Minggu, 17 April 2016

Dibalik Keantikan Stasiun Ambarawa

Kejayaan transportasi kereta di masa kolonial tergambarkan dengan baik di stasiun itu. Namun tak banyak yang tahu, di bawah rangka-rangka bajanya, tercium aroma diskriminasi di masa kolonial. Inilah kisah sebuah stasiun tua yang kini menjadi museum, Stasiun Ambarawa….
Bangunan utama stasiun Ambarawa.
Menjejakan kaki ke stasiun ini, saya serasa dibawa ke suatu periode, periode dimana kepulan uap kereta menyeruak ke langit-langit stasiun dan deru mesin menggetarkan lantai stasiun. Nuansa kekunoannya stasiun yang sejatinya bernama Stasiun Willem I ini masih terasa kentara.  Kombinasi bata bergalzur kuning di bawah, guratan ekpose bata merah, dan dinding berwarna putih bersih mempercantik bangunan kantor dan ruang tunggu yang mungil. Tak diketahui siapakah arsitek yang merancangnya, namun setidaknya, stasiun ini berhasil mereprenstasikan puncak kejayaan transportasi kereta api di masa lampau.
Lokasi stasiun Ambarawa pada peta tahun 1909. Perhatikan lokasi stasiun yang dekat dengan benteng Willem I. Stasiun ini sengaja dibangun dekat dengan benteng untuk melayani kebutuhan militer. Dahulu terdapat dua akses ke stasiun ini, yakni di sebelah utara (kini jalan Stasiun) yang kebanyakan digunakan untuk kalangan sipil dan di sebelah selatan (kini jalan Margoroto) yang digunakan oleh kalangan militer (sumber : maps.library.leiden.edu).
Pendirian stasiun ini berkaitan erat dengan peran Ambarawa sebagai kota militer setelah pemerintah kolonial mendirikan sebuah benteng besar yang dibangun puluhan tahun sebelum stasiun ini dibangun. Lambat laun, Ambarawa berkembang menjadi garnisun militer yang penting. Di perbukitan sekitar Ambarawa, perkebunan-perkebunan kopi mulai dibuka oleh para pengusaha partikelir. Sehingga pemerintah kolonial membutuhkan sebuah sarana transportasi massal yang dapat meningkatkan mobilitas militer dan pengangkutan hasil bumi berupa kopi. Kereta api menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut karena dalam sekali jalan, kereta dapat mengangkut barang dan penumpang dalam jumlah besar. Lajunya pun lebih cepat daripada kendaraan tradisional kala itu seperti pedati.
Stasiun Ambarawa sebelum disempurnakan. Perhatikan bentuk stasiun yang masih sederhana sekali (sumber : media-kitlv.nl).
Kongsi kereta api partikelir, Nederlandsch Indische Maatschapij (N.I.S.M), diminta oleh pemerintah kolonial untuk membuka sebuah jalur kereta baru ke arah Ambarawa. Permintaan itu dituruti oleh N.I.S.M. Tiga tahun setelah N.I.S.M membuka jalur Kedungjati-Surakarta, sebuah jalur percabangan dari Kedungjati ke Ambarawa dibangun. Pembangunan itu merupakan tantangan berat pertama yang dilakukan oleh N.I.S.M lantaran pada kali ini, mereka harus menggali bukit dan mendirikan jembatan di atas sungai curam. Namun tantangan tadi berhasil dilalui dengan baik. 21 Mei 1873, Stasiun Ambarawa tuntas dibangun. Keberadaan stasiun ini berdampak pada lancarnya distribusi kopi dari perkebunan sekitar Ambarawa. Stasiun ini juga membantu mobilitas militer dan pengiriman berbagai barang kebutuhan militer seperti ransum, amunisi dan obat-obatan (Sri Chirullia Iskandar, 2011; 102-103).
Suasana stasiun Ambarawa yang terekam pada video Reis Willem I Djocja.Terlihat kereta api yang akan memasuki peron stasiun.
Ketika dibuka, bangunan stasiun ini jauh lebih sederhana dibandingkan yang terlihat sekarang. Namun ketika N.I.S.M mencapai puncak kejayaannya di awal abad 20, mereka menyempurnakan stasiun ini dengan material yang lebih baik. Penyempurnaan ini bertujuan untuk mendongkrak citra N.I.S.M sebagai sebuah perusahaan besar dan menarik banyak penumpang untuk menggunakan jasa kereta. Penyempurnaan stasiun yang dilakukan oleh N.I.S.M barangkali terinspirasi dengan apa yang dilakukan oleh Perancis pada tahun 1850an, dimana sebelumnya stasiun kereta bentuknya masih kasar. Namun setelah itu, bentuk stasiun di Perancis dibuat lebih anggun dan megah (Burchell. S. C, 1984; 60).

Setelah jalur kereta Kedungjati-Ambarawa dibuka, N.I.S.M tertarik untuk melanjutkan pembangunan jalur kereta hingga ke Ambarawa. Namun berhubung medan yang dilalui berupa perbukitan, maka jalur kereta dibuat meliuk-liuk seperti ular yang mendaki bukit. Supaya kereta lebih mudah mengikuti liukan rel, maka lebar rel yang dipakai lebih kecil. Oleh sebab itulah di stasiun Ambarawa terdapat dua jenis jalur rel yang berbeda, yakni jalur rel 1435 mm di emplasemen selatan dan 1067 mm di emplasmen utara. Dari Kedungjati ke Ambarawa menggunakan rel 1435 mm, sementara dari Ambarawa menuju Yogyakarta melalui Magelang menggunakan  rel 1067 mm. Jalur kereta api Kedungjati-Ambarawa dan Ambarawa Secang juga menyimpan daya tarik tersendiri, terutama untuk turis barat tempo doeloe. Panorama lanskap pegunungan yang dilalui jalur tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk orang-orang Belanda yang di negeri asalnya tidak memiliki lanskap seperti ini. Dalam panduan wisata yang diterbitkan Koninklijke Paketvaart Mij, para turis biasanya disarankan untuk singgah sejenak di Ambarawa, menikmati pemandangan hamparan sawah luas dan birunya danau Rawa Pening. Di sore hari, dengan membayar sebesar f-4, mereka dapat berkendara mengelilingi kota dan mampir melihat-lihat benteng Willem I (Koninklijke Paketvaart Mij, 1911; 69-70).
Pintu masuk utama stasiun Ambarawa.
Overkapping stasiun Ambarawa dilihat dari arah barat laut.
Saya kini berjalan di bawah naungan kanopi stasiun yang membentang selebar 21,75 meter. Selain kereta, jejak revolusi industri yang tampak pada stasiun ini juga terlihat pada material-material yang dipakainya. Material-material itu dibuat di tempat yang jauh. Tiang dan kuda-kuda baja ini dibuat oleh pabrik pengecoran logam di Amsterdam yang dibuat sesuai pesanan. Kemudian ia dikirim dengan kapal uap, melintasi Terusan Suez dan sesampainya di pelabuhan Semarang, ia diangkut menggunakan kereta. Hamparan lantai tegel kekuningan yang saya injak inipun juga merupakan hasil revolusi industri. Tegel-tegel itu dibuat secara masal di sebuah pabrik tegel di Maastricht, Belanda, dan ia diangkut ke sini dengan cara sebagaimana kanopi baja tadi diangkut. Ya, aura revolusi industri terasa sangat kental di stasiun ini.
Struktur kuda-kuda stasiun Ambarawa yang terbuat dari baja.

Tiang-tiang baja penyangga konstruksi atap.
Lantai peron stasiun Ambarawa.
Para pengunjung tampak antusias berfoto-foto di setiap sudut stasiun. Anak-anak kecil terlihat berlarian kesana kemari. Pemandangan tadi tentu tak terlintas di benak para meneer-meneer yang sedang menunggu kereta puluhan tahun silam, ketika mereka duduk di bangku peron yang panjang, menikmati sejuknya udara Ambarawa yang membuat mereka nyaris tidur terlelap di bangku. Agar terjaga, beberapa ada yang membaca koran De Locomotief yang didapatkan secara cuma-cuma di ruang tunggu kelas I. Para kuli pribumi terlihat lalu lalang membawa barang dari gerbong ke gudang. Kepala stasiun berwajah tegas keluar dari kantornya, memberi aba-aba kepada penumpang untuk segera bergegas karena kereta sebentar lagi akan tiba...
Suasana peron stasiun.
Sinyal kereta yang tanda masuk atau keluar dari stasiun Ambarawa diatur di dalam ruang kotak kecil ini. Sinyal yang dipakai menggunakan sinyal mekanik.
Saya kemudian memasuki ruang yang dulu menjadi ruang tunggu penumpang kulit putih. Ruang itu berdiri tersendiri, terpisah dari ruang kantor dan penjualan loket.  Begitu masuk, saya dibuat terpana dengan interiornya yang masih tampak asli minus perabotan. Lihatlah keindahan lantai tegel bermotif bunga-bungaan yang membuat saya tak tega untuk menginjaknya. Di dalam ruang itu, terdapat sebuah bar yang dulu menyediakan berbagai minuman keras untuk para penumpang seperti gin, genever, bir, atau wine. Di dalam sana juga sudah tersedia ruang buang hajat yang telah dipisah sesuai gender. Namun dibalik keindahannya, ruang itu sebenarnya merupakan jejak dari segregasi orang pribumi dan orang Eropa di masa kolonial…
Bangunan untuk ruang tunggu penumpang kulit putih.
Langit-langit ruangan yang terbuat dari kayu jati.
Tegel dengan ornamen yang cantik ini menambah kesan mewah pada ruang tunggu untuk kulit putih.
Bagian dalam ruang tunggu dengan meja bartender. 
Toilet di dalam ruang tunggu. Toilet ini sudah dipisah berdasarkan gender.
Di masa lampau, bahkan sebelum mereka naik ke tangga kereta, terdapat perbedaan dalam perlakuan penumpang Eropa dengan penumpang pribumi. Orang pribumi memesan tiket di tempat yang terpisah dengan orang kulit putih. Sekalipun telah memesan tiket kelas I, mereka tak ada yang berani menunggu di ruang tunggu orang kulit putih. Jikapun berani, mereka akan diusir oleh pegawai stasiun. Mereka akhirnya harus berpuas menunggu kereta di sebuah ruang terbuka yang ada di ujung barat stasiun ini.
 
Ruang tunggu untuk orang pribumi.
Bangunan toilet untuk orang pribumi.
Sembari berjalan keluar, saya melihat-lihat aneka lokomotif uap tua yang dipajang seperti rangkaian kereta. Lokomotif-lokomotif kuno ini merupakan sebagian kecil dari lokomotif kuno yang berhasil diselamatkan pada tahun 1970an. Kala itu, banyak lokomotif peninggalan Belanda yang tak lagi dioperasikan akibat biaya pemeliharaannya yang tinggi yang berujung digantinya mereka dengan lokomotif diesel. Menjadi pajangan adalah nasib terbaik yang diterima oleh lokomotif tua tadi. Kebanyakan mereka berakhir di peleburan besi-besi tua. Demi menyelamatkan artifak-artifak tadi, atas prakarsa Gubernur Jateng saat itu, Soepardjo Rustam dan Kepala Eksploitasi Tengah PJKA, Ir. Soeharso, tanggal 8 April 1976 dibahas suatu rencana untuk membuka sebuah Museum Kereta Api. Awalnya museum ini akan menjadi satu dengan Museum Transportasi di Jakarta, namun akhirnya diurungkan. Pilihan terakhir jatuh ke Stasiun Ambarawa dengan pertimbangan nilai sejarah dan kondisi fisik bangunan yang masih terjaga. 9 Oktober 1976, Stasiun Ambarawa diresmikan sebagai Museum Kereta Api. (Gendro Keling, 2011;100). Hingga sekarang, Stasiun Ambarawa masih eksis sebagai Museum Kereta Api terbesar di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara.
Di dekat stasiun, terlihat berbagai fasilitas penunjaang perkeretapian. Yang pertama ialah meja putar atau turntable yang berguna untuk memutar arah hadap lokomotif. Walaupun terlihat sederhana, namun komponen ini amatlah penting bagi kereta uap. Manakala kereta akan berjalan ke Stasiun Bedono yang posisinya lebih tinggi, posisi lokomotif harus berada di belakang rangkaian gerbong. Di ujung area stasiun, terdapat tinggalan depo lokomotif Stasiun Ambarawa. Di depo itulah kereta-kereta diperbaiki dan mendapat perawatan. Depo itu kira-kira dapat memuat lima kereta dan ia dapat menampung kereta dengan lebar 1057 mm dan 1453 mm.

Depo staisun Ambarawa. Depo ini didesain khusus agar bisa memperbaiki lokomotif dengan gauge 1435 mm dan 1067 mm.
Turntable atau meja putar. Meja putar ini masih bisa diputar sampai sekarang.

Stasiun Ambarawa juga memiliki dua buah gudang yang terdapat di sebelah selatan dan barat stasiun. Di gudang itulah disimpan berbagai macam barang. Masing – masing gudang memiliki pintu model geser agar ketika pintu dibuka tidak berbenturan dengan gerbong barang. Batur gudang sisi rel sudah dibuat sejajar dengan tinggi boogie kereta untuk memudahkan pemindahan barang dari gerbong ke gudang atau sebaliknya. Hal yang sama juga tampak pada batur gudang sisi jalan yang telah disejajarkan dengan tinggi truk sehingga pemindahan barang dari truk ke gudang atau sebaliknya menjadi gampang.
Gudang stasiun Ambarawa yang berada di sebelah barat stasiun, sisi selatan jalur kereta.


Stasiun Ambarawa memiliki 3 buah kediaman untuk personel pegawainya yang mengelompok di sisi barat Lapangan Pangsar. Sudirman. Jaraknya masih cukup dekat dengan stasiun. Sayang, pesona keantikan rumah-rumah tadi terhalang oleh beberapa kios yang berdiri di tepi jalan.
Rumah dinas pegawai Stasiun Ambarawa dengan bentuk atap hipped gable yang kondisinya kurang terawat.
Rumah dinas pegawai Stasiun Ambarawa yang baru saja direnovasi. Di samping rumah ini (yang masih satu atap) juga ada rumah yang bentuknya serupa, namun sudah tertutup oleh bangunan baru sehingga fasadnya tidak terlihat.

Seperti itulah kisah dibalik keantikan Stasiun Ambarawa, sebuah mutiara dari untaian jalur kereta yang kini tinggal kenangan saja. Kendati tak lagi dipakai sebagai tempat naik turun penumpang, namun kini ia sintas menjadi museum yang menuturkan kejayaan kereta api di masa lampau. Kehadiran para pengunjung dan keberadaan para pedagang cenderamata di sekitarnya seolah menjadi tiupan sukma untuk kehipudan stasiun ini…

Referensi
Burchell, S. C. 1984. Abad Kemajuan. Jakarta:  Penerbit Tira Pustaka.

Iskandar, Sri Chirullia. 2011. " Pendirian Stasiun Willem I di Kota Ambarawa " dalam Papua TH.III No.1/Juni 2011.

Keling, Gendro. 2011. " Latar Belakang Alih Fungsi Stasiun Kereta Api Willem I Menjadi Museum Kereta Api Ambarawa " dalam Forum Arkeologi TH.XXIV No.2 Agustus 2011.

Koninklijke Paketvaart Mij1911. Guide Through Netherlands India. Amsterdam : J. H. de-Bussy. 

Tim Penyusun. 2014. Forts in Indonesia, Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.



Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten :Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Tim Telaga Bakti Nusantara. 1997. Sejarah Perkereta-apian Indonesia Jilid I. Bandung ; Penerbit Angkasa.

4 komentar:

  1. Kearifan lokal Indonesia yang mendunia.
    Coba ada video yang seakan kita ikut serta menjelajahi stasiun ambarawa didalamnya;

    BalasHapus
  2. Mohon izin untuk menggunakan foto yang ada untuk presentasi ya. Terimakasih.
    Nice info.

    BalasHapus
  3. Tempat yang bagus untuk refresh dan mengenang sejarah. Masih menunggu difungsikannya KA komersil antar kota. Thq catatannya.

    BalasHapus