tahun 1926, tahun dimana PG Prembun diperbesar. Sekitar tahun 1900an awal, pabrik gula itu diambilalih oleh salah satu dari " Big Six " perusahaan keuangan di Hindia Belanda, Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij, yang telah memiliki beberapa pabrik gula di tempat lain seperti Gudo, Balapulang, dan Pagongan. Disadur dari harian Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 24 Januari 1938, PG Prembun sempat ditutup tahun 1933. Tidak dijelaskan apa sebabnya tapi pada tahun itu, banyak pabrik gula di Jawa yang ditutup untuk memperbaiki harga gula yang sempat merosot di pasaran. Namun setelah direksi Nederlandsch Indie Landbouw Maatschppij bernegosiasi dengan pemerintah kolonial, PG Prembun dibuka kembali pada tahun berikutnya dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. 
Foto hitam putih bangunan PG Prembun atau S. F Remboen. Di dinding muka bagian atas, terdapat angka tahun 1926 yang menunjukan tahun bangunan itu berdiri. Bangunan ini dahulu berdiri persis di pinggir jalan raya yang Purworejo - Kebumen. Bangunan ini sekarang sudah hilang (sumber : troppenmuseum.nl).
Kompleks rumah pegawai PG Prembun. Gambar diambil dari dekat jalur kereta api. ( troppenmuseum.nl ).
Para pegawai administrasi yang sedang bekerja ( sumber ; troppenmuseum.nl ).
Mesin penggiling tebu PG Prembun ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Bangunan utama PG Prembun memang telah lama lenyap, tapi tak diketahui apa sebab ia akhirnya berhenti bergiling dan bangunan pabriknya hilang begitu saja. Tapi beruntung, pabrik gula itu masih meninggalkan rekam jejak berupa dokumentasi foto. Sekitar tahun 1920an, kompleks pabrik gula itu sempat direkam citra visualnya dari udara. Foto itu setidaknya memberikan gambaran kepada kita yang hidup di zaman sekarang seperti apa rupa PG Prembun di masa ketika ia masih berjaya.


Bangunan bekas rumah dinas yang berada di pinggir jalan raya.


Tiga rumah identik di pinggir jalur rel Kutoarjo-Kebumen
Salah satu bekas rumah dinas pegawai PG Prembun yang masih lumayan terjaga.
Di sisi selatan jalan, saya banyak sekali menemukan rumah-rumah bergaya kolonial yang masih ada sangkut pautnya dengan PG Prembun. Untuk mengakomodir para pegawai pegawai menengah seperti zinder ( ahli tanaman tebu ),chemicer ( ahli gula ), hingga kepala masinis kereta lori, dibangunlah rumah-rumah berukuran sedang yang saling berdekatan, membentuk semacam industrial village. Karena lokasinya berada di pinggir jalan yang strategis, banyak yang akhirnya berubah wujud menjadi toko-toko.
Bangunan kamar bola yang hanya menyisakan struktur dinding saja.
Sebuah bangunan kolonial yang saat ini digunakan sebagai sarang walet.
Di sebelah bangunan tadi, terdapat bangunan dengan bentuk serupa yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.
Sebuah rumah tua yang berada di dekat terminal Prembun. Kondisi rumah sebenarnya masih baik, namun karena sudah lama ditinggalkan, rumah ini sekarang dipenuhi dengan kelelawar.
Tersempil di tengah perkampungan, saya mendapati beberapa rumah kuno yang masih utuh dan lumayan terawat. Namun ada pula yang malang nasibnya. Contohnya adalah sebuah rumah kopel yang tak jauh dari rel yang kini hanya menyisakan puing-puing tembok saja. Ada juga yang saking lamanya tidak ditempati akhirnya menjadi sarang kelelawar.
Bangunan stasiun Prembun.
Bangunan rumah dinas pegawai stasiun Prembun.
Perjalanan saya di Prembun berakhir di Stasiun Prembun, sebuah stasiun kecil yang masih beroperasi, dimana di sana dulu karung-karung gula PG Prembun diangkut. Tak jauh darinya, masih berdiri kokoh sebuah rumah kuno yang dahulu ditempati oleh kepala Stasiun Prembun. Saya cukup terkesan dengan perjalanan kali ini karena akhirnya saya sadar bahwa tinggalan kolonial di Kabupaten Kebumen tak hanya terbatas pada Benteng Van der Wijk Gombong saja dan bangunan-bangunan kuno di Prembun itu seakan menjadi monumen dari PG Prembun yang jejak fisiknya kini lenyap dan mungkin sudah lekang dari ingatan banyak orang…

Jumat, 27 November 2015

Benteng Vredeburg, Jejak Kompeni di Bumi Mataram

Suatu siang di tahun 2015, sesudah menghadapi jemunya urusan perkuliahan, saya memutuskan untuk melepas penat dengan bertandang ke Benteng Vredeburg. Benteng itu mudah sekali dijangkau dari kampus saya. Letaknya berada di dekat perempatan Titik Nol yang ramai akan hilir mudik kendaraan bermotor, becak, andong, dan pejalan kaki. Setelah bermacet ria, sampailah saya di benteng yang disebut Loji Besar oleh orang-orang dulu.
Tampak depan dan belakang gerbang utama Benteng Vredeburg.
“VREDEBURG”, itulah tulisan yang terpampang pada bagian pintu masuknya yang sekilas mirip kuil Yunani. Tulisan itu tak lain ialah nama dari benteng yang hendak saya lawat ini. Adapun nama benteng yang kini terpampang di hadapan saya dapatkan setelah benteng itu dihajar oleh sebuah gempa besar di tahun 1867. Bila diartikan, nama benteng itu berarti “ Benteng Perdamaian “, nama yang terasa ironi untuk sebuah benteng. Saya tak ambil pusing dengan ironi tadi dan segera saja saya membeli tiket masuk seharga dua ribu rupiah.

Benteng Vredeburg pada tahun 1920an dan 1864. Perhatikan jembatan jungkit yang ada di depan gerbang benteng (sumber : colonialarchitecutre.eu).
Sejarah benteng ini terentang Sejak tahun 1760, tatkala VOC (Vereenigde Oost Compagnie ) berhasil melobi Sultan Hamengku Buwono I untuk memberi izin mendirikan benteng sederhana di dekat keraton. Pada saat yang bersamaan, Sultan Hamengku Buwono I juga sedang membuat keraton yang nantinya akan menjadi kediaman dan tempat ia menjalankan roda pemerintahan. Setelah tuntas dibangun, benteng itu lantas diberi nama Fort Rustenburg yang berarti Benteng Peristirahatan. Pada mulanya, benteng ini masih berupa gundukan tanah yang diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu ( Bruggen. 1998; 42). Barulah pada tahun 1765, di bawah pengawasan insinyur zeni Frans Haak, benteng ini diperkokoh dengan batu-bata. Namun bahan dan tenaga yang dijanjikan oleh Sultan Hamengku Buwono I sedikit tersendat karena ia sendiri membutuhkan dua barang tersebut untuk menyelesaikan pembangunan keratonnya. Benteng itu baru pungkas dibangun tahun 1787.
Lingkungan benteng Vredeburg (A) pada tahun 1830 yang direproduksi ulang pada tahun 1890. Perhatikan bahwa kantor Residen atau sekarang menjadi Gedung Agung (B) ada di sebelah barat benteng. Sementara itu di sebelah utara terdapat pasar Beringharjo (H) dan sebuah pemakaman (F). Di sisi timur benteng, terdapat pemukiman Eropa yang disebut Loji Kecil (D).
Pembangunan Benteng Vredeburg bertalian dengan upaya VOC untuk menanamkan pengaruhnya di Jawa. Sebagai sebuah perusahaan dagang, apa yang dipentingkan VOC hanyalah mencari keuntungan sebanyak-banyak serta bagaimana bisnisnya bisa berjalan lancar. Setelah jalur pelayaran di wilayah pesisir berhasil “diamankan”, VOC mulai melirik wilayah pedalaman. Mereka beranggapan bahwa seandainya wilayah pedalaman berhasil mereka cengkeram, bahan makanan akan lebih mudah diperoleh dan perdagangan kerajaan lokal dapat dimonopoli mereka. Demikianlah yang mereka lakukan pada Kasunanan Surakarta dengan mendirikan Benteng Vastenburg dan Kasultanan Yogyakarta dengan mendirikan Benteng Vredeburg. Kehadiran benteng asing di dekat keraton lokal seolah menunjukan kuasa VOC yang notabene hanyalah sebuah perusahaan dagang yang bermarkas nun jauh di seberang negeri, dapat mempengaruhi kerajaan-kerajaan lokal.

Lingkungan luar benteng Vredeburg pada tahun 1885.
Ketika Jawa takluk di bawah kaki Inggris, bendera Union Jack milik Inggris dikibarkan di benteng itu. Jika saja benteng ini adalah sebuah kamera, barangkali ia akan merekam usaha Inggris menaklukan Kraton Yogyakarta pada tahun 1812. Kala itu kondisi benteng Vredeburg “ hanya layak untuk dipergunakan sebagai gudang tempat menyimpan perbekalan militer “ tulis komandan Inggris, William Thorn, dalam catatannya bertajuk Conquest of Java. “ Jumlah artileri sedikit dan bubuk mesiunya, yang merupakan buatan lama pabrik Belanda, mutunya sangat jelek “, sambungnya. Selama penaklukan berlangsung, benteng itu menjadi markas tentara Inggris. Tembakan artileri dilepaskan dari benteng ini, “ yang mana segera dibalas dari kubu keraton, memperlihatkan tontonan yang unik dari dua benteng yang saling bersebelahan, diduduki dari dua bangsa berbeda yang negerinya berjauhan di ujung bumi “.
Benteng Vredeburg pada tahun 1935. Jembatan ungkit sudah diganti dengan jembatan biasa (sumber : colonialarchitecture.eu).
Berikutnya pada saat Yogyakarta sedang dirundung Perang Jawa ( 1825-1830 ), Benteng Vredeburg menjadi sasaran para pengikut Pangeran Diponegoro karena di sanalah Belanda bermarkas. Berulangkali benteng ini dikepung namun ia tak kunjung jatuh hingga perang berakhir di tahun 1830. Lingkungan sekitar benteng dirasa mulai aman dan orang Belanda mulai berani tinggal di luar tembok benteng. Di sebelah timur benteng, mereka membuat sebuah permukiman yang kadang dikenal sebagai Loji Kecil.
Foto udara kawasan titik nol yang menjadi pusat kota Yogyakarta. Tampak benteng Vredeburg (kotak kuning) dan perumahan perwira di sisi barat yang kini sudah tidak ada lagi (kotak merah) (sumber : Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden halaman 114).
Memasuki zaman Jepang, Benteng Vredeburg dipakai sebagai  markas oleh Kempetai, polisi militer Jepang yang sepak terjangnya ditakuti banyak orang karena perilaku kejamnya. Gengsi Benteng Vredeburg sebagai lambang keperkasaan Belanda seketika jatuh ketika benteng itu menjadi tempat orang-orang Belanda ditahan dan hal tersebut begitu tercela di hati mereka. Selepas kemerdekaan, Tentara Keamanan Rakyat menjadikan benteng sebagai asrama dan markas. Namun benteng itu kembali jatuh ke tangan Belanda pada masa Agresi Militer Belanda Kedua dan kemudian menjadi markas IVG dinas rahasia tentara Belanda. Benteng itupun menjadi bulan-bulanan para pejuang pada Serangan Umum Satu Maret 1949.
Lokasi benteng Vredeburg pada peta Yogya tahun 1925 (sumber :colonialarchitecture.eu).
Setelah difungsikan berpuluh-puluh tahun untuk sarana militer, pada tanggal 23 November 1992, Benteng Vredeburg diresmikan sebagai museum (Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003; 8-10). Benteng Vredeburg kini bahagia menikmati peran barunya sebagai sebuah museum yang memberikan manfaat bagi banyak orang, berbanding terbalik dengan saudaranya di Surakarta, Benteng Vastenburg yang kini merana di tengah kota.
Celah bekas tempat meriam.
Salah satu lubang tembak untuk jenis senapan musket.
Dari pintu masuk utama, saya berbelok ke samping, menaiki anak tangga yang menjurus ke lantai dua pintu masu benteng. Bagian ini dulunya merupakan kantor administrasi. Dari berandanya, pandangan saya arahkan ke arah Istana Kepresidenan Gedung Agung, yang menempati bekas kediaman residen Yogyakarta. Dahulu residen Yogyakarta akan mengungsi ke benteng ini jika keamanan mulai memburuk. Pandangan kemudian saya alihkan ke parit pertahanan yang membentang di depan benteng. Benteng ini pernah dikelilingi oleh parit sebagai sarana perlindungan tambahan. Sebuah jembatan jungkit didirikan di atas parit sebagai penghubung namun sejak tahun 1930an, jembatan tersebut dihilangkan karena konstruksinya sudah tua dan tidak mampu menopang beban kendaraan militer yang kian berat.


Parit benteng Vredeburg sisi timur pada tahun 1930an. Di sebelah kiri tampak bastion sisi tenggara dengan meriam kuno di atasnya. 
(sumber : Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden halaman 122.)
Parit dan bastion barat daya benteng Vredeburg.
Benteng Vredeburg memiliki dinding setinggi dua meteran dan tebal satu meteran. Di atas dinding, terdapat celah kecil untuk tempat menembak. Selain dari atas dinding, tentara bersenjata senapan musket di dalam benteng juga dapat melepaskan tembakan dari celah kecil yang ada di dinding. Turut melengkapi pertahanan benteng, meriam-meriam ditempatkan di atas kubu benteng. Kemudian di keempat sudut benteng Vredeburg terdapat kubu pertahanan berbentuk belah ketupat yang disebut bastion. Bastion adalah jenis kubu pertahanan yang dikembangkan oleh bangsa Eropa pada masa Renaissans. Ketika bastion belum dikenal, menara-menara yang tinggi menjadi andalan pertahanan sebuah benteng atau kastil. Makin tinggi menara, makin jauh jangkauan panah. Namun menara-menara tinggi tadi segera ditinggalkan sejalan dengan ditemukannya senjata baru, meriam. Menara menjadi sasaran yang empuk karena ia mudah dibidik. Menara dihilangkan, diganti dengan tembok bastion yang dindingnya rendah supaya sukar dibidik. Namun bukan berarti tiada cela dari bastion. Ukuran tembok yang rendah menjadikannya ia gampang dipanjat oleh musuh. Oleh karena itulah dibikinlah parit yang mengitari benteng.
Pemandangan dari bastion barat daya. Terlihat gedung kantor pos besar dan Bank Indonesia.
Ketika saya berada di bastion barat daya, saya sejenak memandang ramainya Kawasan Titik Nol yang berlatar gedung-gedung tua seperti gedung BI, Kantor Pos Besar, dan Bank BNI. Walau terhitung tua, namun gedung-gedung itu tentu masih kalah tua-nya dengan benteng yang sedang saya pijaki ini. Kala gedung-gedung itu belum ada, Keraton Yogyakarta terlihat jelas dari benteng saya berpijak ini. Begitu dekatnya jarak benteng ini dengan keraton sehingga saya rasa satu tembakan meriam dapat mengenai salah satu bangunan keraton. Keberadaan benteng Vredeburg jelas berarti bagi kompeni. Ia tak hanya sekedar sebagai sarana pertahanan VOC, namun ia juga menjadi alat politik. Alih-alih sebagai tempat perlindungan untuk Sultan seperti yang dijanjikan pada pembangunannya, benteng itu justru seolah menjadi ancaman bagi kedaulatan Sultan. Sayapun lantas teringat dengan ulah VOC yang pernah memprovokasi Pangeran Jayawikarta dengan menembakan meriam yang pelurunya melesat di atas kediamannya.
Denah Benteng Vredeburg.
Benteng Vredeburg memiliki dua gerbang besar di sisi barat dan timur. Sebuah pos jaga kecil ditempatkan di gerbang barat. Setiap malamnya, kedua gerbang itu ditutup. Tiada orang yang dapat keluar masuk benteng kecuali mereka ada urusan penting dan mereka hanya diperkenankan lewat sebuah pintu kecil di sisi selatan.
Bekas barak sisi utara.
Perumahan perwira sisi utara.
Bekas tempat tinggal komandan benteng.
Bekas barak barat.
Bekas barak selatan.
Bangunan pengapit sisi selatan.
Bekas Societeit.
Di balik tembok benteng yang kokoh ini, terdapat bermacam bangunan penunjang kegiatan benteng. Bangunan-bangunan tersebut terdiri atas deretan rumah perwira, barak, kantor, dapur umum, istal, penjara, gudang senjata dan makanan, dan tempat hiburan. Dengan lengkapnya berbagai sarana di dalam tembok benteng, maka benteng itupun laksana sebuah kota kecil. Letak bangunan pun telah disusun matang, misal gudang makanan ditaruh di dekat dapur umum dan gudang mesiu ditaruh di dekat gudang senjata. 
Bekas dapur.
Bekas gudang amunisi.

Bekas gudang senjata.
Dari berbagai bangunan yang ada di dalam benteng, mungkin yang paling vital ialah gudang mesiu. Letaknya berada di dekat bastion tenggara. Sebuah gardu di depan pintu masuk gudang mesiu seakan memberitahukan saya bahwa tak sembarang orang dapat memasuki tempat itu. Dalam pengepungan sebuah benteng, bagian yang sering diincar ialah gudang mesiu karena jika terbakar sedikit saja maka akan timbul petaka berupa ledakan dahsyat yang dapat mengancurkan seisi benteng seperti yang menimpa Fort Beschmeringh di Cirebon yang hancur akibat ledakan gudang mesiu. Karena itulah letak gudang mesiu dibuat menjauh dari deretan rumah perwira dan barak untuk mengurangi korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi ledakan. Bangunan itu juga sudah dirancang memiliki tingkat kelembaban yang tepat sehingga mesiu akan melempem. Selain itu, pasokan mesiu di dalam benteng juga langsung habis sehingga meriam dan senapan tak dapat dipakai menembak.

Bangunan di dalam benteng Vredeburg kini dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai ruang diorama. Sebagai sebuah tempat wisata, apalagi letaknya di tengah kota, Benteng Vredeburg ramai pengunjung. Mereka tampak begitu asyik berswafoto di setiap sudut benteng. Kehadiran mereka di sini tampaknya untuk mencari suasana yang berbeda atau untuk menambah koleksi foto, bukan karena kisah sejarah yang terdapat di dalamnya. Dari masa kemerdekaan hingga sekarang, tinggalan sejarah berupa benteng masih disikapi sebagai tinggalan penjajah. Padahal ditinjau dari kajian Post-Kolonial, benteng merupakan lambang dari eksistensi kekuatan asing, yang mana oleh bangsa Indonesia dengan kemampuan terbatas mampu menyingkirkan kekuatan asing yang memiliki sarana pertahanan begitu kuat seperti benteng (Sudamika, 2006; 92). Suka atau tidak suka, benteng Vredeburg; dan benteng lainnya di Indonesia, telah menjadi bagian perjalanan sejarah negeri ini.

Referensi
Abrianto, Oktaviadi. " Pertahanan Teluk Jakarta Abad ke 18 dan Ke – 19  " dalam Dr.Agus Aris Munandar dkk. 2002. Jelajah Masa Lalu. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat Banten.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. 2003. Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Museum Benteng Vredeburg. Yogyakarta

Sudamika, G.M. " Penelitian Benteng Kolonial di Ternate, Maluku Utara " dalam Berita Penelitian Arkeologi Maluku dan Maluku Utara, vol 2. No. 2 Juli/2008, Balai Arkeologi Maluku.

van Bruggen, M.P dan R.P Wassing. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam; Asia Maior.

Thorn, William. 2011. Penaklukan Pulau Jawa- Pula Jawa di abad Sembilan belas dari Amatan Seorang Serdadu Kerajaan Inggris. Jakarta ; Elex Media Komputindo.