Senin, 15 Februari 2016

Senyap Pasar Srowolan, Pasar Perjuangan yang Terlupakan

Pasar, sebuah tempat dimana para pedagang dan pembeli bertemu, tempat dimana orang mengais nafkah dan juga mencari kebutuhan hidupnya. Karena pentingnya sebuah pasar, maka keberadaanya dapat ditemukan baik di perkotaan yang riuh hingga sebuah desa di kaki bukit. Jejak Kolonial pada kesempatan kali ini akan mengajak anda untuk beringsut menjauh dari perkotaan, menuju ke suatu desa di Sleman untuk menoleh jejak perniagaan masyarakat rural di masa kolonial.
Los-los Pasar Srowolan.
Desa Purwobinangun adalah sebuah desa yang berada di bawah Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Di sana terdapat sebuah pasar kuno yang masih sedikit dikenal orang. Pasar Srowolan namanya. Ketika saya sejenak mengunjungi pasar ini, tak terjumpai riuh ramai pedagang layaknya sebuah pasar. Di bawah atap-atapnya, hanya suasana senyap yang saya rasakan. Jauh dari kesan hingar bingar sebuah pasar pada umumnya. Pasar itu rupanya sudah lama mati seperti yang dituturkan salah satu penduduk sekitar. Pasar itu hanya buka dalam hari pasarannya yang jatuh setiap Wage, Pon, dan Legi. Itupun tak lebih dari lima pedagang saja yang berjualan. Selebihnya di hari lain, pasar itu benar-benar mati.
Pasar Srowolan yang lengang.
Dalam budaya Jawa, sebuah pasar memang hanya dibuka sekali dalam sepekan yang biasanya ditentukan dalam hari pasaran. Hari pasaran Jawa meliputi Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Ada alasan mengapa setiap pasar memiliki hari pasaran yang berbeda dengan pasar lain. Alasannya adalah bahwa para pedagang pasar di desa-desa zaman dahulu bukalah pedagang murni. Sebagian besar di antara mereka adalah para petani yang menjual sisa panen mereka. Mereka juga tak terlalu banyak membeli barang kebutuhan mengingat kecilnya pendapatan mereka sehingga mereka hanya membeli kebutuhan yang bukan hasil panen mereka saja. Dengan daya beli pengunjung pasar yang kecil, manakala terlalu banyak barang yang dijual di pasar, maka akan timbul deflasi atau turunnya harga barang. Harga barang yang terlalu murah tentu saja tidak menguntungkan pedagang. Sebab itulah tidak setiap hari pasar buka. Guna meratakan perdagangan, maka dalam satu distrik atau kecamatan akan memiliki lima pasar dengan hari pasaran yang berbeda dan selalu digilir bukanya.
Tiang-tiang besi penopang atap.
Bentuk pasar ini sederhana saja, hanya berupa deretan los-los terbuka dengan atap pelana. Di bawah atap-atap itu, para pedagang menggelar segala dagangan yang akan dijual, dari sayur mayur, sandang, alat dapur, bumbu masakan, dan lainnya. Atap-atap pelana itu disokong oleh batang dan rangka besi yang masing-masing disambung dengan baut dan mur. Dari inskripsi yang tertera pada salah satu batang besi, besi-besi penyokong pasar ini dibuat di pabrik peleberuan besi Guttehofnungshotte yang ada di Jerman. Pasar Srowolan sebagaimana pasar tradisional tempo dulu tidak diberi sekat setiap kiosnya. Sejatinya, bangunan sejenis Pasar Srowolan bertebaran di pelosok desa di Yogyakarta. Pasar Kenteng misalnya. Namun tak seperti Pasar Srowolan yang kini senyap, pasar yang terletak di gerbang Menoreh itu masih semarak dengan kegiatan niaga walau hanya di hari pasarannya saja. Contoh pasar lain yang massih bergeliat adalah Pasar Saren di Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Walau sudah tak seramai dulu, namun nasib Pasar Srowolan sedikit lebih mujur dibanding Pasar Turi yang kini sudah terbongkar.
Pasar Saren, Wedomartani, Ngemplak.
Pasar Kenteng, Nanggulan, Kulonprogo.
Tiada yang tahu sejak kapan pasar ini dibangun, karena bangunan pasar yang terlihat sekarang merupakan hasil pemugaran yang dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII pada 1921. Sebagai pasar Kasultanan, pasar ini merupakan satu dari 129 buah pasar yang dikelola oleh Kasultanan Yogyakarta ( Dingemans, 16; 1925 ). Pemugaran pasar dikerjakan oleh N.V Construtie Atelier Der Vorstenlanden Djokjakarta dan material bangunannya disediakan oleh N.V. Braat, perusahaan yang didirikan pada 1901 dan memiliki cabang di Surabaya, Yogyakarta, Sukabumi dan Tegal.
Plakat pabrik Braat.
Dibalik kesederhanaan bangunannya, Pasar Srowolan selain menjadi tempat jual beli juga rupanya pernah merangkap sebagai tempat pertukaran informasi antar gerilyawan di masa kemerdekaan. Dikisahkan, pada saat masa Agresi Militer Belanda Kedua, wilayah Sleman dikuasai oleh militer Belanda dan akibatnya banyak pasar yang sepi. Sebaliknya, entah apa sebabnya Pasar Srowolan justru masih ramai. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pejuang untuk mengumpulkan logistik. Selain sebagai tempat mencari persediaan, mereka juga menjadikan pasar ini sebagai tempat pertukaran informasi.

Pasar Srowoloan hanyalah salah satu jejak kolonial yang memberikan gambaran pada generasi kekinian mengenai kegiatan perniagaan masyarakat rural di masa kolonial. Walau Pasar Srowolan raganya masih awet, namun jiwanya kini telah pupus. Kegiatan perniagaan sudah tidak sesemarak dulu lagi. Di bawah atap-atap itu, hanya suasana senyap yang terasa sebelum saya meninggalkan pasar ini.

Referensi
Dingemans, L. F. 1925. Gegevens over Djokjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar