Sabtu, 19 November 2016

Pasar Gede, Monumen Karsten di Kota Solo

Di tengah keberadaan pasar modern yang semakin menjamur di kota Solo, Pasar Gede yang melegenda masih menunjukan keeksisannya. Bangunan pasar yang dirancang oleh arsitek Thomas Karsten itu seolah berusaha melawan modernisasi di sekitarnya; walau ia sendiri juga merupakan hasil modernisasi pada masanya. Inilah kisah tentang Pasar Gede
Suasana Pasar Gede sekitar tahun 1935 (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Sebelum melangkahkan kaki ke dalam pasar, saya dibuat terkesan dengan pelayanan parkir pasar yang terdapat di jalan Jend. Urip Sumoharjo itu. Petugas parkir tak hanya menjaga kendaraan saja, namun juga mengantarkan kendaraan ke tempat parkir yang telah disediakan. Sistem parkir valet merupakan satu dari sekian gebrakan yang dibuat oleh pemerintah kota Surakarta agar masyarakat mau belanja di pasar tradisional. Di era sekarang, keberadaan pasar tradisional perlahan mulai tergusur oleh pasar-pasar modern. Lingkungan pasar tradisional yang kumuh dan semrawut menjadi alasan orang mulai enggan belanja di pasar tradisional. Oleh karena itulah segala daya dan upaya dikeluarkan oleh pemerintah Surakarta untuk menjaga agar pasar tradisional di Surakarta tetap sintas. Mulai dari penataan lingkungan pasar hingga penyediaan jasa layanan parkir valet. Hasilnya pun cukup memuaskan. Tak terlihat lagi pedagang yang tumpah ruah di tepi jalan dan kendaraan pun diparkir tertib di tempatnya. Kemacetan di sekitar Pasar Gede berkurang dan saya sendiri merasa nyaman berjalan menyusuri trotoar Pasar Gede. Upaya mengangkat harkat pasar tradisional sejatinya sudah dilakukan jauh di masa penjajahan.

Bangunan Pasar Gede sebelum direnovasi.
Pasar Gede (69) pada peta kota Solo tahun 1946 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Menarik mundur ke belakang, Pasar Gede telah ada semenjak Kota Surakarta didirikan oleh Pakubuwono II pada 1745. Kala itu, orang-orang Tionghoa dilarang tinggal di dalam dinding keraton yang berada di selatan Kali Pepe. Sehubungan larangan itu, mereka akhirnya tinggal di seberang Kali Pepe. Di tengah permukiman tadi, lambat laun muncul sebuah pasar. Di kemudian hari pasar itu dikenal sebagai Pasar Gede.  (Leushuis. Emile,2014;220).
Bagian barat Pasar Gede sekitar tahun 1935. Tampak barisan ruko bergaya Tionghoa di sekitar Pasar Gede. Keberadaan pemukiman masayrakat Tionghoa sudah ada sejak Kota Surakarta berdiri (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Pakubuwono X adalah tokoh utama yang menjadikan Pasar Gede seperti sekarang. Disebutkan pada buku betajuk Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa ( 2009 ) karya Purwadi, Pakubuwono X tergolong raja yang kaya raya, namun peduli dengan pembangunan kotanya. Salah satu bentuk kepeduliannya ialah dengan mempermegah Pasar Gede yang sebelumnya hanya berupa los-los terbuka sederhana. Tahun 1929, Pasar Gede dipermegah dengan biaya sebesar tiga ratus ribu gulden. Dalam pembangunannya, ia menggandeng seorang arsitek Belanda terkemuka yang juga kawan dekat Pakubuwono X, Ir. Thomas Karsten. Dalam belantika arsitektur, Karsten tergolong arsitek terpandang di masanya. Sebelum Pasar Gede, Karsten telah berkecimpung dalam proyek pembuatan pasar-pasar tradisional seperti Pasar Johar dan Pasar Pedamaran (Karsten, 1938; 63).
Rombonngan Pakubuwono X dan Residen Surakarta sedang berjalan ke tempat peresmian bangunan baru Pasar Gede. Di belakang tampak bangunan pasar gede sisi barat yang belum selesai dibangun (sumber : media-kitlv.nl).
P. R.W van Geseller Verschuir ( tengah, memegang topi), dan Pakubuwono X (di bawah payung dengan selempang di depan dada) ketika hendak memotong pita tanda diresmikannya bangunan baru Pasar Gede (sumber : media-kitlv.nl).
Tanggal 12 Januari 1930, dengan gempita upacara yang dihadiri oleh Pakubuwono X dan para pembesar di Surakarta, pasar itupun diresmikan oleh beliau. Nama lengkap pasar yang semula Pasar Gede Oprokan, diganti menjadi Pasar Gede Hardjonagoro. Seperti nama yang melekat padanya; “ Pasar Gede “  yang berarti “ Pasar Besar “, pasar itu menjadi pasar terbesar dari sekian banyak pasar di Surakarta. Pasar itu juga menjadi pasar bertingkat pertama di Indonesia ( Purwadi, 2009; 195).

Gambar rancangan konstruksi Pasar Gede oleh Thomas Karsten (sumber : Locale Techniek Maret 1938, halaman 65).
Dari luar, bangunan Pasar Gede tampak mencolok dengan atap berbentuk Joglo nya. Bentuk pasar ini sendiri sejatinya merupakan wujud pandangan seorang Karsten yang menaruh perhatian begitu besar pada budaya Jawa, khususnya arsitektur. Walau ia memiliki latar keilmuan arsitektur barat, namun ia begitu menghormati budaya Jawa. Karsten berpandangan bahwa sudah saatnya arsitektur kolonial di Hindia Belanda mengacu pada budaya yang telah lama hidup di masyarakat dan dilahirkan kembali dalam bentuk baru tanpa menghilangkan unsur lama. Pandangannya ia tuangkan dengan memadukan unsur tradisional dan modern pada beberapa rancangannya termasuk di antaranya Pasar Gede. Unsur tradisional terlihat pada penggunaan atap berbentuk Joglo dan ditutup dengan sirap. Sementara unsur modern dapat dilihat pada penggunaan material-material modern seperti besi dan beton serta jendela-jendela kaca pada ruang kantor pengelola pasar. Kedua unsur tadi menghasilkan sebuah harmoni antara timur-barat.
Tampak depan Pasar Gede.
Keramaian pedagang dan pembeli di Pasar Gede. Dahulu, pasar di kota Surakarta yang setiap hari ramai hanyalah Pasar Gede saja. Sementara pasar-pasar lain hanya ramai pada hari pasaran tertentu saja.
Tanpa panjang lebar, sayapun beranjak masuk ke dalam pasar dan kehadiran saya langsung disambut oleh Hiruk pikuk keramaian pasar. Para pedagang tampak sibuk menjaga dan menawarkan daganganya. Pasar ini bukanlah sekedar bangunan kuno belaka, Ia menjadi tempat ratusan orang mengais rezeki untuk menyambung hidup. Pasar dalam kebudayaan Jawa tak hanya sebagai tempat mempertemukan pedagang dengan pembeli. Ia juga merupakan bagian dari kosmologi Jawa yang secara tata ruang memisahkan dunia profan dan suci. Itulah mengapa keraton sebagai lambang dunia suci diletakan terpisah dari pasar sebagai lambang dunia profan ( Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, 2014;38 ).
Panggung tempat para pedagang berjualan.
Los pedagang daging.
Beragam aroma tercium oleh indra penciuman saya, dari harumnya aneka bumbu dapur di lantai satu hingga bau amis daging yang menyeruak dari los daging di lantai dua. Aneka barang dijual di pasar ini, mulai dari buah-buahan, sayuran, alat rumah tangga, dan sandang. Pasar ini juga menyuguhkan ragam kuliner yang barangkali sudah sulit dicari di tempat lain semisal Es Dawet Selasih. Para pedagang umumnya berjualan di atas panggung-panggung beton yang sudah ada sedari pasar ini berdiri. Karsten, arsitek perancang pasar ini tampaknya menyadari kebiasaan para pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional di Jawa. Para pedagang biasanya menunggu para pembeli dengan duduk lesehan, sementara kadang kebiasaan tersebut menyulitkan pembeli karena mereka harus membungkuk jika bertransaksi. Karsten lantas membuat panggung setinggi pinggang orang dewasa di dalam pasar, sehingga pedagang masih dapat berjualan dengan lesehan, namun pembeli tidak perlu repot membungkuk lagi. Sebuah pemecahan yang cerdas !

Bagian lantai dua pasar.
Bukaan ventilasi pada bagian atap pasar.
Saya begitu larut dengan suasana pasar yang tak begitu pengap walau cukup banyak pedagang dan pembeli yang berjejal di dalamnya. Pencahayaan pasar inipun terasa cukup. Itu semua karena pasar ini memiliki penghawaan yang cukup baik. Angin-angin di atap tak hanya berfungsi untuk memperlancar udara, namun juga sebagai sumber cahaya alami. Dengan demikian, energi yang dibutuhkan pasar ini jauh lebih sedikit. Berbeda jauh dengan pasar modern zaman sekarang yang serba tertutup, mengandalkan AC sebagai sumber penghawaan yang tentunya menghabiskan banyak energi.
Pasar Gede setelah dibumihanguskan oleh TNI pada akhir tahun 1948. Atap Joglo di bagian depan pasar terlalap habis oleh si jago merah sementara  bagian lain tinggal menyisakan puingnya saja (sumber : Djocja Solo halaman 82).
Sebagaimana pasar-pasar besar di Indonesia, pasar inipun tak luput dari bencana kebakaran. Sudah dua kali pasar itu tak berdaya ketika si jagi merah melalap dirinya, menghilangkan sebagian besar konstruksi aslinya. Kali pertama pasar itu terbakar ialah saat kota Surakarta dibumihanguskan pada Agresi Militer. Kala itu, kota Surakarta diduduki oleh dua divisi TNI, yakni Divisi 2 di bawah komando Kolonel Gatot Subroto dan Divisi Siliwangi dibawah Letkol. Daan Yahya. Sebelum mereka pergi pada akhir tahun 1948, berbagai bangunan penting di Surakarta mereka bakar Antara lain kediaman Residen Surakarta, Hotel, Teater, Stasiun Balapan, Stasiun Jebres dan termasuk di sini adalah Pasar Gede (M.P. Bruggen, 1998; 83). Kemudian kali kedua Pasar Gede terbakar yakni pada tahun 2000.  Untuk yang terakhir, sumber api yang menghanguskan pasar itu berasal dari arus pendek listrik, pemicu kebakaran yang acap terjadi pada pasar di Indonesia.
Kios-kios di luar Pasar Gede. Kios-kios di sini harga jual atau sewanya lebih mahal daripada yang ada di dalam pasar.
Dari dalam pasar, saya beranjak keluar pasar. Di sana saya mendapati bruko-ruko berlanggam Tionghoa. Di antara ruko-ruko itu, terdapat sebuah kelenteng tua. Sedikit melangkah mundur ke tahun 1998, walaupun pasar itu terhindar kebakaran, namun Pasar Gede menjadi saksi bisu kerusuhan massa berbalut SARA yang pernah melanda Surakarta. Puing dan sampah sisa kerusuhan menumpuk selama beberapa hari di seputaran Pasar Gede.
Pasar Gede bagian barat.

Profil di bagian pintu masuk.
Meski terpisah, Pasar Gede Barat masih berada dalam satu kesatuan Pasar Gede. Bentuknya hampir mirip, walau ukurannya lebih kecil. Bagian depan bangunan ini dulunya merupakan toko perhiasan milik Be Thian Kiem. Melangkah ke dalam bangunan yang saat ini menjadi tempat penampungan pedagang buah itu, saya tak menjumpai banyak keramaian di sini. Beberapa kios tampak tutup, entah hari itu si pedagang tidak berjualan atau belum ada yang menempati. Sayapun naik ke bagian lantai dua pasar, yang mana terdapat sebuah ruang luas yang kadang digunakan untuk pentas seni.
Bagian beranda lantai dua.
Sebelum saya beranjak pulang, saya beringsut ke bagian balkon, memandang sekali lagi Pasar Gede yang masih terlihat ramai. Ya, Pasar Gede tak hanya sebuah bangunan kuno berupa pasar saja. Di bawah atapnya, ratusan orang dari pedagang, kuli, hingga juru parkir menggantungkan hidup di pasar ini sekaligus menghidup pasar ini. Dari nafasnya, saya dapat merasakan dinamika Kota Surakarta, mulai dari masa ia dilahirkan oleh Pakubuwono II, masa keemasan ketika dipimpin oleh Pakubuwono X, hingga gejolak sosial paska kemerdekaan. Bentuknya yang merupakan hasil perpaduan arsitektur Jawa dengan modern tampak harmonis dan sekaligus menyiratkan betapa luwesnya kebudayaan Jawa…

Referensi
Karsten, Thomas. 1938. " Iets Over De Centralle Pasar " dalam Locale Techniek edisi 7 no 2 tahun 1938.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Ombak.

Purwadi, dkk, 2009. Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa. Jakarta : Bangun Bangsa.


Tim Penyusun. 2014. Yang Tersisa Dari Kolonial. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

van Bruggen, M.P dan Wassing, R.P. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Asmterdam : Asia Maior.

Minggu, 13 November 2016

Pabrik Gula Kedungbanteng, Sejumput Jejak Sejarah di Tapal Batas Sragen


Sragen, dalam catatan sejarah yang pernah saya baca, memiliki dua pabrik gula yang pernah didirikan oleh Belanda. Pertama adalah PG Mojo, pabrik gula di tengah kota Sragen yang kini langkahnya sedang tertatih-tatih dan kedua ialah PG Kedungbanteng, yang terletak di ujung timur Sragen. Tulisan Jejak Kolonial kali ini akan mengangkat Pabrik Gula Kedungbanteng yang barangkali sudah lekang dari ingatan orang-orang. Inilah kisah dari sejumput jejak sejarah di tapal batas Sragen….
Lokasi situs PG Kedungbanteng dilihat dari citra satelit dari Google Map.
Keterangan :
Panah kuning : Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang masih tersisa.
Kotak kuning : Letak PG kedungbanteng.
Lingakran merah :  Letak emplasemen lori
Berdurasi sekitar 30 menit dari kota Sragen, Pabrik Gula itu terletak di Desa Gondang Pabrik, Kecamatan Gondang, Sragen. Letaknya amat dekat dengan perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur sehingga melangkah dua setengah kilometer ke timur, sudah memasuki wilayah provinsi Jawa Timur.
Lapangan Gondang, salah satu saksi kejayaan PG Kedungbanteng.
Suatu hari di tahun 2016, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, awan putih tipis terlihat menggelayut di langit Desa Gondang yang berwarna biru merona dengan sinar mentari yang tak begitu terik. Semesta tampaknya mendukung lawatan saya ke eks PG Kedungbanteng, dimana langit yang biasanya mendung, kali ini begitu cerah. Lawatan itu sebenarnya merupakan lawatan kedua saya di eks PG Kedungbanteng setelah lawatan pertama di tahun 2015 silam. Lawatan kedua ini saya lakukan di sela-sea waktu Kuliah Kerja Nyata, dimana desa tempat saya ditempatkan letaknya tidak terlalu jauh dari eks PG Kedungbanteng. Di desa KKN saya, sesudah shalat Ied memang tidak ada tradisi silahturahmi keliling tetangga sebagaimana di tempat lain dan tradisi itu biasanya dijalankan di hari kedua. Lantaran itulah, sesudah shalat Ied saya memutuskan untuk melawat kembali ke eks PG Kedungbanteng.
Foto udara PG Kedungbanteng.
Sebuah pariwara lowongan pekerjaan di harian Bataviasch Nieuwsblad tanggal 25 Februari 1925. Tampak ada lowongan untuk pekerjaan sebagai chemker di PG Kedungbanteng
PG Kedungbanteng, nama pabrik gula ini tentu sudah tidak banyak orang Sragen yang mengenalinya. Apabila ditanya tentang pabrik gula yang pernah ada di daerahnya, biasanya mereka akan merujuk ke PG Mojo yang ada di tengah kota Sragen. Wajar saja jika PG Kedungbanteng kalah tenar dibandingkan PG Mojo, karena PG Kedungbanteng telah lama lenyap ditelan bumi. Menelisik sejarahnya, di tahun 1926, sebuah sindikat perkebunan partikelir, N.V. Cultuurmaatschappij Lawoe yang berkantor pusat di s'Gravnehage memutuskan mendirikan sebuah pabrik gula di dekat pusat Distrik Gondang Sragen. Tempat itu sengaja dipilih karena di sana dekat dengan pusat pemerintahan distrik Gondang yang ramai penduduk, sehingga mereka dapat mengangkat penduduk sekitar sebagai karyawan pabrik dengan upah murah. Letaknya berada di pinggir jalur kereta Surakarta-Surabaya milik Staatspoorwegen, sehingga boleh jadi pabrik itu dibangun di sana guna mempermudah proses pembangunan pabrik yang material dan mesin pengolahnya didatangkan dari Surabaya serta untuk membantu distribusi hasil olahan. Selain itu, di dekat pabrik terdapat Sungai Sawur yang dapat dipakai sebagai sarana pembuangan limbah. Mulanya pabrik akan dibangun di sebelah selatan jalur kereta, namun rencana itu urung diwujudkan. Untuk tanahnya, N.V. Cultuurmaatschappij Lawoe memiliki lahan seluas 5346 bouw. Karena berada di wilayah Vorstenlanden dimana perusahaan swasta dilarang membeli tanah, maka N.V. Cultuurmaatschappij Lawoe mengontrak tanah kepada Kasunanan dalam jangka waktu 139 tahun ( Ockers, 1934; 242 )
Peta PG Kedungbanteng tahun 1930 (sumber : maps.libary.leiden.edu).
Kala PG Kedungbanteng dibuat, perkebunan tebu menjadi primadona para pengusaha Belanda karena keuntungan yang ditawarkan amat tinggi. Berbagai tempat di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, bermunculan pabrik-pabrik gula yang asap hitamnya membumbung tinggi ke langit. membuat pekat langit Jawa di kala musim giling. Di tahun 1930an,tercatat ada 179 pabrik gula yang dulu pernah beroperasi. Pabrik-pabrik itu memberi kemakmuran bagi pengusaha Eropa dan pemerintah lewat pajak yang ditarik, namun gagal mengangkat taraf kesejahteraan para petani kecil karena mereka tak dapat mengolah lahannya sendiri.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah timur Koramil Gondang.

Puskesmas Gondang.
Balai Rehabalitasi Disabilitas Grahita dan Ganda “ Rahardjo".
Saya sekarang berdiri di salah satu tepi lapangan kecamatan Gondang yang amat luas itu. Di sekeliling lapangan itu, berdiri rumah-rumah tua eks kediaman pegawai pabrik, tengara PG Kedungbanteng yang masih dapat disaksikan sampai sekarang. Beberapa di antaranya kondisinya relatif baik seperti rumah yang sekarang ditempati Puskesmas Gondang dan  Balai Rehabalitasi Disabilitas Grahita dan Ganda “ Rahardjo”. Namun ada pula yang tidak terawat seperti bangunan di belakang seberang Koramil Gondang.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di dekat Koramil Gondang.
Bekas paviliun yang kini disulap menjadi gilingan padi.
Pola jalan di kompleks perumahan PG Kedungbanteng sudah tertata apik dan rapi. Pola lama dimana rumah – rumah dibikin menghadap ke arah pabrik tampaknya telah ditinggalkan ketika PG Kedungbanteng dibangun. Sebagai gantinya, rumah-rumah itu dibikin menghadap ke tengah lapangan. Pembangunan kompleks PG Kedungbanteng beriringan dengan pembangunan kompleks permukiman baru di kota-kota besar yang seringkali mencoba pola baru dalam penataan kawasannya untuk menghasilkan kenyamanan. Barangkali pendiri PG Kedungbanteng ingin menciptakan sebuah lingkungan hunian yang nyaman untuk para pegawainya seolah mereka tinggal di tengah kota.
Bekas rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor kecamatan Gondang.
Bagian belakang kantor kecamatan Gondang. Tampak cerobong asap di atas atap.
Beringsut ke sisi timur lapangan, saya menjumpai gedung yang kini menjadi kantor Kecamatan Gondang. Halamannya begitu luas, nyaris seluas lapangan Gondang. Atap limas dengan teritisannya yang lebar menjulang tinggi. Melihat ukuran rumah yang lebih besar daripada rumah-rumah yang saya jumpai di sekitar lapangan tadi dan luas halaman depannya, saya berasumsi jika ia dulunya ditempati oleh administrateur atau kepala PG Kedungbanteng. Dari gayanya yang lugas namun elegan, jelas ia dibangun sekitar tahun 1920an, masa ketika pengaruh arsitektur modern mulai masuk ke Hindia-Belanda. Lantaran hari sedang libur, tak terlihat tanda-tanda aktivitas di sekitar situ dan pintu-pintunya terkunci rapat. Alhasil, tiada kesempatan untuk saya mengintip bagian dalam bangunan itu.
Lapangan tenis.
Persis di belakang kantor kecamatan tadi, terhampar lapangan tenis dengan jalinan kawat yang memagarinya. Saya menerka jika lapangan tenis ini telah ada sejak masa para meneer pegawai PG Kedungbanteng berdiam di rumah-rumah tua itu. Kehadiran lapangan tenis di lingkungan pabrik gula Belanda merupakan hal yang biasa karena olahraga tenis kala itu digandrungi orang-orang kulit putih. Di zaman ketika hiburan tidak sebanyak sekarang, tenis menjadi sarana untuk memecah kejemuan rutinitas kerja, apalagi untuk pegawai pabrik gula yang tinggal jauh dari pusat keramaian. Sayapun membayangkan dulu di zaman Belanda pada suatu sore yang cerah, sang tuan adminsitrateur bermain tenis dengan para pegawai lainnya. Orang-orang kulit putih berpandangan bahwa tenis adalah olah raga eksklusif untuk orang barat. Sebab itulah, orang-orang pribumi itu hanya dapat melihat para meneer menganyunkan raketnya dari luar pagar. Orang pribumi paling banter menjadi pesuruh yang bertugas mengambil bola tenis dan membersihkan lapangan.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah utara rel.
Setapak jalan berlumpur menjurus ke sebuah rumah tua yang terletak di tengah sebidang halaman yang amat luas. Halaman itu dibatasi oleh pagar-pagar yang terbuat dari batang-batang besi rel lori. Sejatinya rumah itu memiliki pasangan rumah dengan bentuk serupa yang terletak di samping timur. Namun pasangan rumah itu sudah lenyap. Dengan menghadap ke arah selatan, semburat Gunung Lawu yang elok dapat terlihat jelas dari sini jikalau langit sedang bagus. Sayang, hari itu Gunung Lawu masih sembunyi malu-malu, terbalut kabut putih.



Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang ada di sebelah utara kantor kecamatan Gondang.
Di utara kantor kecamatan, bersanding empat buah rumah tua menghadap ke selatan, dimana hanya satu rumah saja yang masih bisa dikatakan terawat, sementara sisanya tampak tercampakan begitu saja oleh pemiliknya. Biarpun terlihat renta dan terlantar, namun keindahan rumah itu masih belum pudar. Secara arsitektur, langgam rumah itu mencerminkan langgam arsitektur transisi, sebuah langgam yang melambangkan kemajuan jagad arsitektur di Hindia-Belanda yang sebelumnya begitu tergantung dengan arsitektur klasik yang menekankan pada penggunaan pilar. Lihatlah, rumah- rumah itu sudah tak dijumpai lagi pilar-pilar di beranda depannya. Langgam arsitektur transisi muncul di Hindia-Belanda sejak di penghujung abad ke-19 hingga tahun 1920an.
Ruangan di bagian belakang.
Tampak belakang.
Garasi.
Bekas kamar mandi.
Bekas dapur.
Perlahan, saya mulai mendekati salah satu bangunan itu, berjalan melalui halamannya yang penuh rumput liar nan tinggi. Terhubung dengan rumah utama melalui sebuah selasar, terdapat bangunan tambahan di samping rumah yang disebut bijgebouwen. Bijgebouwen pada dasarnya terdiri atas kamar pembantu, dapur, gudang, kamar mandi, dan garasi atau kandang kuda. Diletakan terpisah dari rumah utama karena orang Belanda beranggapan kegiatan seperti mencuci dan memasak membuat kebersihan rumah utama berkurang  (Handinoto, 2010 ;145).
Berita dari De Indische Courant 25 Februari 1932 yang memberitakan penutupan PG Kedungbanteng


Di perkampungan inilah dahulu PG Kedungbanteng berdiri.
Di sebelah timur dari rumah-rumah tua itu, terdapat sebuah perkampungan yang bernama Mbabrik. Nama kampung itu sekarang menjadi satu-satunya jejak yang tersisa dari PG Kedungbanteng, selain rumah-rumah tua tadi. Mengapa PG yang besar itu bisa lenyap seketika ? Dalam perjalanannya, nasib PG Kedungbanteng mengalami pasang surut. Dari keterangan warga sekitar, pabrik gula itu sehabis musim giling pertama langsung ditutup. Pasalnya ada konflik di dalam tubuh kepengurusan pabrik. Seusai masalah internal dibereskan, tanggal 19 Juni 1929, PG Kedungbanteng kembali bergiling (Bataviasch Nieuwsblad 20 Juni 1929). Namun belum lama PG itu mencapai masa puncaknya, datang sebuah petaka besar. Permulaan tahun 1930an ketika pasokan gula melimpah di pasaran, jagad industri gula di Jawa diguncang dengan Great Depression atau krisis malaise. Harga gula akhirnya terjun bebas. Maka dibuatlah kesepakatan Charbourne dagar harga gula membaik dengan cara mengurangi produksi gula atau dengan kata lain, menutup pabrik gula. Imbasnya, banyak pabrik gula di Jawa yang menjadi korban kesepakatan Charbourne. Salah satu yang menjadi korban adalah PG Kedungbanteng. De Indische Courant tanggal 25 Februari 1932 mewartakan Van der Wijk Concern selaku pemilik PG Kedungbanteng, telah memutuskan untuk menutup kembali PG Kedungbanteng pada tahun 1932. Namun kali ini untuk selamanya. Paska ditutupnya PG Kedungbanteng, bangunan pabrik diratakan oleh pemiliknya. Sementara rumah-rumah pegawainya barangkali oleh empunya pabrik dijual ke orang lain sehingga rumah itu masih utuh sampai sekarang.
Bangunan yang diduga kantor adminsitrasi PG Kedungbanteng.
Matahari mulai meninggi, tanda saya bergegas meninggalkan situs eks PG Kedungbanteng. Tiada yang tahu bagaimana nasib rumah-rumah tua itu kelak di kemudian hari. Apakah akan ada seorang baik yang membelinya kemudian diperbaiki, dibiarkan merana begitu saja seperti sekarang, atau justru ia akhirnya disingkirkan dengan serta merta sehingga generasi berikut tak dapat menjumpainya lagi ?

Referensi
Algemeen Handelsblad, 13 Juli 1924.

Bataviasch Nieuwsblad, 20 Juni 1929.

De Indische Courant, 25 Februari 1932.

Dr. B. Ocker. 1934. Grondrecht en Grondhuur in Het Gewest Soerakarta. Yogyakarta ; Druk van Kolf en Bunning.

Handinoto. 2010. Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.  

Minggu, 06 November 2016

Mengintip Keperkasaan Benteng Van den Bosch Ngawi

Aliran Sungai Bengawan Solo yang kecokelatan mengalir liuk laksana ular naga dari hulunya di lereng Lawu sebelum akhirnya bemuara di Laut Jawa. Di salah satu tepiannya, sebuah benteng tua masih berdiri menunjukan keperkasaanya sekalipun usianya lebih dari seabad lamanya. Itulah Benteng Van den Bosch Ngawi. Seperti apakah cerita dibalik benteng yang namanya diambil dari nama seorang Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ini ?
Sungai Bengawan Solo.
Petugas karcis itu tampak tidak seperti petugas karcis pada umumnya. Duduk di semacam pos jaga militer, berambut cepak, postur tubuhnya tegap, dan raut wajah terlihat sedikit garang ketika ia menyerahkan karcis kepada saya. Sosok petugas karcis itu lebih menyerupai seorang tentara. Di dalam benak, saya bertanaya, benteng ini sebenarnya obyek wisata atau kompleks militer ? Sekalipun benteng Van den Bosch merupakan obyek wisata unggulan Ngawi, tapi area pintu masuk benteng ini masih masih dikuasai oleh instansi militer setempat. Maka jangan heran jika beberapa tempat di sekitar benteng tak bisa sembarang dimasuki.
Bekas raveline.
Bekas parit pertahanan.
Sisa gundukan tanah yang melindungi benteng.
Jalan yang ditempuh dari pintu masuk ke area utama benteng lumayan jauh. Tatkala saya sedang melangkah ke arah benteng, saya menjumpai sebuah struktur bangunan yang berdiri sendiri di ujung sebuah lapangan. Itulah raveline benteng Van den Bosch Ngawi. Kegunaan struktur ini ialah untuk memberi perlindungan ekstra pada area di luar benteng. Pada abad ke-18, bentuk raveline apabila dilihat dari atas berbentuk segitiga. Namun memasuki abad ke-19, bentuk raveline berubah menjadi trapesium.
Pintu gerbang benteng.
Katrol yang dipakai untuk menarik jembatan angkat.
Semakin mendekati benteng, jalan tiba-tiba sedikit menurun, namun jalan menanjak kembali. Apa yang baru saja lewati dulunya merupakan parit benteng. Parit ini dulunya berair, namun kini ia sudah tertimbun tanah. Lalu untuk menyeberangi parit, ada sebuah jembatan angkat di atasnya, namun jembatan itu sudah tiada. Setelah “menyeberangi” parit, kini saya sudah berada di depan bangunan yang merupakan gerbang masuk pertama benteng. Di sini, saya menjumpai roda katrol yang dulu digunakan untuk mengangkat jembatan yang dulu melintang di atas parit. Di samping kanan dan kiri bangunan gerbang, terdapat gundukan tanah yang mengelilingi benteng dan tingginya nyaris sepadan dengan tinggi bangunan benteng. Gundukan tanah inilah yang menjadi perisai utama benteng ini dari terjangan musuh. Kenapa ia tidak menggunakan dinding batu saja yang mungkin lebih kuat ? Dinding bata rupanya tidak menjamin daya tahan sebuah benteng dari hantaman peluru meriam. Perkembangan teknologi artileri semakin membaik. Tembakan lebih tepat mengenai sasaran dan daya hantamnya kian kuat. Dinding-dinding batu itu pun langsung hancur menjadi debu. Akhirnya diketahui bahwa ternyata gundukan tanah yang tebal jauh lebih efektif daripada tembok bata karena sifat tanah yang lembut dapat menyerap pukulan peluru. Selain sebagai sarana pertahanan, ia juga berguna untuk melindungi benteng dari luapan air Sungai Bengawan Solo. Karena dari luar benteng ini seolah tertutup oleh gundukan tanah, maka benteng ini kadang disebut dengan Benteng Pendem Ngawi.
Bangunan utama benteng.
Sudah sekian lama saya mengimpikan untuk bisa berkunjung ke benteng ini. Sekarang, di depan saya sudah berdiri bangunan utama benteng Van den Bosch Ngawi yang tampak perkasa walau sudah dimakan usia. Di atas lengkung pintu masuknya, tertera sengkalan yang menunjukan rentang tahun benteng ini dibangun, “1839-1845”. Keperkasaan benteng ini adalah seakan menjadi simbol betapa perkasanya kekuatan pemerintah kolonial di masa itu setelah perlawanan Pangeran Diponegoro berhasil dipatahkan. Namun di balik keperkasaanya, tersimpan rasa kekhawatiran jika suatu hari nanti kekuasaan pemerintah kolonial di sini justru ditumbangkan oleh kekuatan dari luar. Angan saya sejenak melangkah ke belakang, ke masa ketika para insinyur zeni sedang merancang benteng ini…
Johannes Van Den Bosch (2 February 1780 – 28 January 1844), Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang memprakarsai sistem cultuurstelsel atau tanam paksa. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah benteng di Ngawi (sumber : commons.wikimedia.com).
Sembilan tahun sudah Perang Jawa berlalu. Perjuangan Pangeran Diponegoro dipatahkan dan sang pangeran diasingkan. Perhatian pemerintah kolonial kini dialihkan kepada bagaimana cara agar mereka bisa memulihkan kas yang sudah terkuras habis oleh perang tadi. Lalu, tersebutlah seorang jenderal veteran Perang Jawa mengajukan sebuah gagasan yang di kemudian hari dikenal sebagai tanam paksa, cultuurstelsel. Jenderal yang selanjutnya menjadi pucuk penguasa Hindia-Belanda itu bernama Johannes van den Bosch. Setelah masalah keuangan diatasi, muncul kembali sebuah masalah baru. Bagaimanakah mempertahankan kuasa mereka di Jawa dari serbuan bangsa asing ? Pada saat pemerintah kolonial menggalakan tanam paksa, keadaan dalam negeri kerajaan Belanda sedang kacau akibat revolusi Belgia. Mereka gusar jika kerajaan Eropa lain berusaha mengintervensi wilayah daratan Belanda dan gejolak meluas hingga ke tanah jajahannya. Pemerintah kolonial ternyata belajar dari pengalaman pahit ketika pertahanan Jawa dijebol begitu mudahnya oleh Inggris pada tahun 1811. Salah satu faktor paling berpengaruh ialah tiadanya sistem pertahanan yang kuat di Jawa. Dulunya, VOC telah mendirikan benteng-benteng kuat di sepanjang kota-kota pesisir. Tapi Gubernur Herman Wilhelm Daendels dengan gegabah memerintahkan agar benteng-benteng tadi dibongkar. Daerah pesisirpun akhirnya tak menjadi lemah, sementara sarana pertahanan di pedalaman amatlah minim. Hal itu diperparah dengan jumlah dan mutu angkatan bersenjata mereka yang payah sehingga Pulau Jawa diterjang begitu mudahnya oleh Inggris.
Peta kota Ngawi. Terlihat benteng van den Bosch terletak di ujung dari inti kota Ngawi. Letaknya berada di pertemuan dua sungai, memberikan keuntungan perlindungan. ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Berangkat dari pengalaman pahit itu, Van den Bosch menginisiasi sebuah sistem pertahanan skala besar yang mencakup teritori pesisir dan pedalaman. Insinyur zeni Colonel Van der Wijk diberi amanat oleh Van den Bosch untuk mendirikan benteng-benteng baru di pesisir seperti di Surabaya, Batavia, dan Semarang. Van den Bosch nyatanya tak hanya mendirikan benteng di pesisir saja, namun juga di pedalaman. Setidaknya ada tiga benteng baru yang dibangun, yakni Benteng Cocchius di Gombong, Benteng Willem I di Ambarawa, dan  Benteng Van den Bosch di Ngawi. Benteng-benteng di pedalaman ini memainkan peranan sebagai garis pertahanan cadangan andaikata wilayah pesisir sudah dikuasai musuh.
Benteng Van Den Bosch pada tahun 1940. Ketika foto ini dibuat, benteng ini diubah sebagai penjara militer (sumber : media-kitlv.nl).
Memasuki abad 20, benteng bikinan Van der Wijk di Jawa itu rupanya dianggap sudah primitif dan tak layak lagi sebagai garnisun tentara. Tahun 1905, benteng-benteng ini dibebastugaskan sebagai sarana pertahanan. Benteng Van den Bosch Ngawi sendiri akhrinya dialihfungsikan menjadi penjara hingga tahun 1962. Lalu ia menjadi markas dan gudang amunisi Batalyon Armed 12. Lingkungan sekitar benteng kadang digunakan sebagai area latihan tentara. Selanjutnya di tahun 1970-1980, benteng ini ditinggal dalam kondisi kosong. Selama rentang waktu itulah banyak bagian benteng yang mulai hilang seperti lantai kayu dan jendela. Setelah terbengkali dalam waktu lama dan aksesnya tertutup untuk umum, kini ia bisa dikunjungi sebagai obyek wisata. Tahun 2012, pemerintah Kabupaten Ngawi berupaya menata kawasan benteng Van den Bosch untuk dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi di Kabupaten Ngawi ( Kurniawan, Hari. 2013;5 ).
Citra satelit benteng Van den Bosch. Garis merah merupakan bekas ravelin. Sementara garis kuning merupakan tanggul tanah.

Pola tata ruang benteng utama Van Den Bosch.
Kembali lagi ke masa sekarang, langkah kaki saya mulai bergerak masuk ke dalam benteng, melewati portrait besar Gubernur Jenderal van den Bosch yang tertempel di lorong masuk. Di dalam benteng ini, ada dua buah lapangan yang dikelilingi oleh reruntuhan bangunan yang masih terlihat kokoh. Salah satu reruntuh itu adalah sebuah bangunan Indis Neo-Klassik dengan pilar-pilar bundarnya yang besar. Tampaknya reruntuh ini dulunya merupakan tempat tinggal dari komandan benteng. Memasuki reruntuh itu, saya menjumpai lantai tegel lawas yang berpola seperti papan catur. Di belakang reruntuhan ini, masih ada sebuah reruntuhan yang dulunya dipakai sebagai dapur umum. Dapur umum ini memasak makanan yang disediakan untuk para penghuni benteng beserta keluarganya. Entah berapa kayu bakar yang dihabiskan untuk kegiatan masak besar yang berlangsung setiap harinya itu.
Banunan neoklassik di dalam benteng.
Lantai bagian dalam.
Bekas pos jaga.
Reruntuhan dapur umum.
 Sinar matahari yang terik mulai terasa membakar tatkala saya berdiri di lapangan tengah benteng. Tepat di seberang selatan bangunan tadi, terdapat sebuah reruntuh bangunan berlantai dua yang saya asumsikan sebagai kantor, kantin militer dan mungkin juga rumah sakit. Dari lapangan ini, bekas tempat jam terlihat bertengger di atas pintu masuk. Dulu, dentang lonceng jam itu dapat terdengar hingga luar benteng. Sayapun membayangkan kembali ke masa lampau, di lapangan yang sama, saya berdiri bersama barisan serdadu yang terdiri dari orang Eropa, Ambon, Manado, Madura dan Jawa. Di masa itu, kesatuan militer dari berbagai suku bangsa adalah hal yang jamak ( Novida Abbas, 2007; 49).
Reruntuh bangunan di selatan lapangan.
Lapangan benteng. Tampak bekas tempat jam di atas pintu masuk.
Benteng ini pada dasarnya terdiri dari empat buah bangunan barak terpisah yang disusun mengelilingi sebuah lapangan dan dua bangunan besar di tengahnya. Barak-barak ini dipisahkan berdasarkan kompinya “ untuk mencegah prasangka, ketidakpuasan, dan segala pikiran buruk prajurit Bumiputera” jelas Dabry de Thiersant, seorang orientalis yang banyak menulis soal militer Hindia-Belanda abad 19. “Sehingga perbuatan yang menyimpang atau perlawanan dapat segera ditumpas orang Eropa yang memahami dan keributan tidak menyebar”, sambungnya ( Santosa, 2016 ; 142 ). Setiap barak disambungkan oleh sebuah jembatan yang ada di lantai dua. Sebagai penyesuaian dengan iklim tropis, maka barak-barak itu dilengkapi dengan beranda luar. Sementara itu, bagian atap bangunan ini dibuat datar atau papak, sehingga dari tempat ini, prajurit dapat berjalan mondar-mandir memantau keadaan sekitar benteng.
Bangunan-bangunan barak yang sudah ditutup dinding baru untuk sarang walet.
Bangunan barak yang sudah hancur.
Bangunan barak yang masih dipakai sebagai tempat tinggal.
Masing-masing barak, dulunya dihubungkan oleh sebuah jembatan. Kini tinggal satu jembatan saja yang tersisa.
Sebuah sudut benteng.
Meskipun sebagian besar benteng tinggal reruntuhan, namun setidaknya, ia bisa mengungkap bagaimana teknologi susun bangun yang digunakannya. Secara keseluruhan, benteng ini terbuat dari bata merah. Karena teknologi tulang besi belum ditemukan pada waktu itu, maka beban susunnya hanya bergantung pada dinding bata yang tebal saja. Untuk mengurangi beban tersebut, maka dibuatlah susunan melengkung. Reruntuh susunan lengkung ini seolah mengingatkan saya pada reruntuh saluran akuaduk kuno bangsa Romawi, bangsa yang menemukan teknologi susun lengkung yang masih dipakai berabad-abad kemudian dan kini ia dipakai di benteng yang saya kunjungi ini.
Beranda lantai dua yang masih tersisa.
Toilet komunal.
Dinding benteng yang mulai dirambati oleh tanaman liar. Memberikan keeksotisan tersendiri.
Susunan lengkung yang banyak dijumpai pada benteng ini.
Sisa beranda.
Sayapun mencoba untuk menaiki beranda lantai dua pada salah satu bangunan barak lewat sebuah tangga. Di bawah tangga itu ada sebuah ceruk kecil yang dulu digunakan sebagai penjara. Bau kotoran kelelawar segera menyeruak dari dalam ruang-ruang yang dulu menjadi tempat tinggal prajurit beserta keluarganya.  “Para pria, perempuan, dan anak yang tinggal satu barak, makan bersama, menyiapkan makanan dan membersihkan barak dilakukan bergiliran oleh perempuan, dan mereka tunduk pada hukum militer“, jelas Dabri de Thiersant yang membeberkan kehidupan keluarga serdadu dalam tembok barak. Sayang, ia tak memberi catatan apapun tentang perselingkuhan atau penelantaran anak yang sering dilakukan oleh para serdadu ( Santosa, 2016 ; 142 ).
Tampak luar bekas gudang mesiu.
Setelah bagian dalam kelar saya jelajahi, saya beranjak ke arah timur benteng, area yang jarang dikunjungi oleh banyak orang. Dari area inilah saya dapat melihat bagian luar benteng secara keseluruhan dan mungkin bagian yang tak jelas terlihat dari dalam benteng seperti bekas gudang mesiu yang terletak di setiap pojok benteng. Gudang-gudang itu sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mesiu yang disimpan tidak mejan akibat lembab. Oleh sebba itulah, hingga tahun 70an, ia masih digunakan oleh TNI untuk media penyimpanan mesiu.

Kini, saya berjalan perlahan meninggalkan benteng, kembali bersua dengan petugas karcis bertampang sangar tadi. Sekalipun benteng ini sudah kehilangan masa lalunya, namun saya percaya ia akan tetap berdiri perkasa hingga beberapa generasi ke depan, dengan sungai Bengawan Solo yang mengalir tenang di bawahnya….

Referensi
Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta ; Graha Ilmu.

Hari Kurniawan. 2013. Laporan Observasi Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi. Komunitas Roemah Toea. Yogyakarta.

Abbas, Novida. 2007. “ Organisasi Kemiliteran Pada Masa Pengaruh Islam dan Kolonial di Jawa dalam Berkala Arkeologi Tahun XXVII No.2 / Tahun 2007.