Sabtu, 20 Februari 2016

Telusur Sisa Pabrik Gula Sewugalur

Apakah anda pernah mendengar nama Pabrik Gula Sewugalur ? Jika belum tidak mengapa karena pabrik gula ini sendiri memang sudah lama sekali menghilang. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk menelusuri sisa dari satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri di Kulon Progo ini. Bagaimana sejarahnya serta apa saja yang masih tersisa ?
Sejarah
Foto pabrik gula sewugalur pada tahun 1917 (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Berdasarkan catatan sejarah yang pernah saya baca, Pabrik Gula Sewugalur didirikan pada tahun 1889 bersamaan dengan pembangunan jembatan Srandakan melintasi Sungai Progo. Pabrik ini didirikan di atas lahan milik Pakualaman yang pada waktu itu membawahi seluruh wilayah Kulonprogo. Dengan demikian, Pabrik Gula Sewugalur merupakan satu-satunya pabrik gula yang berdiri di wilayah Pakualaman (Dhani, 2010; 2010). Saham pabrik ini dipegang oleh perusahaan N.V Cultuur Matschapij der Vorstenlanden yang berpusat di Semarang. Selain di Sewugalur, perusahaan ini juga memiliki pabrik gula di Padokan, Demakijo, Wonocatur, Beran, Kedaton Plered, Sedayu, Barongan dan Rewulu (Dingemas.L.F, 122 ; 1920).
Lokasi pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1921.
Ketersediaan lahan dan kondisi geografis di sekitar pabrik sangat memungkinkan untuk dibuka sebuah perkebunan tebu beserta pabrik penghasil gula. Hal ini juga didukung ketersediaan tenaga kerja yang berasal dari lingkungan sekitar pabrik dan mayoritas bekerja di sektor agraris. Sejak tahun 1915, arus transportasi dari PG Sewgalur ke Yogyakarta semakin lancar dengan dibangunnya jalur kereta oleh NIS dari Stasiun Tugu hingga Halte Sewugalur. Pembangunan jalur ini selain bertujuan untuk memperlancar arus transportasi dari Sewugalur ke Yogyakarta, juga bertujuan untuk memperlancar perekonomian di Sewugalur yang pada waktu itu lumayan jauh dari pusat kota. Oleh karena itulah mengapa lokasi halte Sewugalur dibangun di dekat pasar Sewugalur (Dhani, 2010; 73-79).
Gambaran kompleks pabrik gula Sewugalur pada peta tahun 1934 (sumber ; maps.library.leiden.edu).
Berdasarkan data dari peta topografi lama, terlihat rumah-rumah pegawai pabrik dibuat dengan konsep mengelilingi pabrik dan orientasinya dibangun menghadap ke arah pabrik sebagai strategi pengawasan terhadap aktivitas pabrik gula. Konsep ini dikenal sebagai konsep panopticon. Dengan adanya konsep ini,buruh-buruh pribumi yang ada di pabrik akan selalu merasa diawasi tanpa kehadiran para staff pabrik yang mayoritas adalah orang Belanda (Inagurasi, 123; 2010). Langgam arsitektur rumah ini dibangun dengan gaya arsitektur Indis untuk menegaskan bahwa kedudukan mereka sebagai pegawai pabrik berbeda dengan kedudukan buruh-buruh pribumi yang secara strata sosial pada waktu itu berada di kelas yang lebih rendah dari bangsa Eropa (Soekiman, 1997; 5).
Foto jajaran pegawai pabrik gula Sewugalur pada tahun 1912. Nampak administratur pabrik gula Sewugalur pada waktu itu,Cosmus van Bornemann yang kemudian dipindah ke pabrik gula Gelaren pada tahun 1930an. Pengganti Cosmus van Bornemann ialah Albert Kuipers (sumber ; geheugenvannederland.nl).
Kompleks Pabrik Gula Sewugalur kemudian berkembang hampir menyerupai kota kolonial kecil di daerah pedalaman dengan berbagai fasilitas seperti pemukiman Eropa, pasar, halte, sosieteit dan lahan pemakaman Eropa. Bahkan pada waktu itu berkembang wacana pembangunan pelabuhan di pantai selatan untuk mempersingkat jarak distribusi gula di wilayah Yogyakarta yang masih bergantung dengan pelabuhan di Semarang.
Di PG Sewugalur pernah ada kejadian perkelahian antar sesama kuli. Perkelahian ini rupanya tak seimbang. Salah satu kuli membawa pistol revlover dan akhirnya kuli lainnya tertembak. Sumber Het Nieuws van den Dag Nederlandsch Indie, 16 Mei 1922
Rumah dinas pegawai  pabrik gula Sewugalur (sumber : geheugenvannederland.nl).
Sayangnya, kejayaan pabrik gula ini harus berhenti dengan terjadinya krisis ekonomi atau malaise yang memporak-porandakan perekonomian dunia  pada tahun 1930an. Krisis ini menyebabkan harga gula di pasaran jatuh dan banyak pabrik gula ditutup untuk menekan kerugian dan salah satu parbik gula yang terkena dampak penutupan adalah PG Sewugalur (Dhani, 2010; 3-4). Pada tahun 1942, setelah Jepang masuk ke Hindia-Belanda, bangunan pabrik gula Sewugalur diratakan oleh Jepang. Jalur-jalur kereta api dari Sewugalur ke Palbapang dicopot oleh Jepang dan diangkut ke Burma (Myanmar) untuk bahan material jalur yang sedang dibangun di sana. Kemudian pada tahun 1946, kompleks rumah dinas Sewugalur digunakan oleh para tentara Republik Indonesia untuk menginternir ibu-ibu dan anak-anak Eropa yang masih tinggal di Yogyakarta (Bruggen, 1998; 75)..

Perjalanan
Perjalanan saya dari kota Yogyakarta ke lokasi situs pabrik gula Sewugalur memakan waktu sekitar 40 menit. Cukup lama karena lokasi situs  pabrik gula yang secara administratif  berada di Dusun Sewugalur, Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo ini berada di tengah pedesaan yang jauh dari keramaian kota. Lokasi pabrik gula ini juga sangat dekat dengan pantai selatan, yakni hanya berjarak 4 kilometer dari bibir pantai sehingga pabrik gula ini menjadi pabrik gula paling selatan di Yogyakarta. Sebelum saya sampai di Sewugalur, saya melintasi jembatan Sungai Progo yang lumayan panjang. Jembatan ini sendiri sebenarnya adalah pengganti jembatan lama yang ada di sebelah utara nya dan diganti karena konstruksi jembatan lama sudah ambles ke dasar sungai akibat erosi dan diperparah lagi dengan aktivitas penambangan pasir di sekitar jembatan. Oh ya perlu kita ketahui juga, lokasi jembatan lama ini sendiri berdiri persis di bekas jembatan kereta api milik NIS yang dahulu menghubungkan Sewugalur dengan Yogyakarta.

Sisa-sisa Pabrik Gula Sewugalur
Kondisi pabrik gula Sewugalur saat ini.Keterangan. Kotak kuning : bekas lokasi pabrik. Titik kuning : Lokasi struktur pondasi cerobong. Kotak merah : lokasi rumah dinas. Garis putus-putus : jalur kereta NIS. 1 : Rumah ibu Jamal. 2 : Rumah bapak Karwono. 3 : Kantor.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa bangunan pabrik gula Sewugalur sudah dihancurkan sejak zaman penjajahan Jepang sehingga kita tidak terlalu berharap banyak untuk menemukan sebuah bangunan pabrik yang besar lengkap dengan cerobongnya yang menjulang tinggi. Satu-satunya yang tersisa dari bangunan PG Sewugalur hanyalah sebuah struktur bekas cerobong asap yang terbuat dari beton. Struktur ini dapat kita temukan di belakang rumah warga. Kondisi sekitar bekas cerobong ini cukup kotor, di sekelilingnya terlihat banyak tumpukan sampah seolah-olah cerobong ini bukanlah sebuah peninggalan sejarah yang berharga. Saya sendiri tidak berlama-lama untuk melihat cerobong. Selain tidak kuat dengan bau tumpukan sampah, juga karena tidak tega melihat kondisi cerobong yang dulu menjadi saksi dari kejayaan Pabrik Gula Sewugalur. Selain struktur cerobong, kita juga masih bisa menemukan sisa saluran pembuangan limbah. Limbah-limbah pabrik ini dibuang ke Kali Progo. Selain struktur cerobong dan saluran pembuangan limbah,  sisa-sisa bangunan pabrik yang lain tidak ada yang saya temukan lagi. Seluruh bangunan pabrik benar-benar lenyap dan kini sudah menjadi pemukiman warga dan sebidang tanah lapang yang luas.
Sisa cerobong PG Sewugalur.
Di lapangan inilah Pabrik Gula Sewugalur pernah berdiri.
Bangunan bekas kantor PG Sewugalur.
Meskipun demikian, kekecewaan kita mungkin akan sedikit terobati jika kita sudah melihat bangunan bekas rumah dinas pegawai Sewugalur yang masih kokoh berdiri. Yah, meski tidak semua bangunan rumah dinas bisa kita lihat. Lokasi rumah dinas pegawai PG Sewugalur berada di timur dan selatan pabrik. 
Rumah Ibu Jamal.
Di sebelah timur PG Sewugalur, terdapat empat buah eks rumah dinas PG Sewugalur. Salah satu rumah dinas yang cukup menarik perhatian saya yakni rumah dinas yang sekarang ditempati oleh keluarga Ibu Jamal. Memasuki halaman rumah, kita akan merasakan suasana yang asri dan tenang, suasana yang sepertinya tidak pernah berubah semenjak rumah ini dibangun. Halaman terlihat bersih, pot bunga ditata dengan begitu rapinya, pohon-pohon hijau dan ditambah dengan alam pedesaan yang masih alami, membuat kitaa ingin terus kembali ke sini. Saya sendiri sejak kunjungan pertama ke rumah ini pada tahun 2014 bersama Komuntias Roemah Toea sudah berulang kali mengunjungi rumah ini. Keramahan dari Ibu Jamal semakin membuat saya ingin kembali terus ke rumah ini.
 
Bagian dalam rumah ibu Jamal.
Palfon yang masih terbuat dari anyaman bambu.
Rumah Ibu Jamal seperti lazimnya rumah dari masa kolonial memiliki sebuah serambi depan yang tinggi. Serambi ini memiliki pintu masuk berbentuk melengkung. Pada tahun 2006, serambi depan ini rusak parah akibat gempa sehingga bagian ini dibangun ulang dengan bentuk yang hampir serupa dengan bentuk sebelum hancur. Di bagian depan, terdapat tiga pintu masuk yang bentuknya sama dengan pintu serambi. Meski ada tiga pintu masuk, kita tidak perlu bingung akan masuk lewat mana karena hanya pintu tengah saja yang dibuka. Suasana terasa sejuk sekali begitu saya melangkah masuk ke bagian dalam ruang tamu rumah Ibu Jamal. Jendela besar di samping ditambah tembok rumah yang tinggi menjadikan suasana di dalam ruangan terasa sejuk meski tanpa AC dan mungkin kesejukan seperti ini jauh lebih baik karena sifatnya alami. Di bagian atas, kita dapat melihat anyaman bambu yang masih menjadi plafon rumah tua ini. Anyaman bambu memang banyak dipakai pada rumah-rumah kolonial di wilayah pedesaan. Di ruang tamu ini, Ibu Jamal bercerita, meski Jepang menghancurkan hampir seluruh bangunan pabrik, tapi bangunan rumah dinas pegawai luput dari penghancuran tadi dan kemudian rumah ini dijual ke seorang Tionghoa. Lalu rumah ini dijual ke Bapak Tjokrodirdjo, mertua Ibu Jamal.
Denah rumah ibu Jamal.Keterangan 1 : Teras Depan. 2 : Ruang Depan. 3 : Ruang Makan. 4 : Ruang tidur. 5 : Paviliun. 6 : Bangunan servis (dapur,gudang, kamar mandi, kamar pembantu).
Selanjutnya, saya ditunjukan Ibu Jamal ke sebuah pintu besar yang masih terkunci, di samping ruang tamu. Begitu Ibu Jamal membuka gagang pintu yang masih asli itu, pintu besar itupun terbuka, dan di dalamnya, saya hanya melihat sebuah ruangan gelap yang nyaris kosong. Di sini, saya hanya melihat sebuah lemari tua, ranjang tanpa kasur, dan sebuah cermin besar yang tergantung miring di dinding. Meski gelap dan tampak tertutup, suasana di dalam ruang masih sama sejuknya dengan ruang tamu tadi. Hal ini berkat adanya kisi-kisi yang terdapat pada jendela krepyak. Kisi-kisi ini memungkinkan udara tetap masuk ke dalam ruangan meski jendela sudah ditutup. Suasana di dalam ruangan akhirnya menjadi terang begitu Ibu Jamal membuka jendela. Sinar matahari langsung masuk ke bagian dalam ruangan. Jendela yang tinggi selain untuk memaksimalkan udara yang masuk juga berguna untuk memaksikmalkan sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan sehingga ruangan mendapat pencahaayaan alami dan mengurangi penggunaan lampu. Ruangan ini barangkali dulunya menjadi ruang tidur anak si pegawai pabrik yang tinggal di rumah ini. Dari jendela ruangan ini, mungkin kita bisa membayangkan si anak pegawai pabrik tadi bisa melihat ayahnya yang sedang bekerja di pabrik. Rumah ini sendiri menghadap ke barat, persis menghadap ke pabrik sehingga segala aktivitas pabrik dapat dilihat dari sini. Nuansa bangunan kolonial rumah ini benar-benar masih terasa sehingga tidak heran jika rumah ini kerap dipakai untuk syuting film….
Ruang keluarga. Terlihat cermin besar dan hiasan kaca patri di atas pintu dan jendela.
Dari ruangan ini, kita akan berpindah untuk melihat ruang keluarga yang berada di belakang ruang tamu. Di sini bisa kita lihat sebuah lemari buffet tua dan sebuah cermin besar yang tergantung miring. Kemudian di samping ruangan ini, terdapat sebuah ruang tidur yang sebenarnya terhubung oleh ruangan kosong yang ada di depan tadi. Ibu Jamal sendiri tidur di ruangan ini. Hiasan kaca patri berwarna hijau dan merah yang menambah estetika terlihat di atas jendela dan pintu yang menghadap ke halaman belakang rumah. Di sini, waktu seolah terhenti. Saya merasa dilempar kembali pada waktu rumah ini masih ditempati oleh si keluarga pegawai pabrik tadi.  Saya membayangkan di ruang inilah dahulu keluarga pegawai pabrik yang tinggal di sini mengadakan makan malam bersama setelah seharian beraktivitas di pabrik. Sambil menyantap hidangan yang disiapkan oleh pembantu yang tinggal di kamar belakang, mereka membicarakan mengenai aktivitas apa saja yang dilakukan seharian di pabrik. Di masa ketika hiburan masih jarang apalagi di Sewugalur yang masih daerah pelosok, kegiatan makan malam seperti ini benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi setiap anggota keluarga. Dari sinilah interaksi antar anggota keluarga terbangun.
Bagian belakang rumah.
Paviliun tamu.
Nah di belakang rumah, kita masih bisa menjumpai bangunan tambahan yang dahulu menjadi kamar pembantu, sumur, dapur, gudang, kamar mandi dan sebuah wastafel tempat cuci piring. Bagian-bagian ini dibuat mengelilingi sebuah halaman terbuka di bagian tengah ruma. Di masa lalu, halaman seperti ini merupakan area privat si pemilik rumah. Sekarang, beberapa bagian ini menjadi ruang tinggal keluarga Ibu Jamal. Di samping rumah Ibu Jamal, terdapat sebuah bangunan kecil yang dahulu menjadi paviliun tamu yang juga dapat digunakan sebagai tempat tidur tamu jika tamu hendak bermalam.
Bekas rumah dinas pegawai pabrik gula Sewugalur yang saat ini ditempati oleh Bapak Karwono. Terlihat fasad depan yang berbentuk seperti gunungan. Bangunan ini pernah mendapat piagam pelestarian dari BPCB Yogyakarta.
Di sebelah utara rumah Ibu Jamal, kita juga dapat melihat sebuah bangunan tua bekas rumah dinas pegawai PG Sewugalur yang tidak kalah cantik dengan rumah milik Ibu Jamal. Rumah ini sekarang ditempati oleh Bapak Karwono. Rumah ini terlihat menonjol berkat fasadnya yang berbentuk seperti gunungan. Di bagian samping, terlihat semacam banguan untuk garasi kendaraan. Dahulu, sepertinya si pegawai pabrik yang tinggal di rumah ini memiliki kendaraan mobil yang masih jarang dimiliki oleh orang pada waktu itu. Kendaraan mobil sangat berguna untuk digunakan mengelilingi area perkebunan tebu yang sangat luas.
Bangunan bekas kamar bola atau sosieteit. Sempat dipakai sebagai kantor bank BRI cabang Galur sebelum menjadi rumah tinggal.
Di sebelah utara rumah Bapak Karwono tadi, masih terdapat sebuah bangunan lama yang menurut warga sekitar dahulunya merupakan kamar bola atau sosieteit. Di wilayah Sewugalur yang lumayan jauh dari pusat kota, keberadaan sosieteit menjadi oase tersendiri bagi para pegawai pabrik gula yang mayoritas adalah orang Belanda. Mereka tentu menganut kebiasaan barat yang berbeda dengan kebiasaan orang pribumi. Di sini, setelah seharian bekerja di pabrik, mereka bisa bersenang-senang dengan melakukan aktivitas seperti bermain bilyard, minum-minuman alkohol, atau berdansa. Dengan adanya sosieteit ini, mereka tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk menyalurkan kebiasaan mereka. Di depan sosieteit ini dahulu terdapat sebuah lapangan tenis. Tenis merupakan salah satu olah raga yang digemari oleh orang Barat. Kegiatan ini biasanya dilakukan di pagi atau sore hari.
Bangunan ujung utara.
Di ujung utara, kita juga masih bisa melihat sebuah bangunan lama dengan fasad berbentuk seperti gunungan. Sayangnya, dinding rumah terlihat kusam dan sedikit tidak terawat. Tidak diketahui apa fungsi bangunan ini di masa silam.
Bangunan bekas rumah dinas yang ada di selatan rumah Ibu Jamal.
Masih di deretan rumah Ibu Jamal tepatnya di sebelah selatannya, terdapat dua buah rumah yang bagian atap sebenarnya masih menjadi satu. Sayangnya kondisi rumah ini tidak sebaik rumah Ibu Jamal atau Bapak Karwono. Bagian rumah sisi utara sudah runtuh sementara bagian rumah sisi selatan meski masih terlihat baik dan dihuni oleh pemilikinyan namun fasadnya sudah terlihat mengalami perubahan bentuk.
Bangunan rumah dinas yang saat ini dalam kondisi rusak. Beberapa tahun lalu, kusen, daun pintu dan jendela, dan rangka atap masih ada.
Bangunan rumah dinas yang cukup terawat.
Bekas rumah dinas PG Sewugalur juga dapat kita temukan di bagian selatan, yang kini tinggal tiga saja yang masih tersisa. Salah satu rumah yang sudah menjadi puing. Bagian-bagian lain seperti pintu dan jendela sudah hilang entah kemana. Rangka atap juga ikut lenyap. Bagian dinding fasad depan terlihat retak dan nyaris runtuh. Padahal dahulu rumah ini merupakan rumah dinas paling besar yang ada di kompleks PG Sewugalur. Tapi lewat puing-puing rumah ini, kita sudah bisa membayangkan seperti apa kemegahan rumah ini ketika PG Sewugalur masih berjaya.
Kerkhof Sewugalur.
Batu nisan pada makam Maria Arabella Junman.
Oh ya, di sekitar PG Sewugalur, kita dapat menjumpai bekas area kerkhof atau pemakaman Belanda. Ketika saya pertama kali datang ke kerkhof Sewugalur, seluruh makam-makam yang ada terhalang oleh rimbunnya rumput-rumput liar dan tanaman-tanaman lain. Kerkhof ini dulunya dikelilingi oleh tembok pembatas yang kini tinggal sebagian saja yang masih berdiri. Di sini kita hanya bisa menemukan satu makam Belanda yang prasastinya masih tersisa dan itupun sudah hilang separo sehingga isi prasasti tidak dapat dibaca secara utuh. Makam yang kita temukan ini merupakan makam miliki Maria Arabella Junman. Sepertinya beliau adalah anak perempuan atau mungkin istri dari pegawai pabrik gula Sewugalur. Mengapa di dekat kompleks PG Sewugalur terdapat kompleks kerkhof ? Jawabannya mudah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lokasi PG Sewugalur berada lumayan jauh dari perkotaan, sehingga ketika ada orang meninggal, tentu akan menghabiskan perjalanan cukup lama untuk membawa jenazah kerkhof di kota Yogyakarta. Sehingga untuk menghemat waktu perjalanan maka dibukalah area kerkhof di dekat lokasi pabrik. Selain itu, terkadang ada keluarga pegawai pabrik gula yang memiliki permintaan untuk dimakamkan di dekat pabrik. Hal ini menunjukan adanya ikatan emosional antara si keluarga pegawai pabrik gula dengan tempat mereka bekerja.
Bekas halte Sewugalur.
Setelah melihat situs pabrik gula, sisa-sisa rumah dinas yang masih berdiri dan kerkhof, kita kemudian akan mencoba menelusuri sisa Halte Sewugalur, tempat dimana gula-gula produksi PG Sewugalur didistribusikan ke tempat lain. Berdasarkan pencocokan data dari peta lama dan citra satelit sekarang, lokasi Halte Sewugalur berada di depan SMP N 1 Galur. Saya kemudian melihat di tengah-tengah sawah, terdapa sebuah gundukan tanah yang memanjang dan setelah dicocokan dengan data peta lama dan citra satelit sekarang, tidak salah lagi kalau gundukan tanah itu merupakan bekas railbed atau gundukan jalur kereta Sewugalur-Yogyakarta.

Begitulah hasil penelusuran kita pada sisa-sisa PG Sewugalur. Meski PG Sewugalur tinggal menyisakan sebagian kecil bangunan rumah dinas yang terawat dengan baik, kerkhof yang kondisinya menyedihkan dan struktur bangunan pabrik yang nyaris sulit dikenali bentuknya, namun sisa-sisa tadi merupakan saksi bisu dari kejayaan PG Sewugalur, sebuah pabrik gula yang satu-satunya pernah berdiri di Kulonprogo…

Referensi

Dhani, Rizal. 2010. " Situs Pabrik Gula Sewugalur (1889-1930) (Tinjauan terhadap Latar Belakang Pemilihan Lokasi dan Pengaruh Keberadaanya terhadap Pemukiman Kolonial di Sekitarnya) ". Skripsi. Depok : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Dingemans, L.F. 1920. Gegevens Over Djokjakarta. 

Inagurasi, Hari Libra. 2o10. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri ". Tesis. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Soekiman, Djoko. 1997. " Seni Bangun Gaya Indis, Penelitian, Pelestarian, dan Pemanfaatanya " dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi VIII, Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis. Yogyakarta 9 Agustus 1997.

van Bruggen, M. P dan Wassing, R.P . 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Amsterdam : Asia Maior.

Senin, 15 Februari 2016

Pasar Kenteng, Jejak Perekonomian Pedesaan dari Masa Kolonial

Di antara kita, siapa yang tidak mengenal pasar ? Yap, setiap orang tentu tahu apa itu pasar. Pasar merupakan tempat orang-orang menjual dan membeli barang dan oleh karena itulah pasar merupakan sentra ekonomi paling utama di suatu wilayah. Pasar-pasar ini,terutama pasar tradisional, sudah ada sejak masa kolonial bahkan jauh sebelumnya. Di kota besar, banyak pasar yang direnovasi oleh pemerintah kolonial. Sebut saja pasar Beringharjo di Yogyakarta, Pasar Gede di Solo, atau Pasar Johar di Semarang yang hingga sekarang masih eksis. Selain di kota besar, ternyata pemerintah kolonial juga merenovasi pasar di daerah pedesaan. Di manakah itu dan seperti apa bentuknya akan Jejak Kolonial bahas pada tulisan kali ini.

Lokasi Pasar
Lokasi pasar pada peta lama dari tahun 1935 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Nah, pasar yang akan kita kunjungi kali ini berada di Kenteng, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo. Letaknya kira-kira berada 17 kilometer ke barat dari kota Yogyakarta. Lokasi geografis Kenteng sendiri berada di antara sungai Progo di timur dan Perbukitan Menoreh di barat. Posisi pasar ini berada di selatan Jalan raya Pasar Kenteng. Jalan ini menghubungkan Kenteng dengan Samigaluh di sebelah barat dan dengan Godean di sebelah timur.

Kondisi Pasar di Masa Kini
Bagian belakang pasar.
Jika dibandingkan dengan pasar-pasar yang sudah disebutkan pada tulisan di awal, bentuk pasar Kenteng yang kita lihat ini jauh lebih sederhana dan tidak semegah pasar-pasar tadi. Bentuk pasar kenteng hanya berupa deretan los-los terbuka yang memanjang. Los-los ini berbentuk atap pelana dan membujur utara-selatan, jadi para  pedagang menggelar dagangannya menghadap ke arah barat atau timur. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalisasi pencahayaan di bagian dalam. Atap-atap ini melindungi para pedagang dari terpaan sinar matahari dan hujan. Bahan penutup atap terbuat dari genteng.
Kondisi pasar yang sepi karena memang bukan hari pasaran.
Ketika saya mengunjungi pasar ini, pasar ini dalam kondisi sepi, tidak banyak pedagang yang berjualan selain pedagang makanan di pinggir jalan dan beberapa pedagang sembako. Menurut pedagang yang ditemui di pasar, pasar ini memang sedang tidak ramai karena sedang bukan hari pasaran. Hari Pasaran pasar ini menurut kalender Jawa jatuh pada hari Wage. Pada hari pasaran, pasar ini sangat ramai,terutama pada jam buka dari jam 8 hingga jam 11. Mengapa pasar ini mengikuti hari pasaran ? Ada beberapa alasan.Alasan pertama berkaitan dengan kebudayaan Jawa yang sejak lama ada tradisi untuk bekerja secara kolektif dalam satu desa yang mandiri. Alasan kedua berkaitan dengan ekonomi. Pada zaman dahulu kebanyakan yang berjual beli di pasar bukanlah pedagang professional, melainkan petani yang menjual sisa panen saja. Mereka membeli hanya untuk melengkapi kebutuhan yang bukan hasil panen mereka sendiri. Kebutuhan pada waktu itu lebih sedikit dibanding sekarang dan daya beli pengunjung pasar masih terbatas. Jika terlalu banyak pasokan barang yang dijual di pasar akan menyebabkan deflasi atau harga barang akan turun. Harga barang yang terlalu murah tidak akan memberikan keuntungan  yang cukup untuk membiayai transportasi. Ada juga resiko barang menjadi busuk karena belum ada teknologi pendingin atau pengawetan.
Tiang-tiang penyangga atap pasar.
Dari 20 deretan los yang ada, kita dapat menjumpai 13 los yang sudah ada sejak zaman Belanda dan bentuknya belum berubah sama sekali. Satu-satunya perubahan hanyalah penambahan lapisan keramik. Atap-atap pada los lama disangga oleh tiang besi dengan konstruksi seperti tiang jemuran. Pasar ini tidak diberi sekat seperti halnya pasar modern pada saat ini. Mengapa tidak diberi sekat ? Rupanya selain sebagai tempat jual beli, pasar tradisional juga merupakan tempat berlangsungnya interaksi sosial antar pedagang, sehingga kondisi pasar yang terbuka menjadikan para pedagang dapat berinteraksi dengan mudah dan meningkatkan rasa guyub di antara pedagang. Inilah keunggulan pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern. Walaupun pasar modern lebih bersih, namun interaksi sosial di dalamnya jauh lebih sedikit dibandingkan pasar tradisional seperti pasar Kenteng ini.
Plakat yang menunjukan pabrik pembuat material bangunan pasar.
Plakat yang menunjukan perusahaan kontraktor pasar.
Di pasar ini, kita dapat melihat beberapa plakat inskripsi dari zaman Belanda. Plakat-plakat ini menunjukan perusahaan penyedia material bangunan dan kontraktor pembangunan pasar, sehingga plakat ini bisa menjadi salah satu data sejarah berdirinya pasar ini. Dari plakat yang ada, penyedian material berasal dari N.V.Braat, perusahaan baja yang memiliki pabrik di Surabaya, Yogya, Sukabumi dan Tegal. Sementara itu, masih berdasarkan plakat yang terdapat di pasar ini, pembangunan pasar dilaksanakan oleh N.V Construtie Atelier Der Vorstenlanden Djokjakarta. Sekedar tambahan saja, perusahaan ini dahulu memiliki kantor dan pabrik baja yang kini lokasinya sudah menjadi Hotel Melia Purosari.

Sejarah Pasar Kenteng
Tidak diketahui sejak kapan pasar ini sudah ada. Namun yang jelas, pasar ini dipugar pada tahun  1921 oleh Sultan HB VIII bersama beberapa pasar lain seperti pasar Srowolan dan pasar Pundong. Pasar ini dipugar karena pasar ini merupakan Pasar Kesultanan yakni pasar yang secara administrasi dikelola oleh Kesultanan. Pasar ini terdiri dari 129 buah milik Kasultanan Yogyakarta dan 18 buah milik Pura Pakualaman ( Dingemans, 16; 1925 ). Dari beberapa sumber sejarah seperti plakat yang kita temukan di pasar tadi, pembangunan pasar ini dibangun oleh N.V Construtie Atelier Der Vorstenlanden Djokjakarta  sementara material pasar disediakan oleh N.V Braat perusahaan baja yang didirikan pada tahun 1901 dan berpusat di Surabaya (kini menjadi PT Barata).

Keberadaan pasar ini merupakan bukti kepedulian pemerintah di masa lalu terhadap kegiatan perekonomian rakyat. Bangunan pasar yang dahulu masih terbuat dari material yang mudah rusak diganti dengan material yang lebih kuat, bahkan saking kuatnya material itu masih bertahan hingga lebih dari setengah abad. Jika pemerintah di masa lalu saja peduli terhadap pasar tradisional, bagaimana dengan pemerintah sekarang ? Padahal pasar tradisional merupakan sentra perekonomian rakyat yang cukup penting.

Pasar ini juga merupakan sebuah living heritage, artinya pasar ini selain menyisakan warisan bangunan lama, juga masih eksis sebagai tempat berlangsungnya kegiatan jual beli yang sudah ada sejak pasar ini berdiri. Semoga keberadaan pasar ini baik bangunan dan pedagang-pedangang di dalamnya bisa bertahan.

Referensi
Dingemans, L. F. 1925. Gegevens over Djokjakarta.

Kamis, 11 Februari 2016

Stasiun Purworejo, Sekelumit Kejayaan Kereta Api di Purworejo

Tuuuuutttt Tuuuuutttt, begitulah kira-kira bunyi peluit kereta yang saya ingat, ketika saya pertama kali datang ke Stasiun Purworejo belasan tahun lalu. Ketika saya pertama kali naik kereta api dari Purworejo ke Kutoarjo dan juga akan menjadi pengalaman terakhir saya begitu mengetahui jalur Purworejo-Kutoarjo dinon-aktifkan pada tahun 2010. Ya, saya memiliki kenangan tersendiri pada bangunan stasiun peninggalan Belanda ini. Nah, seperti apa sejarah dan rupa Stasiun Purworejo ? Daripada anda penasaran, mari kita kunjungi bersama.

Latar Belakang Berdirinya Stasiun Purworejo
Station Purworejo ca. 1910. Terlihat beberapa kusir dokar yang sedang menunggu penumpang di depan stasiun. Jalan di depan stasiun ini dahulu bernama Stationlaan (sumber ; media-kitlv.nl).
Sejarah berdirinya stasiun Purworejo tidak terlepas dari pembangunan jalur kereta api  Yogyakarta-Cilacap. Latar belakang dan proses pembangunan jalur kereta api ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan pembukaan jalur Semarang-Vorstenlanden (sebutan Belanda untuk wilayah hinterland seperti Surakarta dan Yogyakarta). Jalur Semarang-Vorstenlanden dibangun atas inisiatif perusahaan kereta api swasta N.I.S dan dilatarbelakangi oleh kebutuhan bisnis perusahaan perkebunan swasta yang membutuhkan sarana transportasi yang lebih cepat untuk mengangkut hasil bumi. Sementara itu pembangunan jalur kereta Yogyakarta-Cilacap dilaksanakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah, Staatspoorwegen dan pembangunannya dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum pada masa kolonial, Burgerlijke Openbare Werken. Pembangunan jalur ini dilatarbelakangi oleh permintaan dari pemerintah kolonial untuk menghubungkan kota-kota di pesisir selatan pulau Jawa dengan jalur kereta api setelah melihat kesuksesan jalur kereta Semarang-Vorstenlanden. Jalur Cilacap-Yogyakarta dibuka pada tanggal 20 Juli 1887 di masa kepemimpinan H. G. Derx.
Kepala Stasiun Purworejo pada tahun 1892, J. W. Hille. Sebelumnya, dia  ( Java Bode ; Nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, tanggal 30 September 1892)
Salah satu kota yang dilalui oleh jalur kereta Yogyakarta-Cilacap adalah Purworejo. Uniknya, Purworejo sendiri sebenarnya tidak langsung dilewati jalur Yogyakarta-Cilacap karena kereta dari arah Yogyakarta harus singgah ke Kutoarjo terlebih dahulu yang berada di bagian barat Purworejo, setelah itu baru kereta bergerak ke ke arah Purworejo.

Lalu mengapa pemerintah Belanda membangun stasiun di Purworejo ? Seperti yang kita ketahui, paska Perang Diponegoro, kota Purworejo berkembang menjadi salah satu basis militer yang cukup penting bagi Belanda di wilayah pesisir selatan. Agar semakin berkembang, maka kota Purworejo perlu dihubungkan dengan kota-kota lain dengan jalur kereta dan kalau bisa dihubungkan dengan kota pelabuhan terdekat sehingga kebutuhan-kebutuhan militer yang didatangkan dari luar dapat dibawa dengan cepat dan mudah. Waktu itu, kota pelabuhan yang paling dekat dengan Purworejo adalah Cilacap di pesisir selatan dan Semarang di pesisir utara. Namun, pembangunan jalur kereta api Purworejo-Semarang akan banyak menghabiskan banyak biaya karena harus membelah perbukitan Menoreh yang ada di sebelah utara. Oleh karena itulah kota Purworejo dihubungkan dengan Cilacap terlebih dahulu yang jalurnya lebih mudah dibuat karena reliefnya relatif datar sementara jalur Purworejo-Semarang disambungkan dengan jalur kereta yang melingkar terlebih dahulu ke Yogyakarta.

Meskipun pada tahun 1887 sudah dibangun jalur kereta api dari Kutoarjo ke Purworejo sepanjang 12 km, namun bangunan stasiun Purworejo baru dibangun pada tahun 1901 (Musadad, 2001; 28). Pembangunan stasiun Purworejo ternyata menghasilkan beberapa keuntungan bagi perkembangan kota Purworejo. Misalnya perekonomian kota Purworejo yang semula kurang berkembang karena bergantung pada transportasi tradisional seperti kuda dan gerobak yang terbatas akhirnya menjadi lebih berkembang dengan kehadiran kereta api yang lebih efektif dan efisien. Kehadiran stasiun ini juga membuat kota Purworejo lebih terhubung dengan kota-kota lain yang sudah dilalui oleh jaringan kereta. Kemudian dari segi militer, kehadiran stasiun ini meningkatkan mobilitas militer dan menjadikan Purworejo terhubung dengan tangsi-tangsi militer di kota lain seperti Gombong (Musadad, 2001; 38).
Stasiun Purworejo ketika masih aktif. Terlihat masyarakat sekitar yang sedang menonton kereta yang sedang berhenti di stasiun.  (Sumber : https://c2.staticflickr.com/6/5083/5221964663_5b0087e39e_b.jpg ).
Pada masa selanjutnya, Stasiun Purworejo sempat ditutup selama 3 kali, yaitu pada masa kependudukan tentara Jepang, dan sekitar tahun 1952-1955. Saat peralihan menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) petak jalur tersebut kembali diaktifkan. Setelah itu pada tahun 1977, petak jalur Kutoarjo – Purworejo kembali ditutup dan tidak beroperasi lagi. Dekade 1990-an diaktifkan kembali pada masa kepemimpinan Goernito,Bupati Purworejo dan Haryanto Dhanutirto, Menteri Perhubungan saat itu. Saat ini jalur kereta api antara Stasiun Kutoarjo – Stasiun Purworejo sedang tidak aktif sejak tahun 2010, dikarenakan jalur yang ada saat ini belum layak untuk dilewati kereta api standar. Revitalisasi jalur Kutoarjo – Purworejo direncanakan dimulai setelah menunggu selesainya pekerjaan pergantian rel di jalur Butuh – Kutoarjo, untuk digunakan di jalur Kutoarjo – Purworejo ( Pranoto; 2012). Sayangnya, hingga kini belum ada tanda-tanda pengaktifan kembali stasiun Purworejo dan sekarang, stasiun ini menjadi semacam museum kecil. Mengingat stasiun ini adalah bangunan Cagar Budaya yang perlu dilestarikan, maka pada tahun 2012, bangunan stasiun dikonservasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT. KAI (Persero).

Sekelumit kejayaan yang Tertinggal
Denah kompleks stasiun Purworejo.
Stasiun Purworejo berada di jln. Mayjend. Sutoyo. Kira-kira berada 200 meter ke utara dari alun-alun Purworejo. Di sebelah timur stasiun, terdapat pasar Suronegaran yang setiap pagi selalu ramai. Pemilihan lokasi stasiun yang berada di ketinggian 63 meter ini tentu sudah melalui beberapa pertimbangan yang matang antara lain jalur kereta menuju ke stasiun diusahakan sesedikit mungkin tidak memotong jalur utama (Handinoto, 1999; 49) serta dekat dengan simpul-simpul perekonomian seperti pasar dan pemukiman.


Dari luar, kita akan melihat bangunan stasiun Purworejo tidak terlihat bedanya dengan bangunan-bangunan kolonial lain. Jendela besar berdaun krepyak, dinding tebal nan tinggi, dan arsitektur bangunan yang terlihat megah. Gaya arsitektur bangunan Stasiun Purworejo mirip dengan gaya arsitketur bangunan stasiun peninggalan Staatspoorwegen yang tersebar di Jawa Barat dan di Jawa Timur dengan ciri khas berupa fasad berbentuk atap pelana dan kadang dilengkapi dengan bovenlicht atau jendela kaca di tengahnya. Bersama dengan Stasiun Jebres di Solo, barangkali bangunan Stasiun Purworejo merupakan bangunan stasiun peninggalan Staatspoorwegen yang masih asli di Jawa Tengah.
Loket stasiun Purworejo.
Bovenlicht yang terlihat di atas pintu masuk stasiun.
Sebelum masuk ke dalam, kita akan disambut dengan dua buah pintu besar yang dinaungi oleh sebuah kanopi besi. Di atas kanopi ini, terdapat sebuah tiang bendera yang sudah ada sejak dahulu. Memasuki bagian dalam hall stasiun yang menjadi ruang tunggu pembeli tiket, ingatan saya sendiri kembali ke belasan tahun silam, ketika saya pertama kali datang ke stasiun ini. Teringat dahulu, di sebelah kiri, terdapat ruang tiket dengan jendela tiketnya yang tinggi dan di depannya para pembeli tiket sedang antre membeli tiket. Sementara itu perlu diketahui ,di seberang ruang tiket, terdapat sebuah ruang yang dahulu pernah ditempati oleh warung soto yang cukup legendaris di kota ini, Soto Stasiun Pak Rus. Saya jadi teringat aroma soto yang dahulu memenuhi ruangan dan menggoda perut setiap orang yang menciumnya. Banyak orang yang datang ke stasiun ini bukan untuk naik kereta, melainkan untuk menikmati semangkuk soto yang lezat ini. Stasiun Purworejo dikenal akan sotonya yang lezat dan sebaliknya, warung soto ini dikenal selain sotonya yang lezat juga karena lokasinya yang berada di dalam stasiun. Stasiun Purworejo dan warung soto tadi ibarat dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semenjak tahun 2011, warung soto tadi menempati bangunan baru yang ada di timur stasiun. Bagian dalam ruangan hall ini sangat terang karena mendapat pencahayaan alami yang berasal dari sinar matahari yang masuk lewat bovenlicht tadi. Di bagian atas stasiun, terlihat plafon stasiun yang terbuat dari kayu. Lantai bagian dalam stasiun yang dahulunya berupa ubin tegel, sempat diganti menjadi keramik dan kini diganti kembali dengan ubin tegel.
Tata ruang stasiun Purworejo.
Selanjutnya, kita akan berjalan memasuki bagian peron stasiun yang dinaungi oleh overkapping atau atap baja besar tempat dimana kereta memuat dan menurunkan penumpang. Terlihat barisan pintu-pintu ruangan yang dahulu digunakan untuk beberapa keperluan seperti ruang PPKA, ruang kepala stasiun, ruang tunggu kelas satu, ruang tunggu kelas dua, gudang dan lain-lain. Di antara dua pintu, kita akan melihat pilaster atau tiang semu yang menempel di dinding. Di samping pilaster tadi, terlihat sebuah pipa baja panjang yang menjulur ke bawah. Pipa baja ini dahulu menjadi tempat pembuangan air hujan yang jatuh di atap peron. Bagian lantai permukaan peron yang aslinya dilapisi dengan tegel impor kualitas tinggi sayangnya sekarang diganti dengan keramik murahan. 
Overkapping Stasiun Purworejo.
Alat pengatur sinyal Alkmaar.
Satu-satunya bangku penumpang dari masa kolonial yang masih tersisa di stasiun Purworejo. Bangku ini sekarang tersimpan di salah satu ruangan stasiun. Entah sudah berapa banyak orang yang pernah duduk di bangku ini.
Kondisi peron tempat para penumpang menaik-turunkan penumpang kereta ini sekarang terlihat sepi, jauh berbeda kondisinya ketika stasiun ini masih aktif di masa lalu. Kini, kita tidak akan melihat lagi pemandangan para penumpang yang menunggu kedatangan kereta, juga pemandangan para pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di sepanjang peron. Pemandangan orang-orang yang datang ke stasiun cuma untuk melihat kereta juga tidak ada lagi. Bunyi mesin lokomotif feeder bermesin diesel hidrolik sudah tidak lagi terdengar. Berbagai perasaan juga akan kita rasakan di peron ini. Ada perasaan sedih dari 
orang yang hendak ditinggal pergi oleh orang yang disayanginya dan entah apakah dia akan kembali lagi atau tidak. Ada juga perasaan bahagia dari orang yang sedang menunggu kedatangan seseorang yang dirindukannya dan di peron inilah akhirnya mereka dapat berjumpa lagi. Ya, itu semua kini tinggal kenangan saja. 
Peron stasiun.
Memasuki bagian emplasemen, tempat dimana kereta lewat dan berhenti, yang terlihat hanyalah sebidang tanah lapang saja. Dahulu, stasiun yang tergolong stasiun tepi ini memiliki empat lajur kereta dengan sebuah jalur sepur badug atau pemberhentian ujung. Rel jurusan Kutoarjo-Purworejo berhenti sampai di sini. Namun rupanya, rencana pemerintah Hindia-Belanda tidak sampai di sini saja. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, selain Cilacap, Purworejo juga akan dikoneksikan secara langsung dengan Semarang dengan membangun jalur kereta Purworejo-Muntilan.  Walaupun diperkirakan pembangunan  jalur ini akan cukup berat karena akan melewati perbukitan, tetapi dengan pertimbangan keuntungan yang didapat, kesulitan tadi dapat diantisipasi dengan rencana pembangunan terowongan sepanjang 350 meter yang akan menembus perbukitan Menoreh. Jalur ini rencanya tidak akan dikelola Staatspoorwegen melainkan oleh perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij. Kemungkinan besar selain untuk kepentingan militer, jalur ini juga akan dimanfaatkan sebagai jalur wisata karena jalur ini melewati Candi Borobudur yang sejak masa kolonial  sudah menjadi destinasi wisata (Kompas, 11 April 2015).
Perkiraan bekas lokasi depo stasiun Purworejo.
Perlu kita ketahui, stasiun ini dahulu memiliki sebuah depo lokomotif, tempat dimana  lokomotif diperbaiki dan mendapat perawatan. Lokasi depo ini diperkirakan terletak di dalam kompleks pemukiman TNI AD. Pada tahun 1930, fasilitas depo ini tidak digunakan lagi karena di stasiun Kutoarjo sudah ada fasilitas yang serupa dan juga menghemat biaya pengeluaran pemeliharaan gedung.
 
Bergerak keluar stasiun, tepatnya di seberang stasiun, kita akan melihat sebuah rumah tua yang sebenarnya ukurannya terbilang kecil, namun jendela krepyak yang besar menjadikan rumah ini terlihat besar. Di sebelahnya, terdapat rumah dengan bentuk serupa yang masih dihuni. Dua buah rumah tua ini dahulunya adalah rumah dinas pegawai stasiun Purworejo. Di masa lalu, keberadaan sebuah stasiun pasti diikuti dengan rumah dinas tempat para pegawai stasiun tinggal yang biasanya dibangun di dekat stasiun agar mobilitas pekerja dari tempat tinggal ke tempat kerja lebih lancar serta untuk memudahkan pengawasan, bangunan rumah dinas dibangun menghadap ke arah stasiun.
Rumah dinas untuk pegawai dari bangsa pribumi.
Di sebelah barat stasiun, tepatnya di dekat saluran air Kedung Putri, kita juga akan menjumpai rumah dinas dengan ukuran jauh lebih mungil daripada dua rumah tadi dan terlihat tidak dilengkapi dengan jendela krepyak yang besar. Rumah-rumah mungil bertipe kopel ini kemungkinan merupakan rumah milik pegawai stasiun dari bangsa pribumi. Pegawai-pegawai ini biasanya bekerja di posisi rendah.

Demikianlah tulisan saya tentang Stasiun Purworejo yang ternyata memiliki peran cukup luar biasa di masa lalu. Kita semua tentunya berharap keberadaan stasiun ini dapat dijaga dengan baik mengingat stasiun ini merupakan bukti sejarah betapa pentingnya kota Purworejo di masa lalu, sampai-sampai pemerintah kolonial membuat sebuah stasiun kereta di kota ini. Jika saja stasiun ini tidak pernah ada, barangkali perkembangan kota Purworejo di masa lalu akan lebih lambat jika dibandingkan dengan kota-kota lain.

Referensi
Agung Pranoto dalam budayapurworejo.blogspot.com/2012/02/stasiun-purworejo.html

heritage.kereta-api.co.id.

Kompas, 11 April 2015.

Anonim. Nederlansch Indische Staatspoor en Tramwegen. Nederlands Welvaart.

Handinoto. 1999. " Perletakan Stasiun Kereta Api dalam Tata Ruang Kota di Jawa (Khususnya Jawa Timur) pada Masa Kolonial " dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Musadad. 2002. " Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930 ", Laporan Penelitian, Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.