Minggu, 28 Agustus 2016

Serpihan Kejayaan Stasiun Gundih yang Kini Terlewatkan

Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya akan mengajak anda untuk melihat dan mengulik sejarah dari Stasiun Gundih, sebuah stasiun kereta api tua yang berada di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Stasiun yang sekarang bisa dikatakan sepi karena sedikit sekali kereta yang singgah di sini, rupanya kondisi di masa lalu tidaklah sesepi sekarang. Bagaimana cerita kejayaan stasiun ini di masa lalu ? 

Sejarah
Stasiun Gundih pada tahun 1900-an awal. Foto ini diambil menghadap ke arah utara. Terlihat kereta api yang sedang bersiap berangkat menuju Surakarta. Rumah-rumah di sisi kiri gambar merupakan rumah dinas untuk pegawai stasiun (sumber : colonialarchitecture.eu).
Sejarah stasiun Gundih bermula dari pembangunan jalur rel Semarang - Vorstenlanden tahap ketiga, antara Kedungjati – Surakarta pada tahun 1870 oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij. Stasiun Gundih sendiri dahulunya cukup unik karena memiliki dua jenis rel, yakni rel lebar 1435 mm dari arah Brumbung dan lebar 1067 mm dari arah Gambringan. Pada tahun 1900, bangunan stasiun Gundih yang lama direnovasi dengan bentuk yang bisa kita lihat seperti sekarang. Di tahun yang sama, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij membuka jalur Gundih – Kradenan. Tiga tahun kemudian, jalur Gundih – Kradenan terhubung dengan Surabaya melalui lintasan Babat – Tuban – Merakurak  dan Sumari – Gresik – Kandangan dengan menggunakan rel lebar 1067 mm. Dapat kita bayangkan betapa sibuknya stasiun ini di masa lalu karena penumpang dan barang dari Semarang yang hendak ke Surabaya turun di stasiun ini terlebih dahulu dan kemudian berganti kereta. Baru setelah jalur kereta Gambringan - Surabaya selesai dibangun pada tahun 1914, penumpang kereta jurusan Semarang - Surabaya tidak perlu berganti kereta lagi di Gundih (Het nieuws van den dag voor Nederlansch-Indie 8 Februari 1922).
Harian De Locomotief yang memberitakan semakin banyaknya warga Eropa yang datang ke Gundih.
Sejak Stasiun Gundih dibangun, terjadi perkembangan sosial masyarakat di Gundih. Menurut harian De Locomotief tanggal 22 Februari 1899, semenjak Stasiun Gundih dibangun, semakin banyak warga Eropa yang berkunjung ke Gundih. Rupanya pemerintah kolonial memandang Gundih sebagai tempat yang strategis, salah satu dampaknya selain pembangunan stasiun juga terdapat pembangunan fasilitas pendidikan dasar yang ada di sekitar stasiun (Tim Penyusun, 23; 2015). Selain digunakan untuk melayani penumpang, stasiun Gundih juga digunakan untuk mengangkut hasil hutan berupa kayu jati yang tumbuh di sekitar Gundih. Tujuan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij membangun jalur kereta memang berorientasi pada bisnis pengangkutan hasil bumi. Selain hasil bumi berupa kopi, karet, gula dan kapas yang sudah laris sejak dahulu, hasil bumi lain yang dapat dieksploitasi, terutama di wilayah Grobogan yang tanahnya sebagian besar berupa tanah kapur adalah kayu jati. Di masa kolonial (dan hingga sekarang), kayu jati adalah material yang sangat dibutuhkan untuk bahan bangunan, furniture, dan bahan bakar mesin uap.

Jelajah Stasiun Gundih
Peta lokasi Stasiun Gundih pada tahun 1905. Garis hitam-putih merupakan rel lebar 1435 mm dari arah Brumbung. Sementara garis hitam-putih yang lebih kecil merupakan jalur rel lebar 1067 mm dari arah Gambringan. Jalur yang berbelok ke kanan merupakan jalur rel milik S. J. S menuju arah Purwodadi.
Jelajah Stasiun Gundih


Saya sendiri pertama kali mengunjungi stasiun ini bersama teman dekat saya di Komuntias Roemah Toea. Siapa lagi kalau bukan mas Aga Y.P. Nah, untuk menuju ke stasiun ini, kami berangkat dari Yogyakarta dari pukul setengah empat pagi. Hal ini sengaja dilakukan untuk menghindari kemacetan pada jam-jam berangkat kerja. Setelah menempuh perjalanan kira-kira dua jam setengah dan sempat terperangkap macet di Jalan raya Purwodadi-Solo yang sedang diperbaiki, sampailah kami di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, tempat dimana Stasiun Gundih berada. Posisi stasiun Gundih tidak berada di tepi jalan raya dan agak tersembunyi di perkampungan. Jika dari jalan raya, dari Solo menuju Purwodadi, nanti ada pertigaan di sebelah utara SMP N 1 Geyer, lalu beloklah ke kiri dan susuri jalan desa. Di ujung jalan ini inilah Stasiun Gundih berada.

Bagian depan stasiun Gundih. Terlihat dua overkapping atau kanopi stasiun di sisi barat dan timur.
Kita mungkin akan membayangkan tentang sebuah stasiun yang sibuk akan hiruk pikuk penumpang. Namun semua bayangan kita tadi akan sirna begitu memasuki area stasiun. Stasiun ini benar-benar sepi seolah tidak ada kehidupan. Selain para pegawai stasiun yang sedang bertugas, kehidupan yang terlihat di sini hanyalah seorang ibu yang sedang mengasuh anaknya di peron stasiun. Adapun kereta yang berhenti di stasiun ini hanyalah Kereta Mataratmaja dan Kalijaga.
Tiang-tiang besi penyangga overkapping atau kanopi.
Lantai stasiun yang masih asli dari tegel lama.
Bangunan Stasiun Gundih memiliki gaya arsitektur yang unik jika kita pernah melihat stasiun – stasiun pulau lain yang dimiliki oleh N.I.S.M seperti Ambarawa, Purwosari dan Kedungjati yang dibangun belakangan. Rupanya gaya arsitektur stasiun Gundih lebih mirip dengan stasiun – stasiun paralel / tepi milik N.I.S.M seperti Tuntang, Telawa dan Bringin yang ukurannya lebih kecil. Gaya ini semakin terlihat jelas pada bagian depan stasiun Gundih yang menghadap ke utara, terutama pada bagian kanopi berbentuk pelana yang menaungi pintu masuk utama dengan hiasan facial board atau gigi talang. Selain itu, jika stasiun-stasiun pulau N.I.S.M lain seperti Ambarawa, Purworsari atau Kedungjati konsepnya yakni bangunan kecil yang dinaungi atap baja yang besar, maka konsep stasiun Gundih yakni sebuah bangunan tunggal yang memiliki dua buah atap peron kembar di bagian sayap. Konsep ini justru lebih mirip dengan konsep Stasiun Tugu milik Staatspoorwegen, perusahaan yang juga bergerak di bisnis transportasi kereta api.
Denah Stasiun Gundih.
Keterangan : 1; Ruang tunggu. 2; Loket. 3; Ruang kepala stasiun. 4; Loket. 5;Ruang PDB. 6;Gudang. 7; WC.
Bangunan Stasiun Gundih memiliki gaya arsitektur yang unik jika kita pernah melihat stasiun – stasiun pulau lain yang dimiliki oleh N.I.S.M seperti Ambarawa, Purwosari dan Kedungjati yang dibangun belakangan. Rupanya gaya arsitektur stasiun Gundih lebih mirip dengan stasiun – stasiun paralel / tepi milik N.I.S.M seperti Tuntang, Telawa dan Bringin yang ukurannya lebih kecil. Gaya ini semakin terlihat jelas pada bagian depan stasiun Gundih yang menghadap ke utara, terutama pada bagian kanopi berbentuk pelana yang menaungi pintu masuk utama dengan hiasan facial board atau gigi talang. Selain itu, jika stasiun-stasiun pulau N.I.S.M lain seperti Ambarawa, Purworsari atau Kedungjati konsepnya yakni bangunan kecil yang dinaungi atap baja yang besar, maka konsep stasiun Gundih yakni sebuah bangunan tunggal yang memiliki dua buah atap peron kembar di bagian sayap. Konsep ini justru lebih mirip dengan konsep Stasiun Tugu milik Staatspoorwegen, perusahaan yang juga bergerak di bisnis transportasi kereta api.
Peron barat Stasiun Gundih.
Jam dinding tua dari Strassburg, Perancis.
Stasiun Gundih mempunyai 7 buah ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada yang dipakai untuk ruang Kepala Stasiun, ada ruang PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api), ada ruang tunggu, ruang tiket, dan gudang. Stasiun ini rupanya memiliki dua buah loket, yakni di pintu masuk utara dan di bagian tengah stasiun tengah namun sekarang hanya loket bagian tengah saja yang masih dipakai. Stasiun Gundih nampaknya benar-benar merupakan sebuah stasiun yang sibuk di masa lalu sampai –sampai memiliki dua buah loket. Sementara itu, untuk ruang toilet dan gudang berada di ujung selatan stasiun, terpisah dari bangunan utama stasiun dengan alasan higenitas.
Ruang loket.
Alat pengatur sinyal.
Masih di peron ini, kita juga masih bisa menjumpai bekas alat pengatur sinyal yang dahulu dioperasikan secara manual. Lewat peron ini, setidaknya kita dapat berimajinasi seperti apa kesibukan kereta ini di masa lalu, ketika para penumpang dari Semarang turun dari kereta untuk berganti kereta menuju Surabaya dan bagaimana sibuknya petugas loket melayani penumpang yang hendak berganti kereta. Lalu bagaimana sibuknya para kuli-kuli pengangkut barang dan bagasi penumpang yang membongkar muat barang. Sayangnya, kesibukan itu kini tinggal kenangan saja.
Emplasemen selatan Gundih sisi timur.
Stasiun Gundih diapit oleh jalur kereta di kedua sisi emplasemennya. Model stasiun seperti ini disebut stasiun pulau. Dahulu,emplasemen barat digunakan untuk rel 1435 mm jurusan Semarang –Vorstenlanden. Sementara emplasemen timur digunakan untuk rel 1067 mm jurusan Surabaya. Sebenarnya di emplasemen timur stasiun Gundih, terdapat sebuah stasiun milik Semarang Joana Stoomtram Maatschapij (SJS) jurusan Purwodadi dan Demak, namun kini, stasiun ini sudah tidak ada lagi termasuk jalur kereta apinya.
Menara air atau watertoren.
Sumur sumber air Stasiun Gundih.
Bagian yang diduga bekas pipa corong pengisi air lokomotif.
Puas melihat-lihat Stasiun Gundih, mari kita coba untuk mencari obyek-obyek lain yang masih ada hubungannya dengan stasiun Gundih. Tidak jauh dari Stasiun Gundih, tepatnya di sebelah barat, kita bisa menemukan sebuah bangunan besar berbentuk persegi yang dahulu digunakan sebagai menara penampung air atau watertoren. Pada zaman dahulu, lokomotif yang dipakai untuk menarik gerbong masih menggunakan mesin uap yang membutuhkan air agar bisa menghasilkan uap. Jika air di dalam lokomotif habis, kereta tidak bisa berjalan lagi. Oleh karena itulah, di masa lalu, keberadaan menara air wajib hukumnya untuk sebuah stasiun. Sumber air ini diambil dari sumur yang berada di dekatnya. Dari menara air ini, air selanjutnya dialirkan ke lokomotif melalui sebuah corong air yang kini sudah tidak ada lagi.
 Gudang Stasiun Gundih.
Berjalan ke selatan stasiun Gundih, kita juga akan menemukan sebuah bangunan tua berukuran besar yang dahulu digunakan sebagai gudang. Gudang ini masih berdiri kokoh meski kondisinya agak terlantar. Model pintu geser yang kerap ada di gudang-gudang masa kolonial masih terlihat di gudan stasiun ini. Tinggi pondasi gudang sudah disesuaikan dengan tinggi boggie kereta sehingga bongkar muat barang dari gerbong ke gudang atau sebaliknya menjadi lebih mudah.
Depo Stasiun Gundih yang kini sudah tidak digunakan lagi.
Kita jalan balik ke arah bagian utara stasiun. Di ujung utara stasiun Gundih, kita akan melihat sebuah bangunan besar yang dahulu tidak lain adalah depo kereta. Depo kereta berfungsi sebagai tempat perawatan rutin kereta dan juga sebagai tempat peristirahatan kereta jika sedang tidak dipakai. Dari Semarang hingga Surakarta, hanya terdapat dua stasiun yang memiliki depo, yakni Stasiun Kedungjati dan Stasiun Gundih. Tidak semua stasiun memiliki depo. Hanya stasiun-stasiun yang dianggap cukup penting saja yang memiliki depo, sehingga keberadaan depo ini menunjukan pentingnya peran stasiun Gundih bagi perjalanan kereta api di masa lalu padahal Gundih sendiri lokasinya cukup terpencil di masa lalu. Depo Stasiun Gundih adalah satu-satunya depo yang tersisa di lintas Semarang-Surakarta setelah bangunan depo Stasiun Kedungjati rata dengan tanah pada tahun.
Salah satu rumah dinas Stasiun Gundih yang masih asli. Rumah ini berupa rumah kopel dengan atap berbentuk limas.
Di seberang barat stasiun Gundih, dipisahkan oleh rel, berdiri deretan rumah tua yang dahulu adalah rumah dinas untuk pegawai stasiun Gundih. Bentuk-bentuk rumah dinas ini kebanyakan sudah merupakan hasil rombakan dari tahun 1950an. Hal ini terlihat dari bentuk rumah yang tampak kaku dan minim ornamen. Berbeda sekali dengan bangunan-bangunan rumah dinas stasiun milik N.I.S yang biasanya penuh ornamen. Jendela yang dipakaipun tidak lagi menggunakan jendela krepyak yang tinggi, melainkan jendela kaca yang ukurang lebih kecil. Posisi rumah-rumah dinas ini sangat dekat sekali dengan rel sehingga dapat dibayangkan setiap hari penghuni rumah ini pasti melihat kereta api lewat dan tentunya tinggal di sini agak kurang nyaman karena terganggu oleh deru kereta yang lewat. 
Rumah tua yang kemungkinan dahulunya dihuni oleh kepala stasiun. Rumah ini memiliki atap tipe jerkinhead.
Bagian beranda depan. Dahulu, ketika pemukiman warga tidak sebanyak sekarang, aktivitas stasiun Gundih dapat dilihat dari sini.
Ruang bagian dalam yang sudah lama tidak dihuni.
Pintu depan.
Lalu di sebelah timur Stasiun Gundih, di tengah-tengah pemukiman warga, bisa kita temukan sebuah bangunan tua yang tampaknya merupakan rumah dinas Stasiun Gundih. Bentuk rumah dinas ini masih terlihat asli dengan gaya arsitektur “NIS Chalet”  yang menjadi ciri khas bangunan rumah dinas stasiun milik N.I.S. Tampaknya dahulu rumah ini dihuni oleh kepala stasiun. Hal ini terlihat dari posisi rumah ini yang agak menjauh dari rel dan posisinya berada di tanah yang lebih tinggi daripada rumah dinas lainnya. Orientasi rumah ini menghadap ke arah barat, ke arah stasiun. Mari kita masuk ke bagian dalam rumah ini. Di dalam, kondisinya terlihat gelap, kosong dan lembab karena sudah lama tidak dihuni. Coretan vandalisme terlihat di ruas-ruas dinding. Dahulu, ketika pemukimannya tidak sebanyak sekarang, dari sini segala aktivitas di stasiun bisa terlihat dengan jelas.  Saya sendiri jadi membayangkan kepala stasiun Gundih duduk santai di serambi depan, menikmati langit Gundih waktu senja dengan suara-suara mesin kereta dari kejauha yang memecah kesunyian Gundih.

Gedung Papak Gundih.
Di sebelah utara rumah tadi, kita akan melihat sebuah bangunan besar bertingkat dua yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai Gedung Papak Gundih. Disebut papak karena bangunan ini terlihat memiliki atap yang datar. Dahulu, gedung ini merupakan tempat tinggal dan kantor administrasi dari perusahaan kayu jati di sekitar Gundih. Gedung ini rupanya menyimpan cerita cukup menyedihkan karena pada masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah digunakan untuk menampung Jugun Ianfu.

Demikian ulasan Jejak Kolonial mengenai bangunan dan sejarah Stasiun Gundih di Kabupaten Grobogan. Sungguh betapa jayanya Stasiun Gundih di masa lalu, sebuah stasiun di tengah-tengah hutan jati yang dahulu ramai akan penumpang, stasiun yang dahulu ramai akan kegiatan bongkar muat barang, stasiun yang dahulu udaranya dipenuhi dengan asap kereta yang tebal dan pekikan peluit kereta yang yang nyaring. Ya, semua cerita tadi kini hanya terlewatkan oleh sejarah begitu saja seperti kereta-kereta yang hanya numpang lewat di stasiun ini.

Referensi
Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api, Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

4 komentar:

  1. mantap gan,kebetulan ane orang gundih xixi :D

    BalasHapus
  2. Gundihnya mana mas,saya lahir Dan besar di gundih jga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bukan asli Gundih, tapi dari Purworejo. Ya dulu pernah main ke Gundih bareng temen. hehe

      Hapus