Selasa, 27 Oktober 2015

Mengintip Kompleks HKS Purworejo, Sekolah Calon Guru Masa Kolonial

Ok. Pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk melihat salah satu monumen sejarah pendidikan yang cukup istimewa di kota Purworejo, yakni kompleks eks HKS Purworejo atau kini dikenal sebagai SMAN 7 Purworejo. Mengapa dianggap sangat istimewa ? Nah hal ini nanti akan saya jelaskan pada tulisan Jejak Kolonial kali ini. Selain sejarahnya yang istimewa, anda juga akan melihat keistimewaan kompleks sekolah ini. Hmmm seperti apa sih keistimewaan HKS Purworejo? Daripada anda penasaran, mari kita telusuri bersama-sama……

‘IKIP’ Masa Kolonial
Gedung HKS tempo doeloe.
Sejarah berdirinya HKS Purworejo  yang merupakan singkatan dari Hoogere Kweek School Purworejo (Sekolah Tinggi Guru) berhubungan erat dengan praktik politik etis di Hindia Belanda yang pertama kali dicetuskan oleh Douwes Dekker dan Van Deventer pada tahun 1870an sebagai reaksi atas sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang dianggap menyengsarakan rakyat jajahan. Menurut Douwes Dekker dan Van Deventer, pemerintah kolonial sudah seharusnya menyediakan pendidikan yang layak bagi rakyat pribumi sebagai bentuk pertanggung jawaban mereka yang telah mengambil sumber daya alam bangsa Indonesia. Setelah menunggu puluhan tahun, politik etis akhirnya baru diterapkan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1901, setelah Ratu Wilhelmina yang baru saja naik tahta menegaskannya pada pidato pembukaan parlemen.
Para pengajar HKS (Sumber : budayapurworejo.blogsspot.com)
Mulanya, institusi pendidikan di Hindia-Belanda sengaja dibuka guna memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah atau perusahaan swasta Belanda. Pada waktu itu, di Hindia Belanda memang banyak perusahaan swasta yang baru saja berdiri. Dengan pertimbangan biaya yang lebih murah, perusahaan lebih memilih untuk mendidik orang-orang pribumi menjadi tenaga profesional daripada mendatangkan tenaga profesional dari Eropa yang perlu biaya banyak untuk mendatangkannya. Oleh karena itu, banyak didirikan sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar yang berdasarkan jenjangnya dimulai dari HIS, ELS, MULO, dan AMS serta berbagai sekolah kejuruan lainnya. Selain yang dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda, banyak juga sekolah yang dibuka oleh lembaga misi Katolik dan zending Belanda. Biasanya sekolah ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan rohaniawan yang dapat menguasai bahasa lokal.
Lokasi HKS pada peta tahun 1905, 10 tahun sebelum Kompleks HKS belum dibangun. Pada waktu itu, lahan HKS masih berupa Exercitie plein atau lapangan latihan militer (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Sekolah-sekolah tersebut tentu membutuhkan tenaga pengajar atau guru. Daripada mendatangkan guru dari Belanda langsung, mereka lebih memilih  untuk mendidik calon guru dari kalangan pribumi yang mampu mengajar bahasa Belanda. Oleh karena itulah pada 19 Oktober 1914 dibukalah Hoogere Kweekschool Purworejo dengan J. D. WinnenSementara itu kompleks gedung sekolah baru selesai dibangun pada tahun 1915. Peresmian sekolah dihadiri oleh Menteri Urusan Pendidikan Tanah Jajahan. Jadi dapat dibayangkan betapa pentingnya kehadiran sekolah ini di mas lalu. Kompleks sekolah  ini dibangun di bekas lahan Exertie Plein atau lapangan latihan untuk tentara yang tinggal di Infantrie Kampement  (sekarang Kompleks Yonif 412). Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan kemananan (karena dekat dengan kompleks militer), ketersediaan lahan dan aksesbilitas (berada di pinggir jalan Yogyakarta-Cilacap) (Albertus Agung Vidi S, 2009;75).
Berita dari harian De Sumatra Post, tanggal 22 Mei 1916 yang memberitakan pembangunan HKS menelan biaya sebesar f 43000 dan instalasi listrik sebesar f 10.000.
Foto udara yang memperlihatkan kompleks infantri Kedungkebo (sekarang Yonif 412 ). Foto ini menghadap ke arah utara.Terlihat sebagian sisi timur kompleks HKS (sumber : media-kitlv.nl).
HKS Purworejo merupakan sekolah calon guru HIS yang pertama di Hindia Belanda dan hanya ada tiga HKS saja di Hindia-Belanda. Selain di Purworejo, terdapat dua HKS di lain, yang pertama dibuka di Bandung (sekarang menjadi Kantor Polwitabes Bandung) dan yang kedua ada di Magelang (sekarang jadi kantor Disdukcapil Kota Magelang). Status Hoogere Kweekschool (HKS), lebih tinggi dari Kweekschool (Sekolah Guru). Jadi gampangannya, jika Kweekschool mungkin selevel dengan SPG, maka HKS selevel dengan IKIP. Di sinilah letak keistimewaan HKS Purworejo. Bayangkan saja, di seluruh Hindia-Belanda, pemerintah kolonial hanya mendirikan tiga sekolah saja dan hanya kompleks HKS Purworejo saja yang masih eksis sebagai sekolah. 
Berita dari Bataviasch Nieuwsblad , tanggal 13 Ferbruari 1918 yang mengabarkan bahwa HKS Purworejo akan diselanggakaran ujian akhir pada tanggal 17 hingga 23 April.
Lalu apa yang membedakan HKS dengan Kweekschool ? Setelah lulus dari HKS, para alumnus HKS dapat mengajar di HIS yang pada waktu itu merupakan sekolah prestise. Untuk lulus, murid-murid ini harus melewati ujian terlebih dahulu. Hal yang menarik adalah murid-murid HKS mendapat segala faslitas secara cuma-cuma alias gratis dan diberi uang saku sebesar f 20 sebulan( Kays. J, 1922;23). Mirip dengan sekolah kedinasan pada zaman sekarang. Murid-murid HKS dipilih dari MULO atau dari Kweekschool. Selama 3 (tiga) tahun murid murid HKS digembleng dengan bahasa Belanda dan mendapatkan berbagai pelajaran seperti ilmu pendidikan dan ilmu pengetahuan umum serta harus tinggal di asrama dengan pengawasan ketat. Jika Belanda memecah belah suku bangsa di Hindia Belanda, di HKS mereka malah berhimpun. Murid-murid ini berasal dari berbagai macam suku dan dihimpun dalam satu perkumpulan bernama De Broederschap. Akhirnya, para lulusan HKS banyak yang mengajar di HIS dan Schakelschool (Agung Pranoto: 2015).
Sebuah foto lama rumah dinas keluarga Kepala HKS. Terlihat sang kepala HKS berdiri di depan teras depan rumah beserta keluarganya. Ketika waktu foto ini diambil, rumah ini dihuni keluarga Winnen, kepala HKS yang pertama. (Sumber : Troppenmuseum.nl).

Riwayat HKS Purworejo berakhir pada tahun 1930, ketika HKS Purworejo terpaksa ditutup. Sebelum ditutup, para murid kelas III dipindahkan ke HKS Bandung dengan diampu oleh Tuan Van Otterloo (kelak dia menjadi Direktur HKS Bandung menggantikan Meneer Van der Laan yang pulang pensiun ke Den Haag pada tahun 1930), sementara murid kelas II dipindahkan ke HKS Magelang. Pada bulan Juli 1931 HKS Bandung juga ditutup. Sehingga murid kelas III  dipindahkan ke HKS Magelang. Di Magelang berkumpul siswa kelas III dari HKS Purworejo dan Bandung selain dari Magelang sendiri. Ada catatan menarik, bahwa salah satu lulusan HKS Purworejo tahun 1920 bernama Oto Iskandar Dinata (anggota Volksraad / "Dewan Rakyat", semacam DPR, yang dibentuk pada masa Hindia Belanda untuk periode 1930-1941, menjadi Pemimpin surat kabar Tjahaja tahun 1942-1945, anggota BPUPKI dan PPKI yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan, Oto menjabat sebagai Menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik Indonesia tahun 1945).
Sebuah foto lama yang menunjukan bangunan sayap barat HKS Purworejo atau yang sekarang menghadap ke arah jln. Mayjend. Sutoyo. Bangunan ini sekarang tertutup dengan bangunan baru sehingga tidak kelihatan begitu jelas dari jalan. Foto ini berasal dari majalah "Indie" tanggal 21 Februari 1923. 
Paska kemerdekaan, pada tahun 1968-1991, gedung sekolah digunakan sebagai SPG atau Sekolah Pendidikan Guru. Pada tahun 1991, pemerintah meniadakan sekolah keguruan, sehingga SPG dibubarkan. Setelah tahun 1991, gedung ini digunakan sebagai SMA N 3 Purworejo. Lalu pada tahun 1997 berubah lagi menjadi SMU N 2 Purworejo, dan pada tahun 2004 berubah menjadi SMA N 7 Purworejo sampai sekarang (Agung Pranoto: 2015).

Mengintip Kompleks HKS
Baiklah. Setelah kita mengetahui sejarah HKS Purworejo, mari kita menjelajahi kompleks HKS Purworejo. Secara administrative, kompleks seluas 46.457 Ha ini terletak di Kelurahan Pangenjurutengah, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo. Lokasi HKS sangat dekat dengan pusat kota Purworejo.
Gerbang masuk ke kompleks HKS.
Jika kita  melangkah masuk ke dalam kompleks HKS, kita akan disambut dengan sebuah gerbang (lebih tepatnya, dua tugu kecil yang dipisahkan oleh sebuah jalan). Selain terdiri dari kompleks sekolah, kompleks HKS Purworejo juga memiliki kompleks rumah dinas guru. Dua kompleks ini dipisahkan oleh jalan Ki Mangun Sarkoro yang di pinggirnya berdiri pohon-pohon peneduh yang berjajar rapi, sehingga ketika kita berjalan di sepanjang jalan ini, suasana jalan akan terasa teduh. Tunggu dulu, sebelum anda masuk, kita dapat menjumpai monogram HKS di atas gerbang ini. Dapat dibayangkan sudah berapa lama monogram ini bertahan. Monogram ini merupakan bukti paling keras bahwa kompleks sekolah ini pernah dipakai untuk HKS. 
Monogram HKS pada gerbang masuk.
Kita nanti memasuki kompleks sekolah lewat pintu masuk yang berada di jalan Ki Mangun Sarkoro. Dahulu, pintu masuk HKS berada di sebelah timur, menghadap ke arah kompleks tentara. Ketika kita masuk ke dalam area kompleks sekolah, kesan sejuk dan lapang akan terasa sekali, khas kompleks sekolah tempo dulu yang halamannya luas dan teduh. Rupanya, tata ruang kompleks sekolah ini sudah diatur sedemikan rupa untuk mendukung suasana belajar yang nyaman. Guna menyesuaikan dengan iklim tropis, maka bangunan sekolah ini dibuat dengan gaya Indis yang dapat dilihat pada serambi yang lebar, jendela dan pintu yang tinggi, serta adanya ruang terbuka (Albertus Agung Vidi, 2009; 76). Dengan lingkungan dan bangunan yang nyaman, siswa tentu lebih nyaman untuk belajar.
Lapangan dan pohon trembesi besar.
Jangan kaget jika kita mendapati suasana sekolah yang terlihat sepi. Wajar saja karena kita datang ke sini di hari Minggu. Hanya terlihat beberapa siswa yang sedang melakukan kegiatan ekstrakulikuler di lapangan basket. Selebihnya hanya sepi belaka. Di seberang lapangan yang luas, kita dapat melihat sebuah pohon trembesi besar yang tampaknya usianya sudah setara dengan usia bangunan sekolah ini. Berdasarkan data sejarah yang ada, pohon trembesi ini ditaman bersamaan dengan pembangunan gedung sekolah. Di masa lalu, upacara pembangunan atau peresmian sebuah gedung kadang ditandai dengan seremoni penanaman pohon. Usia tua pohon ini sendiri tidak bisa disembunyikan. Lihatlah tinggi pohon yang melebihi atap sekolah serta ranting-ranting pohon yang berdaun lumayan lebat. Pohon ini selain menjadi bagian dari sejarah sekolah juga menjadi bagian dari ekosistem lingkungan sekolah. Entah sudah berapa banyak burung yang membuat sarang dan meneteskan telurnya di pohon ini.
Bangku taman dari semen.
Lampu taman yang masih asli.
Bagian pertama yang perlu anda lihat adalah halaman timur sekolah, halaman yang dahulu merupakan halaman depan HKS berupa taman yang teduh. Di taman ini terdapat bangku taman dari beton yang dibuat melingkari sebuah lampu taman dari besi yang cantik. Di bagian bawah tiang besi lampu taman ini, terdapat hiasan berbentuk singa, lambang kerajaan Belanda. Bangku dan lampu taman ini rupanya sudah ada semenjak HKS ini berdiri. Entah sudah berapa orang yang dahulu duduk di bangku itu, mulai dari meneer dan noni yang mengajar di sini, murid-murid HKS, MULO, SPG, hingga siswa-siswa SMA. Tentunya topik yang mereka bicarakan ketika mereka duduk di sini sudah berganti mengikuti perkembangan zaman. Jika zaman dahulu orang masih membicarakan kapan kiriman telegram akan tiba, kini orang sibuk mengupdate media sosial mereka. Ya, bangku taman tadi merupakan saksi bisu atas perkembangan zaman yang terus berubah.

Sisi luar dan dalam ruang guru yang dahulu merupakan sebuah ruang lobi.
Dari halaman timur ini, kita dapat melihat fasad depan gedung timur yang menjadi gedung utama HKS Purworejo. Gedung utama HKS ini terdiri dari bangunan tengah yang dahulunya adalah ruang lobi yang kini menjadi ruang guru dan ruang kantor kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ruag pertemuan, dan ruang TU. Gedung utama HKS Purworejo memiliki dua pintu masuk dengan kanopi di atasnya. Sementara itu, atap lobi berbentuk atap tajug yang disusun bertingkat dengan puncak berbentuk pion, sedikit mengingatkan kita pada atap masjid tradional berbentuk tumpang. Di bagian dinding sebelah timur, anda dapat melihat sebuah inskripsi “ANNO 1915” yang menjadi penanda tahun selesainya kompleks ini dibangun.
Doorstop yang berfungsi untuk mencegah daun jendela atau pintu tertutup kembali akibat tertiup oleh angin.
Beranda.
Selasar panjang yang menghubungkan setiap bangunan.
Penjelajahan kompleks sekolah akan kita teruskan ke bagian dalam. Seperti halnya bangunan di masa kolonial, jendela dan pintu dibuat tinggi serta diberi jalusi atau krepyak. Di bagian depan yang aslinya merupakan bagian belakang gedung utama HKS Purwrejo, terdapat beranda yang terhubung dengan sebuah selasar yang sangat panjang. Selasar ini menghubungkan gedung utama dengan gedung ruang kelas di sebelah barat. Tujuan pembangunan selasar atau bahasa Belandanya disebut doorlop ini supaya orang tidak kehujanan atau kepanasan jika akan pergi ke gedung lain.
Ruang makan.
Dapur.
Kamar mandi siswa.
Sepanjang kita berjalan menelusuri selasar, kita akan melihat beberapa bangunan yang tersambung dengan selasar dan masih asli. Bangunan pertama yakni kamar mandi guru. Bangunan  selanjutnya yakni ruangan yang dahulu digunakan para siswa-siswa HKS sebagai ruang makan. Di belakang ruang makan, terdapat ruang dapur yang hingga saat ini masih terdapat sebuah sungkup asap berukuran besar. Sungkup ini berfungsi sebagai tempat pembuangan asap hasil pembakaran tungku sehingga asap tidak memenuhi ruangan. Bangunan selanjutnya yakni toilet untuk para siswa di sebelah barat ruang makan. Selain itu, selasar ini juga terhubung dengan gedung yang dulunya digunakan sebagai gym atau tempat latihan kebugaran, namun sekarang bentuknya sudah berubah dan difungsikan untuk gedung serbaguna. Bagi saya, gedung ini cukup bersejarah karena di sinilah dulu orang tua saya mengadakan resepsi pernikahan mereka.

Suasana ruang kelas dengan lantai tegel yang masih asli.
Gedung kelas dengan puncak berbentuk menara kecil.
Kita selanjutnya bergerak ke bagian barat kompleks HKS Purworejo. Di sini, terdapat bangunan panjang yang digunakan sebagai ruang kelas dari HKS masih ada hingga sekarang. Melongok ke dalam, mungkin kita akan menganggap kelas ini tidak begitu isitimewa, sama seperti ruang kelas pada sekolah-sekolah lain. Tapi tunggu dulu, lubang apa itu di bawah ? mengapa ada banyak ? Rupanya di bawah jendela terdapat ventilasi. Jadi ventilasi ini tidak hanya terletak di atas jendela tapi juga di bawah jendela ! Rupanya si perancang gedung berusaha mengoptimalkan penghawaan di dalam ruangan sehingga ruangan tetap sejuk meski tanpa AC. Ya, kita dapat melihat sendiri hampir semua ruang kelas di sini tidak memakai AC. Sayangnya, bagian depan gedung yang menghadap jalan Mayjend. Soetoyo ini nyaris tidak terlihat dari luar karena tertutup oleh bangunan baru. Ketika kita mengintip ke dalam ruang kelas, kita dapat berimajinasi, seperti apa suasana belajar mengajar tempo doeloe. Anda mungkin dapat membayangkan ketika siswa-siwa HKS yang seluruhnya adalah orang pribumi, dengan seksama sedang memperhatikan guru-guru Belanda yang mengajarkan materi menggunakan bahasa Belanda.
Omah Lawa.
Oh ya. Lupa. Kompleks sekolah ini rupanya juga dilengkapi dengan fasilitas kesehatan. Hal ini dapat kita lihat dari sebuah bangunan yang dijuluki dengan omah lawa karena sempat sarang kelelawar akibat lama tidak dipakai. Untungya, beberapa tahun yang lalu,kelelawar itu sudah diusir. Hmm. Lumayan banyak juga fasilitas yang didapat oleh siswa-siswa HKS ini zaman dahulu. Tidak heran jika dahulu sekolah seperti ini disebut Sekolah Raja karena hanya siswa-siswa dari kalangan ningrat saja yang bisa bersekolah di sini.
Asrama.
Di bagian selatan kompleks,terdapat bangunan untuk asrama untuk siswa-siswa HKS. Hingga sekarang, asrama ini masih dipakai.

Rumah dinas dengan model atap perisai.
Rumah dinas dengan model atap tajug.
Rumah dinas dengan model atap Dutch-Hip.
Berbeda dengan pengajar  zaman sekarang yang oleh pemerintah hanya diberi fasilitas seadanya, para pengajar HKS ini dahulu sudah diberi fasilitas yang sangat layak oleh pemerintah. Hal ini bisa kita lihat dari keberadaan rumah-rumah dinas guru yang berada di sebelah utara kompleks sekolah. Terdapat 6 rumah yang berada di jalan ini dan semuanya menghadap ke selatan, ke arah kompleks sekolah. Rumah-rumah ini dibangun dengan bentuk yang beragam. Menariknya, penataan rumah ini diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan pola a-b-c-c-b-a. Pola seperti ini terlihat seperti cermin.
Rumah dinas kepala HKS Purworejo. Foto lama dapat anda lihat di atas.
Selain di jalan Ki Mangun Sarkoro, rumah dinas HKS juga terdapat di jalan Mayjend.Soetoyo (1 buah) dan di jalan Urip Sumoharjo (2 buah). Di jalan Urip Sumoharjo, terdapat sebuah rumah dinas yang memiliki bentuknya berbeda sendiri dan ukurannya terlihat sedikit lebih besar. Rupanya rumah ini dahulu ditempati oleh kepala atau direktur HKS. Sekarang rumah ini dipakai sebagai rumah dinas Sekda Purworejo meski tampaknya jarang dipakai.

Penutup
Demikianlah hasil penjelajahan kita pada kompleks HKS Purworejo. Selain memiliki bentuk bangunan khas tempo doeloe yang masih terjaga dengan baik, kompleks HKS Purworejo juga merupakan salah satu warisan sejarah yang tidak hanya berharga bagi kota Purworejo saja,namun juga bagi bangsa Indonesia. Dari HKS lah,muncul para pengajar yang menyebarluaskan ilmunya untuk mencerdaskan para anak bangsa yang pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, sehingga muncul intelek baru dari bangsa Indonesia sendiri yang nantinya akan melahirkan perlawanan model baru terhadap kekuasaan kolonial, yakni perlawanan melalui kata-kata dan tulisan yang ternyata jauh lebih ampuh daripada melalui senjata.

Selain itu, kompleks HKS ini masih difungsikan sebagai sekolah sampai saat ini, sehingga HKS ini tidak kehilangan fungsinya sebagai tempat belajar mengajar. Beruntunglah,warga sekolah di sini sangat sadar akan kelestarian sekolah mereka sebagai cagar budaya. Dengan sejarah dan semangat yang besar dari para warga sekolah ini,sudah sepantasnya keberadaan kompleks HKS Purworejo / SMA N 7 Purworejo ini mendapat apresiasi, baik dari pemerintah dan masyarkat. Semoga keberadaan warisan sejarah ini masih tetap lestari untuk generasi di masa mendatang….

Referensi
Agung Pranoto. 2015. http://budayapurworejo.blogspot.co.id/2015/03/sejarah-hks-hoogere-kweekschool.html.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18 September 1914

Kays, J. 1922. Warna Sari Melajoe. Weltevreden : Boekhandel Visser & Co.


Vidi S, Albertus Agung. 2009. " Dinamika Pola Tata Ruang HKS Sampai SMAN 7 Purworejo". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada. 

7 komentar:

  1. Cool.....
    saya bangga sebagai salah satu alumni SMA 7... :P

    BalasHapus
  2. Sangatlah beruntung pernah menuntut ilmu selama 3 tahun di SMA ini..
    Sungguh bangga menjadi alumni Smansev :D

    BalasHapus
  3. Luar biasa... Saya bangga menjadi alumni

    BalasHapus
  4. Saya pun alumni SMA ini. Waktu saya disana namanya SMA N 2 atau SMUNDA.

    BalasHapus
  5. Mantab gan..!!!
    #explore_purworejo

    BalasHapus
  6. Tulisannya bagus, riset bahan dan pengumpulan datanya juara!

    BalasHapus