Minggu, 17 April 2016

Di Balik Keantikan Stasiun Ambarawa

Kejayaan transportasi kereta di masa kolonial tergambarkan dengan baik di stasiun itu. Namun tak banyak yang tahu, di bawah rangka-rangka bajanya, tercium aroma diskriminasi di masa kolonial. Inilah kisah sebuah stasiun tua yang kini menjadi museum, Stasiun Ambarawa….
Bangunan utama stasiun Ambarawa.
Ketika kaki ini mulai melangkah masuk ke stasiun ini, saya serasa dibawa ke suatu periode, periode dimana kepulan uap kereta menyeruak ke langit-langit stasiun dan deru mesin menggetarkan lantai stasiun. Nuansa kekunoannya stasiun yang sejatinya bernama Stasiun Willem I ini masih terasa kentara. Kombinasi bata bergalzur kuning di bawah, guratan ekpose bata merah, dan dinding berwarna putih bersih mempercantik bangunan kantor dan ruang tunggu yang mungil. Tak diketahui siapakah arsitek yang merancangnya, namun setidaknya, stasiun ini berhasil mereprenstasikan puncak kejayaan transportasi kereta api di masa lampau.
Lokasi stasiun Ambarawa pada peta tahun 1909. Perhatikan lokasi stasiun yang dekat dengan benteng Willem I. Stasiun ini sengaja dibangun dekat dengan benteng untuk melayani kebutuhan militer. Dahulu terdapat dua akses ke stasiun ini, yakni di sebelah utara (kini jalan Stasiun) yang kebanyakan digunakan untuk kalangan sipil dan di sebelah selatan (kini jalan Margoroto) yang digunakan oleh kalangan militer (sumber : maps.library.leiden.edu).
Pendirian stasiun ini berhubungan erat dengan peran Ambarawa sebagai kota militer setelah pemerintah kolonial mendirikan sebuah benteng besar yang sudah lama ada sebelum stasiun Ambarawa dibangun. Benteng yang dimaksud tidak lain adalah Benteng Willem I. Ambarawa lambat laun berkembang menjadi garnisun militer yang penting. Selain itu, perniagaan antara Eropa dan Hindia-Belanda kian bergeliat dengan dibukanya Terusan Suez pada 1869 yang memangkas waktu pelayaran antara Hindia-Belanda dengan Eropa. Kemajuan perniagaan tersebut lalu diiringi dengan semakin banyaknya investasi asing yang mengalir untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Hindia-Belanda paska dibukanya keran investasi swasta di Hindia-Belanda oleh pemerintah Kolonial pada tahun 1870. Para pemodal berondong-bondong menanam modalnya dalam bentuk usaha perkebunan partikelir sehingga  perkebunan mulai tumbuh dimana-mana termasuk di sekitar Ambarawa yang notabene iklimnya cukup mendukung untuk tanaman kopi. Sayangnya perekenomian yang sedang bergairah tersebut tidak didukung dengan sarana transportasi yang layak untuk mengangkut orang dan barang dengan cepat dan murah. Jalan raya antara Semarang dan Ambarawa masih berupa jalan tanah yang setiap tahunnya harus rutin diperbaiki dan menjadi beban yang mesti ditanggung pemerintah. Moda angkutan darat yang tersedia saat itu juga masih primitif sekali yakni berupa pedati atau delman yang tidak bisa berjalan cepat dan daya angkutnya terbatas. Selain itu, di musim hujan jalan tersebut sulit dilintasi karena terendam banjir sehingga memperlambat proses pertukaran barang antara pedesaan dan pesisir. Dengan latar belakang tersebut, pemerintah kolonial merasa butuh sebuah sarana pengangkutan massal yang dapat meningkatkan mobilitas militer dan pengangkutan hasil bumi dari sekitar Ambarawa. Kereta api menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut karena dalam sekali jalan, kereta dapat mengangkut barang dan penumpang dalam jumlah besar. Lajunya pun lebih cepat daripada kendaraan tradisional kala itu seperti pedati sehingga waktu tempuh perjalanan menjadi berkurang dan hasil bumi yang diangkut tidak membusuk di perjalanan.
Pembangunan jalur kereta Kedungjati-Ambarawa (sumber : colonialarchitecture.eu).
Pada saat perencanaan pembangunan jalur kereta api di Jawa pada tahun 1860an, Menteri Koloni Belanda Franssen van de Putte memohon kepada kongsi kereta api partikelir Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij (N.I.S.M) supaya Ambarawa dibuatkan jalur kereta terlebih dahulu sebelum ke tempat lainnya. Hal tersebut didasari oleh adanya keberadaan sarana militer berupa benteng dan garnisun yang sudah berdiri di Ambarawa sejak tahun 1840an. Ketersediaan transportasi seperti kereta api akan membantu sekali dalam kepentingan militer seperti mobilitas tentara dan dan logistik militer yang diperlukan seperti ransum, amunisi dan obat-obatan. Oleh karena itu rentetan pembangunan jalur kereta ke arah Ambarawa mulai dikerjakan dengan mengambil percabangan dari Kedungjati pada tahun 1867 bersamaan dengan mulai beroperasinya kereta api di Jawa. Pembangunan itu adalah tantangan berat pertama yang dihadapi oleh N.I.S.M lantaran kali ini mereka harus menggali bukit, menyingkirkan bongkahan batu besar, dan mendirikan jembatan di atas sungai curam. Dengan peralatan yang masih primitif, pembangunan itu tentu berjalan begitu pelan (Java Bode, 2 Oktober 1867). Pembangunan bahkan sempat terhenti pada tahun 1871 karena ada lintasan yang harus diubah dari rencana semula (Java Bode, 24 November 1871). Namun tantangan tadi berhasil dilalui dengan baik. Pada Maret 1873, pembangunan jalur memasuki tahap akhir. Bagian gudang stasiun Ambarawa sudah selesai dibuat dan segala perantinya sudah siap (Bataviasch Handelsblad, 26 Maret 1873). Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1873, jalur kereta lintas Kedungjati - Ambarawa diresmikan untuk umum (Riestma, 1928 : 24). Segala jerih payah selama pembangunan terbayarkan dengan manfaat yang diperoleh. Sebuah simbiosis mutualisme tercipta antara pemilik perkebunan dengan N.I.S.M yang menjalankan roda bisnis perkeretapian. Kehadiran kereta api memperlancar pertukaran barang dan orang antar wilayah menjadi lebih lancar. Hasil pertanian dan industri dapat dikirim ke pelabuhan dengan waktu yang lebih ringkas sehingga resiko hasil panen membusuk di pelabuhan dapat terhindarkan. Di sisi lain barang-barang yang diimpor dari luar dapat didatangkan ke pedalaman sehingga masyarakat yang tinggal jauh dari pelabuhan dapat memperoleh barang dengan mudah. Perpindahan penduduk antar wilayah juga menjadi lancar. Selain itu, kereta api juga mempercepat arus komunikasi dimana saat itu orang masih berkirim pesan melalui surat. Sebelum ada kereta api, surat diangkut dengan kereta khusus yang disebut kereta mail. Kereta tersebut rentan dirampok karena selain membawa surat juga mengangkut uang kiriman. Sejak surat-surat diangkut oleh kereta api, pengiriman surat menjadi lebih cepat dan aman. Pentingnya jalur tersebut untuk militer juga terbukti saat para serdadu yang bermarkas di Ambarawa diterjunkan dalam operasi militer di Lombok dan Aceh pada tahun 1890, 1894, dan 1896. Kereta apilah yang mengangkut mereka dari Ambarawa ke pelabuhan Semarang dan perjalanan tersebut hanya perlu ditempuh dalam waktu kurang dari satu hari saja. Dengan kata lain, kereta api tidak hanya sebagai alat penguras sumber daya alam dari tanah jajahan, namun juga turut menyumbang peran dalam upaya ekspansi kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara.
Stasiun Ambarawa sebelum disempurnakan. Perhatikan bentuk stasiun yang masih sederhana sekali (sumber : media-kitlv.nl).
Sekitar awal abad-20, N.I.S.M. melakukan pembangunan jalur kereta baru yang akan menyambungkan Ambarawa dengan Magelang melalui Secang. Jalur kereta tersebut resmi dibuka untuk umum pada Februari 1905 (Rietsma, 1928 : 62). Namun berhubung medan yang dilalui berupa perbukitan, maka jalur kereta dibuat meliuk-liuk seperti ular yang mendaki bukit. Supaya kereta lebih mudah mengikuti liukan rel, maka lebar rel yang dipakai lebih kecil. Oleh sebab itulah di stasiun Ambarawa terdapat dua jenis jalur rel yang berbeda, yakni jalur rel 1435 mm di emplasemen selatan dan 1067 mm di emplasemen utara. Dari Kedungjati ke Ambarawa menggunakan rel 1435 mm, sementara dari Ambarawa menuju Yogyakarta melalui Magelang menggunakan  rel 1067 mm. Buku panduan terbitan Koninklijke Paketvaart Mij menyarankan para pelancong yang hendak ke Yogyakarta untuk mengambil jalur Kedungjati-Ambarawa-Magelang karena jalur itu menawarkan pemandangan bentang lahan pegunungan yang menarik dan indah ketimbang jalur Kedungjati-Surakarta yang cenderung datar dan monoton. Ketika kereta berhenti sejenak di Ambarawa, para pelancong dianjurkan untuk beranjangsana di Ambarawa, menikmati pemandangan hamparan sawah luas berlatar birunya danau Rawa Pening dan pegunungan di selatan Ambarawa. Di sore hari, dengan membayar sebesar 4 gulden, para pelancong dapat berkendara mengelilingi kota dan mampir melihat-lihat benteng Willem I (Koninklijke Paketvaart Mij, 1911: 69-70).
Suasana stasiun Ambarawa yang terekam pada video Reis Willem I Djocja.Terlihat kereta api yang akan memasuki peron stasiun.
Ketika pertama kali dibuka, bangunan Stasiun Ambarawa terlihat lebih bersahaja jika dibandingkan dengan bangunan yang ada saat ini karena saat itu keuangan N.I.S.M masih terbatas. Setelah N.I.S.M berhasil menangguk banyak pundi-pundi keuntungan, maka Stasiun Ambarawa disempurnakan bentuknya. Selain sebagai bentuk perayaan terhadap kemakmuran yang berhasil diraih oleh N.I.S.M, penyempurnaan Stasiun Ambarawa juga dimaksudkan untuk persiapan menyambut dibukatnya jalur kereta Ambarawa-Secang. Proyek penyempurnaan bangunan stasiun Ambarawa dimulai setahun sebelum jalur tersebut dibuka. Untuk keperluan tersebut, maka gudang lama stasiun dibongkar untuk memperluas stasiun dan sebagai gantinya dibangun dua gudang baru. Pengerjaanya bangunan Stasiun Ambarawa yang baru akhirnya purna sekitar bulan April tahun 1907 dengan menghabiskan biaya sebesar 160.000 gulden (De Locomotief, 6 April 1907). Penyempurnaan itu tampaknya bertujuan untuk mendongkrak citra N.I.S.M sebagai sebuah perusahaan besar dan juga untuk menambah daya pikatnya sebagai stasiun sehingga lebih banyak penumpang agar menggunakan jasa kereta mereka. Apa yang terjadi pada Stasiun Ambarawa ini kurang lebihnya mirip dengan stasiun-stasiun di Perancis yang pada tahun 1850an bangunan stasiunnya masih terlihat kasar seakan-akan bangunan tersebut lebih mengedepankan aspek fungsionalnya semata sebagai tempat pemberhentian kereta. Seiring berkembangnya jasa perkeretapian di kemudian hari, bangunan-bangunan stasiun dibuat lebih anggun dan megah sehingga membuat bangunan stasiun laksana karya arsitektur yang patut diperhitungkan sebagai karya seni bercitarasa tinggi (Burchell. S. C, 1984 : 60).
Sisi depan stasiun Ambarawa.
Overkapping stasiun Ambarawa dilihat dari arah tenggara.
Saya kini berjalan di bawah naungan overkapping atau kanopi stasiun yang dibuat di Jerman. Harian De Locomotief tanggal 6 April 1907 menyebutkan bahwa kanopi stasiun tersebut adalah yang terbesar kedua di Jawa setelah kanopi stasiun Surabaya Kota. Atap stasiun tersebut memang dibuat dalam ukuran besar mengingat peran Stasiun Ambarawa sebagai stasiun transit kereta dari Secang dan sebaliknya yang memiliki lebar rel berbeda sehingga tentu cukup banyak penumpang yang akan turun di sini. Pembuatan dan pemasangannya sendiri menghabiskan biaya sebesar 60.000 gulden. Kanopi tersebut menudungi bangunan untuk tempat penjualan karcis, kantor telegraf, kantor kepala stasiun, biro paket, ruang tunggu penumpang kelas 1 dan 2 yang di dalamnya ada ruang toilet, dan ruang tunggu kelas 3 yang berada di luar. Bangunan yang terlihat rapi tanpa cacat dan masih berdiri kokoh sampai sekarang menunjukan kualitas pengerjaan yang dilakukan secara total dan bahan yang dipilih benar-benar bermutu prima. Selain kereta, jejak revolusi industri yang tampak pada stasiun ini juga terlihat pada material-material yang dipakainya. Material-material yang menyokong stasiun itu dibuat oleh pabrik pengecoran logam di Amsterdam sesuai pesanan. Kemudian barang-barang itu dikirim dengan kapal uap, melintasi Terusan Suez dan sesudah dibongkar di pelabuhan Semarang, mereka diangkut menggunakan kereta. Hamparan lantai tegel kekuningan yang saya injak inipun juga merupakan buah revolusi industri yang lain. Tegel-tegel itu dibuat secara masal di sebuah pabrik tegel di Maastricht, Belanda, dan ia diangkut ke sini dengan cara sebagaimana kanopi baja tadi diangkut. Ya, aura revolusi industri terasa kentara di stasiun ini.
Tiang-tiang baja penyangga konstruksi atap.
Para pengunjung tampak antusias berfoto-foto di setiap sudut stasiun dan anak-anak kecil terlihat berlarian tak karuan. Pemandangan tadi tentu tak terlintas di benak para meneer-meneer yang sedang menanti kedatangan kereta puluhan tahun silam, ketika mereka duduk di bangku peron yang panjang, menikmati semilir udara Ambarawa nan sejuk yang membuat mereka nyaris tidur terlelap di bangku itu. Supaya terjaga, beberapa ada yang membaca koran De Locomotief yang didapatkan secara cuma-cuma di ruang tunggu penumpang kelas I. Para kuli pribumi terlihat lalu lalang membawa barang dari gerbong ke gudang. Kepala stasiun berwajah tegas keluar dari kantornya, memberi aba-aba kepada penumpang untuk segera bergegas karena kereta sebentar lagi akan tiba...
Detail bangunan stasiun.
Sinyal kereta yang tanda masuk atau keluar dari stasiun Ambarawa diatur di dalam ruang kotak kecil ini. Sinyal yang dipakai menggunakan sinyal mekanik.
Saya kemudian memasuki ruang yang dulu menjadi ruang tunggu untuk penumpang kelas 1. Ruang tersebut menempati sebuah bangunan tersendiri dan terpisah dari ruangan administrasi.  Ruangan itu masih asli, sehingga begitu masuk saya serasa terhanyut oleh arus waktu yang membawa saya kembali ke belakang. Lihatlah lantai tegel antik bermotif bunga-bungaan yang membuat saya tak tega untuk menginjaknya. Di ruangan inilah para penumpang kulit putih menunggu kereta sembari bersantai menikmati kudapan yan prasmanan dan minuman keras seperti gin, genever, bir, atau wine yang disajikan secara prasmanan Di dalam sana juga sudah tersedia ruang buang hajat yang sudah dipisahkan sesuai jenis kelamiun. Namun dibalik keantikannya, ruangan itu sebenarnya adalah contoh bentuk segregasi orang pribumi dengan orang Eropa di masa kolonial…
Bangunan untuk ruang tunggu penumpang kulit putih.
Tegel dengan ornamen yang cantik ini menambah kesan mewah pada ruang tunggu untuk kulit putih.
Bagian dalam ruang tunggu dengan meja bartender. 
Toilet di dalam ruang tunggu. Toilet ini sudah dipisah berdasarkan gender.
Di masa lampau, bahkan sebelum mereka naik ke tangga kereta, terdapat perbedaan dalam perlakuan penumpang Eropa dengan penumpang pribumi. Orang pribumi memesan tiket di tempat yang terpisah dengan orang kulit putih. Sekalipun telah memesan tiket penumpang kelas 1, mereka tak ada yang berani menunggu di ruang tunggu orang kulit putih. Jikapun berani, mereka akan diusir oleh pegawai stasiun. Mereka akhirnya harus berpuas menunggu kereta di ruang tunggu terbuka di ujung barat stasiun ini yang dimaksudkan untuk penumpang kelas 2 dan 3.
Ruang tunggu untuk penumpang non-Eropa.
Bangunan toilet untuk penumpang non-Eropa.
Sembari berjalan keluar, saya melihat-lihat aneka lokomotif uap tua yang dipajang seperti rangkaian kereta. Lokomotif-lokomotif kuno ini merupakan sebagian kecil dari lokomotif kuno yang berhasil diselamatkan pada tahun 1970an. Kala itu, banyak lokomotif peninggalan Belanda yang tak lagi dioperasikan akibat biaya pemeliharaannya yang tinggi yang berujung digantinya mereka dengan lokomotif diesel. Menjadi pajangan adalah nasib terbaik yang diterima oleh lokomotif tua tadi. Kebanyakan mereka dibantai di peleburan besi-besi tua. Demi menyelamatkan artifak-artifak tadi, atas prakarsa Gubernur Jateng saat itu, Soepardjo Rustam dan Kepala Eksploitasi Tengah PJKA, Ir. Soeharso, tanggal 8 April 1976 dibahas suatu rencana untuk membuka sebuah Museum Kereta Api. Awalnya museum ini akan menjadi satu dengan Museum Transportasi di Jakarta, namun akhirnya rencana itu urung dilakukan. Pilihan terakhir jatuh ke Stasiun Ambarawa dengan pertimbangan nilai sejarah dan kondisi fisik bangunan yang masih terjaga. Maka pada 9 Oktober 1976, Stasiun Ambarawa diresmikan sebagai Museum Kereta Api (Gendro Keling, 2011: 100). Hingga sekarang, Stasiun Ambarawa masih eksis sebagai Museum Kereta Api terbesar di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara.
Di dekat stasiun, masih terjumpai beraneka artefak perkeretapian seperti corong air tempat memasukan air ke dalam ketel lokomotif. Air tersebut dipasok dari sumur bor dan ditampung reserovir di dekatnya. Selain itu ada alat berupa meja putar atau turntable yang berguna untuk melangsir lokomotif. Walaupun terlihat sederhana, namun komponen ini amatlah penting bagi kereta uap. Manakala kereta akan berjalan ke Stasiun Bedono yang posisinya lebih tinggi, posisi lokomotif harus berada di belakang rangkaian gerbong. Di ujung area stasiun, terdapat tinggalan depo lokomotif Stasiun Ambarawa yang dibangun tahun 1904. Depo tersebut memiliki lima pintu masuk di kedua sisinya. Di depo itulah lokomotif diperbaiki dan mendapat perawatan. Depo itu kira-kira dapat menampung dua jenis lokomotif yang berbeda lebar, yakni empat lokomotif dengan lebar 1453 mm dan enam lokomotif dengan lebar 1057 mm (De Locomotief, 10 Desember 1904)
Bangunan depo Stasiun Ambarawa tempo dulu (sumber : data.collectienederland.nl)
Depo staisun Ambarawa. Depo ini didesain khusus agar bisa memperbaiki lokomotif dengan gauge 1435 mm dan 1067 mm.
Turntable atau meja putar. Meja putar ini masih bisa diputar sampai sekarang.
Stasiun Ambarawa juga memiliki dua buah gudang yang terdapat di sebelah selatan dan barat stasiun. Di gudang itulah disimpan berbagai macam barang. Masing – masing gudang memiliki pintu model geser agarpintu dibuka berbenturan dengan gerbong barang ketika dibuka. Batur atau pondasi gudang sisi rel sengaja dibuat sejajar dengan tinggi boogie kereta untuk memudahkan pemindahan barang dari gerbong ke gudang atau sebaliknya. Hal yang sama juga tampak pada batur gudang sisi jalan yang telah disejajarkan dengan tinggi truk sehingga pemindahan barang dari truk ke gudang atau sebaliknya menjadi gampang. Stasiun Ambarawa juga dilengkapi tiga buah rumah kediaman untuk personel pegawainya yang mengelompok di sisi barat Lapangan Pangsar. Sudirman. Jaraknya masih cukup dekat dengan stasiun supaya mudah dijangkau pegawai. Sayang, pesona keantikan rumah-rumah tadi sedikit terhalang oleh beberapa kios yang berdiri di tepi jalan.
Rumah dinas pegawai Stasiun Ambarawa dengan bentuk atap hipped gable yang kondisinya kurang terawat.
Rumah dinas pegawai Stasiun Ambarawa yang baru saja direnovasi. Di samping rumah ini (yang masih satu atap) juga ada rumah yang bentuknya serupa, namun sudah tertutup oleh bangunan baru sehingga fasadnya tidak terlihat.
Seperti itulah kisah dibalik keantikan Stasiun Ambarawa, sebuah mutiara dari untaian jalur kereta yang kini tinggal kenangan saja. Melalui kolonialisme, terjadi suatu pertukaran antara Barat dan Timur. Belanda membawa hasil perkebunan dari bumi Nusantara ke benua Eropa untuk selanjutnya dikonsumsi oleh masyarakat Eropa. Pada saat yang sama pula, mereka memperkenalkan dan menerapkan teknologi modern temuan mereka ke Nusantara yang hingga hari ini masih dapat dirasakan manfaatnya seperti kereta api. Kendati tak lagi dipakai sebagai tempat naik turun penumpang, namun kini ia sintas menjadi museum yang menuturkan kejayaan kereta api di masa lampau. Kehadiran para pengunjung dan keberadaan para pedagang cenderamata di sekitarnya seolah menjadi tiupan sukma untuk kehipudan stasiun ini…

Referensi
Burchell, S. C. 1984. Abad Kemajuan. Jakarta:  Penerbit Tira Pustaka.
Keling, Gendro. 2011. "Latar Belakang Alih Fungsi Stasiun Kereta Api Willem I Menjadi Museum Kereta Api Ambarawa" dalam Forum Arkeologi TH.XXIV No.2 Agustus 2011.
Koninklijke Paketvaart Mij1911. Guide Through Netherlands India. Amsterdam : J. H. de-Bussy.
Rietsma, S.A. 1928. Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indisce Spoor-en Tramwegen. Weltevreden ; G.Kolff & Co.
Tim Penyusun. 2014. Forts in Indonesia, Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten :Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.
De Locomotief, 10 Desember 1904
De Locomotief, 6 April 1907.
Java Bode, 24 November 1871
Java Bode, 2 Oktober 1867
Bataviasch Handelsblad, 26 Maret 1873

Kamis, 07 April 2016

Kepingan Peninggalan Budaya Tionghoa di Kota Purworejo

Purworejo memang kota yang kaya akan peninggalan sejarah kebudayaan, mulai dari kebudayaan masa kerajaan Hindu-Budha, Islam, hingga Indis. Selain itu, kota ini juga menyimpan kekayan warisan budaya Tionghoa yang menarik untuk disusuri. Apa sajakah itu ?
Ruko-ruko bergaya Tionghoa di Kawasan Pecinan Purworejo.
Jajaran ruko-ruko bergaya Tiongkok selatan itu berjejer di sepanjang Jalan Ahmad Yani, sepenggal jalan yang menjurus ke Pasar Baledono, jantung perekonomian kota Purworejo yang kini sedang dipulihkan kembali paska terbakar tahun 2013 silam. Pecinan Purworejo memang tak terlalu luas, terbentang hanya sepanjang 964 meter mulai dari perempatan Jalan Magelang di ujung utara hingga perempatan Monumen W.R. Supratman di sebelah selatan. Ukurannya yang tak begitu luas disebabkan karena Purworejo sendiri bukanlah kota perdagangan utama di masa lampau. Sepanjang perjalanan, semerbak aroma cengkeh yang dijemur tercium oleh hidung saya. Selain cengkeh, di sepanjang jalan itu dijemur pula berbagai rempah dan tanaman herbal yang digunakan sebagai obat herbal. Orang-orang Tionghoa sejak dahulu hingga sekarang memang terkenal sebagai penjual obat herbal yang cukup berkhasiat. Sembari berjalan, saya mencoba untuk mengingat-ingat asal-usul kawasan pecinan ini…
Salah satu jalan di Pecinan Purworejo yang kini menjadi Jalan Kolonel Sugiono. Di ujung terlihat pertigaan Buh Penceng (sumber : mediaa-kitlv.nl).
Pertigaan Buh Menceng. Foto ini menghadap ke arah selatan ( sumber : mediaa-kitlv.nl ).
Orang-orang Tionghoa sudah menyinggahi sejumlah tempat di Nusantara sejak beberapa abad silam, bahkan hal tersebut sudah terjadi ketika kerajaan Sriwijaya sedang mencapai kejayaannya pada abad ke - 8 M. Selanjutnya pada abad ke-14, orang-orang Tionghoa mulai menetap di beberapa kota pelabuhan pesisir utara Jawa seperti Tuban, Gresik, Lasem, Cirebon, Demak, Banten, dll. Awal mula munculnya permukiman di tempat-tempat tersebut berkaitan dengan kegiatan perdagangan antara India dengan Tiongkok melalui jalur laut. Saat itu, pelayaran kapal-kapal dagang tergantung dengan kondisi angin musim dan periode badai. Saat kondisi angin tidak mendukung pelayaran, para pedagang menetap lebih lama di kota pelabuhan yang disinggahinya (Handinoto, 2012: 349). Namun Arus kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara benar-benar kian terasa saat terjadi perubahan politik di tanah Tiongkok pada abad 17. Wangsa Ming yang semula memerintah Tiongkok digulingkan oleh orang-orang etnis Manchu yang kemudian mendirikan wangsa Qing. Orang-orang Manchu yang terus merangsek ke Tiongkok selatan yang masih setia kepada wangsa Ming. Gejolak politik tersebut memaksa sejumlah orang-orang Tiongkok selatan - terutama dari Hokkien, Hakka, Fujian, dan Teochiu - untuk meninggalkan kampung leluhur mereka dan merantau ke tanah seberang lautan yang belum dikenal sebelumnya.
Bong Jana, satu-satunya jejak fisik komunitas Tionghoa di Jana yang masih tersisa. 
Komunitas Tionghoa yang sempat eksis di Desa Jana, Kecamatan Bayan, Purworejo barangkali adalah titik awal sejarah kehadiran komunitas Tionghoa di Purworejo. Masih menjadi tanda tanya sejak kapan mereka ada dan apa yang melatari mereka memilih tinggal di sana. Kuat dugaan bahwa masyarakat Tionghoa di Jana tersebut merupakan orang-orang Tionghoa pelarian dari Batavia tatkala terjadi gejolak Geger Pecinan pada tahun 1740. Mereka menyingkir ke daerah pedalaman Bagelen karena wilayah tersebut jauh dari jangkauan pengaruh VOC. Di Jana, mereka meraih kemakmuran dengan menjadi petani kapas atau penenun. Hasil tenunan mereka dipasarkan sampai Batavia dan digunakan sebagai pakian budak. Dr. Horsfield yang sempat menjelajah wilayah pedalaman Bagelen pada masa pemerintahan Raffles membuat catatan wilayah Jana sebagai berikut ;

Jonno adalah produsen kain linen terbesar dan terkenal di Bagelen yang ditawarkan di sini untuk dijual pada hari-hari tertentu dalam seminggu. Seluruh tempat ini terkenal dengan ladang kapasnya yang subur. Kekurangan atas pasokan kapas dapat tecukupi dengan pasokan kapas dari wilaya tetangga, Banjyumas. Dalam rute saya yang lebih jauh, saya sering bertemu dengan angkutan kapas menuju pasar Jonno. Perdagangan barang ini, baik mentah maupun jadi, sebagian besar dijalankan oleh orang Cina; dan sejumlah dari mereka memiliki tempat tinggal permanen di sini. Beberapa tempat tinggal mereka di Jonno dibangun dari batu bata, dan mirip dengan penduduk yang lebih kaya di ibu kota. Sebuah cabang sungai Bogowonto ke sungai Jali, melewati pasar ini, dan selama musim hujan seluruh wilayah di sekitarnya tergenang air seluruhnya sehingga hubungan dengan desa-desa tetangga hanya bisa dilakukan dengan perahu”.

Namun damainya hidup di Jana mulai terusik sejak tahun 1825 bersamaan dengan meletusnya Perang Jawa. Setahun berikutnya pemerintah kolonial mengeluarkan UU Wijkenstesel yang mengharuskan orang-orang untuk tinggal di daerah atau wilayah yang telah ditentukan di dalam kota. Dengan kata lain, orang-orang Tionghoa yang tinggal di pelosok desa harus pindah ke kota pusat kekuasaan pemerintah kolonial (Handinoto, 2012: 358). Pemerintah kolonial mengeluarkan aturan tersebut dengan dalih untuk mengamankan orang-orang Tionghoa dari gangguan laskar Diponegoro. Namun tujuan utama dari aturan tersebut adalah untuk mencegah bergabungnya orang-orang Tionghoa dengan kubu Diponegoro melawan Belanda. Aturan Wijkenstelsel cukup memberatkan bagi orang-orang Tionghoa yang sudah terlanjur hidup nyaman sebagai petani dan pengrajin di desa. Pemerintah kolonial akhirnya berusaha "memaksa" mereka pindah dengan membiarkan para bandit merampok hasil panen mereka. Akibat ulah dari pemerintah kolonial tersebut, rusaklah kehidupan harmonis orang pribumi dengan orang Tionghoa di Jana yang sudah berlangsung sekian tahun. Gesekan antara orang Tionghoa dan pribumi yang diciptakan oleh pemerintah kolonial akhirnya mencapai puncaknya dengan meletusnya peristiwa Geger Pecinan dalam skala kecil di Jana pada tahun 1827. Kendati persitiwa Geger Pecinan versi Purworejo ini tidak separah di Batavia, namun korban yang berjatuhan dari masyarakat Tionghoa amatlah banyak. Semua hunian milik orang Tionghoa dihancurkan hingga rata dengan tanah. Akibat persitiwa itu, orang-orang Tionghoa di Jana yang akhirnya melakukan bedhol desa, pindah ke tempat-tempat yang lebih aman seperti Parakan dan Purworejo (Becking, 1923; 751). Kini hampir tiada jejak masyarakat Tionghoa di Jana selain sebuah kubur Tionghoa tua yang sudah lapuk termakan usia.
Lokasi kawasan pecinan Purworejo (kotak merah) dan kompleks bong (kotak biru) (sumber : maps.library.leiden.edu)
Setelah permukiman Tionghoa lama di Jana lenyap, muncul permukiman Tionghoa baru di dekat pusat pemerintahan Purworejo. Purworejo yang pada mulanya hanyalah pos militer di garis depan Perang Jawa berkembang menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Bagelen dan garnisun militer Belanda di pesisir selatan yang berhadapan dengan Vorstenlanden (tanah Kesultanan Yogyakara). 
Berdasarkan Wijkenstelsel, mereka diharuskan tinggal di tempat yang sudah ditentukan pemerintah dan tinggal mengelompok agar mudah diawasi. Pemerintah kolonial menentukan Baledono yang saat itu masih berupa padang rumput besar sebagai permukiman orang Tionghoa di Purworejo. 
Sesudah mereka tidak bisa menjadi petani lagi untuk sumber penghidupan, akhirnya mereka menjalankan profesi sebagai pedagang sehingga mereka mendirikan rumah yang merangkap fungsi sebagai warung atau toko. Banyak barang-barang yang dijual oleh mereka mulai dari barang pecah belah, kain, besi, perabotan, dan tembaga (Musadad. 2002;8). Baledono dikenal juga sebagai Klein Laweyan atau Laweyan Kecil karena industri batik di sana cukup banyak, terutama jenis batik cap. Namun kejayaan batik Baledono merosot pada tahun 1930an akibat krisis malaise (Angelino, 1930: 92).
Deretan bangunan lama berupa ruko di jln.Ahmad Yani. Di ujung atap terdapat hiasan seperti cerobong semu.
Meskipun sedikit jauh dari alun-alun, tempat tersebut cukup menguntungkan karena dilalui oleh Groote Weg atau jalan raya Purworejo-Magelang yang dibuat oleh bupat Tjokronegoro I. Bagaikan gula yang dikerubungi semut, tempat tersebut didatangi pedagang lain dari berbagai tempat. Para petani dari desa membawa hasil ladangnya ke sana. Pedagang dari luar kota juga datang ke sana untuk memasarkan dagangannya. Pelan tapi pasti, Baledono tumbuh menjadi simpul perekonomian Purworejo dan secara alamiah muncul sebuah pasar sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar itulah yang saat ini dikenal sebagai Pasar Baledono. Kawasan pasar Baledono-pun kian ramai dengan kedatangan gelombang orang Tionghoa dari Solo dan Semarang. Pasar Baledono sempat dilalap si jago merah pada tahun 2013 silam. Sebelum terbakar, saya sendiri memiliki cukup banyak kenagan akan pasar ini. Paman saya tinggal tidak jauh dari pasar ini dan saya kerap mengunjunginya, sehingga saya sudah familiat dengan suasana pasar Baledono. Masih teringat dalam ingatan saya suara teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya, deretan angkot yang menunggu penumpang di bawah tangga pasar, barisan para kuli panggul yang sedang membongkar barang, tumpukan sampah yang menggunung di sudut pasar, hingga bau amis daging dari kios pedagang daging. Empat tahun setelah peristiwa kebakaran itu, Pasar Baledono dibangun kembali dengan gedung yang lebih megah.
Ruko-ruko tradisional Tionghoa yang masih utuh di tengah himpitan bangunan baru.
Ruko-ruko Tionghoa yang masih bertahan.
Setidaknya, ada dua jenis ruko tradisonal Tionghoa di Pecinan Purworejo, yakni ruko berlantai satu dan berlantai dua.
Seperti itulah asal muasal kawasan pecinan Purworejo. Tetengernya yang paling kentara tentu saja jejeran ruko-ruko tua bergaya Tiongkok selatan itu. Karena orang-orang Tionghoa dahulu mayoritas bekerja sebagai pedagang, maka rumah kediaman mereka merangkap pula sebagai toko. Apabila ruko itu berlantai dua, maka toko ada di bawah dan hunian keluarga ada di lantai dua. Sementara jika ruko itu hanya berlantai tunggal, maka toko ada di depan sementara hunian ada di belakang. Agar udara dapat masuk ke bagian ruag tengah, maka dibuatlah halaman kecil di tengah-tengah. Bentuk atapnya menyerupai kipas, disebut atap tipe shan, bentuk atap yang banyak dipakai pada ruko di daerah Tiongkok selatan. Setiap bangunan memiliki tembok samping yang melebihi atap bangunan atau dalam bahasa mandarin disebut feng huo qiang, tujuannya agar kebakaran tidak merambat luas. Sayang, jumlah ruko-ruko yang asli mulai berkurang. Mereka telah tergantikan dengan ruko-ruko yang bergaya lebih modern dan lebih besar ukurannya demi kebutuhan ruang dan selera empunya.
Klenteng Thong Hwee Kiong.
Di belakang pasar itu, terdapat Klenteng Thong Hwee Kiong yang didirikan oleh para pedangang Tionghoa di Purworejo pada tanggal 22 Februari 1888 sebagai ucapan terima kasih kepada Dewa Bumi atas kemakmuran dan keselamtan yang telah dilimpahkan. Pembangunan kelenteng ditanggung oleh masyarakat Tionghoa secara gotong royong. Bentuknya relatif sederhana apabila dibandingkan dengan klenteng di pesisir yang ukurannya besar dan pernak perniknya lebih meriah. Terdiri dari sebuah pendopo kecil di depan, bangunan tempat altar dewa utama dan bangunan samping untuk dewa-dewa tambahan. Dalam sistem religi masyarakat Tionghoa, kelenteng merupakan tempat sembahyang untuk Langit, Bumi, dan Leluhur. Pada perkembangannya, kelenteng menjadi tempat ibadah agama RuDaoShi atau agama Konghuchu (Ru), Tao (Dao), dan Buddhisme (Shi). Apabila melihat nama kelenteng, kiong, unsur agama Tao yang menonjol di sini.
Klenteng Thong Hwee Kiong pada tahun 1930an.
Dari luar, warna merah mendominasi keseluruhan bangunan yang bubungan atapnya berbentuk seperti ekor walet. Ornamen sebuah bola api (Huo zhou) yang diapit oleh dua patung dua ekor naga (xing long) bertengger dengan anggun di puncak atap. Di dinding depan ruang altar, terdapat relief hewan mitolgis campuran kuda dan naga, yaitu qilin. Di bagian depan klenteng terdapat paviliun kecil yang dibawahnya terdapat sebuah wadah besar tempat menaruh dupa. Di puncak atap pendopo ini, terdapat hiasan chi wei yakni ikan berkepala naga yang dipercaya sebagai pelindung dari musibah kebakaran. Material klenteng yang sebagian besar terbuat dari kayu memang rawan terbakar, apalagi ibadah orang Tionghoa tak jauh-jauh dari api, sehingga bahaya kebakaran dapat mengancam kelestarian kelenteng ini sewaktu-waktu. Pendopo itu juga merupakan batas antara wilayah sakral dan profan.
Bagian dinding depan klenteng yang kaya akan ornamen bercorak Tionghoa. Dari sini terlihat ruang altar dewa Hok Tek Cing Sin yang menjadi dewa utama klenteng ini.
Suasana kelenteng itu tampak sepi. Saat ini, jumlah orang-orang Tionghoa yang beribadah di klenteng itu kian sedikit karena banyak dari mereka yang sudah berpindah kepercayaan. Jikapun ada yang beribadah di sini, kebanyakan adalah orang-orang tua yang masih teguh memegang kepercayaan leluhurnya. Menurut Ardian Cangianto (2015), selain berfungsi sebagai tempat peribadatan, sebuah kelenteng sesungguhya menyimpan fungsi yang amat banyak seperti sebagai tempat rapat, sekolah, tempat penampungan yatim piatu, mengurus kematian, dan pusat kegiatan sosial. Dalam kebudayaan Tionghoa, kelenteng adalah inti kehidupan masyarakat Tionghoa, baik yang tinggal di kota atau desa. 
Rumah kuno di Jalan Kemuning.
Berikutnya, saya kembali lagi menyusuri Jalan Ahmad Yani yang begitu ramai. Pedagang kaki lima menggelar lapaknya di atas trotoar. Kendaraan parkir di pinggir jalan, sehingga lalu lintas sedikit tersendat. Saya pun sejenak berbelok ke jalan Kemuning. Beberapa tahun silam sebelum Pasar Baledono terbakar, Jalan Kemuning hanyalah seruas jalan yang tak begitu ramai. Deretan kios-kios penjahit setidaknya sedikit memberi nafas kehidupan untuk jalan ini. Namun semua itu berubah setelah Pasar Baledono terbakar. Pedagang-pedagang Pasar Baledono membuka kios darurat di sini, sehingga jalan ini seketika berubah menjadi pasar. Di balik kios-kios itu, saya menemukan sebuah bangunan kuno yang telah lama ditinggalkan pemiliknya. Rumput belukar kini tumbuh liar di halaman depannya.
Suasana kawasan Pecinan Purworejo di Buh Penceng pada tahun 1930an. Toko besar di kanan jalan kini menjadi Toko "Merak". Sementara toko di sebelah kiri jalan bangunan nya belum berubah sampai sekarang.
Sebuah ruko di dekat Buh Penceng.
Penyusuran di kawasan Pecinan saya teruskan lagi ke jembatan Buh Penceng, seruas jembatan yang membentang di atas Kali Kedungputri. Jumlah ruko Tionghoa yang masih utuh di sekitar sini kian sedikit. Tapi ada satu tetenger yang menjadi ciri khas kawasan Buh Penceng. Tetenger itu bukanlah bangunan, melainkan sebuah tugu telegraf yang masih tertancap di tempatnya selama puluhan tahun.
Rumah tua bergaya Indis di Jalan Ahmad Yani. Dari ukuran bangunan yang terbilang besar dan dekorasinya yang banyak dan mewah, rumah ini tampaknya pernah menjadi tempat tinggal seorang Kapiten Tionghoa.
Bagian beranda depan rumah.
Tiada bangunan yang lebih akbar dan mewah di kawasan Pecinan Purworejo selain bangunan berlanggam Indis Empire Style yang terletak seratus meter ke utara dari perempatan patung W.R. Supratman. Di sini, saya menjumpai beranda depan yang tinggi dengan deretan tiang dari besi cor yang antik di depannya. Tegel-tegel dengan motif yang menarik juga dapat dilihat di sana. Dari langgamnya, ia jelas mendapat sedikit pengaruh kebudayaan Indis yang berkembang pada abad ke-19. Kebudayaan Indis rupanya tak hanya monopoli orang Belanda totok atau Indo saja. Orang-orang Tionghoa, terutama yang dekat dengan lingkaran penguasa kolonial, juga ikut terpengaruh dengan arus kebudayaan tersebut sebagai upaya menyejajarkan dirinya dengan orang Belanda. Bangunan ini tampaknya semula merupakan kediaman seorang kapiten Tionghoa. Seorang kapiten Tionghoa atau Kap-twa bertugas untuk mengatur perkara-perkara yang terjadi di dalam komunitas Tionghoa dan pengontrolan atas wilayah pecinan. Pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1837 kemudian membentuk Kongkoan, semacam dewan yang terdiri dari orang-orang Tionghoa yang diberi gelar mayor, kapten dan letnan. Sekalipun berbau militer, gelar tersebut hanya bersifat tituler saja dan tak ada kaitanya dengan urusan militer. Kapiten Tionghoa pertama di Purworejo bernama Be Ing Tjioe (Becking, 1923; 751). Dalam buku Riwayat Semarang karya Liem Thian Joe, diceritakan Be Ing Tjioe lahir di Tiongkok pada tahun 1803. Sewaktu ia masih anak-anak, ia dibawa ke Jawa oleh Tan Nio, saudagar tembakau dari Semarang yang juga menjadi majikannya. Karena ia bekerja dengan giat, ia diangkat oleh majikannya sebagai menantu. Sesudah menikah, ia diutus mertuanya untuk membantu Tan Tiang Tjhing yang membutuhkan tenaga untuk mengurus pacht madat di Bagelen. Pada tahun 1824, pergilah Be Ing Tjioe ke Bagelen. Setelah berdiam di sini selama beberapa tahun, Be Ing Tjioe diangkat sebagai kapiten dengan nama kebesaran  Be Tjing Khwee pada 7 Januari 1839. Beberapa purnama kemudian, ia kembali ke Semarang. Di sana ia mendirikan rumah megah lengkap dengan taman indah yang dikenal sebagai Kebon Dalem. Karena pernah menjadi kapiten di Purworejo (saat itu masih bernama Brengkelan), maka masyarakat Semarang menjuluk Be Ing Tjioe sebagai Kapiten Brengkelan. Be Ing Tjioe meninggal di Batavia pada tahun 1857. Jasadnya dibawa ke Semarang dengan sebuah kapal yang disewa khusus dan upacara kematiannya diselenggarakan secara besar-besaran (Liem Thian Joe, 1931; 153).
Bangunan tersebut pernah dipakai sekolah yang didirikan oleh organisasi Konghucu, Tiong Hoa Hwee Kwan. Salah satu aktivitas organisasi ini yakni mendirikan sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa (Heidhues, 1972 ; 257). 
Sekitar, tahun 1930an, bangunan ini dipakai sebagai sekolah milik perkumpulan Tiong Hoa Hwee Kwan yang dibentuk di Batavia pada paruh pertama abad ke-20. Perkumpulan itu dibentuk sebagai wadah pendidikan anak-anak Tionghoa. Di masa kolonial, nasib anak-anak orang Tionghoa lebih sukar dibanding anak pribumi dimana akses pendidikan untuk mereka tertutup rapat. Bahkan seorang anak orang Tionghoa ternama ditolak masuk karena sekolah-sekolah yang dibuka pemerintah kolonial hanya diperkenankan untuk orang pribumi dan Eropa saja. Akhirnya dibentuklah perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan untuk memberikan jalan anak-anak Tionghoa untuk duduk di bangku sekolah. Kemunculan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan akhirnya menyadarkan pemerintah kolonial untuk mendirikan sekolah negeri bagi kaum Tionghoa, HCS (Hollandsch Chineese School). Gedung HCS Purworejo sekarang menjadi SMP Penabur. Alih-alih mengenal sebagai rumah kapiten atau sekolah Tionghoa, masyarakat Purworejo rupanya lebih mengenal bangunan ini sebagai Hotel Indra. Dalam ingatan kolektif masyarakat, hotel ini pernah menjadi tempat menginapnya grup band legendaris Koes Plus. Bangunan tersebut kini menjadi tempat penjualan karcis bus dengan fasad yang rusah separo akibat gempa tahun 2006.
Kompleks Bong Tawangrejo.
Dari kawasan Pecinan, saya bergerak sedikit menjauh ke utara, tepatnya di Desa Tawangrejo. Di desa yang sebenarnya masih terhitung dekat dengan kota Purworejo itu, terhampar kompleks permakaman Tionghoa yang lazim disebut bong. Lokasinya yang berada di lereng bukit sangatlah ideal untuk tempat permakaman karena lokasi seperti itu dianggap memiliki fengshui yang baik, sehingga dipercaya arwah leluhur dapat mewariskan keberuntungan kepada sanak keluarga yang masih hidup. Tanah yang lokasi fengshui nya baik biasanya ditawarkan kepada anggota masyarakat yang berada.
Medan kompleks bong yang naik turun membuat saya terengah-engah ketika menjelajahi setiap bong yang ada di sana. Bong tradisional Tionghoa memiliki ciri tersendiri jika dibandingkan dengan makam-makam lain. Ciri utamanya ialah berbentuk seperti gundukan kecil dan apabila dilihat dari atas berbentuk seperti rahim perempuan. Hal tersebut terkait dengan konsep kelahiran kembali sesudah kematian atau reinkarnasi yang dipercaya oleh orang Tionghoa. Selain itu, di depan bong pai atau prasasti makam, terdapat altar untuk sembahyang dan meletakan sesaji serta di sampingnya terdapat altar dewa bumi. Kuburan itu kadang bisa diisi dua jenazah suami istri (Pratiwo. 2010; 75). Sebuah bong kadangkala diberi pernak-pernik antara lain patung hewan-hewan seperti naga, Chi Lin (anjing berkepala singa) dan burung phonix, motif tumbuhan seperti labu dan teratai. Hiasan-hiasan ini memiliki makna dan simbol tertentu yang dianggap bisa mendatangkan berkah untuk keluarga yang masih hidup. Misalnya hiasan Chi Lin dianggap bisa mendatangkan berkah, keselamatan, kesehatan dan keamanan. Ketika semakin banyak orang Tionghoa yang menganut agama Kristen, maka bentuk kuburan-kuburan pun ikut berubah. Kali ini bentuknya menyerupai atap sebuah gereja dengan salib di bagian atasnya. Adanya makam-makam baru di antara makam-makam lama dengan latar belakang keagamaan yang berbeda setidaknya menunjukan bahwa anak cucu masih ingin dekat dengan leluhur sekalipun mereka sudah meninggalkan keyakinan leluhurnya.

Bong pai merupakan sebutan untuk prasasti yang terpancang di depan makam. Ia biasanya terbuat dari batu andesit. Sayang, karena saya tak dapat membaca aksara mandarin, maka saya tak dapat mengetahui siapakah yang dimakamkan di situ. Dari literatur yang saya tahu, isi tulisan pada sebuah bong pai lumayan kompleks dan ada aturan tersendiri dalam penulisannya. Selain tertulis nama orang dan tanggal kematian, di situ juga tertulis nama sanak keluarga dari si meninggal. Dalam tradisi Tionghoa, ikatan keluraga adalah hal yang sangat penting, sehingga jikapun telah ditinggal mati, maka diharapkan ikatan keluarga masih bisa terjaga. Sengakalan kematian yang ditulis di bong pai disesuaikan dengan tahun kaisar yang memerintah di Tiongkok sana. Sebagai contoh ada seseorang yang meninggal pada tahun 1880. Sementara itu, ketika orang itu meninggal yang menjadi kaisar adalah kaisar Guangxu yang naik tahta pada pada tahun 1875, maka tahun meninggal yang ditulis di makam adalah “Tahun ke-5 Kaisar Guangxu”.

Demikianlah hasil penyusuran saya pada berbagai warisan budaya Tionghoa di kota Purworejo. Saya percaya bahwa apa yang saya temukan hanyalah yang ada di permukaan saja, belum dengan warisan budaya lainnya yang belum tersingkap. Semoga berbagai kekayaan warisan budaya ini dapat dilestarikan dengan baik sebagai bukti persatuan bangsa kita…

Referensi
Angelino, P. De. Kat. 1930. Batikrapport Deel II ; Midden Java. Batavia : Landsdrukkerij.
Becking. 1923. "Eene Beschrijving van Poerworedjo en Omstreken" dalam Indie 21 Februari 1923.
Cangianto, Ardian. 2013. Menghayati Kelenteng sebagai Ekspresi Budaya Masyarakat Tionghoa dalam web.budaya-tionghoa.net.
Handinoto. 2012. "Lingkungan Pecinan dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial " dalam Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Horsfield, Thos. 1826. "Essays on the Geography, Mineralogy and Botany of the western portion of the Territory of the Native Princes of Java" dalam Verhandelingen v/h Bataviaasch Genootschap. halaman 179-180.
King Hian. 2012. "Penjelasan tentang Bongpay" dalam web.budaya-tionghoa.net
Liem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij.
Shanti, Desril Riva. 2011. "Bong di Bogor ;Kajian Mengenai Ragam Hias dan Arti Simbol" dalam Selisik Masa Lalu. Sumedang : Alqaprint.