Minggu, 13 November 2016

Pabrik Gula Kedungbanteng, Sejumput Jejak Sejarah di Tapal Batas Sragen


Sragen, dalam catatan sejarah yang pernah saya baca, memiliki dua pabrik gula yang pernah didirikan oleh Belanda. Pertama adalah PG Mojo, pabrik gula di tengah kota Sragen yang kini langkahnya sedang tertatih-tatih dan kedua ialah PG Kedungbanteng, yang terletak di ujung timur Sragen. Tulisan Jejak Kolonial kali ini akan mengangkat Pabrik Gula Kedungbanteng yang barangkali sudah lekang dari ingatan orang-orang. Inilah kisah dari sejumput jejak sejarah di tapal batas Sragen….
Lokasi situs PG Kedungbanteng dilihat dari citra satelit dari Google Map.
Keterangan :
Panah kuning : Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang masih tersisa.
Kotak kuning : Letak PG kedungbanteng.
Lingakran merah :  Letak emplasemen lori
Berdurasi sekitar 30 menit dari kota Sragen, Pabrik Gula itu terletak di Desa Gondang Pabrik, Kecamatan Gondang, Sragen. Letaknya amat dekat dengan perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur sehingga melangkah dua setengah kilometer ke timur, sudah memasuki wilayah provinsi Jawa Timur.
Lapangan Gondang, salah satu saksi kejayaan PG Kedungbanteng.
Suatu hari di tahun 2016, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, awan putih tipis terlihat menggelayut di langit Desa Gondang yang berwarna biru merona dengan sinar mentari yang tak begitu terik. Semesta tampaknya mendukung lawatan saya ke eks PG Kedungbanteng, dimana langit yang biasanya mendung, kali ini begitu cerah. Lawatan itu sebenarnya merupakan lawatan kedua saya di eks PG Kedungbanteng setelah lawatan pertama di tahun 2015 silam. Lawatan kedua ini saya lakukan di sela-sea waktu Kuliah Kerja Nyata, dimana desa tempat saya ditempatkan letaknya tidak terlalu jauh dari eks PG Kedungbanteng. Di desa KKN saya, sesudah shalat Ied memang tidak ada tradisi silahturahmi keliling tetangga sebagaimana di tempat lain dan tradisi itu biasanya dijalankan di hari kedua. Lantaran itulah, sesudah shalat Ied saya memutuskan untuk melawat kembali ke eks PG Kedungbanteng.
Foto udara PG Kedungbanteng.
Sebuah pariwara lowongan pekerjaan di harian Bataviasch Nieuwsblad tanggal 25 Februari 1925. Tampak ada lowongan untuk pekerjaan sebagai chemker di PG Kedungbanteng
PG Kedungbanteng, nama pabrik gula ini tentu sudah tidak banyak orang Sragen yang mengenalinya. Apabila ditanya tentang pabrik gula yang pernah ada di daerahnya, biasanya mereka akan merujuk ke PG Mojo yang ada di tengah kota Sragen. Wajar saja jika PG Kedungbanteng kalah tenar dibandingkan PG Mojo, karena PG Kedungbanteng telah lama lenyap ditelan bumi. Menelisik sejarahnya, di tahun 1926, sebuah sindikat perkebunan partikelir, N.V. Cultuurmaatschappij Lawoe yang berkantor pusat di s'Gravnehage memutuskan mendirikan sebuah pabrik gula di dekat pusat Distrik Gondang Sragen. Tempat itu sengaja dipilih karena di sana dekat dengan pusat pemerintahan distrik Gondang yang ramai penduduk, sehingga mereka dapat mengangkat penduduk sekitar sebagai karyawan pabrik dengan upah murah. Letaknya berada di pinggir jalur kereta Surakarta-Surabaya milik Staatspoorwegen, sehingga boleh jadi pabrik itu dibangun di sana guna mempermudah proses pembangunan pabrik yang material dan mesin pengolahnya didatangkan dari Surabaya serta untuk membantu distribusi hasil olahan. Selain itu, di dekat pabrik terdapat Sungai Sawur yang dapat dipakai sebagai sarana pembuangan limbah. Mulanya pabrik akan dibangun di sebelah selatan jalur kereta, namun rencana itu urung diwujudkan. Untuk tanahnya, N.V. Cultuurmaatschappij Lawoe memiliki lahan seluas 5346 bouw. Karena berada di wilayah Vorstenlanden dimana perusahaan swasta dilarang membeli tanah, maka N.V. Cultuurmaatschappij Lawoe mengontrak tanah kepada Kasunanan dalam jangka waktu 139 tahun ( Ockers, 1934; 242 )
Peta PG Kedungbanteng tahun 1930 (sumber : maps.libary.leiden.edu).
Kala PG Kedungbanteng dibuat, perkebunan tebu menjadi primadona para pengusaha Belanda karena keuntungan yang ditawarkan amat tinggi. Berbagai tempat di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, bermunculan pabrik-pabrik gula yang asap hitamnya membumbung tinggi ke langit. membuat pekat langit Jawa di kala musim giling. Di tahun 1930an,tercatat ada 179 pabrik gula yang dulu pernah beroperasi. Pabrik-pabrik itu memberi kemakmuran bagi pengusaha Eropa dan pemerintah lewat pajak yang ditarik, namun gagal mengangkat taraf kesejahteraan para petani kecil karena mereka tak dapat mengolah lahannya sendiri.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah timur Koramil Gondang.

Puskesmas Gondang.
Balai Rehabalitasi Disabilitas Grahita dan Ganda “ Rahardjo".
Saya sekarang berdiri di salah satu tepi lapangan kecamatan Gondang yang amat luas itu. Di sekeliling lapangan itu, berdiri rumah-rumah tua eks kediaman pegawai pabrik, tengara PG Kedungbanteng yang masih dapat disaksikan sampai sekarang. Beberapa di antaranya kondisinya relatif baik seperti rumah yang sekarang ditempati Puskesmas Gondang dan  Balai Rehabalitasi Disabilitas Grahita dan Ganda “ Rahardjo”. Namun ada pula yang tidak terawat seperti bangunan di belakang seberang Koramil Gondang.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di dekat Koramil Gondang.
Bekas paviliun yang kini disulap menjadi gilingan padi.
Pola jalan di kompleks perumahan PG Kedungbanteng sudah tertata apik dan rapi. Pola lama dimana rumah – rumah dibikin menghadap ke arah pabrik tampaknya telah ditinggalkan ketika PG Kedungbanteng dibangun. Sebagai gantinya, rumah-rumah itu dibikin menghadap ke tengah lapangan. Pembangunan kompleks PG Kedungbanteng beriringan dengan pembangunan kompleks permukiman baru di kota-kota besar yang seringkali mencoba pola baru dalam penataan kawasannya untuk menghasilkan kenyamanan. Barangkali pendiri PG Kedungbanteng ingin menciptakan sebuah lingkungan hunian yang nyaman untuk para pegawainya seolah mereka tinggal di tengah kota.
Bekas rumah administrateur yang saat ini menjadi kantor kecamatan Gondang.
Bagian belakang kantor kecamatan Gondang. Tampak cerobong asap di atas atap.
Beringsut ke sisi timur lapangan, saya menjumpai gedung yang kini menjadi kantor Kecamatan Gondang. Halamannya begitu luas, nyaris seluas lapangan Gondang. Atap limas dengan teritisannya yang lebar menjulang tinggi. Melihat ukuran rumah yang lebih besar daripada rumah-rumah yang saya jumpai di sekitar lapangan tadi dan luas halaman depannya, saya berasumsi jika ia dulunya ditempati oleh administrateur atau kepala PG Kedungbanteng. Dari gayanya yang lugas namun elegan, jelas ia dibangun sekitar tahun 1920an, masa ketika pengaruh arsitektur modern mulai masuk ke Hindia-Belanda. Lantaran hari sedang libur, tak terlihat tanda-tanda aktivitas di sekitar situ dan pintu-pintunya terkunci rapat. Alhasil, tiada kesempatan untuk saya mengintip bagian dalam bangunan itu.
Lapangan tenis.
Persis di belakang kantor kecamatan tadi, terhampar lapangan tenis dengan jalinan kawat yang memagarinya. Saya menerka jika lapangan tenis ini telah ada sejak masa para meneer pegawai PG Kedungbanteng berdiam di rumah-rumah tua itu. Kehadiran lapangan tenis di lingkungan pabrik gula Belanda merupakan hal yang biasa karena olahraga tenis kala itu digandrungi orang-orang kulit putih. Di zaman ketika hiburan tidak sebanyak sekarang, tenis menjadi sarana untuk memecah kejemuan rutinitas kerja, apalagi untuk pegawai pabrik gula yang tinggal jauh dari pusat keramaian. Sayapun membayangkan dulu di zaman Belanda pada suatu sore yang cerah, sang tuan adminsitrateur bermain tenis dengan para pegawai lainnya. Orang-orang kulit putih berpandangan bahwa tenis adalah olah raga eksklusif untuk orang barat. Sebab itulah, orang-orang pribumi itu hanya dapat melihat para meneer menganyunkan raketnya dari luar pagar. Orang pribumi paling banter menjadi pesuruh yang bertugas mengambil bola tenis dan membersihkan lapangan.
Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng di sebelah utara rel.
Setapak jalan berlumpur menjurus ke sebuah rumah tua yang terletak di tengah sebidang halaman yang amat luas. Halaman itu dibatasi oleh pagar-pagar yang terbuat dari batang-batang besi rel lori. Sejatinya rumah itu memiliki pasangan rumah dengan bentuk serupa yang terletak di samping timur. Namun pasangan rumah itu sudah lenyap. Dengan menghadap ke arah selatan, semburat Gunung Lawu yang elok dapat terlihat jelas dari sini jikalau langit sedang bagus. Sayang, hari itu Gunung Lawu masih sembunyi malu-malu, terbalut kabut putih.



Bangunan rumah dinas PG Kedungbanteng yang ada di sebelah utara kantor kecamatan Gondang.
Di utara kantor kecamatan, bersanding empat buah rumah tua menghadap ke selatan, dimana hanya satu rumah saja yang masih bisa dikatakan terawat, sementara sisanya tampak tercampakan begitu saja oleh pemiliknya. Biarpun terlihat renta dan terlantar, namun keindahan rumah itu masih belum pudar. Secara arsitektur, langgam rumah itu mencerminkan langgam arsitektur transisi, sebuah langgam yang melambangkan kemajuan jagad arsitektur di Hindia-Belanda yang sebelumnya begitu tergantung dengan arsitektur klasik yang menekankan pada penggunaan pilar. Lihatlah, rumah- rumah itu sudah tak dijumpai lagi pilar-pilar di beranda depannya. Langgam arsitektur transisi muncul di Hindia-Belanda sejak di penghujung abad ke-19 hingga tahun 1920an.
Ruangan di bagian belakang.
Tampak belakang.
Garasi.
Bekas kamar mandi.
Bekas dapur.
Perlahan, saya mulai mendekati salah satu bangunan itu, berjalan melalui halamannya yang penuh rumput liar nan tinggi. Terhubung dengan rumah utama melalui sebuah selasar, terdapat bangunan tambahan di samping rumah yang disebut bijgebouwen. Bijgebouwen pada dasarnya terdiri atas kamar pembantu, dapur, gudang, kamar mandi, dan garasi atau kandang kuda. Diletakan terpisah dari rumah utama karena orang Belanda beranggapan kegiatan seperti mencuci dan memasak membuat kebersihan rumah utama berkurang  (Handinoto, 2010 ;145).
Berita dari De Indische Courant 25 Februari 1932 yang memberitakan penutupan PG Kedungbanteng


Di perkampungan inilah dahulu PG Kedungbanteng berdiri.
Di sebelah timur dari rumah-rumah tua itu, terdapat sebuah perkampungan yang bernama Mbabrik. Nama kampung itu sekarang menjadi satu-satunya jejak yang tersisa dari PG Kedungbanteng, selain rumah-rumah tua tadi. Mengapa PG yang besar itu bisa lenyap seketika ? Dalam perjalanannya, nasib PG Kedungbanteng mengalami pasang surut. Dari keterangan warga sekitar, pabrik gula itu sehabis musim giling pertama langsung ditutup. Pasalnya ada konflik di dalam tubuh kepengurusan pabrik. Seusai masalah internal dibereskan, tanggal 19 Juni 1929, PG Kedungbanteng kembali bergiling (Bataviasch Nieuwsblad 20 Juni 1929). Namun belum lama PG itu mencapai masa puncaknya, datang sebuah petaka besar. Permulaan tahun 1930an ketika pasokan gula melimpah di pasaran, jagad industri gula di Jawa diguncang dengan Great Depression atau krisis malaise. Harga gula akhirnya terjun bebas. Maka dibuatlah kesepakatan Charbourne dagar harga gula membaik dengan cara mengurangi produksi gula atau dengan kata lain, menutup pabrik gula. Imbasnya, banyak pabrik gula di Jawa yang menjadi korban kesepakatan Charbourne. Salah satu yang menjadi korban adalah PG Kedungbanteng. De Indische Courant tanggal 25 Februari 1932 mewartakan Van der Wijk Concern selaku pemilik PG Kedungbanteng, telah memutuskan untuk menutup kembali PG Kedungbanteng pada tahun 1932. Namun kali ini untuk selamanya. Paska ditutupnya PG Kedungbanteng, bangunan pabrik diratakan oleh pemiliknya. Sementara rumah-rumah pegawainya barangkali oleh empunya pabrik dijual ke orang lain sehingga rumah itu masih utuh sampai sekarang.
Bangunan yang diduga kantor adminsitrasi PG Kedungbanteng.
Matahari mulai meninggi, tanda saya bergegas meninggalkan situs eks PG Kedungbanteng. Tiada yang tahu bagaimana nasib rumah-rumah tua itu kelak di kemudian hari. Apakah akan ada seorang baik yang membelinya kemudian diperbaiki, dibiarkan merana begitu saja seperti sekarang, atau justru ia akhirnya disingkirkan dengan serta merta sehingga generasi berikut tak dapat menjumpainya lagi ?

Referensi
Algemeen Handelsblad, 13 Juli 1924.

Bataviasch Nieuwsblad, 20 Juni 1929.

De Indische Courant, 25 Februari 1932.

Dr. B. Ocker. 1934. Grondrecht en Grondhuur in Het Gewest Soerakarta. Yogyakarta ; Druk van Kolf en Bunning.

Handinoto. 2010. Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.  

7 komentar:

  1. Kalau pabrik gula kedung banteng didirikan tahun 1924, berarti mbah Gotho bukan orang tertua di dunia dong ya. Menurut sebuah artikel, umur mbah Gotho diperkirakan 146 tahun pada tahun 2017, berdasarkan keterangan beliau bahwa beliau ikut menyaksikan pembangunan pabrik gula tersebut pada umur 10 tahun. Artikel tersebut menyatakan bahwa pabrik gula kedung banteng didirikan tahun 1880.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul. Dengan demikian mbah gotho itu bukan manusia tertua di dunia. Kadang saya heran dengan media massa sekaranh yang kurang melakukan riset dan langsung bikin kesimpulan tanps dikritisi.

      Hapus
    2. Artikel-artikelnya sangat menarik dan bermanfaat terutama untuk pecinta sejarah seperti saya mas, lengkap dengan bukti dokumen-dokumen dan foto-foto. Makasih, keep posting.... :)

      Hapus
    3. Terima kasih atas apresiasinya :)

      Hapus
  2. di gondang sendiri adakah komunitas yang peduli tentang sejarah dan peninggalan2 nya ?
    siap ingin nggabung .trim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sendiri kurang tahu karena saya sendiri bukan asli gondang dan hanya mampir ketika sedang KKN di Sragen. Mungkin ada pembaca lainnya yang tahu ?

      Hapus
  3. tulisan yang bagus dan menarik. terima kasih

    BalasHapus