Sabtu, 19 November 2016

Pasar Gede, Monumen Karsten di Kota Solo

Di tengah keberadaan pasar modern yang semakin menjamur di kota Solo, Pasar Gede yang melegenda masih menunjukan keeksisannya. Bangunan pasar yang dirancang oleh arsitek Thomas Karsten itu seolah berusaha melawan modernisasi di sekitarnya; walau ia sendiri juga merupakan hasil modernisasi pada masanya. Inilah kisah tentang Pasar Gede
Suasana Pasar Gede sekitar tahun 1935 (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Sebelum melangkahkan kaki ke dalam pasar, saya dibuat terkesan dengan pelayanan parkir pasar yang terdapat di jalan Jend. Urip Sumoharjo itu. Petugas parkir tak hanya menjaga kendaraan saja, namun juga mengantarkan kendaraan ke tempat parkir yang telah disediakan. Sistem parkir valet merupakan satu dari sekian gebrakan yang dibuat oleh pemerintah kota Surakarta agar masyarakat mau belanja di pasar tradisional. Di era sekarang, keberadaan pasar tradisional perlahan mulai tergusur oleh pasar-pasar modern. Lingkungan pasar tradisional yang kumuh dan semrawut menjadi alasan orang mulai enggan belanja di pasar tradisional. Oleh karena itulah segala daya dan upaya dikeluarkan oleh pemerintah Surakarta untuk menjaga agar pasar tradisional di Surakarta tetap sintas. Mulai dari penataan lingkungan pasar hingga penyediaan jasa layanan parkir valet. Hasilnya pun cukup memuaskan. Tak terlihat lagi pedagang yang tumpah ruah di tepi jalan dan kendaraan pun diparkir tertib di tempatnya. Kemacetan di sekitar Pasar Gede berkurang dan saya sendiri merasa nyaman berjalan menyusuri trotoar Pasar Gede. Upaya mengangkat harkat pasar tradisional sejatinya sudah dilakukan jauh di masa penjajahan.

Bangunan Pasar Gede sebelum direnovasi.
Pasar Gede (69) pada peta kota Solo tahun 1946 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Menarik mundur ke belakang, Pasar Gede telah ada semenjak Kota Surakarta didirikan oleh Pakubuwono II pada 1745. Kala itu, orang-orang Tionghoa dilarang tinggal di dalam dinding keraton yang berada di selatan Kali Pepe. Sehubungan larangan itu, mereka akhirnya tinggal di seberang Kali Pepe. Di tengah permukiman tadi, lambat laun muncul sebuah pasar. Di kemudian hari pasar itu dikenal sebagai Pasar Gede.  (Leushuis. Emile,2014;220).
Bagian barat Pasar Gede sekitar tahun 1935. Tampak barisan ruko bergaya Tionghoa di sekitar Pasar Gede. Keberadaan pemukiman masayrakat Tionghoa sudah ada sejak Kota Surakarta berdiri (sumber : Djocja Solo halaman 168).
Pakubuwono X adalah tokoh utama yang menjadikan Pasar Gede seperti sekarang. Disebutkan pada buku betajuk Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa ( 2009 ) karya Purwadi, Pakubuwono X tergolong raja yang kaya raya, namun peduli dengan pembangunan kotanya. Salah satu bentuk kepeduliannya ialah dengan mempermegah Pasar Gede yang sebelumnya hanya berupa los-los terbuka sederhana. Tahun 1929, Pasar Gede dipermegah dengan biaya sebesar tiga ratus ribu gulden. Dalam pembangunannya, ia menggandeng seorang arsitek Belanda terkemuka yang juga kawan dekat Pakubuwono X, Ir. Thomas Karsten. Dalam belantika arsitektur, Karsten tergolong arsitek terpandang di masanya. Sebelum Pasar Gede, Karsten telah berkecimpung dalam proyek pembuatan pasar-pasar tradisional seperti Pasar Johar dan Pasar Pedamaran (Karsten, 1938; 63).
Rombonngan Pakubuwono X dan Residen Surakarta sedang berjalan ke tempat peresmian bangunan baru Pasar Gede. Di belakang tampak bangunan pasar gede sisi barat yang belum selesai dibangun (sumber : media-kitlv.nl).
P. R.W van Geseller Verschuir ( tengah, memegang topi), dan Pakubuwono X (di bawah payung dengan selempang di depan dada) ketika hendak memotong pita tanda diresmikannya bangunan baru Pasar Gede (sumber : media-kitlv.nl).
Tanggal 12 Januari 1930, dengan gempita upacara yang dihadiri oleh Pakubuwono X dan para pembesar di Surakarta, pasar itupun diresmikan oleh beliau. Nama lengkap pasar yang semula Pasar Gede Oprokan, diganti menjadi Pasar Gede Hardjonagoro. Seperti nama yang melekat padanya; “ Pasar Gede “  yang berarti “ Pasar Besar “, pasar itu menjadi pasar terbesar dari sekian banyak pasar di Surakarta. Pasar itu juga menjadi pasar bertingkat pertama di Indonesia ( Purwadi, 2009; 195).
Gambar rancangan konstruksi Pasar Gede oleh Thomas Karsten (sumber : Locale Techniek Maret 1938, halaman 65).
Dari luar, bangunan Pasar Gede tampak mencolok dengan atap berbentuk Joglo nya. Bentuk pasar ini sendiri sejatinya merupakan wujud pandangan seorang Karsten yang menaruh perhatian begitu besar pada budaya Jawa, khususnya arsitektur. Walau ia memiliki latar keilmuan arsitektur barat, namun ia begitu menghormati budaya Jawa. Karsten berpandangan bahwa sudah saatnya arsitektur kolonial di Hindia Belanda mengacu pada budaya yang telah lama hidup di masyarakat dan dilahirkan kembali dalam bentuk baru tanpa menghilangkan unsur lama. Pandangannya ia tuangkan dengan memadukan unsur tradisional dan modern pada beberapa rancangannya termasuk di antaranya Pasar Gede. Unsur tradisional terlihat pada penggunaan atap berbentuk Joglo dan ditutup dengan sirap. Sementara unsur modern dapat dilihat pada penggunaan material-material modern seperti besi dan beton serta jendela-jendela kaca pada ruang kantor pengelola pasar. Kedua unsur tadi menghasilkan sebuah harmoni antara timur-barat.
Tampak depan Pasar Gede.
Keramaian pedagang dan pembeli di Pasar Gede. Dahulu, pasar di kota Surakarta yang setiap hari ramai hanyalah Pasar Gede saja. Sementara pasar-pasar lain hanya ramai pada hari pasaran tertentu saja.
Tanpa panjang lebar, sayapun beranjak masuk ke dalam pasar dan kehadiran saya langsung disambut oleh Hiruk pikuk keramaian pasar. Para pedagang tampak sibuk menjaga dan menawarkan daganganya. Pasar ini bukanlah sekedar bangunan kuno belaka, Ia menjadi tempat ratusan orang mengais rezeki untuk menyambung hidup. Pasar dalam kebudayaan Jawa tak hanya sebagai tempat mempertemukan pedagang dengan pembeli. Ia juga merupakan bagian dari kosmologi Jawa yang secara tata ruang memisahkan dunia profan dan suci. Itulah mengapa keraton sebagai lambang dunia suci diletakan terpisah dari pasar sebagai lambang dunia profan ( Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, 2014;38 ).
Panggung tempat para pedagang berjualan.
Los pedagang daging.
Beragam aroma tercium oleh indra penciuman saya, dari harumnya aneka bumbu dapur di lantai satu hingga bau amis daging yang menyeruak dari los daging di lantai dua. Aneka barang dijual di pasar ini, mulai dari buah-buahan, sayuran, alat rumah tangga, dan sandang. Pasar ini juga menyuguhkan ragam kuliner yang barangkali sudah sulit dicari di tempat lain semisal Es Dawet Selasih. Para pedagang umumnya berjualan di atas panggung-panggung beton yang sudah ada sedari pasar ini berdiri. Karsten, arsitek perancang pasar ini tampaknya menyadari kebiasaan para pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional di Jawa. Para pedagang biasanya menunggu para pembeli dengan duduk lesehan, sementara kadang kebiasaan tersebut menyulitkan pembeli karena mereka harus membungkuk jika bertransaksi. Karsten lantas membuat panggung setinggi pinggang orang dewasa di dalam pasar, sehingga pedagang masih dapat berjualan dengan lesehan, namun pembeli tidak perlu repot membungkuk lagi. Sebuah pemecahan yang cerdas !

Bagian lantai dua pasar.
Bukaan ventilasi pada bagian atap pasar.
Saya begitu larut dengan suasana pasar yang tak begitu pengap walau cukup banyak pedagang dan pembeli yang berjejal di dalamnya. Pencahayaan pasar inipun terasa cukup. Itu semua karena pasar ini memiliki penghawaan yang cukup baik. Angin-angin di atap tak hanya berfungsi untuk memperlancar udara, namun juga sebagai sumber cahaya alami. Dengan demikian, energi yang dibutuhkan pasar ini jauh lebih sedikit. Berbeda jauh dengan pasar modern zaman sekarang yang serba tertutup, mengandalkan AC sebagai sumber penghawaan yang tentunya menghabiskan banyak energi.
Pasar Gede setelah dibumihanguskan oleh TNI pada akhir tahun 1948. Atap Joglo di bagian depan pasar terlalap habis oleh si jago merah sementara  bagian lain tinggal menyisakan puingnya saja (sumber : Djocja Solo halaman 82).
Sebagaimana pasar-pasar besar di Indonesia, pasar inipun tak luput dari bencana kebakaran. Sudah dua kali pasar itu tak berdaya ketika si jago merah melalap dirinya, menghilangkan sebagian besar konstruksi aslinya. Kali pertama pasar itu terbakar ialah saat kota Surakarta dibumihanguskan pada Agresi Militer. Kala itu, kota Surakarta diduduki oleh dua divisi TNI, yakni Divisi 2 di bawah komando Kolonel Gatot Subroto dan Divisi Siliwangi dibawah Letkol. Daan Yahya. Sebelum mereka pergi pada akhir tahun 1948, berbagai bangunan penting di Surakarta mereka bakar Antara lain kediaman Residen Surakarta, Hotel, Teater, Stasiun Balapan, Stasiun Jebres dan termasuk di sini adalah Pasar Gede (M.P. Bruggen, 1998; 83). Kemudian kali kedua Pasar Gede terbakar yakni pada tahun 2000.  Untuk yang terakhir, sumber api yang menghanguskan pasar itu berasal dari arus pendek listrik, pemicu kebakaran yang acap terjadi pada pasar di Indonesia.
Kios-kios di luar Pasar Gede. Kios-kios di sini harga jual atau sewanya lebih mahal daripada yang ada di dalam pasar.
Dari dalam pasar, saya beranjak keluar pasar. Di sana saya mendapati bruko-ruko berlanggam Tionghoa. Di antara ruko-ruko itu, terdapat sebuah kelenteng tua. Sedikit melangkah mundur ke tahun 1998, walaupun pasar itu terhindar kebakaran, namun Pasar Gede menjadi saksi bisu kerusuhan massa berbalut SARA yang pernah melanda Surakarta. Puing dan sampah sisa kerusuhan menumpuk selama beberapa hari di seputaran Pasar Gede.
Pasar Gede bagian barat.

Profil di bagian pintu masuk.
Meski terpisah, Pasar Gede Barat masih berada dalam satu kesatuan Pasar Gede. Bentuknya hampir mirip, walau ukurannya lebih kecil. Bagian depan bangunan ini dulunya merupakan toko perhiasan milik Be Thian Kiem. Melangkah ke dalam bangunan yang saat ini menjadi tempat penampungan pedagang buah itu, saya tak menjumpai banyak keramaian di sini. Beberapa kios tampak tutup, entah hari itu si pedagang tidak berjualan atau belum ada yang menempati. Sayapun naik ke bagian lantai dua pasar, yang mana terdapat sebuah ruang luas yang kadang digunakan untuk pentas seni.
Bagian beranda lantai dua.
Sebelum saya beranjak pulang, saya beringsut ke bagian balkon, memandang sekali lagi Pasar Gede yang masih terlihat ramai. Ya, Pasar Gede tak hanya sebuah bangunan kuno berupa pasar saja. Di bawah atapnya, ratusan orang dari pedagang, kuli, hingga juru parkir menggantungkan hidup di pasar ini sekaligus menghidup pasar ini. Dari nafasnya, saya dapat merasakan dinamika Kota Surakarta, mulai dari masa ia dilahirkan oleh Pakubuwono II, masa keemasan ketika dipimpin oleh Pakubuwono X, hingga gejolak sosial paska kemerdekaan. Bentuknya yang merupakan hasil perpaduan arsitektur Jawa dengan modern tampak harmonis dan sekaligus menyiratkan betapa luwesnya kebudayaan Jawa…

Referensi
Karsten, Thomas. 1938. " Iets Over De Centralle Pasar " dalam Locale Techniek edisi 7 no 2 tahun 1938.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Ombak.

Purwadi, dkk, 2009. Sri Susuhunan Pakubuwono X ; Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya Untuk Nusa Bangsa. Jakarta : Bangun Bangsa.


Tim Penyusun. 2014. Yang Tersisa Dari Kolonial. Klaten : Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

van Bruggen, M.P dan Wassing, R.P. 1998. Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden. Asmterdam : Asia Maior.

1 komentar:

  1. berita plakat pasar Gede > http://m.solopos.com/2016/10/06/plakat-asli-pasar-gede-solo-dijual-online-758251

    Salam kenal mas, selama ini hanya jadi silent reader blog ini, hehehe :D

    BalasHapus