Selasa, 25 Oktober 2016

Berburu Bong Londo di Kerkhof Ngawi

Apakah anda sebelumnya pernah mendengar nama Bong Londho ? Tidak salah dengar, bukankah bong biasanya identik dengan makam-makam Tionghoa ? Nah pada tulisan saya kali ini, saya akan mengajak anda untuk "berburu" bong londho yang terdapat di Kerkhof Ngawi. Penasaran seperti apakah bentuk bong londho ini ? 

Saya sendiri mengunjungi kerkhof Ngawi ini sewaktu saya sedang KKN di Sambirejo, Sragen. Kebetulan, lokasi desa saya KKN, desa Sukorejo, berada di perbatasan Sragen dengan Ngawi. Dari desa saya KKN ke kota Ngawi dapat ditempuh sekitar 45 menit. Setelah seluruh program kerja saya selesai, bersama teman KKN saya, sebut saja Una, memutuskan untuk mlipir sejenak ke kota Ngawi. Obyek yang akan kami datangi yakni obyek wisata benteng pendem Van den Bosch Ngawi dan  kerkhof Ngawi. Saya sendiri sejak dahulu penasaran apa saja yang terdapat di dalam  kerkhof ini. Akhirnya, setelah mengunjungi benteng, kami tidak langsung pulang ke desa KKN, melainkan mampir sebentar ke kerkhof ini untuk menjawab rasa penasaran tadi.

Gerbang kerkhof Ngawi.
Sampai di depan pintu masuk kerkhof, kita disambut oleh sebuah gerbang kecil bergaya klasik. Gerban ini memang tidak megah-megah amat dan malah terlihat kusam, namun bagi saya gerbang ini terasa lebih antik. Di atas lengkungan pintu masuk, kita masih bisa membaca sebuah tulisan “MEMENTO MORI” yang lazim ditemukan pada gerbang-gerbang kerkhof. Di bagian tympanumterdapat tulisan “1885”, jadi dapat disimpulkan bahwa kerkhof ini sudah berusia lebih dari satu abad. Oh ya, sekali lagi saya ingatkan bahwa "MEMENTO MORI" bukan nama merk kain mori....

Kondisi kerkhof ini sekilas terlihat sama dengan area pemakaman lain, sunyi dan di beberapa sudut terlihat tumpukan dedaunan kering. Satu hal yang membedakannya dari pemakaman lainnya tentu saja adalah keberadaan makam-makam Belandanya yang sudah cukup tua usianya.

Nah, lalu kira-kira apa itu yang dimaksud Bong Londho ? Jadi begini, Bong Londho sebenarnya adalah sebutan dari masyarakat lokal untuk makam Belanda yang bentuknya mendapat pengaruh dari makam Tionghoa atau bong. Memang jika dilihat sekilas, bentuk makam-makam ini mirip dengan bong. Batu nisan menghadap ke depan dan di belakangnya terdapat sepetak tanah terbuka untuk menaburkan bunga. Perbedaan Bong Londho dengan bong Tionghoa yakni pada bong Londho, tidak terdapat altar untuk menaruh sesaji dan di sampingnya tidak ada altar untuk dewa bumi. Selain itu, tentu saja bahasa yang dipakai pada bong Londho adalah bahasa Belanda dan beraksara Latin, bukan bahasa dan aksara Mandarin. Karena bentuknya mirip bong dan yang dimakamkan di sini adalah orang Belanda, maka orang-orang sini menyebutnya Bong Londho.

Makam Bong Londho.
Tampaknya bentuk makam seperti ini hanya bisa kita temukan di kerkhof Ngawi karena sepanjang saya blusukan di kerkhof - kerkhof lain, saya sendiri belum pernah menjumpai bentuk makam seperti ini. Dapat dikatakan Bong Londho merupakan salah satu tipe makam Belanda yang cukup unik. Mungkin di Eropa sana tidak ada bentuk makam seperti ini dan hanya di kerkhof ini saja dapat ditemukan bentuk makam seperti ini. Lalu mengapa bisa ada bentuk makam Belanda seperti ini ? Apakah karena dahulu yang membangun makam ini adalah orang Tionghoa yang lebih terbiasa membangun makam bong ? Entahlah, yang jelas dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menjawab semua pertanyaan tadi.

Makam berbentuk tugu kecil.
Selain Bong Londho, di kerkhof ini kita juga dapat menemukan makam-makam tua lain yang bentuknya dapat dijumpai pada kerkhof lain seperti tugu kecil atau peti mati. Pada kerkhof Ngawi, juga dapat ditemukan makam dengan bentuk menyerupai bangunan kecil. Uniknya, makam-makam di kerkhof ini memiliki nomor-nomor penanda untuk membantu pengaturan tata letak makam.
Makam bercungkup dengan pilar-pilar klasiknya. Di belakang tampak patung yang menggambarkan sosok Bunda Maria dan Yesus ketika masih anak-anak.
Sebuah makam bercungkup dari batu.
Sebuah makam tua dengan cungkup dari tiang besi dan beratapkan seng.
Sebuah makam dengan bentuk seperti kuil Yunani Klasik.
Sebuah makam yang mendapat pengaruh art-deco.Hal ini dapat dilihat dari bentuk makam yang simpel dan didominasi oleh elemen horizontal-vertikal yang kaku.

Nomor penanda makam.
Dari seluruh makam yang ada, tujuh puluh lima persen makamnyan masih memiliki batu nisan. Saking banyaknya, butuh tenaga ekstra hanya untuk mendokumentasikan seluruh batu nisan yang terdapat pada makam-makam Belanda di Kerkhof ini. Ya, meskipun kelelaham, saya bersyukur karena setidaknya batu nisan di sini relatif lebih utuh jika dibadingkan dengan kerkhof lain yang pernah saya kunjungi misalnya di Kerkhof Purworejo dan Kerkhof Gombong. Mengapa batu nisan di makam ini relatif masih banyak yang utuh ? Menurut penuturan warga sekitar yang tidak ingin disebutkan namanya, makam-makam tua di sini masih banyak yang diziarahi oleh anak keturunannya. Malah beberapa dari mereka ada yang datang jauh-jauh dari Belanda hanya sekedar untuk berziarah ke leluhurnya yang dimakamkan di sini. Selain itu, sikap tegas juru kunci dalam menjaga makam ini juga patut diapresiasi. Pernah pada suatu hari, juru kunci memergoki seorang oknum yang hendak menjarahbatu nisan di kerkhof ini. Oknum tadi kemudian dibawa juru kunci ke kantor polisi meski akhirnya dibebaskan lagi dengan syarat tertentu.
Contoh batu nisan dengan bentuk menyeruai layangan.
Nah, berdasarkan jenis teknik pahatannya, terdapat dua jenis batu nisan, yakni batu nisan yang hurufnya dipahat timbul dan batu nisan yang hurufnya dipahat dengan tenggelam. Di kerkhof ini kita juga bisa melihat batu nisan yang bentuknya menyerupai layangan. Batu nisan dengan bentuk demikian dapat ditemukan pada makam Bong Londho.

Salah satu batu nisan yang dipahat dengan teknik timbul.
Contoh batu nisan yang dipahat dengan teknik tenggelam.
Ada satu hal baru yang saya temukan pada kerkhof ini. Pada salah satu batu nisan, saya menemukan tulisan “ A. I. MARMI ITALIANI, SOERABAIA”. Tulisan ini merupakan cap merk marmer yang dipasang pada batu nisan ini. Selain merk tadi, di makam lain saya juga menemukan batu nisan dengan merk “CARRARA”SB”. Nama merk ini diambil dari nama tambang marmer terkenal di Italia, Gunung Carrara. Tambang marmer ini menghasilkan batu marmer berkualitas tinggi sejak zaman Romawi. Marmer-marmer dari gunung ini digunakan untuk bahan bangunan mulai dari villa-villa kaisar Romawi, gereja-gereja megah dari masa Rennaisans seperti gereja Saint Peter Basillica, hingga batu nisan untuk sebuah makam di Ngawi ini. Ya, batu nisan yang ada pada makam-makam Belanda di kerkhof ini dan juga di kerkhof-kerkhof lain rata-rata terbuat dari batu marmer Italia ( atau Belgia ) yang kualitasnya bagus meski harganya agak mahal karena harus diimpor dari luar. Oleh karena itulah penggunaan batu marmer ini menjadi prestise tersendiri bagi kalangan orang-orang Eropa di sini. Jika tidak sanggup membeli batu marmer bisa diganti dengan batu lain yang lebih murah. Misalnya batu andesit. Sayangnya, karena kualitas dan harganya itulah, batu-batu ini menjadi incaran para penjarah batu nisan yang tidak bertanggung jawab.
Merk marmer "Carrara". Marmer ini dibeli di Surabaya.
Iklan marmer merk "Carrara" pada koran Soerabaisch Handelsblad tanggal 8 November 1930.
Sebuah batu nisan dengan merk " AI MARMI ITALIANI SOERABAIA". Sama dengan batu nisan di atas, batu nisan ini juga dibeli di Surabaya. Tampanya batu-batu nisan di kerkhof Ngawi ini rata-rata dibeli di Surabaya.
Iklan merk marmer "AI MARMI ITALIANI" pada koran De Indische Courant tanggal 11 Desember 1925.
Sebelum kita pergi meninggalkan kerkhof ini, mungkin ada sebuah pertanyaan yang menggelora di benak kita. Kira-kira sejak kapan kerkhof ini mulai ada ? Jika mendasarkan pada tulisan yang ada di gerbang kerkhof, jelas itu salah karena angka tahun yang terdapat di gerbang kerkhof menunjukan tahun 1885, sementara salah satu makam di sini ada yang menunjukan tahun yang lebih tua, yakni tahun 1850. Sekali lagi, butuh penelitian lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan saya ini.
Makam tertua di kompleks kerkhof Ngawi.
Demikianlah hasil “perburuan” Bong Londo di  kerkhof Ngawi ini. Melihat keunikan makam Bong Londho yang terdapat pada kerkhof ini serta kondisi batu nisannya yang rata-rata masih utuh dan kerusakan makam yang sebenarnya masih bisa diperbaiki, kerkhof ini sebenarnya prospektif untuk dikembangkan sebagai obyek wisata sejarah seperti Museum Taman Prasasti di Jakarta. Apalagi jika diintegrasikan dengan obyek wisata sejarah benteng pendem Van den Bosch Ngawi. Namun untuk bisa mengembangkan kerkhof ini sebagai obyek wisata masih membutuhkan jalan yang panjang. Namun tidak masalah juga jika kerkhof ini belum bisa dikembangkan menjadi obyek wisata selama makam-makam tua di sini dapat dilestarikan dengan baik.

Sebagai lampiran, berikut ini adalah nama-nama orang Eropa yang dimakamkan di kompleks kerkhof ini berdasarkan sisa prasasti yang masih bisa terbaca.
Nama / Tempat, tanggal lahir - Tempat, tanggal meninggal
Pauliena Jansen / Pekalongan, 23 Maret 1879 - Ngawi, 3 Oktober 1929
Henri Louis van der Waarden / Hellevsestluis, 23 Desember 1892 - Ngawi, 30 Juli 1939
H.J.J. Schoemaker  / Nijmegen, 31 Desember 1841 - Ngawi, 20 Juni 1911
Deetje Milder /  ( ? ), 21 Mei 1898 - Ngawi, 12 Desember 1898
Nicootje Keller / Ngawi,  24 Maret 1901 - Ngawi, 5 Januari 1902
Johannis van der Linden / ( ? ), ? ? 1901 - Ngawi, 4 Februari 1903
Krona van der Linden / ( ? ), ? ? 1899 - Ngawi, 18  Februari 1903
H. Stevens / Leuven 3 Oktober 1852 - Ngawi, 8 Juni 1881
J.H. Trenzsch / Amsterdam, 29 Juni 1813 - Ngawi, 8 September 1878
Charlotta Maria Carolina van den Ende / , 30 September 1883 – Ngawi, 15 September 189(?)
H. van Ewijck / Bojonegoro, 11 September 1833 – Ngawi, 26 April 1879
W.F. Jansen / Semarang, 25 Oktober 1861 – Ngawi, 1 Juli 1878
Johanna Jacoba Sch√útz / Salatiga, 1 Januari 1827 – Ngawi, 26 Januari 1905
J.C. Stoffel  / ( ? ) – Ngawi, 2 September 1880
D.F. Vincent / ( ? ) – Ngawi, 4 September 1886
F.R. Bruhns / ( ? ) - ( ? )
C. Brossaers. Ceb.  Van der Carden /  S.Bosch , 5 Februari 1810 – Ngawi, 2 Januari 1849
S. de. Groeve / ( ? ) - ( ? )
Jacobus Teske / ( ? ), 30 Juni 1852 – Ngawi, 27 Desember 1904
J.H.G. Vermeulen / ( ? ), 15 November 1860 – Ngawi, 3 Februari 1875
T.B. Vermeulen / ( ? ), 10 Oktober 1820 – 3 Oktober 1873
Jan Hendrik van Putten / Utrecht, 1 Juni 1843 – Ngawi, 26 Januari 1911
Classina, Cicila van Putten / Rembang, 17 September 1840 – Ngawi, 21 Juli 1920
A.A. Bogards / ( ? ), ( ? ) 1869 – Ngawi, 18 Oktober 1929
Willem Bogards / Padang, 8 Februari 1830 – Ngawi, 22 November 1906
Johannes Cornelis Henricus Jeekel  / ( ? ), 20 Juli 1902 – Ngawi, 28 September 1902
Lodewijk George Lappe / ( ? ), 6 September 1851 – Ngawi, 10 November 1867
Godlieb Willem Frederik Eberlyn / ( ? ), 24 Desember 1822 – Ngawi, 7 Agustus 1900
F.J. Suersen /  ( ? ), 12 Maret 1814 – Ngawi, 27 Desember 1850
Marie Eliza Joseph Robert / ( ? ), 13 Oktober 1851 – Ngawi, 25 Juni 1852
Johanna Maria Wihelmina / ( ? ), 15 Maret 1871 -  Ngawi, 21 Desember 1884
J.L.Juch / ( ? ), 13 Januari 1839 – Ngawi, 11 Desember 1881
Johanna Cornelia van der Styger / ( ? ), 10 Juli 1805 – Ngawi, 22 Februari 1859
A.U. Boonemer / ( ? ), 4 Desember 1852 – Ngawi, 26 Desember 1852
Gerrit Heinnekamp / ( ? ), 22 Agustus 1895 – Ngawi, 1 Maret 1930
Johan Dirk Anton Schiefflers / ( ? ), 18 Januari 1906 – Ngawi, 1 September 1933
Radiesan Hendrik Ham / ( ? ) , 29 November 1881 – Ngawi, 10 Juli 1935
Mimi de Beauvisier Watson / ( ? ),  6 November 1911 – Ngawi, 4 Juli 1934

Lalu bagaimana hasil blusukan saya di benteng pendem Van Den Bosch Ngawi yang sudah saya kunjungi sebelum mampir ke kerkhof ini ? Simak tulisan saya di Jejak Kolonial selanjutnya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar