Kamis, 08 Oktober 2015

Harapan Baru Itu Muncul di Stasiun Maguwo Lama


Stasiun Maguwo Lama, Minggu 5 Maret 2017, panas pada  siang itu tidak menghalangi langkah saya datang ke Stasiun Maguwo Lama, sebuah stasiun tua yang terletak di dusun Kembang, Desa Maguwoharo, Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta. Lokasi stasiun ini berada persis di sebelah barat laut area Bandara Adiscupito, sehingga deru suara kereta dan pesawat seolah berlomba menggetarkan bangunan stasiun ini.

Memasuki halaman stasiun Maguwo Lama, saya melihat tiga sosok yang sudah tidak asing lagi untuk saya, Mas Hari, Mas Aga dan Mbak Niken. Rekan-rekan saya, aktivis di Komunitas Roemah Toea. Tiga orang ini sedang membersihkan bagian dalam Stasiun Maguwo Lama yang terlihat kotor karena sudah lebih dari satu bulan tidak dibersihkan lagi. “ Sudah lama di sini mas ? “, tanya saya. “ Baru saja kok mas, belum lama, silahkan tasnya ditaruh di dalam dulu “, jawab mas Hari. Selain tiga orang dari Komunitas Roemah Toea, di Stasiun Maguwo Lama saya juga menjumpai tiga orang lain, tapi dari Komunitas yang berbeda, yakni dari Komunitas Night at The Museum. Kedatangan mereka ke sini dalam rangka survey untuk acara Kelas Heritage di Stasiun Maguwo Lama yang rencananya diadakan minggu depan (12/3/2017).

Stasiun Maguwo Lama dilihat dari selatan.
Stasiun Maguwo Lama dilihat dari arah barat. Perhatikan hiasan di bagian atap.
Dekorasi bermotif sesuluran.
Sebelum masuk ke dalam, saya sekilas memandang arsitektur stasiun yang bagi saya cukup unik ini. Arsitektur bangunan stasiun ini sekilas mengingatkan saya pada bangunan Stasiun Tanggung, sebuah stasiun di Grobogan, Jawa Tengah yang menjadi stasiun tertua yang masih berdiri hingga sekarang. Kedua stasiun ini memang memiliki beberapa persamaan, yang pertama yakni berbeda dengan bangunan stasiun pada umumnya yang dindingnya terbuat dari bata, kedua bangunan ini dinding penutupnya dari kayu  dan yang kedua yakni kedua stasiun ini didirikan dan dioperasionalkan oleh Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij, perusahaan yang merintis pembangunan jalur kereta api di Pulau Jawa.

Lokasi Halte Maguwo lama pada peta tahun 1921 (Sumber : maps. library. leiden. edu).
Sejarah pembangunan stasiun Maguwo Lama tentu tidak bisa dilepaskan dari booming industri gula di Vorstenlanden ( sebutan untuk wilayah yang melingkupi  Yogyakarta dan Surakarta ) pada abad ke-19. Pada waktu itu saja, sudah berdiri 17 pabrik gula, jumlah yang relatif padat untuk wilayah seluas Yogyakarta. Gula yang diproduksi ke 17 pabrik tadi tentu membutuhkan transportasi agar bisa dibawa ke pelabuhan di Semarang untuk selanjutnya diekspor ke pasaran luar. Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij, melihat hal ini sebagai peluang bisnis yang menggiurkan untuk membuka jalur kereta api dari Semarang ke Vorstenlanden. Setelah melalui perundingan yang alot, jalur ini dibuka untuk pertama kalinya dari Semarang ke Tanggung, Grobogan pada tahun 1867. Selang lima tahun kemudian, jalur kereta ini sudah mencapai Yogyakarta. Stasiun Maguwo Lama diperkirakan dibangun pada tahun itu juga. Namun seperti halnya bangunan stasiun milik NIS yang lain, bangunan Stasiun Maguwo Lama yang terlihat sekarang merupakan hasil perombakan pada awal dekade 1930-an.
Bagian dalam Stasiun Maguwo Lama. Tampak mas Hari yang  sedang membersihkan lantai ruangan. Kegiatan besih-bersih Stasiun Maguwo Lama selama ini hanya mengandalkan dana secara swadaya dari anggota Komunitas Roemah Toea.
Stasiun ini memang tampak bersahaja, tapi kesan antiknya begitu kuat. Di dalam stasiun, hanya ada satu ruangan yang dahulu merangkap sebagai ruang kepala stasiun dan ruang penjualan tiket yang bekas loketnya masih terlihat meski sudah ditutup. Adapun penumpang menunggu di ruang tunggu di beranda yang mengelilingi setengah bangunan stasiun. Masuk ke dalam ruangan, kondisi di sini cukup bersih meski agak gelap. Tapi begitu jendela krepyak di sisi timur dibuka, ruangan langsung terang benderang dan udara terasa sejuk. Di bagian luar jendela, terdapat palang besi yang sudah lama ada di sini untuk keamanan. Sayang, di stasiun ini tidak dijumpai lagi tegel kotak-kotak khas stasiun. Selain ruangan tadi, Stasiun Maguwo Lama juga memiliki ruang PPKA yang berasal dari periode lebih muda.
Stasiun Maguwo Lama pada peta tahun 1935 (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Meskipun kecil, Stasiun Maguwo Lama ternyata memiliki peran yang cukup besar di masanya. Dahulu stasiun ini diapit oleh dua jalur, yakni jalur milik NIS di sebelah selatan dan jalur milik SS di sebelah utara yang kini menjadi pemukiman warga. Di seberang rel, terdapat dua sisa pondasi gudang. Dilihat dari besar pondasinya, Stasiun Maguwo Lama dahulu memiliki gudang yang sangat besar. Untuk apa gudang sebesar ini di stasiun sekecil Maguwo Lama ? Rupanya kedua gudang ini digunakan untuk menyimpan gula yang diproduksi oleh Pabrik Gula Wonocatur yang kini menjadi Museum Dirgantara. Sebelum diangkut dengan kereta, gula-gula ini disimpan dahulu di gudang yang kini tinggal pondasinya saja.
Struktur pondasi bekas gudang stasiun.

Bekas tiang telegraf yang terbuat dari potongan rel.
Rumah dinas kepala stasiun Maguwo Lama.
Lalu mengapa Stasiun Maguwo Lama kini ditinggalkan ? dahulu, Maguwo Lama selain berfungsi sebagai stasiun penumpang, juga berfungsi sebagai stasiun untuk persilangan kereta, dimana salah satu kereta akan berhenti di Maguwo Lama untuk menunggu kereta lain yang akan berpapasan. Setelah berpapasan, kereta yang menunggu di maguwo lama akan kembali masuk ke jalur utama untuk bergantian memakai jalur utama. Hal ini dikarenakan, jalur kereta pada waktu itu masih single track atau jalur tunggal sehingga kereta yang berpapasan wajib bergantian dalam memakai jalur. Sejak tahun 2005-2006, di jalur jogja-solo mulai dibangun double track atau jalur ganda, dimana pada akhirnya peran stasiun persilangan sepeti maguwo lama berakhir karena kereta tidak perlu bergantian memakai jalur ketika berpapasan.
Bagian ruang peron yang sedang dibersihkan.
Ketika jalur double track selesai dibangun pada tahun 2007-2008, stasiun maguwo lama akhirnya ditinggalkan. Pada tahun 2008 dibangun stasiun baru di utara bandara yang bernama Stasiun Maguwo Baru yang berfungsi sebagai stasiun yang melayani penumpang pesawat dari bandara adisucipto yang akan berganti moda transportasi ke kereta api. Meski sudah tidak aktif dan perannya digantikan oleh Maguwo Baru, bangunan Stasiun Maguwo Lama tetap dilestarkan karena menjadi sudah menjadi Bangunan Cagar Budaya. Pada 2010, PT. KAI melakukan kegiatan konservasi Stasiun Maguwo Lama.


Sayangnya, setelah konservasi, tidak ada tindak lanjut untuk pemanfaatan Stasiun Maguwo Lama. Selama beberapa tahun, bangunan Stasiun Maguwo Lama yang sudah dikonservasi menjadi terlantar. Beruntunglah pada bulan Oktober tahun 2013, sebuah komunitas pecinta bangunan bersejarah bernama Komunitas Roemah Toea, tergerak hatinya untuk merawat dan melindungi stasiun ini. Dengan seijin dari Divisi Heritage PT Kereta Api Indonesia dan DAOP VI, selaku penanggung jawab aset Stasiun Maguwo Lama, Stasiun Maguwo Lama dibersihkan dari berbagai tanaman liar dan kotoran hewan liar yang berada di dalam Stasiun. Saking kotornya, Stasiun Maguwo Lama, perlu waktu seharian penuh untuk membersihkannya. Komunitas Roemah Toea sendiri sifatnya hanya membantu Pak Lakso, juru kunci Stasiun Maguwo Lama yang merasa kesulitan untuk merawat stasiun ini karena tidak ada yang membantu.
Kegiatan bersih-bersih Stasiun Maguwo Lama.
Setelah saya menaruh tas di dalam stasiun, saya bergabung dengan tiga rekan saya tadi membersihkan halaman dan bagian dalam stasiun. Yah, beginilah rutinitas bulanan kami. Kegiatan bersih-bersih kami kadang tidak begitu maksimal karena jumlah orang yang ikut kegiatan kami ini tidak terlalu banyak. Paling banyak mungkin hanya 10 orang saja. Namun kegiatan besih-bersih kali ini cukup spesial karena kami mendapat bantuan dari pihak Stasiun Maguwo Baru dimana Pak Burhani, Kepala Stasiun Maguwo Baru, membantu kami dengan mengerahkan rekan-rekan dari Stasiun Maguwo Baru, dan membawa mesin pemotong rumput, sehingga kegiatan bersih-bersih kali ini bisa berlangsung lebih cepat daripada biasanya.

Di tengah kegiatan bersih-bersih, langit yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung. Tak lama kemudian,  hujan turun dengan derasnya. Kami semuapun akhirnya berteduh ke dalam stasiun. Sambil berteduh, kami, Komunitas Roemah Toea berdiskusi dengan Faiz, anggota Komunitas Night at The Museum mengenai rencana kegiatan Kelas Heritage minggu depan. Memang di setiap kegiatan bersih-bersih Stasiun Maguwo Lama, kadang kami mengajak orang luar  untuk bergabung. Entah membantu bersih-bersih atau hanya sekedar ingin tahu mengenai sejarah Stasiun Maguwo Lama.
Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih Stasiun Maguwo Lama, 5 Maret 2017.
Ya, bagi saya sendiri, keberadaan Stasiun Maguwo Lama  bukan hanya sebuah stasiun tua saja, tapi juga menjadi tempat belajar bersama untuk siapa saja yang mau. Saya sendiri juga merasa, keberadaan stasiun ini justru dapat memunculkan komunitas-komunitas yang mencintai bangunan peninggalan sejarah seperti Komunitas Roemah Toea atau Night at The Museum yang dapat menjadi oase di tengah ketidakpedulian masyarakat terhadap sejarah dan peninggalannya. Saya berharap agar semangat komunitas-komunitas ini dapat menjadi virus positif dapat menular ke masyarakat luas agar ikut menjaga dan mencintai peninggalan sejarah yang ada di Indonesia dan kecintaan tersebut dapat diwariskan terhadap generasi selanjutnya. Di tengah pesimisme saya terhadap pelestarian warisan budaya di Indonesia, setidaknya harapan itu masih ada dan harapan itu muncul di Stasiun Maguwo Lama…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar