Senin, 01 Februari 2016

Stasiun Bedono, Kisah Stasiun Tua di Puncak Bukit


Pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak anda untuk melihat Stasiun Bedono, sebuah stasiun tua berukuran kecil yang masih terlihat keantikan dan kecantikannya sebagai sebuah bangunan kolonial. Nah, apa saja yang akan kita temukan di stasiun tua ini ?

Stasiun Tua di Puncak Bukit

Lokasi stasiun Bedono pada petaa lama tahun 1915 (sumber : Ambarawa en Salatiga en Omstreken). Nampak lokasi stasiun Bedono tidak begitu jauh dari perkebunan kopi Banaran.
Secara administratif ,Stasiun Bedono masuk di wilayah Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Lokasi Stasiun Bedono cukup dekat dengan jalan raya Secang-Ambarawa. Untuk menuju ke sini, dari Magelang ikuti jalan  raya menuju Ambarawa kemudian di kanan jalan ada SMP Theresiana Jambu. Di samping sekolah, ada semacam jalan masuk. Nah, di ujung jalan tadi Stasiun Bedoni berada. Saya sendiri sudah tiga kali berkunjung ke sini. Yang pertama pada tahun 2014 silam ketika saya ikut kuliah lapangan Arkeologi Kolonial di Semarang. Sepulang dari Semarang, dosen saya tiba-tiba mengajak seluruh mahasiswanya termasuk saya untuk singgah di Stasiun Bedono. Kemudian yang kedua ketika saya mengikuti event jelajah jalur kereta api Bedono-Candiumbul yang diadakan oleh Komunitas Kota Toea Magelang dan terakhir, masih event dan penyelanggara yang sama, tapi dengan jalur yang berbeda, yakni dari Bedono ke Ambarawa. Oh ya, tambahan saja, lokasi stasiun ini dekat dengan salah satu sosok yang pernah membuat kontroversi beberapa tahun lalu karena menikah dengan anak dibawah umur. Sosok itu tidak lain adalah Syech Puji…

Nah, secara geografis, stasiun Bedono berada di titik tertinggi yang melintasi Gunung Pingit. Dari wilayah Jambu yang berada di ketinggian 479 meter dpl, jalur ini menanjak sampai Bedono yang berada di ketinggian 711 meter dpl, selanjutnya jalur ini turun ke Gemawang yang berada pada ketinggia 630 meter dpl. Oleh karena itulah mengapa stasiun ini saya katakan berada di puncak bukit.

Awalnya bermula dari biji kopi

Pembangunan Stasiun Bedono sendiri tidak lepas dari usaha yang dilakukan oleh perusahaan kereta api milik swasta pada waktu itu,  NISM (Nederlandsch Indisch Spoorweg Matschapij) untuk menghubungkan Ambarawa dengan Secang. Jalur ini dibuat cukup keras karena harus membelah bukit, mendirikan jembatan di sungai yang dalam, hingga membuat jalur yang berkelok agar kereta lebih mudah menanjak. Benar-benar sebuah pekerjaan yang sangat melelahkan apalagi pada waktu itu peralatan yang dipakai masih sederhana. Jangan bayangkan di masa itu sudah ada mesin-mesin canggih seperti ekskavator di masa sekarang. Pada waktu itu, semua pekerjaan ini dikerjakan oleh 3000 pekerja yang mencangkul hampir setiap hari.  

Pemborong atau kontraktor pembangunan jalur ini dikerjakan oleh seorang Tionghoa bernama Ho Tjong An. Sementara itu biaya pembangunan jalur ini menghabiskan dana sebanyak f 390. 000 (Caesar Bayu Maulana, 2012; 79).Untuk sebuah jalur kereta, dana itu terhitung banyak. Jalur ini akhirnya dibuka pada tanggal pada tanggal 1 Februari 1905.

Lalu, mengapa sebuah stasiun dibangun di puncak sebuah bukit yang dilalui oleh sebuah jalur kereta yang dibangun dengan menghabiskan dana dan menguras keringat pekerja yang tidak sedikit ? Jawabannya cuma satu. Kopi. Ya, kopi yang kini kita nikmati hampir setiap hari ini dulu merupakan sebuah komoditas yang sangat berharga. Alkisah, Gubernur Jenderal Van Den Bosch menerapkan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel untuk mengisi kembali kas keuangan kerajaan Belanda yang sudah habis dikuras oleh Perang Jawa dan Perang Eropa. Agar kas bisa terisi kembali dengan cepat, maka dia mewajibkan sebagian lahan pertanian untuk ditanam dengan tanaman yang menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi dan salah satu tanaman itu adalah kopi. Di daerah Bedono yang berada di dataran tinggi, kopi dapat tumbuh dengan baik karea iklimnya cocok. Sehingga, dibukalah sebuah perkebunan kopi di dekat Bedono, tepatnya di daerah Banaran. Perkebunan kopi ini dibuka oleh perusahaan Cultuur Maatschappij Banaran pada tanggal 17 April 1877. Sebelum alat transportasi kereta api masuk ke Hindia-Belanda pada tahun 1864, hasil-hasil perkebunan kopi tadi dikirim  ke Semarang dengan gerobak yang ditarik oleh lembu atau kerbau. Alat transportasi ini tentu tidak efisien dalam pengiriman barang. Beban yang diangkut sedikit. Barang hasil bumi yang mudah membusuk sudah membusuk duluan sebelum sampai pelabuhan ekspor di Semarang. (Sri Chiirullia Iskandar, 2011; 102). Tentu saja bukannya meraih untung, malah rugi yang didapat. Oleh karena itu, Belanda mendatangkan sebuah teknologi transportasi yang sudah canggih di masanya, yakni kereta api. Dengan kereta api, hasil bumi yang diangkut bisa lebih banyak serta barang sampai di pelabuhan dengan waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan menggunakan gerobak lembu tadi.

Stasiun tua yang berkisah
Sewaktu saya pertama kali berkunjung ke stasiun ini, awalnya saya membayangkan sebuah bangunan stasiun yang besar dan megah, apalagi mengetahui perannya sebagai tempat pendistribusian kopi. Tapi bayangan saya akhirnya hancur setelah saya melihat dengan mata sendiri bangunan stasiun yang ternyata jauh lebih kecil daripada bayangan saya. Hanya ada sebuah ruang tunggu dan sebuah ruang kantor kecil yang menjadi ruang kepala stasiun merangkap ruang penjualan tiket kereta. Meskipun kecil, saya sangat suka sekali dengan gaya arsitektur stasiun yang cantik sekali dan masih terjaga hingga sekarang.

Denah kompleks Stasiun Bedono.
Nah secara arsitektural, Stasiun Bedono memiliki gaya arsitektur  "NIS-Chalet" yang dapat kita jumpai pada stasiun-stasiun tinggalan N.I.SBangunan stasiun yang kita lihat sekarang bukanlah bangunan stasiun yang dididirkan pada masa pembangunan jalur Ambarawa-Secang. Stasiun Bedono pada awalnya hanya berupa bangunan kayu kecil. Kira-kira mirip dengan kios tukang tambal ban pinggir jalan. Lalu pada medio 1910-an, N.I.S mulai merombak beberapa stasiun-stasiun lamanya dan diganti dengan bangunan stasiun baru yang lebih besar, lebih representatif dan arsitekturnya lebih menarik (BPCB Jateng,2014;8) sehingga penumpang yang datang jauh lebih banyak serta menunjukan bahwa N.I.S sudah bertransformasi menjadi semua perusahaan transportasi terkemuka. Salah satu stasiun yang dirombak itu adalah Stasiun Bedono yang perombakannya selesai pada tahun 1919.
Bagian dalam ruang tunggu.
Loket stasiun.
Memasuki bagian dalam stasiun, bayangan kita akan terlempar kembali ke masa lalu. Ketika stasiun ini masih aktif digunakan sebagai tempat menaik turunkan penumpang hingga tahun 1978 akibat kalah saing dengan transportasi darat lain seperti truk dan bis. Kita bisa membayangkan para penumpang yang sedang duduk di ruang tunggu, menunggu kedatangan kereta. Ada yang menunggu sambil membaca surat kabar, ada yang sambil menikmati jajanan yang dijual oleh pedagang asongan di luar stasiun. Terlihat juga seorang penumpang yang tertidur karena tidak tahan dengan semilir angin pegunungan yang sejuk. Tampak seorang petugas penjual tiket yang melayani penumpang dibalik loket. Lalu di sekitar stasiun, terlihat tumpukan karung yang berisi biji kopi yang siap diangkut kereta. Di kejauhan, suara kereta mulai terdengar, tanda akan ada kereta yang singgah di sini. Para penumpang kemudian berhamburan ke peron, sekedar melihat kereta yang akan mengangkutnya segera tiba. Lalu dari ruang kantor, keluarlah sosok berseragam yang tidak lain adalah kepala stasiun.
Tegel yang melapisi permukaan lantai stasiun.
Barge board.
Tiang penyangga atap peron.
Peron stasiun Bedono.
Memasuki bagian peron tempat para penumpang naik ke dalam kereta, terlihat deretan tiang kayu yang menyangga atap stasiun. Di stasiun ini kita masih bisa melihat lantai stasiun yang masih dilapisi dengan tegel tahu karena bentuknya mirip dengan potongan tahu. Tegel-tegel yang diimpor dari Belanda ini bersifat kedap air, sehingga jika air tumpah mengenai lantai, orang tidak perlu takut kepleset jika berjalan di atasnya. Sebuah pemikiran yang sekarang sudah jarang dipikirkan oleh orang sekarang. Di bagian ujung pinggiran atap peron, kita juga dapat melihat papan kayu bergerigi yang disebut barge board. Barge board ini berfungsi untuk mengurangi tampias air hujan dan juga sebagai penambah estetika stasiun.
Kotak brankas dari besi.
Alat pengatur sinyal.
Selanjutnya kita akan memasuki sebuah ruangan bekas kantor kepala stasiun yang juga merangkap ruang penjualan tiket. Di bagian dalam, kita akan melihat ada semacam brangkas kecil di sudut ruangan. Brankas ini menempel di tembok sehingga akan sulit untuk diambil. Keberadaan brankas ini menunjukan bahwa Bedono di masa lalu merupakan wilayah yang cukup terpencil dan jauh dari jangkaun petugas keamanan, sehingga uang hasil penjualan tiket perlu diamankan sendiri.

Jalur kereta api yang mengarah ke Secang, Magelang.
Keluar dari stasiun, kita akan menjelajah emplasemen Stasiun Bedono untuk melihat beberapa artefak perkereta apian. Jalur rel yang melewati stasiun ini menggunakan lebar 1067 mm. Lebar jalur ini memang disesuaikan dengan pola jalur kereta Ambarawa-Secang yang berkelak-kelok membelah bukit dan kereta yang agak kecil lebih mudah melewati jalur seperti ini.
Jalur rel bergerigi yang masih utuh.
Di jalur keluar stasiun, kita bisa melihat jalur bergerigi yang terdapat di jalur yang mengarah ke Ambarawa dan yang ke arah Secang. Karena secara geografis stasiun Bedono berada di puncak bukit dengan gradient kemiringan yang cukup ekstrim untuk kereta api, maka dibuatlah jalur rel bergerigi dengan lokomotif khusus yang didatangkan dari pabrik Emil Kessler di Jerman untuk membantu kereta berjalan menanjak. Tentu akan sangat mengerikan ketika kereta sedang menanjak, tiba-tiba kereta bergerak turun tidak terkendali kemudian keluar dari jalur dan akhirnya jatuh terguling.

Di sebelah barat stasiun,  terlihat sebuah bangunan berukuran kecil yang tidak lain adalah bangunan toilet. Orang Belanda di masa lalu sangat menjunjung higenisitas sehingga bangunan seperti toilet dibangun terpisah dari bangunan lainnya. Di dekat toilet, kita dapat melihat tumpukan kayu jati bekas bantalan rel. Kayu-kayu ini terlihat lapuk karena sudah termakan usia dan terpapar cuaca. Meski tampak tidak berarti, tumpukan kayu jati ini menjadi bagian dari kejayaan jalur kereta Ambarawa-Secang yang kini tinggal kenangan saja.
Bangunan toilet.
Tumpukan kayu jati bekas bantalan rel.
Memasuki bagian dalam stasiun, bayangan saya terlempar kembali ke masa lalu. Ketika stasiun ini masih aktif digunakan sebagai tempat menaik turunkan penumpang sebelum akhirnya dinonaktifkan pada tahun 1978 akibat kalah saing dengan transportasi darat lain seperti truk dan bis. Saya bisa membayangkan para penumpang yang sedang duduk di ruang tunggu, menunggu kedatangan kereta. Ada yang menunggu sambil membaca Koran, ada yang sambil menikmati jajanan yang dijual oleh pedagang asongan di luar stasiun. Ada yang tertidur karena tidak tahan dengan semilir angin pegunungan yang sejuk. Tampak seorang petugas penjual tiket yang melayani penumpang dibalik loket. Lalu di sekitar stasiun, terlihat tumpukan karung yang berisi biji kopi yang siap diangkut kereta. Di kejauhan, terdengar suara kereta, tanda akan ada kereta yang singgah di sini. Para penumpang lalu berhamburan ke peron, sekedar melihat kereta yang akan mengangkutnya segera tiba. Lalu dari ruang kantor, keluarlah sosok berseragam yang tidak lain adalah kepala stasiun.
Penampungan air.
Corong air.
Persis di seberang stasiun, kita juga akan melihat tandon air yang berada di atas tanah yang lebih tinggi daripada tanah stasiun Bedono. Tandon air ini memiliki peran yang cukup vital di masa lalu karena pada zaman dahulu, lokomotif kereta masih menggunakan mesin uap sebagai mesin penggerak. Mesin uap membutuhkan air untuk menghasilkan uap. Air yang tersimpan di ketel uap akan habis karena sudah berubah menjadi uap dan jika air di dalam ketel sudah habis, maka lokomotif tidak bisa jalan. Apalagi lokomotif yang menuju ke Bedono butuh air yang banyak setelah melalui perjalanan menanjak yang berat maka air di ketel hampir habis sesampainya di Bedono, oleh karena itulah sebelum melanjutkan perjalanan, lokomotif akan diisi air terlebih dahulu. Air akan dimasukan ke dalam lokomotif lewat sebuah corong berbentuk huruf “L” terbalik yang berada di dekat jalur sebelum keluar stasiun. Dengan bantuan gravitasi, air akan mengalir dari tandon mengisi ketel loko.
Turntable atau meja putar.
Cap pabrik pembuat meja putar.
Bagian Emplasemen Stasiun Bedono memiliki 3 jalur kereta. Di bagian ini kita akan menemukan artefak perkeretaapian berupa turntable atau meja putar yang digunakan sebagai tempat untuk memutar lokomotif. Meja putar ini sebenarnya juga dapat ditemukan di stasiun-stasiun lain, namun meja putar di stasiun Bedono ini memiliki peran yang sangat vital. Mengapa dikatakan sangat vital ? Hal ini karena ketika lokomotif akan menanjak dari Jambu ke Bedono, maka posisi lokomotif berada di belakang rangkaian gerbong agar kereta mudah naik. Sebaliknya, jika akan turun dari Bedono ke Jambu atau ke Gemawang, maka lokomotif akan berada di depan rangkaian gerbong. Untuk memutarnya, tinggal memasukan kayu berbatang tebal ke lubang yang sudah ada lalu kayu tadi didorong hingga lokomotif arah hadapnya sudah berubah. Di bagian bawah meja putar, saya menemukan semacam cap yang menunjukan pabrik pembuatan meja putar ini.

Rumah dinas stasiun Bedono.
Meski stasiun ini lebih banyak mengangkut barang hasil bumi berupa kopi, anehnya saya sendiri belum menemukan keberadaan bangunan gudang. Apakah gudangnya sudah hancur atau memang stasiun ini dibangun tanpa gudang ? entahlah…

Sebuah stasiun tentu tidak lengkap tanpa rumah dinas untuk tempat tinggal pegawai beserta keluarganya. Nah di manakah rumah dinas Stasiun Bedono ? Ternyata rumah dinas Stasiun Bedono berada di pinggir jalan raya Secang-Ambarawa dan berdiri di samping sekolahan. Bentuknya memang terlihat lebih sederhana jika dibandingkan dengan rumah-rumah milik orang Belanda yang biasanya terlihat megah.

Begitulah ulasan Jejak Kolonial mengenai Stasiun Bedono, sebuah stasiun tua yang ternyata cukup banyak kisah di dalamnya. Kini, stasiun ini sedang berusaha dihidupkan kembali dengan menjadikannya sebagai bagian dari wisata kereta uap Ambarawa- Bedono. Bangunan stasiun ini sendiri sudah menjadi Cagar Budaya dan dirawat cukup baik oleh PT. K.A.I. Semoga saja stasiun tua ini dapat dilestarikan karena tanpanya, kisah-kisah tadi hanya akan menjadi kisah lisan saja……

Referensi
Caesar Bayu Maulana. 2012. Latar Belakang pembangunan dan Perkembangan Jalur Kereta api NISM Yogyakarta-Ambarawa 1898-1942 (Kajian Ekonomi,Sosial dan Politik). Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Skripsi.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. 2014. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda.

Sri Chirullia Iskandar. Pendirian Stasiun Willem I di Kota Ambarawa dalam Papua TH.III No.1/Juni 2011.

2 komentar: