Sabtu, 19 November 2016

Pasar Gede, Monumen Karsten di Kota Solo

Pasar Gede, sebuah pasar legendaris yang kini masih berdiri kokoh di tengah kota Solo dan masih menunjukan keeksisannya di tengah gempuran pasar modern yang semakin menjamur di Solo. Pasar yang masih ramai akan hiruk pikuk keramaian pedagan ternyata memiliki cerita tersendiri yang menarik untuk diikuti. Bagaimana cerita lengkap berdirinya pasar ini dan apa seperti apa keunikan arsitekturnya ? 

Sejarah Pasar Gede
Suasana Pasar Gede sekitar tahun 1935 (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Bagian barat Pasar Gede sekitar tahun 1935. Tampak barisan ruko bergaya Tionghoa di sekitar Pasar Gede. Keberadaan pemukiman masayrakat Tionghoa sudah ada sejak Kota Surakarta berdiri (sumber : Djocja Solo halaman 168).


Sejarah pasar ini adalah sejarah kota Solo. Tidak salah karena meski bangunan pasar yang terlihat sekarang dibangun pada tahun 1930an, tapi sejarah pasar ini harus ditarik mundur ke belakang, ketika kota Suarakarta didirikan oleh Pakubuwono II pada tahun 1745. Pada masa itu, orang-orang Tionghoa tidak diperbolehkan tinggal di dalam tembok keraton yang berada di selatan Kali Pepe. Sebagai pilihan, mereka tinggal di seberang timur Kali Pepe yang strategis. Lambat laun, di tengah-tengah pemukiman ini berdirilah sebuah pasar yang kini dikenal sebagai Pasar Gede (Leushuis, 2014;220). Keberadaan pasar ini juga tidak terlepas dari konsep kosmologi Jawa yang secara tata ruang memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan religi. Oleh karena itulah kraton dalam konteks kosmologi sebagai pusat rohani pasti dibangun terpisah dengan pasar sebagai representasi kehidupan duniawi (Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, 2014;38).

Bangunan Pasar Gede sebelum direnovasi.
Sebelum direnovasi pada tahun 1930, pasar ini masih terlihat sederhana, yakni hanya berbentuk barisan los-los panjang tanpa dinding. Barulah pada tahun 1929, atas prakarsa Pakubuwono X, Pasar Gede diperbesar ke bentuk yang masih bisa dilihat sampai sekarang. Pakubuwono X sendiri adalah seorang raja yang sangat kaya raya dan peduli pada pembangunan kotanya (Purwadi, 2009;191). Biaya yang dikeluarkan oleh Pakubuwono tidaklah sedikit, yakni mencapai 300 ribu gulden.

Gambar rancangan konstruksi Pasar Gede oleh Thomas Karsten (sumber : Locale Techniek Maret 1938, halaman 65).
Desain bangunan Pasar Gede merupakan karya dari arsitek Belanda terkenal yang juga teman dekat Pakubuwono X, Ir. H. Thomas Karsten. Selain Pasar Gede, Karsten juga merancang pasar lain di Semarang seperti Pasar Johar dan Pasar Pedamaran ( Karsten, 1938; 63 ). Berbeda dengan pasar-pasar karya Karsten yang lain, unsur arsitektur tradisional begitu menonjol sekali pada bangunan pasar ini seperti yang terlihat pada konstruksi atap berbentuk Joglo dan pemakaian sirap sebagai material penutup atap.
Rombonngan Pakubuwono X dan Residen Surakarta sedang berjalan ke tempat peresmian bangunan baru Pasar Gede. Di belakang tampak bangunan pasar gede sisi barat yang belum selesai dibangun (sumber : media-kitlv.nl).
P. R.W van Geseller Verschuir ( tengah, memegang topi), dan Pakubuwono X (di bawah payung dengan selempang di depan dada) ketika hendak memotong pita tanda diresmikannya bangunan baru Pasar Gede (sumber : media-kitlv.nl).
Setelah diresmikan oleh Pakubuwono X pada tanggal 12 Januari 1930 , Pasar Gede yang dahulu nama lengkapnya adalah Pasar Gede Oprokan diganti menjadi Pasar Gede Hardjonagoro. Pada waktu itu, Pasar Gede sesuai namanya adalah pasar paling besar di antara pasar yang banyak berdiri di Solo. Selain itu, Pasar Gede juga merupakan pasar bertingkat pertama di Indonesia. Sistemnya pun juga sudah cukup modern, yakni menggunakan sistem jual dan sewa terhadap ruko maupun tempat lain untuk berjualan (Purwadi, 2009; 195).

Pasar Gede setelah dibumihanguskan oleh TNI pada akhir tahun 1948. Atap Joglo di bagian depan pasar terlalap habis oleh si jago merah sementara  bagian lain tinggal menyisakan puingnya saja (sumber : Djocja Solo halaman 82).
Pada masa Perang Mempertahankan Kemerdekaan Republik, kota Solo diduduki oleh dua divisi TNI, yakni Divisi 2 di bawah komando Kolonel Gatot Subroto dan Divisi Siliwangi dibawah Letkol. Daan Yahya. Sebelum mereka pergi pada akhir tahun 1948, mereka melakukan pembumihangusan pada bangunan-bangunan publik yang dianggap dapat dipakai oleh Belanda lagi. Tercatat ada beberapa bangunan yang dibumihanguskan, antara lain rumah tinggal Residen, Hotel, Teater, Stasiun Balapan, Stasiun Jebres dan Pasar Gede (Bruggen, 1998; 83).

Selanjutnya ketika terjadi Reformasi di tahun 1998 yang diwarnai oleh berbagai aksi kerusuhan massal di kota-kota besar, beberapa toko milik etnis Tionghoa yang ada di sekitar Pasar Gede dijarah oleh massa. Selama beberapa hari, Pasar Gede dipenuhi oleh puing-puing dan sampah sisa kerusuhan. Peristiwa ini cukup membekas dalam kehidupan masyarakat Tionghoa di Surakarta.

Dua tahun kemudian, Pasar Gede terbakar lagi untuk kedua kalinya. Penyebab pasar ini terbakar yakni akibat hubungan arus pendek listrik, penyebab terbakarnya sebuah pasar yang paling klise. Setelah terbakar, pasar ini dibangun kembali dalam bentuk yang relatif sama (Leushuis, 2014; 220).

Di Tengah Keramian Pasar Gede
Pasar Gede (69) pada peta kota Solo tahun 1946 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Nah, setelah kita mengetahui cerita dibalik berdirinya Pasar Gede, mari kita bertandang ke pasar ini. Apabila kita melihat Pasar Gede dari luar, kita akan melihat arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan harmonis antara arsitektur Jawa dengan arsitektur modern yang dikenal sebagai gaya arsitektur Indo-Eropa. Gaya arsitektur pasar ini rupanya dipengaruhi oleh pandangan Karsten mengenai arsitektur Indo-Eropa. Pada dasarnya, Karsten yang sangat menghromati budaya Jawa memiliki pandangan bahwa Arsitektur Indo-Eropa harus mengacu pada arsitektur Jawa yang sudah lama berkembang di masyarakat dan kemudian dilahirkan kembali ke bentuk baru tanpa menghilangkan unsur lama. Pemikiran Karsten ini dapat kita lihat pada bentuk atap Pasar Gede berupa model Joglo dan Limasan yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa dan dipadukan dengan unsur modern yang dapat dilihat pada konstruksi pasar yang terbuat dari material-material modern seperti besi dan beton serta jendela-jendela kaca vertikal pada bagian depan pasar.
Tampak depan Pasar Gede.
Pasar Gede dibagi menjadi dua blok yang dipisahkan oleh jalan Urip Sumoharjo, yakni blok timur yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari, dan blok barat yang sekarang menjadi kios tempat berjualan buah.
Denah Pasar Gede.
Sebelum masuk ke dalam pasar, di atas pintu masuk pasar, kita dapat melihat plakat nama Pasar Gede yang terbuat dari besi dan font art deconya yang menambah nilai seninya. Font atau bentuk huruf yang dipakai pada plakat ini merupakan font yang banyak dipakai pada tahun 1930an. Namun plakat ini hanyalah replika dari plakat asli yang sudah hilang. Konon plakat yang asli hilang sewaktu pasar ini direnovasi pada tahun 2000an setelah mengalami kebakaran.
Keramaian pedagang dan pembeli di Pasar Gede. Dahulu, pasar di kota Surakarta yang setiap hari ramai hanyalah Pasar Gede saja. Sementara pasar-pasar lain hanya ramai pada hari pasaran tertentu saja.
Masuk ke bagian dalam pasar, kita akan mendapati suasana pasar yang tidak berbeda jauh dengan pasar-pasar lain. Di sepanjang gang, terlihat para pedagang yang sibuk menjual aneka barang dagangannya. Barang dagangan yang dijual di pasar ini sangat beragam. Mulai dari  buah-buahan seperti pisang, jeruk, papaya, kelengken dan lain-lain, lalu berbagai alat-alat rumah tangga, busana, bumbu-bumbu dapur, bahan makanan seperti sayur, daging segar dan ikan laut. Lalu ada jamu racikan dengan aromanya yang khas dan jajanan pasar yang murah meriah dan lezat. Ya, segala barang kebutuhan dijual di pasar ini. Selain memiliki fungsi ekonomi, Pasar Gede juga memiliki fungsi sosial karena pasar ini menjadi tempat berinteraksinya para pedagang dengan pembeli atau interaksi antar sesama pedagang.


Panggung tempat para pedagang berjualan.
Salah satu yang hal yang menarik yang bisa kita jumpai dari pasar ini adalah adanya panggung-panggung beton tempat para pedagang berjualan. Karsten sepertinya mengetahui bagaimana kebiasaan para pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional di. Para pedagang biasanya menunggu para pembeli dengan duduk lesehan. Oleh karena itulah para pembeli harus membungkukan badan dahulu jika ingin membayar dan tentu saja hal ini sedikit merepotkan. Solusi Karsten yakni membuat panggung yang kira-kira setinggi pinggang orang dewasa. Dengan demikian, para pedagang masih bisa duduk lesehan menunggu barang dagangannya dan pembeli tidak perlu membungkukan badan lagi. Sebuah solusi yang sangat brilian.

Bukaan ventilasi pada bagian atap pasar.
Di bagian atap, terdapat sebuah lubang ventilasi, sehingga sirkulasi udara di dalam pasar sangat bagus sekali. Meski di dalam pasar penuh dengan orang-orang berjualan, tapi udara di dalam tidak begitu pengap. Ventilasi ini juga berfungsi sebagai pencayahayaan alami, sehingga pasar ini bisa sedikit menghemat energi listrik untuk penggunaan lampu. Inilah bentuk kearifan lokal yang dapat ditemukan pada bangunan pasar ini. Berbeda sekali dengan pasar-pasar modern zaman sekarang yang tertutup, sirkulasi udara yang hanya mengandalkan AC dan pencahayaan yang bergantung pada lampu yang tentu boros energi sekali.
Kuda-kuda penyangga atap.
Los pedagang daging.
Dinding partisi los daging hewan dengan los lain.
Toilet pasar.
Setelah puas berkeliling di lantai satu, mari kita mencoba untuk naik ke bagian lantai dua Pasar Gede. Di lantai dua, terdapat kantor pengelola pasar yang berada persis di atas pintu masuk pasar. Lalu di sini juga ada los untuk pedagang daging ayam, sapi, dan ikan yang dipisah oleh dinding sekat dengan los lainnya. Tujuan pemisahan ini untuk memudahkan pembeli mencari barang yang hendak dibeli. Untuk menambah sirkulasi udara, dinding atas bagian luar dibuat dari jalinan kawat sehingga udara tetap bisa masuk dalam. Di setiap sudut pasar, terdapat kamar kecil yang sudah dipisahkan berdasarkan gender.
Kios-kios di luar Pasar Gede. Kios-kios di sini harga jual atau sewanya lebih mahal daripada yang ada di dalam pasar.
Bangunan bergaya Tionghia di sekitar Pasar Gede. Populasi masyakarat Tionghoa di Surakarta sebelum tahun 1870 sangat kecil. Hal ini dikarenakan adanya larangan orang Tionghoa untuk bermigrasi ke wilayah Vorstenlanden oleh pemerintah Belanda.
Klenteng Tien Kak Sie di selatan Pasar Gede. Klenteng ini diperkiriakan sudah ada semenjak orang Tionghoa membangun pemukiman di sekitar Pasar Gede pada tahun 1745.
Dari lantai dua, kita selanjutnya akan berkeliling ke bagian luar pasar. Di bagian luar Pasar Gede, terdapat kios-kios yang biasanya diisi oleh para pedagang Tionghoa. Para pedagang ini membuka usaha kuliner Tionghoa, toko perhiasan, atau warung sembako. Pasar Gede berdiri di tengah-tengah kawasan Pecinan. Hal ini dapat dibuktikan pada keberadaan beberapa bangunan berarsitektur Tionghoa yang dapat kita jumpai di sekitar pasar seperti klenteng dan ruko-ruko tradisional Tionghoa.
Blok barat Pasar Gede.

Bagian beranda lantai dua.
Profil di bagian pintu masuk.
Di seberang barat Pasar Gede, terdapat bangunan pasar yang bentuknya serupa dengan Pasar Gede dengan ukuran yang lebih kecil. Bangunan pasar ini memiliki balkon pada lantai dua yang menjorok keluar. Balkon ini berguna melindungi pejalan kaki di bawahnya dari gangguan cuaca. Masuk ke dalam pasar, suasana pasar tidak seramai Pasar Gede yang sebelah timur. Hanya terlihat beberapa pedagang yang kebanyakan berjulan buah-buahan. Pada bagian tengah lantai dua pasar ini, biasanya digunakan untuk festival-festival kebudayaan. Bagian depan pasar yang kini ditempati oleh belasan pedagang buah dahulunya ditempati oleh orang Tionghoa bernama Be Thian Kiem yang membuka sebuah toko perhiasan.

Begitulah catatan penjelajahan kita di Pasar Gede, pasar yang menjadi living heritage kebanggannya wong Solo. Pasar Gede bukanlah sembarang pasar. Di dalamnya terkandung banyak nilai dan kearifan lokal yang mulai luntur. Pasar ini juga menjadi bagian dari sejarah perjalanan kota Surakarta yang panjang, mulai dari awal pembangunan kota Surakarta oleh Pakubuwono II, masa keemasan kota Surakarta di bawah Pakubuwoni II, Surakarta yang membara oleh lautan api pada tahun 1949, hingga  Surakarta yang kembali membara pada tahun 1998. Bentuk bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional Jawa dengan modern juga menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa arsitektur Jawa pada khususnya dan budaya Jawa pada umumnya, adalah kebudayaan yang luwes dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Tinggal bagaimana dari kita untuk mengemasnya. Pasar ini juga menjadi pusat ekonomi masyarakat kecil di Surakarta yang mampu bertahan dari gempuran pasar-pasar modern milik investor besar. Oleh karena itulauh, dengan berbagai cerita dan nilai yang ada terkandung di dalamnya, saya berani bilang, seribu pasar modern yang megah, tidak akan mampu menggusur Pasar Gede ini…..

Referensi
Karsten, Thomas. 1938. " Iets Over De Centralle Pasar " dalam Locale Techniek edisi 7 no 2 tahun 1938.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Ombak.

Purwadi, dkk, 2009. Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa. Jakarta : Bangun Bangsa.


Tim Penyusun. 2014. Yang Tersisa Dari Kolonial. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

van Bruggen, M.P dan Wassing, R.P. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Asmterdam : Asia Maior.

Minggu, 13 November 2016

Pabrik Gula Kedungbanteng, Sejumput Jejak Sejarah di Tapal Batas Sragen


Sragen, dalam catatan sejarah yang pernah saya baca, memiliki dua pabrik gula yang pernah didirikan oleh Belanda. Pertama adalah PG Mojo, pabrik gula di tengah kota Sragen yang kini langkahnya sedang tertatih-tatih dan kedua ialah PG Kedungbanteng, yang terletak di ujung timur Sragen. Tulisan Jejak Kolonial kali ini akan mengangkat Pabrik Gula Kedungbanteng yang barangkali sudah lekang dari ingatan orang-orang. Inilah kisah dari sejumput jejak sejarah di tapal batas Sragen….
Lokasi situs PG Kedungbanteng dilihat dari citra satelit dari Google Map.
Keterangan :
Panah kuning : Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang masih tersisa.
Kotak kuning : Letak PG kedungbanteng.
Lingakran merah :  Letak emplasemen lori
Berdurasi sekitar 30 menit dari kota Sragen, Pabrik Gula itu terletak di Desa Gondang Pabrik, Kecamatan Gondang, Sragen. Letaknya amat dekat dengan perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur sehingga melangkah dua setengah kilometer ke timur, sudah memasuki wilayah provinsi Jawa Timur.
Lapangan Gondang, salah satu saksi kejayaan PG Kedungbanteng.
Suatu hari di tahun 2016, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, awan putih tipis terlihat menggelayut di langit Desa Gondang yang berwarna biru merona dengan sinar mentari yang tak begitu terik. Semesta tampaknya mendukung lawatan saya ke eks PG Kedungbanteng, dimana langit yang biasanya mendung, kali ini begitu cerah. Lawatan itu sebenarnya merupakan lawatan kedua saya di eks PG Kedungbanteng setelah lawatan pertama di tahun 2015 silam. Lawatan kedua ini saya lakukan di sela-sea waktu Kuliah Kerja Nyata, dimana desa tempat saya ditempatkan letaknya tidak terlalu jauh dari eks PG Kedungbanteng. Di desa KKN saya, sesudah shalat Ied memang tidak ada tradisi silahturahmi keliling tetangga sebagaimana di tempat lain dan tradisi itu biasanya dijalankan di hari kedua. Lantaran itulah, sesudah shalat Ied saya memutuskan untuk melawat kembali ke eks PG Kedungbanteng.
Foto udara PG Kedungbanteng.
Sebuah pariwara lowongan pekerjaan di harian Bataviasch Nieuwsblad tanggal 25 Februari 1925. Tampak ada lowongan untuk pekerjaan sebagai chemker di PG Kedungbanteng
PG Kedungbanteng, nama pabrik gula ini tentu sudah tidak banyak orang Sragen yang mengenalinya. Apabila ditanya tentang pabrik gula yang pernah ada di daerahnya, biasanya mereka akan merujuk ke PG Mojo yang ada di tengah kota Sragen. Wajar saja jika PG Kedungbanteng kalah tenar dibandingkan PG Mojo, karena PG Kedungbanteng telah lama lenyap ditelan bumi. Menelisik sejarahnya, di tahun 1924, sebuah sindikat perkebunan partikelir, Van der Wijk Concern memutuskan mendirikan sebuah pabrik gula di dekat pusat Distrik Gondang Sragen. Tempat itu sengaja dipilih karena di sana dekat dengan pusat pemerintahan distrik Gondang yang ramai penduduk, sehingga mereka dapat dijadikan sebagai karyawan pabrik dengan upah murah. Letaknya berada di pinggir jalur kereta Surakarta-Surabaya milik Staatspoorwegen, sehingga boleh jadi pabrik itu dibangun di sana guna mempermudah proses pembangunan pabrik yang material dan mesin produksinya didatangkan dari Surabaya serta untuk membantu distribusi gula hasil produksi pabrik. Selain itu, di dekat pabrik terdapat Sungai Sawur yang dapat dipakai sebagai sarana pembuangan limbah. Mulanya pabrik akan dibangun di sebelah selatan jalur kereta, namun rencana itu urung diwujudkan.
Peta PG Kedungbanteng tahun 1930 (sumber : maps.libary.leiden.edu).
Sindikat Van der Wijk Concern sebelumnya sudah memiliki pabrik gula lain di Delangu, Klaten (Algemeen Handelsblad, 13 Juli 1924). Laba yang diperoleh dari pabrik gula di Klaten itu menyuntikan gairah baru untuk membuat pabrik gula baru di Kedungbanteng. Kala PG Kedungbanteng dibuat, perkebunan tebu menjadi primadona para pengusaha Belanda karena keuntungan yang ditawarkan amat tinggi. Berbagai tempat di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, bermunculan pabrik-pabrik gula yang asap hitamnya membumbung tinggi ke langit. membuat pekat langit Jawa di kala musim giling. Di tahun 1930an,tercatat ada 179 pabrik gula yang dulu pernah beroperasi. Pabrik-pabrik itu memberi kemakmuran bagi pengusaha Eropa dan pemerintah lewat pajak yang ditarik, namun gagal mengangkat taraf kesejahteraan para petani kecil karena mereka tak dapat mengolah lahannya sendiri.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah timur Koramil Gondang.

Puskesmas Gondang.
Balai Rehabalitasi Disabilitas Grahita dan Ganda “ Rahardjo".
Saya sekarang berdiri di salah satu tepi lapangan kecamatan Gondang yang amat luas itu. Di sekeliling lapangan itu, berdiri rumah-rumah tua eks kediaman pegawai pabrik, tengara PG Kedungbanteng yang masih dapat disaksikan sampai sekarang. Beberapa di antaranya kondisinya relatif baik seperti rumah yang sekarang ditempati Puskesmas Gondang dan  Balai Rehabalitasi Disabilitas Grahita dan Ganda “ Rahardjo”. Namun ada pula yang tidak terawat seperti bangunan di belakang seberang Koramil Gondang.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di dekat Koramil Gondang.
Bekas paviliun yang kini disulap menjadi gilingan padi.
Pola jalan di kompleks perumahan PG Kedungbanteng sudah tertata apik dan rapi. Pola lama dimana rumah – rumah dibikin menghadap ke arah pabrik tampaknya telah ditinggalkan ketika PG Kedungbanteng dibangun. Sebagai gantinya, rumah-rumah itu dibikin menghadap ke tengah lapangan. Pembangunan kompleks PG Kedungbanteng beriringan dengan pembangunan kompleks permukiman baru di kota-kota besar yang seringkali mencoba pola baru dalam penataan kawasannya untuk menghasilkan kenyamanan. Barangkali pendiri PG Kedungbanteng ingin menciptakan sebuah lingkungan hunian yang nyaman untuk para pegawainya seolah mereka tinggal di tengah kota.
Bekas rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor kecamatan Gondang.
Bagian belakang kantor kecamatan Gondang. Tampak cerobong asap di atas atap.
Beringsut ke sisi timur lapangan, saya menjumpai gedung yang kini menjadi kantor Kecamatan Gondang. Halamannya begitu luas, nyaris seluas lapangan Gondang. Atap limas dengan teritisannya yang lebar menjulang tinggi. Melihat ukuran rumah yang lebih besar daripada rumah-rumah yang saya jumpai di sekitar lapangan tadi dan luas halaman depannya, saya berasumsi jika ia dulunya ditempati oleh administrateur atau kepala PG Kedungbanteng. Dari gayanya yang lugas namun elegan, jelas ia dibangun sekitar tahun 1920an, masa ketika pengaruh arsitektur modern mulai masuk ke Hindia-Belanda. Lantaran hari sedang libur, tak terlihat tanda-tanda aktivitas di sekitar situ dan pintu-pintunya terkunci rapat. Alhasil, tiada kesempatan untuk saya mengintip bagian dalam bangunan itu.
Lapangan tenis.
Persis di belakang kantor kecamatan tadi, terhampar lapangan tenis dengan jalinan kawat yang memagarinya. Saya menerka jika lapangan tenis ini telah ada sejak masa para meneer pegawai PG Kedungbanteng berdiam di rumah-rumah tua itu. Kehadiran lapangan tenis di lingkungan pabrik gula Belanda merupakan hal yang biasa karena olahraga tenis kala itu digandrungi orang-orang kulit putih. Di zaman ketika hiburan tidak sebanyak sekarang, tenis menjadi sarana untuk memecah kejemuan rutinitas kerja, apalagi untuk pegawai pabrik gula yang tinggal jauh dari pusat keramaian. Sayapun membayangkan dulu di zaman Belanda pada suatu sore yang cerah, sang tuan adminsitrateur bermain tenis dengan para pegawai lainnya. Orang-orang kulit putih berpandangan bahwa tenis adalah olah raga eksklusif untuk orang barat. Sebab itulah, orang-orang pribumi itu hanya dapat melihat para meneer menganyunkan raketnya dari luar pagar. Orang pribumi paling banter menjadi pesuruh yang bertugas mengambil bola tenis dan membersihkan lapangan.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah utara rel.
Setapak jalan berlumpur menjurus ke sebuah rumah tua yang terletak di tengah sebidang halaman yang amat luas. Halaman itu dibatasi oleh pagar-pagar yang terbuat dari batang-batang besi rel lori. Sejatinya rumah itu memiliki pasangan rumah dengan bentuk serupa yang terletak di samping timur. Namun pasangan rumah itu sudah lenyap. Dengan menghadap ke arah selatan, eloknya panorama Gunung Lawu dapat terlihat dari sini apabila langit sedang bagus. Sayang, hari itu Gunung Lawu masih sembunyi malu-malu di balik kabut putih.



Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang ada di sebelah utara kantor kecamatan Gondang.
Di utara kantor kecamatan, bersanding empat buah rumah tua menghadap ke selatan, dimana hanya satu rumah saja yang masih bisa dikatakan terawat, sementara sisanya tampak tercampakan begitu saja oleh pemiliknya. Biarpun terlihat renta dan terlantar, namun keindahan rumah itu masih belum pudar. Secara arsitektur, langgam rumah itu mencerminkan langgam arsitektur transisi, sebuah langgam yang melambangkan kemajuan jagad arsitektur di Hindia-Belanda yang sebelumnya begitu tergantung dengan arsitektur klasik yang menekankan pada penggunaan pilar. Lihatlah, rumah- rumah itu sudah tak dijumpai lagi pilar-pilar di beranda depannya. Langgam arsitektur transisi muncul di Hindia-Belanda sejak di penghujung abad ke-19 hingga tahun 1920an.
Ruangan di bagian belakang.
Tampak belakang.
Garasi.
Bekas kamar mandi.
Bekas dapur.
Perlahan, saya mulai mendekati salah satu bangunan itu, berjalan melalui halamannya yang penuh rumput liar nan tinggi. Terhubung dengan rumah utama melalui sebuah selasar, terdapat bangunan tambahan di samping rumah yang disebut bijgebouwen. Bijgebouwen pada dasarnya terdiri atas kamar pembantu, dapur, gudang, kamar mandi, dan garasi atau kandang kuda. Diletakan terpisah dari rumah utama karena orang Belanda beranggapan kegiatan seperti mencuci dan memasak membuat kebersihan rumah utama berkurang  (Handinoto, 2010 ;145).
Berita dari De Indische Courant 25 Februari 1932 yang memberitakan penutupan PG Kedungbanteng

Di perkampungan inilah dahulu PG Kedungbanteng berdiri.
Di sebelah timur dari rumah-rumah tua itu, terdapat sebuah perkampungan yang bernama Mbabrik. Nama kampung itu sekarang menjadi satu-satunya jejak yang tersisa dari PG Kedungbanteng, selain rumah-rumah tua tadi. Mengapa PG yang besar itu bisa lenyap seketika ? Dalam perjalanannya, nasib PG Kedungbanteng mengalami pasang surut. Dari keterangan warga sekitar, pabrik gula itu sehabis musim giling pertama langsung ditutup. Pasalnya ada konflik di dalam tubuh kepengurusan pabrik. Seusai masalah internal dibereskan, tanggal 19 Juni 1929, PG Kedungbanteng kembali bergiling (Bataviasch Nieuwsblad 20 Juni 1929). Namun belum lama PG itu mencapai masa puncaknya, datang sebuah petaka besar. Permulaan tahun 1930an, perekonomian jagad diguncang dengan Great Depression atau krisis malaise. Imbasnya, harga gula merosot drastis di pasaran. Agar harga gula kembali membaik,  dibuatlah kesepakatan Charbourne yang mengharuskan pemilik pabrik gula di Jawa untuk mengurangi produksinya. Van der Wijk Concern selaku pemilik PG Kedungbanteng, mematuhi kesepakatan itu dan memutuskan untuk menutup PG Kedungbanteng pada tahun 1932 (De Indische Courant 25 Februari 1932). Paska ditutupnya PG Kedungbanteng, bangunan pabrik diratakan oleh pemiliknya. Sementara rumah-rumah pegawainya barangkali oleh empunya pabrik dijual ke orang lain sehingga rumah-rumah itu masih utuh sampai saat ini.
Bangunan yang diduga kantor adminsitrasi PG Kedungbanteng.
Matahari mulai meninggi, tanda saya bergegas meninggalkan situs eks PG Kedungbanteng. Tiada yang tahu bagaimana nasib rumah-rumah tua itu kelak di kemudian hari. Apakah akan ada seorang baik yang membelinya kemudian diperbaki, dibiarkan merana begitu saja seperti sekarang, atau justru ia akhirnya disingkirkan sehingga generasi berikut tak dapat menjumpainya lagi ?

Referensi
Algemeen Handelsblad, 13 Juli 1924.

Bataviasch Nieuwsblad, 20 Juni 1929.

De Indische Courant, 25 Februari 1932.

Handinoto. 2010. Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.