Kamis, 11 Februari 2016

Membongkar Ingatan di Stasiun Purworejo

Gedung stasiun tua itu berdiri di suatu tepi jalan di Purworejo yang ramai hilir mudik kendaraan. Kusen kayu jati, dinding tebal nan tinggi, dan atap baja makin menegaskan kekunoan bangunan stasiun itu. Ya, itulah Stasiun Purworejo, sebuah stasiun sarat kenangan yang menghantarkan saya pada sebuah ingatan belasan tahun silam, ketika saya bersua dengan kereta api untuk pertama kalinya. Deru suara mesin lokomotif diesel yang menggema di peron stasiun masih sedikit terngiang di telinga saya. Kini, saya mencoba untuk membongkar kembali ingatan saya di stasiun ini, seraya menerawang lebih jauh sejarah dari stasiun Purworejo.
Overkapping yang menaungi peron Stasiun Purworejo. Di kejauhan, tampak perbukitan Menoreh, dimana dulu Belanda hendak membangun jalur kereta melintasi perbukitan itu.
Dari luar, bangunan Stasiun Purworejo tak begitu istimewa dibandingkan dengan stasiun kuno yang pernah saya sambangi seperti Stasiun Ambarawa, Stasiun Tawang, atau Stasiun Jebres. Namun kenangan yang membungkusnya yang membuat saya tertarik untuk melangkah masuk kembali ke stasiun itu. Di lobi tempat dulu penumpang membeli tiket, saya masih menjumpai loket yang kini tertutup rapat. Entah kapan loket itu akan kembali buka melayani penumpang. Saya seketika kembali teringat, persis di samping kanan ruang lobi ini, pernah ada sebuah warung soto legendaris di kota ini. Soto Stasiun Pak Rus namanya. Benak saya seketika teringat dengan aroma soto yang dahulu menyeruak seisi ruangan lobi, menggoda perut setiap orang yang menciumnya. Dulu, alih-alih datang untuk naik kereta atau membeli tiket, orang-orang justru datang ke sini sekedar untuk menyantap semangkuk soto yang lezat itu. Stasiun Purworejo dulu tersohor dengan sotonya yang lezat. stasiun tua. Ibarat mata uang, keberadaan Stasiun Purworejo dan Warung Soto itu tak dapat dipisahkan. Sayangnya, mereka akhirnya harus berpisah setelah stasiun ini tak lagi dipakai dan warung soto itu pindah ke timur stasiun. 
Loket stasiun Purworejo.
Bovenlicht yang terlihat di atas pintu masuk stasiun.
Kondisi peron itu masih terlihat mirip ketika saya mengenal dengannya untuk pertama kali belasan tahun silam. Rangka kanopi peron yang melengkung masih utuh di tempatnya beserta atap bajanya. Lantai keramik ; yang menggantikan ubin tegel lawas, juga masih terhampar di lantai peron. Walau demikian, suasana peron itu telah berubah drastis. Ya, peron itu kini sudah lengang. Tiada lagi terlihat penumpang kereta yang sedang menunggu kereta, pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, para petugas stasiun yang sedang sibuk bekerja, ataupun orang-orang yang datang ke stasiun sekedar penasaran dengan rupa kereta. Beragam rasa terekam dengan baiknya di setiap dinding stasiun ini. Ada rasa sedih dari orang hendak ditinggal pergi oleh orang yang dikasihinya. Ada pula perasaan bahagia yang muncul dari mereka yang sedang menyambut sanak keluarga yang mereka rindukan. Ya, stasiun pada dasarnya adalah sebuah tempat yang unik karena disinilah perjumpaan dan perpisahan berkelindan dalam satu ruang, menjadikan tempat ini kental dengan segala ingatan....
Peron Stasiun Purworejo yang kini lengang.
Alat pengatur sinyal Alkmaar.
Betapa lengangnya suasana peron siang itu. Kontras sekali dengan suasana peron itu  ketika untuk pertama kalinya saya mendengarkan gemuruh bunyi mesin lokomotif feeder bermesin diesel hidrolik yang baru saja tiba. Sayapun bersama keluarga bergegas menaiki salah satu gerbong. Sungguh tak disangka, pengalaman saya pertama kali naik kereta api kala itu akan menjadi pengalaman terakhir saya begitu mengetahui jalur Purworejo -Kutoarjo dinon-aktifkan pada tahun 2010. Namun sesungguhnya, bukan kali itu saja stasiun ini dinon-aktifkan. Di bawah bayang-bayang kanopi berangka baja melengkung itu, saya mencoba untuk mengingat awal mula kehadiran kereta api di kota pensiun ini….
Station Purworejo ca. 1910. Terlihat beberapa kusir dokar yang sedang menunggu penumpang di depan stasiun. Jalan di depan stasiun ini dahulu bernama Stationlaan (sumber ; media-kitlv.nl).
Riwayat berdirinya stasiun Purworejo tidak terlepas dari pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Yogyakarta-Cilacap. Kala itu, jalur kereta pertama kali dirintis perusahaan swasata Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij  yang menghubungkan Semarang dengan Yogyakarta sejak tahun 1863. Sesudah itu, pemerintah kolonial berharap agar seluruh Pulau Jawa juga dapat dilewati oleh jalur kereta. Namun dengan kegagalan yang menimpa Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij di masa awal, pemerintah kolonial mengambil alih kepentingan pembangunan jalur kereta dengan melahirkan jawatan kereta Staatspoorwegen ( SS ). Tugas utama BUMN kolonial ini adalah membangun hubungan jalur kereta yang belum sempat dilirik oleh perusahaan swasta. Staatspoorwegen akhirnya melirik hubungan Yogyakarta dengan kota-kota di pantai selatan Jawa seperti Kutoarjo, Gombong, Purworejo dan Cilacap yang belum digarap oleh N.I.S.M. Apalagi di sana terdapat garnisun militer penting seperti Gombong dan Purworejo dan di sana sudah ada Cilacap yang menjadi satu-satunya pelabuhan besar di pesisir selatan Jawa. Karena itulah,  Staatspoorwegen yang saat itu di bawah H.G. Derx 20 Juli 1887 meresmikan jalur kereta yang terbentang dari Cilacap hingga Yogyakarta. Pembangunan diborong oleh Burgerlijke Openbare Werken ( DPU zaman kolonial ) dibantu oleh zeni militer.
Kepala Stasiun Purworejo pada tahun 1892, J. W. Hille. Sebelumnya, dia  ( Java Bode ; Nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, tanggal 30 September 1892)
Dalam perencanaan pembangunan jalur tersebut, pemerintah kolonial meminta agar Purworejo yang berada di timur Kutoarjo juga disambung dengan jalur kereta. Pemerintah kolonial merasa jika Purworejo perlu dihubungkan dengan kota pelabuhan untuk mendatangkan kebutuhan militer. Saat itu ada dua kota pelabuhan yang terdekat dengan Purworejo, yakni Semarang dan Cilacap. Supaya pembangunannya lebih mudah, pemerintah kolonial memilih Cilacap terlebih dahulu karena medannya datar. Maka jadilah jalur kereta Kutoarjo-Purworejo sepanjang 12 kilometer. Musadad ( 2001 ) dalam laporan penelitiannya menyebutkan, perekonomian kota Purworejo yang semula kurang berkembang karena bergantung pada transportasi tradisional seperti kuda dan gerobak, akhirnya menjadi lebih maju berkat kehadiran kereta api yang lebih efektif dan efisien. Ditinjau dari segi militer, kehadiran stasiun ini juga meningkatkan mobilitas militer dan menjadikan Purworejo terhubung dengan garnisun militer di kota lain seperti Gombong (Musadad, 2001;38).
Denah kompleks stasiun Purworejo.
Sekalipun jalur kereta api Kutoarjo ke Purworejo telah ada di tahun 1887, namun bangunan Stasiun Purworejo baru dibangun pada tahun 1901 (Musadad, 2001;28 ). Langgamnya terlihat beda-beda tipis dengan bangunan stasiun milik Staatspoorwegen yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Timur. Bersama dengan Stasiun Jebres di Solo, barangkali Stasiun Purworejo merupakan bangunan stasiun peninggalan Staatspoorwegen di Jawa Tengah yang masih asli. Untuk sarana penunjang, di sekitar stasiun juga dibangun rumah tinggal untuk pegawai stasiun dan sebuah depo lokomotif, tempat dimana lokomotif diperbaiki dan dirawat. Namun pada tahun 1930, kegiatan depo Stasiun Purworejo dipindahkan ke Stasiun Kutoarjo untuk menghemat biaya pemeliharaan gedung. Depo itu kini menjadi perumahan tentara.
Rumah dinas pegawai stasiun.
Masa-masa selanjutnya merupakan masa dimana Stasiun Purworejo nasibnya terombang-ambing. Ia sempat ditutup pada masa kependudukan tentara Jepang. Awal kemerdekaan ia dibuka kembali, lalu ditutu kembali sekitar tahun 1952-1955. Lalu saat peralihan menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) petak jalur tersebut kembali dibuka. Kemudian tahun 1977, ia kembali ditutup hingga dekade 1990-an. Setelah tak dipakai sekian lama, sekitar tahun 1990an, ia diaktifkan kembali pada masa kepemimpinan Goernito, Bupati Purworejo dan Haryanto Dhanutirto, Menteri Perhubungan kala itu. Tahun 2010stasiun ini akhirnya kembali diistirahatkan karena rel yang terbentang di sepanjang jalur kereta Purworejo-Kutoarjo rupanya belum layak untuk dilintasi kereta api standar (Agung Pranoto;2012). Karena stasiun ini merupakan Cagar Budaya, maka ia sempat dikonservasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT. KAI (Persero) di tahun 2012. Sampai tulisan ini dibuat ( 2017 ), tak ada tanda-tanda stasiun ini akan hidup kembali. Rel-rel di emplasemen sudah lama menganggur. Ruang kantor stasiun masih kosong melompong. Loket juga belum kunjung dibuka. Stasiun itu masih beristirahat dengan kesunyiannya yang panjang…
Satu-satunya bangku penumpang dari masa kolonial yang sekarang tersimpan di salah satu ruangan stasiun. Entah sudah berapa banyak orang yang pernah duduk di bangku ini.
Saya kini berdiri bersandar pada salah satu tiang baja atap kanopi. Tatapan mata saya mengarah ke ujung emplasemen stasiun di sebelah timur. Di kejauhan, tampak hijaunya perbukitan Menoreh yang dulu hendak ditembus oleh jalur kereta. Pembangunan jalur kereta di Purworejo rupanya tak berhenti sampai di Stasiun Purworejo saja. Sedianya, pada 1881 pemerintah kolonial hendak meneruskan pembangunan jalur kereta sampai Magelang, menembus dan membelah perbukitan Menoreh. Pemerintah kolonial rupanya juga menyimpan rencana menghubungkan Purworejo dengan kota pelabuhan lain yang lebih besar, Semarang. Pembangunan jalur itu akan menjadi salah satu yang terberat dalam sejarah perkeretapian di Indonesia. Bayangkan saja, berapa banyak bukit yang akan dibelah dan jembatan yang harus dibangun di atas jurang sungai yang dalam. Konon, sebuah terowong sepanjang 350 meter akan digali menembus perut perbukitan Menoreh. Namun semua kesulitan tadi akan terbayarkan dengan manfaat besar yang dihasilkan dari jalur tersebut. Dua kota pelabuhan penting, yakni Semarang di utara dan Cilacap di selatan akan tersambung. Jalur tersebut juga bakal menyatukan garnisun militer di Gombong, Purworejo, Magelang, dan Ambarawa sehingga mobilitas militer akan meningkat. Tak hanya untuk kepentingan ekonomi dan militer, jalur itu nantinya juga dipakai untuk kepentingan wisata karena jalur itu akan melewati Candi Borobudur. Rencananya, jalur itu tidak  akan dikelola oleh Staatspoorwegen, melainkan oleh operator kereta api swasta terbesar kala itu, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (Kompas, 11 April 2015). Begitu manisnya harapan pemerintah kolonial itu namun harapan mereka pupus, sirna ditelan kenyataan bahwa keadaan Hindia-Belanda yang terancam perang saat itu sedang tidak memungkinkan untuk membangun jalur kereta baru. Hingga pergantian pemerintahan dari kolonial ke Republik Indonesia, jalur tersebut juga tak kunjung diwujudkan. Alhasil, gagasan tadi pada akhirnya hanya tersimpan di rak arsip....
Stasiun Purworejo ketika masih aktif. Terlihat sebuah kereta yang hendak berangkat ke Kutoarjo. Kapankah pemandangan ini akan terlihat kembali ?  (Sumber : https://c2.staticflickr.com/6/5083/5221964663_5b0087e39e_b.jpg ).
Hari ini, stasiun penuh kenangan itu masih tertidur lelap. Ia sedang menunggu deru suara mesin kereta yang akan membangunkannya suatu hari nanti. Saya yakin, betapa rindunya warga Purworejo mendengar bunyi kereta yang melaju di tengah kotanya. Sayapun juga membayangkan seandainya saja stasiun ini tak pernah ada, barangkali kota Purworejo tak akan semaju sekarang. Maka, sudah sepantasnya warga Purworejo berterima kasih kepadanya dengan cara melestarikanya untuk kebaikan anak cucu kita..

Referensi
Agung Pranoto dalam budayapurworejo.blogspot.com/2012/02/stasiun-purworejo.html

heritage.kereta-api.co.id.

Kompas, 11 April 2015.

Anonim. Nederlansch Indische Staatspoor en Tramwegen. Nederlands Welvaart.

Handinoto. 1999. " Perletakan Stasiun Kereta Api dalam Tata Ruang Kota di Jawa (Khususnya Jawa Timur) pada Masa Kolonial " dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Musadad. 2002. " Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930 ", Laporan Penelitian, Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

6 komentar:

  1. Ulasannya menarik2..jd pengen tahu lbh dekat tentang peninggalan kolonial utamanya yang ada di jogja..

    BalasHapus
  2. Bangga jadi cucu orang Purworejo

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Adik suryantoro.setuju gk gaes,ulasan sya d bawah Ney...

      Hapus
  4. Seandainya saya boleh usul,stasiun Purworejo yg buntu alangkah baiknya d teruskan k magelang.msal takut Trase/jalur bru yg mamakan anggaran yg besar karena kontur tanah perbukitan gmn bikin jalur kreta api d bikin GK jauh dr sungai yg memanjang menuju Magelang.krn menurut pengamatan sy,jalur kreta api yg ad d prbkitan,belanda membikin ngikuti arah sungai yg arahnya kota k kota laen.i love u,Purworejo(ch mboto).

    BalasHapus