Minggu, 27 September 2015

Melacak Makam-Makam Belanda di Kerkhof Purworejo

Halo sahabat Jejak Kolonial. Pada kesempatan kali ini,, saya akan mengajak anda untuk berkunjung ke salah satu tinggalan kolonial yang cukup khas, yakni kerkhof atau pemakaman Belanda. Mungkin terlihat seram tapi ketahuilah ada banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan dari sebuah kompleks kekrhof. Pertama, kerkhof tidak dapat ditemui di setiap tempat. Hanya tempat-tempat yang dahulu pernah didiami oleh orang Eropa yang memiliki kerkhof. Sehingga kerkhof merupakan peninggalan sejarah yang cukup langka. Kedua, bentuk- bentuk makam di kerkhof berbeda jika dibandingkan dengan makam – makam zaman sekarang. Ketiga, lewat kerkhof kita dapat mengetahui siapa saja yang dimakamkan di situ, dimana tempat tanggal lahir dan meninggalnya, jabatan terakhir ,hingga silsilah keluarga yang bisa menjadi salah satu data sejarah yang cukup berharga.


Nah, Kerkhof pertama yang akan saya kupas pada blog saya ini adalah Kerkhof Purworejo. Mengapa Kerkhof Purworejo ? Simpel, karena kerkhof ini berada di kota kelahiran saya, Purworejo. Kota Purworejo sebenarnya cukup beruntung masih memiliki tinggalan sejarah seperti ini karena di kota-kota lain, keberadaan kerkhof sudah tergusur akibat pembangunan kota. Yah meski Kerkhof Purworejo dalam kondisi utuh, namun kondisinya juga tidak bisa dikatakan bagus.


Kira-kira bagaimana kondisi Kerkhof Purworejo sekarang, mengapa ada Kerkhof di tengah kota Purworejo, lalu bagaimana bentuk-bentuk makamnya ? Mari kita lacak bersama-sama….

Lokasi Kerkhof Purworejo




Lokasi kerkhof Purworejo berada di kelurahan Sindurjan, Kecamatan Purworejo. Lokasi kerkhof ini tidak begitu jauh dari pusat kota sehingga sangat mudah untuk menuju ke sini. Untuk menuju ke kekrhof Purworejo, dari alun-alun Purworejo jalan ke selatan menelusuri jln.Mayjend.Soetoyo hingga kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Purworejo. Di sebelah utara kantor BKD, terdapat sebuah jalan ke kiri dan di ujung jalan,terlihat sebuah gerbang antik yang menjadi gerbang masuk kompleks Kerkhof Purworejo.

Sekilas Latar Belakang Kerkhof Purworejo
Suasana jalan masuk ke arah Kerkhof sekitar tahun 1910an. Pohon-pohon besar di sepanjang jalan masuk menjadikan suasana terasa rindang. Sayangnya pohon-pohon ini sudah tidak ada lagi. Di ujung jalan,terlihat gerbang masuk Kerkhof yang bentuknya tidak berubah sampai saat ini (Sumber : media-kitlv.nl).
Latar belakang kemunculan Kerkhof Purworejo tidak bisa dipisahkan dari kehadiran orang-orang Belanda di Purworejo. Purworejo sendiri dahulu merupakan garnisun militer milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi semacam kota kecil. Adapun orang-orang Belanda ini kebanyakan berprofesi di bidang militer.

Tidak semua orang Belanda yang meninggal di Hindia-Belanda dapat dimakamkan kembali ke negeri asalnya karena butuh biaya mahal untuk mengirimkan jenasah kembali ke negeri Belanda. Oleh karena itu mereka lebih memilih dimakamkan di daerah yang dekat dengan tempat mereka meninggal.

Hingga sekarang, masih belum diketahui dengan pasti sejak kapan Kerkhof Purworejo ini mulai ada. Namun berdasarkan data pada epitaf (prasasti nisan) tertua yang ada,Kerkhof Purworejo sepertinya sudah ada sejak tahun 1850-an.

Sebentar, sebelum kita melanjutkan pembahasan lebih lanjut soal Kerkhof Purworejo, barangkali saya perlu menjelaskan kepada anda mengenai asal usul istilah"Kerkhof". Istilah "Kerkhof" berasal dari bahasa Belanda yang berarti kuburan. Di masa-masa awal kehadiran bangsa  Belanda di Indonesia, sesuai dengan tradisi yang berkembang di daratan Eropa, orang-orang Belanda memiliki tradisi memakamkan jenasah di sekitar halaman gereja atau dalam bahasa Belanda disebut dengan kerk. Pada tahun 1795, Gereja melarang pembangunan makam di sekitar gereja dengan alasan kesehatan karena pada waktu itu muncul wabah penyakit yang timbul dari jenasah yang dimakamkan di sekitar gereja. Akhirnya lahan pemakaman dipindah ke lahan milik pemerintah. Pemilihan lokasinya harus memperhatikan aspek kesehatan yaitu dengan dibangun agak jauh dari pemukiman (Ade Faizal Tantomi,2013;13-14). Dari sinilah istilah "Kerkhof" berasal meskipun lokasi makam sudah tidak di dekat gereja lagi.
Lokasi Kerkhof Purworejo pada peta tahun 1905. Kerkhof biasanya ditandai dengan simbol salib pada peta. (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Banyak hal yang ternyata harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi lahan kerkhof. Majalah Locale Techniek no.4 bulan Oktober 1933 menguarikan dengan jelas bagaimana lahan kerkhof sebaiknya dipilih. Disebutkan di majalah ini bahwa tidak setiap tempat dapat digunakan sebagai tempat pemakaman. Dalam hal ini orang harus memilih tempat yang datar, tanahnya harus dapat merembeskan air, bukan tanah lempung atau padas serta tempat tadi harus gampang dapat mengalirkan air dan jangan sampai mendapat aliran air dari permukaan yang lebih tinggi. Selain itu juga pemilihan lokasi juga harus memperhitungkan perkembangan luas sebuah kota, jangan sampai sebuah pemakaman menahan perluasan sebuah kota sebab orang-orang tidak begitu senang tinggal di dekat lokasi pemakaman.

Melacak Makam-Makam Belanda
Gerbang masuk ke kompleks Kerkhof Purworejo yang baru saja dipugar. Bentuk gerbang yang antik ini tidak berubah sejak dahulu.
Sebelum melangkah masuk ke dalam, kita akan disambut dengan sebuah gerbang masuk bergaya Eropa yang terlihat megah. Dari foto lama, bentuk gerbang ini sepertinya masih asli, tapi sayangnya renovasi yang baru menghilangkan kesan antik pada gerbang ini. Gerbang dicat dengan warna merah-kuning yang seharusnya menjadi warna sebuah klenteng. Di atas gerbang, terdapat tulisan “MAKAM KERKHOPE” yang tentu saja salah penulisannya. Daripada kita mempersoalkan gerbang ini, mari kita teruskan perjalanan kita ke dalam. Nah, jika pandangan kita alihkan ke atas tulisan “MAKAM KERKHOPE” tadi, kita akan melihat sebuah inskripsi yang berbunyi “ MEMENTO MORI”. Ingat, ini bukan nama merk kain mori yang mendanai pembangunan gerbang ini. Ini adalah kalimat dari bahasa Latin yang kika diterjemahkan  ke dalam bahasa Indonesia berarti “ Ingatlah Kematian”. Jika kita renungkan, pesan dari kalimat ini cukup dalam. Ya, kalimat ini rasanya memang tepat sekali jika dipasang di atas gerbang masuk pemakaman. Seolah menjadi pesan bahwa kelak, suka tidak suka, kita semua pasti akan menghadapi kematian dan bergabung dengan para penghuni makam yang sudah beristirahat dengan tenang selamanya….

Sisi selatan kekrhof Purworejo. Tampak banyak makam yang kondisinya sudah rusak parah.
Bagian barat Kerkhof Purworejo.
Memasuki area pemakamkan, suasana makam seluas 1,78 Ha ini tidak berbeda jauh dengan kebanyakan pemakaman lain. Pohon kamboja yang tumbuh di sela-sela makam, beberapa makam, baik yang lama maupun baru terlihat saling berdesakan satu sama lain seolah tidak ada yang mau mengalah. Di sekililing makam, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Satu-satunya yang membedakan kerkhof Purworejo dengan pemakaman lain yakni keberadaan makam-makam tua berusia puluhan tahun milik orang-orang Belanda yang dimakamkan di sini.

Sisi utara kompleks Kerkhof Purworejo.
Memasuki area pemakamkan, suasana makam seluas 1,78 Ha ini tidak berbeda jauh dengan kebanyakan pemakaman lain. Pohon kamboja yang tumbuh di sela-sela makam, beberapa makam, baik yang lama maupun baru terlihat saling berdesakan satu sama lain seolah tidak ada yang mau mengalah. Di sekililing makam, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Satu-satunya yang membedakan kerkhof Purworejo dengan pemakaman lain yakni keberadaan makam-makam tua berusia puluhan tahun milik orang-orang Belanda yang dimakamkan di sini.
Makam terbesar yang ada di kompleks Kerkhof Purworejo.
Hingga saat ini, Kerkhof Purworejo masih digunakan sebagai tempat pemakaman umum bagi masyarakat yang beragama Nasrani, sehingga tidak heran jika kita akan melihat makam-makam baru yang berada di sela-sela makam-makam lama. Beberapa makam malah ada yang berbentuk seperti Bongpay atau makam khas Tionghoa, sehingga bagi saya sendiri, makam ini seolah salah alamat karena terlihat tidak serasi dengan makam-makam Belanda yang ada. Terkadang makam-makam yang usianya sudah tua dan ahli warisnya tidak jelas terpaksa dibongkar untuk makam yang baru.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, makam Belanda memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan makam lokal. Makam-makam lokal yang pada umumnya berlatar belakang Islam dengan ciri tanda makam yang bersifat sederhana, sebatas untuk menunjukan bagian kaki dan kepala. Selain itu,makam – makam lokal memiliki orientasi menghadap ke arah kiblat sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, makam-makam Belanda dibuat dengan bentuk yang bervariasi, ada yang sederhana saja hingga megah, besar, dan raya dengan berbagai ornamen.

Makam yang memiliki bentuk seperti rumah-rumahan.
Selama sekitar satu jam, saya mengitari seluruh kompleks makam untuk mendokumentasikan berbagai makam Belanda yang masih tersisa. Entah sudah berapa kali kaki saya lecet terkena duri tanaman liar. Keringat pun mulai menetes dengan derasnya di kepala saya karena udara di area pemakaman ini benar-benar panas sebab tidak pohon yang cukup teduh di area kerkhof ini.

Makam-makam dengan bentuk peti mati atau sarkofagus.
Makam-makam berbentuk tugu.
Dari pengamatan saya, makam-makam Belanda di kerkhof Purworejo memiliki bentuk yang bervariasi. Mulai dari berbentuk tugu, sarkofagus sampai mausoleum. Saya sendiri tidak terlalu hafal ada berapa makam Belanda yang ada di sini karena jumlahnya lumayan banyak. Menurut sebuah penelitian yang pernah saya baca, makam di Kerkhof Purworejo yang berbentuk tugu berjumlah 79 buah. Sementara untuk makam yang berbentuk mausoleum berjumlah 4 buah (Muhammad Chawari,2003;104-105).

Makam-makam yang memiliki cungkup.
Selain makam berbentuk tugu dan Mausoleum, di kerkhof Purworejo kita juga dapat melihat makam-makam yang berbentuk seperti peti mati atau sarkofagus. Beberapa makam ini ada yang diberi cungkup. Cungkup sebenarnya kurang lazim untuk makam-makam Eropa. Kemungkinan besar keberadaan cungkup ini terpengaruh oleh kebiasaan orang-orang Jawa dalam membangun makam yang seringkali di atas makam dibangun sebuah cungkup. Bisa juga cungkup ini sengaja dibanun untuk melindungi batu nisan dari terpaan cuaca yang dapat merusak batu nisan sehingga tulisan di batu nisan menjadi aus dan tidak terbaca. Sayangnya, banyak cungkup-cungkup makam ini yang mulai rusak. Saya melihat sendiri banyak cungkup yang atap sengnya sudah ambrol, tiang besi penyangga atap cungkup juga mulai terlihat lapuk.

Makam-makam yang berbentuk seperti bangunan kuil Yunani Klasik.
Jika diamati, perbedaan bentuk makam-makam ini ternyata merefleksikan kemampuan orang tersebut dalam menampilkan bentuk makam yang diinginkan. Semakin mampu seseorang, maka dia akan membuat makam yang lebih besar dan megah. Sebaliknya orang yang kurang mampu hanya mampu menampilkan bentuk makam yang lebih  kecil dan sederhana.(Muhammad Chawari,2003;107). Ya, bahkan sekalipun orang sudah meninggal, dia masih berusaha menunjukan kemampuan dan kedudukannya pada orang-orang yang masih hidup.

Makam milik Wilhelm Graf von Taubenheim. Makam ini tergolong unik karena bahasa yang digunakan pada prasasti ini adalah bahasa Jerman sebab orang yang dimakamkan di sini merupakan orang Jerman.
Beberapa makam di kompleks kerkhof ini ada yang kondisinya masih lumayan bagus. Makam-makam seperti ini biasanya masih ada sanak keluarga yang menziarahinya. Namun sebagian besar makam yang saya temukan rata-rata sudah rusak cukup parah. Ada yang tanahnya ambles sehingga rongga tempat dulu menyimpan jenasah dapat dilihat. Ada yang kalau dilihat sekilas cuma sepert tumpukan bata biasa saja. Tapi, rata-rata makam-makam ini batu nisannya sudah hilang dijarah sehingga kita tidak tahu lagi siapa yang dimakamkan di sini. Menurut penuturan warga sekitar kompleks kerkhof yang sedang mencari bunga kamboja untuk dijual,  penjarahan prasasti kerkhof Purworejo terjadi pada tahun 1970an. Pada waktu itu, memang sedang marak aksi penjarahan prasasti kerkhof karena prasasti-prasasti ini terbuat dari batu marmer Italia yang mahal dan sedang booming pada waktu itu. Banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab rela menjarah prasasti pada kerkhof supaya meraih untung banyak. Saking masifnya penjarahan, bahkan menurut warga, prasasti yang dijarah dalam semalam bisa mencapai satu truk !! Kini, kita semua yang hidup di masa sekarang tentu merasa kehilangan karena prasasti-prasasti tadi merupakan data sejarah yang cukup penting. Mungkin nilainya sama pentingnya dengan data prasasti dari masa-masa kerajaan Hindu-Buddha dan sama pentingnya juga dengan prasasti makam raja – raja masa kerajaan Islam.
Ada dua jenis bahan yang digunakan untuk prasasti pada makam-makam di kerkhof Purworejo, yakni batu andesit (kiri) dan batu marmer (kanan).
Meski sudah banyak makam yang prasastinya sudah hilang, kita masih bisa menjumpai sebagian kecil makam yang prasastinya masih utuh. Salah satu prasasti yang menarik perhatian adalah prasasti milik seorang perwira berdarah Jerman bernama  “Wilhelm Graf von Taubenheim”. Di masa kolonial, militer Belanda memperkerjakan beberapa orang dari Jerman sebagai perwira militer. Mereka terkenal atas kecakapannya di bidang militer. Bahasa yang dipakai pada makam ini menggunakan bahasa Jerman, bukan bahasa Belanda seperti makam –makam tua lainnya di kerkhof ini. Jadi dapat dikatakan makam ini merupakan sebuah makam yang cukup langka. Ukuran prasasti yang terbuat dar marmer ini juga luar biasa. Bayangkan ketebalan marmernya mencapai 8 cm, sementara lebarnya dan tingginya masing-masing lebih dari 1 meter. Tentu butuh banyak orang untuk mengangkatnya. Sayangnya, prasasti ini sedikit patah. Sepertinya, prasasti ini dulu sempat akan dijarah, namun karena terlalu berat, maka batu prasasti patah dan akhirnya si penjarah mengurungkan niatnya untuk mengambil prasasti ini karena sudah terlanjur rusak. Yah, semoga prasasti ini tetap berada di tempatnya.

Kerkhof Purworejo sekarang masuk dalam register Cagar Budaya, dengan demikian makam-makam Belanda tua di sini termasuk prasastinya sudah dilindungi oleh undang-undang, sehingga barangsiapa yang merusak atau mengambil prasasti yang ada di kekrhof ini, maka dia akan dikenai dengan hukuman yang berlaku. Selain itu, makam-makam di sini juga dilindungi oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal. Menurut penuturan warga sekitar yang saya temui, pernah suatu ketika ada sebuah makam yang prasastinya diambil oleh orang. Keesokan harinya, prasasti tersebut kembali lagi ke makam asalnya dan orang yang mengambil prasasti tersebut meninggal mendadak. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mencoba-coba untuk mengambil prasasti  makam di kerkhof ini. Percaya tidak percaya, yang jelas dari cerita tersebut ada pelajaran berharga bahwa jangan sekali-kali mengambil barang yang bukan haknya seperti prasasti makam tadi....

Demikianlah catatan saya hasil blusukan di Kerkhof Purworejo. Makam-makam di Kerkhof ini memiliki berbagai bentuk yang unik dan berbeda dengan makam-makam yang ada saat ini sehingga menjadi keunikan tersendiri. Sayangnya banyak makam-makam ini sudah rusak dan prasastinya sudah hilang dijarah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga orang Belandda yang akan berziarah ke sini tidak tahu lagi di manakah makam leluhurnya. Padahal banyak sekali orang-orang Belanda yang rela pergi jauh-jauh ke Indonesia hanya sekedar untuk mencari tahu di mana makam leluhurnya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan mereka ketika makam leluhurnya hilang hanya karena sikap ketidakpedulian kita. Semoga hal ini bisa menjadi renungan kita bersama semuanya…

Referensi
Ade Faizel Tantomi. 2013. Bentuk-Bentuk Nisan Belanda di Kerkhof Purworejo. Jurusan Arkeologi. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gajah Mada. Skripsi.

Locale Techniek no.4 bulan Oktober 1933

Muhammad Chawari. 2003. Bentuk Makam-Makam Belanda di Cilacap dan Purworejo dalam Berkala Arkeologi Th.XXIII (1).

5 komentar:

  1. Menarik! Kudu diagendakan kalau mlipir ke Purworejo. Thanks banget infonya mas ^^

    BalasHapus
  2. Sepertinya ada fotonya situ bung yang dipinjem di situs ini ;) ini situs khusus bahas tentang kerkhof hehe unik juga, mungkin pengen ada datanya macem data orang-orang yang dimakamkan di Ereveld.

    http://www.imexbo.nl/purworejo-kerkhof.html

    BalasHapus
  3. @ Muhammad Yogi;Hmmm kayanya gak ada mas.Tapi bagus juga situsnya hehe

    BalasHapus
  4. Siang-siang ke situ sensari ngerinya ngena, sepi banget

    BalasHapus