Jumat, 27 November 2015

Benteng Vredeburg, Jejak Kompeni di Bumi Mataram

Suatu siang di tahun 2015, sesudah menghadapi jemunya urusan perkuliahan, saya memutuskan untuk melepas penat dengan bertandang ke Benteng Vredeburg. Benteng itu mudah sekali dijangkau dari kampus saya. Letaknya berada di dekat perempatan Titik Nol yang ramai akan hilir mudik kendaraan bermotor, becak, andong, dan pejalan kaki. Setelah bermacet ria, sampailah saya di benteng yang disebut Loji Besar oleh orang-orang dulu.
Tampak depan dan belakang gerbang utama Benteng Vredeburg.
“VREDEBURG”, itulah tulisan yang terpampang pada bagian pintu masuknya yang sekilas mirip kuil Yunani. Tulisan itu tak lain ialah nama dari benteng yang hendak saya lawat ini. Adapun nama benteng yang kini terpampang di hadapan saya dapatkan setelah benteng itu dihajar oleh sebuah gempa besar di tahun 1867. Bila diartikan, nama benteng itu berarti “ Benteng Perdamaian “, nama yang terasa ironi untuk sebuah benteng. Saya tak ambil pusing dengan ironi tadi dan segera saja saya membeli tiket masuk seharga dua ribu rupiah.

Benteng Vredeburg pada tahun 1920an dan 1864. Perhatikan jembatan jungkit yang ada di depan gerbang benteng (sumber : colonialarchitecutre.eu).
Sejarah benteng ini terentang Sejak tahun 1760, tatkala VOC (Vereenigde Oost Compagnie ) berhasil melobi Sultan Hamengku Buwono I untuk memberi izin mendirikan benteng sederhana di dekat keraton. Pada saat yang bersamaan, Sultan Hamengku Buwono I juga sedang membuat keraton yang nantinya akan menjadi kediaman dan tempat ia menjalankan roda pemerintahan. Setelah tuntas dibangun, benteng itu lantas diberi nama Fort Rustenburg yang berarti Benteng Peristirahatan. Pada mulanya, benteng ini masih berupa gundukan tanah yang diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu ( Bruggen. 1998; 42). Barulah pada tahun 1765, di bawah pengawasan insinyur zeni Frans Haak, benteng ini diperkokoh dengan batu-bata. Namun bahan dan tenaga yang dijanjikan oleh Sultan Hamengku Buwono I sedikit tersendat karena ia sendiri membutuhkan dua barang tersebut untuk menyelesaikan pembangunan keratonnya. Benteng itu baru pungkas dibangun tahun 1787.
Lingkungan benteng Vredeburg (A) pada tahun 1830 yang direproduksi ulang pada tahun 1890. Perhatikan bahwa kantor Residen atau sekarang menjadi Gedung Agung (B) ada di sebelah barat benteng. Sementara itu di sebelah utara terdapat pasar Beringharjo (H) dan sebuah pemakaman (F). Di sisi timur benteng, terdapat pemukiman Eropa yang disebut Loji Kecil (D).
Pembangunan Benteng Vredeburg bertalian dengan upaya VOC untuk menanamkan pengaruhnya di Jawa. Sebagai sebuah perusahaan dagang, apa yang dipentingkan VOC hanyalah mencari keuntungan sebanyak-banyak serta bagaimana bisnisnya bisa berjalan lancar. Setelah jalur pelayaran di wilayah pesisir berhasil “diamankan”, VOC mulai melirik wilayah pedalaman. Mereka beranggapan bahwa seandainya wilayah pedalaman berhasil mereka cengkeram, bahan makanan akan lebih mudah diperoleh dan perdagangan kerajaan lokal dapat dimonopoli mereka. Demikianlah yang mereka lakukan pada Kasunanan Surakarta dengan mendirikan Benteng Vastenburg dan Kasultanan Yogyakarta dengan mendirikan Benteng Vredeburg. Kehadiran benteng asing di dekat keraton lokal seolah menunjukan kuasa VOC yang notabene hanyalah sebuah perusahaan dagang yang bermarkas nun jauh di seberang negeri, dapat mempengaruhi kerajaan-kerajaan lokal.

Lingkungan luar benteng Vredeburg pada tahun 1885.
Ketika Jawa takluk di bawah kaki Inggris, bendera Union Jack milik Inggris dikibarkan di benteng itu. Jika saja benteng ini adalah sebuah kamera, barangkali ia akan merekam usaha Inggris menaklukan Kraton Yogyakarta pada tahun 1812. Kala itu kondisi benteng Vredeburg “ hanya layak untuk dipergunakan sebagai gudang tempat menyimpan perbekalan militer “ tulis komandan Inggris, William Thorn, dalam catatannya bertajuk Conquest of Java. “ Jumlah artileri sedikit dan bubuk mesiunya, yang merupakan buatan lama pabrik Belanda, mutunya sangat jelek “, sambungnya. Selama penaklukan berlangsung, benteng itu menjadi markas tentara Inggris. Tembakan artileri dilepaskan dari benteng ini, “ yang mana segera dibalas dari kubu keraton, memperlihatkan tontonan yang unik dari dua benteng yang saling bersebelahan, diduduki dari dua bangsa berbeda yang negerinya berjauhan di ujung bumi “.
Benteng Vredeburg pada tahun 1935. Jembatan ungkit sudah diganti dengan jembatan biasa (sumber : colonialarchitecture.eu).
Berikutnya pada saat Yogyakarta sedang dirundung Perang Jawa ( 1825-1830 ), Benteng Vredeburg menjadi sasaran para pengikut Pangeran Diponegoro karena di sanalah Belanda bermarkas. Berulangkali benteng ini dikepung namun ia tak kunjung jatuh hingga perang berakhir di tahun 1830. Lingkungan sekitar benteng dirasa mulai aman dan orang Belanda mulai berani tinggal di luar tembok benteng. Di sebelah timur benteng, mereka membuat sebuah permukiman yang kadang dikenal sebagai Loji Kecil.
Foto udara kawasan titik nol yang menjadi pusat kota Yogyakarta. Tampak benteng Vredeburg (kotak kuning) dan perumahan perwira di sisi barat yang kini sudah tidak ada lagi (kotak merah) (sumber : Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden halaman 114).
Memasuki zaman Jepang, Benteng Vredeburg dipakai sebagai  markas oleh Kempetai, polisi militer Jepang yang sepak terjangnya ditakuti banyak orang karena perilaku kejamnya. Gengsi Benteng Vredeburg sebagai lambang keperkasaan Belanda seketika jatuh ketika benteng itu menjadi tempat orang-orang Belanda ditahan dan hal tersebut begitu tercela di hati mereka. Selepas kemerdekaan, Tentara Keamanan Rakyat menjadikan benteng sebagai asrama dan markas. Namun benteng itu kembali jatuh ke tangan Belanda pada masa Agresi Militer Belanda Kedua dan kemudian menjadi markas IVG dinas rahasia tentara Belanda. Benteng itupun menjadi bulan-bulanan para pejuang pada Serangan Umum Satu Maret 1949.
Lokasi benteng Vredeburg pada peta Yogya tahun 1925 (sumber :colonialarchitecture.eu).
Setelah difungsikan berpuluh-puluh tahun untuk sarana militer, pada tanggal 23 November 1992, Benteng Vredeburg diresmikan sebagai museum (Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003; 8-10). Benteng Vredeburg kini bahagia menikmati peran barunya sebagai sebuah museum yang memberikan manfaat bagi banyak orang, berbanding terbalik dengan saudaranya di Surakarta, Benteng Vastenburg yang kini merana di tengah kota.
Celah bekas tempat meriam.
Salah satu lubang tembak untuk jenis senapan musket.
Dari pintu masuk utama, saya berbelok ke samping, menaiki anak tangga yang menjurus ke lantai dua pintu masu benteng. Bagian ini dulunya merupakan kantor administrasi. Dari berandanya, pandangan saya arahkan ke arah Istana Kepresidenan Gedung Agung, yang menempati bekas kediaman residen Yogyakarta. Dahulu residen Yogyakarta akan mengungsi ke benteng ini jika keamanan mulai memburuk. Pandangan kemudian saya alihkan ke parit pertahanan yang membentang di depan benteng. Benteng ini pernah dikelilingi oleh parit sebagai sarana perlindungan tambahan. Sebuah jembatan jungkit didirikan di atas parit sebagai penghubung namun sejak tahun 1930an, jembatan tersebut dihilangkan karena konstruksinya sudah tua dan tidak mampu menopang beban kendaraan militer yang kian berat.


Parit benteng Vredeburg sisi timur pada tahun 1930an. Di sebelah kiri tampak bastion sisi tenggara dengan meriam kuno di atasnya. 
(sumber : Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden halaman 122.)
Parit dan bastion barat daya benteng Vredeburg.
Benteng Vredeburg memiliki dinding setinggi dua meteran dan tebal satu meteran. Di atas dinding, terdapat celah kecil untuk tempat menembak. Selain dari atas dinding, tentara bersenjata senapan musket di dalam benteng juga dapat melepaskan tembakan dari celah kecil yang ada di dinding. Turut melengkapi pertahanan benteng, meriam-meriam ditempatkan di atas kubu benteng. Kemudian di keempat sudut benteng Vredeburg terdapat kubu pertahanan berbentuk belah ketupat yang disebut bastion. Bastion adalah jenis kubu pertahanan yang dikembangkan oleh bangsa Eropa pada masa Renaissans. Ketika bastion belum dikenal, menara-menara yang tinggi menjadi andalan pertahanan sebuah benteng atau kastil. Makin tinggi menara, makin jauh jangkauan panah. Namun menara-menara tinggi tadi segera ditinggalkan sejalan dengan ditemukannya senjata baru, meriam. Menara menjadi sasaran yang empuk karena ia mudah dibidik. Menara dihilangkan, diganti dengan tembok bastion yang dindingnya rendah supaya sukar dibidik. Namun bukan berarti tiada cela dari bastion. Ukuran tembok yang rendah menjadikannya ia gampang dipanjat oleh musuh. Oleh karena itulah dibikinlah parit yang mengitari benteng.
Pemandangan dari bastion barat daya. Terlihat gedung kantor pos besar dan Bank Indonesia.
Ketika saya berada di bastion barat daya, saya sejenak memandang ramainya Kawasan Titik Nol yang berlatar gedung-gedung tua seperti gedung BI, Kantor Pos Besar, dan Bank BNI. Walau terhitung tua, namun gedung-gedung itu tentu masih kalah tua-nya dengan benteng yang sedang saya pijaki ini. Kala gedung-gedung itu belum ada, Keraton Yogyakarta terlihat jelas dari benteng saya berpijak ini. Begitu dekatnya jarak benteng ini dengan keraton sehingga saya rasa satu tembakan meriam dapat mengenai salah satu bangunan keraton. Keberadaan benteng Vredeburg jelas berarti bagi kompeni. Ia tak hanya sekedar sebagai sarana pertahanan VOC, namun ia juga menjadi alat politik. Alih-alih sebagai tempat perlindungan untuk Sultan seperti yang dijanjikan pada pembangunannya, benteng itu justru seolah menjadi ancaman bagi kedaulatan Sultan. Sayapun lantas teringat dengan ulah VOC yang pernah memprovokasi Pangeran Jayawikarta dengan menembakan meriam yang pelurunya melesat di atas kediamannya.
Denah Benteng Vredeburg.
Benteng Vredeburg memiliki dua gerbang besar di sisi barat dan timur. Sebuah pos jaga kecil ditempatkan di gerbang barat. Setiap malamnya, kedua gerbang itu ditutup. Tiada orang yang dapat keluar masuk benteng kecuali mereka ada urusan penting dan mereka hanya diperkenankan lewat sebuah pintu kecil di sisi selatan.
Bekas barak sisi utara.
Perumahan perwira sisi utara.
Bekas tempat tinggal komandan benteng.
Bekas barak barat.
Bekas barak selatan.
Bangunan pengapit sisi selatan.
Bekas Societeit.
Di balik tembok benteng yang kokoh ini, terdapat bermacam bangunan penunjang kegiatan benteng. Bangunan-bangunan tersebut terdiri atas deretan rumah perwira, barak, kantor, dapur umum, istal, penjara, gudang senjata dan makanan, dan tempat hiburan. Dengan lengkapnya berbagai sarana di dalam tembok benteng, maka benteng itupun laksana sebuah kota kecil. Letak bangunan pun telah disusun matang, misal gudang makanan ditaruh di dekat dapur umum dan gudang mesiu ditaruh di dekat gudang senjata. 
Bekas dapur.
Bekas gudang amunisi.

Bekas gudang senjata.
Dari berbagai bangunan yang ada di dalam benteng, mungkin yang paling vital ialah gudang mesiu. Letaknya berada di dekat bastion tenggara. Sebuah gardu di depan pintu masuk gudang mesiu seakan memberitahukan saya bahwa tak sembarang orang dapat memasuki tempat itu. Dalam pengepungan sebuah benteng, bagian yang sering diincar ialah gudang mesiu karena jika terbakar sedikit saja maka akan timbul petaka berupa ledakan dahsyat yang dapat mengancurkan seisi benteng seperti yang menimpa Fort Beschmeringh di Cirebon yang hancur akibat ledakan gudang mesiu. Karena itulah letak gudang mesiu dibuat menjauh dari deretan rumah perwira dan barak untuk mengurangi korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi ledakan. Bangunan itu juga sudah dirancang memiliki tingkat kelembaban yang tepat sehingga mesiu akan melempem. Selain itu, pasokan mesiu di dalam benteng juga langsung habis sehingga meriam dan senapan tak dapat dipakai menembak.

Bangunan di dalam benteng Vredeburg kini dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai ruang diorama. Sebagai sebuah tempat wisata, apalagi letaknya di tengah kota, Benteng Vredeburg ramai pengunjung. Mereka tampak begitu asyik berswafoto di setiap sudut benteng. Kehadiran mereka di sini tampaknya untuk mencari suasana yang berbeda atau untuk menambah koleksi foto, bukan karena kisah sejarah yang terdapat di dalamnya. Dari masa kemerdekaan hingga sekarang, tinggalan sejarah berupa benteng masih disikapi sebagai tinggalan penjajah. Padahal ditinjau dari kajian Post-Kolonial, benteng merupakan lambang dari eksistensi kekuatan asing, yang mana oleh bangsa Indonesia dengan kemampuan terbatas mampu menyingkirkan kekuatan asing yang memiliki sarana pertahanan begitu kuat seperti benteng (Sudamika, 2006; 92). Suka atau tidak suka, benteng Vredeburg; dan benteng lainnya di Indonesia, telah menjadi bagian perjalanan sejarah negeri ini.

Referensi
Abrianto, Oktaviadi. " Pertahanan Teluk Jakarta Abad ke 18 dan Ke – 19  " dalam Dr.Agus Aris Munandar dkk. 2002. Jelajah Masa Lalu. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat Banten.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. 2003. Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Museum Benteng Vredeburg. Yogyakarta

Sudamika, G.M. " Penelitian Benteng Kolonial di Ternate, Maluku Utara " dalam Berita Penelitian Arkeologi Maluku dan Maluku Utara, vol 2. No. 2 Juli/2008, Balai Arkeologi Maluku.

van Bruggen, M.P dan R.P Wassing. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam; Asia Maior.

Thorn, William. 2011. Penaklukan Pulau Jawa- Pula Jawa di abad Sembilan belas dari Amatan Seorang Serdadu Kerajaan Inggris. Jakarta ; Elex Media Komputindo.

Jumat, 06 November 2015

Sisir Anasir PG Medari

Di tepi Jalan Magelang-Yogyakarta yang ramai oleh lalu lalang kendaraan itu, pernah berdiri sebuah pabrik gula. Pabrik Gula Medari namanya. Ia memang sudah lama hilang, tapi siapapun yang lewat di situ tak kan menyadari bahwa sebenarnya masih ada anasir yang tersisa dari pabrik gula tersebut. Inilah cerita saya di Jejak Kolonial, mengungkap kembali anasir – anasir PG Medari...
Lokasi PG Medari pada peta lama tahun 1925 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Sekalipun berdiri di tengah kompleks sekolah, bangunan itu sama sekali tidak nampak sebagai bangunan sekolah pada umumnya.  Secara sepintas, ia justru mirip dengan sebuah villa besar milik seorang tuan tanah kaya raya. Kejanggalan bangunan itulah yang memicu rasa penasaran saya ketika berjumpa pertama kali dengannya. Singkat cerita, sayapun menguliknya lewat dokumen-dokumen sejarah yang berhasil saya himpun. Salah satunya ialah peta topografi Belanda tahun 1925. Apa yang ditemukan pada peta itu bakal membuat saya terkejut. Bangunan aneh itu rupanya dulu tidak berdiri sendiri. Ia hanyalah sebagian kecil dari sebuah kompleks pabrik gula besar, yaitu PG Medari.
Salah satu mesin pengolahan di PG Medari. Dilihat dari kondisi mesin yang masih mulus, kemungkinan besar mesin ini baru saja dipasang. Hingga saat belum diketahui bagaimana nasib mesin-mesin ini setelah PG Medari ditutup (sumber : geheugenvanndereland.nl).
Bangunan PG Medari ketika masih berjaya. Terlihat cerobong yang menjulang tinggi di belakang. Sepertinya gambar di ambil sebelum musim giling karena tidak terlihat asap yang mengepul dari puncak cerobong (sumber : geheugenvannederland. nl).
Rasa ingin tahu saya dengan PG Medari kian bertambah. Saya pun lantas mencoba untuk mencari dokumentasi sejarah lain yang terkait dengan keberadaan PG itu. Sayangnya, dokumen yang berhasil saya temukan tak bisa menjelaskan secara rinci ikhwal berdiri pabrik gula ini. Dalam laporan residen Yogyakarta tahun 1925, saham PG Medari dikuasi oleh jaringan niaga Koloniaale Bank yang berkantor di Surabaya ( Dingemans, 1925; 123).  Koloniaale Bank merupakan satu dari " Big Six " perusahaan keuangan di Hindia-Belanda, bersama Cultuur Maatschppiij der Vorstenlanden, Internatio, Handelsvereeneging Amsterdam, Nederlandsh Handel Maatschppij, dan Nederlandsch Indie Landobouw Maatschppij. Sementara itu, proyek pendirian pabrik ini dijalankan oleh firma de Vries Rubbed dan mesin-mesin besarnya dibuat oleh pabrik mesin asal kota Hengelo, Machinefabriek Gebr. Stork & Co. (Anonim. 1922; 83). Ketika gelombang krisis ekonomi menggulung industri gula di Jawa, pabrik gula ini masih mampu melewatinya. PG Medari akhirnya menghadapi mautnya di masa penjajahan Jepang, tatkala tentara Dai Nippon merampasnya dan dialihkan untuk memproduksi kepentingan militer. Bangunan pabrik gula akhirnya lenyap tak bersisa ketika dibumihanguskan pada masa Agresi Militer Belanda II. Tak hanya itu, secara tidak langsung PG Medari sendiri juga memiliki peran dalam penyebaran keyakinan Katolik di wilayah ini. Bangunan societeit atau orang biasa menyebutnya kamar bola PG Medari sempat dipakai sebagai sekolah oleh Pastor Strater (Wietjens, 1995; 41). Sekelumit catatan sejarah ini yang menjadi bekal saya dalam penjelajahan di eks PG  Medari.
Bekas bangunan rumah dinas administrateur PG Medari.
Suasana siang itu begitu ramai seperti biasa di halaman SMP N 1 Sleman. Siswa-siswa sekolah tampak berhamburan keluar, tanda jam sekolah telah usai. Tapi bagi saya, itulah tanda untuk memulai penjelajahan anasir-anasir eks PG Medari. Dan tempat pertama yang akan saya sambangi adalah bangunan janggal yang ada di balik pagar halaman sekolah ini. Setelah meminta izin kepada kepada penjaga, saya mencoba untuk melihat lebih dekat bangunan yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari kejauhan.
Bagian belakang bekas bangunan rumah dinas administrateur.
Apabila diamati secara seksama, gaya bangunan ini mencerminkan villa-villa besar di Jerman selatan yang berada di kaki pegunungan Alpen, terlihat pula dekorasi tempelan kayu di bagian gevel yang menambah manis kesan bangunan. Gaya arsitektur ini disebut gaya arsitektur Chalet, gaya yang banyak dipakai pada bangunan Indis akhir abad 19 dan awal abad 20. Tampak beranda depannya yang dulu terbuka dengan lengkungannya kini sudah ditututup. Dari kemegahannya, jelas ia dulunya merupakan tempat tinggal sang tuan administrateur, jabatan tertinggi dalam hirarki lingkungan pabrik gula. Tugas seorang administrateur meliputi banyak hal, dari penanaman tebu, jalannya pengolahan, urusan finansial, hingga distribusi ( Wiseman, 2001; 388 )
Bekas paviliun yang saat ini menjadi kantor administrasi.
“ Dulu di dalam bangunan itu ada arcanya mas, ya sebelum bangunan itu jadi sekolah tahun 1950an “, ujar bapak penjaga yang ternyata lahir dan tinggal di dekat sekolah ini. Apa yang diucapkan bapak tadi setidaknya menandakan bahwa kalangan elit Belanda memiliki kegemaran mengumpulkan arca-arca masa klasik untuk dipamerkan pada kolega mereka. “ Sempat mas, arca itu raib kepalanya diambil orang tapi akhirnya berhasil ditemukan di Singapura “, tutur bapak penjaga sambil menyesap sebatang rokok. “ Lalu kemana arcanya sekarang ? “, tanya saya. “ Sudah diamankan oleh BPCB”, jawabnya. Bapak itu juga menceritakan bahwa beberapa tahun silam, bangunan itu didatangi oleh keluarga Belanda yang dulu pernah tinggal di situ. “ Di rombongan itu, ada seorang nenek yang sudah sangat sepuh”, tutur bapak penjaga. “ Ia dulu lahir di bangunan yang tadi mas lihat…”.
Foto lama dari bangunan yang saat ini sudah menjadi bagian dari Kodim 0732 Sleman (sumber ; geheugenvannederland.nl)
Rumah Administrateur PG Medari dilihat dari kereta api yang sedang melintas di depan rumah. Di depan rumah ini dahulu terbentang jalur kereta api Yogyakarta - Magelang. Terlihat di sekitar rumah belum ada satupun bangunan selain rumah administrateur itu sendiri.
(Sumber : Reis Willem I - Djocja).

Lepas dari sekolah, sayapun lekas meneruskan penyisiran jejak eks PG Medari yang lain. Persis di depan sekolah, sebenarnya masih ada satu bangunan rumah Indis yang tampaknya juga merupakan bagian dari PG Medari. Tapi sayangnya, saya tak berdaya untuk mendekatinya karena bangunan itu sekarang dikuasai militer.
Bekas stasiun Medari yang kini menjadi posyandu.
Cerobong PG Medari yang terekam pada video lama yang berjudul "Reis Willem I -Djocja". Video ini menceritakan perjalanan kereta api dari Ambarawa ke Yogyakarta yang kebetulan melewati kompleks PG Medari. Pandangan kamera mengadap ke arah timur
Dahulu, di sisi barat jalan, tempat saya berdiri sekarang, pernah membentang rel kereta Magelang – Yogyakarta yang ditutup tahun 1976. Jalan baja ini tentu amat vital perannya bagi industri gula. Tanpanya, gula-gula pabrik gula ini tak kan pernah sampai di dapur konsumen. Kereta-kereta uap yang dulu lalu lalang di halaman depan rumah sang tuan administrateur, juga merupakan sarana pengangkut utama yang membawa mesin-mesin besar untuk keperluan pabrik. Di sekitar sini, masih ada beberapa jejak perkeretapian, seperti bekas stasiun, pondasi jembatan, dan tiang sinyal.
Kondisi rumah tinggal milik pegawai pribumi pada masa sekarang.
Berdiri di balik deretan kios-kios kecil, bangunan mungil ini selolah malu-malu tuk memperlihatkan wujudnya. Mungil memang, tidak semewah dengan rumah sang tuan administrateur. Tapi ia memberi gambaran kepada saya tentang kelas-kelas pekerja yang ada di lingkungan PG Medari. Itulah gambaran dari saya mengenai eks rumah pegawai bumiputra PG Medari.
Bekas tempat tinggal karyawan tingkat bawah. Saat ini dalam kondisi tidak terawat dan kosong.
Pemilik pabrik gula, merekrut orang-orang Jawa terpelajar untuk mengurus administrasi pabrik. Standar gaji yang lebih rendah daripada orang kulit putih menjadi alasan mereka direkrut sebagai pegawai rendahan. Para pekerja Jawa ini sulit untuk meniti jenjang karir lebih tinggi dan tak jarang mereka mendapat perlakukan kurang menyenangkan dari pegawai kulit putih. Sekalipun demikian,  mereka disediakan hunian yang terhitung layak untuk ukuran mereka.
Rumah tinggal milik pegawai pribumi.Para pegawai pribumi pada umumnya memiliki jabatan yang rendah dan cukup sulit untuk naik jabatan.Rumah tinggal para pegawai pribumi berukuran kecil.Di bagian halaman,terlihat taman yang ditata dengan rapi.(Sumber : troppenmuseum.nl).
 Nun tak jauh dari temuan saya tadi, ada lagi sebuah bangunan tua yang agak terbengkalai. Ia dulunya merupakan Hulp Post kantoor atau kantor pos pembantu. Di sinilah segala urusan surat menyurat para pegawai pabrik dan masyarakat lokal diurus. Keberadaan kantor pos ini jelas membantu urusan administrasi pabrik. Di belakang eks kantor pos ini, dulunya ada sebuah gedung sus atau kamar bola, tempat para pegawai kulit putih bersenang-senang. Pernah pula sekali gedung ini dipakai sebagai sekolah oleh Pastor Strater. 
Bekas kantor pos Medari.
Struktur pagar PG Medari.
Lalu bagaimanakah dengan sisa-sisa dari bangunan utama PG Medari, tempat tebu digiling dan sarinya dikristalkan menjadi gula ? Saya tak berharap banyak bisa menemukan jejaknya. Ia kini separo menjadi pabrik GKBI, separonya lagi menjadi hamparan tanah kosong. Satu-satunya jejak yang tersisa darinya hanyalah dinding pembatas pabrik yang masih kokoh sampai sekarang.
Denah PG Medari pada peta tahun 1935 (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Citra satelit dari Google map yang menggambarkan kondisi PG Medari saat ini.
Di akhir penjelajahan, saya hanya bisa merenung, betapa roda nasib betul-betul memainkan perannya di sini. PG yang dulu berdiri begitu angkuhnya, kini nasibnya berputar ke bawah, bahkan lenyap samasekali. Darinya hanya meninggalkan beberapa anasir yang tak banyak diketahui orang….

Referensi
Anonim. 1922. Machinefabriek Gebr. Stork. & Co. Hengelo.

Dingemans, L.F. 1925. Gegevens over Djokjakarta.

DR. Jan Wietjens S.J.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat, Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.

Inagurasi, Hari Libra. 2010. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal,Jawa Tengah Tahun 1835 - 1930,Sebuah Studi Arkeologi IndustriFakultas Ilmu Pengetahuan Budaya ". Tesis. Depok : Program Magister Arkeologi Universitas Indonesia

Tim Penyusun. 2014. Lensa Budaya 2 ; Menguak Fakta Mengenali Keberlanjutan. Yogyakarta : Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta

Wiseman. 2001. Three Crises: Management in The Colonial Java Industry 1880s-1930s. Tesis. Adeliade : University of Adelaide.