Jumat, 06 November 2015

Melihat yang Tersisa dari Pabrik Gula Medari


Dalam perjalanan saya dari Yogyakarta ke Magelang dalam rangka kuliah lapangan ke Borobudur, ketika bis melewati kompleks Kodim Sleman, mata saya menangkap sebuah bangunan yang cukup unik karena bentuk terlihat kontras dengan bangunan di sekitarnya. Tapi saya sendiri pada waktu itu masih belum tahu bangunan apa itu. Pertanyaan saya akhirnya terjawab ketika saya mencoba membandingkan lokasi bangunan itu saat ini berdiri dengan peta topografi Belanda. Saya cukup terkejut karena lokasi di sekitar bangunan itu dahulu pernah berdiri sebuah pabrik gula cukup besar bernama PG Medari. Nah, daripada bingung, mari kita lihat bersama apa saja yang masih tersisa dari PG Medari ini…
Lokasi PG Medari pada peta lama tahun 1925 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Jejak yang Tertinggal
Bekas bangunan rumah dinas administrateur PG Medari.
Bagian belakang bekas bangunan rumah dinas administrateur.
Berhubung bangunan yang dulu saya lihat berada di dalam kompleks SMP N 1 Sleman maka alangkah baiknya sebelum mendekat kita minta izin dahulu pada penjaga di pos satpam. Akan lebih baik jika kita datang ke sini seusai jam sekolah sehingga kehadiran kita tidak menganggu kegiatan belajar di sini. Dari luar, bangunan ini memang sedikit tertutup oleh pagar, sehingga dari jalan bangunan ini tampak tertutup. Untuk melihat lebih jelas, mari kita jejakan kaki kita ke dekati bangunan ini. Melihat sekilas bangunan ini, bayangan kita akan teringat pada manor-manor milik bangsawan di Eropa. Megah dan besar, serta di bagian gavelnya terlihat sedikit ada aksen arsitektur Tudor.  Kita dapat melihat jendela krepyak yang tinggi memberi pesan bahwa bangunan ini berasal dari masa kolonial. Bangunan ini memiliki batur yang cukup tinggi sehingga di bagian beranda depan terdapat tangga naik. Bentuk atap bangunan ini sangat kompeks yakni merupakan kombinasi atap pelana silang dan atap perisai. Beranda depan aslinya merupakan sebuah beranda terbuka, namun akhirnya ditutup untuk menambah ruangan. Bangunan ini rupanya terdiri dari dua bangunan, yakni bangunan utama yang saat ini menjadi ruang kepala sekolah dan guru dan bangunan samping yang saat ini digunakan sebagai ruang administrasi. Di antara dua bangunan ini, terdapat sebuah bangunan baru berupa aula. Di sekelilingnya, juga sudah berdiri bangunan-bangunan baru untuk kepentingan sekolah.

Puas berkeliling, saya sendiri sempat bertanya kepada bapak penjaga yang tadi sudah kita temui. Dari penuturan beliau yang rumahnya ternyata ada di belakang sekolah, bangunan ini dahulu merupakan rumah milik seorang administrateur atau manajer pabrik gula. Persis sekali dengan dugaan awal saya karena bentuk bangunan sepertinya tidak didesain sebagai sekolah, malah justru bangunan ini lebih mirip tempat tinggal seseorang yang memiliki kedudukan tinggi seperti administrateur. Di lingkungan pabrik gula, jabatan administrateur merupakan jabatan tertinggi dan selalu dipegang oleh orang Eropa. Oleh karena itulah wajar jika rumah nya dibuat dengan bentuk paling besar dan megah. Sejak tahun 1951, bekas rumah administrateur ini dipakai sebagai SMP (BPCB Yogykarta,109;2014). 
Bekas paviliun yang saat ini menjadi kantor administrasi.
Dilihat dari gaya bangunan nya, kemungkinan besar bangunan ini dibangun pada akhir abad ke-19, di mana pada masa itu sedang marak gerakan romantisme yang mendorong sentimen terhadap keindahan masa lalu. Seperti bangunan rumah dinas ini yang bentuknya sedikit mengingatkan saya pada bangunan manor abad pertengahan akhir di Eropa. Ketika di sekitarnya masih sedikit bangunan yang berdiri, bangunan ini terlihat sangat mencolok karena ukuran dan bentuknya yang berbeda sendiri. Bangunan ini seolah-olah memberi pesan bahwa yang tinggal di sini bukanlah orang sembarangan.

Rumah Administrateur PG Medari dilihat dari kereta api yang sedang melintas di depan rumah. Di depan rumah ini dahulu terbentang jalur kereta api Yogyakarta - Magelang. Terlihat di sekitar rumah belum ada satupun bangunan selain rumah administrateur itu sendiri.

(Sumber : Reis Willem I - Djocja).
Dahulu, persis di depan halaman bangunan ini, terbentang jalur kereta api lintas Magelang – Yogyakarta. Jalur kereta api ini sudah non aktif sejak tahun 1976 dan jalur rel nya  sekarang sudah tertimbun tanah akibat dampak pelebaran jalan. Bangunan rumah dinas ini dapat kita temukan dari film hitam-putih yang menceritakan perjalanan sebuah kereta api dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tugu. Dari film ini, terlihat halaman depan rumah ini tertata dengan rapi dan bersih. Kita dapat membayangkan hampir setiap hari, si tuan Administrateur menyaksikan kereta api yang sedang melintas di depan rumah. Dari sini juga, aktivitas di pabrik dapat diamati secara jelas.

Masih menurut keterangan penjaga sekolah, dahulu, di bagian halaman belakang bangunan lama ini terdapat arca-arca dari periode Kerajaan Mataram Kuno. Kemungkinan besar arca – arca ini dahulunya merupakan koleksi milik penghuni rumah ini. Pada zaman dahulu, paraa administrateur pabrik gula memiliki hobi  mengkoleksi arca-arca yang ditemukan di daerah dekat pabrik. Arca-arca ini selain untuk mempercantik rumah juga biasanya dipamerkan kepada tamu yang berkunjung. Setelah mereka kembali ke Belanda, arca-arca tadi sebagian ada yang tidak dibawa pergi ke Belanda. Pernah bagian kepala salah satu arca raib dicuri oleh orang, namun beruntung bagian kepala arca yang dicuri tadi dapat ditemukan kembali sebelum dijual ke kolektor. Oleh karena itulah, demi keamanan, arca-arca tadi dipindahkan ke kantor BPCB Yogyakarta.

Foto lama dari bangunan yang saat ini sudah menjadi bagian dari Kodim 0732 Sleman (sumber ; geheugenvannederland.nl)
Setelah saya melihat bekas rumah dinas adminsitrateur, di seberang jalan yang sangat ramai, kita dapat melihat sebuah bangunan yang jelas-jelas sekali sebagai bangunan kolonial karena ukurannya besar dan memiliki jendela krepyak yang tinggi. Sayangnya, bangunan ini berada Kodim 0732 Sleman, sehingga kita akan sedikit kesulitan untuk mendekatinya. Daripada kita berurusan dengan aparat lebih baik kita liha saja dari kejauhan. Ukuran bangunan ini lebih kecil daripada bangunan yang sudah kita lihat tadi. Kemungkinan besar bangunan ini dihuni oleh seorang pegawai menengah. Pegawai ini barangkali memiliki keahlian tertentu yang terkait dengan industri pabrik seperti ahli tanaman tebu, ahli mesin uap  dan ahli pengolahan gula (Hari Libra Inagurasi, 2010;109).
Struktur pagar PG Medari.
Kita buka kembali peta topografi lama, untuk mengetahui apa saja yang terdapat di sekitar Pabrik Gula Medari serta bagaimana kondisinya sekarang. Dari perbandingan data peta lama dengan citra satelit dari masa sekarang, serta berdasarkan penuturan warga sekitar, bangunan pabrik yang menjadi tempat penggilingan tebu sudah tidak ada bekasnya lagi. Sebagian besar area pabrik sudah menjadi bagian dari Pabrik GKBI. Ok. Bangunan pabrik sudah hilang, lalu kira-kira apa saja yang masih tersisa dari PG Medari. Di sebelah selatan pabrik GKBI, di belakang kompleks Kodim, kita akan menemukan sebuah struktur dinding yang tampaknya merupakan bagian dari dinding pagar PG Medari. Di bagian luar, kita akan melihat potongan besi rel lori yang mencuat. Sementara itu, di balik pagar ini, terdapat sebuah kompleks kuburan.
Bekas kantor pos Medari
Di sebelah utara SMA N 1 Sleman, terdapat sebuah gapura perkampungan. Di belakang gapura tadi, rupanya terdapat sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah lama tidak dipakai. Berdasarkan data peta lama, bangunan ini dahulu ternyata adalah kantor pos pembantu atau dalam bahasa Belandanya disebut Hulp Post Kantoor. Hal ini semakin diperkuat dari catatan Belanda dari tahun 1925 (L.F.Dingemans, 1925; 102) dan di depan bangunan ini, kita juga dapat melihat sebuah bis surat yang sudah jarang dipakai akibat tidak mampu bersaing dengan media komunikasi zaman sekarang yang semakin canggih. Keberadaan kantor pos pembantu ini  tentu ada hubungannya dengan PG Medari. Agar urusan surat menyurat yang berkaitan dengan administrasi PG Medari lancar, maka dibukalah kantor pos pembantu ini. Kantor pos ini juga bermanfaat bagi warga Medari dan sekitarnya yang ingin mengirimkan pesan untuk kerabat di tempat lain. Menariknya, salah satu kepala kantor pos yang dulu bertugas di sini bernama John. W. MacDonald. Dari namanya barangkali dia bukan orang Belanda. Bisa jadi, dia adalah orang Amerika atau Inggris (L.F.Dingemans, 1925; 123).

Oh ya, di belakang kantor pos tadi, dahulu pernah terdapat societiet atau orang lazim menyebutnya sebagai kamar bola karena di sini orang dapat memainkan permainan bola sodok atau bilyard. Nah, soceietiet ini pernah dipakai untuk sekolah yang dibuka oleh Romo Strater dalam pengembangan misi Katolik di wilayah Medari. Jadi dapat dikatakan keberadaan PG Medari berhubungan dengan sejarah penyebaran agama Katolik di wilayah ini (Jan Wietjens SJ, 1995; 41) 
Bekas tempat tinggal karyawan tingkat bawah. Saat ini dalam kondisi tidak terawat dan kosong. Jika dilihat, bangunan ini lebih mirip rumah kontrakan.
Rumah tinggal milik pegawai pribumi.Para pegawai pribumi pada umumnya memiliki jabatan yang rendah dan cukup sulit untuk naik jabatan.Rumah tinggal para pegawai pribumi berukuran kecil.Di bagian halaman,terlihat taman yang ditata dengan rapi.(Sumber : troppenmuseum.nl).
Masih di sekitar bekas PG Medari, kita akan menemukan sebuah bangunan tua yang bentuknya jauh lebih sederhana. Dari luar, bangunan ini sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Dilihat dari bentuknya yang sederhana dan ukurannya yang kecil, rumah ini dahulu bisa jadi ditempati oleh karyawan tingkat bawah.

Bekas stasiun Medari,
Sekitar 200 meter dari lokasi bekas PG Medari, terdapat sebuah bangunan bekas Stasiun  Medari yang berukuran kecil. Bangunan ini sekarang digunakan sebagai Posyandu dan PAUD. Di masa ketika jalur kereta api Yogyakarta-Magelang masih aktif, stasiun ini berguna sebagai tempat menaik turunkan penumpang. Jauh sebelumnya, ketika PG Medari masih aktif, stasiun ini juga memiliki peran vital bagi PG Medari, yakni menjadi tempat untuk pengangkutan hasil produksi gula dari PG Medari. Dengan menggunakan kereta api, maka jumlah tonase gula yang diangkut semakin besar serta barang lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Stasiun ini menjadi saksi bisu kejayaan transportasi kereta api di masa lalu, yang kini mulai tergeser oleh moda transportasi lainnya.
Denah PG Medari pada peta tahun 1935 (Sumber : maps.library.leiden.edu).

Citra satelit dari Google map yang menggambarkan kondisi PG Medari saat ini.
Menggali sejarah PG Medari

Bangunan PG Medari ketika masih berjaya. Terlihat cerobong yang menjulang tinggi di belakang. Sepertinya gambar di ambil pada saat belum musim giling karena tidak terlihat asap yang mengepul dari puncak cerobong (sumber : geheugenvannederland. nl).
Setelah melihat-lihat apa saja yang tersisa, mari kita gali sejarah dari PG Medari. Lokasi PG Medari berjarak kira-kira 11 km dari kota Yogyakarta. Memang agak jauh dari kota tapi hal ini wajar karena pada waktu itu, pabrik gula biasanya dibangun di dekat area perkebunan tebu supaya biaya pengangkutan tebu dapat ditekan serta untuk mengurangi dampak polusi yang dapat mencemari lingkungan sekitar. Lokasi PG Medari dibangun di dekat jalur kereta api Yogyakarta-Magelang. Selain untuk memudahkan distribusi gula, juga untuk memudahkan pembangunan pabrik gula ini karena zaman dahulu segala material pabrik dan mesin-mesin operasionalnya yang berat dibawa dengan kereta. Sehingga untuk memudahkan bongkar muat barang, maka lokasi PG sengaja dibangun di dekat rel.
Di dekat PG Medari, rupanya pernah terjadi persitiwa tergulingnya sebuah kereta milik N.I.S. Persitiwa ini dicatat dalam harian Bataviasch Nieuwsblad tanggal 7 Juli 1937.

Cerobong PG Medari yang terekam pada video lama yang berjudul "Reis Willem I -Djocja". Video ini menceritakan perjalanan kereta api dari Ambarawa ke Yogyakarta yang kebetulan melewati kompleks PG Medari. Pandangan kamera mengadap ke arah timur.
Cukup sulit bagi kita untuk mencari catatan sejarah tentang PG Medari, sehingga masih belum banyak yang bisa ditulis mengenai keberadaan PG ini ketika masih berdiri. Selain data tertulis, data sejarah lain yang dapat kita temukan adalah data dari foto dan video hitam putih. PG Medari dahulu sahamnya dimiliki oleh perusahaan Koloniale Bank yang berkantor di Surabaya (L.F.Dingemans,1925;122). Adapun pembangunan pabrik ini dilaksanakan oleh firma de Vries Robbe dan segala mesin-mesinnya dibuat oleh pabrik mesin Machinefabriek Gebr. Stork & Co yang pabriknya berada di kota Hengelo, Belanda (Anonim. 1922; 83). Sekitar tahun 1930an, terjadi krisis ekonomi yang dikenal dengan krisis malaise. Krisis ini berdampak pada gulung tikarnya beberapa pabrik gula untuk mengurangi biaya kerugian. Banyak PG yang di Yogyakarta yang kolaps dan sebagian ada yang dimerger. Contohnya adalah PG Sendangpitu yang ditutup tahun 1931 dan pengelolaanya dimerger dengan PG Medari (Algemeen Handelsblaad, 26 Juni 1931).
Berita pergantian administrateur PG Medarie yang dicatat pada harian De Sumatra Post tanggal 24 Mei 1940. Tuan A. v. d Scheur, adminsitrateur PG Medari dimutasi sebagai pengawas oleh Koloniale Bank, pemegang saham pabrik gula ini dan kedudukannya digantikan oleh tuan Munsterman.
Untungnya PG Medari masih mampu bertahan dari badai krisis hingga Jepang masuk ke Hindia-Belanda pada tahun 1940. Oleh Jepang, seluruh pabrik gula yang ada di Yogyakarta ditutup dan produksinya dialihkan untuk kepentingan militer. Kemudian bangunan pabrik dihancurkan oleh para pejuang sewaktu Agresi Militer Belanda Kedua agar tidak dipakai oleh Belanda.
Salah satu mesin pengolahan di PG Medari. Dilhat dari kondisi mesin yang masih mulus, kemungkinan besar mesin ini baru saja dipasang. Hingga saat belum diketahui bagaimana nasib mesin-mesin ini setelah PG Medari ditutup (sumber : geheugenvanndereland.nl).
Yah, setidaknya terjawab sudah sebagian pertanyaan saya mengenai bangunan apa yang dahulu saya lihat. Bangunan tua tadi tidak hanya sebuah bangunan tua biasa. Bangunan tua tadi ternyata hanyalah sekelumit dari kejayaan PG Medari yang kini tiada yang tersisa selain kumpulan bangunan tua yang masih berdiri kokoh melawan waktu.

Referensi
Anonim. 1922. Machinefabriek Gebr. Stork. & Co. Hengelo

Dingemans, L.F. 1925Gegevens over Djokjakarta.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. 2014. Lensa Budaya 2 ; Menguak Fakta Mengenali Keberlanjutan.

Hari Libra Inagurasi. 2010. Pabrik Gula Cepiring di Kendal,Jawa Tengah Tahun 1835 - 1930,Sebuah Studi Arkeologi IndustriFakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Program Magister Arkeologi. Universitas Indonesia. Depok. Tesis.

DR. Jan Wietjens S.J.dkk. 1995. Gereja dan Masyrakat,Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta.

2 komentar:

  1. Untuk 'Bekas tempat tinggal pegawai berpangkat rendah' itu hingga bbrp tahun yang lalu masih dihuni. Sahabat masa kecil saya tinggal disitu, hingga dia dan saudarinya berkeluarga kemudian kedua orang tuanya meninggal dunia. Sedih karena banyak kenangan di rumah itu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah,sedih sekali ya :( tentunya di sana banyak sekali menyimpan memori2.Sayang sekali memang melihat kondisi sekarang yang kurang terawat.

      Hapus