Minggu, 07 Februari 2016

Menjelajahi Bangunan Indis di Kawasan Bintaran, Yogyakarta

Kota Yogyakarta memang banyak memiliki kawasan-kawasan yang di situ banyak berdiri bangunan heritage. Mulai dari kawasan Jeron Beteng, Kilometer Nol, Malioboro dan Kotabaru. Selain itu, perlu anda ketahui sebenarnya masih ada satu lagi kawasan heritage yang masih jarang diektahui orang. Kawasan itu adalah kawasan Bintaran yang berada di sebelah timur Jembatan Sayidan. Di kawasan ini kita akan banyak menjumpai bangunan-bangunan Indis yang khas sekali bentuknya. Kira-kira seperti apa sejarah kawasan ini dan bangunan Indis apa saja yang ada di sini ? Simak terus tulisan saya di sini.


Sejarah Kawasan Bintaran

Peta lokasi  Bintaran.
Asal muasal nama Bintaran berasal dari nama seorang trah Keraton Yogyakarta yang dahulu pernah tinggal di sini, yakni Pangeran Haryo BintoroPangeran Haryo Bintoro  tinggal di sebuah rumah bernama Ndalem Mandala Giri. Sejarah perkembangan kawasan Bintaran berhubungan erat dengan keberadaan pemukiman masyarakat Belanda yang sudah ada terlebih dahulu di Yogyakarta, yakni Loji Besar (Benteng Vredeburg) dan Loji Kecil (sisi timur benteng Vredeburg hingga sungai Code). Ternyata dua kawasan ini dianggap sudah tidak layak dihuni lagi karena lahan yang ada begitu sempit. Oleh karena itu orang-orang Belanda, terutama orang-orang Belanda kaya, memindahkan hunian mereka ke kawasan Bintaran yang berada di sisi timur sungai Code. Pada waktu itu, kawasan Bintaran tanahnya masih luas. Orang-orang Belanda yang bermukim di Bintaran ini adalah para pekerja seperti opsir, pegawai di Keraton Pakualaman dan pegawai pabrik gula (Reni Vitasurya. 2014;6 ).

Perbandingan peta Bintaran tahun 1925 dengan citra satelit sekarang.
Meski mereka sudah tinggal di Bintaran, mereka masih menggunakan fasilitas umum yang berada di Loji Besar dan Loji Keci. Lambat laun orang-orang Belanda yang bermukim di Bintaran semakin banyak, maka beberapa fasilitas umum mulai didirikan di dekat Bintaran seperti bioskop (Bioskop Permata), gereja (Gereja St.Yusuf) dan sebuah penjara (Penjara Wirogunan). Bangunan rumah tinggal di Bintaran memiliki arsitektur yang hampir sama di kawasan Loji Kecil, hanya saja halamannya lebih luas dan ukurannya lebih besar (Inajati. 2009; 173- 174 ).


Bangunan-bangunan Indis di Bintaran

Museum Sasmita Loka.
Penjelajahan kita di Bintaran akan kita mulai terlebih dahulu di Museum Sasmita Loka Jenderal Sudirman yang ada di jalan Bintaran Wetan. Untuk masuk ke dalam, kita cukup lapor kepada petugas jaga dan tidak dipungut biaya sama sekali. Bangunan museum yang dahulunya adalah tempat tinggal milik pejabat keungan Pakualam bernama Wijnschenk ini barangkali merupakan rumah terbesar yang ada di kawasan Bintaran. Di beranda depannya yang luas dan tinggi kita akan dibuat terpesona dengan tiang-tiang depan penopang dari besi cor yang terlihat anggun dengan balutan ornamen sesuluran. Jika kita perhatikan bagian atap yang berbentuk limas, kita akan mengetahui bahwa atap bangunan ini tidak dilapisi dengan genting seperti bangunan pada umumnya, melainkan dilapisi dengan sirap ! Di bagian depan, kita akan disambut dengan tiga buah pintu berdaun ganda yang sangat tinggi sampai kita akan dibuat bingung harus masuk lewat mana kita. Tinggi pintu ini sepertinya disesuaikan dengan postur orang Belanda yang tinggi-tinggi.



Beranda depan.
Memasuki bagian dalam, hawa di dalam ruangan terasa sejuk sekali di tengah udara kota Yogyakarta yang cukup panas. Hawa di dalam ruangan terasa sejuk berkat dinding yang tebal dan tinggi, besarnya bukaan yang ada seperti pintu dan jendela serta lantai rumah yang ditutup dengan lempengan batu marmer berwarna putih susu. Saya sendiri mencoba mencopot alas kaki saya untuk merasakan sejuknya lantai marmernya dan benar saja, permukaan kaki saya jadi terasa dingin. Penggunaan lantai marmer putih ini selain untuk menambah kemewahan interior, juga menambah kesejukan udara di dalam ruangan. Dari tekstur warnanya, batu marmer ini diimpor jauh dari Italia, negara yang terkenal akan hasil tambang marmernya. Karena kualitasnya bagus dan untuk mendatangkannya butuh biaya tinggi, maka harga marmer Italia di sini menjadi mahal dan hanya orang-orang yang benar-benar mampu saja yang seluruh lantai rumahnya ditutup dengan marmer. Saya membayangkan betapa kayanya si Meneer Wijnschenk.

Ruang depan.
Langit-langit rumah yang terbuat dari kayu jati.
Di bagian dalam, kita akan melihat patung dada Jenderal Sudirman. Jenderal Sudirman beserta keluarganya memang pernah tinggal di rumah ini pada masa Revolusi Fisik. Barang-barang yang dipamerkan di museum ini merupakan peninggalan-peninggalan milik Jenderal Sudirman seperti ranjang dulu Jenderal Sudirman tidur bersama istrinya, meja kerja tempat dimana Jenderal Sudirman menulis surat-surat penting, pedangsamurai yang dahulu pernah dipakai oleh Jenderal Sudirman ketika masih menjadi perwira militer untuk Jepang dan lain sebagainya. Setelah Jenderal Sudirman tidak tinggal di rumah ini, bangunan ini digunakan sebagai markas militer hingga pada tahun 1982, bangunan ini diresmikan sebagai museum.
Koridor Tengah.
Kamar dahulu Panglima Besar Sudirman tidur.


Denah bagian dalam cukup sederhana, yakni terdiri dari sebuah koridor tengah dengan dua kamar di samping kanan-kirinya. Di kamar-kamar inilah, baik keluarga Wijnschenk maupun keluarga Jenderal Sudirman dahulu tidur. Masuk ke bagian dalam kamar-kamar ini, kita bisa melihat bagian lantai kamar yang tidak dilapisi dengan marmer lagi, melainkan dengan ubin tegel. Ubin tegel ini terlihat cantik dengan ornamen sesuluran. Menariknya lagi, ubin tegel ini juga melapisi sebagian dinding ruangan.
Ornamen tegel yang ada di dalam museum
Bovelincht atau hiasan ventilasi berbentuk anak panah yang mengarah ke tengah.

Beranda belakang.
Bangunan ini memiliki sebuah beranda belakang. Jika dahulu beranda depan merupakan area semi public dimana si tuan rumah menerima tamu, beranda belakang adalah area privat untuk keluarga yang tinggal di rumah ini. Di beranda belakang inilah keluarga menghabiskan waktunya sambil melihat kebun belakang rumah.
Paviliun tamu.
Berada di samping kanan dan kiri bangunan utama, terdapat sebuah bangunan berukuran kecil yang disebut paviliun tamu. Bangunan kecil ini dahulu ditempati oleh ajudan Jenderal Sudirman.

Rumah kembar di jln Bintaran Wetan.
Bekas paviliun yang kini menjadi PAUD.
Keluar dari museum, kita dapat menjumpai dua buah rumah tua kembar di sebelah selatan museum, yang berdasarkan papan penanda warisan budaya yang terpasang di depan rumah, rumah ini dihuni oleh bapak Sutrisno dan bapak Sujatmiko. Kedua rumah ini kuncungan atapnya yang menghadap ke depan. Aslinya dua rumah ini beranda depan yang terbuka namun beranda ini sekarang ditutup untuk menambah ruangan. Dari atas, dua buah rumah ini memiliki bangunan tambahan yang denahnya berbentuk seperti huruf L. Tepat di sebelah utara rumah bapak Sujatmiko, terdapat sebuah bangunan kecil yang dahulu merupakan bagian paviliun dari rumah tadi. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai PAUD.
Rumah dr. Wiryo.
Penjelajahan akan kita teruskan ke jalan Sultan Agung yang dipadati oleh lalu lintas kendaraan bermontor. Di sepanjang jalan ini, kita masih bisa melihat beberapa bangunan lama yang berdiri meski banyak yang sudah hilang. Salah satu bangunan lama yang masih berdiri itu akan kita jumpai di sudut pertigaan Jalan Sultan Agun dan Jalan Bintaran Wetan. Dari luar, bangunan terlihat kosong tapi begitu masuk ke dalam lewat pintu gerbang kayu di samping rumah, bangunan ini ternyata masih ditempati oleh pemiliknya. Pemilik rumah ini ternyata masih satu keluarga dengan dr. Wiryo, dokter pribadi Presiden Sukarno. Menurut penuturan tuan rumah, bagian depan sengaja ditutup karena sebelumnya banyak pemabuk atau gelandangan yang kerap tidur di bagian beranda depan rumah, akhirnya bagian depan ditutup demi keamanan. Sekilas dari luar, bentuk rumah ini persis sekali dengan Museum Sasmita Loka Jenderal Sudirman namun ukurannya sedikit kecil. Terdapat beranda depan dan beranda belakang yang terbuka, terlihat adanya pilar-pilar besi di bagian depan dan terdapat tiga pintu masuk besar di bagian depan. Jendela krepak yang tinggi di samping rumah semakin menambah kesan bahwa rumah ini masih asli dari masa kolonial.



Museum Biologi.
Dari rumah dr.Wiryo kita teruskan perjalanan ke Museum Biologi. Bentuk bangunan masih serupa dengan dua bangunan yang kita kunjungi tadi, hanya saja beranda depan dan belakang tidak terbuka lagi. Di dinding bagian luar saya bisa melihat elemen arsiktetur Eropa yang disebut dengan pilaster. Pilaster adalah hiasan dinding berbentuk seperti tiang tempelan. Museum ini berisi koleksi yang berkaitan dengan dunia Biologi seperti jasad hewan yang diawetkan dan tulang-tulang hewan. Masuk ke dalam museum, kondisi museum sama seperti museum-museum lain di negeri ini, gelap dan sepi pengunjung. Pada waktu itu, hanya saya saja yang ada di dalam ruangan museum. Dari koleksi yang ada, sebenarnya cukup bagus, mirip dengan koleksi museum-museum alam di luar negeri seperti Museum History of Nature yang ada di kota New York. Entah karena kurang promosi, penataan koleksi kurang menarik atau minat masyarakat yang masih kurang, yang jelas museum ini perlu diperbaiki manajemennya sehingga pengunjung yang datang ke museum ini semakin banyak.
Bangunan lama di Jln.Sultan Agung yang sedang diperbaiki.

Perjalanan masih kita teruskan di sepanjang jalan Sultan Agung. Dahulu di sini banyak bangunan dengan model seperti tiga bangunan yang saya kunjungi tadi. Namun seiring dengan perkembangan zaman, bangunan-bangunan yang dahulu banyak berdiri di sepanjang jalan, kini sudah hilang.

Bekas bioskop Permata.

Bekas bioskop Permata.
Di seberang jalan, tepatnya di sudut perempatan lampu merah, terdapat sebuah bangunan tua bekas bioskop permata. Dari gaya bangunan yang bergaya arsitektur art deco, bangunan ini dibangun pada tahun 1930an.Di seberang jalan, tepatnya di sudut perempatan lampu merah, kita akan melihat sebuah bangunan tua bekas bioskop permata. Dari gaya bangunan yang bergaya arsitektur art deco, bangunan ini dibangun pada tahun 1930an.



Kantor Kadin.
Kita berbelok ke Jalan Bintaran Kulon. Di sini terdapat Kantor Kadin yang dari fasadnya sepetinya adalah bangunan lama. Tepat di sampingnya, terdapat warung bakmi Kadin yang legendaris itu. Dinamakan Bakmi Kadin karena lokasinya berada di samping kantor Kadin.

Gereja Santo Yusuf Bintaran.
Sampai di pertigaan jalan Bintaran Kulon dengan jalan Bintaran Tengah, kita dapat melihat sebuah bangunan gereja yang cukup unik. Gereja itu adalah Gereja Santo Yusuf Bintaran. Keunikan gereja ini terletak pada bentuk atapnya yang melengkung. Gereja ini diresmikan pada hari Minggu, tanggal 8 April 1934 oleh Pastur A. TH. Van Hoof.S.J. Desain arsitektur gereja ini dibuat J. H. van Oijen B.N.A. sementara pembangunan gereja ini dikerjakan oleh Hollandsche Beton Matschapipij (Antonius Aji Bakhtiar. 2010;34). Di gereja inilah pernah bertugas seorang pastor yang juga menjadi salah satu pahlawan nasional, Mgr. Soegijapranata. Walaupun aslinya gereja ini diperuntukan untuk umat Katolik dari suku Jawa, namun gaya arsitekturnya sama sekali tidak terlihat ada unsur tradisional Jawanya.

Hiasan Rose Window.
Atap gereja yang unik ini terbuat dari beton dan sama sekali tidak memiliki tiang penyangga. Untuk membentuk atap seperti ini, caranya yakni pertama membuat anyaman bambu besar dan kemudian dibuat melengkung, lalu di atas atap tadi dituang adonan beton. Setelah beton mongering, anyaman bambu tadi dicopot. Hingga kini bekas anyaman ini masih terlihat di langit-langit gereja. Seluruh jendela yang ada di gereja ini berbentuk lingkaran dengan lubang angin yang polanya dibuat sedemikan rupa sehingga terlihat seperti pola rose-window, jenis pola jendela yang lazim dipakai pada bangunan gereja.

Panti Paroki di belakang Gereja.
Berada di belakang gereja ini, terdapat Panti Paroki dengan beranda depan yang sangat luas dan besar sekali. Pintu-pintu masuknya juga tidak kalah tinggi. Beranda ini saking luasnya dapat dipakai sebagai aula. Di sini, tergantung sebuah potret Mgr. Soegijapranata yang dahulu pernah bertugas di gereja ini.


Sebuah bangunan lama di depan Gereja Bintaran. Saat ini dipakai sebagai tempat kursus seni rupa.
Selanjutnya, penjelajahan kita teruskan dengan menyusuri jalan Bintaran Tengah yang membelah kawasan Bintaran. Tepat di depan gereja, terdapat sebuah bangunan lama yang sepertinya baru saja direhab dan sekarang menjadi tempat kursus senir rupa.

Bekas rumah tinggal John Henry Paul Sagger.

Bangunan paling mencolok yang bisa kita lihat di jalan ini adalah sebuah rumah tua bekas kediaman John Henry Paul Sager. Bentuk rumah ini sangat berbeda dengan rumah-rumah yang sudah kita lihat sebelumnya karena tidak terdapat pilar-pilar besar di bagian depan. Uniknya, rumah tua ini ternyata memiliki dua beranda depan yang dipisahkan oleh sebuah ruangan besar di tengah-tengah. Pada bagian fasad kita bisa melihat ekspose batu-bata di pinggiran sudut dinding dan hiasan puncak atap yang disebut makelaar. Sama seperti Museum Sasmita Loka, atap rumah ini terbuat dari sirap.
Hiasan plafon.
Salah satu hiasan dinding yang bahannya terbuat dari semacam seng.
Memasuki bagian dalam, kita akan dibuat terpesona dengan interior bangunan ini. Lantai tegel yang masih asli, dinding bagian dalam yang dihiasi dengan hiasan dinding yang terbuat dari semacam seng, dan plafon rumah yang sebenarnya terlihat mewah namun karena faktor usia sehingga plafon ini terlihat kusam.


Bangunan lama yang saat ini dipakai sebagai asrama mahsiswa Kalimantan Barat Rahadi Osman 1.
Kita kembali lagi ke Jalan Bintaran Tengah. Jika dibandingkan dengan jalan Sultan Agung,  jalan ini jauh lebih sepi, apalagi di malam hari. Suasana jalan ini sebenarnya sangat nyaman sekali untuk tempat nongkrong, apalagi dengan keberadaan bangunan heritage nya. Sayangnya potensi ini masih belum banyak dilirik oleh banyak pihak.

Di sepanjang jalan ini, dapat kita jumpai bangunan-bangunan lama yang dimanfaatkan sebagai asrama mahasiswa dari luar daerah.

Rumah indis di Jln. Bintaran Tengah.
Masih di jalan Bintaran Tengah, kita dapat melihat sebuah rumah antik yang bagian berandanya terdapat kolom-kolom berukuran besar. Rumah yang menghadap ke utara ini, sama seperti Museum Sasmita Loka, rumah dr.Wiryo, dan Museum Biologi memiliki tiga buah pintu depan yang sangat tinggi. Di samping timur rumah ini, terdapat bangunan serupa dengan kolom-kolom besarnya yang berorder dorik. Halaman depan rumah ini bersentuhan langsung dengan badan jalan.

 
Dua rumah kembar tapi beda di jln. Bintaran Tengah.
Persis di depan rumah tadi, akan kita temukan dua buah rumah tua yang ukurannya lebih kecil. Dua rumah ini rupanya memiliki bentuk yang serupa. Salah satu rumah yang berada di sisi barat setiap malam digunakan sebagai warung jagung bakar. Saya sendiri sering datang ke sini. Selain murah dan kental nuansa heritage nya, suasananya setiap malam juga nyaman sekali buat nongkrong sambil menikmati suasana Jalan Bintaran Tengah yang setiap malam selalu sepi namun syahdu. Bagi saya, tidak ada satupun tempat nongkrong di Yogyakarta yang suasana kenyamanannya menyamai warung jagung bakar ini.

Ndalem Mandala Giri. Bangunan ini dahulu pernah dipakai sebagai kantor Yayasan Karta Pustaka.
Akhirnya penjelajahan kita di Kawasan Bintaran berkahir di Ndalem Mandala Giri, tempat dahulu Pangeran Haryo Bintoro tinggal yang berada di pertigaan jalan Bintaran Tengah dengan Bintaran Kulon. Ndalem ini sekarang digunakan sebagai restoran.

Bangunan lama di pertigaan jalan Bintaran Kidul dan Bintaran Wetan.
Sekilas Analisis Bangunan Indis di Bintaran


Jika kita amati, rata-rata bangunan tua di kawasan Bintaran memiliki beberapa kesamaan, yakni bertingkat satu, memiliki tiga pintu depan yang tinggi, terdapat barisan kolom di bagian beranda depan, denah dasar yang sederhana yang selalu mencakup dua beranda sertas suatu koridor di tengah dengan dua atau tiga kamar di samping kanan-kirinya, dan bangunan samping atau Bijgebouwen dalam bentuk huruf ‘L’ atau ‘U’. Oleh Adolf Heuken, bangunan seperti ini disebut sebgai Indisch Woonhuizen (Heuken,Adolf,9;2001).
Sebuah rumah Indisch Woonhuisen. Lokasi tidak diektahui (sumber : colonialarchitecture.eu).
Nah, latar belakang munculnya bentuk bangunan Indis seperti ini menurut Djoko Soekiman dalam bukunya, “Kebudayaan Indis”, disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama terkait dengan strata sosial yang dibuat oleh bangsa Eropa di masa kolonial. Bangsa Eropa merasa mereka berada di lapisan teratas, maka untuk mengukuhkan kedudukanya di hadapan bangsa Pribumi yang dianggapnya lebih rendah, bangsa Eropa membangun bangunan tempat tinggalnya dalam bentuk yang khusus (Djoko Soekiman, 1997; 5). Faktor kedua terkait dengan upaya adaptasi orang-orang Eropa dengan keadaan iklim setempat. Seperti yang diketahui, orang-orang Eropa terbiasa tinggal di daerah iklim dingin, sehingga bangunan tempat tinggal mereka dibuat tertutup agar ruangan di dalam terasa hangat. Selanjutnya setelah mereka tinggal di sini, iklim di sini ternyata berbeda jauh dengan di Eropa sana. Tentunya rumah model tertutup tadi tidak cocok dibangun di sini karena hal itu malah membuat mereka kegerahaan dan kepanasan. Sehingga agar mereka nyaman tinggal di sini, maka dibuatlah bangunan yang berukuran tinggi, tembok yang tebal, ruangan yang luas, dan jendela yang tinggi sehingga ruangan di bagian dalam terasa sejuk dan nyaman (Djoko Soekiman, 1997;10 ).

Nah, agar kita lebih tahu bagaimana gambaran tentang rumah-rumah Indis di masa lalu, dapat dibaca pada tulisan yang saya kutip dari Harriet W. Ponder seperti di bawah ini :

"Setiap rumah memiliki voorgalerij, beranda luas di depan rumah yang sebenarnya adalah ruang duduk terbuka tanpa dinding di ketiga sisinya. Voorgalerij ini adalah sebuah kebanggan menyerupai pameran di setiap rumah,besar maupun kecil. Karena tidak memiliki dinding depan kecuali mungkin tangga dan pilar batu, ruangan ini dapat dilihat jelas dari jalan. Dinding ruangan dihiasi hiasan dari kuningan gosok serta pinggan dan piring-piring berwarna biru. Ada kursi berlengan dan kursi malas besar yang dilapisi dengan bantal-bantal empuk yang nyaman; pohon palem yang tinggi dan berpot-pot tanaman paku suplir, serta beberapa jambangan berisi bunga kana berwarna merah tua dan merah menyala (karena apa pun bunga yang ada atau tidak ada di kebun anda bunga kana selalu bermekaran setiap tahun ). " (Harriet W. Ponder, 1935, Java Pageant dalam Rush. James. R, 2013;218).
           
Selanjutnya, jika jita memperhatikan bagian depan bangunan Indis di Bintaran, beberapa bangunan ini ada yang kolom depan yang terbuat dari batu-bata yang tebal dan ada juga yang terbuat besi yang diberi hiasan tertentu. Kolom-kolom yang terbuat dari bata-bata merupakan elemen khas pada bangunan bergaya Indische Empire yang berkembang dari pertengahan abad 19 hingga awal abad ke 20. Sementara itu kolom depan yang terbuat dari besi merupakan ciri dari bangunan yang berasal dari akhir abad ke 19. Banyak juga bangunan yang aslinya kolomnya terbuat dari batu-bata diganti dengan besi.

Demikianlah penjelajahan kita pada bangunan Indis yang terdapat di kawasan Bintaran. Walaupun hanya tinggal beberapa bangunan Indis saja yang masih tersisa, bangunan-bangunan ini memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi. Oleh sebab itu keberadaanya harus dilestarikan. Semoga keberadaan bangunan-bangunan Indis di Bintaran ini tidak tergusur oleh pembangunan di Yogyakarta yang semakin tidak terarah.

Referensi

Antonius Aji Bhaktiar .2010. Arsitektur Gereja Santo Yusup Bintaran Yogyakarta : Tinjauan Sosial, Politik, dan Budaya. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gajah Mada. Skripsi.

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. 1997. Pendokumentasian Bangunan Indis di Kawasan Bintaran. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Djoko Soekiman. 2014. Kebudayaan Indis. Komunitas Bambu. Depok.

Heuken S.J, Adolf. 2001. Menteng Kota taman Pertama di Indonesia. Yayasan Loka Cipta Caraka. Jakarta.

Inajati 
Andrisijantiromli, dkk. 2009. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Reni Vitasurya. 2014. Rekam Jejak Arsitektur Indis di Bintaran.

Rush, James R. 2013. Jawa Tempo Doeloe, 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985. Komunitas Bambu.Depok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar