Minggu, 20 September 2015

Menelusuri Bekas Pabrik Gula Randugunting


Foto lama PG Randugunting yang memperlihatkan kegiatan bongkar muat tebu oleh kuli prbumi (Sumber : Tropenmuseum.nl)
Halo sahabat Jejak Kolonial, kira-kira pernahkah anda semua mendengar nama Pabrik Gula Randugunting ? Jika belum pernah, maka itu merupakan hal yang wajar karena pabrik gula ini memang sudah cukup lama menghilang. Nah, pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk menelusuri sisa-sisa Pabrik Gula Randugunting.


Keberadaan pabrik gula ini pertama kali saya ketahui dari penelusuran peta-peta topografi dari masa kolonial yang tersedia di internet. Setelah saya mencocokan lokasi yang ada di peta lama dengan citra satelit google map, kemudian saya melakukan survey ke lokasi bekas berdirinya PG Randugunting untuk menelusuri apa saja yang masih tersisa dari PG Randuguntig. Apa sajakah yang masih tersisa dari pabrik Gula Randugunting ? Yuk kita telusuri.


Lokasi
Lokasi PG Randugunting.


Lokasi PG Randugunting sendiri cukup unik karena sebagian bangunan pabrik berada di wilayah Yogyakarta, sementara sebagian lainnya berada di wilayah Klaten,Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi situs PG Randugunting,dari pintu masuk Taman Wisata Candi Prambanan lurus terus ke utara. Ikuti jalan sampai anda menemukan lahan persawahan di kanan jalan, kemudian jalan terus sampai perempatan yang ada warung makan.Lalu beloklah ke kiri. Nah, pekampungan di kiri jalan itulah dahulu pernah berdiri PG Randugunting. PG Randugunting dikenal juga dengan PG Tjandisewoe karena sekitar ratusan meter di selatan PG Randugunting terdapat situs Candi Sewu.


Bekas lokasi pabrik ini sekarang menjadi perkampungan bernama Dukuh Mbabrik. Hmmm cukup menarik. Nama kampung ini pasti berasal dari kata "Pabrik", sehingga dapat dipastikan bahwa dahulu di tempat ini pernah berdiri sebuah pabrik. Lokasi administratif pabrik sekarang berada di Desa Tamanan,Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.
Sekilas Sejarah PG Randugunting
Berdasarkan data sejarah saya temukan, Pabrik Gula Randugunting dimiliki oleh perusahaan Koloniale Bank yang berpusat di Surabaya (Dingemans.LF, 1925;122). Pabrik ini ditutup akibat krisis malaise pada tahun 1930an dan pada masa Agresi Militer Belanda II yang pecah pada tahun 1948-1949, bangunan pabrik diratakan oleh para pejuang dengan tujuan agar tidak dipakai lagi oleh Belanda (Inajati, 2009;198). Yah,mau bagaimana lagi.....
Foto lama PG Randugunting (Sumber : Tropenmuseum.nl).
Cerobong besar yang tidak dapat dibongkar
Denah kompleks PG Randugunting ketika masih berdiri (1935).
Citra satelit google map yang menunjukan kondisi PG Randugunting saat ini.
Survey pertama yang saya lakukan berhasil menemukan beberapa sisa tembok lama yang kemungkinan besar merupakan bekas pagar rumah dinas. Di sekitar Pabrik Gula Randugunting pernah berdiri kira-kira 10 bangunan rumah dinas pegawai pabrik gula yang saat ini sudah hilang semua dan hanya menyisakan beberapa tembok pagar tadi. Walaupun pagar ini terlihat tebal, namun pagar-pagar ini tidak setinggi pagar rumah pada masa sekarang. Di masa lalu, seperti yang ditulis oleh  Harriet W. Ponder pada buku "Javanese Panorama", pagar-pagar depan tempat tinggal milik orang Belanda biasanya dibuat rendah, sehingga para penghuni yang sedang duduk santai di teras depan dapat menikmati lingkungan sekitar yang waktu itu masih asri (Rush, 2013; 218 ). Struktur pagar ini dapat dijumpai di pinggiran jalan. Mungkin bagi banyak orang yang belum tahu, struktur pagar yang sudah rusak ini terlihat tidak istimewa, sama seperti pagar-pagar lainnya. Padahal pagar ini dahulu merupakan bagian dari sejarah PG Randugunting.
Sisa-sisa struktur pagar halaman tempat tinggal.
Kemudian,ketika saya melakukan survey untuk yang kedua kalinya, saya menemukan sebuah struktur bangunan berbentuk persegi yang menjulang tinggi di tengah pemukiman dan dapat dilihat dari kejauhan. Setelah saya dekati dan amati, ternyata struktur bangunan ini merupakan bekas dari cerobong pabrik. Baru pertama kali saya melihat sebuah cerobong sebesar ini dan sedikit takjub melihat cerobong ini masih berdiri sampai sekarang walaupun usianya sudah lebih dari setengah abad. Sulit dibayangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu dengan peralatan seadanya bisa membangun cerobong sebesar ini. 


Di sekitar bekas cerobong sudah berdiri beberapa rumah milik warga dan tepat di bawah cerobong sudah berdiri sebuah musholla kecil. Jika dilihat dari luar,  struktur ini berbentuk persegi dengan sebuah rongga besar di sisi timur. Dinding struktur ini terbuat dari batu-bata besar yang dilepa dengan lapisan mortar dan dibangun tanpa tulangan besi !!
Struktur bekas cerobong PG Randugunting dilihat dari sebelah timur.


Perbandingan struktur dudukan cerobong PG Randugunting dilihat dari sebelah selatan dengan bangunan di sekitarnya. Gede tenan !!
Untuk masuk ke dalam, saya harus memanjat dinding pondasi setinggi dua meteran. Cukup sulit karena tidak ada tangga dan hanya mengandalkan tumpuan batu saja. Bagian dalam cerobong ternyata bentuk tabung. Kondisi bagian dalam sangat kotor, lembab, dipenuhi tanaman dan serangga nyamuk. Kulit saya berulang kali digigit oleh nyamuk. Bekas cerobong ini sekarang tinggal 10 meter. Meski sudah jauh berkurang jika dibandingkan ketika pabrik gula ini masih aktif, namun cerobong ini masih terlihat tinggi dan gagah
Bagian dalam sisa cerobong PG Randugunting.
Di bagian bibir masuk, terdapat bekas-bekas linggis yang menandakan bahwa struktur ini sempat dicoba untuk dibongkar namun setelah itu ditinggalkan begitu saja. Benar saja, dari kesaksian penduduk sekitar yang saya tanya, bekas cerobong ini sebenarnya mau dibongkar oleh warga namun akhirnya tidak selesai karena warga kesulitan untuk membongkar cerobong akibat lapisan tembok terlalu tebal sehingga susah untuk dibongkar. Bagaimana tidak susah, jika tebal temboknya saja bisa mencapai hampir satu meter !! Jauh lebih tebal jika dibandingkan tembok zaman sekarang. Selain itu,jika dipaksakan untuk dibongkar, maka material bongkaran dikhawatirkan akan jatuh menimpa rumah warga. Meski sudah tinggal separo, keberadaan cerobong ini bisa menjadi penanda bahwa dahulu di tempat ini pernah berdiri sebuah pabrik gula.
Begitulah penelusuran saya ke sisa - sisa Pabrik Gula Randugunting yang meskipun sudah hilang, namun masih meninggalkan bekas berupa toponim dan tentunya bekas struktur Pabrik Gula. Apakah anda tertarik juga untuk menelusurinya ? 
Referensi
Andrisijantiromli, Inajati  dkk. 2009. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Dingemans, L. F. 1925Gegevens over Djokjakarta


Rush, James R. 2013, Jawa Tempo Doeloe, 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985, Depok : Komunitas Bambu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar