Jumat, 06 November 2015

Sisir Anasir PG Medari

Di tepi Jalan Magelang-Yogyakarta yang ramai oleh lalu lalang kendaraan itu, pernah berdiri sebuah pabrik gula. Pabrik Gula Medari namanya. Ia memang sudah lama hilang, tapi siapapun yang lewat di situ tak kan menyadari bahwa sebenarnya masih ada anasir yang tersisa dari pabrik gula tersebut. Inilah cerita saya di Jejak Kolonial, mengungkap kembali anasir – anasir PG Medari...
Lokasi PG Medari pada peta lama tahun 1925 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Sekalipun berdiri di tengah kompleks sekolah, bangunan itu sama sekali tidak nampak sebagai bangunan sekolah pada umumnya.  Ia justru lebih mirip sebuah villa besar milik seorang tuan tanah kaya raya. Kejanggalan bangunan itulah yang memicu rasa penasaran saya ketika berjumpa pertama kali dengannya. Singkat cerita, sayapun menguliknya lewat dokumen-dokumen sejarah yang berhasil saya himpun. Salah satunya ialah peta topografi Belanda tahun 1925. Apa yang ditemukan pada peta itu bakal membuat saya terkejut. Bangunan aneh itu rupanya dulu tidak berdiri sendiri. Ia hanyalah sebagian kecil dari sebuah kompleks pabrik gula besar, yaitu PG Medari.
Salah satu mesin pengolahan di PG Medari. Dilihat dari kondisi mesin yang masih mulus, kemungkinan besar mesin ini baru saja dipasang. Hingga saat belum diketahui bagaimana nasib mesin-mesin ini setelah PG Medari ditutup (sumber : geheugenvanndereland.nl).
Bangunan PG Medari ketika masih berjaya. Terlihat cerobong yang menjulang tinggi di belakang. Sepertinya gambar di ambil sebelum musim giling karena tidak terlihat asap yang mengepul dari puncak cerobong (sumber : geheugenvannederland. nl).
Rasa ingin tahu saya dengan PG Medari kian bertambah. Saya pun lantas mencoba untuk mencari dokumentasi sejarah lain yang terkait dengan keberadaan PG itu. Sayangnya, dokumen yang berhasil saya temukan tak bisa menjelaskan secara rinci ikhwal berdiri pabrik gula ini. Dalam laporan residen Yogyakarta tahun 1925, saham PG Medari dikuasi oleh jaringan niaga Koloniaale Bank yang berkantor di Surabaya ( Dingemans, 1925; 123). Sementara itu, proyek pendirian pabrik ini dijalankan oleh firma de Vries Rubbed dan mesin-mesin besarnya dibuat oleh pabrik mesin asal kota Hengelo, Machinefabriek Gebr. Stork & Co. (Anonim. 1922; 83). Ketika badai krisis ekonomi menerjang industri gula, pabrik gula ini masih mampu melewatinya. Pabrik gula ini tamat riwayatnya di masa penjajahan Jepang, tatkala tentara Dai Nippon merampasnya dan dialihkan untuk memproduksi kepentingan militer. Bangunan pabrik gula akhirnya lenyap tak bersisa ketika dibumihanguskan pada masa Agresi Militer Belanda II. Tak hanya itu, secara tidak langsung PG Medari sendiri juga memiliki peran dalam penyebaran keyakinan Katolik di wilayah ini. Bangunan societeit atau orang biasa menyebutnya kamar bola PG Medari sempat dipakai sebagai sekolah oleh Pastor Strater (Wietjens, 1995; 41). Sekelumit catatan sejarah ini yang menjadi bekal saya dalam penjelajahan di eks PG  Medari.
Bekas bangunan rumah dinas administrateur PG Medari.
Suasana siang itu begitu ramai seperti biasa di halaman SMP N 1 Sleman. Siswa-siswa sekolah tampak berhamburan keluar, tanda jam sekolah telah usai. Tapi bagi saya, itulah tanda untuk memulai penjelajahan anasir-anasir eks PG Medari. Dan tempat pertama yang akan saya sambangi adalah bangunan janggal yang ada di balik pagar halaman sekolah ini. Setelah meminta izin kepada kepada penjaga, saya mencoba untuk melihat lebih dekat bangunan yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari kejauhan.
Bagian belakang bekas bangunan rumah dinas administrateur.
Apabila diamati secara seksama, gaya bangunan ini mencerminkan villa-villa besar di Jerman selatan yang berada di kaki pegunungan Alpen, terlihat pula dekorasi tempelan kayu di bagian gevel yang menambah manis kesan bangunan. Gaya arsitektur ini disebut gaya arsitektur Chalet, gaya yang banyak dipakai pada bangunan Indis akhir abad 19 dan awal abad 20. Tampak beranda depannya yang dulu terbuka dengan lengkungannya kini sudah ditututup. Dari kemegahannya, jelas ia dulunya merupakan tempat tinggal sang tuan administrateur, jabatan tertinggi dalam hirarki lingkungan pabrik gula.
Bekas paviliun yang saat ini menjadi kantor administrasi.
“ Dulu di dalam bangunan itu ada arcanya mas, ya sebelum bangunan itu jadi sekolah tahun 1950an “, ujar bapak penjaga yang ternyata lahir dan tinggal di dekat sekolah ini. Apa yang diucapkan bapak tadi setidaknya menandakan bahwa kalangan elit Belanda memiliki kegemaran mengumpulkan arca-arca masa klasik untuk dipamerkan pada kolega mereka. “ Sempat mas, arca itu raib kepalanya diambil orang tapi akhirnya berhasil ditemukan di Singapura “, tutur bapak penjaga sambil menyesap sebatang rokok. “ Lalu kemana arcanya sekarang ? “, tanya saya. “ Sudah diamankan oleh BPCB”, jawabnya. Bapak itu juga menceritakan bahwa beberapa tahun silam, bangunan itu didatangi oleh keluarga Belanda yang dulu pernah tinggal di situ. “ Di rombongan itu, ada seorang nenek yang sudah sangat sepuh”, tutur bapak penjaga. “ Ia dulu lahir di bangunan yang tadi mas lihat…”.
Foto lama dari bangunan yang saat ini sudah menjadi bagian dari Kodim 0732 Sleman (sumber ; geheugenvannederland.nl)
Rumah Administrateur PG Medari dilihat dari kereta api yang sedang melintas di depan rumah. Di depan rumah ini dahulu terbentang jalur kereta api Yogyakarta - Magelang. Terlihat di sekitar rumah belum ada satupun bangunan selain rumah administrateur itu sendiri.
(Sumber : Reis Willem I - Djocja).

Sayapun meneruskan penyisiran eks PG Medari di area luar sekolah. Persis di depan sekolah, sebenarnya masih ada satu bangunan rumah Indis yang tampaknya juga merupakan bagian dari PG Medari. Tapi sayangnya, saya tak berdaya untuk mendekatinya karena bangunan itu sekarang dikuasai militer.
Bekas stasiun Medari yang kini menjadi posyandu.
Cerobong PG Medari yang terekam pada video lama yang berjudul "Reis Willem I -Djocja". Video ini menceritakan perjalanan kereta api dari Ambarawa ke Yogyakarta yang kebetulan melewati kompleks PG Medari. Pandangan kamera mengadap ke arah timur
Dahulu, di sisi barat jalan, tempat saya berdiri sekarang, pernah membentang rel kereta Magelang – Yogyakarta yang ditutup tahun 1976. Jalan baja ini tentu amat vital perannya bagi industri gula. Tanpanya, gula-gula pabrik gula ini tak kan pernah sampai di dapur konsumen. Kereta-kereta uap yang dulu lalu lalang di halaman depan rumah sang tuan administrateur, juga merupakan sarana pengangkut utama yang membawa mesin-mesin besar untuk keperluan pabrik. Di sekitar sini, masih ada beberapa jejak perkeretapian, seperti bekas stasiun, pondasi jembatan, dan tiang sinyal.
Kondisi rumah tinggal milik pegawai pribumi pada masa sekarang.
Berdiri di balik deretan kios-kios kecil, bangunan mungil ini selolah malu-malu tuk memperlihatkan wujudnya. Mungil memang, tidak semewah dengan rumah sang tuan administrateur. Tapi ia memberi gambaran kepada saya tentang kelas-kelas pekerja yang ada di lingkungan PG Medari. Itulah gambaran dari saya mengenai eks rumah pegawai bumiputra PG Medari.
Bekas tempat tinggal karyawan tingkat bawah. Saat ini dalam kondisi tidak terawat dan kosong.
Pemilik pabrik gula, merekrut orang-orang Jawa terpelajar untuk mengurus administrasi pabrik. Standar gaji yang lebih rendah daripada orang kulit putih menjadi alasan mereka direkrut sebagai pegawai rendahan. Para pekerja Jawa ini sulit untuk meniti jenjang karir lebih tinggi dan tak jarang mereka mendapat perlakukan kurang menyenangkan dari pegawai kulit putih. Sekalipun demikian,  mereka disediakan hunian yang terhitung layak untuk ukuran mereka.
Rumah tinggal milik pegawai pribumi.Para pegawai pribumi pada umumnya memiliki jabatan yang rendah dan cukup sulit untuk naik jabatan.Rumah tinggal para pegawai pribumi berukuran kecil.Di bagian halaman,terlihat taman yang ditata dengan rapi.(Sumber : troppenmuseum.nl).
 Nun tak jauh dari temuan saya tadi, ada lagi sebuah bangunan tua yang agak terbengkalai. Ia dulunya merupakan Hulp Post kantoor atau kantor pos pembantu. Di sinilah segala urusan surat menyurat para pegawai pabrik dan masyarakat lokal diurus. Keberadaan kantor pos ini jelas membantu urusan administrasi pabrik. Di belakang eks kantor pos ini, dulunya ada sebuah gedung sus atau kamar bola, tempat para pegawai kulit putih bersenang-senang. Pernah pula sekali gedung ini dipakai sebagai sekolah oleh Pastor Strater. 

Bekas kantor pos Medari.
Struktur pagar PG Medari.
Lalu bagaimanakah dengan sisa-sisa dari bangunan utama PG Medari, tempat tebu digiling dan sarinya dikristalkan menjadi gula ? Saya tak berharap banyak bisa menemukan jejaknya. Ia kini separo menjadi pabrik GKBI, separonya lagi menjadi hamparan tanah kosong. Satu-satunya jejak yang tersisa darinya hanyalah dinding pembatas pabrik yang masih kokoh sampai sekarang.
Denah PG Medari pada peta tahun 1935 (Sumber : maps.library.leiden.edu).
Citra satelit dari Google map yang menggambarkan kondisi PG Medari saat ini.
Di akhir penjelajahan, saya hanya bisa merenung, betapa roda nasib betul-betul memainkan perannya di sini. PG yang dulu berdiri begitu angkuhnya, kini nasibnya berputar ke bawah, bahkan lenyap samasekali. Darinya hanya meninggalkan beberapa anasir yang tak banyak diketahui orang….

Referensi
Anonim. 1922. Machinefabriek Gebr. Stork. & Co. Hengelo.

Dingemans, L.F. 1925. Gegevens over Djokjakarta.

DR. Jan Wietjens S.J.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat, Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.

Inagurasi, Hari Libra. 2010. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal,Jawa Tengah Tahun 1835 - 1930,Sebuah Studi Arkeologi IndustriFakultas Ilmu Pengetahuan Budaya ". Tesis. Depok : Program Magister Arkeologi Universitas Indonesia

Tim Penyusun. 2014. Lensa Budaya 2 ; Menguak Fakta Mengenali Keberlanjutan. Yogyakarta : Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta

3 komentar:

  1. Untuk 'Bekas tempat tinggal pegawai berpangkat rendah' itu hingga bbrp tahun yang lalu masih dihuni. Sahabat masa kecil saya tinggal disitu, hingga dia dan saudarinya berkeluarga kemudian kedua orang tuanya meninggal dunia. Sedih karena banyak kenangan di rumah itu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah,sedih sekali ya :( tentunya di sana banyak sekali menyimpan memori2.Sayang sekali memang melihat kondisi sekarang yang kurang terawat.

      Hapus
  2. trima kasih atas infonya mas. tambah ilmu dan tau video ambarawa - jogja :D (y) :)

    BalasHapus