Sabtu, 05 Maret 2016

Kisah Kokohnya Si Benteng Merah Van der Wijk

Dalam pelajaran sejarah, kita mendapat pelajaran mengenai perjuangan Pangeran Diponegoro melawan pemerintah kolonial Belanda dari tahun 1825-1830. Untuk mempersempit perlawanan Pangeran Diponegoro, Belanda menjalankan strategi benteng stelsel dengan membangun banyak benteng di setiap tempat. Sayangnya di buku-buku pelajaran sejarah, kita tidak mendapat contoh benteng yang menjadi bagian dari strategi benteng stelsel. Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya akan mengajak anda ke sebuah benteng yang sudah cukup terkenal sebagai obyek wisata, tapi belum dikenal sebagai bagian dari strategi benteng stelsel yang cukup legendaris itu. Benteng itu adalah benteng Van Der Wijk, Gombong, Kebumen. Seperti apa kisah nya ? Lalu ada apa saja di benteng ini ? Semua pertanyaan tadi akan saya kupas pada tulisan di bawah ini.

Awalnya Bernama Fort Cochius
Benteng Van der Wijk pada tahun 1930an (sumber : media-kitlv.nl).
Ada satu fakta menarik bahwa benteng ini aslinya bukan bernama benteng Van Der Wijk, melainkan bernama Fort Cochius. Nama ini diambil dari nama komandan Belanda pada Perang Diponegoro, F. D. Cochius. Jenderal ini dikenal berkat taktik benteng stelsel yang dicetuskan darinya. Berkat idenyalah, pemerintah Belanda berhasil mendesak perlawanan Pangeran Diponegoro yang sebelumnya selalu mengalami kegagalan akibat tidak menguasai medan.

General F. D. Cochius. Perwira yang mengusulkan strategi benteng stelsel. Namanya diabadikan sebaga nama benteng meski tidak bertahan lama (sumber : http://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2013/04/generaal-cochius.jpg).
Benteng Fort Cochius atau Van der Wijk dibangun agak jauh dari pusat kota karena benteng ini lebih berfungsi sebagai tempat penyimpanan logistik dan akademi militer (Abbas, 1996; 51). Setelah Perang Diponegoro selesai, pada tahun 1944, benteng ini diperkuat seperti bentuk yang sekarang ini.  Oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch, benteng ini ditunjuk sebagai bagian dari sistem pertahanan Pulau Jawa untuk menangkal serangan dari bangsa Eropa lain seperti Inggris. ( Tim Penyusun, 2012; 134). 
Lapangan di tengah Fort Cohius.Perhatikan dinding benteng masih berwarna putih, tidak seperti sekarang yang berubah warna menjadi warna merah (sumber : media-kitlv.nl).
Desain benteng ini dirancang oleh para insinyur zeni militer Belanda dan pembangunannya dikerjakan oleh 1.400 tenaga kuli. 1.200 kuli didatangkan dari karesidenan Bagelen sedangkan sisanya didatangkan dari Karesidenan Banyumas. Para kuli-kuli ini diawasi oleh demang. Setiap harinya, para kuli ini mendapat bayaran sebesar 15 sen sementara para demang pengawas mendapat bayaran sebesar 1 gulden. Material bangunan seperti batu dan kayu diambil dari sekitar Karesidenan Bagelen, sementara batu-bata yang digunakan untuk membuat tembok benteng dibuat di lokasi. 
Tidak jelas alasan dan kapan nama benteng ini beralih menjadi Van der Wijk. Barangkali karena adanya pelat besi bertuliskan “C Van der Wijck” di gerbang utama pintu masuk benteng. Tapi siapa itu Van der Wijk, saya kurang tahu. Saya sendiri tahunya Van der Saar, kiper timnas Belanda *eh. Pada tahun 1856, benteng ini menampung murid pindahan dari Purworejo setelah gedung sekolah yang ada di Purworejo runtuh akibat hujan deras (Musadad, 2001; 83-84).
Para kadet yang sedang berlatih menembak. Dari warna kulit, mereka tampaknya adalah orang pribumi atau dari keturunan campuran  (sumber : media-kitlv.nl).
Di masa penjajahan Jepang, benteng ini digunakan sebagai tempat latihan tentara PETA. Banyak tulisan-tulisan Belanda yang ada di dinding benteng dihapus oleh Jepang untuk mengurangi pengaruh-pengaruh Belanda. Pada tahun 1947-1949, benteng ini digunakan sebagai markas BKR. Di masa revolusi fisik, benteng ini digunakan oleh Belanda sebagai pos pertahanan garis depan untuk menahan pergerakan pejuang RI yang bermarkas di timur sungai Kemit (Tim Penyusun, 2012 ; 127).Setelah kemerdekaan, benteng ini sempat tidak terawat selama beberapa tahun dan hanya dijadikan sebagai sarang wallet. Pada tahun 1990an, benteng ini dikelola oleh PT. Indo Power MS dan kemudian direnovasi dan ditata sebagai tempat wisata keluarga, sehingga wisatawan selain melihat bangunan lama benteng, juga dapat berekreasi di wahana di sekitar benteng seperti kolam renang atau kereta keliling. 
Benteng Merah Oktagonal
Gombong pada peta tahun 1905. Lokasi benteng ditandai dengan lingkaran merah (sumber : maps.library.leiden.edu).
Benteng ini berada di Jalan Sapta Marga, Gombong, Kebumen. Meski lokasinya agak jauh dari pinggir jalan raya dan agak tersembunyi sedikit, namun para pengunjung yang belum pernah ke sini tidak perlu khawatir jika nanti kesulitan mencari jalan ke arah benteng karena sudah ada petunjuk jalan.

Sebelum masuk ke dalam benteng, saya membayar tiket masuk benteng dengan harga 25.000 rupiah. Harga tiket itu sudah mencakup semua wahana yang ada di dalam benteng seperti kolam renang, mengelilingi benteng dengan kereta kelinci dan kereta mini di atas benteng. All in one….Oh ya, berhubung benteng ini sekarang dimanfaatkan sebagai tempat wisata keluarga, maka jangan kaget jika kita nanti menemukan patung-patung yang nyaris tidak ada hubungannya dengan benteng ini seperti patung dinosaurus….


Bekas barak militer yang saat ini digunakan sebagai penginapan.
Dari loket masuk ke bangunan benteng, terdapat sebuah jalan lurus yang cukup teduh berkat pepohonan besar yang ada di sampingnya. Di kanan-kiri jalan ini, terdapat bekas-bekas barak militer yang saat ini menjadi penginapan. Sepanjang saya berjalan di sini, saya membayangkan di jalan yang sama, para kadet-kadet militer Belanda sedang latihan baris-berbaris.

Jika dilihat dari atas, benteng ini berbentuk oktagonal atau segi delapan. Bentuk seperti ini memudahkan pengawasan ke segala penjuru. Di tengah-tengah benteng, terdapat sebuah lapangan berbentuk persegi.

Dinding luar pada salah satu sisi benteng. Terlihat waran merah mendominasi dinding benteng.
Sebelum masuk ke dalam benteng, saya mencoba untuk mengelilingi bagian luar benteng. Benteng ini rupanya memiliki empat pintu masuk. Dinding benteng setebal 1,40 meter ini tampak didominisai dengan warna merah sehingga terlihat lebih sangar dan antik. Tapi perlu diketahui bahwa warna dinding benteng ini aslinya bukan merah, melainkan berwarna putih seperti yang saya temukan pada foto lama benteng ini.

Dari luar, saya tidak menemukan adanya bastion atau bagian benteng berbentuk belah ketupat yang menjorok di setiap sudut benteng. Bagian-bagian seperti ini lazim ditemukan pada benteng-benteng peninggalan Eropa seperti benteng Vredeburg. Selain itu, di atas benteng saya juga tidak melihat adanya glacis atau lubang dinding tempat menaruh meriam. Kemudian benteng ini bagian luarnya memiliki jendela dan dinding yang relatif tipis, sehingga musuh tentu lebih mudah masuk ke dalam benteng serta dengan sekali tembakan meriam saja, dinding benteng ini  sudah hancur. Ada apa di balik semua ini ? Rupanya dari awal, benteng ini tidak didesain untuk menahan serangan musuh, melainkan didesain untuk gudang logistik tentara dan akademi militer sehingga komponen-komponen benteng seperti bastion tidak ada. Selain itu teknologi bastion pada zaman benteng ini dibangun mulai ditinggalkan karena dirasa tidak efektif menghadapi teknologi meriam yang semakin maju.
         
Inskripsi di atas pintu masuk benteng.
Selanjutnya, saya masuk ke dalam benteng berlantai dua ini lewat pintu gerbang utama yang berada di sisi barat daya. Pintu gerbang berbentuk melengkung ini cukup besar. Kira-kira dua ekor kuda beserta penunggangnya bisa masuk lewat gerbang ini. Di sini, saya tidak menemukan daun pintu gerbang. Tapi dari bekas engsel yang masih tertanam di dinding, daun pintu gerbang benteng ini pasti sangat besar sekali dan tentu saja berat. Di atas pintu gerbang ini, saya melihat ada sebuah prasasti kecil yang berbunyi “K.F.W. BOUWENSCH”. Terdapat sebuah ruangan di samping pintu gerbang utama. Ruangan ini berisi sejarah benteng Van der Wijk dari masa ke masa.

Penjelajahan saya teruskan dengan menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam benteng ini. Benteng Van der Wijk memiliki 27 ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda seperti asrama, kantor komandan benteng, ruang kelas, gudang, dan ruang tinggal perwira.
Koridor benteng yang konstruksinya dibangun dengan sistem rib-vault. Konstruksi ini sudah ada sejak zaman Romawi dan dengan konstruksi seperti ini bisa menahan beban bangunan tanpa tulang besi.

Salah satu ruangan benteng yang dahulu digunakan sebagai barak. Perhatikan bentuk langit-langitnya yang melengkung.
Saya amati ruangan benteng ini yang ternyata berbentuk parabola. Agak cukup aneh bagi kita sekarang mendapati sebuah ruangan yang langit-langitnya berbentuk parabola. Pintu setiap ruangan juga berbentuk melengkung. Namun di balik bentuknya yang agak aneh itu namun konstruksi model seperti ini mampu menahan beban konstruksi dari atas. Di masa itu, teknologi tulangan besi belum ditemukan sehingga agar sanggup menopang beban berat dari atas, maka konstruksi di bawahnya dibentuk parabola atau melengkung. Konsturksi model ini disebut arch. Agar lengkungannya mudah dibentuk, maka bata-bata penyusun langit-langit ruangan disusun dengan sistem rolag. Untuk mendukung konstruksi ini, lorong-lorong ruangan dibuat dengan sistem rib-vault. Konstruksi seperti ini sudah dikenal sejak zaman Romawi. Dengan konsturksi ini pulalah, benteng ini masih bisa berdiri kokoh meski usianya sudah lebih dari seratus tahun. 
Pintu-pintu melengkung yang menghubungkan setiap ruangan.
Salah satu kait yang dahulu digunakan sebagai tempat menggantung lampu minyak.
Kondisi ruangan bagian dalam benteng cukup terang karena terdapat jendela di masing-masing sisi ruangan. Jendela besar ini juga berfungsi sebagai penyejuk ruangan mengingat zaman benteng ini dibangun belum ada AC. Dahulu jendela ini memiliki daun jendela krepak dan jeruji besi. Sayangnya jendela krepyak ini sekarang hilang entah kemana. Jeruji besi yang ada juga sedikit yang tersisa. Malah pada beberapa jendela, jerujinya kini diganti dengan pipa pralon yang tentu tidak sebanding dengan jeruji besi tadi. Di bagian langit-langit, saya menjumpai sebuah kait besar yang tampaknya dahulu digunakan sebagai gantungan lampu minyak. 
Salah satu ruangan yang dahulu digunakan sebagai kantor komandan benteng. Terlihat bentuk langit-langit seperti parabola.
Lantai ruangan yang dilapisi dengan ubin/tegel hias.

Detail motif flora pada ubin/tegel yang begitu menawan. Keberdaan tegel ini seolah menjadi oasis di tengah kakunya benteng Van der Wijk.
Penjelajahan saya teruskan ke bagian lantai dua. Antara lantai satu dengan lantai dua dihubungkan dengan empat tangga melingkar yang berada di setiap pojok benteng. Di samping tangga, terdapat ceruk kecil untuk tempat penjaga. Pada lantai dua ini, saya menemukan salah satu ruangan yang cukup istimewa karena lantainya dilapisi dengan tegel bermotif, sementara ruangan lain di benteng ini lantainnya hanya dilapisi dengan semenan biasa. Ruangan ini sepertinya pernah ditempati oleh komandan benteng. Dari jendela yang ada di ruangan ini, saya dapat melihat lapangan yang ada di tengah-tengah benteng.
Atap benteng dengan cerobong-cerobong semunya.
Tangga naik menuju atap benteng.

Lorong tangga.
Tidak berhenti di lantai dua saja, saya pun mencoba naik ke bagian atap benteng. Terlihat atap benteng yang berbentuk seperti bukit-bukit kecil dengan cerobong semunya. Di sini terdapat kereta mini yang siap mengantarkan pengunjung untuk berkeliling di atap benteng sambil menikmati panorama di sekiling benteng. Meski terlihat mengasyikan, belum diketahui apakah keberadaan kereta mini ini dapat mengancam konstruksi benteng yang sudah tua ini.
Lapangan di tengah benteng.
Setelah puas mengintip ruangan yang ada di dalam benteng, saya berjalan ke lapangan yang berada di tengah-tengah benteng Van der Wijk. Atmosfir kekuatan benteng ini benar-benar terasa ketika saya berdiri di tengah-tengahnya.  Di sini saya merasa kecil dihadapan tembok benteng yang tinggi lagi tebal. Atmosfir ini rupanya menarik hati para sinesas layar kaca, sehingga beberapa tahun yang lalu, benteng ini pernah menjadi lokasi syuting sebuah seri drama televisi.

Fasilitas militer yang ada di sekitar benteng.
Keterangan.Lingkaran merah : Benteng. 1 : Barak. 2 : Rumah perwira (kapten). 3 : Rumah perwira (letnan). 4 : Rumah sakit tentara. 5 : Kompleks makam Belanda.
          Selesai melihat-lihat benteng, saya berjalan ke luar area wisata benteng Van der Wijk. Di sini saya menjumpai rumah-rumah tua bergaya arsitektur kolonial dari tahun 1920an yang dahulu digunakan sebagai rumah dinas untuk perwira militer. Di arah jalan menuju SECATA, terdapat empat buah rumah tua bercat hijau, tanda bahwa rumah ini masih menjadi aset milik milter. Semua rumah ini menghadap ke barat. Rumah-rumah tua lainnya juga saya temukan di jalan yang ada di sebelah barat perempatan pintu masuk benteng Van der Wijk. Namun bentuknya berbeda dengan yang tadi saya jumpai di jalan menuju SECATA. Di sebelah utaranya, terdapat bekas lapangan tenis yang sepertinya sudah seusia dengan kompleks militer tua ini. Para perwira di sini dahulu gemar sekali bermain tenis, olahraga yang digandrungi oleh orang kulit putih pada waktu itu. Selain rumah-rumah perwira militer tadi dan juga lapangan tenis, di sekitar benteng Van der Wijk juga memiliki fasilitas militer lain seperti rumah sakit tentara dan lapangan tembak (yang kini jadi lapangan latihan SECATA).


Bekas rumah dinas perwira militer untuk berpangkat kapten yang berada di jalan ke arah SECATA.
Bekas rumah dinas untuk perwira militer berpangkat letnan.

Catatan Penutup
Contoh vandalisme di benteng Fort Cochius/Van der Wijk, padahal benteng ini sudah menjadi Bangunan Cagar Budaya yang harus dilindungi dan tidak boleh dirusak.
          Begitulah hasil kunjungan saya ke benteng Van der Wijk, anasir kolonialisme yang masih berdiri kokoh di Gombong. Meski benteng ini merupakan peninggalan bangsa Belanda yang dahulu pernah menjajah kita, namun benteng ini juga menjadi penanda betapa kerasnya perlawanan yang dilakukan oleh bangsa kita terhadap penjajah Belanda sehingga para penjajah ini harus membuat sebuah benteng yang begitu kokohnya agar mereka dapat melawan bangsa kita. Selain itu, benteng ini juga dapat memberikan sedikit pengetahuan untuk kita seperti apa teknologi pertahanan pada abad ke-19. Semoga keberdaan benteng ini dapat dilestarikan dan dikembangkan lebih maksimal…

Referensi
Abbas, Novida. 1996. " Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad ke XVII – XIX M di Jawa Tengah " dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No. 04 Th.II. 

-----------------.2001. " Sarana Pertahanan Kolonial Di Jawa Tengah dan Jawa Timur " dalam Berita Penelitian Arkeologi.

Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Musadad. 2002. " Dari Pemukiman Benteng ke Kota Administrasi (Tata Ruang Kota Purworejo Tahun 1831-1930) ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Kompas, 12 Juni 2010.

1 komentar:

  1. Mantap sayang gombong tidak masuk dalam wilayah banjoemas ... salam lestari

    BalasHapus