Kamis, 26 Mei 2016

Bayangan Kejayaan Pabrik Gula Kalasan


Kalasan, sebuah wilayah di sebelah timur kota Yogyakarta yang terkenal akan peninggalan sejarahnya berupa Candi Kalasan yang berasal dari masa Dinasti Syailendra. Selain memiliki peninggalan sejarah dari masa klasik, Kalasan ternyata juga memiliki peninggalan masa kolonial berupa situs pabrik gula Kalasan yang sebagian bekasnya masih bisa dilihat sampai sekarang. Bekas-bekas apa saja yang kira-kira masih bisa ditemui dan seperti apa sejarah PG Kalasan akan saya bahas pada tulisan Jejak Kolonial bahas pada tulisan kali ini.

Sekilas Sejarah Kejayaan PG Kalasan

Emplasemen pabrik gula Kalasan di masa jayanya. Kepulan asap terlihat keluar dari cerobong. Sementara itu lori-lori berisi tebu sedang menunggu. Nampaknya foto ini diambil pada masa giling tebu (sumber : troppenmuseum.nl).

Berdirinya PG Kalasan atau Tanjungtirto tidak bisa dilepaskan dari semakin berkembangnya perkebunan tebu di Vorstenlanden (Daerah Yogyakarta dan sekitarnya) yang dibuka oleh para bekel putih atau orang-orang Eropa yang menyewa tanah ke Sultan. Selain membuka perkebunan tebu, mereka juga mendirikan pabrik gula di tengah-tengah area perkebunan tebu.

Pemandangan ladang tebu di sekitar PG Kalasan. Foto ini menghadap ke arah timur. Di kejauhan tampak cerobong PG Kalasan yang sedang mengeluarkan asap. Di belakang, tampak perbukitan Boko (sumber : media-kitlv.nl).
Pada masa kejayaan industri gula di Pulau Jawa pada tahun 1900an, terdapat 17 pabrik gula yang berdiri di wilayah Yogyakarta. Di dekat PG Kalasan sendiri terdapat sebuah pabrik gula yang jaraknya cukup dari PG ini, yakni PG Wonocatur yang sekarang menjadi Museum Dirgantara. Bahkan saking dekatnya, konon jika kita memanjat naik ke atas puncak cerobong PG Kalasan, maka cerobong asap miliki PG Wonocatur bisa terlihat dari sini.
Salah satu mesin pabrik gula Kalasan. Mesin ini dibuat oleh industri Machinefabrieken Hengelo dan diimpor oleh perusahaan Stork & Co (sumber : geheugenvannederland.nl). 
PG Kalasan sendiri didirikan dengan bantuan modal dari perusahaan keuangan Internatio pada tahun 1874 yang berkantor di Surabaya. Di samping mendirikan pabrik gula, juga didirikan bangunan penunjang seperti rumah sakit pembantu (hulpziekenhuizen) yang dibuka tahun 1922 dan sekolah pertukangan (Ambachtschool) yang dibuka pada tanggal 15 Mei 1928. Pembukaan sekolah ini ditandai dengan penanaman sebuah pohon beringin oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang disaksikan oleh Paku Alam VII dan Residen Yogyakarta, P. W. Jonquiere. Dalam perkembangannya, sebagian keuntungan dari penjualan gula selain mengalir ke kas pihak Belanda juga mengalir ke Sultan HB VII selaku pemiliki tanah.
Peta topografi dari tahun 1925. Peta ini dengan jelas menggambarkan kompleks Pabrik Gula Kalasan ketika masih aktif. Di utara pabrik gula,terdapat Stasiun Kalasan (tidak terlihat di sini karena gambar terpotong) yang menjadi tempat pengedropan gula dari Pabrik Gula Kalasan sebelum diangkut dengan kereta api (sumber : maps.library.leiden.edu).
Pada tahun 1930an, terjadi krisis keuangan yang mengguncang perekonomian dunia atau dikenal sebagai malaise. Hal ini berdampak pada hancurnya harga gula di pasaran. Untuk menutup kerugian, dibuatlah kebijakan Charbourne Agreement yang mengharuskan adanya pengurangan produksi gula dan memaksa banyak pabrik gula untuk ditutup. Beruntung, PG Kalasan termasuk salah satu PG yang tidak ditutup. Berdasarkan berita dari Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 7 November 1933, pengelolaan PG Tanjungtirto digabung dengan PG Bantul. Adminsitrateur PG waktu itu, Ir. O. Jansen van Raay diberhentikan oleh dewan direksi Internatio sejak tanggal 1 November. Sebagai ganti kepala pabrik, diangkatlah F. Moormaan yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai kepala PG Bantul. namun sayangnya hal ini tidak berlangsung lama karena pada masa penjajahan Jepang, pabrik gula ini ditutup oleh Jepang. Pada tahun 1950, ketika PG ini akan dibuka kembali oleh perusahaan yang dahulu memilikina, ternyata seluruh PG sudah dijarah oleh penduduk. Nasib yang sama juga menimpa PG Beran, Padokan, dan Cebongan. Kerugian yang ditaksir sebesar jutaan gulden (Java-bode: nieuws, handels-en advertentiblad voor Nederlandsch Indie, 10 Febuari 1950). Begitulah kira-kira riwayat dari pabrik gula Kalasan yang sekarang tinggal bayangannya saja.

Bayangan Kejayaan yang Masih Tersisa 
Lokasi PG Kalasan/Tanjungtirto pada peta Yogyakarta tahun 1926 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Informasi pabrik gula Kalasan saya dapatkan dari teman satu komunitas saya, mas Aga Y. P. Mas Aga menceritakan bahwa di Yogyakarta ada sebuah pabrik gula di daerah Kalasan yang bangunan rumah dinas pegawainya masih utuh. Sepengetahuan  saya, pabrik gula di Yogyakarta yang bangunan rumah dinas pegawai pabrik yang masih utuh hanya PG Sewugalur di Kulonprogo saja. Namun setelah mendapatkan informasi  dari teman saya tadi, saya menjadi penasaran untuk mengetahui apa saja yang masih tersisa dari pabrik gula ini. Oleh karena itulah pada suatu sore, saya bersama mas Aga yang sudah mengetahui tempatnya meninjau lokasi pabrik gula Kalasan.

Peta situs Pabrik Gula Kalasan.Keterangan : Kotak putih : Bekas rumah dinas yang masih berdiri. Kotak merah : Bekas lokasi berdirinya Pabrik Gula Kalasan. Kotak Hitam : Emplasemen Lori. Garis kuning : Bekas jalur lori. 

Meski bernama Pabrik Gula Kalasan, ternyata lokasi situs pabrik gula ini bukan berada di Kecamatan Kalasan, melainkan di Kecamatan Berbah, tepatnya di desa Tanjuntirto. Oleh karena itulah pabrik gula ini terkadang juga disebut sebagai Pabrik Gula Tanjung Tirto. Untuk menuju ke sini dari arah Yogyakarta, telusuri Jalan Yogyakarta-Solo hingga ada pertigaan yang menuju ke arah Berbah, belok ke kanan dan telusuri jalan lurus terus hingga pertigaan yang ada pohon besar di tengah pertigaan ,lalu belok ke kanan. Kemudian lurus terus menuju ke arah SMP N 1 Berbah. Di sekitar sekolah inilah saya menjumpai banyak rumah-rumah lama yan dahulu menjadi rumah dinas pegawai pabrik gula Kalasan.
Di lapangan inilah dahulu PG Kalasan berdiri.
Seperti nasib pabrik gula milik Belanda lain yang ada di Yogyakarta, bangunan pabrik gula Kalasan sudah tidak meninggalkan bekas apapun. Jadi kita tidak akan melihat sebuah bangunan pabrik berukuran besar di sini. Saat ini bangunan pabrik gula menjadi gudang tembakau dan sebagian lainnya menjadi tanah lapang di belakang gudang tadi. Pada awalnya saya sempat mengira kalau bangunan gudang tembakau tadi masih asli sejak zaman PG Kalasan berdiri, namun setelah saya bertanya ke warga, ternyata gudang tembakau tadi merupakan bangunan baru. Kini, tidak terlihat lagi para kuli pabrik yang sedang bekerja dengan peluh keringat yang mentes di kepala dan juga wajah seram para meneer Belanda yang mengawasi kuli-kuli tadi. Tidak terlihat lagi cerobong yang menjulang tinggi dengan asap pekatnya. Tidak terlihat juga barisan lori yang berjejer rapi dengan muatan tebu. Ya, PG Kalasan kini tinggal bayangannya saja.
Tipikal rumah dinas di kompleks PG Kalasan.
Yah, meskipun bangunan pabrik gula ini tinggal menjadi bayangan sejarah saja, namun setidaknya kita masih bisa menjumpai sebagian warisan PG Kalasan berupa rumah-rumah tua yang dahulu menjadi rumah dinas karyawan PG Kalasan yang sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat. Keberadaan rumah dinas dengan pabrik gula ibarat dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan karena di sinilah parkaryawan pabrik gula dengan jabatan tinggi  seperti administrateurzinder, machinist dan chemist tinggal. Untuk meningkatkan produktivitas karyawan, maka rumah tinggal mereka dibangun di dekat pabrik. Rata-rata rumah-rumah pegawai PG Kalasan menghadap ke selatan, ke arah lokasi kerja. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengawasan terhadap segala kegiatan yang ada di pabrik gula. Konsep ini dikenal sebagai konsep panopticon (Hari Libra Inagurasi, 2010; 123). Saya sendiri membayangkan para meneer mengawasi para kuli-kuli pabrik yang sedang bekerja lewat beranda depan rumah mereka. Rumah-rumah ini dapat kita jumpai di sepanjang jalan yang menjadi akses keluar masuk area pabrik, sehingga siapapun yang keluar masuk di area pabrik dapat diketahui.
Sebuah bekas rumah dinas yang kondisinya masih cukup baik. Rumah dinas ini bertipe kopel (dua rumah dalam satu atap).
Bekas rumah dinas bercat hijau ini kondisinya sangat baik sekali. Halaman di depan rumah terlihat bersih dan rimbun. Penghuni rumah ini merupakan anak dari pegawai Pabrik Gula Kalasan. Warga sekitar biasanya memanggilnya Mami Uti.

Bekas rumah dinas berwarna oranye ini berada di sebelah SMP N 1 Berbah. Rumah ini kerap digunakan untuk syuting film.
Saat ini, terdapat tujuh buah bangunan rumah dinas yang masih tersisa. Sebagian digunakan untuk kantor institusi pemerintahan seperti Kantor Polsek Berbah, Koramil Berbah dan SMP N 1 Berbah. Sementara sisa nya menjadi rumah tinggal milik warga.

Bekas rumah administrateur Pabrik Gula Kalasan yang sekarang menjadi SMP N 1 Berbah.Bangunan ini ditempati sebagai sekolah sejak tahun 1951.Rumah seorang administrateur biasanya memiliki bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan bentuk rumah pegawai pabrik gula yang ada di bawahnya.
Bekas rumah dinas pabrik gula Kalasan yang sekarang menjadi kantor Polsek Berbah. sejak tahun 1957.
Sebuaah bekas rumah dinas di samping Koramil Berbah.
Jika dilihat dari sisi arsitektural, rumah dinas PG Kalasan memiliki ciri arsitektur yang serupa, yakni memiliki bentuk atap pelana dan fasad berupa gable dari kayu yang menghadap ke depan. Di bagian bawah gable terdapat dekorasi seperti gigi runcing yang mengarah ke bawah. Atap gable tadi menanungi bagian beranda depan rumah. Beranda depan ini pada bagian depan ditutup dengan lapisan dinding kayu jati dan kaca, sehingga untuk masuk ke bagian beranda depan depan lewat undakan kecil di samping. Beranda depan ini selain digunakan untuk tempat menerima tamu, juga dapat digunakan sebagai tempat untuk mengawasi para pekerja pabrik. Di belakang rumah, terdapat bangunan tambahan yang digunakan untuk kamar pembantu, dapur, dan kamar mandi.

Demikianlah tulisan Jejak Kolonial mengenai sisa-sisa Pabrik Gula Kalasan yang kini tinggal menjadi bayangan sejarah saja dan tinggal menyisakan bangunan rumah dinas yang masih berdiri kokoh. Semoga keberadaan bangunan bersejarah yang tersisa ini dapat dijaga karena kehilangan sebuah bangunan bersejarah dampaknya mungkin belum terasa bagi generasi di masa sekarang, tapi akan sangat terasa untuk generasi di masa mendatang.

Referensi

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/07/25/smpn-i-berbah-sleman/

Hari Libra Inagurasi. Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930, Sebuah Studi Arkeologi Industri. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Indonesia. Tesis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar