Minggu, 17 April 2016

Dibalik Keantikan Stasiun Ambarawa

Tulisan saya di Jejak Kolonial kali ini mengajak anda untuk mengamati keantikan bangunan Stasiun Ambarawa yang kini menjadi Museum Kereta Api Ambarawa. Tulisan saya kali ini hanya berfokus sejarah dan bangunan stasiun ini, jadi mohon maaf jika tulisan saya kali ini tidak akan membahas soal kereta yang dipajang di sini (lagipula jika ingin tahu lebih banyak soal kereta ini, berkunjunglah ke museum sini :-) ). Dibalik keantikannya, rupanya stasiun Ambarawa menyimpan kisah lain yang masih belum banyak diketahui orang. Kira-kira kisah apa itu ? 
      
Berawal dari sebuah benteng
Lokasi stasiun Ambarawa pada peta tahun 1909. Perhatikan lokasi stasiun yang dekat dengan benteng Willem I. Stasiun ini sengaja dibangun dekat dengan benteng untuk melayani kebutuhan militer. Dahulu terdapat dua akses ke stasiun ini, yakni di sebelah utara (kini jalan Stasiun) yang kebanyakan digunakan untuk kalangan sipil dan di sebelah selatan (kini jalan Margoroto) yang digunakan oleh kalangan militer (sumber : maps.library.leiden.edu).
Untuk mengetahui kisah awal dari stasiun Ambarawa, ada baiknya kita kembali ke tahun 1844, jauh sebelum moda transportasi kereta api datang ke Hindia-Belanda. Pada waktu itu, militer Belanda baru saja menyelesaikan sebuah benteng yang kini dikenal sebagai benteng Willem I. Benteng ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch sebagai bagian dari sistem pertahanan Pulau Jawa dari invasi bangsa Eropa lain seperti Inggris. Apalagi setelah dia mendapat kabar bahwa di Benua Eropa sedang terjadi krisis politik. Khawatir Pulau Jawa akan takluk lagi oleh Inggris seperti yang terjadi di tahun 1811, maka dia membangun sebuah sistem pertahanan dengan benteng Willem I sebagai bagian darinya (Tim Penyusun, 2014; 133).
Stasiun Ambarawa sebelum direnovasi. Perhatikan bentuk stasiun yang masih sederhana sekali (sumber : media-kitlv.nl).
Lambat laun, Ambarawa berkembang sebagai basis militer Belanda di Pulau Jawa bagian tengah. Di Ambarawa juga mulai bermunculan perkebunan kopi setelah Van den Bosch menerapkan cultuurstelsel. Kopi merupakan tanaman komoditi ekspor yang dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi seperti Ambarawa. Meski hasil panen kopi melimpah, rupanya hal ini tidak didukung dengan sistem transportasi yang ada. Pada waktu itu, transportasi yang diandalkan adalah pedati atau tenaga kuli angkut yang jalannya pelan, sehingga kopi-kopi ini sudah banyak yang membusuk sebelum sampai ke pelabuhan. Selain itu, pemerintah Hindia-Belanda juga meminta agar dibangun sebuah jalur kereta ke Ambarawa untuk mendukung mobilitas tentara karena di Ambarawa terdapat sebuah benteng dan garnisun militer ( Tim Telaga Bakti Nusantara, 1997; 48-53 ). Guna mendukung kegiatan perkebunan dan militer tadi, pada tahun 1870, perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indische Maatschapij (N. I. S. M) membuka sebuah jalur percabangan kereta api dari Kedungjati, Grobogan pada tahun 1873, tiga tahun setelah N. I. S. M membuka jalur Kedungjati-Surakarta.
Suasana stasiun Ambarawa yang terekam pada video Reis Willem I Djocja.Terlihat kereta api yang akan memasuki peron stasiun.
Pada tanggal 21 Mei 1873, Stasiun Ambarawa selesai dibangun. Pada awalnya, stasiun ini bernama stasiun Willem I. Nama ini diadopsi dari nama benteng yang ada di dekat stasiun ini, Fort Willem I. Setelah itu, pembangunan jalur kereta api ini masih diteruskan ke selatan hingga Magelang. Keberadaan stasiun ini berdampak pada lancarnya pengiriman kopi dari perkebunan sekitar Ambarawa ke pelabuhan di Semarang. Selain itu, stasiun ini juga memudahkan mobilitas militer dan pengiriman barang-barang keperluan militer seperti ransum, amunisi dan persenjataan ke basis – basis militer Belanda di kota-kota lain seperti Magelang (Iskandar, 2011; 102-103).
Berita kehilangan sebuah paket yang berisi kain senilai ratusan gulden di stasiun Ambarawa. (sumber :  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie 27 Juni 1914).
Jalur kereta api Kedungjati-Ambarawa dan Ambarawa Secang juga menyimpan daya tarik tersendiri, terutama untuk turis barat tempo doeloe. Jalur kereta api ini menawarkan pemandangan lanskap pegunungan yang berada di sekitar Ambarawa. Pemandangan ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri, terutama untuk para turis barat dari Belanda yang di negeri asalnya tidak memiliki lanskap pegunungan. Seperti yang ditulis dalam panduan wisata terbitan Koninklijke Paketvaart Mij, para turis biasanya singgah sejenak di Ambarawa, menikmati pemandangan hamparan sawah yang luas dan birunya danau Rawa Pening. Di sore hari, dengan tarif sebesar f-4, mereka bisa berkendara mengelilingi kota dan mampir melihat-lihat benteng Willem I (Koninklijke Paketvaart Mij, 1911; 69-70).

Dari Stasiun ke Museum
Memasuki tahun 1970an, banyak lokomotif uap yang tidak dioperasikan lagi akibat biaya operasional yang tinggi serta munculnya teknologi lokomotif bermesin diesel-hidraulik yang menggantikan lokomotif  bermesin uap. Lokomotif tua tadi ada yang berakhir menjadi pajangan. Tidak jarang pula lokomotif tadi hanya dianggap sebagai rongsokan besi tua sehingga banyak yang dilebur. Untuk menyelamatkan artifak-artifak perkereta-apian ini, maka atas prakarsa Gubernur Jateng pada waktu itu, Soepardjo Rustam dan Kepala Eksploitasi Tengah PJKA, Ir.Soeharso, maka tanggal 8 April 1976 dibahas rencana untuk mendirikan sebuah Museum Kereta Api. Awalnya Museum ini akan digabungkan dengan Museum Transportasi di Jakarta, namun akhirnya urung karena dianggap kurang layak. Dengan pertimbangan sejarah dan keaslian bangunan masih terjaga, maka dipilihlah Stasiun Ambarawa sebagai lokasi Museum Kereta Api. Akhirnya Stasiun Ambarawa resmi berubah fungsinya sebagai Museum pada tanggal 9 Oktober 1976 (Keling, 2011;100). Hingga sekarang, Stasiun Ambarawa masih eksis sebagai Museum Kereta Api terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggar.

Dibalik keantikan Stasiun Ambarawa


Saya sendiri berkunjung pertama kali ke Stasiun Ambarawa pada tahun 2015 lalu bersama komunitas Kota Tua Magelang yang menyelenggarkaan Jelajah Jalur Spoor Bedono-Ambarawa. Setelah menempuh jarak berkilo-kilometer dengan berjalan kaki dari Stasiun Bedono, menyusuri bekas jalur kereta, sampailah saya di Stasiun Ambarawa. Rasa capek saya hilang setelah melihat sendiri keantikan bangunan stasiun ini.
Pintu masuk utama stasiun Ambarawa.
Ketika saya berkunjung ke sini, pintu masuk stasiun ini berada di sebelah timur, menempati sebuah bangunan bekas depo lokomotif.  Di sini, pengunjung dipungut biaya sebesar 10.000 rupiah. Akses stasiun Ambarawa cukup mudah. Dari Monumen Palagan Ambarawa tinggal jalan terus ke selatan, ikuti petunjuk arah yang tersedia. Di luar area stasiun, terlihat banyak pedagang yang menjual cinderamata. Ya, keberadaan stasiun ini menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya, bukan hanya untuk pemiliknya saja.
Overkapping stasiun Ambarawa dilihat dari arah barat laut.
Bangunan stasiun Ambarawa yang kita lihat sekarang ini sebenarnya adalah bangunan hasil perombakan oleh N. I. S pada tahun 1905. Bangunan stasiun ini sebelumnya masih sederhana dan terbuat dari bahan semi permanen. Perombakan ini bertujuan agar stasiun terlihat lebih menarik dan representatif sehingga penumpang semakin nyaman dan makin banyak orang yang menggunakan moda transportasi kereta api. Selain itu, tampaknya perombakan yang dilakukan oleh N. I. S terinspirasi dengan yang dilakukan oleh Perancis pada tahun 1850an, dimana sebelumnya stasiun kereta bentuknya masih kasar. Sejak tahun 1850, bentuk stasiun di Perancis dibuat lebih anggun dan megah (Burchell, 1984; 60).
Struktur kuda-kuda stasiun Ambarawa yang terbuat dari baja.
Tiang-tiang baja penyangga konstruksi atap.
Stasiun bertipe pulau ini dahulu memiliki dua jenis jalur rel di emplasemen-nya,yakni jalur rel 1435 mm di Emplasemen selatan dan 1067 mm di emplasmen utara. Dari Kedungjati ke Ambarawa menggunakan rel 1435 mm, sementara dari Ambarawa menuju Yogyakarta melalui Magelang menggunakan  rel 1067 mm karena medan yang dilalui berupa perbukitan sehingga jalur kereta api dibuat meliuk-liuk agar kereta lebih mudah untuk melewati perbukitan dan supaya lebih mudah berbelok di lekukan, maka digunakanlah kereta dengan lebar yang lebih kecil.

Denah stasiun Ambarawa, klik untuk memperjelas.
Konsep bangunan stasiun Ambarawa cukup unik, yakni terdiri dari bangunan-bangunan kecil yang dinaungi oleh sebuah atap baja besar atau overkapping dengan bentangan selebar 21,75 meter. Konstruksi atap ini dikerjakan oleh Werkspoor Amsterdam yang juga memproduksi lokomotif. Konsep bangunan stasiun ini juga dipakai pada bangunan stasiun Kedungjati dan Purwosari. Namun bentangan overkapping dua stasiun ini lebih kecil daripada milik Stasiun Ambarawa.
Bangunan untuk ruang tiket, ruang administrasi dan ruang kepala stasiun.
Ruang penjualan tiket khusus orang kulit putih.
Bangunan kayu kecil ini dipakai untuk ruang PPKA. Dari sinilah sinyal kereta yang hendak masuk atau keluar dari stasiun Ambarawa diatur. Sinyal yang dipakai merupakan sinyal mekanik.
Di bawah atap baja tadi, kita akan menemukan dua buah bangunan kecil dengan fungsi yang terpisah. Bangunan kecil yang ada sebelah timur digunakan untuk ruang tiket, ruang administrasi dan ruang kepala stasiun. Sementara bangunan kecil di sebelah barat digunakan untuk ruang tunggu penumpang.
Suasana peron stasiun.
Lantai peron stasiun Ambarawa.
Berjalan di bawah atap stasiun ini, kita akan dibuat terpesona dengan keantikan stasiun ini. Bagian lantai peron stasiun Ambarawa seratus persen masih dilapisi dengan tegel tahu yang diimpor dari Belanda.  Bangunan kantor dan ruang tunggu, meski kecil namun terlihat antik. Kombinasi bata bergalzur kuning di bawah, ekpose bata merah, dan dinding berwarna putih bersih terlihat serasi. Hiasan semacam alis di atas pintu dan jendela membuat bangunan ini terasa hidup. Ya, keantikan stasiun ini benar-benar membuat kita akan jatuh hati kepadanya.
Bangunan untuk ruang tunggu penumpang kulit putih.
Di peron ini, kita bisa membayangkan sebagai seorang meneer yang sedang menunggu kereta. Hawa udara Ambarawa yang sejuk membuat meneer tadi nyaris tertidur lelap di bangku stasiun. Agar tidak terlelap, dia membaca Koran De Locomotief  yang dia dapatkan dari ruang tunggu kelas I. Di salah satu sudut stasiun, terlihat tumpukan bagasi penumpang yang hendak diangkut. Dari ruang kepala Stasiun, keluar sosok berpakaian seragam serba putih dengan wajah terlihat galak. Sosok ini tidak lain adalah kepala stasiun yang sedang mencari para penumpang gelap. Di ruang tiket, tampak antrian penumpang yang tidak begitu panjang. Tidak lama kemudia, dari kejauhan terdengar suara kereta yang akan berhenti di stasiun ini. Meneer tadi mulai bergegas untuk naik ke kereta dengan barang bawaan yang diangkut oleh kuli.
Toilet di dalam ruang tunggu. Toilet ini sudah dipisah berdasarkan gender.
Langit-langit ruangan yang terbuat dari kayu jati.
Tegel dengan ornamen yang cantik ini menambah kesan mewah pada ruang tunggu untuk kulit putih.
Bagian dalam ruang tunggu dengan meja bartender. 
Dibalik keantikan stasiun Ambarawa, sebenarnya ada aroma diskriminasi yang cukup keras yang dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap orang pribumi. Hal ini terlihat dari pemisahan ruang tiket, ruang tunggu dan toilet untuk orang kulit putih dan orang pribumi.

Orang-orang kulit putih memiliki ruang tunggu tersendiri yang sangat mewah. Lantai tegel bagian dalam sangat anggun sekali sehingga saya sendiri saja tidak tega untuk menginjaknya. Ruang tunggu ini bentuknya menyerupai sebuah bar kecil. Di ruang tunggu yang sekarang nyaris kosong melompong ini, dahulunya terdapat meja dan kursi-kursi antik. Pada salah satu pojokan, terdapat meja bartender. Di sini para penumpang kereta bisa memesan berbagai minuman seperti gin, genever, bir,wine, atau anggur yang menjadi favorit orang kulit putih. Di dalam ruang tunggu ini juga terdapat sebuah toilet yang sudah dipisah untuk laki-laki dan perempuan.
 
Ruang tunggu untuk orang pribumi.
Bangunan toilet untuk orang pribumi.
Lalu dimanakah orang-orang pribumi menunggu ? Mereka hanya mendapat sebuah ruang tunggu terbuka nan sederhana yang terletak di ujung barat stasiun. Ruang tunggu ini bahkan tidak bisa dikatakan sebagai ruangan karena bentuknya hanya berupa sebuah pagar terbuka. WC mereka pun juga terpisah. Orang-orang pribumi ini sekalipun sudah memesan tiket kelas I, tetap tidak ada yang berani menunggu di ruang tunggu untuk orang kulit putih dan jikapun berani, mereka akan diusir oleh pegawai stasiun. Ya, begitulah kira-kira gambaran diskriminasi masa kolonial pada stasiun ini.
Depo staisun Ambarawa. Depo ini didesain khusus agar bisa memperbaiki lokomotif dengan gauge 1435 mm dan 1067 mm.
Turntable atau meja putar. Meja putar ini masih bisa diputar sampai sekarang.
Keluar dari bangunan utama stasiun, kita akan mencoba untuk menyusuri bagian dari emplasemen stasiun Ambarawa. Di sini kita akan menjumpai beberapa komponen penunjang seperti meja putar atau turntable yang berfungsi untuk memutar arah hadap lokomotif. Komponen ini sangat berguna di sini karena ketika kereta akan berjalan menuju ke Bedono,maka posisi lokomotif berada di belakang supaya kereta lebih mudah berjalan menanjak. Stasiun ini juga memiliki fasilitas depo untuk perbaikan dan perawatan kereta. Depo stasiun Ambarawa dapat menampung 5 kereta. Ukuran yang cukup besar untuk sebuah depo kereta. Depo ini juga memiliki ruangan untuk kantor kepala depo.
Gudang stasiun Ambarawa yang berada di sebelah barat stasiun, sisi selatan jalur kereta.
Sebagai bangunan penunjang, stasiun Ambarawa memiliki dua buah gudang. Gudang ini dapat kita temukan di sebelah selatan dan barat stasiun. Gudang-gudang ini dahulu digunakan untuk menyimpan berbagai barang seperti hasil panen perkebunan yang kemudian dikirim ke Semarang. Masing – masing gudang memiliki pintu model geser sehingga ketika pintu dibuka tidak berbenturan dengan gerbong barang. Oh ya, batur gudang yang menghadap ke rel ini disejajarkan dengan tinggi boogie kereta untuk memudahkan pemindahan barang dari gerbong ke gudang atau sebaliknya. Sementara batur gudang yang menghadap ke jalan disejajarkan dengan tinggi truk. Hal ini juga bertujuan untuk memudahkan pemindahan barang dari truk ke gudang atau sebaliknya.
Rumah dinas dengan bentuk atap hipped gable yang kondisinya kurang terawat.
Rumah dinas yang baru saja direnovasi. Di samping rumah ini (yang masih satu atap) juga ada rumah yang bentuknya serupa, namun sudah tertutup oleh bangunan baru sehingga fasadnya tidak terlihat.
Tentu tidak lengkap rasanya jika Stasiun Ambarawa tidak memiliki fasilitas rumah dinas untuk pegawai stasiun. Stasiun ini sendiri memiliki 3 buah rumah dinas yang dapat kita lihat di sebelah selatan stasiun. Secara arsitektural, bentuk rumah dinas di Ambarawa terdiri dari dua jenis. Bentuk pertama yakni rumah dinas dengan bentuk atap hipped gable dan kedua yakni rumah dinas dengan bentuk kombinasi atap pelana dan atap limasan.

Dibalik keantikannya, rupanya stasiun Ambarawa menyimpan kisah sejarah yang cukup panjang. Selain itu, stasiun ternyata juga mengandung sedikit praktik apartheid yang diterapkan oleh Belanda terhadap orang pribumi.  Semoga saja praktik ini tidak ada lagi di masa sekarang karena sesungguhnya, apapun kulit warnamu, baik berkulit putih maupun berkulit sawo matang, semuanya itu sama dimata Tuhan.

Referensi
Burchell, S. C. 1984. Abad Kemajuan. Jakarta:  Penerbit Tira Pustaka.

Iskandar, Sri Chirullia. 2011. " Pendirian Stasiun Willem I di Kota Ambarawa " dalam Papua TH.III No.1/Juni 2011.

Keling, Gendro. 2011. " Latar Belakang Alih Fungsi Stasiun Kereta Api Willem I Menjadi Museum Kereta Api Ambarawa " dalam Forum Arkeologi TH.XXIV No.2 Agustus 2011.

Koninklijke Paketvaart Mij1911. Guide Through Netherlands India. Amsterdam : J. H. de-Bussy. 

Tim Penyusun. 2014. Forts in Indonesia, Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten :Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Tim Telaga Bakti Nusantara. 1997. Sejarah Perkereta-apian Indonesia Jilid I. Bandung ; Penerbit Angkasa.

4 komentar:

  1. Kearifan lokal Indonesia yang mendunia.
    Coba ada video yang seakan kita ikut serta menjelajahi stasiun ambarawa didalamnya;

    BalasHapus
  2. Mohon izin untuk menggunakan foto yang ada untuk presentasi ya. Terimakasih.
    Nice info.

    BalasHapus
  3. Tempat yang bagus untuk refresh dan mengenang sejarah. Masih menunggu difungsikannya KA komersil antar kota. Thq catatannya.

    BalasHapus