Kamis, 07 April 2016

Menyusuri Warisan Budaya Tionghoa di Kota Purworejo


Pengantar
Jika sebelumnya tulisan saya di Jejak Kolonial lebih banyak mengajak anda untuk menjelajahi berbagai peninggalan kolonial Belanda seperti benteng, loji, pabrik gula, stasiun kereta dan kerkhoff. Maka kali ini saya akan mencoba untuk mengajak anda untuk menjelajahi berbagai warisan budaya Tionghoa yang kebanyakan berasal dari masa kolonial seperti pemukiman Tionghoa atau pecinan, klenteng dan makam bongpay yang tidak kalah menarik untuk dibahas. Nah, berhubung di kota saya, Purworejo, ada cukup banyak warisan budaya Tionghoa yang masih tersisa, maka saya akan mengajak anda untuk menyusurinya. Kira-kira seperti apakah warisan budaya Tionghoa yang masih ada di kota Purworejo dan seperti apa kisahnya ?


Selayang Pandang Sejarah Masyarakat Tionghoa di Purworejo

Suasana kawasan Pecinan Purworejo di Buh Penceng pada tahun 1930an. Orang yang berdiri di tengah jalan itu adalah petugas polisi yang sedang mengatur jalan. Toko besar di kanan jalan kini menjadi Toko "Merak". Sementara toko di sebelah kiri jalan bangunan nya belum berubah sampai sekarang. Tiang di kanan jalan adalah tiang telegraf yang juga masih ada hingga sekarang.
Sebelum membahas warisan budaya Tionghoa yang ada di Purworejo, ada baiknya kita untuk mengetahui sekilas riwayat kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara. Orang Tionghoa sudah berlayar dari Tiongkok Selatan ke Pulau Jawa jauh sebelum orang Eropa berlayar ke timur. Kedatangan mereka ke Jawa dengan tujuan untuk berdagang porselen dan sutra untuk ditukar dengan beras dan hasil pertanian lain. Karena pelayaran pada waktu itu tergantung oleh angin musim, mereka harus meunggu angin yang tepat untuk kembali ke kampung halaman. Ketika menunggu, mereka terpikat dengan perempuan setempat, membangun keluarga dan akhirnya terbentuklah pemukiman orang Tionghoa. Meskipun memiliki kebudayaan yang berbeda, orang Tionghoa dan pribumi dapat hidup berdampingan dengan damai ( Pratiwo, 2010; 9-10 ).
Suasana Pecinan Purworejo pada tahun 1910an. Terlihat di pinggir jalan berdiri beberapa pohon asam yang kini semakin jarang dijumpai (sumber :media-kitlv.nl).
Jika dibandingkan dengan kedatangan orang-orang Tionghoa di pesisir utara yang sudah ada sejak abad ke-14 M, maka kedatangan orang-orang Tionghoa ke daerah pedalaman seperti Bagelen dapat dikatakan terlambat karena mereka baru masuk  di abad ke 18 M. Bukti awal kedatangan masyarakat Tionghoa di bumi Bagelen ialah keberadaan prasasti-prasasti makam Tionghoa atau bong pay tua di Desa Jana, Kecamatan Bayan, Purworejo. Orang-orang Tionghoa ini sebagian besar berasal dari Batavia. Mereka semua datang ke sini untuk menghindari kejaran Belanda paska terjadinya Geger Pecinan pada tahun 1740. Orang-orang Tionghoa ini memiliki profesi sebagian besar berprofesi sebagai tukang dan pedagang perantara. Di tahun 1826, pemerintah kolonial Belanda menerapkan UU Wijkenstesel yang mengatur agar orang-orang Tionghoa dilarang tinggal di pedesaan dan harus pindah ke kota yang menjadi pusat kekuasaan pemerintah kolonial. Mereka juga harus tinggal mengelompok agar mudah diawasi. Dari sinilah kawasan pecinan di perkotaan mulai menampakan karakternya (Handinoto,1999;24).
Lokasi kawasan Pecinan Purworejo dan kompleks bong (sumber : maps.library.leiden.edu)
Selain akibat Wijkenstelsel, perpindahan orang-orang Tionghoa dari Jana ke Purworejo pada tahun 1829 juga disebabkan oleh adanya semacam peristiwa Geger Pecinan yang terjadi di Jana. Meskipun persitiwa Geger Pecinan versi Purworejo ini tidak separah di Batavia, namun cukup banyak orang Tionghoa yang menjadi korban. Semua rumah orang Tionghoa dihancurkan hingga rata dengan tanah. Tidak diketahui apa pemicu dari peristiwa ini. Namun yang jelas, akibat persitiwa ini, banyak orang Tionghoa di Jana yang akhirnya berpindah ke tempat-tempat yang lebih aman (Becking, 1923; 751). Orang Tionghoa diperintahkan tinggal di sepanjang jalan ke arah Magelang  sebagai bemper pemukiman Belanda dari ancaman perlawanan orang pribumi pasca Perang Diponegoro. Wilayah Purworejo utara pada waktu itu masih menjadi basis gerilyawan Diponegoro setelah Pangeran Diponegoro ditangkap. Lama kelamaan, wilayah tersebut bertambah ramai oleh kegiatan perdagangan sehingga terbentuklah suatu pasar yang kini dikenal sebagai Pasar Baledono. Di sepanjang jalan ke arah Pasar Baledono, berdiri ruko-ruko milik orang Tionghoa. Jumlah orang Tionghoa di Purworejo semakin bertambah dengan datangnya gelombang orang Tionghoa dari Solo dan Semarang. Karena jumlahnya semakin banyak, maka untuk memudahkan pengontrolan atas wilayah pecinan, pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1837, menujuk Be Ing Tjoe sebaga Kapiten Tionghoa pertama di Purworejo (Becking, 1923; 751).

Nah setelah mengetahui sekilas tentang sejarah komuntias Tionghoa di Purworejo, mari kita susuri warisan budaya Tionghoa apa saja yang terdapat di Purworejo.


Kawasan Pecinan Purworejo

Penyusuran pertama kita adalah di kawasan pecinan Purworejo yang terletak di sepanjang jalan Ahmad Yani, yang membentang dari perempatan jalan Magelang hingga perempatan Monumen WR. Supratman, dengan pola membujur utara-selatan. Luas kawasan pecinan Purworejo relatif kecil jika dibandingkan dengan Magelang atau Muntilan, apalagi jika dibandingkan dengan di Semarang. Hal ini dikarenakan Purworejo bukanlah kota perdagangan utama. Pada peta-peta lama, kawasan Pecinan biasa disebut Chinese Kamp.

Di kawasan Pecinan Purworejo, kita akan menemukan deretan ruko-ruko tradisional Tionghoa yang biasanya juga ditemukan pada kota-kota lain. Keberadaan ruko-ruko ini erat kaitannya dengan latar belakang orang Tionghoa di Purworejo yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Secara arsitektural, bentuk arsitektur ruko-ruko ini mirip dengan ruko-ruko di Cina Selatan yang memiliki ciri-ciri antara lain tipe atap shan dan dibangun saling berhimpitan sehingga terkesan padat. Wajar saja karena sebagian besar orang-orang Tionghoa yang datang ke Purworejo memang berasal dari daerah ini (Cina Selatan). Bangunan ruko bisa berlantai satu atau berlantai dua. Kebanyakan bangunan ruko di Pecinan Purworejo adalah bangunan ruko berlantai satu.
Deretan bangunan lama berupa ruko di jln.Ahmad Yani. Di ujung atap terdapat hiasan seperti cerobong semu. Lokasi ruko pada foto di atas berada di sebelah utara pasar Baledono.
Ruko-ruko ini memiliki fungsi ganda, yakni aktivitas komersil dan domestik. Aktivitas komersil dilakukan di lantai satu atau bagian depan. Adapun aktivitas berumah tinggal dilakukan di bagian belakang atau di lantai dua. Tatanan ruang di bagian dalam diatur berdasarkan kepercayaan kepada fengshui. Masing-masing ruko memiliki tembok samping yang melebihi atap bangunan atau dalam bahasa mandarin disebut feng huo qiang yang dibangun untuk mencegah merambatnya kebakaran.
Tiga buah ruko bergaya arsitektur Tiongohoa di dekat perempatan. Karena masih memiliki hubungan keluarga, terkadang dalam satu atap bisa terdiri dua atau tiga ruko.  
Penyusuran kita mulai dari ujung utara kawasan Pecinan Purworejo yang berada di perempatan Kembang yang menjadi ujung utara dair jalan Ahmad Yani. Di dekat perempatan ini, masih bisa kita jumpai beberapa bangunan ruko tradisional Tionghoa. Beberapa di antaranya ada yang masih dihuni dan ada juga yang sudah tidak ditempati lagi oleh pemiliknya.  Di sepanjang jalan ini, kita dapat mencium aroma rempah dan tanaman herbal yang sedang dijemur. Orang-orang Tionghoa sejak dahulu hingga sekarang memang terkenal sebagai penjual obat herbal berkhasiat. Selain itu, tercium juga aroma-aroma cengkeh kering yang sedang dijemur. Cengkeh-cengkeh ini biasanya dijual untuk bahan campuran rokok.
Ruko-ruko bergaya arsitetkur tradisional Tionghoa di depan pasar Baledono.
Menuju ke arah Pasar Baledono, jumlah ruko-ruko lama mulai berkurang dan berganti dengan ruko yang bentuknya lebih modern. Perubahan bentuk ini bukannya tanpa sebab. Seiring berjalannya waktu, usaha yang dijalankan semakin berkembang, sehingga ruko-ruko lama banyak yang dirombak untuk memperluas ruang usaha. Selain itu, berkurangnya ruko-ruko lama ini juga disebabkan oleh bergesernya mode yang ada di masyarakat. Mode arsitektur Tionghoa tradisional pada ruko-ruko lama oleh sebagian orang dianggap sudah ketinggalan zaman, sehingga ruko lama dirubah bentuknya menjadi lebih modern untuk mengikuti perkembangan zaman. Memang untuk saya sendiri yang suka bangunan antik hal ini sungguh menyedihkan mengingat yang namanya perkembangan zaman tidak bisa dihindarkan. Meski demikian, bukan berarti kita terhanyut oleh arus zaman begitu saja.
Pasar Baledono tempo doeloe dan kondisinya sekarang. Sejak dahulu, pasar ini sudah menjadi jantung perekenomian Purworejo hingga sekarang. Pasar ini terbakar pada tahun 2013 kemarin dan hingga kini belum ada tanda-tanda perbaikan.
Penyusuran kita sekarang sampai di Pasar Baledono yang saat ini dibangun kemabli. Saya sendiri cukup banyak menyimpan memori tentang pasar ini karena saya memiliki saudara yang tinggal tidak jauh dari pasar ini dan sering berkunjung ke sini, sehingga saya melihat sendiri seperti apa suasana pasar Baledono. Masih teringat dalam bayangan saya suara teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya, deretan angkot yang menunggu penumpang di bawah tangga pasar, barisan para kuli panggul yang sedang membongkar barang, tumpukan sampah yang menggunung di sudut pasar, hingga bau tidak sedap yang muncul dari kios pedagang daging. Selama pasar ini belum dibangun kembali, suasana tadi tetap akan menjadi ingatan saja.

Kembali lagi ke pembahasan pecinan Purworejo, di seberang pasar Baledono, masih ada beberapa ruko tradisional lama yang berdiri di tengah-tengah ruko modern. Dahulu, ketika pasar Baledono belum terbakar, jalan di depan sini sangatlah semrawut, khas jalanan dekat pasar di Indonesia. Pejalan kaki yang berjalan seenaknya, kendaraan yang parkir dan berhenti sembarangan, hingga deretan lapak PKL yang menggelar dagangannya di atas trotoar.
Sebuah tiang telegraf tua yang masih tegak berdiri.
Sebuah ruko di dekat Buh Penceng.
Penyusuran kawasan Pecinan kita teruskan lagi ke selatan sampai jembatan Buh Penceng yang berada di atas Kali Kedungputri. Di sini memang sedikit sekali ruko Tionghoa yang masih berdiri. Tapi kita masih bisa menyaksikan satu tetenger yang menjadi ciri khas kawasan Buh Penceng. Tetenger itu bukanlah bangunan Tionghoa monumental, melainkan sebuah tugu telegraf yang sudah berdiri di tempatnya selama puluhan tahun.

Rumah tua bergaya Indis di Jalan Ahmad Yani. Dari ukuran bangunan yang terbilang besar dan dekorasinya yang banyak dan mewah, rumah ini tampaknya pernah menjadi tempat tinggal seorang Kapiten Tionghoa.
Berjalan ke selatan, sebelum sampai perempatan patung WR. Supratman yang menjadi ujung selatan kawasan pecinan Purworejo, kita dapat melihat sebuah bangunan tua besar yang gaya arsitekturnya berbeda jauh dengan bangunan – bangunan lain di pecinan Purworejo yang didominasi oleh ruko. Bangunan tua ini halamannya luas, memiliki beranda depan yang tinggi dan luas, serta terlihat deretan tiang dari besi cor yang antic di beranda depan yang menjadi ciri utama dari arsitektur Indis Neo-Klassik, sebuah gaya arsitektur yang pernah berkembang pada abad ke-19. Melihat bangunannya yang begitu besar dan mewah, tampaknya bangunan ini menjadi tempat tinggal seroang mayor Tionghoa. Mayor ini selain bertugas sebagai kepala masyarakat Tionghoa juga sebagai pemungut pajak yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial. Di bagian depan tampak tegel-tegel lama yang masih terlihat cantik. Separo bangunan ini masih menjadi tempat tinggal sementara separonya kosong. Di samping bangunan ini terdapat konter penjualan tiket bis. Pada tahun 1980an, bangunan ini pernah digunakan sebagai Hotel Indra. Di hotel inilah dahulu Koes Plus pernah menginap ketika berkunjung di Purworejo.

Tegel di beranda depan.
Bangunan ini rupanya pernah dipakai sekolah. Sekolah ini didirikan oleh organisasi Konghucu, Tiong Hoa Hwee Kwan. Salah satu aktivitas organisasi ini yakni mendirikan sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa (Heidhues, Mary F. Somers, 1972 ;257). 
Klenteng
Tidak lengkap rasanya jika penyusuran kita kali ini tidak mampir ke kelenteng. Ya, kelenteng selain merupakan tempat ibadah juga menjadi pusat kegiatan masyarakat Tionghoa. Klenteng Purworejo atau dikenal juga sebagai klenteng Thong Hwee Kiong didirikan oleh para pedangang Tionghoa pada tangga 22 Februari 1888. Dalam sistem religi masyarakat Tionghoa, kelenteng merupakan tempat sembahyang untuk Langit, Bumi, dan Leluhur. Pada perkembangannya, kelenteng menjadi tempat ibadah agama RuDaoShi atau agama Konghuchu, Tao, dan Buddhisme. Dari nama kelenteng ini ( Kiong ), unsur agama Tao lebih dominan pada kelenteng ini.
Klenteng Thong Hwee Kiong pada tahun 1930an. Di bagian puncak atap masih belum ada hiasan-hiasan seperti patung hewan-hewan mitos.
Bangunan kelenteng Purworejo terdiri dari bangunan untuk altar ‘tuan rumah’ kelenteng, yakni Dewa Hok Tek Ceng Sin. Di sebelah kanan dan kiri kelenteng, terdapat bangunan samping untuk dewa lainnya. Di depan kelenteng, terdapat paviliun. Paviliun ini merupakan batas area profan, yakni halaman depan kelenteng dengan area sakral.
Bangunan klenteng saat ini.
Bangunan kelenteng ini sarat dengan hiasan seni. Misalnya di dinding depan kelenteng melihat sepasang relief qilin, hewan mitologi campuran naga dan kuda. Di samping kanan dan kiri pintu masuk, terdapat papan kayu yang berisi syair. Di puncak atap utama yang berbentuk seperti ekor walet, kita dapat melihat sepasang naga langit yang menghadap bola api. Di bagian atap pendopo, kita juga dapat melihat patung chi wen, naga yang menyukai air dan dipasang di puncak atap untuk melindungi bangunan dari kebakaran. Kadang bentuknya seperti ikan berkepala naga seperti yang terlihat pada kelenteng ini.
Bagian dinding depan klenteng yang kaya akan ornamen bercorak Tionghoa. Dari sini terlihat ruang altar dewa Hok Tek Cing Sin yang menjadi dewa utama klenteng ini.
Klenteng ini cukup unik karena tidak ada atrium atau ruang terbuka di bagian tengah klenteng yang biasanya ditemukan pada bangunan-bangunan klenteng. Kira-kira mengapa klenteng ini tidak memiliki atrium ? Karena bagian atrium memerlukan ruang tambahan yang luas, sementara klenteng ini berdiri di lahan yang sempit dimana di belakang klenteng terdapat saluran air Kedung Putri dan di depannya terdapat pasar Baledono sehingga lahan klenteng ini tidak bisa diperluas lagi untuk membangun sebuah atrium. Sebagai ganti atrium, maka di bagian depan klenteng terdapat sebuah pendopo kecil yang dibawahnya terdapat sebuah wadah besar tempat menaruh dupa. Di puncak atap pendopo ini, terdapat hiasan chi wei yakni ikan berkepala naga yang dipercaya sebagai pelindung dari musibah kebakaran.

Menurut Ardian Cangianto ( 2013 ), kelenteng selain sebagai tempat ibadah juga merupakan pusat komunitas. Rapat-rapat komunitas diselanggarakan di kelenteng. Kadangkala kelenteng bisa menjadi tempat menginap untuk musafir. Kegiatan sosial seperti memberi makan hingga sembako gratis untuk orang miskin juga diadakan di Kelenteng. Festival-festival utama juga dilangsungkan di kelenteng. Ya,dapat dibilang Kelenteng merupakan inti dari kehidupan masyarakat Tionghoa.

Bong
Warisan budaya Tionghoa lain yang masih bisa kita telusuri di Purworejo yakni bong atau kompleks pemakaman untuk orang Tionghoa. Bong di Purworejo terletak di  desa Tawangrejo yang berada di sebelah utara kota Purworejo dan memiliki relief berbukit. Lokasi bong biasanya dibangun di daerah lereng perbukitan atau lahan yang miring karena dianggap memiliki fengshui yang baik, sehingga arwah leluhur dipercaya dapat menurunkan berkatnya kepada keturunannya.
Contoh bong yang ada di kompleks bong Tawangrejo, Purworejo.
Sebuah bong, terutama yang sudah berusia tua, memiliki ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan makam-makam lain. Ciri itu yakni berbentuk omega, lalu ada altar untuk sembahyang dan meletakan sesaji di bagian depan serta terdapat altar dewa bumi di sampingnya. Kuburan ini  kadang bisa diisi dua jenazah yang biasanya suami istri (Pratiwo. 2010; 75). Ketika semakin banyak orang Tionghoa yang menganut agama Kristen, maka bentuk kuburan-kuburan berubah bentuk yang semula omega, berubah menjadi seperti bentuk atap gereja dengan salib di bagian atasnya.
Salah satu Bong tua yang dibelakangnya terdapat ornamen patung naga.
Kemampuan orang yang meninggal dapat mempengaruhi ukuran dan ornamen pada sebuah bong. Jika orang yang meninggal memiliki kekayaan yang banyak, maka semakin besar ukurannya  dan makin banyak hiasannya. Jenis-jenis hiasan yang terlihat antara lain hiasan relief yang menceritakan cerita rakyat Tionghoa, patung hewan-hewan seperti naga, qilin dan burung phonix, motif tumbuhan seperti labu dan teratai.Hiasan-hiasan ini memiliki makna dan simbol tertentu yang dianggap bisa mendatangkan berkah untuk keluarga yang masih hidup. Misalnya hiasan qilin dianggap bisa mendatangkan berkah, keselamatan, kesehatan dan keamanan.

Prasasti kuburan bong disebut bongpay yang terbuat dari batu andesit. Isi sebuah bongpay lumayan kompleks dan ada aturan tersendiri dalam penulisannya. Selain tertulis nama orang yang dikuburkan yang terdapat di bagian tengah dan tanggal kematian yang ada di sebelah kanan, juga tertulis nama sanak keluarga yang ada di bagian kiri ( King Hian, 2012 ). Hal ini dikarenakan orang-orang Tionghoa menganggap ikatan kelurga adalah hal yang sangat penting, sehingga jikapun mati ikatan keluarga masih bisa terjaga. Angka kematian yang ditulis di bongpay disesuaikan dengan tahun kaisar yang memerintah di Tiongkok sana. Misalnya jika ada orang yang meninggal pada tahun 1880. Sementara itu, ketika orang itu meninggal yang menjadi kaisar adalah kaisar Guangxu yang naik tahta pada pada tahun 1875, maka tahun meninggal yang ditulis di makam adalah “Tahun ke-5 Kaisar Guangxu”

Penutup
Nah, setelah menyusuri berbagai warisan budaya Tionghoa di Purworejo, kita jadi tahu kan jika kondisi warisan budaya ini relatif utuh, mulai dari bangunan tempat tinggal, tempat ibadah hingga pemakaman. Warisan budaya bendawi ini menjadi bukti eksisnya masyarakat etnis Tionghoa di Purworejo dari zaman dahulu hingga sekarang dan menjadi bukti betapa masyarakat Purworejo masih menjunjung nilai toleransi dan keterbukaan terhadap masyarakat lainnya. Selain itu, juga menjadi simbol dari kerukunan antar sesama masyarakat Purworejo, baik dengan pribumi maupun dengan pendatang. Semoga keberadaan warisan budaya ini bisa dipertahankan sehingga ikut memperakaya khazanah warisan budaya di Indonesia dan sebagai perwujudan dari semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika,Walaupun berbeda namun tetap satu……

Referensi

Ardian Cangianto, 2013, Menghayati Kelenteng sebagai Ekspresi Budaya Masyarakat Tionghoa dalam web.budaya-tionghoa.net.

Becking. 1923. Eene Beschrijving van Poerworedjo en Omstreken dalam Indie. 21 Februari 1923.

Desril Riva Shanti. 2011. Bong di Bogor ;Kajian Mengenai Ragam Hias dan Arti Simbol dalam Selisik Masa Lalu. Alqaprint. Sumedang.

Handinoto. 1999. Lingkungan "Pecinan " dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial dalam Dimensi Teknik Sipil Vol. 27, no.1 Juli 1999.


King Hian. 2012. Penjelasan tentang Bongpay dalam web.budaya

4 komentar:

  1. Karo promosi kijing nggar.....

    BalasHapus
  2. Karo promosi kijing nggar.....

    BalasHapus
  3. mas Anggar
    nuwun sewu
    boleh saya tau instagram nya apa mas?
    mau tanya dikit ttg purworejo...
    matur nuwunn
    ig saya @unistuff_id

    BalasHapus
    Balasan
    1. IG saya : lengkongsanggar
      Silahkan kalau mau di follow
      matur suwun

      Hapus