Kamis, 26 Mei 2016

Bayangan Kejayaan Pabrik Gula Kalasan

Pada suatu masa di Desa Tanjungtirto, Berbah, Sleman, pernah ada sebuah pabrik gula dengan asap yang membumbung tinggi ke cakrawala. Pabrik gula itu bernama PG Kalasan atau bisa pula disebut PG Tanjungtirto. Sudah sekian lama PG itu sirna, namun bayangan kejayaannya masih terjumpa pada rentetan sisa bangunan kuno.


Peta topografi dari tahun 1925 yang menggambarkan begitu jelas kompleks Pabrik Gula Kalasan. Di utara pabrik gula,terdapat Stasiun Kalasan (tidak terlihat di sini karena gambar terpotong) dimana gula dari Pabrik Gula Kalasan transit di sana sebelum diangkut dengan kereta api (sumber : maps.library.leiden.edu).
Halaman SMP N 1 Berbah siang itu amat lengang. Kegiatan belajar mengejar pada hari itu telah usai. Hanya tampak satu dua siswa yang sedang nongkrong di dekat pintu gerbang sekolah. Mungkin tak terlintas di benak mereka, bahwa tempat mereka menimba ilmu dulunya bukanlah sekolah, melainkan rumah administrateur PG Kalasan yang dulu pabriknya pernah berdiri persis di seberang sekolah ini. Ingatan saya lantas menyeruak ke masa lampau ketika mesin-mesin gilingnya masih senantias berkumandang, menggiling berbatang-batang tebu yang dihimpun dari seantero perkebunan.
Emplasemen pabrik gula Kalasan di masa jayanya. Kepulan asap terlihat keluar dari cerobong. Sementara itu lori-lori berisi tebu sedang menunggu. Nampaknya foto ini diambil pada masa giling tebu (sumber : Gedenkboek Internationale Crediet- en Handels Vereeniging Rotterdam ).

Salah satu mesin pabrik gula Kalasan. Mesin ini dibuat oleh industri Machinefabrieken Hengelo dan diimpor oleh perusahaan Stork & Co (sumber : geheugenvannederland.nl). 
Catatan sejarah mengisahkan bahwa wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta atau di masa kolonial dikenal sebagai Vorstenlanden pernah memiliki lebih dari selusin pabrik gula yang bertebaran di segala penjuru. Pabrik-pabrik itu dibuka oleh para bekel putih, sebutan bagi orang Eropa yang menyewa tanah kepada Sultan. Satu dari sekian pabrik gula itu adalah PG Kalasan. PG Kalasan sebelum tahun 1874 dimiliki oleh seorang Belanda bernama Wieseman dan Broese van Groenau yang modalnya memimjam dari salah satu perusahaan keuangan terkemuka di Hindia-Belanda, Internationale Crediet  en Handelsvereeniging Rotterdam.
Rumah sakit pembantu yang dibagun oleh PG Tanjutirto pada 1922. Rumah sakit ini diberi subsidi oleh pemerintah kolonial sehingga masyarakat tak perlu membayar layanan rumah sakit.
Selama PG Kalasan berjalan, keuntungan yang masuk tak hanya mengalir ke kas pihak Belanda saja. Sultan Yogyakarta, selaku pemilik tanah juga mendapat jatah keuntungan. Keuntungan yang mengalir kemudian dipakai untuk mendanai program sosial di sekitar pabrik. Misalnya rumah sakit pembantu ( hulpziekenhuizen ) yang dibuka tahun 1922 dan sekolah pertukangan ( Ambachtschool ) yang dibuka 15 Mei 1928. Sebuah upacara penanaman pohon beringin oleh Sultan Hamengkubuwono VIII dihelat untuk menandai pembukaan sekolah itu, disaksikan oleh Paku Alam VII dan Residen Yogyakarta, P. W. Jonquiere.
Hamparan ladang tebu di sekitar PG Kalasan. Menghadap ke arah timur, tampak asap tipis yang mengepul dari cerobong. Di belakang, tampak perbukitan Boko (sumber : media-kitlv.nl).
Sayang, ujian bertubi-tubi menimpa nasib PG Kalasan, kala kemelut malaise menerjang dunia pergulaan Hindia-Belanda, pengelolaan PG Kalasan dilebur dengan PG Bantul. Harian Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 7 November 1933 mewartakan adminsitrateur PG Kalasan pada saat itu, Ir. O. Jansen van Raay diberhentikan oleh dewan direksi Internatio sejak tanggal 1 November. Sebagai gantinya, diangkatlah F. Moormaan yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai kepala PG Bantul. Berikutnya di masa pendudukan Jepang, PG Kalasan ditutup. Setelah kemerdekaan, pemilik pabrik sebelumnya berniat untuk membuka pabrik yang telah lama terbengkelai. Namun seperti yang diwartakan oleh Java-bode: nieuws, handels-en advertentiblad voor Nederlandsch Indie tanggal 10 Febuari 1950 , betapa terkejutnya mereka mendapati pabrik yang kini tinggal puing-puingnya. Rupanya pada masa Agresi Militer Belanda Kedua, pabrik itu dibumihanguskan oleh pejuang agar tak dijadikan markas militer Belanda. Perlengkapan di dalam pabrik yang bernilai jutaan gulden dijarah oleh warga sekitar. Begitulah ceritanya PG Kalasan menjemput ajalnya.
Peta situs Pabrik Gula Kalasan.Keterangan : Kotak putih : Bekas rumah dinas yang masih berdiri. Kotak merah : Bekas lokasi berdirinya Pabrik Gula Kalasan. Kotak Hitam : Emplasemen Lori. Garis kuning : Bekas jalur lori. 
PG Kalasan memang telah lama sirna ditelan bumi, namun bayangan kejayaannya masih terjumpa di sekitar lokasi pabrik itu pernah berdiri. Selain bekas bangunan rumah adiminstrateur yang kini menjadi SMP N 1 Kalasan, di sepanjang jalan yang sama juga masih berdiri rumah-rumah kuno yang masih lestari.  Rumah-rumah itu diperkirakan dibuat pada tahun 1905, bersamaan dengan perluasan PG Kalasan dan diperuntukan kepada pegawai pabrik setingkat di bawah administratuer seperti pegawai pembukuan, pengawas lapangan, mekanik, dan chemis.
Bekas rumah administrateur Pabrik Gula Kalasan yang sekarang menjadi SMP N 1 Berbah.Bangunan ini ditempati sebagai sekolah sejak tahun 1951.Rumah seorang administrateur biasanya memiliki bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan bentuk rumah pegawai pabrik gula yang ada di bawahnya.
Manajemen sebuah pabrik gula diisi oleh orang-orang yang bertanggung jawab di bidang masing-masing. Misalnya Mekanik yang ahli di bidang permesinan. Sebab itulah ia ditugaskan untuk merawat segala jenis mesin di pabrik  agar dapat beroperasi dengan baik. Musim giling akan menjadi saat tersibuknya karena sepanjang hari ia harus memastikan agar mesin-mesin di pabrik dapat beroperasi dengan lancar tanpa gangguan sedikitpun. Sebuah gangguan pada mesin saja akan mengacaukan jalannya produksi. Selain mesin giling, ia juga mengurus lokomotif-lokomotif kecil yang digunakan untuk menarik gerbong tebu. Selanjutnya adalah chemis yang akan menentukan dan menjaga mutu gula yang akan dihasilkan. Seperti halnya Mekanik, ia akan berkutat sepanjang hari di pabrik jika musim giling tiba. Berikutnya adalah Pengawas Lapangan atau zinder yang memiliki keahlian pada bidang perkebunan. Berbeda dengan pegawai lain, ia bahkan sudah bekerja sebelum musim giling tiba karena ia mengurus penanaman, perawatan, pemupupukan, pemanenan dan pengangkutan tanaman tebu. Pekerjaan yang tak kalah pentingnya adalah pegawai pembukuan yang mengurus perkara birokrasi dan keuangan pabrik.
Selain SMP N 1 Kalasan, bangunan Kantor Polsek Berbah juga memakai rumah dinas PG Kalasan sejak tahun 1957.
Dengan pekerjaan yang menuntut para pegawai untuk tetap berada di dekat lingkungan pabrik setiap hari, maka wajarlah jika rumah-rumah pegawai pabrik dibangun di dekat pabrik seperti yang terjumpa pada PG Kalasan. Dengan demikian pegawai tak perlu menghabiskan waktu di perjalanan. Selain mempersingkat waktu, keberadaan rumah itu juga memangkas biaya yang dikeluarkan pabrik untuk perjalanan pulang-pergi pegawai. Rumah-rumah itu telah ditempatkan dengan konsep panopticon, yakni dihadapkan ke arah pabrik supaya lebih mudah mengawasi segala kegiatan yang sedang berlangsung di pabrik. (Hari Libra Inagurasi, 2010; 123).
Tipikal rumah dinas di kompleks PG Kalasan.
Bekas rumah dinas berwarna oranye ini berada di sebelah SMP N 1 Berbah. Rumah ini kerap digunakan untuk tempat syuting film.
Dari sudut pandang arsitektur, rumah-rumah dinas PG Kalasan menggunakan gaya arsitektur yang sedang marak di Hindia-Belanda pada awal abad ke-20, yakni gaya arsitektur Chalet yang tercermin dari penggunaan gable kayu. Bagian bawah gable kayu itu berbentuk seperti gigi taring yang menjuntai di depan beranda. Beranda ini selain dipakai untuk tempat menerima tamu dan bercengkerama, juga menjadi tempat para meneer pegawai PG Kalasan mengawasi pabrik. Persis di belakang rumah, terdapat bangunan tambahan yang digunakan untuk kamar pembantu, dapur, dan kamar mandi.


Di lapangan inilah dahulu PG Kalasan berdiri.


Berdiri di seberang selatan rumah-rumah kuno tadi, terdapat sebuah gudang tembakau besar yang aroma khas tembakaunya tercium sampai luar. Saya sempat menduga jika bangunan itu merupakan bagian dari PG Kalasan. Dugaan saya segera disanggah oleh seorang warga yang telah lama tinggal di situ. Warga itu menyebutkan bahwa gudang itu baru ada sekitar tahun 1960an. Setelah merambah area sekitar, saya tak menjumpai apapun, selain hamparan tanah lapang di belakang gudang tembakau tadi. Dengan demikian, lenyap sudah gedung PG Kalasan yang dulu cerobong asapnya menjulang tinggi membelah cakrawala, memuntahkan asap putih tebal setiap musim giling tiba. Walau demikian akhirnya, bayangan kejayaanya masih terpantulkan lewat deretan rumah-rumah kuno itu.

Referensi
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/07/25/smpn-i-berbah-sleman/

Inagurasi, Hari Libra. 2o10. " Pabrik Gula Cepiring di Kendal 1835-1930,Sebuah Studi Arkeologi Industri ". Tesis. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar