Minggu, 06 November 2016

Fort Van Den Bosch Ngawi, Benteng Kolonial di Tepi Sungai Bengawan Solo

Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya di "Berburu Bong Londo di Kerkhof Ngawi" tulisan Jejak Kolonial kali ini akan membahas tentang Fort Van Den Bosch yang berada di Ngawi. Apa sebenarnya hubungan benteng ini dengan Gubernur Jenderal yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai tokoh pemrakasa Cultuurstelsel ini ? Dan seperti apakah wujud benteng ini di masa lalu dan sekarang? Semua pertanyaan tadi akan dibahas pada tulisan Jejak Kolonial kali ini.

Berawal dari kekhawatiran Van Den Bosch

Johannes Van Den Bosch (2 Februari 1780 – 28 Januari 1844), Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang memprakarsai sistem cultuurstelsel atau tanam paksa. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah benteng di Ngawi (sumber : commons.wikimedia.com).
Berdasarkan tulisan yang terdapat di bagian atas pintu masuk, benteng kolonial terbesar di Jawa Timur ini baru dibangun pada tahun 1839, sembilan tahun setelah Perang Diponegoro berakhir. Pembangunan benteng ini merupakan respon kekhawatiran dari gubernur jenderal Van den Bosch atas situasi politik di Eropa yang kacau setelah Perang Napoleon berakhir. Khawatir jika ada kekuatan asing seperti Inggris yang suatu saat nanti menyerbu Jawa, maka Van den Bosch menginstruskikan komandan pasukan zeni pada waktu itu, Colonel Van der Wijk untuk membangun beberapa benteng di beberapa titik, yakni di kota-kota pantai utara yang dapat diserbu dari laut seperti di Batavia, Semarang dan Surabaya, dan wilayah-wilayah pedalaman seperti Ambarawa, Gombong, dan Ngawi yang dapat digunakan sebagai titik kumpul pasukan jika garis pertahanan di pantai utara sudah jatuh. Dari sinilah mereka dapat melancarkan serangan balik ke musuh yang menduduki wilayah pantai utara ( Tim Penyusun, 2012; 133-134).
Benteng Van Den Bosch pada tahun 1940. Pada waktu foto ini dibuat, benteng ini digunakan sebagai penjara militer (sumber : media-kitlv.nl).
Kira-kira pada tahun 1905, sistem benteng di Hindia-Belanda dihapuskan karena dirasa mulai kurang efektif menghadapi peperangan yang semakin dinamis. Banyak benteng-benteng di Jawa yang akhirnya kehilangan perannya sebagai saran pertahanan (Handinoto 2012;392), termasuk benteng Van den Bosch Ngawi ini yang akhirnya dialihfungsikan sebagai penjara. Setelah kemerdekaan, pada tahun 1962 benteng ini fungsinya diubah menjadi markas dan gudang amunisi Batalyon Armed 12 yang sebelumnya berkedudukan di Kecamatan Rampal, Kabupaten Malang, serta menjadi area latihan perang. Kemudian antara tahun 1970-1980, benteng ini dikosongakan karena gudang amunisi dipindahkan ke Jalan Siliwangi kota Ngawi yang sekarang menjadi maskas Kostrad. Pada tahun 2011, setelah terbengkalai cukup lama dan tertutup untuk dikunjungi oleh masyarkat umum, akhirnya Benteng Van Den Bosch dibuka untuk pengunjung, dan pada tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Ngawi melakukan penataan di sekiar kawasan benteng untuk dikembangkan sebagai andalan wisata edukasi dan sejarah di Kabupaten Ngawi (Kurniawan, 2013;5).

Peta kota Ngawi pada tahun 1925. Benteng Van den Bosch berada di pojok kanan atas (sumber : maps.library.leiden.edu).

Mengintip Benteng 

Citra satelit benteng Van den Bosch. Garis merah merupakan bekas ravelin. Sementara garis kuning merupakan tanggul tanah.


Pola tata ruang benteng Van Den Bosch.
Benteng ini terletak di ujung timur laut kota Ngawi, yang menjadi pertemuan dari dua sungai besar yakni sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa dan sunga Madiun. Aliran sungai ini berada di sebelah utara, timur, dan selatan benteng dan menjadikannya sebagai pertahanan alami benteng dari serangan musuh.  Sungai ini juga dapat digunakan untuk mengirim pasukan dengan transportasi air.
Sungai Bengawan Solo yang mengalir di sebelah utara benteng.
Karena dikelilingi oleh sungai, praktis benteng ini hanya memiliki satu jalan masuk yang berada di sisi barat. Jalan ini sekarang menjadi jalan Suropati. Sebelum kita masuk ke area benteng, terlebih dahulu kita membayar tiket sebesar lima ribu rupiah di pintu masuk benteng.
Struktur dinding bekas ravelin.
Sebelum kita akan melangkah masuk ke dalam benteng, tepat berdiri di depan benteng, kita dapat melihat sebuah struktur dinding tua yang masih kelihatan kokoh meski usianya sudah lebih dari seratus tahun. Dinding yang sedang kita amati ini merupakan sebuah struktur raveline. Raveline merupakan struktur pertahanan bersudut tiga yang berada di depan benteng. Struktur ini berfungsi berfungsi untuk mengantisipasi serangan musuh sebelum mencapai dinding benteng utama. Pada abad ke 18, raveline berbentuk segitiga. Namun pada benteng ini, struktur raveline  yang kita jumpai ini memiliki bentuk trapesium. Dari sini, kita dapat melihat bekas-bekas lubang untuk menembak yang posisinnya berada sangat tinggi dari permukaan tanah. Tampaknya permukaan tanah pada bagian ini sudah diurug. Struktur yang serupa juga dapat kita temukan di sebelah selatan benteng.
Pintu gerbang sebelah barat. Tampak bekas roda katrol untuk mengangkat jembatan.
Bekas katrol untuk mengangkat jembatan.
Setelah melewati bagian ravelin, kita akan melewati sebuah gerbang. Dahulu di depan gerbang ini terdapat sebuah jembatan angkat dan dibawahnya terdapat parit pertahanan yang kini sudah berkurang airnya. Di belakang gerbang ini kita bisa melihat bekas sebuah katrol besar yang digunakan untuk mengangkat jembatan.
Tanggul tanah yang mengelilingi benteng.
Bekas parit pertahanan.
Di kanan kiri gerbang tadi, kita juga dapat melihat tanggul tanah yang mengelilingi benteng Van den Bosch. Tanggul tanah setinggi kira-kira lima meter ini memiliki banyak fungsi. Nah yang pertama tanggul ini berfungsi untuk menahan luapan Sungai Bengawan Solo ketika banjir. Terus yang kedua, tanggul ini juga berfungsi untuk meredam peluru meriam yang ditembakan musuh ke arah benteng. Tanggul tanah ini lebih efektif meredam peluru meriam jika dibandingkan dengan dinding bata. Oh ya, dahulu, ketinggian tanggul tanah ini nyaris setinggi benteng utama, sehingga jika dilihat dari luar tanggul, benteng ini seolah-olah terkubur tanah. Oleh karena itulah benteng ini kadang disebut Benteng Pendem Ngawi.
Pintu masuk utama benteng.
Setelah melewati gerbang tadi, berdiri di depan kita sekarang, bangunan utama benteng Van Den Bosch yang sudah berdiri dengan megahnya selama lebih dari seratus tahun. Tepat di atas lengkungan pintu masuk, kita akan akan melihat angka tahun "1839-1845" yang menunjukan tahun pembangunan benteng. Di sini tampak dekorasi bangunan berupa pilaster atau tiang tempelan yang mengapit pintu masuk. Sambil berjalan masuk ke benteng, di dinding kanan pintu masuk, tertempel portrait besar Gubenur Jenderal Van Den Bosch, gubernur jenderal pemrakasa tanam paksa yang namanya diabadikan menjadi nama benteng ini.
Puing bangunan Indis Neoklassik di dalam benteng.

Bekas pos jaga.
Lantai tegel bagian dalam.
Bekas jangkar pengait.
Makam K.H . Ahmad Nursalim yang berada di samping bangunan bergaya Indis Neokalssik tadi. Menurut cerita, beliau adalah salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang dieksekusi oleh Belanda dan kemudian dimakamkan di benteng ini.
Nah, di bagian dalam benteng, tepatnya di sebelah utara terdapat sebuah bangunan yang kini hanya menyisakan struktur dinding saja dan itupun sudah mulai mengelupas bagian luarnya. Meski demikian, sisa-sisa kemegahan bangunan ini masih belum pudar. Di beranda depan, kita dapat menjumpai barisan empat kolom-kolom besar berorder dorik yang menjadi ciri bangunan bergaya arsitektur Indis-Neoklassik, sebuah gaya arsitektur yang pernah berkembang di Hindia-Belanda pada abad ke-19. Di samping bangunan ini, terdapat bangunan kecil yang dahulu digunakan sebagai pos jaga. Dahulu, bangunan ini difungsikan sebagai kantor dan tempat tinggal komandan benteng ini. Melangkah ke dalam, kita akan menjumpai tegel lantai yang disusun dalam pola papan catur dengan aksen warna kuning-putih. Di sini kita juga bisa menjumpai benda semacam jangkar besi yang dahulu digunakan untuk penguat bangunan. Sebelum teknologi besi tulang ditemukan, jangkar ini dipasang di luar tembok untuk menahan dinding agar tidak roboh keluar.
Bekas instalasi listrik benteng. Instalasi listrik di benteng ini baru dipasang pada tahun 1910an.
Bekas dapur umum.
Tepat di belakang bangunan tadi, terdapat struktur bangunan yang dahulu difungsikan sebagai gudang ransum dan dapur umum. Di sini masih dapat dijumpai cerobong asap yang berfungsi sebagai saluran pembuangan asap dari tungku masak yang juga masih dapat ditemukan di sini. Dapur ini cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seluruh pasukan yang tinggal di benteng ini. Entah berapa kayu bakar yang dihabiskan untuk memasak setiap harinya. Pada tahun 2016, di sekitar benteng ini pernah dilakukan ekskavasi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Dari harsil ekskavasi tersebut, para arkeolog menemukan beberapa sisa-sisa kehidupan masa lampau benteng ini seperti fragmen gerabah dan pecahan gelas dan botol yang kemungkinan besar merupakan bagian dari peralatan makan. Selain itu, ditemukan juga sisa-sisa tulang hewan seperti sapi dan ayam yang kemungkinan besar  merupakan hewan yang sering dikonsumsi para penghuni benteng pada masa lampau ( Chawari, 2016 ; 208 ).
Lapangan di tengah benteng. Foto menghadap ke arah barat. Di bagian atas tampak tempat bekas menaruh jam. Konon ketika lonceng ini berdentang, suaranya bisa sampai di pusat kota Ngawi.
Dari bangunan tadi, kita selanjutnya beranjak ke lapangan terbuka yang ada di tengah-tengah benteng. Lapangan ini dahulu digunakan untuk apel pasukan. Dari kita mungkin bisa membayangkan bagaimana ketika benteng ini masih dipakai sebagai garnisun pasukan. Di sini, kita dapat membayangkan para pasukan yang merupakan campuran dari orang Eropa, Ambon, Manado, Madura dan Jawa dengan seragam ketatnya, sedang berbaris, mengikuti instruksi yang diteriakan dalam bahasa Belanda oleh seorang perwira yang mungkin disewa dari Jerman. Pada masa itu, kesatuan militer dari berbagai suku bangsa adalah hal yang jamak ( Abbas, 2007; 49).
Bekas kantor administrasi.
Foto lama bangunan kantor administrasi ketika masih utuh (sumber : media-kitlv.nl).
Bekas sumur. Sumur ini menjadi sumber air bersih bagi penghuni benteng.
Di sebelah selatan lapangan tadi, terdapat sebuah bangunan berlantai dua yang kini atapnya sudah hilang dan tinggal dindingnya saja. Seperti bangunan di depannya, bangunan ini juga memiliki kolom yang kini sudah hilang. Bagian lain yang hilang pada bangunan ini yakni lantai kayu yang ada di lantai dua dan tangga kayu yang menghubungkan lantai satu dan dua. Fungsi bangunan ini pada masa lalu yakni sebagai kantor yang mengurusi segala adminsitrasi benteng ini seperti surat tugas dan laporan harian.
Bangunan barak timur yang kini ditutup dengan tembok baru untuk sarang walet.
Di sebelah kiri merupakan bangunan barak timur. Sementara di ujung merupakan barak selatan.
Puing-puing bangunan barak sisi selatan yang hancur akibat ledakan bom oleh Jepang.
Bangunan barak yang kondisinya relatif baik. Saat ini dipakai sebagai musholla.
Benteng Van den Bosch dilengkapi dengan empat bangunan barak yang berada di keempat sisi benteng. Bangunan ini rata-rata dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak bagian bangunan yang sekarang cuma tinggal puing-puing saja. Lantai, kusen dan daun jendela kayunya sudah raib entah kemana. Beberapa bagian ada yang ditutup dengan tembok bata baru untuk dijadikan sarang walet sehingga wajah benteng ini kelihatan jelek. Selain itu ada juga bagian yang saking lamanya ditinggal kini sudah menjadi sarang hewan kelelawar yang bau kotorannya minta ampun. Kemudian ada juga bagian yang dindingnya sudah tertutup oleh akar pohon sehingga hal ini mengingatkan kita pada reruntuhan Angkor Wat di Kamboja. Hanya bangunan barak di sisi utara dan sebagian sisi barat saja yang kondisinya masih mendingan. Barak sisi utara kini dijadikan sebagai tempat tinggal sementara sebagian sisi barat digunakan untuk musholla.
Beranda lantai dua. Tampak lantai yang sudah ambrol.
Bangunan barak yang masih dihuni.
Bangunan barak yang atapnya sudah ambrol.
Konstruksi arch  dari bata yang menjadi konstruksi utama. Perhatikan cara penyusunan bata sehingga bisa menghasilkan bentuk melengkung.
Bagian barak yang kini sudah tertutup oleh tanaman liar.
Meski kondisinya sudah tidak karuan, bangunan barak ini masih menyisakan sedikit daya tarik, terutama untuk pengunjung yang gemar berfoto selfie. Mereka rata-rata memilih berfoto selfie dengan latar puing-puing bangunan yang tinggal dinding lengkungnya saja. Sekilas, puing-puing ini memang mirip dengan puing-puing bangunan dari masa Romawi yang memiliki ciri khas berupa lengkungan dari batu-bata. Ditambah lagi dengan akar-akar tanaman liar, tempat ini benar-benar sempurna bagi pengunjung yang ingin selfie dengan latar tempat yang eksotis dan antik. Lengkungan-lengkungan ini dahulu mampu menyangga beban konstruksi bangunan barak berlantai dua ini. Pada masa itu, teknologi beton bertulang yang mampu menahan konstruksi bangunan besar masih belum ditemukan. Oleh karena itulah, dipakailah teknologi konstruksi yang ditemukan bangsa Romawi ini. Dikombinasikan dengan susunan bata yang tebal, konstruksi ini mampu membuat benteng ini berdiri lebih dari satu abad.

Tangga naik ke lantai dua. Di bawah tangga ini terdapat sebuah ruang kecil untuk penjara.
Jembatan penghubung.
Setiap bangunan barak dahulu dihubungkan dengan dua jembatan penyebarangan yang sekarang hanya satu saja yang masih bisa kita lihat, yakni jembatan yang menghubungkan barak sisi utara dengan barak sisi barat. Itupun kondisinya nyaris ambrol. Untuk menuju bagian lantai dua, terdapat tangga luar yang terdapat di setiap sudut benteng. Di bawah tangga ini terdapat penjara kecil yang konon banyak tahanan yang meninggal di sini karena mendapat perlakuan tidak manusiawi. Bayangkan saja, berjubel tahanan ditahan di penjara sekecil itu sehingga mereka harus berebut udara. Lama kelamaan, banyak dari mereka yang keluar dari penjara tapi sudah menjadi jenazah. Atap bangunan bangunan barak berbentuk papak atau rata, sehingga dapat dilalui oleh para pasukan. Dari atap ini, para pasukan bisa mengawasi keadaan di sekitar benteng.
Bekas toilet komunal.
Di Benteng ini anda juga bisa melihat bekas toilet komunal yang digunakan untuk menjamin “kebutuhan dasar” para penghuni di sini. Toilet-toilet ini berbentuk toilet jongkok. Karena bersifat komunal, maka sekat-sekatnya sedikit terbuka sehingga serdadu yang sedang buang hajat masih bisa melihat sebelahnya.
Bekas gudang amunisi.
Di keempat sudut benteng ini, terdapat gudang yang digunakan untuk menyimpan amunisi. Gudang ini dirancang sedemikan rupa sehingga kelembaban di dalam ruangan tidak membuat amunsisi menjadi melempem. Dari atas, gudang ini berbentuk seperti huruf “L”. Karena posisinya berada di sudut benteng, maka jika dilihat dari atas bangunan ini tampak seperti bastion.

Demikianlah tulisan Jejak Kolonial mengenai Benteng Van den Bosch Ngawi, sebuah benteng megah di tepi sungai Bengawan Solo. Meski sebagian besar bangunan sudah tinggal puing-puingnya saja, namun benteng ini masih memiliki daya tarik tersendiri. Tidak salah jika pemerintah daerah mengembangkan benteng ini sebagai obyek wisata pendidikan dan sejarah meski belum begitu maksimal. Menurut saya mungkin akan lebih baik jika beberapa bagian benteng yang kini menjadi sarang burung walet dibuka lagi seperti semula sehingga wajah asli benteng ini bisa terlihat oleh pengunjung. Ada baiknya juga jika beberapa bagian benteng yang rusak direstorasi ke bentuk semula meski tentu harus menunggu agak lama karena biaya dan tenaga yang dibutuhkan tidak sedikit. Selain itu, benteng ini juga masih minim papan informasi yang menjelaskan keberadaan benteng ini di masa lalu, sehingga pengetahuan yang diperoleh pengunjung di sini juga minim. Semoga keberadaan benteng kolonial di tepi Sungai Bengawan Solo ini bisa dilestarikan dengan baik…

Referensi
Abbas, Novida. 2007. " Organisasi Kemiliteran Pada Masa Pengaruh Islam dan Kolonial di Jawa " dalam Berkala Arkeologi Tahun XXVII No.2 / Tahun 2007.

Chawari, Muhammad. 2016. " Benteng Van den Bosch Ngawi : Temuan Artefaktual Sebagai Cerminan Alat-alat Kebutuhan Sehari-hari " dalam Berkala Arkeologi Vol.36 No.2 November 2016.

Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta; Graha Ilmu.

Kurniawan, Hari. 2013. Laporan Observasi Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi. Yogyakarta; Komunitas Roemah Toea.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar