Sabtu, 24 September 2016

Mengenal Lebih Dekat Kelenteng Gondomanan

Hampir setiap kota besar di Indonesia, terutama yang terdapat kawasan pecinan pasti memiliki peninggalan sejarah berupa tempat peribadatan orang Tionghoa yang kita kenal sebagai kelenteng. Pada tulisan Jejak Kolonial kali, kelenteng yang akan dibahas adalah sebuah klenteng yang berada di kota Yogyakarta, yakni kelenteng Gondomanan. Sejarah kelenteng ini cukup menarik karena kelenteng ini sendiri merupakan jejak toleransi Yogyakarta pada masa lalu. Seperti apa sejarah dari kelenteng ini dan bagaimana ciri khas arsitekturnya ?
                            
Sebidang Tanah Dari Sultan
Mungkin sebelum kita membahas sejarah kelenteng ini, ada baiknya jika kita membahas asal-usul istilah ‘kelenteng’. Menurut Xuan Tong ( 2013 ), ada tiga versi darimana istilah kelenteng muncul. Versi pertama adalah bahwa kelenteng berasal dari Kuan Im Ting atau Dewi Kuan Im. Pendapat ini lemah karena terlalu dipaksakan ‘kuan’ menjadi ke, ‘im’ menjadi ‘len’, dan ‘ting’ menjadi ‘teng’ serta tidak semua kelenteng memiliki altar untuk Dewi Kwan Im. Versi kedua menyebutkan istilah ‘kelenteng’ berasal dari kata ‘klenteng’ atau minyak biji kapuk yang digunakan sebagai pelita kelenteng. Versi ini lemah karena jarang pelita kelenteng menggunakan minyak biji kapuk. Versi ketiga menyebutkan bahwa istilah kelenteng berasal dari bunyi lonceng yang dibunyikan waktu ibadah yang berbunyi ‘teng, teng….”. Versi yang terakhir inilah yang diperkirakan paling tepat.

Keberadaan kelenteng ini, berkaitan erat dengan keberadaan pemukiman Tionghoa di kampung Ketandan. Sebelum ada kelenteng Gondomanan, komunitas Tionghoa di Ketandan beribadah di kelenteng yang sudah ada, yakni kelenteng Kwan Tee Kiong atau kelenteng Kranggan yang dibangun pada tahun 1880, namun karena letak kelenteng ini cukup jauh dari kampung Ketandan, maka pembangunan kelenteng baru di dekat kampun Ketandan dirasa mendesak. Sayangnya kampung Ketandan sudah terlanjur menjadi daerah padat penghuni, sehingga lokasi kelenteng dipilih di tempat lain tapi masih bisa dijangkau. Akhirnya pilihan lokasi dibangunnya kelenteng ialah pada  sebidang tanah yang sudah ada di dekat kampung Sayidan, Gondomanan. Tanah ini merupakan tanah hibah dari Sultan Hamengkubuwono VII pada 1854. Tanah ini memang sudah diperuntukan menjadi tempat peribadatan tapi ukurannya pada waktu itu masih kecil. Ukurannya kira-kira hanya separo bagian belakang dari kelenteng yang sekarang berdiri. Akhirnya pada tahun 1900, dibangunlah sebuah bangunan kelenteng yang lebih besar dengan material seperti kayu dan batu granit yang didatangkan dari daratan Tiongkok.
Klenteng Kwan Tee Kiong atau Klenteng Kranggan. Dibangun pada tahun 1883. Seperti halnya Klenteng Gondomanan, Kelteng Kranggan berdiri di atas sebidang tanah pemberian Sultan HB VII.
Meski kelenteng ini secara kasat mata menghadap ke barat, namun secara kosmologi kelenteng ini menghadap ke selatan. Hal ini bisa dilihat dari posisi naga hijau ( Qin Long ) dan macan putih ( Baihu ) yang terdapat di samping kiri dan kanan kelenteng ( posisi menghadap keluar kelenteng. Qin Long mewakili arah timur sedangkan Baihu mewakili arah barat ( Special credit untuk Mbak Ratna Setyaningrum yang sudah menambahkan infonya :) ).
Lokasi klenteng Gondomanan. Di bagian barat klenteng, terdapat bangunan-bangunan penting milik pemerintah kolonial dan keraton seperti Benteng Vredeburg dan Keraton. Sementara itu di sebelah timur terdapat kampung Sayidan dan Kali Code dan di utaranya, terdapat kawasan Loji Kecil yang menjadi pemukiman orang Eropa. Orang-orang. Tionghoa yang beribadah di klenteng ini tinggal di kampung Ketandan. Karena di Ketandan sudah tidak ada tempat untuk membangun klenteng, maka lokasi klenteng dipilih seperti yang ada saat ini.
Kelenteng ini semula bernama Hok Tik Bio, yang berarti tempat kebaktian untuk Hok Tik Cing Sin, Dewa Bumi, dewa utama yang dipuja pada kelenteng ini. Namun setelah pemerintahan Orde Baru mulai berkuasa, unsur Buddha ditambahkan pada kelenteng ini karena pada waktu itu agama Konghucu belum diakui, sehingga kelenteng ini tidak ditutup oleh pemerintah. Semenjak itulah, kelenteng ini namanya berubah menjadi Vihara Buddha Prabha atau Fuk Ling Miao. Selama rezim Orde Baru berkuasa, peribadatan umat Konghucu terhenti. Banyak orang-orang Tionghoa haus akan kebutuhan rohani akhirnya keluar dari agama Konghucu. Selama itu pula, kelenteng ini hampir tidak pernah dipakai selain oleh umat Buddha ataupun umat Konghucu yang beribadah secara diam-diam. Untungnya setelah Orde Baru tumbang, kegiatan umat Konghucu secara perlahan kembali normal meski tidak seramai dulu lagi. Perayaan seperti Imlek dan Cap Go Meh yang sebelumnya dilarang, kini dapat dirayakan kembali oleh masyarakat Tionghoa. Kini, kelenteng ini menjadi salah satu pusat peribadatan umat Tridharma ( Buddha, Konghucu, Tao)  yang ada Yogyakarta.

Melihat Lebih Dekat Bangunan Klenteng
Denah bagian dalam klenteng.
Keterangan :
1. Altar Hok Tek Cing Sin.
2. Altar Thian Siang Sing Bo
3. 
Altar Kong Tik Coen Ong

4. Altar Kong Tik Coen Ong
5. Altar Hian Thian Sing Te
6. Altar Cetiya Buddha Prabha
Bangunan kelenteng Gondomanan seperti kelenteng pada umumnya terdiri atas ruang utama, ruang samping di sisi utara dan selatan, ruang bangunan belakang, dan impluvium, semacam ruang terbuka yang berada di tengah kelenteng. Menurut Ardian Cangianto ( 2013 ), pada dasarnya arsitektur kelenteng itu hampir seragam. Perbedaanya hanya terletak pada pernik-pernik luarnya saja. Arsitektur kelenteng Tionghoa menirukan arsitektur bangunan kerajaan dan mengikuti pola kosmologi. Oleh karena itulah apabila kita bandingkan kelenteng Gondomanan dengan Kranggan, maka kelenteng ini akan terlihat sama meski ada perbedaan pada bagian pernak-perniknya.
Bubungan atap berbentuk ekor walet dengan patung dua naga yang mengapit sebuah mutiara.
Kelenteng ini memiliki halaman depan yang tidak terlalu luas, tapi juga tidak terlalu kecil. Halaman ini sifatnya profan atau sekular, sehingga berbagai kegiatan masyarakat dapat diadakan di halaman depan. Namun patut diingat bahwa kegiatan yang diadakan harus mematuhi norma masyarakat. Halaman depan kelenteng juga harus bebas dari struktur yang tidak dapat dipindah seperti pohon atau tiang, sehingga festival-festival yang diselenggarakan di halaman depan kelenteng tidak terhalang oleh benda-benda lain.
Mural atau bi hua yang tertempek di dinding dalam bagian samping kiri. Lukisan ini  menggambarkan kisah dari masa Tiga Kerajaan.
Pada dasarnya, hiasan seni pada kelenteng bukan sekedar hiasan pemanis saja. Namun di dalamnya terkandung  pendidikan moral dan “doa bisu”. Misalnya pada bubungan atap, kita dapat hiasan sepasang naga berjalan yang sedang mengapit sebuah mutiara yang berada di ujung atap menambah kental nuansa arsitektur Tionghoa kelenteng ini. Dalam tradisi Tionghoa, naga disebut melambangkan perlindungan dan kekuasaan, sementara mutiara atau huo zhu merupakan lambang kemurnian. Kemudian apabila kita bergerak ke serambi depan yang merupakan batas wilayah profan dan sakral kelenteng, kita dapat melihat balok rangka tanpa penutup yang disebut che shang ming zao yang sangat indah. Di bawah balok itu, kita dapat menjumpai ukiran yang tampaknya menceritakan suatu kisah. Sayangnya belum diketahui kisah apa yang diangkat pada ukiran itu sehingga kita tidak dapat mengambil pelajaran penting dari cerita itu. Di dinding dekat pintu masuk, kita juga dapat mural-mural yang menurut penjaga kelenteng berisi cerita dari masa Tiga Kerajaan.
Lukisan Ka Lam Ya di daun pintu masuk kelenteng, Malaikat penjaga kelenteng yang bertampang bengis dan membawa sebatang kampak lengkap dengan pakaian perang. Lukisan ini dipercaya dapat menolak roh-roh jahat yang akan masuk ke dalam kelenteng.
Relief Qilin di dinding depan klenteng. Qilin merupakan hewan mitos berbadan anjing, berkaki kuda, dan berkepala singa.
Bagian dinding depan klenteng juga tidak kalah menariknya. Dinding ini terbuat dari semacam batu andesit yang dibawa langsung dari Tiongkok. Meski kelenteng ini memiliki tiga pintu masuk, namun pintu masuk yang sering dilalui oleh pengunjung adalah pintu masuk yang paling kanan. Mengapa pengunjung harus masuk lewat pintu kanan ? Menurut penjelasan David Kwa, ahli kebudayaan Tionghoa, dalam tradisi Tionghoa istilah "masuk di dalam badan naga, keluar mulut macan". Apa maksudnya ? Penjelasannya seperti ini, Pintu kanan klenteng disebut Pintu Naga Hijau (Qinglong) sementara pintu kiri klenteng disebut Pintu Macan Putih (Baihu). Naga merupakan lambang kemakmuran sementara keluar dari mulut macan merupakan lambang lolos dari bahaya. Sehingga diharapkan setiap orang yang masuk keluar kelenteng diberi kemakmuran lolos dari bahaya. Sementara itu, pintu tengah klenteng tidak pernah dilewati pengunjung atau kadang ditutup. Pintu ini biasanya dibuka pada perayaan Cap Go Meh dan patung dewa utama klenteng akan dibawa keluar lewat pintu ini.
che shang ming zao pada serambi depan dengan warna dominan hitam dan emas, lambang kemakmuran dan keselamatan. Butuh keterampilan tangan tingkat tinggi untuk membuat ukiran seperti ini.  
Begitu kita memasuki bagian dalam keleteng, aroma dupa akan segera tercium. Barisan lilin-lilin yang menyala temaram memberi aura sakral pada bagian dalam kelenteng. Lilin-lilin ini berasal dari sumbangan keluarga. Setiap malam, lilin-lilin dimatikan sebelum kelenteng ditutup. Hal ini untuk meminimalisir bahaya kebakaran. Begitu kita memasuki bagian dalam keleteng, aroma dupa akan segera tercium. Barisan lilin-lilin yang menyala temaram memberi aura sakral pada bagian dalam kelenteng. Lilin-lilin ini berasal dari sumbangan keluarga. Setiap malam, lilin-lilin dimatikan sebelum kelenteng ditutup. Hal ini untuk meminimalisir bahaya kebakaran.
Genta klenteng yang jika dibunyikan akan menghasilkan bunyi klonthang-klontheng. Barangkali dari sinilah istilah klenteng muncul. Sementara itu, dalam arsip-arsip Belanda, tempat ibadah masyarakat Tionghoa dikenal dengan Chinesche tempel. Dapat dikatakan istilah klenteng merupakan istilah asli Indonesia.
Instrumen bedug yang tergantung di bagian dalam klenteng. Di masa lalu, bedug ini ditabuh untuk memanggil umat Kong Hu Chu beribadah. Instrumen ini kemudian dipakai oleh umat Muslim di Indonesia untuk memanggil jamaah selain menggunakan suara azan.
Impluvium atau ruang terbuka di tengah klenteng.
Di tengah-tengah kelenteng, terdapat sebuah ruang terbuka atau impluvium. Ruang terbuka ini memiliki dua fungsi, yakni fungsi religius dan fungsi praktis. Fungsi religius yakni sebagai tempat pemujaan kepada Langit dengan mengarahkan hio ke arah langit. Fungsi praktis ialah sebagai ruang sirkulasi udara karena udara di dalam kelenteng dipenuhi dengan asap dupa dan perlu sebuah ruang terbuka agar udara di dalam kelenteng tidak sesak oleh asap dupa.
Bagian ruang utama. Di bagian kuda-kuda atap, tampak dekorasi kayu ang sangat rumit. Terlihat juga arca Hok Tek Cing Sin, dewa bumi yang menjadi dewa utama klenteng ini. Lilin di bagian dalam dimatikan setiap malam untuk menghindari kebakaran.
Pada bagian ruang utama kelenteng, tepatnya di balik meja yang penuh dengan sesaji dan lilin, terdapat tiga altar dewa. Altar di tengah merupakan altar pemujaan Hok Tek Cing Sin atau Thouw Te Kong, dewa bumi yang menjadi dewa utama kelenteng. Dewa ini dipuja setiap tanggal 1 atau 16 tiap bulan. Sementara itu di samping kiri dan kanan, terdapat altar pemujaan Kong Tik  Coen Ong dan dewa Thian Siang Sing Bo. Patung- patung dewa ini dibawa langsung dari daratan Tiongkok. Di dinding samping altar, terdapat lukisan Dewa Panjang Umur dan Dewi Ratu Barat.
Lukisan Dewa Panjang Umur.
Lukisan Dewi Ratu Barat.
Di samping ruang utama terdapat sebuah pintu yang akan membawa kita ke bagian samping dari keleteng ini. Tepat di seberang pintu, terdapat sebuah altar pemujaan untuk dewa-dewa lain seperti Hian Thian Sing Te dan Khong Hu Cu di samping kanan klenteng dan dewa Kwan Tee Kiong di samping kiri klenteng. Altar – altar ini menempati sebuah bangunan tambahan yang mengapit bangunan utama klenteng. Selain altar, bangunan tambahan ini juga memiliki beberapa ruangan yang dahulu difungsikan untuk tempat tinggal para pengurus klenteng. Sekarang, ruangan ini digunakan untuk melayani kebutuhan lainnya.

Beranjak ke bagian belakang klenteng, kita dapat melihat sebuah altar untuk pemujaan tokoh-tokoh agama Budha seperti Buddha Gautama, Buddha Amitabha, Dhyani Buddha Avalokitesvara dan Maitreya. Altar ini baru ditambahkan pada masa awal  pemerintahan Orde Baru. Seperti yang  sudah diceritakan pada bab sebelumnya, altar ini ditambahkan belakangan supaya klenteng ini dapat bertahan dari tekanan Orde Baru.
Altar Cetiya Buddha Prabha.
Demikianlah ulasan Jejak Kolonial mengenai bangunan kelenteng Gondomanan beserta sejarahnya. Dari tulisan di atas, kita dapat mengetahui bahwa kelenteng ini mengandung nilai di dalamnya. Mulai dari nilai sejarah, nilai arsitektural, nilai seni, nilai sosial hingga nilai religi. Keberadaan kelenteng ini menunjukan bahwa di masa lalu, kebutuhan masyarakat minoritas sudah diperhatikan oleh penguasa lokal yang notabene berasal dari etnis yang berbeda. Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa di masa lalu kota Yogyakarta merupakan kota yang toleran dan setiap orang bebas beragama tanpa ada halangan. Sayangnya nilai-nilai luhur tadi mulai terkikis oleh sekelompok kecil orang yang tidak mau menerima perbedaan. Oleh karena itu keberadaan kelenteng ini harus dilestarikan sehingga bisa menjadi media pembelajaran yang penting mengenai nilai toleransi dan multkulturalisme untuk generasi sekarang dan yang akan datang….
               
Referensi
Andrisjantiromli, Inajati dkk. 2009. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta : Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Cangianto, Ardian. 2013. " Menghayati Kelenteng sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa " dalam web.budaya-tionghoa.net.

Heuken, Adolf. 2003. Kelenteng-kelenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka.

Kwa Thong Hay dan Ir. E. Setiawan. 1990. Dewa - Dewi Kelenteng. Semarang : Yayasan Kelenteng Sam Poo Kong Gedung Batu.

Pitoyo, Hepi Agung. 2005. " Konsep Fengshui Dalam Arsitektur Kelenteng Hok Tik Bio Gondomanan Yogyakarta ". Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Xuan Tong. 2013. " Asal Muasal Kelenteng – Makna, Fungsi, dan Perkembangannya "dalam web.budaya-tionghoa.net.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar