Rabu, 14 Desember 2016

PG Colomadu, Warisan Industri Gula Mangkunegara IV yang Kini Mati

Gula, sebuah barang yang rasanya sudah cukup dekat dengan kehidupan kita. Ya, bahan makanan yang terbuat dari batang tebu ini sudah menjadi kegemaran setiap orang. Rasanya yang manis membuat makanan dan minuman menjadi terasa lebih nikmat. Di balik manisnya gula, ternyata tersimpan perjalanan sejarah yang cukup panjang, terutama sejarah industri gula yang dahulu banyak berdiri di Pulau Jawa.  Salah satu warisan industri gula tadi adalah PG Colomadu. Melalui tulisan ini, saya akan memandu anda untuk menyelami sejarah dan juga menjelajahi setiap jengkal PG Colomadu. Seperti apa sejarah dan kondisinya sekarang ? Simak terus tulisan saya di bawah ini.

Menggali Sejarah PG Colomadu
Untuk menggali sejarah PG Colomadu, ada baiknya kita kembali ke tahun 1830, ketika Gubernur Jenderal Van den Bosch mulai menerapkan sistem tanam paksa, dimana sebagian tanah milik petani harus ditanam dengan tanaman komoditi yang laku di pasaran dunia seperti gula, kopi, dan teh yang sebelumnya belum dikenal luas di Jawa. Akibat dari penerapan sitem tanam paksa ini, maka muncul perkebunan-perkebunan partikelir yang jumlahnya kian bertambah setelah UU Liberal diberlakukan pada tahun 1870 yang memperbolehkan perusahaan swasta menanamkan modalnya di Hindia-Belanda. Selain didukung oleh kebijakan pemerintah kolonial, pertumbuhan industri gula di Jawa juga tidak lepas dari ketersediaan tenaga lokal, tanah pulau Jawa yang subur, air yang melimpah, dan iklim yang cocok sehingga memungkinkan tanaman tebu tumbuh subur dan berkadar gula tinggi. Oleh karena itulah, tidak heran jika dulu tercatat ada 185 pabrik gula yang dahulu berdiri di Jawa.

Kemunculan pabrik gula di Jawa sesungguhnya juga merupakan bagian dari sejarah perkembangan teknologi mesin pada masa Revolusi Industri di Eropa yang mencapai puncaknya pada abad ke-19. Sebelum Revolusi Industri, sumber daya alam masih diolah dengan cara manual dengan bantuan tenaga manusia, hewan atau alam. Misalnya saja dahulu sebelum teknologi mesin masuk di Jawa, industri gula masih bergantung pada hewan seperti sapi untuk menggiling tebu. Mengolahnya tentu lebih lama dan hasilnya tidak terlalu banyak, sehingga keuntungan yang didapat sangatlah kecil. Permasalahan ini akhirnya bisa teratasi ketika jauh di Inggris sana, Thomas Savery merancang mesin uap dan kemudian disempurnakan lagi oleh James Watt pada tahun 1769. Teknologi ini kemudian diaplikasikan pada industri pertama kalinya oleh James Hagraves yang menciptakan mesin pemintal benang dengan tenaga uap. Dari Inggris, mekanisasi industri menyebar luas ke daratan Eropa bahkan sampai di tanah jajahan mereka seperi Jawa.
KGPAA Mangkunegara IV, pendiri PG Colomadu (sumber : troppenmusueum.nl).
Keuntungan yang didapatkan dari industri gula ini menarik banyak orang untuk berinvestasi pada industri gula, salah satunya adalah KGPAA Mangkunegara IV, Adipati Mangkunegaran dari tahun 1853 hingga 1881. Ketika Mangkunegara IV naik tahta, kondisi perekonomian Mangkunegaran dalam kondisi terpuruk akibat warisan utang dari pendahulunya, Mangkunegara III sebesar f 46.000 kepada pemerintah kolonial Belanda. Secara keseluruhan, Mangkunegaran memiliki utang kepada pemerintah kolonial Belanda sebesar f 100.000 ( Sulastri, 2006; 37). Mangkunegara IV kemudian mempelajari berbagai kebijakan-kebijakan agraria yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada waktu itu, banyak perkebunan dan perusahaan dimiliki oleh para pengusaha Eropa yang menyewa tanah milik para bangsawan pribumi. Dari hasil mengelola perkebunan ini, mereka  bisa meraih keuntungan yang cukup tinggi dan pajak yang diterima oleh pemerintah kolonial Belanda juga besar.

Mangkunegara IV akhirnya mendapatkan ide, bahwa agar dia dapat keuntungan yang sama dengan yang diterima oleh para penguasaha Eropa, maka dia harus mengusahakan  agar tanah-tanah miliknya dikelola oleh dia sendiri. Oleh karena itu, sejak tahun 1857, berbagai kontrak perkebunan yang berada di tanah Praja Mangkunegaran tidak diperpanjang lagi dan selanjutnya tanah-tanah tadi akan dikelola sendiri oleh Mangkunegaran. Hal ini terlihat jelas dari surat Mangkunegara IV kepada residen Surakarta, J.H. Tobias berikut ini :

“ Tanah-tanah tersebut akan saya gunakan untuk industri agar hasilnya lebih banyak, sehingga lebih bermanfaat bagi seluruh rakyat Mangkunegaran, sebab pajak tanah tidak mencukupi untuk  membiayai kebutuhan Mangkunegaran”.

Setelah tanah-tanah milik Mangkunegaran ditarik kembali, maka pada tanggal  8 Desember 1861, didirikanlah PG Colomadu di Desa Malangjiwan. Pembangunan PG Colomadu sempat terkendala akibat pembangunannya memerlukan biaya besar sementara kondisi keuangan Mangkunegaran masih terpuruk. Oleh karena itu, Mangkunegaran IV meminjam uang sebesar f 400.000 dari teman dekatnya yang juga Mayor Tionghoa di Semarang, Be Biau Tjwan (Sri Budiarti Sulastri, 2006; 41).
Rumah dinas administrateur PG Colomadu pada tahun 1890an. (sumber : media.kitlv.nl).
Meski kendali PG Colomadu berada di tangan Mangkunegaran IV, namun operasional pabrik diserahkan pada seorang administratur. Jabatan administratur ini pertama kali dipegang oleh R. Kamp dan kemudian digantikan oleh putranya,  G. Smith. PG Colomadu pertama kali berproduksi pada tahun 1863. Selain untuk pasaran lokal, gula-gula dari PG Colomadu juga dijual ke Singapura dan Bandaneira melalui perantara firma Cores de Fries.
PG Colomadu yang tergambar pada peta topografi tahun 1932 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Secara tidak langsung, PG Colomadu sesungguhnya adalah bagian dari kosmologi Pura Mangkunegaran. Hal ini dikarenakan nama Colomadu yang berarti gunung madu, sehingga ada suatu pengharapan agar kehadiran industri gula ini menjadi simpanan kekayaan Mangkunegaran dalam bentuk butiran gula pasir yang berjumlah besar sehingga menyerupai gunung. Menariknya, Mangkunegaran juga memiliki PG yang bernama PG Tasikmadu yang berarti laut madu. Jika ditarik garis lurus dari PG Colomadu ke PG Tasikmadu, maka akan menghasilkan sumbu imajiner antara PG Colomadu (gunung), Pura Mangkunegaran, dan PG Tasikmadu (laut). Jadi dapat disimpulkan Pura Mangkunegaran memiliki konsep sumbu imajiner yang serupa dengan Kraton Yogyakarta (Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta, Laut Selatan) meski wujudnya berbeda. Hal ini cukup menarik karena Mangkunegaran IV mampu memadukan konsep kosmologi Jawa dengan keberadaan industri gula yang notabene adalah hasil dari Revolusi Industri ciptaan masyarakat barat yang realistis. Hal seperti ini tampaknya tidak ditemukan pada berbagai tinggalan Revolusi Industri di seluruh dunia.
PG Colomadu pada tahun 1920. Beginilah wujud PG Colomadu sebelum direnovasi pada tahun 1928. Terlihat bangunan masih sederhana seperti ketika awal dibangun (sumber : media-kitv.nl).
Produksi yang baik dan harga gula yang bagus menghasilkan keuntungan yang cukup tinggi. Keuntungan tadi kemudian digunakan untuk melunasi utang-utang terdahulu dan juga digunakan untuk pembangunan di wilayah Praja Mangkunegaran. Bahkan setelah UU Liberal disahkan pada tahun 1870, Mangkunegara IV mendirikan PG Tasikmadu. Pada tahun 1880an, sempat terjadi krisis ekonomi, namun PG Colomadu masih bisa bertahan. Dari tahun 1900-1930an, produksi PG Colomadu dalam kondisi stabil. Jikapun ada penurunan, hal itu disebabkan oleh musim kemarau panjang. Bahkan di tahun 1928, PG Colomadu diperbesar sehingga kapasitas produksinya juga ikut meningkat. Hal ini dapat dilihat pada salah sisi dinding pabrik sebelah barat yang terdapat tulisan “ANNO 1928” yang berukuran cukup besar.

Sayangnya, kedatangan Jepang ke Hindia-Belanda pada tahun 1942 membuat PG Colomadu berada di masa-masa paling sulit karena demi kepentingan perang Jepang, berbagai perkebunan menjadi terabaikan karena Jepang memaksa rakyat untuk menanam padi, jarak, dan kapas. Adminstratur PG Colomadu, yang bernama de Labre ditangkap Jepang dan pengelolaany dipasrahkan ke orang pribumii bernama Sempu Sendaru.

Selanjutnya, setelah Praja Mangkuengaran dihapus pada tahun 1946, pengelolaan PG Colomadu diabil oleh Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia milik pemerintah RI (kini menjadi PTPN). Sejak diambil oleh pemerintah RI, kondisi PG Colomadu bukannya membaik justru malah semakin sulit karena lahan tanam tebu semakin berkurang. Akibatnya PG Colomadu mulai memasuki ambang kematiannya. Akhirnya, setelah berdiri selama 137 tahun, PG Colomadu ditutup pada tahun 1998.

Jelajah PG

Kompleks Emplasemen PG Colomadu. Keterangan :
1. Emplasemen operasional pabrik.
2. Rumah dinas administrateur.
3. Rumah dinas wakil administrateur.
4. Kompleks rumah dinas pekerja.
5. Perkampungan kongsi kuli pabrik gula.
Secara administratif, PG Colomadu terletak di Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karangnayar. Lokasi PG Colomadu cukup strategis karena berada di persimpangan jalan menuju arah Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang.
Bangunan pabrik.
Apabila pada tulisan- tulisan Jejak Kolonial sebelumnya banyak membahas pabrik gula yang bangunan stasiun penggilingannya kini sudah lenyap, maka di PG Colomadu ini, kita masih bisa menyaksikan bangunan stasiun penggilingan yang menjadi tempat proses diolahnya tebu menjadi gula termasuk di sini kita juga dapat melihat mesin-mesin penggilingnya yang kini sudah tidak beroperasi lagi. Di dalam pabrik ini, ada beberapa stasiun yang dibagi sesuai dengan tahapan produksinya. Stasiun-stasiun itu antara lain stasiun gilingan yang letaknya paling depan, stasiun pemurnian, stasiun penguapan nira, stasiun masakan, stasiun putaran, dan stasiun penyelesaian. Karena sudah saking lamanya tidak dipakai, bagian dalam pabrik kini ditumbuhi oleh berbagai tanaman liar, sehingga seolah-olah memunculkan kesan ada hutan atau kebun di dalam pabrik. Bagian luar pabrik juga sudah dipenuhi oleh tanaman liar sehingga ketika kita menjelajah di sini, kita serasa sedang menjelajahi hutan rimba.


Mesin-mesin yang terdapat di dalam pabrik.
Bagian dalam pabrik yang saat ini tidak terurus.
Bekas tungku pembakaran.
Bekas ruang besalen. Di tempat inilah perlatan pabrik diperbaiki. 
Jika kita bisa mendapat akses masuk ke dalam pabrik, kita akan menjumpai mesin-mesin tua peninggalan PG Colomadu. Dari mesin-mesin tua ini, kita mungkin bisa membayangkan bagaimana mesin-mesin besar itu bergerak sesuai mekanisme kerja dengan irama mesin yang menggelora di setiap sudut pabrik ketika PG ini masih berjaya. Mesin-mesin ini dibuat oleh pabrikan mesin asal Belanda, Gebr.Stork & Hengelo Co. Karena dibuat di Belanda, maka butuh waktu lama untuk mendatangkannya ke sini. Sayangnya, dengan ditutupnya PG Colomadu, beberapa barang seperti mesin dan loko-loko uap tua dijual sebagai besi tua untuk membayar pesangon karyawan. Beberapa waktu yang lalu, area dalam pabrik pernah digunakan sebagai tempat pertunjukan seni dengan judul “Fabriek Fikr”. Lewat pertunjukan seni yang diadakan di dalam PG Colomadu ini, diharapkan muncul kesadaran terhadap upaya pelestarian warisan industri ini.
Cerobong PG Colomadu.
Dari kejauhan, kita dapat melihat cerobong PG Colomadu yang masih menjulang tinggi dengan gagahnya meski usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Di masa lalu, kepulan asap yang keluar dari mulut cerobong dapat dilihat dari jarak yang lumayan jauh. Orang zaman dahulu tidak terlalu bingung untuk menuju PG Colomadu karena cerobongnya dapat digunakan sebagai patokan. Hingga kinipun cerobong PG Colomadu masih menjadi bangunan tertinggi yang ada di sekitarnya.
Menara air.
Garasi kendaraan.
Stasiun penimbangan tebu. Cara menimbang tebu yakni berat lori yang terisi tebu dikurangi dengan berat lori kosong. Mekanisme penimbangan mirip dengan jembatan timbang zaman sekarang. 
Salah satu gudang PG Colomadu.
Masih di emplasemen PG Colomadu, kita dapat menjumpai beberapa bangunan besar yang dahulu digunakan sebagai gudang. Gudang-gudang ini memiliki fungsi yang berbeda tergantung dari isinya. Ada gudang yang dipakai untuk menyimpan tebu yang belum diolah. Lalu ada gudang untuk menyimpan gula-gula yang siap kirim. Ada juga gudang yang menjadi tempat penyimpanan onderdil mesin pabrik. Selain itu ada pula gudang yang digunakan untuk menyimpan ampas-ampas tebu sisa penggilingan.

Bekas depo lori PG Colomadu.
Pada zaman dahulu, untuk membawa tebu dari area perkebunan ke pabrik biasanya menggunakan moda transportasi kereta lori atau decauville yang mampu menjangkau area perkebunan tebu yang luas. Lori-lori ini memiliki garasi atau depo yang menjadi tempat lori-lori tadi mendapat perawatan rutin. Nah, depo lori PG Colomadu sendiri terletak di sebelah timur bangunan utama pabrik. Beberapa tahun lalu, setelah PG Colomadu tutup, banyak lori-lori yang berakhir di tangan pedagang besi bekas. Sementara lori yang belum laku teronggok begitu saja di dalam depo. Sekarang lori-lori yang masih tersisa tadi dipindah ke PG Tasikmadu. Selain menggunakan lori, tebu-tebu juga dibawa ke pabrik menggunakan transportasi pedati yang ditarik oleh sapi. Pedati ini biasanya digunakan untuk mengangkut tebu yang tidak terjangkau oleh lori.
Bekas emplasemen lori. Di kejauhan tampak mesin krane yang kini mangkrak.
Perjalanan akan kita teruskan ke area barat PG Colomadu. Di sini terdapat lapangan yang cukup luas dimana dahulu lapangan ini menjadi emplasemen lori, tempat dimana lori-lori yang penuh dengan muatan tebu menunggu sebelum ditimbang tebunya di tempat penimbangan tebu yang berada di depan pintu masuk pabrik. Imajinasi saya kemudian kembali ke masa ketika PG Colomadu masih aktif. Terlihat barisan lori-lori dengan lokomotif uapnya dengan uap yang mengepul begitu tebalnya dan barisan lori yang memuat banyak sekali batangan tebu. Bahkan saking banyaknya, batang-batang tebu tadi sampai berjatuhan. Beberapa batang tebu yang jatuh itu kemudian diambil oleh anak-anak kecil untuk dimakan sari tebunya. Pemandangan tadi tentu akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Kini, rel-rel lori yang dahulu malang melintang di emplasemen sudah tidak saya jumpai lagi.

Di sebelah timur PG Tasikmadu, terdapat bekas jalur kereta besar milik N.I.S yang nanti akan terhubung ke Halte Gembongan yang menjadi bagian dari jaringan kereta Boyolali-Surakarta yang kini sudah tidak terlihat lagi. Dengan demikian, gula-gula hasil produksi PG Colomadu bisa langsung diangkut dengan kereta besar.
Gedung perpustakaan dan arsip PG Colomadu.
Kantor tata usaha dan keuangan.
Kemudian di sebelah utara PG Colomadu, terdapat beberapa bangunan non operasional pabrik seperti gedung perpustakaan dan arsip, musholla, kantor tata usaha dan keuangan, koperasi, balai pengobatan, kantor pengangkutan, pos jaga gerbang, dan lapangan tenis.
Rumah dinas administrateur PG Colomadu.
Masih satu blok dengan kompleks PG Colomadu, di belakang lapangan tenis tadi, kita akan melihat sebuah rumah besar yang dahulunya adalah rumah dinas administrateur PG Colomadu atau kadang disebut sebagai rumah besaran karena rumah ini merupakan rumah paling besar yang berada di PG Colomadu, sesuai dengan hirarki yang berlaku di lingkungan pabrik gula dimana administrateur atau manajer adalah jabatan tertinggi di sebuah PG. Ngomong-ngomong, orientasi rumah ini sendiri menghadap ke timur, ke arah kota Surakarta di mana di sana terdapat kediaman Pangeran Mangkunegara, pemilik PG Colomadu. Saya sendiri menduga bahwa orientasi ini disengaja sebagai bentuk penghormatan terhadap Pangeran Mangkunegara karena hal yang sama juga saya temukan pada rumah dinas administrateur PG Tasikmadu di sebelah timur kota Surakarta yang menghadap ke barat, ke arah kota Surakarta.

Deretan pilar-pilar klasik berlanggam dorik di serambi depan. 
Jika kita melihat foto lama dari rumah ini, bentuk bangunan ini terlihat mirip dengan rumah bangsawan tradisional Jawa dengan atap Joglonya yang besar dan beranda yang mengelilinginya. Adanya deretan pilar di bagian depan berlanggam dorik menjadi pembeda rumah ini dengan rumah tradisional Jawa, sehingga rumah ini memiliki gaya arsitektur Indis Stijl, sebuah gaya arsitektur yang banyak dipakai di Jawa pada abad ke-19 dan dapat ditemukan pada rumah-rumah pembesar Belanda. Mengapa bisa demikian ? Jawaban ini dapat kita baca pada tulisan karya Wim F. Wirtenheim yang berjudul “Conditions on Sugar Estates in Colonial Java: Comparisons with Deli” dimana dia menyebut para adminsitrateur hidup dalam gaya hidup mestizo antara gaya hidup seorang Eropa dengan gaya hidup seorang aristokrat Jawa, sehingga wajar jika tempat tinggalnya memiliki gaya campuran antara Eropa dengan Jawa (Wirthenheim, 1993; 273).
Gazebo di depan rumah dinas administrateur PG Colomadu.
Dahulu, Pangeran Mangkunegara, pemilik PG Colomadu biasanya pada waktu-waktu tertentu datang menginspeksi pabrik gula ini. Setelah seharian berkeliling, Pangeran Mangkunegara biasanya akan dijamu di sebuah gazebo berbentuk segi delapan yang ada di halaman depan rumah dinas adminsitrateur. Di bawah atap paviliun ini, mereka berdua asyik mengobrol santai dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh pelayan.
Rumah dinas wakil administatreur PG Colomadu.
Kemudian di sebelah timur PG Colomadu, terdapat bekas bangunan rumah dinas wakil administrateur yang sejak tahun 1988 fungsinya diubah menjadi gedung pertemuan Grha Giri Sarkara. Bentuk rumah ini hampir mirip dengan rumah dinas administrateur tapi ukurannya lebih kecil.




Rumah-rumah dinas pegawai di utara pabrik gula Colomadu.
Suasana jalan kompleks perumahan karyawan. Di kejauhan terlihat cerobongPG Colomadu.
Di sebelah utara pabrik, terdapat kompleks rumah untuk pegawai pabrik tingkat madya yang memiliki keahlian di bidang tertentu seperti masinis yang ahli mesin uap, zinder yang ahli dengan tanaman tebu, dan chemicer yang ahli dalam menentukan kualitas gula. Kompleks rumah dinas ini berdiri di sebuah jalan yang posisinya tegak lurus dengan kompleks PG Colomadu. Bentuk-bentuk rumah yang ada mungkin terlihat lebih kecil, tapi lebih modern jika dibandingkan dengan rumah administrateur. Tampaknya rumah-rumah ini direnovasi bersamaan dengan renovasi PG Colomadu pada tahun 1920an. Kondisi rumah bervariasi, ada yang masih ditempati, ada pula yang dalam kondisi kosong sehingga kondisinya mulai rusak. Beberapa rumah ada yang sudah direnovasi sehingga bentuk aslinya sudah tidak tampak lagi.

Rumah-rumah dinas karyawan di Jalan Adisucipto.
Lalu di sepanjang jalan Adisucpito, kita juga dapat dijumpai rumah-rumah pegawai PG Colomadu yang lain. Karena lokasinya berada di pinggir jalan raya yang strategis, beberapa rumah ada yang sudah beralih fungsi, tertutup bangunan baru, atau bentuknya sudah berubah.
Salah satu rumah kuli PG Colomadu dengan gaya atap kampung.
Suasana teduh perkampungan kuli PG Colomadu.
Di sebelah selatan PG Colomadu, terdapat sebuah perkampungan yang dahulu menjadi tempat tinggal kuli-kuli PG Colomadu yang semuanya adalah orang pribumi. Pola perkampungan ini lebih tertata jika dibandingkan dengan perkampungan biasa. Di beberapa pertigaan jalan, terdapat sebuah sumur komunal. Lokasi perkampungan ini agak jauh dengan pemukiman pegawai pabrik yang sudah kita lihat tadi. Tampaknya ada upaya segregasi atau pemisahan dengan sengaja antara pegawai pribumi dengan pegawai Eropa.
Ambatschool Tjolomadoe ketika pertama kali dibuka (sumber : Djocja Solo halaman 33). 
Kesejahteraan para pegawai PG Colomadu sejak dahulu sudah diperhatikan oleh perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan fasilitas umum milik PG Colomadu yang dahulu berdiri di sekitar kompleks pabrik gula seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat hiburan. PG Colomadu memiliki sebuah sekolah, lebih tepatnya sekolah pertukangan atau Ambachtschool. Sekolah pertukangan ini disediakan khusus untuk anak-anak pribumi dan mereka diajar oleh guru-guru berkebangsaan Belanda atau priyayi pribumi. Tujuan didirikannya sekolah ini yakni untuk menyediakan tenaga terampil yang berkualitas dan professional dalam perkebunan dan pabrik gula Colomadu. Sayangnya, bangunan sekolah saat ini sudah tidak ada. Lalu PG Colomadu juga memilikki fasilitas kesehatan berupa rumah sakit yang dikenal sebagai Hospitaal voor Inlandsche Personel yang selain disediakan untuk pegawai pabrik, juga untuk penduduk sekitar pabrik. Semua pasien yang berobat di sini tidak dipungut biaya alias gratis !! Sebagain keuntungan yang didapat dari PG Colomadu digunakan untuk mensubsidi biaya operasional rumah sakit. Bangunan rumah sakit sekarang menjadi Puskesmas Colomadu. Untuk hiburan karyawan, PG Colomadu membuka Panti Soeko, tempat dimana dahulu para pegawai pabrik berkumpul dan  bersosialisasi di luar jam pabrik. Dapat dikatakan Panti Soeko memiliki fungsi  yang sama dengan sebuah Societeit. Bangunan Panti Soeko masih ada namun kondisinya sudah terlantar sejak PG Colomadu ditutup.

Dengan lengkapnya fasilitas yang ada, maka dapat dikatakan PG Colomadu dahulu membentuk semacam kota industri kecil. Konsep kota Industri ini sudah ada di Eropa pada abad ke-19, ketika muncul kesadaran dari para pemilik pabrik untuk menyejahterakan buruhnya dengan membangun tempat tinggal yang layak untuk pekerja dan fasilitas-fasilitas laiinya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Rober Owen, seorang pemilik pabrik kapas di New Lanark, Skotlandia (Burchell, 1984; 78). Meski memiliki konsep yang serupa dengan kota Industri di Eropa, PG Colomadu memiliki beberapa perbedaan misalnya jika di Eropa konsep rumah pekerjanya yakni rumah flat atau rumah susun yang dibangun berderet di dekat pabrik, maka di PG Colomadu ini (dan juga untuk kebanyakan PG di Jawa) konsep pemukiman pekerjanya yakni rumah petak dengan kebun di halaman depan, mirip dengan konsep pemukiman tradisional Jawa karena orang Jawa tidak terbiasa tinggal di rumah bertingkat.

Demikianlah tulisan saya mengenai sejarah dan hasil penjelajahan di PG Colomadu. Dari tulisan di atas, setidaknya dapat disimpulkan bahwa PG Colomadu termasuk salah satu pabrik gula yang istimewa karena PG Colomadu adalah pabrik gula modern pertama yang dibangun oleh bangsa pribumi. Mangkunegara IV sadar bahwa jika sumber daya alam yang tumbuh di wilayahnya dapat diolah, maka hal itu akan menghasilkan banyak keuntungan dan dari keuntungan tadi dapat digunakan untuk membangun negerinya. Hal ini tentu harus menjadi pembelajaran untuk kita di masa sekarang, dimana SDA yang kita miliki sekarang kebanyakan masih belum bisa diolah oleh bangsa sendiri sehingga banyak SDA tadi yang akhirnya dibawa begitu saja ke luar negeri.

Kematian PG Colomadu juga menjadi pertanda redupnya industri gula di Jawa yang dahulu pernah menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Cukup ironis karena di masa sekarang negara kita justru malah menjadi importer gula.

Kini setelah lebih dari satu dekade tutup, nasib PG Colomadu kian buram. Malah ada wacana bahwa di sekitar PG akan dibangun kompleks hunian modern yang sewaktu-waktu bisa mengancam kelestarian PG Colomadu sebagai warisan industri. Kira-kira seperti apakah nasib PG Colomadu ke depannya ? Biarlah waktu yang menjawabnya.

Referensi
Burchell, S.C. 1984. Abad Kemajuan. Jakarta : Tira Pustaka

Sulastri, Sri Budi. 2006. " Pola Tata Ruang Kompleks PG Colomadu ". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada

Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jawa Tengah. 1999. Pendokumentasian Pabrik Gula Colomadu Karanganyar. Klaten : Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jawa Tengah.

Wirthenheim, Wim F. 1993. " Conditions on Sugar Estates in Colonial Java ; Comparasion with Deli " dalam Journal of Southeast Asian Studies Vol.24 no.2.

Sabtu, 19 November 2016

Pasar Gede, Monumen Karsten di Kota Solo

Pasar Gede, sebuah pasar legendaris yang kini masih berdiri kokoh di tengah kota Solo dan masih menunjukan keeksisannya di tengah gempuran pasar modern yang semakin menjamur di Solo. Pasar yang masih ramai akan hiruk pikuk keramaian pedagan ternyata memiliki cerita tersendiri yang menarik untuk diikuti. Bagaimana cerita lengkap berdirinya pasar ini dan apa seperti apa keunikan arsitekturnya ? 

Sejarah Pasar Gede
Suasana Pasar Gede sekitar tahun 1935 (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Bagian barat Pasar Gede sekitar tahun 1935. Tampak barisan ruko bergaya Tionghoa di sekitar Pasar Gede. Keberadaan pemukiman masayrakat Tionghoa sudah ada sejak Kota Surakarta berdiri (sumber : Djocja Solo halaman 168).


Sejarah pasar ini adalah sejarah kota Solo. Tidak salah karena meski bangunan pasar yang terlihat sekarang dibangun pada tahun 1930an, tapi sejarah pasar ini harus ditarik mundur ke belakang, ketika kota Suarakarta didirikan oleh Pakubuwono II pada tahun 1745. Pada masa itu, orang-orang Tionghoa tidak diperbolehkan tinggal di dalam tembok keraton yang berada di selatan Kali Pepe. Sebagai pilihan, mereka tinggal di seberang timur Kali Pepe yang strategis. Lambat laun, di tengah-tengah pemukiman ini berdirilah sebuah pasar yang kini dikenal sebagai Pasar Gede (Leushuis, 2014;220). Keberadaan pasar ini juga tidak terlepas dari konsep kosmologi Jawa yang secara tata ruang memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan religi. Oleh karena itulah kraton dalam konteks kosmologi sebagai pusat rohani pasti dibangun terpisah dengan pasar sebagai representasi kehidupan duniawi (Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, 2014;38).

Bangunan Pasar Gede sebelum direnovasi.
Sebelum direnovasi pada tahun 1930, pasar ini masih terlihat sederhana, yakni hanya berbentuk barisan los-los panjang tanpa dinding. Barulah pada tahun 1929, atas prakarsa Pakubuwono X, Pasar Gede diperbesar ke bentuk yang masih bisa dilihat sampai sekarang. Pakubuwono X sendiri adalah seorang raja yang sangat kaya raya dan peduli pada pembangunan kotanya (Purwadi, 2009;191). Biaya yang dikeluarkan oleh Pakubuwono tidaklah sedikit, yakni mencapai 300 ribu gulden.

Gambar rancangan konstruksi Pasar Gede oleh Thomas Karsten (sumber : Locale Techniek Maret 1938, halaman 65).
Desain bangunan Pasar Gede merupakan karya dari arsitek Belanda terkenal yang juga teman dekat Pakubuwono X, Ir. H. Thomas Karsten. Selain Pasar Gede, Karsten juga merancang pasar lain di Semarang seperti Pasar Johar dan Pasar Pedamaran ( Karsten, 1938; 63 ). Berbeda dengan pasar-pasar karya Karsten yang lain, unsur arsitektur tradisional begitu menonjol sekali pada bangunan pasar ini seperti yang terlihat pada konstruksi atap berbentuk Joglo dan pemakaian sirap sebagai material penutup atap.
Rombonngan Pakubuwono X dan Residen Surakarta sedang berjalan ke tempat peresmian bangunan baru Pasar Gede. Di belakang tampak bangunan pasar gede sisi barat yang belum selesai dibangun (sumber : media-kitlv.nl).
P. R.W van Geseller Verschuir ( tengah, memegang topi), dan Pakubuwono X (di bawah payung dengan selempang di depan dada) ketika hendak memotong pita tanda diresmikannya bangunan baru Pasar Gede (sumber : media-kitlv.nl).
Setelah diresmikan oleh Pakubuwono X pada tanggal 12 Januari 1930 , Pasar Gede yang dahulu nama lengkapnya adalah Pasar Gede Oprokan diganti menjadi Pasar Gede Hardjonagoro. Pada waktu itu, Pasar Gede sesuai namanya adalah pasar paling besar di antara pasar yang banyak berdiri di Solo. Selain itu, Pasar Gede juga merupakan pasar bertingkat pertama di Indonesia. Sistemnya pun juga sudah cukup modern, yakni menggunakan sistem jual dan sewa terhadap ruko maupun tempat lain untuk berjualan (Purwadi, 2009; 195).

Pasar Gede setelah dibumihanguskan oleh TNI pada akhir tahun 1948. Atap Joglo di bagian depan pasar terlalap habis oleh si jago merah sementara  bagian lain tinggal menyisakan puingnya saja (sumber : Djocja Solo halaman 82).
Pada masa Perang Mempertahankan Kemerdekaan Republik, kota Solo diduduki oleh dua divisi TNI, yakni Divisi 2 di bawah komando Kolonel Gatot Subroto dan Divisi Siliwangi dibawah Letkol. Daan Yahya. Sebelum mereka pergi pada akhir tahun 1948, mereka melakukan pembumihangusan pada bangunan-bangunan publik yang dianggap dapat dipakai oleh Belanda lagi. Tercatat ada beberapa bangunan yang dibumihanguskan, antara lain rumah tinggal Residen, Hotel, Teater, Stasiun Balapan, Stasiun Jebres dan Pasar Gede (Bruggen, 1998; 83).

Selanjutnya ketika terjadi Reformasi di tahun 1998 yang diwarnai oleh berbagai aksi kerusuhan massal di kota-kota besar, beberapa toko milik etnis Tionghoa yang ada di sekitar Pasar Gede dijarah oleh massa. Selama beberapa hari, Pasar Gede dipenuhi oleh puing-puing dan sampah sisa kerusuhan. Peristiwa ini cukup membekas dalam kehidupan masyarakat Tionghoa di Surakarta.

Dua tahun kemudian, Pasar Gede terbakar lagi untuk kedua kalinya. Penyebab pasar ini terbakar yakni akibat hubungan arus pendek listrik, penyebab terbakarnya sebuah pasar yang paling klise. Setelah terbakar, pasar ini dibangun kembali dalam bentuk yang relatif sama (Leushuis, 2014; 220).

Di Tengah Keramian Pasar Gede
Pasar Gede (69) pada peta kota Solo tahun 1946 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Nah, setelah kita mengetahui cerita dibalik berdirinya Pasar Gede, mari kita bertandang ke pasar ini. Apabila kita melihat Pasar Gede dari luar, kita akan melihat arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan harmonis antara arsitektur Jawa dengan arsitektur modern yang dikenal sebagai gaya arsitektur Indo-Eropa. Gaya arsitektur pasar ini rupanya dipengaruhi oleh pandangan Karsten mengenai arsitektur Indo-Eropa. Pada dasarnya, Karsten yang sangat menghromati budaya Jawa memiliki pandangan bahwa Arsitektur Indo-Eropa harus mengacu pada arsitektur Jawa yang sudah lama berkembang di masyarakat dan kemudian dilahirkan kembali ke bentuk baru tanpa menghilangkan unsur lama. Pemikiran Karsten ini dapat kita lihat pada bentuk atap Pasar Gede berupa model Joglo dan Limasan yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa dan dipadukan dengan unsur modern yang dapat dilihat pada konstruksi pasar yang terbuat dari material-material modern seperti besi dan beton serta jendela-jendela kaca vertikal pada bagian depan pasar.
Tampak depan Pasar Gede.
Pasar Gede dibagi menjadi dua blok yang dipisahkan oleh jalan Urip Sumoharjo, yakni blok timur yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari, dan blok barat yang sekarang menjadi kios tempat berjualan buah.
Denah Pasar Gede.
Sebelum masuk ke dalam pasar, di atas pintu masuk pasar, kita dapat melihat plakat nama Pasar Gede yang terbuat dari besi dan font art deconya yang menambah nilai seninya. Font atau bentuk huruf yang dipakai pada plakat ini merupakan font yang banyak dipakai pada tahun 1930an. Namun plakat ini hanyalah replika dari plakat asli yang sudah hilang. Konon plakat yang asli hilang sewaktu pasar ini direnovasi pada tahun 2000an setelah mengalami kebakaran.
Keramaian pedagang dan pembeli di Pasar Gede. Dahulu, pasar di kota Surakarta yang setiap hari ramai hanyalah Pasar Gede saja. Sementara pasar-pasar lain hanya ramai pada hari pasaran tertentu saja.
Masuk ke bagian dalam pasar, kita akan mendapati suasana pasar yang tidak berbeda jauh dengan pasar-pasar lain. Di sepanjang gang, terlihat para pedagang yang sibuk menjual aneka barang dagangannya. Barang dagangan yang dijual di pasar ini sangat beragam. Mulai dari  buah-buahan seperti pisang, jeruk, papaya, kelengken dan lain-lain, lalu berbagai alat-alat rumah tangga, busana, bumbu-bumbu dapur, bahan makanan seperti sayur, daging segar dan ikan laut. Lalu ada jamu racikan dengan aromanya yang khas dan jajanan pasar yang murah meriah dan lezat. Ya, segala barang kebutuhan dijual di pasar ini. Selain memiliki fungsi ekonomi, Pasar Gede juga memiliki fungsi sosial karena pasar ini menjadi tempat berinteraksinya para pedagang dengan pembeli atau interaksi antar sesama pedagang.


Panggung tempat para pedagang berjualan.
Salah satu yang hal yang menarik yang bisa kita jumpai dari pasar ini adalah adanya panggung-panggung beton tempat para pedagang berjualan. Karsten sepertinya mengetahui bagaimana kebiasaan para pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional di. Para pedagang biasanya menunggu para pembeli dengan duduk lesehan. Oleh karena itulah para pembeli harus membungkukan badan dahulu jika ingin membayar dan tentu saja hal ini sedikit merepotkan. Solusi Karsten yakni membuat panggung yang kira-kira setinggi pinggang orang dewasa. Dengan demikian, para pedagang masih bisa duduk lesehan menunggu barang dagangannya dan pembeli tidak perlu membungkukan badan lagi. Sebuah solusi yang sangat brilian.

Bukaan ventilasi pada bagian atap pasar.
Di bagian atap, terdapat sebuah lubang ventilasi, sehingga sirkulasi udara di dalam pasar sangat bagus sekali. Meski di dalam pasar penuh dengan orang-orang berjualan, tapi udara di dalam tidak begitu pengap. Ventilasi ini juga berfungsi sebagai pencayahayaan alami, sehingga pasar ini bisa sedikit menghemat energi listrik untuk penggunaan lampu. Inilah bentuk kearifan lokal yang dapat ditemukan pada bangunan pasar ini. Berbeda sekali dengan pasar-pasar modern zaman sekarang yang tertutup, sirkulasi udara yang hanya mengandalkan AC dan pencahayaan yang bergantung pada lampu yang tentu boros energi sekali.
Kuda-kuda penyangga atap.
Los pedagang daging.
Dinding partisi los daging hewan dengan los lain.
Toilet pasar.
Setelah puas berkeliling di lantai satu, mari kita mencoba untuk naik ke bagian lantai dua Pasar Gede. Di lantai dua, terdapat kantor pengelola pasar yang berada persis di atas pintu masuk pasar. Lalu di sini juga ada los untuk pedagang daging ayam, sapi, dan ikan yang dipisah oleh dinding sekat dengan los lainnya. Tujuan pemisahan ini untuk memudahkan pembeli mencari barang yang hendak dibeli. Untuk menambah sirkulasi udara, dinding atas bagian luar dibuat dari jalinan kawat sehingga udara tetap bisa masuk dalam. Di setiap sudut pasar, terdapat kamar kecil yang sudah dipisahkan berdasarkan gender.
Kios-kios di luar Pasar Gede. Kios-kios di sini harga jual atau sewanya lebih mahal daripada yang ada di dalam pasar.
Bangunan bergaya Tionghia di sekitar Pasar Gede. Populasi masyakarat Tionghoa di Surakarta sebelum tahun 1870 sangat kecil. Hal ini dikarenakan adanya larangan orang Tionghoa untuk bermigrasi ke wilayah Vorstenlanden oleh pemerintah Belanda.
Klenteng Tien Kak Sie di selatan Pasar Gede. Klenteng ini diperkiriakan sudah ada semenjak orang Tionghoa membangun pemukiman di sekitar Pasar Gede pada tahun 1745.
Dari lantai dua, kita selanjutnya akan berkeliling ke bagian luar pasar. Di bagian luar Pasar Gede, terdapat kios-kios yang biasanya diisi oleh para pedagang Tionghoa. Para pedagang ini membuka usaha kuliner Tionghoa, toko perhiasan, atau warung sembako. Pasar Gede berdiri di tengah-tengah kawasan Pecinan. Hal ini dapat dibuktikan pada keberadaan beberapa bangunan berarsitektur Tionghoa yang dapat kita jumpai di sekitar pasar seperti klenteng dan ruko-ruko tradisional Tionghoa.
Blok barat Pasar Gede.

Bagian beranda lantai dua.
Profil di bagian pintu masuk.
Di seberang barat Pasar Gede, terdapat bangunan pasar yang bentuknya serupa dengan Pasar Gede dengan ukuran yang lebih kecil. Bangunan pasar ini memiliki balkon pada lantai dua yang menjorok keluar. Balkon ini berguna melindungi pejalan kaki di bawahnya dari gangguan cuaca. Masuk ke dalam pasar, suasana pasar tidak seramai Pasar Gede yang sebelah timur. Hanya terlihat beberapa pedagang yang kebanyakan berjulan buah-buahan. Pada bagian tengah lantai dua pasar ini, biasanya digunakan untuk festival-festival kebudayaan. Bagian depan pasar yang kini ditempati oleh belasan pedagang buah dahulunya ditempati oleh orang Tionghoa bernama Be Thian Kiem yang membuka sebuah toko perhiasan.

Begitulah catatan penjelajahan kita di Pasar Gede, pasar yang menjadi living heritage kebanggannya wong Solo. Pasar Gede bukanlah sembarang pasar. Di dalamnya terkandung banyak nilai dan kearifan lokal yang mulai luntur. Pasar ini juga menjadi bagian dari sejarah perjalanan kota Surakarta yang panjang, mulai dari awal pembangunan kota Surakarta oleh Pakubuwono II, masa keemasan kota Surakarta di bawah Pakubuwoni II, Surakarta yang membara oleh lautan api pada tahun 1949, hingga  Surakarta yang kembali membara pada tahun 1998. Bentuk bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional Jawa dengan modern juga menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa arsitektur Jawa pada khususnya dan budaya Jawa pada umumnya, adalah kebudayaan yang luwes dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Tinggal bagaimana dari kita untuk mengemasnya. Pasar ini juga menjadi pusat ekonomi masyarakat kecil di Surakarta yang mampu bertahan dari gempuran pasar-pasar modern milik investor besar. Oleh karena itulauh, dengan berbagai cerita dan nilai yang ada terkandung di dalamnya, saya berani bilang, seribu pasar modern yang megah, tidak akan mampu menggusur Pasar Gede ini…..

Referensi
Karsten, Thomas. 1938. " Iets Over De Centralle Pasar " dalam Locale Techniek edisi 7 no 2 tahun 1938.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Ombak.

Purwadi, dkk, 2009. Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa. Jakarta : Bangun Bangsa.


Tim Penyusun. 2014. Yang Tersisa Dari Kolonial. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

van Bruggen, M.P dan Wassing, R.P. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Asmterdam : Asia Maior.