Minggu, 06 November 2016

Mengintip Keperkasaan Benteng Van den Bosch Ngawi

Aliran Sungai Bengawan Solo yang kecokelatan mengalir liuk laksana ular naga dari hulunya di lereng Lawu sebelum akhirnya bemuara di Laut Jawa. Di salah satu tepiannya, sebuah benteng tua masih berdiri menunjukan keperkasaanya sekalipun usianya lebih dari seabad lamanya. Itulah Benteng Van den Bosch Ngawi. Seperti apakah cerita dibalik benteng yang namanya diambil dari nama seorang Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ini ?
Sungai Bengawan Solo.
Petugas karcis itu tampak tidak seperti petugas karcis pada umumnya. Duduk di semacam pos jaga militer, berambut cepak, postur tubuhnya tegap, dan raut wajah terlihat sedikit garang ketika ia menyerahkan karcis kepada saya. Sosok petugas karcis itu lebih menyerupai seorang tentara. Di dalam benak, saya bertanaya, benteng ini sebenarnya obyek wisata atau kompleks militer ? Sekalipun benteng Van den Bosch merupakan obyek wisata unggulan Ngawi, tapi area pintu masuk benteng ini masih masih dikuasai oleh instansi militer setempat. Maka jangan heran jika beberapa tempat di sekitar benteng tak bisa sembarang dimasuki.
Bekas raveline.
Bekas parit pertahanan.
Sisa gundukan tanah yang melindungi benteng.
Jalan yang ditempuh dari pintu masuk ke area utama benteng lumayan jauh. Tatkala saya sedang melangkah ke arah benteng, saya menjumpai sebuah struktur bangunan yang berdiri sendiri di ujung sebuah lapangan. Itulah raveline benteng Van den Bosch Ngawi. Kegunaan struktur ini ialah untuk memberi perlindungan ekstra pada area di luar benteng. Pada abad ke-18, bentuk raveline apabila dilihat dari atas berbentuk segitiga. Namun memasuki abad ke-19, bentuk raveline berubah menjadi trapesium.
Pintu gerbang benteng.
Katrol yang dipakai untuk menarik jembatan angkat.
Semakin mendekati benteng, jalan tiba-tiba sedikit menurun, namun jalan menanjak kembali. Apa yang baru saja lewati dulunya merupakan parit benteng. Parit ini dulunya berair, namun kini ia sudah tertimbun tanah. Lalu untuk menyeberangi parit, ada sebuah jembatan angkat di atasnya, namun jembatan itu sudah tiada. Setelah “menyeberangi” parit, kini saya sudah berada di depan bangunan yang merupakan gerbang masuk pertama benteng. Di sini, saya menjumpai roda katrol yang dulu digunakan untuk mengangkat jembatan yang dulu melintang di atas parit. Di samping kanan dan kiri bangunan gerbang, terdapat gundukan tanah yang mengelilingi benteng dan tingginya nyaris sepadan dengan tinggi bangunan benteng. Gundukan tanah inilah yang menjadi perisai utama benteng ini dari terjangan musuh. Kenapa ia tidak menggunakan dinding batu saja yang mungkin lebih kuat ? Dinding bata rupanya tidak menjamin daya tahan sebuah benteng dari hantaman peluru meriam. Perkembangan teknologi artileri semakin membaik. Tembakan lebih tepat mengenai sasaran dan daya hantamnya kian kuat. Dinding-dinding batu itu pun langsung hancur menjadi debu. Akhirnya diketahui bahwa ternyata gundukan tanah yang tebal jauh lebih efektif daripada tembok bata karena sifat tanah yang lembut dapat menyerap pukulan peluru. Selain sebagai sarana pertahanan, ia juga berguna untuk melindungi benteng dari luapan air Sungai Bengawan Solo. Karena dari luar benteng ini seolah tertutup oleh gundukan tanah, maka benteng ini kadang disebut dengan Benteng Pendem Ngawi.
Bangunan utama benteng.
Sudah sekian lama saya mengimpikan untuk bisa berkunjung ke benteng ini. Sekarang, di depan saya sudah berdiri bangunan utama benteng Van den Bosch Ngawi yang tampak perkasa walau sudah dimakan usia. Di atas lengkung pintu masuknya, tertera sengkalan yang menunjukan rentang tahun benteng ini dibangun, “1839-1845”. Keperkasaan benteng ini adalah seakan menjadi simbol betapa perkasanya kekuatan pemerintah kolonial di masa itu setelah perlawanan Pangeran Diponegoro berhasil dipatahkan. Namun di balik keperkasaanya, tersimpan rasa kekhawatiran jika suatu hari nanti kekuasaan pemerintah kolonial di sini justru ditumbangkan oleh kekuatan dari luar. Angan saya sejenak melangkah ke belakang, ke masa ketika para insinyur zeni sedang merancang benteng ini…
Johannes Van Den Bosch (2 February 1780 – 28 January 1844), Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang memprakarsai sistem cultuurstelsel atau tanam paksa. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah benteng di Ngawi (sumber : commons.wikimedia.com).
Sembilan tahun sudah Perang Jawa berlalu. Perjuangan Pangeran Diponegoro dipatahkan dan sang pangeran diasingkan. Perhatian pemerintah kolonial kini dialihkan kepada bagaimana cara agar mereka bisa memulihkan kas yang sudah terkuras habis oleh perang tadi. Lalu, tersebutlah seorang jenderal veteran Perang Jawa mengajukan sebuah gagasan yang di kemudian hari dikenal sebagai tanam paksa, cultuurstelsel. Jenderal yang selanjutnya menjadi pucuk penguasa Hindia-Belanda itu bernama Johannes van den Bosch. Setelah masalah keuangan diatasi, muncul kembali sebuah masalah baru. Bagaimanakah mempertahankan kuasa mereka di Jawa dari serbuan bangsa asing ? Pada saat pemerintah kolonial menggalakan tanam paksa, keadaan dalam negeri kerajaan Belanda sedang kacau akibat revolusi Belgia. Mereka gusar jika kerajaan Eropa lain berusaha mengintervensi wilayah daratan Belanda dan gejolak meluas hingga ke tanah jajahannya. Pemerintah kolonial ternyata belajar dari pengalaman pahit ketika pertahanan Jawa dijebol begitu mudahnya oleh Inggris pada tahun 1811. Salah satu faktor paling berpengaruh ialah tiadanya sistem pertahanan yang kuat di Jawa. Dulunya, VOC telah mendirikan benteng-benteng kuat di sepanjang kota-kota pesisir. Tapi Gubernur Herman Wilhelm Daendels dengan gegabah memerintahkan agar benteng-benteng tadi dibongkar. Daerah pesisirpun akhirnya tak menjadi lemah, sementara sarana pertahanan di pedalaman amatlah minim. Hal itu diperparah dengan jumlah dan mutu angkatan bersenjata mereka yang payah sehingga Pulau Jawa diterjang begitu mudahnya oleh Inggris.
Peta kota Ngawi. Terlihat benteng van den Bosch terletak di ujung dari inti kota Ngawi. Letaknya berada di pertemuan dua sungai, memberikan keuntungan perlindungan. ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Berangkat dari pengalaman pahit itu, Van den Bosch menginisiasi sebuah sistem pertahanan skala besar yang mencakup teritori pesisir dan pedalaman. Insinyur zeni Colonel Van der Wijk diberi amanat oleh Van den Bosch untuk mendirikan benteng-benteng baru di pesisir seperti di Surabaya, Batavia, dan Semarang. Van den Bosch nyatanya tak hanya mendirikan benteng di pesisir saja, namun juga di pedalaman. Setidaknya ada tiga benteng baru yang dibangun, yakni Benteng Cocchius di Gombong, Benteng Willem I di Ambarawa, dan  Benteng Van den Bosch di Ngawi. Benteng-benteng di pedalaman ini memainkan peranan sebagai garis pertahanan cadangan andaikata wilayah pesisir sudah dikuasai musuh.
Benteng Van Den Bosch pada tahun 1940. Ketika foto ini dibuat, benteng ini diubah sebagai penjara militer (sumber : media-kitlv.nl).
Memasuki abad 20, benteng bikinan Van der Wijk di Jawa itu rupanya dianggap sudah primitif dan tak layak lagi sebagai garnisun tentara. Tahun 1905, benteng-benteng ini dibebastugaskan sebagai sarana pertahanan. Benteng Van den Bosch Ngawi sendiri akhirnya dialihfungsikan menjadi penjara hingga tahun 1962. Di masa penjajahan Jepang, Benteng Van den Bosch Ngawi sempat dijadikan kamp interniran dengan daya tampung 1.580 orang. Mereka yang diinternir terdiri dari pria dewasa, perempuan, dan anak-anak, termasuk di antaranya adalah pejabat tinggi kolonial. Pada tahun 1944, para internir dipindah ke Cimahi. Sesudah kemerdekaan, benteng ini menjadi markas dan gudang amunisi Batalyon Armed 12. Lingkungan sekitar benteng kadang digunakan sebagai area latihan tentara. Selanjutnya di tahun 1970-1980, benteng ini ditinggal dalam kondisi kosong. Selama rentang waktu itulah banyak bagian benteng yang mulai hilang seperti lantai kayu dan jendela. Setelah terbengkali dalam waktu lama dan aksesnya tertutup untuk umum, kini ia bisa dikunjungi sebagai obyek wisata. Tahun 2012, pemerintah Kabupaten Ngawi berupaya menata kawasan benteng Van den Bosch untuk dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi di Kabupaten Ngawi ( Kurniawan, Hari. 2013;5 ).
Citra satelit benteng Van den Bosch. Garis merah merupakan bekas ravelin. Sementara garis kuning merupakan tanggul tanah.

Pola tata ruang benteng utama Van Den Bosch.
Kembali lagi ke masa sekarang, langkah kaki saya mulai bergerak masuk ke dalam benteng, melewati portrait besar Gubernur Jenderal van den Bosch yang tertempel di lorong masuk. Di dalam benteng ini, ada dua buah lapangan yang dikelilingi oleh reruntuhan bangunan yang masih terlihat kokoh. Salah satu reruntuh itu adalah sebuah bangunan Indis Neo-Klassik dengan pilar-pilar bundarnya yang besar. Tampaknya reruntuh ini dulunya merupakan tempat tinggal dari komandan benteng. Memasuki reruntuh itu, saya menjumpai lantai tegel lawas yang berpola seperti papan catur. Di belakang reruntuhan ini, masih ada sebuah reruntuhan yang dulunya dipakai sebagai dapur umum. Dapur umum ini memasak makanan yang disediakan untuk para penghuni benteng beserta keluarganya. Entah berapa kayu bakar yang dihabiskan untuk kegiatan masak besar yang berlangsung setiap harinya itu.
Banunan neoklassik di dalam benteng.
Lantai bagian dalam.
Bekas pos jaga.
Reruntuhan dapur umum.
 Sinar matahari yang terik mulai terasa membakar tatkala saya berdiri di lapangan tengah benteng. Tepat di seberang selatan bangunan tadi, terdapat sebuah reruntuh bangunan berlantai dua yang saya asumsikan sebagai kantor, kantin militer dan mungkin juga rumah sakit. Dari lapangan ini, bekas tempat jam terlihat bertengger di atas pintu masuk. Dulu, dentang lonceng jam itu dapat terdengar hingga luar benteng. Sayapun membayangkan kembali ke masa lampau, di lapangan yang sama, saya berdiri bersama barisan serdadu yang terdiri dari orang Eropa, Ambon, Manado, Madura dan Jawa. Di masa itu, kesatuan militer dari berbagai suku bangsa adalah hal yang jamak ( Novida Abbas, 2007; 49).
Reruntuh bangunan di selatan lapangan.
Lapangan benteng. Tampak bekas tempat jam di atas pintu masuk.
Benteng ini pada dasarnya terdiri dari empat buah bangunan barak terpisah yang disusun mengelilingi sebuah lapangan dan dua bangunan besar di tengahnya. Barak-barak ini dipisahkan berdasarkan kompinya “ untuk mencegah prasangka, ketidakpuasan, dan segala pikiran buruk prajurit Bumiputera” jelas Dabry de Thiersant, seorang orientalis yang banyak menulis soal militer Hindia-Belanda abad 19. “Sehingga perbuatan yang menyimpang atau perlawanan dapat segera ditumpas orang Eropa yang memahami dan keributan tidak menyebar”, sambungnya ( Santosa, 2016 ; 142 ). Setiap barak disambungkan oleh sebuah jembatan yang ada di lantai dua. Sebagai penyesuaian dengan iklim tropis, maka barak-barak itu dilengkapi dengan beranda luar. Sementara itu, bagian atap bangunan ini dibuat datar atau papak, sehingga dari tempat ini, prajurit dapat berjalan mondar-mandir memantau keadaan sekitar benteng.
Bangunan-bangunan barak yang sudah ditutup dinding baru untuk sarang walet.
Bangunan barak yang sudah hancur.
Bangunan barak yang masih dipakai sebagai tempat tinggal.
Masing-masing barak, dulunya dihubungkan oleh sebuah jembatan. Kini tinggal satu jembatan saja yang tersisa.
Sebuah sudut benteng.
Meskipun sebagian besar benteng tinggal reruntuhan, namun setidaknya, ia bisa mengungkap bagaimana teknologi susun bangun yang digunakannya. Secara keseluruhan, benteng ini terbuat dari bata merah. Karena teknologi tulang besi belum ditemukan pada waktu itu, maka beban susunnya hanya bergantung pada dinding bata yang tebal saja. Untuk mengurangi beban tersebut, maka dibuatlah susunan melengkung. Reruntuh susunan lengkung ini seolah mengingatkan saya pada reruntuh saluran akuaduk kuno bangsa Romawi, bangsa yang menemukan teknologi susun lengkung yang masih dipakai berabad-abad kemudian dan kini ia dipakai di benteng yang saya kunjungi ini.
Beranda lantai dua yang masih tersisa.
Toilet komunal.
Dinding benteng yang mulai dirambati oleh tanaman liar. Memberikan keeksotisan tersendiri.
Susunan lengkung yang banyak dijumpai pada benteng ini.
Sisa beranda.
Sayapun mencoba untuk menaiki beranda lantai dua pada salah satu bangunan barak lewat sebuah tangga. Di bawah tangga itu ada sebuah ceruk kecil yang dulu digunakan sebagai penjara. Bau kotoran kelelawar segera menyeruak dari dalam ruang-ruang yang dulu menjadi tempat tinggal prajurit beserta keluarganya.  “Para pria, perempuan, dan anak yang tinggal satu barak, makan bersama, menyiapkan makanan dan membersihkan barak dilakukan bergiliran oleh perempuan, dan mereka tunduk pada hukum militer“, jelas Dabri de Thiersant yang membeberkan kehidupan keluarga serdadu dalam tembok barak. Sayang, ia tak memberi catatan apapun tentang perselingkuhan atau penelantaran anak yang sering dilakukan oleh para serdadu ( Santosa, 2016 ; 142 ).
Tampak luar bekas gudang mesiu.
Setelah bagian dalam kelar saya jelajahi, saya beranjak ke arah timur benteng, area yang jarang dikunjungi oleh banyak orang. Dari area inilah saya dapat melihat bagian luar benteng secara keseluruhan dan mungkin bagian yang tak jelas terlihat dari dalam benteng seperti bekas gudang mesiu yang terletak di setiap pojok benteng. Gudang-gudang itu sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mesiu yang disimpan tidak mejan akibat lembab. Oleh sebba itulah, hingga tahun 70an, ia masih digunakan oleh TNI untuk media penyimpanan mesiu.

Kini, saya berjalan perlahan meninggalkan benteng, kembali bersua dengan petugas karcis bertampang sangar tadi. Sekalipun benteng ini sudah kehilangan masa lalunya, namun saya percaya ia akan tetap berdiri perkasa hingga beberapa generasi ke depan, dengan sungai Bengawan Solo yang mengalir tenang di bawahnya….

Referensi
Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta ; Graha Ilmu.

Hari Kurniawan. 2013. Laporan Observasi Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi. Komunitas Roemah Toea. Yogyakarta.

Abbas, Novida. 2007. “ Organisasi Kemiliteran Pada Masa Pengaruh Islam dan Kolonial di Jawa dalam Berkala Arkeologi Tahun XXVII No.2 / Tahun 2007.


https://www.indischekamparchieven.nl/en/search?mivast=963&mizig=276&miadt=968&miaet=14&micode=kampen&minr=1395940&milang=en&misort=unittitle%7Cdesc&mizk_alle=ngawi&mif1=East%20Java&miview=ika2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar