Minggu, 06 Maret 2016

Kerkhof Gombong yang Terlupakan

Penjelajahan saya di Gombong tidak berhenti di benteng Van der Wijk saja. Tak jauh dari benteng tadi, saya mendapati sekelompok makam-makam tua peninggalan Belanda yang kini berbaur bersama makam-makam baru. Ada apa sajakah di sana ?
Lokasi kerkhof Gombong pada peta lama (sumber : maps.library.leiden.edu).
Tiada gerbang antik nan megah di depan kerkhof yang terletak di Desa Semanding, Kecamatan Gombong, Kebumen. Tak ayal, saya pun sempat mengira jika kerkhof itu sudah hilang dan menjelma menjadi permakaman umum. Namun begitu mendekat dan mengamatinya dengan seksama, beberapa monumen kecil dengan bentuk yang tak biasa terlihat masih berdiri di sela-sela makam baru. Ya, monumen kecil itu sejatinya merupakan tempat dimana jasad orang-orang Belanda dikebumikan dan itu artinya jejak kerkhof Gombong masih ada !
Makam berbentuk peti milik Floris.K. Lokasinya berada di dekat pintu masuk area kerhkof. Tulisan makam ini hampir tidak bisa dibaca dengan jelas lagi karena pahatannya tidak terlalu dalam sehingga tulisannya gampang aus. Menurut penuturan juru kunci, makam ini masih diziarahi oleh keturunanya.
Baru saja menginjakan kaki ke dalam kerkhof itu, segera saja saya temukaan sebuah makam tua berbentuk peti yang dinaungi oleh cungkup. Sayang, beberapa tulisan di atas batu makam mulai memudar sehingga tidak semuanya dapat saya baca.
Makam berbentuk seperti sebuah gerbang milik keluarga Brumm. Di bagian bawah makam terdapat rongga cukup besar yang dapat menampung peti mati untuk satu keluarga. Sayangnya kondisi di dalam sini sudah banyak timbunan sampah.
Daftar anggota keluarga Van Burm yang termuat pada sebuah obituari yang dimuat oleh harian De Locomotief tahun 1879.
Di bawah pohon kamboja berbunga putih, tampak sebuah makam tua yang bentuknya terlihat lain dari yang lain. Makam itu dari segi bentuk dan ornamennya merupakan makam paling mewah di antara makam-makam kerkhof ini. Ia dirancang sedemikian rupa seperti sebuah gerbang, lambang dari pintu masuk ke alam baka. Di atas ambang pintu ceruk yang melengkung, tertera sebuah kalimat berbahasa Belanda yang berbunyi “ Rustplaats van de familie van Burm “. “ Tempat peristirahatan keluarga van Burm “, demikianlah bunyinya jika kalimat tersebut diartikan ke bahasa Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa di bawah makam itu, dibaringkan lebih dari satu orang jasad di dalamnya. Kesimpulan tersebut diperkuat ketika saya menemukan sebuah rongga besar di bawah yang kini penuh dengan tumpukan sampah. Dari kemewahan makamnya, keluarga van Brumm jelas merupakan keluarga yang terpandang di masanya. Namun siapakah gerangan keluarga van Burm ini ? Dari hasil penelusuran saya dari berbagai sumber, salah satu anggota keluarga van Burm bekerja sebagai arsitek di Dienst Waterstaat pada tahun 1879.
Makam berbentuk tugu milik C.F.H.Campen (1853-1886). Seorang instruktur militer dengan pangkat terakhir sebagai letnan infanteri. Banyak perwira atau tentara Belanda yang dulu bertugas di benteng Van der Wijk dimakamkan di sini.
Saya sekarang berdiri di hadapan sebuah makam tua yang masih terlihat gagah, segagah orang yang dikebumikan di bawahnya. Makam itu tak lain dan tak bukan merupakan makam seorang perwira berpangkat Letnan Infanteri bernama C.F.H. Campen. Usianya baru menginjak 33 tahun ketika ia meninggalkan dunia ini. Dulu ia pasti tinggal di barak militer dekat benteng Van der Wijk. Keberadaan sebuah kerkhof umumnya dikaitkan dengan kehadiran orang-orang Belanda di dekatnya.
Makam yang diberi cungkup dengan atap papak atau datar.
Tiga buah makam dengan bentuk seperti tugu kecil.
Dua buah makam berbentuk peti mati.
Sebagaimana dengan makam-makam di kerkhof lain yang bernasib pilu, hal yang sama juga menimpa pada makam-makam ini. Sesudah kemerdekaan, banyak orang-orang Belanda yang meninggalkan Indonesia. Perlahan, makam-makam tadi banyak yang tak terurus. Batu nisan di makam segera saja menjadi incaran para penyamun makam. Berlusin-lusin batu nisan dilucuti dari tempatnya, dibawa pergi entah kemana. Kini, sebagian besar makam di kompleks kerkhof Gombong merupakan makam tanpa nama.
Sebuah makam yang kini berada di dasar sungai akibat tergerus oleh erosi sungai.

Letak kerkhof itu berada di meander Sungai Gombong yang tidak besar lebarnya. Arusnya terlihat tenang, tapi tanpa disadari, arus sungai itu secara perlahan menggerus kerkhof ini. Sebuah makam yang sudah longsor ke dasar sungai merupakan salah satu korban arus sungai itu. Apabila hal ini dibiarkan, pelan tapi pasi, akan lebih banyak makam yang menyusul makam yang malang tadi..

Tuntaslah hasil penyusuran singkat saya di kerkhof Gombong, sebuah kompleks kerkhof yang berisi makam-makam tua yang tak berdaya digulung oleh zaman. Semoga ada kepedulian dari pemerintah dan masyarakat untuk menyelamatkannya..

2 komentar:

  1. Terima Kasih atas nama posting pemakaman Gombong dan Manisrenggodan saya menghargai pekerjaan Anda. Saya menulis 3 artikel dengan keterangan orang2 yang di kubur dan saya mohon maaf karena saya memakai gambar2 Anda. Lagi saya menghubungkan blog Anda dan nama Anda di artikel ku. ... Artikel pertama: http://www.imexbo.nl/div-kerkhoven-deel-3.html dan artikel kedua: http://www.imexbo.nl/div-kerkhoven-deel-4.html dan artikel ttg makam keluarga BURM berada di http://www.imexbo.nl/div-kerkhoven-deel-2.html Terima Kasih atas perhatian Anda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2.mungkin itu juga bisa menjadi tambahan untuk blog saya.

      Hapus