Rabu, 14 Desember 2016

PG Colomadu, Warisan Industri Gula Mangkunegara IV yang Kini Mati

Citarasa gula yang manis membuat barang satu ini hampir digemari oleh setiap orang sehingga keberadaanya hampir ditemukan di setiap dapur rumah. Di balik manisnya gula, terbentang sejarah panjang industri gula yang bertebaran di segala penjuru pulau Jawa pada masa kolonial. Dari sekian pabrik gula itu, PG Colomadu adalah pabrik gula pertama yang dibangun oleh penguasa lokal, Mangkunegara IV. Inilah tulisan saya di Jejak Kolonial tentang PG Colomadu
Bangunan PG Colomadu.
Siang itu, cerobong asap PG Colomadu tampak menjulang begitu tinggi di bawah bentangan langit biru. Sudah lama asap tak membumbung dari cerobong tua itu. Di bawah bayang-bayang cerobong itu, sebuah pabrik gula terbaring bisu dalam alam kematiannya. Angka tahun 1861 yang terpampang di wajahnya seolah menjadi pengingat, bahwa PG itu didirikan pada masa industri gula mulai tumbuh subur di Jawa. Saya akhirnya menjelajahi ceruk ingatan saya akan sejarah pabrik gula yang didirikan oleh salah seorang penguasa Mangkunegaran yang bijak, Mangkunegara IV.

Sebelum menilik sejarah PG Colomadu, ada baiknya kita kembali ke tahun 1830, masa ketika sistem tanam paksa mulai diterapkan. Terpisah dari penderitaan rakyat yang diperbuat oleh sistem itu, nyatanya sistem tersebut berhasil membumikan komoditas tanaman yang laku di pasaran dunia seperti tebu, kopi, dan teh. Di antara tanaman-tanaman tersebut, yang menjadi primadona ialah tebu. Didukung oleh ketersediaan tenaga lokal, tanah yang subur, air yang melimpah, dan iklim yang cocok, industri gula di Jawa berkembang pesat. Tercatat ada sekitar 185 pabrik gula yang pernah berdiri di Jawa, menjadikan Jawa sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia di belakang Kuba.
PG Colomadu sebelum direnovasi pada tahun 1928 (sumber : media-kitv.nl).
Kemunculan pabrik gula di Jawa sesungguhnya hanyalah buah kecil dari gegap gempita Revolusi Industri di Eropa pada abad ke-19. Sebelum Revolusi Industri, sumber daya alam masih diolah dengan bantuan tenaga manusia, hewan atau alam. Misalnya saja, sebelum teknologi mesin dikenal di Jawa, industri gula masih bergantung pada hewan seperti sapi atau air untuk menggiling tebu. Mengolahnya tentu lebih lama dan hasilnya tidak sepadan dengan modal yang dikeluarkan. Permasalahan tersebut akhirnya teratasi tatkala jauh di Inggris sana, Thomas Savery merancang mesin uap yang kemudian disempurnakan lagi oleh James Watt pada tahun 1769. Adalah James Hagraves, pencipta mesin pemintal benang bertenaga uap yang menerapkan teknologi tersebut untuk kepentingan industri. Dari Inggris, mekanisasi industri segera menyebar luas ke daratan Eropa hingga akhirnya tiba di tanah jajahan mereka seperti Jawa.
KGPAA Mangkunegara IV, pendiri PG Colomadu (sumber : troppenmusueum.nl).
KGPAA Mangkunegara IV, merupakan pemimpin dari Kadipaten Mangkunegara, sebuah kadipaten yang lahir dari perjanjian Salatiga tahun 1757 yang memisahkan Kasunanan Surakarta dengan Kadipaten Mangkunegaran. Ketika Mangkunegara IV naik tahta pada 1853, kondisi perekonomian Mangkunegaran terpuruk akibat warisan utang dari pendahulunya, Mangkunegara III sebesar f 46.000 kepada pemerintah kolonial Belanda. Secara keseluruhan, Kadipaten Mangkunegaran berutang kepada pemerintah kolonial Belanda sebesar f 100.000 (Sri Budiarti Sulastri, 2006; 37). Berbagai kebijakan-kebijakan agraria yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda dipelajari oleh Mangkunegara IV untuk mengetahui bagaimana caranya mengentaskan Kadipaten Mangkunegaran dari jurang kebangkrutan. Pada masa itu, tanah-tanah milik bangsawan pribumi disewa oleh para pengusaha Eropa. Keuntungan yang mereka raih cukup tinggi dan kadangkala lebih tinggi daripada pendapatan sewa yang diterima oleh bangsawan pribumi.

“ Tanah-tanah tersebut akan saya gunakan untuk industri agar hasilnya lebih banyak, sehingga lebih bermanfaat bagi seluruh rakyat Mangkunegaran, sebab pajak tanah tidak mencukupi untuk  membiayai kebutuhan Mangkunegaran”.

Begitulah tulis Mangkunegara IV dalam suratnya kepada residen Surakarta J,H. Tobias ketika ia hendak mengambil kembali tanah-tanahnya setelah sadar bahwa kalau tanah itu jika dikelola dengan baik dapat memberi keuntungan tinggi. Pada tahun 1857 Mangkuengara IV memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak pengusaha Eropa yang menyewa tanahnya. Mangkunegara IV kemudian mendirikan sebuah pabrik gula di Desa Malangjiwan pada 8 Desember 1861. Pembangunan pabrik itu sendiri sempat tersendat karena butuh biaya banyak untuk membangun pabrik dan disaat bersamaan keuangan Mangkunegaran masih terpuruk. Lantaran itulah Mangkunegara IV meminjam uang sebesar f 400.000 dari teman dekatnya yang juga seorang Mayor Tionghoa di Semarang, Be Biau Tjoan (Sri Budiarti Sulastri, 2006; 41). Setelah melalui perjalanan yang panjang, pabrik gula di Desa Malangjiwan itu akhirnya tuntas dibangun. Pabrik itu selanjutnya dikenal sebagai PG Colomadu.
Rumah dinas administrateur PG Colomadu pada tahun 1890an. (sumber : media.kitlv.nl).
Walau kendali PG Colomadu ada di tangan Mangkunegaran IV, namun dalam pengelolaan sehari-hari diserahkan kepada seorang adiministratur. Jabatan tersebut pertama kali dipegang oleh R. Kamp, yang kemudian mewariskannya kepada putranya, G.Smith. Untuk pemasarannya, PG Colomadu bekerja sama dengan perantara firma Cores de Fries yang menjualnya ke Singapura dan Bandaneira.

PG Colomadu yang tergambar pada peta topografi tahun 1932 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Jika diartikan, Colomadu berarti Gunung gula. Penamaan tersebut sejatinya adalah sebuah doa supaya pabrik ini dilimpahkan keuntungan setinggi gunung. Doa itupun terkabulkan. Sejak pertama kali berporduksi pada tahun 1863, keuntungan dari PG Colomadu amatlah tinggi seperti gunung karena didukung oleh produksi yang baik dan harga gula yang bagus. Adapun keuntungan yang diperoleh dipakai untuk melunasi utang dan membiayai pembangunan di wilayah Kadipaten Mangkunegaran. Kesuksesan PG Colomadu mendorong Mangkunegara IV untuk mendirikan pabrik gula baru yang kini dikenal sebagai PG Tasikmadu pada tahun 1870. Walau sempat didera krisis ekonomi pada 1880an, nyatanya pabrik itu masih mampu bertahan. Satu-satunya hal yang membuat produksi PG Colomadu goyah ialah kemarau berkepanjangan.
Kompleks Emplasemen PG Colomadu. Keterangan :
1. Emplasemen operasional pabrik.
2. Rumah dinas administrateur.
3. Rumah dinas wakil administrateur.
4. Kompleks rumah dinas pekerja.
5. Perkampungan kongsi kuli pabrik gula.

PG Colomadu mulai memasuki masa sulit ketika Jepang menduduki Hindia-Belanda pada tahun 1942. Demi kepentingan perang Jepang, berbagai perkebunan terabaikan karena Jepang memaksa rakyat untuk menanam padi, jarak, dan kapas. Sepeninggal Kadipaten Mangkunegaran yang dihapus pada 1946, PG Colomadu diambil alih oleh Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia milik pemerintah RI (kini menjadi PTPN). Sejak diambil oleh pemerintah RI, PG Colomadu gagal memulihkan kejayaannya kembali dan sebaliknya PG itu justru mulai berjalan ke arah liang lahat. Biangnya adalah semakin sedikitnya petani yang menanam tebu karena hasilnya kurang sehingga pasokan tebu pun menjadi berkurang. Hal itu kian diperparah dengan manajemen yang carut marut pada masa Orde Baru. Setelah melalui perjalanannya selama 137 tahun, takdir PG Colomadu berakhir pada tahun 1998.
Mesin-mesin yang terdapat di dalam pabrik.
Bangunan pabrik pengolahan merupakan satu dari sekian warisan kejayaan PG Colomadu. Ia merupakan hasil perluasan PG Colomadu pada tahun 1928. Bagian-bagian pabrik itu dibagi berdasarkan jenis kerjanya, seperti stasiun gilingan yang letaknya paling depan, stasiun pemurnian, stasiun penguapan nira, stasiun masakan, stasiun putaran, dan stasiun penyelesaian. Lewat mesin-mesinnya yang masih tersisa, terbayang bagaiamana mesin-mesin besar itu dulu bergerak kompak dengan irama mesin yang menggelora di setiap sudut pabrik. Sayangnya seiring tutupnya PG Colomadu, banyak mesin-mesin itu yang dijual sebagai rongsokan besi tua untuk membayar pesangon karyawan. Kini di bawah atap sengnya yang lapuk, berbagai mesin yang tersisa menjadi artefak yang tergeletak tak berdaya bersama sunyi dan gelap. Tungku-tungkunya, pipa-pipanya, baut-bautnya, pernah menjadi bagian dari manisnya industri gula Mangkunegaran. Walau terlihat usang dan berkarat, namun mesin-mesin itu menghasilkan ilham bagi segelintir seniman yang kemudian menghelat pertunjukan seni bertajuk “Fabriek Fikr” di dalam pabrik ini.
Bagian dalam pabrik yang saat ini tidak terurus.
Bekas tungku pembakaran.

Bekas ruang besalen, tempat peralatan pabrik diperbaiki. 
Cerobong PG Colomadu.
Selain bangunan pabrik pengolahan, emplasemen PG Colomadu meliputi kantor administrasi, gudang, depo lokomotif, menara air dan emplasemen lori. Rumput dan tanaman liar tumbuh lebat di sela-sela bangunan gudang yang sudah lama tak terurus, menyisakan rangka besi dan atap seng yang berkarat. Berada di sebelah barat emplasemen pabrik, terdapat hamparan semak belukar luas tempat dimana dulu barisan lori-lori yang memuat berbatang-batang tebu menunggu gilirannya untuk ditimbang di depan pabrik. Sebelum digiling, batang-batang tebu yang sudah dihimpun dari berbagai penjuru ladang ditimbang terlebih dulu dengan cara menghitung selisih berat lori penuh dengan berat lori kosong. Sebentar, imajinasi saya melayang ke masa dimana lori-lori kecil membawa berbatang-batang tebu dari berbagai penjuru ladang ke PG Colomadu. Kadang ada satu atau dua batang tebu yang jatuh ke tanah dan segera saja menjadi rebutan anak-anak kecil.  
Gedung perpustakaan dan arsip PG Colomadu.
Kantor tata usaha dan keuangan.
Menara air.
Garasi kendaraan.
Stasiun penimbangan tebu. Cara menimbang tebu yakni berat lori yang terisi tebu dikurangi dengan berat lori kosong. Mekanisme penimbangan mirip dengan jembatan timbang zaman sekarang. 
Salah satu gudang PG Colomadu.
Industri gula tempo dulu amat berkaitan erat dengan kereta api, mulai dari proses pengumpulan tanaman bergenus Saccharum ini hingga pengiriman gula ke pasaran. Setiap ladang tebu dilengkapi dengan sarana berupa jaringan rel kereta lori atau decauville, sehingga batang-batang tebu yang telah dipanen dapat diangkut oleh kereta lori. Sebelum ada decauville, tebu-tebu itu diangkut dengan pedati. Kereta lori tersebut rutin dirawat di sebuah garasi atau depo lori. Ketika PG Colomadu tutup, kereta lori itu dibantai di tangan pedagang besi bekas menjadi rongsokan besi kiloan. Sementara kereta lori yang belum laku hanya teronggok begitu saja di dalam depo hingga akhirnya dibawa ke PG Tasikmadu. Dalam pengiriman gula ke pasaran, PG Colomadu memiliki sebuah jalur kereta besar yang tersambung dengan jalur kereta Boyolali-Surakarta milik N.I.S.
Bekas depo lori PG Colomadu.
Bekas emplasemen lori yang kini menjadi semak belukar.
Masih berada di dalam pagar emplasemen PG Colomadu, terdapat bekas rumah administrator yang acap ditemukan pada kompleks pabrik gula. Rumah itu disebut sebagai rumah besaran. Selain karena ukurannya terbilang besar, rumah itu juga ditempati administrateur yang merupakan jabatan besar di lingkungan pabrik. Rumah sang administrateur itu terlihat pantas menghadap ke timur, ke arah Surakarta tempat dimana sang pemilik PG Colomadu tinggal. Saya berasumsi bahwa rumah itu sengaja dibuat demikian sebagai bentuk penghormatan pada Mangkunegaran. Di depan rumah dinas administrateur, terdapat sebuah gazebo yang dulu menjadi tempat sang administrateur bersantai dan menjamu tamu.
Rumah dinas administrateur PG Colomadu.
Deretan pilar-pilar klasik berlanggam dorik di serambi depan. 
Gazebo di depan rumah dinas administrateur PG Colomadu.
Selintas, bangunan itu lebih tampak seperti sebuah rumah seorang pembesar Jawa. Namun ketika melangkah ke beranda depannya, ada sedikit nuansa Eropa dengan keberadaan pilar-pilar klasik di sana. Wim F. Wirtenheim dalam tulisannya bertajuk “Conditions on Sugar Estates in Colonial Java: Comparisons with Deli” menyebutkan para adminsitrateur umumnya menjalani gaya hidup mestizo atau percampuran antara gaya hidup seorang Eropa dengan gaya hidup seorang aristokrat Jawa. Maka dapat dimaklumi jika tempat tinggalnya memiliki gaya campuran antara Eropa dengan Jawa (Wirthenheim,Wim. F, 1993; 273).
Rumah dinas wakil administatreur PG Colomadu.



Rumah dinas di sepanjang jalan Surakarta-Bandara.
Keluar dari emplasmen pabrik, saya menyeberangi jalan Adi Sucipto yang ramai dengan hilir mudik kendaraan. Di sebelah utara jalan itu, bejejer rumah-rumah pegawai PG Colomadu dalam beraneka bentuk. Di rumah-rumah itulah tinggal para pegawai Eropa tingkat menengah yang memiliki keahlian tertentu. Mulai dari masinis yang mengurus mesin-mesin uap, zinder yang ahli tanaman tebu, chemicer yang mengatur kualitas gula, dan pegawai administrasi.




Rumah-rumah dinas pegawai di utara pabrik gula Colomadu.
Suasana jalan kompleks perumahan karyawan.
Ukuran rumah-rumah itu memang lebih kecil ketimbang rumah besaran, tapi bentuknya tampak lebih modern. Rumah-rumah itu diperkirakan dibangun pada tahun 1920an, bersamaan dengan renovasi PG Colomadu pada 1928. Beberapa rumah masih dihuni oleh pemiliknya, namun ada pula yang ditinggal kosong. 
Salah satu rumah kuli PG Colomadu dengan gaya atap kampung
Suasana teduh perkampungan kuli PG Colomadu.
Sedikit tersembunyi di sebelah selatan PG Colomadu, terdapat semacam perkampungan kecil yang dahulu dihuni oleh para pegawai pribumi. Tatanan jalanan perkampungan itu amat rapi. Setiap rumah di sini bentuknya diseragamkan dalam model rumah kampung. Untuk kebutuhan air bersih, perkampungan ini dilengkapi dengan sumur yang terdapat di pertigaan jalan. Perkampungan ini diletakan terpisah dari kompleks perumahan pegawai Eropa, sehingga boleh jadi ada semacam upaya segregasi atau pemisihan antara pegawai pribumi dengan pegawai Eropa.
Ambatschool Tjolomadoe ketika pertama kali dibuka (sumber : Djocja Solo halaman 33). 
Selain permukiman pegawai, PG Colomadu juga dilengkapi sarana lain seperti sekolah pertukangan, klinik, dan tempat hiburan yang disebut Panti Soeka. Lengkapnya sarana yang tersedia di PG Colomadu selintas mengingatkan saya pada konsep Industrial Village yang digagas oleh Robert Owen, begawan industri asal Skotlandia yang mendirikan pabrik kapas di New Lanark Skotlandia (Burchell, S.C 1984; 78). Robert Owen tak hanya mendirikan pabrik saja, namun juga menyediakan tempat tinggal yang layak dan fasilitas yang dapat menyejahterakan pekerjanya. Apa yang diperbuat oleh Robert Owen tampaknya juga ditiru oleh Mangkunegaran. Sekolah pertukangan atau ambatschool dibuka untuk mendidik anak-anak pribumi menjadi tenaga professional sehingga mereka dapat meningkatkan status sosialnya. Klinik pabrik atau Hospitaal voor Inlandsche Personel  tak hanya diperuntukan untuk tempat berobat pegawai saja, namun juga untuk penduduk sekitar. Karena disubsidi menggunakan keuntungan PG Colomadu, maka pasien tak dipungut biaya. Betapa mulianya !

Penjelajahan di PG Colomadu saya pungkasi. Di penghujung perjalanan, saya memandang cerobong jangkungnya yang kini tampak nestapa. PG Colomadu sungguhlah sebuah pabrik gula yang istimewa. Ia didirikan oleh raja Jawa yang sadar akan potensi bumi tempatnya berpijak. PG Colomadu bukan pula pabrik yang rakus mencari keuntungan semata, namun juga memperhatikan kesejahteraan pegawainya dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Keberadaan pabrik ini seolah menjadi tamparan bagi kita semua di masa sekarang  yang mensia-siakan potensi sumber daya alam yang kita miliki sehingga akhirnya lari begitu saja ke luar negeri. Begitulah, sayapun perlahan meninggalkan monumen kedigdayaan industri gula yang kini telah redup itu.

Referensi
Burchell, S.C. 1984. Abad Kemajuan. Jakarta : Tira Pustaka

Sulastri, Sri Budi. 2006. " Pola Tata Ruang Kompleks PG Colomadu ". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada

Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jawa Tengah. 1999. Pendokumentasian Pabrik Gula Colomadu Karanganyar. Klaten : Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jawa Tengah.

Wirthenheim, Wim F. 1993. " Conditions on Sugar Estates in Colonial Java ; Comparasion with Deli " dalam Journal of Southeast Asian Studies Vol.24 no.2.

Sabtu, 19 November 2016

Pasar Gede, Monumen Karsten di Kota Solo

Di tengah keberadaan pasar modern yang semakin menjamur di kota Solo, Pasar Gede yang melegenda masih menunjukan keeksisannya. Bangunan pasar yang dirancang oleh arsitek Thomas Karsten itu seolah berusaha melawan modernisasi di sekitarnya; walau ia sendiri juga merupakan hasil modernisasi pada masanya. Inilah kisah tentang Pasar Gede
Suasana Pasar Gede sekitar tahun 1935 (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Sebelum melangkahkan kaki ke dalam pasar, saya dibuat terkesan dengan pelayanan parkir pasar yang terdapat di jalan Jend. Urip Sumoharjo itu. Petugas parkir tak hanya menjaga kendaraan saja, namun juga mengantarkan kendaraan ke tempat parkir yang telah disediakan. Sistem parkir valet merupakan satu dari sekian gebrakan yang dibuat oleh pemerintah kota Surakarta agar masyarakat mau belanja di pasar tradisional. Di era sekarang, keberadaan pasar tradisional perlahan mulai tergusur oleh pasar-pasar modern. Lingkungan pasar tradisional yang kumuh dan semrawut menjadi alasan orang mulai enggan belanja di pasar tradisional. Oleh karena itulah segala daya dan upaya dikeluarkan oleh pemerintah Surakarta untuk menjaga agar pasar tradisional di Surakarta tetap sintas. Mulai dari penataan lingkungan pasar hingga penyediaan jasa layanan parkir valet. Hasilnya pun cukup memuaskan. Tak terlihat lagi pedagang yang tumpah ruah di tepi jalan dan kendaraan pun diparkir tertib di tempatnya. Kemacetan di sekitar Pasar Gede berkurang dan saya sendiri merasa nyaman berjalan menyusuri trotoar Pasar Gede. Upaya mengangkat harkat pasar tradisional sejatinya sudah dilakukan jauh di masa penjajahan.

Bangunan Pasar Gede sebelum direnovasi.
Pasar Gede (69) pada peta kota Solo tahun 1946 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Menarik mundur ke belakang, Pasar Gede telah ada semenjak Kota Surakarta didirikan oleh Pakubuwono II pada 1745. Kala itu, orang-orang Tionghoa dilarang tinggal di dalam dinding keraton yang berada di selatan Kali Pepe. Sehubungan larangan itu, mereka akhirnya tinggal di seberang Kali Pepe. Di tengah permukiman tadi, lambat laun muncul sebuah pasar. Di kemudian hari pasar itu dikenal sebagai Pasar Gede.  (Leushuis. Emile,2014;220).
Bagian barat Pasar Gede sekitar tahun 1935. Tampak barisan ruko bergaya Tionghoa di sekitar Pasar Gede. Keberadaan pemukiman masayrakat Tionghoa sudah ada sejak Kota Surakarta berdiri (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Pakubuwono X adalah tokoh utama yang menjadikan Pasar Gede seperti sekarang. Disebutkan pada buku betajuk Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa ( 2009 ) karya Purwadi, Pakubuwono X tergolong raja yang kaya raya, namun peduli dengan pembangunan kotanya. Salah satu bentuk kepeduliannya ialah dengan mempermegah Pasar Gede yang sebelumnya hanya berupa los-los terbuka sederhana. Tahun 1929, Pasar Gede dipermegah dengan biaya sebesar tiga ratus ribu gulden. Dalam pembangunannya, ia menggandeng seorang arsitek Belanda terkemuka yang juga kawan dekat Pakubuwono X, Ir. Thomas Karsten. Dalam belantika arsitektur, Karsten tergolong arsitek terpandang di masanya. Sebelum Pasar Gede, Karsten telah berkecimpung dalam proyek pembuatan pasar-pasar tradisional seperti Pasar Johar dan Pasar Pedamaran (Karsten, 1938; 63).
Rombonngan Pakubuwono X dan Residen Surakarta sedang berjalan ke tempat peresmian bangunan baru Pasar Gede. Di belakang tampak bangunan pasar gede sisi barat yang belum selesai dibangun (sumber : media-kitlv.nl).
P. R.W van Geseller Verschuir ( tengah, memegang topi), dan Pakubuwono X (di bawah payung dengan selempang di depan dada) ketika hendak memotong pita tanda diresmikannya bangunan baru Pasar Gede (sumber : media-kitlv.nl).
Tanggal 12 Januari 1930, dengan gempita upacara yang dihadiri oleh Pakubuwono X dan para pembesar di Surakarta, pasar itupun diresmikan oleh beliau. Nama lengkap pasar yang semula Pasar Gede Oprokan, diganti menjadi Pasar Gede Hardjonagoro. Seperti nama yang melekat padanya; “ Pasar Gede “  yang berarti “ Pasar Besar “, pasar itu menjadi pasar terbesar dari sekian banyak pasar di Surakarta. Pasar itu juga menjadi pasar bertingkat pertama di Indonesia ( Purwadi, 2009; 195).

Gambar rancangan konstruksi Pasar Gede oleh Thomas Karsten (sumber : Locale Techniek Maret 1938, halaman 65).
Dari luar, bangunan Pasar Gede tampak mencolok dengan atap berbentuk Joglo nya. Bentuk pasar ini sendiri sejatinya merupakan wujud pandangan seorang Karsten yang menaruh perhatian begitu besar pada budaya Jawa, khususnya arsitektur. Walau ia memiliki latar keilmuan arsitektur barat, namun ia begitu menghormati budaya Jawa. Karsten berpandangan bahwa sudah saatnya arsitektur kolonial di Hindia Belanda mengacu pada budaya yang telah lama hidup di masyarakat dan dilahirkan kembali dalam bentuk baru tanpa menghilangkan unsur lama. Pandangannya ia tuangkan dengan memadukan unsur tradisional dan modern pada beberapa rancangannya termasuk di antaranya Pasar Gede. Unsur tradisional terlihat pada penggunaan atap berbentuk Joglo dan ditutup dengan sirap. Sementara unsur modern dapat dilihat pada penggunaan material-material modern seperti besi dan beton serta jendela-jendela kaca pada ruang kantor pengelola pasar. Kedua unsur tadi menghasilkan sebuah harmoni antara timur-barat.
Tampak depan Pasar Gede.
Keramaian pedagang dan pembeli di Pasar Gede. Dahulu, pasar di kota Surakarta yang setiap hari ramai hanyalah Pasar Gede saja. Sementara pasar-pasar lain hanya ramai pada hari pasaran tertentu saja.
Tanpa panjang lebar, sayapun beranjak masuk ke dalam pasar dan kehadiran saya langsung disambut oleh Hiruk pikuk keramaian pasar. Para pedagang tampak sibuk menjaga dan menawarkan daganganya. Pasar ini bukanlah sekedar bangunan kuno belaka, Ia menjadi tempat ratusan orang mengais rezeki untuk menyambung hidup. Pasar dalam kebudayaan Jawa tak hanya sebagai tempat mempertemukan pedagang dengan pembeli. Ia juga merupakan bagian dari kosmologi Jawa yang secara tata ruang memisahkan dunia profan dan suci. Itulah mengapa keraton sebagai lambang dunia suci diletakan terpisah dari pasar sebagai lambang dunia profan ( Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, 2014;38 ).
Panggung tempat para pedagang berjualan.
Los pedagang daging.
Beragam aroma tercium oleh indra penciuman saya, dari harumnya aneka bumbu dapur di lantai satu hingga bau amis daging yang menyeruak dari los daging di lantai dua. Aneka barang dijual di pasar ini, mulai dari buah-buahan, sayuran, alat rumah tangga, dan sandang. Pasar ini juga menyuguhkan ragam kuliner yang barangkali sudah sulit dicari di tempat lain semisal Es Dawet Selasih. Para pedagang umumnya berjualan di atas panggung-panggung beton yang sudah ada sedari pasar ini berdiri. Karsten, arsitek perancang pasar ini tampaknya menyadari kebiasaan para pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional di Jawa. Para pedagang biasanya menunggu para pembeli dengan duduk lesehan, sementara kadang kebiasaan tersebut menyulitkan pembeli karena mereka harus membungkuk jika bertransaksi. Karsten lantas membuat panggung setinggi pinggang orang dewasa di dalam pasar, sehingga pedagang masih dapat berjualan dengan lesehan, namun pembeli tidak perlu repot membungkuk lagi. Sebuah pemecahan yang cerdas !

Bagian lantai dua pasar.
Bukaan ventilasi pada bagian atap pasar.
Saya begitu larut dengan suasana pasar yang tak begitu pengap walau cukup banyak pedagang dan pembeli yang berjejal di dalamnya. Pencahayaan pasar inipun terasa cukup. Itu semua karena pasar ini memiliki penghawaan yang cukup baik. Angin-angin di atap tak hanya berfungsi untuk memperlancar udara, namun juga sebagai sumber cahaya alami. Dengan demikian, energi yang dibutuhkan pasar ini jauh lebih sedikit. Berbeda jauh dengan pasar modern zaman sekarang yang serba tertutup, mengandalkan AC sebagai sumber penghawaan yang tentunya menghabiskan banyak energi.
Pasar Gede setelah dibumihanguskan oleh TNI pada akhir tahun 1948. Atap Joglo di bagian depan pasar terlalap habis oleh si jago merah sementara  bagian lain tinggal menyisakan puingnya saja (sumber : Djocja Solo halaman 82).
Sebagaimana pasar-pasar besar di Indonesia, pasar inipun tak luput dari bencana kebakaran. Sudah dua kali pasar itu tak berdaya ketika si jagi merah melalap dirinya, menghilangkan sebagian besar konstruksi aslinya. Kali pertama pasar itu terbakar ialah saat kota Surakarta dibumihanguskan pada Agresi Militer. Kala itu, kota Surakarta diduduki oleh dua divisi TNI, yakni Divisi 2 di bawah komando Kolonel Gatot Subroto dan Divisi Siliwangi dibawah Letkol. Daan Yahya. Sebelum mereka pergi pada akhir tahun 1948, berbagai bangunan penting di Surakarta mereka bakar Antara lain kediaman Residen Surakarta, Hotel, Teater, Stasiun Balapan, Stasiun Jebres dan termasuk di sini adalah Pasar Gede (M.P. Bruggen, 1998; 83). Kemudian kali kedua Pasar Gede terbakar yakni pada tahun 2000.  Untuk yang terakhir, sumber api yang menghanguskan pasar itu berasal dari arus pendek listrik, pemicu kebakaran yang acap terjadi pada pasar di Indonesia.
Kios-kios di luar Pasar Gede. Kios-kios di sini harga jual atau sewanya lebih mahal daripada yang ada di dalam pasar.
Dari dalam pasar, saya beranjak keluar pasar. Di sana saya mendapati bruko-ruko berlanggam Tionghoa. Di antara ruko-ruko itu, terdapat sebuah kelenteng tua. Sedikit melangkah mundur ke tahun 1998, walaupun pasar itu terhindar kebakaran, namun Pasar Gede menjadi saksi bisu kerusuhan massa berbalut SARA yang pernah melanda Surakarta. Puing dan sampah sisa kerusuhan menumpuk selama beberapa hari di seputaran Pasar Gede.
Pasar Gede bagian barat.

Profil di bagian pintu masuk.
Meski terpisah, Pasar Gede Barat masih berada dalam satu kesatuan Pasar Gede. Bentuknya hampir mirip, walau ukurannya lebih kecil. Bagian depan bangunan ini dulunya merupakan toko perhiasan milik Be Thian Kiem. Melangkah ke dalam bangunan yang saat ini menjadi tempat penampungan pedagang buah itu, saya tak menjumpai banyak keramaian di sini. Beberapa kios tampak tutup, entah hari itu si pedagang tidak berjualan atau belum ada yang menempati. Sayapun naik ke bagian lantai dua pasar, yang mana terdapat sebuah ruang luas yang kadang digunakan untuk pentas seni.
Bagian beranda lantai dua.
Sebelum saya beranjak pulang, saya beringsut ke bagian balkon, memandang sekali lagi Pasar Gede yang masih terlihat ramai. Ya, Pasar Gede tak hanya sebuah bangunan kuno berupa pasar saja. Di bawah atapnya, ratusan orang dari pedagang, kuli, hingga juru parkir menggantungkan hidup di pasar ini sekaligus menghidup pasar ini. Dari nafasnya, saya dapat merasakan dinamika Kota Surakarta, mulai dari masa ia dilahirkan oleh Pakubuwono II, masa keemasan ketika dipimpin oleh Pakubuwono X, hingga gejolak sosial paska kemerdekaan. Bentuknya yang merupakan hasil perpaduan arsitektur Jawa dengan modern tampak harmonis dan sekaligus menyiratkan betapa luwesnya kebudayaan Jawa…

Referensi
Karsten, Thomas. 1938. " Iets Over De Centralle Pasar " dalam Locale Techniek edisi 7 no 2 tahun 1938.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Ombak.

Purwadi, dkk, 2009. Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa. Jakarta : Bangun Bangsa.


Tim Penyusun. 2014. Yang Tersisa Dari Kolonial. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

van Bruggen, M.P dan Wassing, R.P. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Asmterdam : Asia Maior.