Minggu, 27 September 2015

Melacak Makam-Makam Belanda di Kerkhof Purworejo

Halo sahabat Jejak Kolonial. Pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk berkunjung ke salah satu tinggalan kolonial yang cukup khas, yakni kerkhof atau pemakaman Belanda. Mungkin terlihat seram tapi ketahuilah ada banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan dari sebuah kompleks kerkhof. Pertama, kerkhof tidak dapat ditemui di setiap tempat. Hanya tempat-tempat yang dahulu pernah didiami oleh orang Eropa yang memiliki kerkhof. Sehingga kerkhof merupakan peninggalan sejarah yang cukup langka. Kedua, model makam di kerkhof berbeda jika dibandingkan dengan makam – makam zaman sekarang. Ketiga, lewat kerkhof kita dapat mengetahui siapa saja yang dimakamkan di situ, dimana tempat tanggal lahir dan meninggalnya, jabatan terakhir ,hingga silsilah keluarga yang bisa menjadi salah satu data sejarah dan genealogi yang cukup berharga.


Nah, Kerkhof pertama yang akan saya kupas pada blog saya ini adalah Kerkhof Purworejo. Mengapa Kerkhof Purworejo ? Simpel, karena kerkhof ini berada di kota kelahiran saya, Purworejo. Kota Purworejo sebenarnya cukup beruntung masih memiliki tinggalan sejarah seperti ini karena di kota-kota lain, keberadaan kerkhof sudah tergusur akibat pembangunan kota. Yah meski Kerkhof Purworejo dalam kondisi utuh, namun kondisinya juga tidak bisa dikatakan bagus.


Kira-kira bagaimana kondisi Kerkhof Purworejo sekarang, mengapa ada Kerkhof di tengah kota Purworejo, lalu bagaimana model makamnya ? Mari kita lacak bersama-sama….

Lokasi Kerkhof Purworejo


Lokasi kerkhof Purworejo berada di kelurahan Sindurjan, Kecamatan Purworejo. Lokasi kerkhof ini tidak begitu jauh dari pusat kota sehingga sangat mudah untuk menuju ke sini. Untuk menuju ke kekrhof Purworejo, dari alun-alun Purworejo jalan ke selatan menelusuri jln.Mayjend.Soetoyo hingga kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Purworejo. Di sebelah utara kantor BKD, terdapat sebuah jalan ke kiri dan di ujung jalan,terlihat sebuah gerbang antik yang menjadi gerbang masuk kompleks Kerkhof Purworejo.

Sekilas Latar Belakang Kerkhof Purworejo
Suasana jalan masuk ke arah Kerkhof sekitar tahun 1910an. Pohon-pohon besar di sepanjang jalan masuk menjadikan suasana terasa rindang. Sayangnya pohon-pohon ini sudah tidak ada lagi. Di ujung jalan,terlihat gerbang masuk Kerkhof yang bentuknya tidak berubah sampai saat ini (Sumber : media-kitlv.nl).
Latar belakang kemunculan Kerkhof Purworejo tidak bisa dipisahkan dari kehadiran orang-orang Belanda di Purworejo. Purworejo sendiri dahulu merupakan garnisun militer milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi semacam kota kecil. Adapun orang-orang Belanda ini kebanyakan berprofesi di bidang militer.

Tidak semua orang Belanda yang meninggal di Hindia-Belanda dapat dimakamkan kembali ke negeri asalnya karena butuh biaya mahal untuk mengirimkan jenasah kembali ke negeri Belanda. Oleh karena itu mereka lebih memilih dimakamkan di daerah yang dekat dengan tempat mereka meninggal.

Hingga sekarang, masih belum diketahui dengan pasti sejak kapan Kerkhof Purworejo ini mulai ada. Namun berdasarkan data pada epitaf (prasasti nisan) tertua yang ada,Kerkhof Purworejo sepertinya sudah ada sejak tahun 1850-an.

Sebentar, sebelum kita melanjutkan pembahasan lebih lanjut soal Kerkhof Purworejo, barangkali saya perlu menjelaskan kepada anda mengenai asal usul istilah"Kerkhof". Istilah "Kerkhof" berasal dari bahasa Belanda yang berarti kuburan. Di masa-masa awal kehadiran bangsa  Belanda di Indonesia, sesuai dengan tradisi yang berkembang di daratan Eropa, orang-orang Belanda memiliki tradisi memakamkan jenasah di sekitar halaman gereja atau dalam bahasa Belanda disebut dengan kerk. Pada tahun 1795, Gereja melarang pembangunan makam di sekitar gereja dengan alasan kesehatan karena pada waktu itu muncul wabah penyakit yang timbul dari jenasah yang dimakamkan di sekitar gereja. Akhirnya lahan pemakaman dipindah ke lahan milik pemerintah. Pemilihan lokasinya harus memperhatikan aspek kesehatan yaitu dengan dibangun agak jauh dari pemukiman ( Tantomi, 2013; 13-14 ). Dari sinilah istilah "Kerkhof" berasal meskipun lokasi makam sudah tidak di dekat gereja lagi.
Lokasi Kerkhof Purworejo pada peta tahun 1905. Kerkhof biasanya ditandai dengan simbol salib pada peta. (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Banyak hal yang ternyata harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi lahan kerkhof. Majalah Locale Techniek no.4 bulan Oktober 1933 menguarikan dengan jelas bagaimana lahan kerkhof sebaiknya dipilih. Disebutkan di majalah ini bahwa tidak setiap tempat dapat digunakan sebagai tempat pemakaman. Dalam hal ini orang harus memilih tempat yang datar, tanahnya harus dapat merembeskan air, bukan tanah lempung atau padas serta tempat tadi harus gampang dapat mengalirkan air dan jangan sampai mendapat aliran air dari permukaan yang lebih tinggi. Selain itu juga pemilihan lokasi juga harus memperhitungkan perkembangan luas sebuah kota, jangan sampai sebuah pemakaman menahan perluasan sebuah kota sebab orang-orang tidak begitu senang tinggal di dekat lokasi pemakaman.

Melacak Makam-Makam Belanda
Gerbang masuk ke kompleks Kerkhof Purworejo yang baru saja dipugar. Bentuk gerbang yang antik ini tidak berubah sejak dahulu.
Sebelum melangkah masuk ke dalam, kita akan disambut dengan sebuah gerbang masuk bergaya Eropa yang terlihat megah. Dari foto lama, bentuk gerbang ini sepertinya masih asli, tapi sayangnya renovasi yang baru menghilangkan kesan antik pada gerbang ini. Gerbang dicat dengan warna merah-kuning yang seharusnya menjadi warna sebuah klenteng. Di atas gerbang, terdapat tulisan “MAKAM KERKHOPE” yang tentu saja salah penulisannya. Daripada kita mempersoalkan gerbang ini, mari kita teruskan perjalanan kita ke dalam. Nah, jika pandangan kita alihkan ke atas tulisan “MAKAM KERKHOPE” tadi, kita akan melihat sebuah inskripsi yang berbunyi “ MEMENTO MORI”. Ingat, ini bukan nama merk kain mori yang mendanai pembangunan gerbang ini. Ini adalah kalimat dari bahasa Latin yang kika diterjemahkan  ke dalam bahasa Indonesia berarti “ Ingatlah Kematian”. Jika kita renungkan, pesan dari kalimat ini cukup dalam. Ya, kalimat ini rasanya memang tepat sekali jika dipasang di atas gerbang masuk pemakaman. Seolah menjadi pesan bahwa kelak, suka tidak suka, kita semua pasti akan menghadapi kematian dan bergabung dengan para penghuni makam yang sudah beristirahat dengan tenang selamanya….
Sisi selatan kekrhof Purworejo. Tampak banyak makam yang kondisinya sudah rusak parah.

Bagian barat Kerkhof Purworejo.
Memasuki area pemakamkan, suasana makam seluas 1,78 Ha ini tidak berbeda jauh dengan kebanyakan pemakaman lain. Pohon kamboja yang tumbuh di sela-sela makam, beberapa makam, baik yang lama maupun baru terlihat saling berdesakan satu sama lain seolah tidak ada yang mau mengalah. Di sekililing makam, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Satu-satunya yang membedakan kerkhof Purworejo dengan pemakaman lain yakni keberadaan makam-makam tua berusia puluhan tahun milik orang-orang Belanda yang dimakamkan di sini.
Sisi utara kompleks kerkhof.
Memasuki area pemakamkan, suasana makam seluas 1,78 Ha ini tidak berbeda jauh dengan kebanyakan pemakaman lain. Pohon kamboja yang tumbuh di sela-sela makam, beberapa makam, baik yang lama maupun baru terlihat saling berdesakan satu sama lain seolah tidak ada yang mau mengalah. Di sekitar makam, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Satu-satunya yang membedakan kerkhof Purworejo dengan pemakaman lain yakni keberadaan makam-makam tua berusia puluhan tahun milik orang-orang Belanda yang dimakamkan di sini.
Makam terbesar yang ada di kompleks Kerkhof Purworejo.
Hingga saat ini, Kerkhof Purworejo masih digunakan sebagai tempat pemakaman umum bagi masyarakat yang beragama Nasrani, sehingga tidak heran jika kita akan melihat makam-makam baru yang berada di sela-sela makam-makam lama. Beberapa makam malah ada yang berbentuk seperti Bongpay atau makam khas Tionghoa, sehingga bagi saya sendiri, makam ini seolah salah alamat karena terlihat tidak serasi dengan makam-makam Belanda yang ada. Terkadang makam-makam yang usianya sudah tua dan ahli warisnya tidak jelas terpaksa dibongkar untuk makam yang baru.
Makam yang berbentuk seperti rumah-rumahan. Tampak ceruk yang dahulu menjadi tempat menaruh patung. Entah ke mana patung itu sekarang.
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, makam Belanda memiliki model yang sangat berbeda dengan makam lokal. Makam-makam lokal yang pada umumnya berlatar belakang Islam dengan ciri tanda makam yang bersifat sederhana, sebatas untuk menunjukan bagian kaki dan kepala. Selain itu,makam – makam lokal memiliki orientasi menghadap ke arah kiblat sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, makam-makam Belanda dibuat dengan model yang bervariasi, ada yang sederhana saja hingga megah, besar, dan raya dengan berbagai ornamen.
Makam dari batu andesit milik Maria Petronella Wilhelmina Hendricks.
Selama sekitar satu jam, saya mengitari seluruh kompleks makam untuk mendokumentasikan berbagai makam Belanda yang masih tersisa. Entah sudah berapa kali kaki saya lecet terkena duri tanaman liar. Keringat pun mulai menetes dengan derasnya di kepala saya karena udara di area pemakaman ini benar-benar panas sebab tidak pohon yang cukup teduh di area kerkhof ini.
Makam-makam dengan model peti mati atau sarkofagus.
Makam berbentuk seperti monumen kecil. Bagian lingkaran dahulu pernah terdapat patung dari perunggu, sementara bagian persegi merupakan tempat prasasti.
Makam berbentuk seperti peluru. Besar kemunkinan orang yang dimakamkan di sini berasal dari kalangan militer.
Sebuah makam berbentuk pilar yang patah. Pilar yang patah merupakan lambang dari kehidupan yang tidak tuntas. Biasanya makam model seperti ini merupakan makam dari seorang anak-anak atau bayi.
Dari pengamatan saya, makam-makam Belanda di kerkhof Purworejo memiliki bentuk yang bervariasi. Mulai dari berbentuk tugu, sarkofagus sampai mausoleum. Saya sendiri tidak terlalu hafal ada berapa makam Belanda yang ada di sini karena jumlahnya lumayan banyak. Menurut sebuah penelitian yang pernah saya baca, makam di Kerkhof Purworejo yang berbentuk tugu berjumlah 79 buah. Sementara untuk makam yang berbentuk mausoleum berjumlah 4 buah ( Chawari, 2003;104-105).
Makam milik keluarga Duren. Dalam satu makam kadang dapat diisi dengan beberapa orang.
Makam Lena de Ruiter ( lahir Klink ), salah seorang keturunan Belanda-Afrika.
Berikut ini adalah daftar nama-nama orang Eropa yang dimakamkan di sini berdasarkan prasasti yang tersisa dan teerbaca di kompleks kerkhof ini :
Nama / Tempat, tanggal lahir - tempat, tanggal meninggal
Graf Wilhelm von Taubenheim  /  Stuttgabt, 4 April 1845 – Purworejo , 13 September 1887
Cerrie Hugo Tervoort  / Semarang, 16 Mei 1855 – Purworejo, 10 Maret 1930
S.N. Tervoort  / ? , 10 November 1889 – Purworejo, 1 Mei 1929
Lena de Ruiter /, 5 Mei 1897 – Purworejo, 15 Juni 1915
Anna Duren / ?, 22 April 1899 – Purworejo, 18 Februari 1900
Maria Petronella Wilhelmina Hendricks / Amsterdam, 22 Mei 1806 – Purworejo, 7 Januari 1877
H.L.W. Tellings / Salatiga, 22 Januari 1854 – Purworejo, 6 Mei 1905
Helena Duren / Purworejo, 1 April 1894 – Batavia, 28 Agustus 1939
Martha Duren / Yogyakarta, 5 November 1868 – Purworejo, 27 Juli 1916
Peter Yosef Duren / Hackenburg, 28 April 1856 – Purworejo, 2 Juni 1934
Emilie Duren / ? -?
Ewald Duren / ?, 5 November 1914 - ?
Willem Diepenheim  / ? - Purworejo, 4 September 1883
F.J. Ph. Van Cleef / ?, 26 Juni  1890 – Purworejo, 23 Maret 1928
Hillegonda Martens / ? , 25 Maret 1927 – Purworejo, 1 Juli 1928
Louis Henri Durand / Ngawi, 22 Juli 1864 – Purworejo, 31 Agustus 1939
H.E. Simon-Leijting / ? , 8 Maret 1890 – Purworejo, 28 Januari 1921
Willem Lodewijk Hanegraat / Purworejo, 22 MAret 1864 – Sapuran, 25 Desember 1884
( Terima kasih buat Mr. Hans Boers yang sudah menambahkan informasi lainnya ).
Makam-makam bercungkup.
Selain makam berbentuk tugu dan Mausoleum, di kerkhof Purworejo kita juga dapat melihat makam-makam yang berbentuk seperti peti mati atau sarkofagus. Beberapa makam ini ada yang diberi cungkup. Cungkup sebenarnya kurang lazim untuk makam-makam Eropa. Kemungkinan besar keberadaan cungkup ini terpengaruh oleh kebiasaan orang-orang Jawa dalam membangun makam yang seringkali di atas makam dibangun sebuah cungkup. Bisa juga cungkup ini sengaja dibanun untuk melindungi batu nisan dari terpaan cuaca yang dapat merusak batu nisan sehingga tulisan di batu nisan menjadi aus dan tidak terbaca. Sayangnya, banyak cungkup-cungkup makam ini yang mulai rusak. Saya melihat sendiri banyak cungkup yang atap sengnya sudah ambrol, tiang besi penyangga atap cungkup juga mulai terlihat lapuk.
Makam-makam yang berbentuk seperti bangunan kuil Yunani Klasik.
Jika diamati, perbedaan bentuk makam-makam ini ternyata merefleksikan kemampuan orang tersebut dalam menampilkan bentuk makam yang diinginkan. Semakin mampu seseorang, maka dia akan membuat makam yang lebih besar dan megah. Sebaliknya orang yang kurang mampu hanya mampu menampilkan bentuk makam yang lebih  kecil dan sederhana ( Chawari, 2003; 107). Ya, bahkan sekalipun orang sudah meninggal, dia masih berusaha menunjukan kemampuan dan kedudukannya pada orang-orang yang masih hidup.
Makam milik Wilhelm Graf von Taubenheim. Makam ini tergolong unik karena bahasa yang digunakan pada prasasti ini adalah bahasa Jerman sebab orang yang dimakamkan di sini merupakan orang Jerman.
Beberapa makam di kompleks kerkhof ini ada yang kondisinya masih lumayan bagus. Makam-makam seperti ini biasanya masih ada sanak keluarga yang menziarahinya. Namun sebagian besar makam yang saya temukan rata-rata sudah rusak cukup parah. Ada yang tanahnya ambles sehingga rongga tempat dulu menyimpan jenasah dapat dilihat. Ada yang kalau dilihat sekilas cuma sepert tumpukan bata biasa saja. Tapi, rata-rata makam-makam ini batu nisannya sudah hilang dijarah sehingga kita tidak tahu lagi siapa yang dimakamkan di sini. Menurut penuturan warga sekitar kompleks kerkhof yang sedang mencari bunga kamboja untuk dijual,  penjarahan prasasti kerkhof Purworejo terjadi pada tahun 1970an. Pada waktu itu, memang sedang marak aksi penjarahan prasasti kerkhof karena prasasti-prasasti ini terbuat dari batu marmer Italia yang mahal dan sedang booming pada waktu itu. Banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab rela menjarah prasasti pada kerkhof supaya meraih untung banyak. Saking masifnya penjarahan, bahkan menurut warga, prasasti yang dijarah dalam semalam bisa mencapai satu truk !! Kini, kita semua yang hidup di masa sekarang tentu merasa kehilangan karena prasasti-prasasti tadi merupakan data sejarah yang cukup penting. Mungkin nilainya sama pentingnya dengan data prasasti dari masa-masa kerajaan Hindu-Buddha dan sama pentingnya juga dengan prasasti makam raja – raja masa kerajaan Islam.
Ada dua jenis bahan yang digunakan untuk prasasti pada makam-makam di kerkhof Purworejo, yakni batu andesit (kiri) dan batu marmer (kanan).
Meski sudah banyak makam yang prasastinya sudah hilang, kita masih bisa menjumpai sebagian kecil makam yang prasastinya masih utuh. Salah satu prasasti yang menarik perhatian adalah prasasti milik seorang perwira berdarah Jerman bernama  “Wilhelm Graf von Taubenheim”. Di masa kolonial, militer Belanda memperkerjakan beberapa orang dari Jerman sebagai perwira militer. Mereka terkenal atas kecakapannya di bidang militer. Bahasa yang dipakai pada makam ini menggunakan bahasa Jerman, bukan bahasa Belanda seperti makam –makam tua lainnya di kerkhof ini. Jadi dapat dikatakan makam ini merupakan sebuah makam yang cukup langka. Ukuran prasasti yang terbuat dar marmer ini juga luar biasa. Bayangkan ketebalan marmernya mencapai 8 cm, sementara lebarnya dan tingginya masing-masing lebih dari 1 meter. Tentu butuh banyak orang untuk mengangkatnya. Sayangnya, prasasti ini sedikit patah. Sepertinya, prasasti ini dulu sempat akan dijarah, namun karena terlalu berat, maka batu prasasti patah dan akhirnya si penjarah mengurungkan niatnya untuk mengambil prasasti ini karena sudah terlanjur rusak. Yah, semoga prasasti ini tetap berada di tempatnya.
Sebuah makam yang baru saja diziarahi.
Kerkhof Purworejo sekarang masuk dalam register Cagar Budaya, dengan demikian makam-makam Belanda tua di sini termasuk prasastinya sudah dilindungi oleh undang-undang, sehingga barangsiapa yang merusak atau mengambil prasasti yang ada di kekrhof ini, maka dia akan dikenai dengan hukuman yang berlaku. Selain itu, makam-makam di sini juga dilindungi oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal. Menurut penuturan warga sekitar yang saya temui, pernah suatu ketika ada sebuah makam yang prasastinya diambil oleh orang. Keesokan harinya, prasasti tersebut kembali lagi ke makam asalnya dan orang yang mengambil prasasti tersebut meninggal mendadak. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mencoba-coba untuk mengambil prasasti  makam di kerkhof ini. Percaya tidak percaya, yang jelas dari cerita tersebut ada pelajaran berharga bahwa jangan sekali-kali mengambil barang yang bukan haknya seperti prasasti makam tadi....

Demikianlah catatan saya hasil blusukan di Kerkhof Purworejo. Makam-makam di Kerkhof ini memiliki berbagai bentuk yang unik dan berbeda dengan makam-makam yang ada saat ini sehingga menjadi keunikan tersendiri. Sayangnya banyak makam-makam ini sudah rusak dan prasastinya sudah hilang dijarah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga orang Belandda yang akan berziarah ke sini tidak tahu lagi di manakah makam leluhurnya. Padahal banyak sekali orang-orang Belanda yang rela pergi jauh-jauh ke Indonesia hanya sekedar untuk mencari tahu di mana makam leluhurnya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan mereka ketika makam leluhurnya hilang hanya karena sikap ketidakpedulian kita. Semoga hal ini bisa menjadi renungan kita bersama semuanya…

Referensi
Chawari, Muhammad. 2003. " Bentuk Makam-Makam Belanda di Cilacap dan Purworejo " dalam Berkala Arkeologi Th.XXIII (1).

Poldervaart, A. 1933. " De Nieuwe Europeesche Begrafplaats te Bandoeng " dalam Locale Techniek no.4 bulan Oktober 1933.


Tantomi, Ade Faizel. 2013. " Bentuk-Bentuk Nisan Belanda di Kerkhof Purworejo ". Skripsi . Yogyakarta : Fakultaas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Minggu, 20 September 2015

Menelusuri Bekas Pabrik Gula Randugunting


Foto lama PG Randugunting yang memperlihatkan kegiatan bongkar muat tebu oleh kuli prbumi (Sumber : Tropenmuseum.nl)
Halo sahabat Jejak Kolonial, kira-kira pernahkah anda semua mendengar nama Pabrik Gula Randugunting ? Jika belum pernah, maka itu merupakan hal yang wajar karena pabrik gula ini memang sudah cukup lama menghilang. Nah, pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk menelusuri sisa-sisa Pabrik Gula Randugunting.


Keberadaan pabrik gula ini pertama kali saya ketahui dari penelusuran peta-peta topografi dari masa kolonial yang tersedia di internet. Setelah saya mencocokan lokasi yang ada di peta lama dengan citra satelit google map, kemudian saya melakukan survey ke lokasi bekas berdirinya PG Randugunting untuk menelusuri apa saja yang masih tersisa dari PG Randuguntig. Apa sajakah yang masih tersisa dari pabrik Gula Randugunting ? Yuk kita telusuri.


Lokasi
Lokasi PG Randugunting.


Lokasi PG Randugunting sendiri cukup unik karena sebagian bangunan pabrik berada di wilayah Yogyakarta, sementara sebagian lainnya berada di wilayah Klaten,Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi situs PG Randugunting,dari pintu masuk Taman Wisata Candi Prambanan lurus terus ke utara. Ikuti jalan sampai anda menemukan lahan persawahan di kanan jalan, kemudian jalan terus sampai perempatan yang ada warung makan.Lalu beloklah ke kiri. Nah, pekampungan di kiri jalan itulah dahulu pernah berdiri PG Randugunting. PG Randugunting dikenal juga dengan PG Tjandisewoe karena sekitar ratusan meter di selatan PG Randugunting terdapat situs Candi Sewu.


Bekas lokasi pabrik ini sekarang menjadi perkampungan bernama Dukuh Mbabrik. Hmmm cukup menarik. Nama kampung ini pasti berasal dari kata "Pabrik", sehingga dapat dipastikan bahwa dahulu di tempat ini pernah berdiri sebuah pabrik. Lokasi administratif pabrik sekarang berada di Desa Tamanan,Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.
Sekilas Sejarah PG Randugunting
Berdasarkan data sejarah saya temukan, Pabrik Gula Randugunting dimiliki oleh perusahaan Koloniale Bank yang berpusat di Surabaya (Dingemans.LF, 1925;122). Pabrik ini ditutup akibat krisis malaise pada tahun 1930an dan pada masa Agresi Militer Belanda II yang pecah pada tahun 1948-1949, bangunan pabrik diratakan oleh para pejuang dengan tujuan agar tidak dipakai lagi oleh Belanda (Inajati, 2009;198). Yah,mau bagaimana lagi.....
Foto lama PG Randugunting (Sumber : Tropenmuseum.nl).
Cerobong besar yang tidak dapat dibongkar
Denah kompleks PG Randugunting ketika masih berdiri (1935).
Citra satelit google map yang menunjukan kondisi PG Randugunting saat ini.
Survey pertama yang saya lakukan berhasil menemukan beberapa sisa tembok lama yang kemungkinan besar merupakan bekas pagar rumah dinas. Di sekitar Pabrik Gula Randugunting pernah berdiri kira-kira 10 bangunan rumah dinas pegawai pabrik gula yang saat ini sudah hilang semua dan hanya menyisakan beberapa tembok pagar tadi. Walaupun pagar ini terlihat tebal, namun pagar-pagar ini tidak setinggi pagar rumah pada masa sekarang. Di masa lalu, seperti yang ditulis oleh  Harriet W. Ponder pada buku "Javanese Panorama", pagar-pagar depan tempat tinggal milik orang Belanda biasanya dibuat rendah, sehingga para penghuni yang sedang duduk santai di teras depan dapat menikmati lingkungan sekitar yang waktu itu masih asri (Rush, 2013; 218 ). Struktur pagar ini dapat dijumpai di pinggiran jalan. Mungkin bagi banyak orang yang belum tahu, struktur pagar yang sudah rusak ini terlihat tidak istimewa, sama seperti pagar-pagar lainnya. Padahal pagar ini dahulu merupakan bagian dari sejarah PG Randugunting.
Sisa-sisa struktur pagar halaman tempat tinggal.
Kemudian,ketika saya melakukan survey untuk yang kedua kalinya, saya menemukan sebuah struktur bangunan berbentuk persegi yang menjulang tinggi di tengah pemukiman dan dapat dilihat dari kejauhan. Setelah saya dekati dan amati, ternyata struktur bangunan ini merupakan bekas dari cerobong pabrik. Baru pertama kali saya melihat sebuah cerobong sebesar ini dan sedikit takjub melihat cerobong ini masih berdiri sampai sekarang walaupun usianya sudah lebih dari setengah abad. Sulit dibayangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu dengan peralatan seadanya bisa membangun cerobong sebesar ini. 


Di sekitar bekas cerobong sudah berdiri beberapa rumah milik warga dan tepat di bawah cerobong sudah berdiri sebuah musholla kecil. Jika dilihat dari luar,  struktur ini berbentuk persegi dengan sebuah rongga besar di sisi timur. Dinding struktur ini terbuat dari batu-bata besar yang dilepa dengan lapisan mortar dan dibangun tanpa tulangan besi !!
Struktur bekas cerobong PG Randugunting dilihat dari sebelah timur.


Perbandingan struktur dudukan cerobong PG Randugunting dilihat dari sebelah selatan dengan bangunan di sekitarnya. Gede tenan !!
Untuk masuk ke dalam, saya harus memanjat dinding pondasi setinggi dua meteran. Cukup sulit karena tidak ada tangga dan hanya mengandalkan tumpuan batu saja. Bagian dalam cerobong ternyata bentuk tabung. Kondisi bagian dalam sangat kotor, lembab, dipenuhi tanaman dan serangga nyamuk. Kulit saya berulang kali digigit oleh nyamuk. Bekas cerobong ini sekarang tinggal 10 meter. Meski sudah jauh berkurang jika dibandingkan ketika pabrik gula ini masih aktif, namun cerobong ini masih terlihat tinggi dan gagah
Bagian dalam sisa cerobong PG Randugunting.
Di bagian bibir masuk, terdapat bekas-bekas linggis yang menandakan bahwa struktur ini sempat dicoba untuk dibongkar namun setelah itu ditinggalkan begitu saja. Benar saja, dari kesaksian penduduk sekitar yang saya tanya, bekas cerobong ini sebenarnya mau dibongkar oleh warga namun akhirnya tidak selesai karena warga kesulitan untuk membongkar cerobong akibat lapisan tembok terlalu tebal sehingga susah untuk dibongkar. Bagaimana tidak susah, jika tebal temboknya saja bisa mencapai hampir satu meter !! Jauh lebih tebal jika dibandingkan tembok zaman sekarang. Selain itu,jika dipaksakan untuk dibongkar, maka material bongkaran dikhawatirkan akan jatuh menimpa rumah warga. Meski sudah tinggal separo, keberadaan cerobong ini bisa menjadi penanda bahwa dahulu di tempat ini pernah berdiri sebuah pabrik gula.
Begitulah penelusuran saya ke sisa - sisa Pabrik Gula Randugunting yang meskipun sudah hilang, namun masih meninggalkan bekas berupa toponim dan tentunya bekas struktur Pabrik Gula. Apakah anda tertarik juga untuk menelusurinya ? 
Referensi
Andrisijantiromli, Inajati  dkk. 2009. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Dingemans, L. F. 1925Gegevens over Djokjakarta


Rush, James R. 2013, Jawa Tempo Doeloe, 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985, Depok : Komunitas Bambu.