Kamis, 04 Februari 2016

Yang Tersisa dari Kerkhof Manisrenggo, Klaten.

Kerkhof atau pemakaman Belanda merupakan peninggalan kolonial yang sering dilupakan keberadaanya, padahal keberadaan kerkhof menjadi penanda kehadiran orang-orang Belanda yang ada di tempat itu. Tulisan saya di Jejak Kolonial kali ini akan membahas kerkhof. Jika sebelunya saya pernah menulis tentang Kerkhof Purworejo yang lokasinya berada di dekat pusat kota, kerkhof yang akan saya bahas kali ini berada lumayan jauh dari pusat kota. Kira-kira dimanakah ini ? Apa saja yang masih tersisa ? Mengapa ada kekrhof di sini ?

Penemuan Awal
Lokasi Kerkhof Manisrenggo pada peta lama tahun 1925.Lokasi makam ini berada di sebelah barat PG Prambanan (sumber : maps.library.leiden.edu).
Keberadaan kompleks kerkhof ini pertama kali saya temukan lewat peta topografi tinggalan Belanda yang saya dapatkan dari internet. Ketika saya sedang mengamati peta daerah sekitar PG Prambanan yang sekarang menjadi SMP N 1 Mansisrenggo, saya melihat ada semacam tanda salib di sebelah barat PG Prambanan. Di peta-peta topografi lama tinggalan Belanda, kompleks kerkhof ditandai dengan simbol salib. Mengetahui bahwa ada indikasi makam Belanda di dekat PG Prambanan, bersama teman saya, Mas Aga Y.P meninjau ke lokasi untuk memastikan apakah kerkhof ini masih ada atau tidak.
Lokasi PG Prambanan saat ini.
Setelah melakukan perjalanan selama 30 menit dari Yogyakarta, sampailah kami di lokasi kerkhof yang secara administrative berada di Dukuh Pobayan, Kelurahan Kebondalem, Kabupaten Klaten ,Jawa Tengah. Posisi kerkhof ini agak masuk ke dalam gang, tertutup oleh sebuah rumah yang kini menjadi kios tambal ban sehingga tidak terlihat dari jalan. Di selatan kekrhof, terdapat area pemakaman untuk warga lokal.

Yang Tersisa dari Kerkhof Manisrenggo
Sesampainya di lokasi, perasaan senang campur sedih jadi satu. Senang karena ternyata masih ada makam Belanda yang tersisa, sedih karena kondisi makamnya sekarang tidak terawat dan dipenuhi oleh tanaman liar sehingga kompleks kerkhof ini bagaikan kebun yang di sela-selanya terdapat makam-makam tua.
Makam- makam tua yang tersisa di area kerkhof Manisrenggo.
Tulisan :
HIER RUST
ONZE GEVELING
JAN A.GERLACH
GEB : 17-8-1905
OVERL : 22-12-1907
Tulisan :
HIER RUST
ONZE GEVELING
CONSTANT.J.GERLACH
GEB :16-5-1907
OVERL : 22-10-1907
Sesampainya di lokasi, kami berdua melakukan penyusuran untuk melihat apakah ada prasasti yang tersisa untuk didokumentasikan. Setelah menembus lebatnya tanaman liar dan entah berapa nyamuk yang sudah menggigit kulit saya, akirnya kami menemukan dua makam yang prasastinya masih ada. Dua makam itu yakni milik Constant. J . Gerlach (16 Mei 1907-22 November 1907) dan Jan. A. Gerlcah (17 Agustus 1905 – 22 Desember 1907). Melihat namanya, makam ini merupakan tempat persitirahatan terakhir dari dua orang bersaudara dan mereka meninggal di usia yang sangat belia. Yang satu meninggal ketika berusia 7 bulan dan satunya lagi meninggal di usia 2 tahun.  Selain itu tanggal kematiannya yang berdekatan menujukan bahwa pada tahun 1907, sepertinya sedang terjadi wabah penyakit yang menimpa daerah itu. Mungkin wajar karena daerah Manisrenggo dan sekitarnya belum memiliki fasilitas kesehatan yang baik sehingga banyak korban jiwa yang jatuh, apalagi dari anak-anak yang masih rentan terhadap penyakit. Saya jadi membayangkan betapa sedihnya perasaan orang tua dari kedua anak ini. Bagaimana tidak sedih ketika dua buah hati mereka yang masih kecil meninggalkan mereka terlebih dahulu di waktu yang nyaris berdekatan. Hati orang tua mana yang tidak sedih jika mendapatkan hal seperti ini ? Oh ya, menurut penuturan warga sekitar yang tidak saya sebutkan namanya di sini, dari seluruh makam tua yang ada di kekrhof ini, hanya makam ini saja yang prasastinya tidak dijarah karena konon dua makam ini dilindungi oleh Mbah Gerlach, yang dianggap oleh penduduk sekitar sebagai arwah orang tua dari kedua anak ini. Penduduk sekitar percaya barangsiapa yang mencoba mengambil kedua makam ini, maka dia akan mengalami nasib sial sepanjang hidupnya.
Sebuah makam berbentuk tugu dan peti rebah.
Beberapa makam tua yang tertutup oleh rimbunnya tanaman liar.
Sebuah makam tua berukuran kecil yang kini sudah tidak ada batu nisannya lagi. Terlihat batu nisan dipasang di bagian samping makam. Bukan di atas makam seperti lazimnya makam-makam Belanda lain.
Kembali ke pembahasan kerrkhof Di sini saya menemumak setidaknya ada 21 makam Belanda. Sayangnya selain dua makam yang sudah saya bahas tadi, makam-makam yang ada di sini sudah tidak ada prasastinya lagi. Dari pengamatan saya, terdapat 19 makam yang berbentuk seperti sarkofagus atau peti mati, sebuah makam yang berbentuk seperti gundukan kecil dan sebuah makam yang berbentuk seperti monument kecil. Ukuran makam di sini benar-benar kecil dan pendek. Rata-rata hanya seukuran tinggi lutut saya. Menariknya, makam – makam yang berbentuk seperti sarkofagus kecil tadi letak batu nisannya tidak dipasang di atas makam, melainkan dipasang di bagian samping. Saya kemudian berhipotesis bahwa makam-makam ini merupakan makam untuk anak-anak karena ukurannya yang benar-benar kecil dan berhimpitan satu sama lain. Tubuh orang dewasa saja sepertinya tidak akan muat dengan ukuran sebesar itu. Makam dua anak yang sudah saya bahas di atas saja lebih besar daripada makam-makam kecil ini.
Satu-satunya bongpay yang batu nisannya masih utuh.
Prasasti pada foto bongpay di atas. Prasasti ini terbuat dari semacam batu marmer dan ber aksara latin. Hal ini cukup aneh karena prasasti pada bongpay biasanya terbuat dari batu andesit dan ber aksara mandarin.
Sebuah makam bergaya Tionghoa / bongpay. Di samping kanan terlihat altar dewa bumi.
Uniknya, di sebelah barat kerkhof ini, saya menemukan empat makam bergaya Tionghoa atau bongpay. Makam ini dapat saya kenali dari adanya altar dewa bumi yang berada di samping makam yang menjadi ciri makam Tionghoa. Diantara keempat makam tadi, hanya ada satu makam yang saya temukan masih ada prasastinya, yakni milik Kwik Kiem Sing (meninggal tahun 1935). Prasasti ini cukup unik karena tidak dibuat dari batu andesit dan tulisannya bukan huruf Tionghoa, melainkan huruf latin dan menggunakan bahasa Melayu. Hal ini cukup aneh untuk sebuah makam Tionghoa. Keberadaan makam ini menunjukan sudah adanya komunitas Tionghoa di daerah itu. Sepertinya orang-orang Tionghoa ini hadir di sini setelah tahun 1904 mengingat sebelum tahun itu orang Tionghoa dilarang menetap di daerah pedesaan ( Cribb dan Kahin, 101; 2012). Lokasi makam Tionghoa ini berdekatan dengan kompleks kerkhof, yakni di sebelah barat yang tanahnya reliefnya agak menurun karena berada di pinggir aliran sungai kecil. Dalam kepercayaan fengshui Tionghoa, tanah yang miring dan berhadapan dengan aliran air merupakan lokasi yang cocok untuk pemakaman karena lokasi seperti ini dipercaya dapat mendatangkan kemakmuran bagi keluarga yang masih hidup.   
Sebuah makam yang berbentuk seperti peti.
Sebuah makam yang terutup bambu.
Setelah menyusuri seluruh area pemakaman, ada beberapa pertanyaan yang hingga kini masih belum saya temukan jawabannya. Pertanyaan pertama, sejak kapan makam ini berdiri ? Dari prasasti yang tersisa, makam ini sudah ada sejak tahun 1907, namun besar kemungkina bahwa makam ini sudah ada sebelumnya. Lalu dari data prasasti bongpay , kompleks makam ini masih dipakai hingga tahun 1930an. Namun setelah itu data sejarah menjadi agak kabur. Dari perbandingan peta lama dan kondisi sekarang, seharusnya area kerkhof ini sampai di tepi jalan, tapi area kerkhof yang tersisa sekarang justru tidak terlihat dari jalan dan areanya terpotong menjadi halaman belakang rumah warga. Lalu sejak kapan area kerkhof ini berkurang ? Entahlah. Selanjutnya, apa hubungan kerkhof ini dengan PG Prambanan yang berada lumayan dekat dengan kerkhof ini ? Apakah kerkhof ini merupakan area pemakaman untuk keluarga pegawai PG Prambanan ? Bisa jadi. Karena saya menemukan kasus yang serupa di PG Sewugalur, dimana area pemakaman keluarga pegawai pabrik berada di dekat lokasi pabrik gula. Manisrenggo sendiri berada cukup jauh dari Klaten yang di sana sudah ada komplek pemakaman khusus Belanda. Barangkali untuk menghemat biaya perjalanan dan mungkin permintaan dari keluarga agar mudah untuk menziarahinya, maka dibukalah area kekrhof ini. Semua pertanyaan tadi membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Demikianlah hasil penelusuran saya di sisa-sisa Kerkhof Manisrenggo. Melihat kondisinya yang sekarang, tentu kita akan iba dan sedih. Tapi ya mau bagaimana lagi, keluarga sudah tidak ada yang menengok ke sini dan masih kurangnya perhatian masyarakat terhadap peninggalan sejarah seperti ini menjadikan kondisi Kerkhof Manisrenggo semakin menyedihkan dan nyaris terlupakan. Sampai kapan kerkhof ini masih ada ? Entahlah. Biarlah waktu yang menjawabnya.

Referensi
Cribb, Robert dan Kahin, Audrey. 2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok : Komunitas Bambu.

2 komentar:

  1. Waduh pengin ke sini...kira-kira masih ada ga ya sampai sekarang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sedikit koreksi bos .yang ada bekas pabrik gula manisrenggo di sebelah selatan SMP N 1 Manisrenggo dan Kerkhof alamatnya di Pobayan Rt 01 / Rw 01 Kranggan, Manisrenggo, klaten

      Hapus