Jumat, 27 November 2015

Benteng Vredeburg, Jejak Kompeni di Bumi Mataram

    
Barangkali, peninggalan masa kolonial yang paling mudah dikenal oleh kita semua adalah benteng. Tidak salah memang karena benteng sendiri merupakan bangunan awal yang dibangun oleh orang-orang Eropa ketika mereka pertama kali di Nusantara adalah benteng. Dari benteng-lah, orang-orang Eropa, terutama orang Belanda mempertahankan kepentingan mereka dan secara perlahan berusaha menguasai Nusantara.

Nah, benteng kolonial pertama yang akan saya bahas di tulisan Jejak Kolonial kali ini adalah Benteng Vredeburg di tengah-tengah kota Yogyakarta. Mengapa Benteng Vredeburg ? Pertama, lokasi benteng dekat dengan tempat tinggal saya di Yogyakarta. Kedua, bagian-bagian benteng  ini masih utuh dan terawat sehingga dapat memberikan gambaran kepada kita mengenai kehidupan orang-orang kolonial di dalam benteng. Ketiga, benteng Vredeburg memiliki sejarah yang cukup penting dalam sejarah keraton Yogyakarta serta dalam perkembangan kota Yogyakarta. Kira-kira bagaimana sejarah dibalik Benteng Vredeburg ? Mari kita telusuri bersama.

Dari Benteng Perdamaian ke Museum Perjuangan
Lingkungan benteng Vredeburg (A) pada tahun 1830 yang direproduksi ulang pada tahun 1890. Perhatikan bahwa kantor Residen atau sekarang menjadi Gedung Agung (B) ada di sebelah barat benteng. Sementara itu di sebelah utara terdapat pasar Beringharjo (H) dan sebuah pemakaman (F). Di sisi timur benteng, terdapat pemukiman Eropa yang disebut Loji Kecil (D).
Sejarah benteng ini bermula dari tahun 1760, ketika Sultan Hamengku Buwono I akhirnya mengizinkan VOC membangun sebuah benteng yang sederhana di sebelah utara keraton Kasultanan. Pada waktu itu, kursi kepemimpinan VOC di Nusantara diduduki oleh Gubernur Jenderal Nicholas Hartingh. Konstruksi benteng  pada awalnya masih sangat sederhana, yakni terbuat dari dinding tanah dan batang pohon ( Bruggen. 1998; 42). Benteng ini kemudian diberi nama Fort Rustenburg.

Kemudian, setelah Nicholas Hartingh lengser dan diganti oleh W. H. Ossenberch, benteng ini diusulkan untuk diperkuat agar keamanan dibalik tembok benteng lebih terjamin. Maka tahun 1765, dengan pengawasan dari insinyur zeni Ir.Frans Haak, konstruksi benteng ini diperkuat dengan batu-bata. Sultan Yogya ternyata masih disibukan dengan urusan pembangunan Keraton, maka bahan dan tenaga yang dijanjikan untuk membangun benteng dialihkan untuk membangun Keraton, sehingga pembangunan benteng baru dapat diselesakan pada tahun 1787. Kehadiran benteng asing yang berdiri di dekat lingkungan kraton lokal menunjukan bahwa VOC yang notabene hanyalah sebuah perusahaan dagang yang berkantor pusat nun jauh di Amsterdam sana, memiliki pengaruh yang kuat diantara kerajaan-kerajaan lokal seperti Kasultanan Yogyakarta. Benteng ini juga menjadi bukti pengaruh VOC sudah mulai memasuki daerah pedalaman pulau Jawa. Sebelumnya, pengaruh VOC baru muncul di daerah pesisir untuk mengamankan jalur pelayarannya. Kini, setelah wilayah pedalaman mendapat pengaruh, mereka semakin mudah mendapatkan bahan-bahan pokok yang dibutuhkan seperti beras dan juga bisa memaksakan monopoli perdangangan kepada kerajaan lokal.
Benteng Vredeburg pada tahun 1920an.Perhatikan jembatan ungkit di depan gerbang benteng masih digunakan (sumber : colonialarchitecutre.eu).
Pada tahun 1811, setelah pemerintah koalisi Belanda-Perancis menyerah kepada tentara Inggris di Tuntang, banyak benteng-benteng yang semula milik Belanda, kini berpindah tangan ke Inggris termasuk  benteng Vredeburg. Benteng ini dikuasai oleh Inggris dari 1811-1816. Bendera De Driekleur, simbol kerajaan Belanda yang semula berkibar di atas tembok benteng, kini digantikan dengan bendera Union Jack, simbol kerajaan Inggris.
Parit benteng Vredeburg sisi timur pada tahun 1930an. Di sebelah kiri tampak bastion sisi tenggara dengan meriam kuno di atasnya. 
(sumber : Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden halaman 122.)
Setelah Inggris cabut dari Pulau Jawa, benteng ini menjadi garnisun militer Belanda di Yogyakarta. Di masa Perang Jawa (1825-1830), Benteng Vredeburg menjadi incaran para pasukan Diponegoro. Berulangkali benteng ini diserang namun tidak pernah jatuh. Selama perang, benteng ini digunakan sebagai tempat menahan para pengikut Pangeran Diponegoro. Akhirnya Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830. Situasi kemanan yang semula kacau, kini bisa pulih kembali. Situasi ini menyebabkan banyak orang yang mulai berani tinggal di luar benteng, sejak saati itu, munculah pemukiman Belanda di luar benteng. Pemukiman di luar benteng tadi  berpusat di sebelah timur benteng dan kawasan pemukiman ini sekarang dikenal sebagai Loji Kecil. Meskipun sudah ada pemukiman di luar tembok benteng, namun segala aktivitas masih berpusat di dalam benteng walau sudah mulai berkurang.
Benteng Vredeburg pada tahun 1935. Jembatan ungkit sudah diganti dengan jembatan biasa (sumber : colonialarchitecture.eu).
Pada tahun 1867, terjadi sebuah gempa bumi besar yang merusak banyak bangunan di Yogyakrta termasuk benteng ini. Setelah diperbaiki, nama benteng yang semula bernama Fort Rustenburg diganti dengan Fort Vredeburg yang berarti Benteng Perdamaian. Nama yang terlihat ironis untuk sebuah benteng.
Foto udara kawasan titik nol yang menjadi pusat kota Yogyakarta. Tampak benteng Vredeburg (kotak kuning) dan perumahan perwira di sisi barat yang kini sudah tidak ada lagi (kotak merah) (sumber : Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden halaman 114).
Setelah bala tentara Dai Nippon “membebaskan” Yogyakarta dari pengaruh kolonial Belanda pada tahun 1942, benteng ini digunakan sebagai markas Kempetai, sebuah institusi militer Jepang yang sangat ditakuti oleh banyak orang karena kekejamannya. Benteng ini oleh Jepang juga digunakan sebagai kamp internir orang-orang Belanda. Ya, benteng yang dahulu dibanggakan oleh orang-orang Belanda sebagai simbol kekuasaan mereka, kini malah berubah menjadi penjara untuk diri mereka sendiri.
Lokasi benteng Vredeburg pada peta Yogya tahun 1925 (sumber :colonialarchitecture.eu).
Paska kemerdekaan, Benteng Vredeburg dikuasai oleh pihak RI dan dipakai sebagai asrama dan markas pasukan. Pada masa Agresi Militer Belanda Kedua, Benteng Vredeburg menjadi sasaran bom pesawat Belanda dan menghancurkan markas TKR di dalamnya. Akhirnya Belanda menduduki Yogyakarta dan benteng ini digunakan sebagai markas IVG atau dinas rahasia tentara Belanda. Ketika terjadi Serangan Umum Satu Maret 1949, benteng ini tidak luput dari sasaran serangan para pejuang kemerdekaan RI.

Setelah Belanda benar-benar meninggalkan Yogyakarta, benteng ini dipakai sebagai Markas Batalyon 403 TNI. Pada tahun 1965, sempat digunakan sebagai tempat untuk tahanan politik dan untuk selanjutnya digunakan untuk kepentingan militer. Akhirnya, pada tanggal 23 November 1992, Benteng Vredeburg diresmikan sebagai museum (Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003; 8-10). Nasib Benteng Vredeburg dapat dibilang jauh lebih baik daripada kembarannya di Surakarta, Benteng Vastenburg yang kini nyaris tidak menyisakan apapun selain tembok luarnya saja.

Di balik kokohnya tembok Benteng



Denah Benteng Vredeburg.
Baik, setelah kita mengetahui sejarah dari benteng ini, ada baiknya kita perlu tahu apa itu benteng. Benteng adalah sebuah lokasi militer atau bangunan yang didirikan secara khusus untuk melindungi sebuah instalasi atau daerah. Dalam bahasa Belanda atau Inggris disebut fort yang berasal dari bahasa latin fortise yang berarti teguh,kuat,atau tahan lama ( Oktaviadi, 2002; 113-114). Jika dilihat dari atas, Benteng Vredeburg memiliki bentuk persegi, bentuk yang sering ditemukan di benteng-benteng lainnya. Bentuk persegi memang cocok untuk benteng yang dibangun di wilayah dataran rendah.
Parit dan bastion barat daya benteng Vredeburg.
Sebelum kita memasuki bagian dalam benteng, kita akan menyeberangi sebuah jembatan. Di bawah jembatan, terdapat sebuah parit atau jagang. Untuk memaksimalkan pertahanan benteng, selain mendirikan tembok benteng yang tinggi dan kokoh, orang Belanda juga menggali parit atau jagang di sekeliling benteng. Kini, parit yang tersisa tinggal parit di sisi barat saja. Dahulu jembatan masuk ke dalam benteng menggunakan jembatan angkat yang akan diangkat jika terjadi serangan, sehingga musuh tidak mudah menyerang pintu masuk benteng yang merupakan bagian paling lemah. Jembatan ini kemudian diganti dengan jembatan biasa pada tahun 1930an oleh Belanda sendiri karena jembatan angkat yang sudah tua dirasa sudah tidak mampu menahan beban kendaraan perang yang semakin berat.
Gerbang utama benteng.
Sebelum kita memasuki bagian dalam benteng, kita akan disambut dengan gerbang bergaya klasik yang menghadap ke barat. Bentuk gerbang ini mengingatkan kepada kita dengan bentuk-bentuk kuil dari masa Klasik Yunani-Romawi dengan unsur-unsur seperti kolom beroder dorik, frieze, dan tympanum. Tepat di atas pintu masuk, terdapat tulisan “VREDEBURG”. Nah, di samping gerbang benteng, kita akan melihat sebuah bangunan kecil yang dahulunya merupakan gardu penjaga benteng. Adanya gardu ini menunjukan bahwa pada zaman dahulu tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam benteng. Biasanya yang dapat diizinkan masuk ke dalam benteng adalah orang-orang berkepentingan seperti serdadu atau perwira militer Belanda serta keluarga perwira yang tinggal di dalam benteng. Ketika kita menggarakan langkah kaki masuk ke dalam gerbang, kita dapat membayangkan ketika para serdadu Belanda dengan seragam gagahnya berbaris masuk ke dalam benteng lewat gerbang ini. Yah sepertinya bayangan seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.
Bangunan pengapit sisi utara.
Oh ya, sebelum masuk, kita harus membayar tiket sebesar dua ribu rupiah di tiket yang berada di gerbang masuk benteng. Nah setelah membayar tiket, mari kita mulai berkeliling untuk melihat bagian apa saja yang terdapat di dalam tembok benteng ini. Bagian pertama yang akan kita lihat terlebih dahulu yakni sebuah bangunan yang ada tepat di atas gerbang benteng tadi kita masuk. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai kantor administrasi benteng. Dari sini, kita dapat membayangkan perwira yang dahulu berkantor di sini, dapat memandang bagian dalam kompleks benteng dari atas. Jika pandangan dialihkan ke luar benteng, dia bisa melihat pemandangan Gedung Agung, tempat kediaman Residen Belanda yang ada di sebelah barat benteng. Dahulu, jika situasi dirasa tidak aman oleh pemerintah kolonial, Sang Residen dapat mengamankan dirinya ke benteng yang ada di seberang kediamannya. 
Celah bekas tempat meriam.
Perjalanan kita teruskan dengan berjalan di atas dinding benteng atau dalam istilah ilmu perbentengan disebut rampart. Supaya bisa menahan tembakan meriam, dinding rampart dibangun cukup tebal. Ketebalnnya sendiri bisa mencapai kira-kira satu meteran. Sementara agar musuh tidak mudah masuk ke bagian dalam, maka dinding rampart  dibangun cukup tinggi, kira-kira lebih dari dua meteran. Di atas rampart , terdapat celah untuk tempat meriam. Keberadaan benteng dengan meriam bagaikan dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Meriam merupakan salah satu instrumen pertahanan yang cukup vital bagi sebuah benteng selain dinding benteng itu sendiri. Dengan meriam, musuh dapat dihancurkan sebelum mereka menyentuh dinding benteng. Dinding benteng memberikan perlindungan maksimal pada meriam beserta kru-nya. 
Pemandangan dari bastion barat daya. Terlihat gedung kantor pos besar dan Bank Indonesia.
Sejenak, kita hentikan dulu perjalanan di bastion barat daya benteng. Bastion merupakan dinding benteng berbentuk belah ketupat yang ada di setiap sudut benteng. Meriam-meriam biasanya paling banyak ditaruh di bagian ini. Dari bastion ini, kita dapat melihat pemandangan Titik Nol yang sangat ramai meski pemandangan ini agak sedikit tertutup oleh Monumen Serangan Umum Satu Maret. Kemegahan bangunan-bangunan kolonial lain seperti Gedung lama Bank BI, Kantor Pos Besar, dan Gedung BNI dapat terlihat jelas dari sini. Bangunan-bangunan kolonial ini sendiri dibangun agak belakangan. Sementara itu, jauh sebelum bangunan-bangunan kolonial tadi berdiri, pemandangan kraton dapat diamati dari titik tempat kita berdiri sekarang ini. Fungsi benteng ini sendiri aslinya adalah sebagai tempat mengawasi gerak-gerik Keraton Yogyakarta, sehingga jika misalnya Kraton melakukan aktivitas yang dianggap mencurigakan oleh Belanda, maka Belanda dapat bergerak cepat. Konon, benteng ini dahulu memiliki meriam-meriam yang jangkauan tembaknya bisa mencapai Kraton. Saya jadi membayangkan raja – raja yang dahulu tinggal di Kraton pasti sedikit waswas kalau suatu saat nanti Belanda mencoba menembakan meriamnya ke Kraton. Hal ini pernah terjadi di Batavia pada awal tahun 1600an, ketika VOC “menguji coba” meriamnya dengan menembak meriamnya ke arah kediaman Pangeran Jayawikarta.
Salah satu lubang tembak untuk jenis senapan musket.
Di beberapa ruas dinding benteng, kita bisa menemukan beberapa lubang vertikal kecil di dinding sisi selatan dan utara. Lubang ini kemungkinan adalah lubang tembak untuk jenis senapan musket (sejenis senapan lama yang untuk mengisi ulangnya butuh waktu sedikit lama). Dari lubang ini, si serdadu dapat menembakan musketnya dengan aman.

Benteng ini rupanya memiliki tiga pintu gerbang. Selain pintu gerbang di bagian barat yang menjadi pintu masuk utama, pintu gerbang lainnya juga terdapat di sisi timur dan selatan. Gerbang sisi timur lebih kecil daripada gerbang sisi barat dan jauh lebih kecil lagi pintu yang ada sisi selatan. Saking kecilnya, pintu sisi selatan menjadi semacam pintu rahasia benteng. 

Di dalam tembok benteng, kita akan menjumpai beberapa bangunan penunjang aktivitas benteng antara lain dua kompleks rumah perwira, tiga barak serdadu, dua dapur umum, istal, sebuah gudang amunisi dan gudang mesiu, dan sebuah bangunan yang dahulu digunakan untuk sosietet. Bagian-bagian benteng tadi akan saya uraikan lebih jelasnya pada tulisan di bawah ini.

1.Perumahan perwira

Benteng Vredeburg memiliki dua buah perumahan perwira. Perumahan ini menghadap ke halaman tengah benteng. Bentuk atap perumahan perwira sekilas mirip dengan atap Joglo sebagai penyesuaian terhadap iklim tropis. Perumahan perwira ini jika dilihat seperti rumah kontrakan yang dibangun saling bersebelahan dan berbagi dinding dengan rumah di sebelahnya. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai ruang diorama museum. Salah satu rumah perwira yang terlihat berbeda sendiri adalah perumahan perwira yang berada di sisi selatan ujung timur. Perumahan ini memang agak berbeda sendiri karena dahulu yang tinggal di sini adalah komandan benteng. Di bagian teras depan, terdapat semacam dinding kayu yang berguna untuk mengurangai tampias air hujan dan sinar matahari yang berlebihan yang masuk ke dalam bagian teras depan. Di bagian ujung atap, terlihat hiasan piron atau cerobong semu yang menjadi elemen khas bangunan dari abad ke 18.
Perumahan perwira sisi utara.
Bekas tempat tinggal komandan benteng.
2 .Barak seradu
Bangunan barak serdadu berada di sisi timur, selatan dan utara. Total ada tiga bangunan barak serdadu yang ada di dalam tembok benteng Vredeburg. Barak serdadu memiliki dua lantai. Untuk naik ke lantai dua bisa melalui tangga kayu yang ada di bagian luar. Uniknya, daun jendela barak serdadu tidak berupa daun krepyak yang berkisi terbuka, melainkan daun jendela yang tertutup total. Daun jendela seperti ini biasanya berasal dari abad ke-18. Jendela krepyak sendiri baru mulai dipakai di bangunan kolonial pada pertengahan abad ke 19. Untuk sirkulasi udara, maka dibuatlah ventilasi di bagian atas dan bawah jendela. Kini, ruang-ruang barak digunakan untuk ruang pameran diorama, ruang pertemuan dan sebuah cafe kecil.
Bekas barak barat.
Bekas barak selatan.
3. Dapur dan Gudang Ransum
Untuk memenuhi konsumsi di dalam benteng,  maka terdapat dapur umum yang berada di tengah bastion barat daya dan bastion barat laut. Lokasi dapur dibangun di dekat gudang ransum sehingga juru masak tidak perlu berjalan jauh mengambil ransum. Lokasinya yang berada di dekat barak serdadu juga memudahkan para serdadu mengambil konsumsi.
Bekas dapur.
Gudang Amunisi dan Senjata
Keberdaan sebuah bangunan militer seperti benteng tentu tidak bisa dilepaskan dari senjata. Oleh karena itulah di dalam benteng  terdapat gudang senjata dan amunisi yang dibangun berdekatan, sehingga memudahkan dalam pembagian senjata dan amunisi. Pada masa lalu, gudang amunisi ini dijaga dengan ketat karena gudang amunisi merupakan bagian benteng yang paling vital dan berbahaya. Bayangkan saja,di dalam gudang amunisi terdapat tumpukan mesiu yang jika terkena percikan api sedikit saja, maka akan terjadi sebuah  ledakan besar yang dapat menghancurkan seluruh benteng seperti yang dialami Fort Beschmeringh di Cirebon. Oleh karena itu, di bagian depan pintu masuk gudang amunisi terdapat sebuah gardu jaga. Dilihat dari luar, gudang ini memiliki ventilasi yang cukup minim. Hal ini rupanya bertujuan agar amunisi di dalam tidak melempem akibat terkena udara lembab.
Bekas gudang amunisi.

Bekas gudang senjata,
Istal           
Di belakang gudang senjata, terdapat istal atau kandang kuda. Seiring perkembangan zaman, istal ini berubah fungsi menjadi garasi kendaraann.


Sosieteit
Kehidupan serdadu tidak hanya bertempur dan latihan saja. Ada kalanya mereka membutuhkan waktu untuk bersenang-senang. Untuk itulah, di dalam benteng Vredeburg, terdapat sebuah sosieteit atau zaman sekarang mungkin seperti bar. Sosieteit ini ada di timur laut benteng. Di gedung berlantai dua inilah, para serdadu Benteng Vredeburg bersenang-senang. Ada yang sekedar duduk santai sambil ngobrol dengan temannya, ada juga yang bermain kartu, ada juga bernyanyi dengan suara ala kadarnya. Peran sosieteit ini mulai bergeser setelah sosieteit yang baru khusus untuk kalangan militer dibangun di luar benteng. Bangunan sosieteit yang baru ini masih ada hingga sekarang dan kini dimanfaatkan sebagai Taman Budaya Yogyakarta. 
Bekas Societeit.
Dari hasil penelusuran kita tadi, dapat disimpulkan bahwa Benteng Vredeburg merupakan tinggalan masa kolonial tertua yang berada di Yogyakarta dan merupakan pusat pemerintahan dan pemukiman kolonial paling awal di Yogyakarta sebelum berpindah ke luar benteng. Keberadaan benteng ini menunjukan bahwa pengaruh VOC selain di pesisir utara pulau Jawa saja, juga dapat ditemukan di pedalaman pulau Jawa. Benteng ini juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah kota Yogyakarta yang panjang.

Jika nasibnya dibandingkan dengan benteng kembaranya di Surakarta, benteng Vastenburg, benteng Vredeburg memiliki nasib yang jauh lebih baik, sehingga kita sangat beruntung masih bisa melihat seperti apa wujud dari sebuah benteng Belanda dari abad ke 18. Sayangnya, selain diorama di dalam museum yang kebanyakan hanya menampilkan kisah-kisah perjuangan, informasi benteng ini sendiri jutru minim sekali, sehingga apresisasi pengunjung terhadap benteng ini sebagai warisan sejarah masih kurang.

Sejak masa kemerdekaan sampai sekarang, tinggalan benteng masih disikapi oleh sebagian orang sebagai hasil budaya masa kolonial. Jika disikapi dengan pola pemikiran Post-Kolonial, benteng merupakan simbol kekuatan eksistensi penjajah bangsa asing dan juga merupakan simbol dari kemampuan bangsa Indonesia yang hanya dengan teknologi yang sederhana bisa menyingkirkan kekuatan asing dengan teknologi yang jauh lebih maju seperti benteng (Sudamika, 2006; 92). Semoga nasionalisme buta tidak menggusur keberadaan benteng ini. Suka atau tidak suka, benteng ini telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa kita.

Referensi
Abrianto, Oktaviadi. " Pertahanan Teluk Jakarta Abad ke 18 dan Ke – 19  " dalam Dr.Agus Aris Munandar dkk. 2002. Jelajah Masa Lalu. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat Banten.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. 2003. Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Museum Benteng Vredeburg. Yogyakarta

Sudamika, G.M. " Penelitian Benteng Kolonial di Ternate, Maluku Utara " dalam Berita Penelitian Arkeologi Maluku dan Maluku Utara, vol 2. No. 2 Juli/2008, Balai Arkeologi Maluku.

van Bruggen, M.P dan R.P Wassing. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam; Asia Maior.

Jumat, 06 November 2015

Melihat yang Tersisa dari Pabrik Gula Medari

Dalam perjalanan saya dari Yogyakarta ke Magelang dalam rangka kuliah lapangan ke Borobudur, ketika bis melewati kompleks Kodim Sleman, mata saya menangkap sebuah bangunan yang cukup unik karena bentuk terlihat kontras dengan bangunan di sekitarnya. Tapi saya sendiri pada waktu itu masih belum tahu bangunan apa itu. Pertanyaan saya akhirnya terjawab ketika saya mencoba membandingkan lokasi bangunan itu saat ini berdiri dengan peta topografi Belanda. Saya cukup terkejut karena lokasi di sekitar bangunan itu dahulu pernah berdiri sebuah pabrik gula cukup besar bernama PG Medari. Nah, daripada bingung, mari kita lihat bersama apa saja yang masih tersisa dari PG Medari ini…
Lokasi PG Medari pada peta lama tahun 1925 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Jejak yang Tertinggal
Bekas bangunan rumah dinas administrateur PG Medari.
Bagian belakang bekas bangunan rumah dinas administrateur.
Berhubung bangunan yang dulu saya lihat berada di dalam kompleks SMP N 1 Sleman maka alangkah baiknya sebelum mendekat kita minta izin dahulu pada penjaga di pos satpam. Akan lebih baik jika kita datang ke sini seusai jam sekolah sehingga kehadiran kita tidak menganggu kegiatan belajar di sini. Dari luar, bangunan ini memang sedikit tertutup oleh pagar, sehingga dari jalan bangunan ini tampak tertutup. Untuk melihat lebih jelas, mari kita jejakan kaki kita ke dekati bangunan ini. Melihat sekilas bangunan ini, bayangan kita akan teringat pada manor-manor milik bangsawan di Eropa. Megah dan besar, serta di bagian gavelnya terlihat sedikit ada aksen arsitektur Tudor.  Kita dapat melihat jendela krepyak yang tinggi memberi pesan bahwa bangunan ini berasal dari masa kolonial. Bangunan ini memiliki batur yang cukup tinggi sehingga di bagian beranda depan terdapat tangga naik. Bentuk atap bangunan ini sangat kompeks yakni merupakan kombinasi atap pelana silang dan atap perisai. Beranda depan aslinya merupakan sebuah beranda terbuka, namun akhirnya ditutup untuk menambah ruangan. Bangunan ini rupanya terdiri dari dua bangunan, yakni bangunan utama yang saat ini menjadi ruang kepala sekolah dan guru dan bangunan samping yang saat ini digunakan sebagai ruang administrasi. Di antara dua bangunan ini, terdapat sebuah bangunan baru berupa aula. Di sekelilingnya, juga sudah berdiri bangunan-bangunan baru untuk kepentingan sekolah.

Puas berkeliling, saya sendiri sempat bertanya kepada bapak penjaga yang tadi sudah kita temui. Dari penuturan beliau yang rumahnya ternyata ada di belakang sekolah, bangunan ini dahulu merupakan rumah milik seorang administrateur atau manajer pabrik gula. Persis sekali dengan dugaan awal saya karena bentuk bangunan sepertinya tidak didesain sebagai sekolah, malah justru bangunan ini lebih mirip tempat tinggal seseorang yang memiliki kedudukan tinggi seperti administrateur. Di lingkungan pabrik gula, jabatan administrateur merupakan jabatan tertinggi dan selalu dipegang oleh orang Eropa. Oleh karena itulah wajar jika rumah nya dibuat dengan bentuk paling besar dan megah. Sejak tahun 1951, bekas rumah administrateur ini dipakai sebagai SMP ( Tim Penyusun, 109; 2014). 
Bekas paviliun yang saat ini menjadi kantor administrasi.
Dilihat dari gaya bangunan nya, kemungkinan besar bangunan ini dibangun pada akhir abad ke-19, di mana pada masa itu sedang marak gerakan romantisme yang mendorong sentimen terhadap keindahan masa lalu. Seperti bangunan rumah dinas ini yang bentuknya sedikit mengingatkan saya pada bangunan manor abad pertengahan akhir di Eropa. Ketika di sekitarnya masih sedikit bangunan yang berdiri, bangunan ini terlihat sangat mencolok karena ukuran dan bentuknya yang berbeda sendiri. Bangunan ini seolah-olah memberi pesan bahwa yang tinggal di sini bukanlah orang sembarangan.
Rumah Administrateur PG Medari dilihat dari kereta api yang sedang melintas di depan rumah. Di depan rumah ini dahulu terbentang jalur kereta api Yogyakarta - Magelang. Terlihat di sekitar rumah belum ada satupun bangunan selain rumah administrateur itu sendiri.

(Sumber : Reis Willem I - Djocja).
Dahulu, persis di depan halaman bangunan ini, terbentang jalur kereta api lintas Magelang – Yogyakarta. Jalur kereta api ini sudah non aktif sejak tahun 1976 dan jalur rel nya  sekarang sudah tertimbun tanah akibat dampak pelebaran jalan. Bangunan rumah dinas ini dapat kita temukan dari film hitam-putih yang menceritakan perjalanan sebuah kereta api dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tugu. Dari film ini, terlihat halaman depan rumah ini tertata dengan rapi dan bersih. Kita dapat membayangkan hampir setiap hari, si tuan Administrateur menyaksikan kereta api yang sedang melintas di depan rumah. Dari sini juga, aktivitas di pabrik dapat diamati secara jelas.

Masih menurut keterangan penjaga sekolah, dahulu, di bagian halaman belakang bangunan lama ini terdapat arca-arca dari periode Kerajaan Mataram Kuno. Kemungkinan besar arca – arca ini dahulunya merupakan koleksi milik penghuni rumah ini. Pada zaman dahulu, paraa administrateur pabrik gula memiliki hobi  mengkoleksi arca-arca yang ditemukan di daerah dekat pabrik. Arca-arca ini selain untuk mempercantik rumah juga biasanya dipamerkan kepada tamu yang berkunjung. Setelah mereka kembali ke Belanda, arca-arca tadi sebagian ada yang tidak dibawa pergi ke Belanda. Pernah bagian kepala salah satu arca raib dicuri oleh orang, namun beruntung bagian kepala arca yang dicuri tadi dapat ditemukan kembali sebelum dijual ke kolektor. Oleh karena itulah, demi keamanan, arca-arca tadi dipindahkan ke kantor BPCB Yogyakarta.
Foto lama dari bangunan yang saat ini sudah menjadi bagian dari Kodim 0732 Sleman (sumber ; geheugenvannederland.nl)
Setelah saya melihat bekas rumah dinas adminsitrateur, di seberang jalan yang sangat ramai, kita dapat melihat sebuah bangunan yang jelas-jelas sekali sebagai bangunan kolonial karena ukurannya besar dan memiliki jendela krepyak yang tinggi. Sayangnya, bangunan ini berada Kodim 0732 Sleman, sehingga kita akan sedikit kesulitan untuk mendekatinya. Daripada kita berurusan dengan aparat lebih baik kita liha saja dari kejauhan. Ukuran bangunan ini lebih kecil daripada bangunan yang sudah kita lihat tadi. Kemungkinan besar bangunan ini dihuni oleh seorang pegawai menengah. Pegawai ini barangkali memiliki keahlian tertentu yang terkait dengan industri pabrik seperti ahli tanaman tebu, ahli mesin uap  dan ahli pengolahan gula ( Inagurasi, 2010;109 ).
Struktur pagar PG Medari.
Kita buka kembali peta topografi lama, untuk mengetahui apa saja yang terdapat di sekitar Pabrik Gula Medari serta bagaimana kondisinya sekarang. Dari perbandingan data peta lama dengan citra satelit dari masa sekarang, serta berdasarkan penuturan warga sekitar, bangunan pabrik yang menjadi tempat penggilingan tebu sudah tidak ada bekasnya lagi. Sebagian besar area pabrik sudah menjadi bagian dari Pabrik GKBI. Ok. Bangunan pabrik sudah hilang, lalu kira-kira apa saja yang masih tersisa dari PG Medari. Di sebelah selatan pabrik GKBI, di belakang kompleks Kodim, kita akan menemukan sebuah struktur dinding yang tampaknya merupakan bagian dari dinding pagar PG Medari. Di bagian luar, kita akan melihat potongan besi rel lori yang mencuat. Sementara itu, di balik pagar ini, terdapat sebuah kompleks kuburan.
Bekas kantor pos Medari.
Di sebelah utara SMA N 1 Sleman, terdapat sebuah gapura perkampungan. Di belakang gapura tadi, rupanya terdapat sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah lama tidak dipakai. Berdasarkan data peta lama, bangunan ini dahulu ternyata adalah kantor pos pembantu atau dalam bahasa Belandanya disebut Hulp Post Kantoor. Hal ini semakin diperkuat dari catatan Belanda dari tahun 1925 ( Dingemans, 1925; 102) dan di depan bangunan ini, kita juga dapat melihat sebuah bis surat yang sudah jarang dipakai akibat tidak mampu bersaing dengan media komunikasi zaman sekarang yang semakin canggih. Keberadaan kantor pos pembantu ini  tentu ada hubungannya dengan PG Medari. Agar urusan surat menyurat yang berkaitan dengan administrasi PG Medari lancar, maka dibukalah kantor pos pembantu ini. Kantor pos ini juga bermanfaat bagi warga Medari dan sekitarnya yang ingin mengirimkan pesan untuk kerabat di tempat lain. Menariknya, salah satu kepala kantor pos yang dulu bertugas di sini bernama John. W. MacDonald. Dari namanya barangkali dia bukan orang Belanda. Bisa jadi, dia adalah orang Amerika atau Inggris ( Dingemans, 1925; 123).

Oh ya, di belakang kantor pos tadi, dahulu pernah terdapat societiet atau orang lazim menyebutnya sebagai kamar bola karena di sini orang dapat memainkan permainan bola sodok atau bilyard. Nah, soceietiet ini pernah dipakai untuk sekolah yang dibuka oleh Romo Strater dalam pengembangan misi Katolik di wilayah Medari. Jadi dapat dikatakan keberadaan PG Medari berhubungan dengan sejarah penyebaran agama Katolik di wilayah ini (Wietjens, 1995; 41) 
Bekas tempat tinggal karyawan tingkat bawah. Saat ini dalam kondisi tidak terawat dan kosong. Jika dilihat, bangunan ini lebih mirip rumah kontrakan.
Rumah tinggal milik pegawai pribumi.Para pegawai pribumi pada umumnya memiliki jabatan yang rendah dan cukup sulit untuk naik jabatan.Rumah tinggal para pegawai pribumi berukuran kecil.Di bagian halaman,terlihat taman yang ditata dengan rapi.(Sumber : troppenmuseum.nl).
Kondisi rumah tinggal milik pegawai pribumi pada masa sekarang.
Masih di sekitar bekas PG Medari, kita akan menemukan sebuah bangunan tua yang bentuknya jauh lebih sederhana. Dari luar, bangunan ini sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Dilihat dari bentuknya yang sederhana dan ukurannya yang kecil, rumah ini dahulu bisa jadi ditempati oleh karyawan tingkat bawah.
Bekas stasiun Medari,
Sekitar 200 meter dari lokasi bekas PG Medari, terdapat sebuah bangunan bekas Stasiun  Medari yang berukuran kecil. Bangunan ini sekarang digunakan sebagai Posyandu dan PAUD. Di masa ketika jalur kereta api Yogyakarta-Magelang masih aktif, stasiun ini berguna sebagai tempat menaik turunkan penumpang. Jauh sebelumnya, ketika PG Medari masih aktif, stasiun ini juga memiliki peran vital bagi PG Medari, yakni menjadi tempat untuk pengangkutan hasil produksi gula dari PG Medari. Dengan menggunakan kereta api, maka jumlah tonase gula yang diangkut semakin besar serta barang lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Stasiun ini menjadi saksi bisu kejayaan transportasi kereta api di masa lalu, yang kini mulai tergeser oleh moda transportasi lainnya.
Denah PG Medari pada peta tahun 1935 (Sumber : maps.library.leiden.edu).

Citra satelit dari Google map yang menggambarkan kondisi PG Medari saat ini.
Menggali sejarah PG Medari

Bangunan PG Medari ketika masih berjaya. Terlihat cerobong yang menjulang tinggi di belakang. Sepertinya gambar di ambil pada saat belum musim giling karena tidak terlihat asap yang mengepul dari puncak cerobong (sumber : geheugenvannederland. nl).
Setelah melihat-lihat apa saja yang tersisa, mari kita gali sejarah dari PG Medari. Lokasi PG Medari berjarak kira-kira 11 km dari kota Yogyakarta. Memang agak jauh dari kota tapi hal ini wajar karena pada waktu itu, pabrik gula biasanya dibangun di dekat area perkebunan tebu supaya biaya pengangkutan tebu dapat ditekan serta untuk mengurangi dampak polusi yang dapat mencemari lingkungan sekitar. Lokasi PG Medari dibangun di dekat jalur kereta api Yogyakarta-Magelang. Selain untuk memudahkan distribusi gula, juga untuk memudahkan pembangunan pabrik gula ini karena zaman dahulu segala material pabrik dan mesin-mesin operasionalnya yang berat dibawa dengan kereta. Sehingga untuk memudahkan bongkar muat barang, maka lokasi PG sengaja dibangun di dekat rel.
Di dekat PG Medari, rupanya pernah terjadi persitiwa tergulingnya sebuah kereta milik N.I.S. Persitiwa ini dicatat dalam harian Bataviasch Nieuwsblad tanggal 7 Juli 1937.

Cerobong PG Medari yang terekam pada video lama yang berjudul "Reis Willem I -Djocja". Video ini menceritakan perjalanan kereta api dari Ambarawa ke Yogyakarta yang kebetulan melewati kompleks PG Medari. Pandangan kamera mengadap ke arah timur.
Cukup sulit bagi kita untuk mencari catatan sejarah tentang PG Medari, sehingga masih belum banyak yang bisa ditulis mengenai keberadaan PG ini ketika masih berdiri. Selain data tertulis, data sejarah lain yang dapat kita temukan adalah data dari foto dan video hitam putih. PG Medari dahulu sahamnya dimiliki oleh perusahaan Koloniale Bank yang berkantor di Surabaya ( Dingemans,1925;122). Adapun pembangunan pabrik ini dilaksanakan oleh firma de Vries Robbe dan segala mesin-mesinnya dibuat oleh pabrik mesin Machinefabriek Gebr. Stork & Co yang pabriknya berada di kota Hengelo, Belanda (Anonim. 1922; 83). Sekitar tahun 1930an, terjadi krisis ekonomi yang dikenal dengan krisis malaise. Krisis ini berdampak pada gulung tikarnya beberapa pabrik gula untuk mengurangi biaya kerugian. Banyak PG yang di Yogyakarta yang kolaps dan sebagian ada yang dimerger. Contohnya adalah PG Sendangpitu yang ditutup tahun 1931 dan pengelolaanya dimerger dengan PG Medari (Algemeen Handelsblaad, 26 Juni 1931).
Berita pergantian administrateur PG Medarie yang dicatat pada harian De Sumatra Post tanggal 24 Mei 1940. Tuan A. v. d Scheur, adminsitrateur PG Medari dimutasi sebagai pengawas oleh Koloniale Bank, pemegang saham pabrik gula ini dan kedudukannya digantikan oleh tuan Munsterman.
Untungnya PG Medari masih mampu bertahan dari badai krisis hingga Jepang masuk ke Hindia-Belanda pada tahun 1940. Oleh Jepang, seluruh pabrik gula yang ada di Yogyakarta ditutup dan produksinya dialihkan untuk kepentingan militer. Kemudian bangunan pabrik dihancurkan oleh para pejuang sewaktu Agresi Militer Belanda Kedua agar tidak dipakai oleh Belanda.
Salah satu mesin pengolahan di PG Medari. Dilhat dari kondisi mesin yang masih mulus, kemungkinan besar mesin ini baru saja dipasang. Hingga saat belum diketahui bagaimana nasib mesin-mesin ini setelah PG Medari ditutup (sumber : geheugenvanndereland.nl).
Yah, setidaknya terjawab sudah sebagian pertanyaan saya mengenai bangunan apa yang dahulu saya lihat. Bangunan tua tadi tidak hanya sebuah bangunan tua biasa. Bangunan tua tadi ternyata hanyalah sekelumit dari kejayaan PG Medari yang kini tiada yang tersisa selain kumpulan bangunan tua yang masih berdiri kokoh melawan waktu.

Referensi
Anonim. 1922. Machinefabriek Gebr. Stork. & Co. Hengelo.

Dingemans, L.F. 1925. Gegevens over Djokjakarta.


DR. Jan Wietjens S.J.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat, Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.

Inagurasi, Hari Libra. 2010. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal,Jawa Tengah Tahun 1835 - 1930,Sebuah Studi Arkeologi IndustriFakultas Ilmu Pengetahuan Budaya ". Tesis. Depok : Program Magister Arkeologi Universitas Indonesia

Tim Penyusun. 2014. Lensa Budaya 2 ; Menguak Fakta Mengenali Keberlanjutan. Yogyakarta : Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta