Minggu, 13 November 2016

Jejak Pabrik Gula Kedungbanteng, Pabrik Gula di Tapal Batas Sragen



Halo pembaca Jejak Kolonial,  pada kesempatan kali ini, kita akan menelusuri jejak dari PG Kedungbanteng, sebuah pabrik gula yang dahulu pernah berdiri di Sragen, Jawa Tengah. Kira-kira jejak apa saja yang akan kita jumpai nanti di sini ? Mari kita cari bersama-sama….

Sejarah

Foto udara PG Kedungbanteng.
PG Kedungbanteng terletak di Desa Gondang Pabrik Kecamatan Gondang, Sragen. Letak PG ini cukup dekat dengan perbatasan provinsi Jawa Tengah dengan Jawa Timur.  Dua setengah kilometer ke timur dari lokasi PG Kedungbanteng, sudah masuk wilayah kabupaten Ngawi. Jadi dapat dikatakan PG Kedungbanteng merupakan PG paling timur di wilayah Vorstenlanden (meliputi wilayah Surakara dan Yogyakarta).

Iklan lowongan pekerjaan di harian Bataviasch Nieuwsblad tanggal 25 Februari 1925. Tampak ada lowongan untuk pekerjaan sebagai chemker. 
Berita dari De Indische Courant 25 Februari 1932 yang memberitakan penutupan PG Kedungbanteng
Lalu bagaimana dengan sejarah PG Kedungbanteng sendiri ? Jadi begini, pada tahun 1924, sebuah sindikat industri gula bernama Van der Wjk Concern mendirikan sebuah pabrik gula di Distrik Gondang, Sragen. Sindikat gula ini sebelumnya sudah memiliki sebuah pabrik gula, yakni Pabrik Gula Delangu di Klaten (Algemeen Handelsblad, 13 Juli 1924). Pemilihan lokasi PG Kedungbanteng terkait dengan beberapa alasan. Alasan pertama yakni ketersediaan lahan tebu yang masih luas di sebelah timur Sragen. Alasan kedua, yakni dekat dengan pusat pemerintahan distrik Gondang yang sudah banyak penduduk yang dapat diambil tenagannya sebagai buruh pabrik. Ketiga, dekat dengan jalur kereta api milik Staatspoorwegen Staatspoorwegen yang menghubungkan Surakarta-Madiun-Surabaya sejak tahun 1880, sehingga mesin dan onderdil yang didatangkan dari Surakarta dapat dibawa dengan kereta dan bongkar muatnya mudah karena dekat dengan jalur kereta. Apalagi jika kita mengingat berat mesin dan onderdil tadi yang bisa mencapai belasan ton sehingga butuh waktu lama untuk bongkar muatnya. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan untuk mempermudah distribusi gula dari PG Kedungbanteng ke pelabuhan di Surabaya. Alasan ketiga, yakni di sebelah timur pabrik terdapat Sungai Sawur yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembuangan limbah. Dahulu, lokasi PG direncanakan dibangun di sebelah selatan jalur kereta. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya lokasi PG dibangun di sebelah utara.


Peta PG Kedungbanteng tahun 1930 (sumber : maps.libary.leiden.edu).
Alkisah, sebelum tahun 1929, PG Kedungbanteng rupanya sempat ditutup. Menurut warga sekitar, pabrik gula ini setelah musim giling pertama langsung ditutup. Hal ini disebabkan gara-gara ada konflik manajemen di internal pengurusa pabrik gula. Setelah masalah internal dituntaskan, maka pada tanggal 19 Juni 1929, PG Kedungbanteng dibuka kembali (Bataviasch Nieuwsblad 20 Juni 1929). Namun pada awal tahun 1930an, terjadi krisis ekonomi dunia atau dikenal sebagai malaise atau Great Depression. Dampaknya yakni hancurnya harga gula di pasaran dunia. Untuk menekan kerugian, maka Van der Wijk Concern selaku pemilik PG Kedungbanteng memutuskan untuk menutup PG Kedungbanteng pada tahun 1932 (De Indische Courant 25 Februari 1932). Ya, begitulah kira-kira riwayat PG Kedungbanteng yang mengalami sedikit  gejolak ketika masih berdiri.
Yang Membekas dari PG Kedungbanteng


Lokasi situs PG Kedungbanteng dilihat dari citra satelit dari Google Map.
Keterangan :
Panah kuning : Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang masih tersisa.
Kotak kuning : Letak PG kedungbanteng.
Lingakran merah :  Letak emplasemen lori

Saya sendiri sebenarnya sudah dua kali saya mengunjungi bekas PG Kedungbanteng. Kunjungan pertama saya bersama teman-teman dari Komunitas Roemah Toea. Kunjungan pertama ini sekaligus untuk menggenapi penelusuran kami pada bekas-bekas PG yang pernah berdiri di eks. Karesidenan Surakarta. Sementara itu, kunjungan kedua saya lakukan waktu KKN di Sragen. Pada waktu itu, sehabis shalat Idul Fitri, berhubung di desa saya tradisi silahturahmi baru dilakukan pada H+2 sehingga hari itu saya tidak ada kegiatan, maka daripada gabut di pondokan, saya iseng untuk blusukan kedua kalinya ke bekas PG Kedungbanteng. Jarak dari pondokan saya ke lokasi PG Kedungbanteng kira-kira 13 kilometer.

Lapangan Gondang, salah satu saksi kejayaan PG Kedungbanteng.
Nah, dari PG Kedungbanteng yang masih bisa kita jejaknya adalah bangunan-bangunan tua yang dahulu difungsikan untuk rumah dinas pegawai PG Kedungbanteng. Lokasi rumah-rumah ini terpusat di sekitar lapangan Gondang.


Bangunan rumah di barat lapangan yang sekarang menjadi sarang walet.
Penelusuran kita pada bangunan-bangunan tua bekas rumah dinas PG Kedungbanteng ini kita mulai dulu di sebelah barat lapangan. Di sini, kita akan menemukan sebuah rumah tua yang kini terhalang oleh tembok tinggi dan tertutup oleh pepohonan di depannya. Tampak bagian-bagian seperti beranda depan sudah terutup. Tampaknya rumah tua ini digunakan sebagai sarang walet.

Bekas paviliun yang kini menjadi gilingan padi.
Berjalan ke utara, kita akan melihat ada sebuah penggilingan padi yang sepertinya memakai bangunan lama. Benar saja, setelah saya tanya ke pemilik penggilingan, ternyata penggilingan ini menggunakan bangunan bekas paviliun dari rumah tadi dan rumah yang kini sudah berubah menjadi gudang di utaranya. Dua rumah ini ternyata saling berbagi paviliun. Masuk ke dalam penggilingan, terlihat beberapa tembok tebalnya yang sudah dijebol untuk tempat pembuangan bulir-bulir padi hasil penggilingan.


Puskesmas Gondang.
Berjalan ke utara sedikit, tampak sebuah bangunan tua dengan atapnya yang berbentuk perisai. Bangunan yang dahulunya rumah dinas, kini sudah menjadi kantor Puskesmas Gondang. Ketika saya datang ke sini, suasana Puskesmas tampak sepi karena bertepatan dengan hari libur Idul Fitri.

Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng sebelum dibangun musholla.
Tampak bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng setelah dibangun musholla.
Di sebelah timur Puskesmas Gondang, terdapat Koramil Gondang yang di belakangnya kita dapat melihat sebuah rumah tua yang tampaknya sudah tidak dipakai lagi. Ketika saya pertama kali datang ke Kedungbanteng, di depan rumah tua tadi masih belum ada bangunan apa-apa. Tapi ketika saya datang lagi ke sini untuk kedua kalinya, di depan rumah tua tadi sudah berdiri sebuah musholla. Suasana Koramil sama seperti Puskesmas, sepi dan tidak ada satu batang hidupun yang terlihat.

Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah timur Koramil Gondang.
Berjalan ke timur, di seberang jalan, terlihat sebuah rumah tua yang bentuknya serupa dengan rumah tua yang ada di Koramil tadi. Rumah tua yang sekarang digunakan untuk sebuah SMP Kristen (meski tampaknya juga sudah tidak dipakai lagi) ini menghadap ke selatan, menghadap ke arah lapangan Kedungbanteng. Pada bagian gable, tampak hiasan molding yang bagi saya terlihat kaku. Di tengah-tengah gable tadi, terdapat sebuah lubang udara berbentuk kotak. Bagian beranda depannya tampak sudah ditutup untuk menambah ruangan. Di bagian atas jendela, terdapat kanopi yang berfungsi agar tampias air hujan tidak masuk ke dalam ruangan.


Balai Rehabilitasi.
Nah di sebelah timurnya lagi, terdapat sebuah bangunan tua yang bentuknya mirip dengan bangunan Puskesmas Gondang yang tadi kita lihat. Bangunan ini sekarang digunakan sebagai Balai Rehabalitasi Disabilitas Grahita dan Ganda “ Rahardjo”.

Bekas rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor kecamatan Gondang.
Selanjutnya tepat di sebelah timur lapangan, dengan halaman yang luas, berdiri sebuah bangunan tua yang sekarang digunakan sebagai kantor kecamatan Gondang. Melihat ukuran bangunan, bentuk yang lebih kompleks, dan halaman yang sangat luas, tampaknya bangunan ini dahulu merupakan rumah dinas administrateur atau kepala PG Kedungbanteng. Sayangnya, berhubung hari libur, kantor kecamatan ini sekarang tutup sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk mengintip bagian dalamnya. Bergerak ke belakang,kita akan melihat sebuah cerobong asap yang tampaknya adalah bagian dari dapur rumah ini.

Bagian belakang kantor kecamatan Gondang. Tampak cerobong asap di atas atap.

Lapangan tenis.
Di belakang kantor kecamatan tadi, terdapat sebuah lapangan tenis yang tampaknya sejak PG Kedungbanteng berdiri. Tampak batangan rel lori tebu yang digunakan sebagai tiang pagar. Perlu kita ketahui, tenis adalah salah satu olahraga favorit orang-orang kulit putih yang bekerja sebagai pegawai PG Kedungbanteng. Kita bisa membayangkan, sang tuan adminsitrateur bermain tenis bersama para pegawai lainnya pada sore hari di lapangan ini. Orang-orang pribumi pada waktu itu hanya bisa menonton dari luar dan tidak ada satupun yang bermain tenis. Oleh karena itu, orang-orang pribumi ini juga tidak ada yang bisa bermain tenis. Mereka biasanya menjadi pesuruh yang bertugas mengambil bola tenis dan membersihkan lapangan.

Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang ada di sebelah utara kantor kecamatan Gondang.
Di sebelah utara kantor kecamatan Gondang, kita akan menemukan empat buah rumah tua yang berdiri menghadap ke selatan. Setiap dua rumah saling berbagi tembok. Di antara keempat rumah tua yang ada di sini, hanya satu saja yang masih dipakai dan kondisinya terawat. Sementara sisanya dalam kondisi tidak berpenghuni dan terlantar. Meskipun terlantar, pesona dari bangunan bekas rumah dinas pegawai PG Kedungbanteng ini masih terpancar.

Ruangan di bagian belakang.
Tampak belakang.
Garasi.
Setiap rumah memiliki sebuah garasi yang setiap dua rumah saling berbagi tembok. Tampaknya setiap pegawai PG Kedungbanteng sudah memiliki kendaraan mobil. Entah itu kendaraan dari perusahaan atau kendaraan pribadi. Yang jelas keberadaan kendaraan mobil ini sangat membantu mobilitas pegawai, baik untuk menginspeksi area perkebunan atau untuk bertamasya ke luar area PG.

Bekas kamar mandi.
Bekas dapur.
Di belakang garasi tadi, terdapat bangunan tambahan atau bijgebouwen yang terhubung bangunan utama dengan sebuah selasar. Di bangunan ini, terdapat sel kamar pembantu, gudang, dapur, dan kamar mandi. Saya sendiri mencoba untuk masuk ke bagian ini. Terlihat rumput-rumput liar yang memenuhi halaman belakang. Ruangan di dalam terasa lembab, gelap dan kotor karena sudah lama tidak dipakai.

Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah utara rel.
Batangan rel lori yang dijadikan pagar.
Bergerak ke selatan, mendekati arah rel, tampak sebuah rumah tua yang berdiri di tengah-tengah halaman rumput yang bisa dikatakan sangat luas dengan pagar pembatas menggunakan bekasl rel lori. Bentuk rumah ini mirip dengan bangunan Puskesmas dan Balai Panti Rehabilitasi yang ada di utara lapangan tadi.  Aslinya, rumah ini memiliki rumah kembar di samping timurnya dan saling berbagi tembok. Namun rumah yang di sebelah timur ini sudah dibongkar. Orientasi rumah ini menghadap ke selatan, ke arah jalur kereta Surakarta-Madiun. Jika cuaca sedang cerah, pemandangan akan terlihat indah karena Gunung Lawu akan terlihat dari sini.


Di perkampungan inilah dahulu PG Kedungbanteng berdiri.
Setelah menyusuri rumah-rumah ini, kita akan bergerak ke timur untuk melihat sudah menjadi apa PG Kedungbanteng saat ini. Rupanya Pabrik Gula Kedungbanteng sudah menjelma menjadi pemukiman penduduk. Tidak ada lagi yang tersisa dari pabrik gula ini selain saluran air dan toponim Mbabrik dari kata pabrik yang menjadi nama kampung ini.

Bekas jembatan lori. Foto oleh Aga Y.P.
Salah satu hal yang menarik dari PG Kedungbanteng ini adalah penempatan rumah-rumah dinas pegawainya yang sudah tidak menggunakan konsep panopticon lagi, dimana rumah-rumah dinas dibangun menghadap ke arah pabrik untuk memudahkan pengawasan. Kita lihat sendiri tadi sebagian besar rumah dinas menghadap ke tengah lapangan sehingga tampak menghasilkan pola radial dan sisanya dibangun menghadap ke arah jalan menuju pabrik. Selain itu, biasanya bangunan-bangunan rumah dinas dibangun pada jalan yang sudah ada. Namun untuk PG Kedungbanteng, pembangunan jalannya tampaknya juga bersamaan dengan pembangunan rumah dinas, sehingga kompleks rumah dinas PG Kedungbanteng tampak seperti kompleks perumahan baru. Tampaknya pembangunan kompleks rumah dinas PG Kedungbanteng mengikuti trend pembangunan pemukiman Eropa baru di kawasan perkotaan.
Bangunan yang diduga kantor adminsitrasi PG Kedungbanteng.
Nah, kemudian untuk gaya arsitektur rumah-rumah yang ada di PG Kedungbanteng ini sendiri menggunakan gaya arsitektur transisi yang muncul dari tahun 1900 hingga tahun 1920an. Salah satu cirinya yakni fasad depan yang sudah tampak tidak simetris lagi dan hilangnya pilar-pilar bergaya klasik di bagian depan (Handinoto, 2010 ;145).

Begitulah hasil penelusuran saya pada jejak-jejak PG Kedungbanteng, sebuah pabrik gula dengan nasib yang mengalami pasang surut dan kini tenggelam dalam arus sejarah. Meskipun PG Kedungbanteng masih menyisakan jejak beberapa bangunan rumah dinas yang masih berdiri kokoh, tapi sebagian besar bangunan tadi dalam kondisi terlantar. Oleh karena itulah butuh kepedulian dari pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan salah satu peninggalan sejarah yang menjadi saksi kejayaan industri gula di Sragen ini. Ingat, kehilangan sebuah peninggalan sejarah bukan generasi sekarang yang akan merasakannya, tapi generasi masa depanlah yang akan merasakannya. Bukannya tidak mungkin jika misalnya peninggalan sejarah ini hilang, generasi masa depan nanti akan mengutuk kita yang hidup di masa sekarang karena ketidakmampuan kita untuk menjaganya.

Referensi

Algemeen Handelsblad, 13 Juli 1924.

Bataviasch Nieuwsblad, 20 Juni 1929.

De Indische Courant, 25 Februari 1932.

Handinoto. 2010. Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Studi Kasus Komplek Bangunan Militer di Jawa Pada Peralihan Abad 19 ke 20) dalam Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Graha Ilmu. Yogyakarta. 

4 komentar:

  1. Kalau pabrik gula kedung banteng didirikan tahun 1924, berarti mbah Gotho bukan orang tertua di dunia dong ya. Menurut sebuah artikel, umur mbah Gotho diperkirakan 146 tahun pada tahun 2017, berdasarkan keterangan beliau bahwa beliau ikut menyaksikan pembangunan pabrik gula tersebut pada umur 10 tahun. Artikel tersebut menyatakan bahwa pabrik gula kedung banteng didirikan tahun 1880.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul. Dengan demikian mbah gotho itu bukan manusia tertua di dunia. Kadang saya heran dengan media massa sekaranh yang kurang melakukan riset dan langsung bikin kesimpulan tanps dikritisi.

      Hapus
    2. Artikel-artikelnya sangat menarik dan bermanfaat terutama untuk pecinta sejarah seperti saya mas, lengkap dengan bukti dokumen-dokumen dan foto-foto. Makasih, keep posting.... :)

      Hapus
    3. Terima kasih atas apresiasinya :)

      Hapus