Kamis, 05 Januari 2017

Benteng Willem II Ungaran, Saksi Bisu Jatuhnya Jawa ke Tangan Inggris

Benteng itu berdiri bergeming, seolah ia tak mempedulikan riuh ramai kendaraan yang melintas di Jalan Diponegoro yang membentang di depannya. Tapi siapa sangka, benteng kecil itu sesungguhnya merupakan saksi bisu dari sebuah peristiwa bersejarah yang sering diajarkan di bangku sekolah. Inilah kisah dari Benteng Willem II Ungaran.
Benteng Willem II, dilihat dari atas. Tampak bentuk benteng yang mirip dengan kincir angin.
Saya sebenarnya hanya berniat untuk melihat benteng ini dari luar saja karena sepengetahuan saya, benteng ini masih belum bisa dikunjungi oleh khalayak umum. Namun niat awal tadi seketika berubah begitu saja tatkala saya mendapati banyaknya kendaraan yang terparkir di depan benteng. Selidik punya selidik, di benteng itu rupanya sedang diadakan suatu kegiatan. Entah apa kegiatannya, selagi ada kesempatan, saya pun segera menjelajahi setiap sudut benteng itu. Tepat di atas pintu gerbangnya yang lumayan besar, terpampang sengkalan dalam huruf Romawi,  “MDCCLXXXVI”, 1786, tahun selesainya benteng itu dibangun. Di dinding samping lorong, terpajang portrait sesosok pria dengan mode pakaian dan rambut abad ke-18 menatap tajam setiap pengunjung yang masuk, seolah ia tak suka dengan kehadiran mereka di sini. Sosok yang sedang saya amati ini tak lain dan tak bukan ialah sosok dibalik berdirinya benteng ini, Willem Baron von Imhoff….
Gubernur Jenderal Willem Baron von Imhoff (sumber : common.wikimedia.com).
Tahun 1741-1743 merupakan tahun yang pilu untuk orang-orang Tionghoa  di Batavia, dimana mereka dibantai tanpa ampun oleh VOC atas perintah Gubernur Jenderal VOC Adrian Valckenier. Pembantaian yang dikenal dengan nama Geger Pecinan itu dilatarbelakangi oleh gelombang kedatangan orang Tionghoa yang ke Batavia yang semakin banyak. Ketika Gubernur Jenderal VOC, Adrian Valckenier mengirim mereka ke Ceylon,tiba-tiba muncul selentingan bahwa orang Tionghoa tidak sampai di Ceylon, melainkan di buang di tengah samudera. Orang Tiongha pun murka dan pemberontakan tak dapat dihindari.  Pemberontakan itu lalu ditumpas oleh Valckenier secara brutal. Pria, wanita, hingga anak-anak dibunuh tanpa belas kasih di sepanjang jalanan Batavia. Bahkan konon sungai Ciliwung sampai berubah warna menjadi merah akibat banyaknya mayat yang dibuang di sana. Setelah peristiwa itu, orang-orang Tionghoa yang masih hidup mengungsi ke Semarang dan sekitarnya. Dari sini, mereka bakal melancarkan serangan balik terhadap kedudukan kompeni VOC dimanapun mereka berada. Singkat cerita, pemberontakan itu akhirnya berhasil dipadamkan setelah VOC berkongsi dengan Susuhunan Pakubuwana II ( Heuken. Adolf, 1997; 83-89).


Peta Ungaran pada tahun 1924. Tampak letak benteng Willem II yang berada di sebelah timur jalan raya yang menghubungkan Semarang dengan wilayah pedalaman (sumber : maps.library.leiden.edu).
Pemberontakan tadi menjadi pelajaran berharga bagi Gubernur Jenderal VOC pengganti Valckenier, Gustaff Willem Baron von Imhoff. Ia memerintahkan pembangunan sebuah benteng kecil untuk mengawasi jalur lalu lintas darat dari Semarang ke wilayah-wilayah pedalaman (Novida Abbas, 1996;50). Karena fungsinya sebagai benteng pengawas, maka di dalam benteng tidak terdapat gudang besar untuk menyimpan komoditas dagang sebagaimana benteng-benteng kompeni di wilayah pesisir. Setelah rampung, benteng itu diberi nama ‘Fort de Ontmoeting’ untuk memperingati pertemuan von Imhoff dengan Susuhunan Pakubuwono II ( Tim Penyusun. 2012; 117).
Denah benteng Willem pada tahun 1825 (sumber : media-kitlv.nl).
Denah benteng Willem berdasarkan denah tahun 1825. Keterangan :
A. Tempat tinggal komandan benteng.
B. Barak.
C. Ruang penjaga.
D. Ruang tinggal polisi militer.
FG : Ruang penjara.
H. Bangunan tambahan.
Rupa benteng ini jika dilihat dari udara amatlah unik. Apabila benteng-benteng lain memiliki bastion atau sudut benteng yang berbentuk belah ketupat, bastion Benteng Willem II memiliki bentuk trapesium siku-siku, sehingga benteng ini terlihat menyerupai sebuah kincir angin. Guna pertahanan tambahan, sebuah parit digali di sekeliling benteng. Namun parit tersebut sudah lama menghilang.
Pintu gerbang sebelah timur yang terbuat dari kayu.
Tangga naik menuju bagian ravelin.
Sarana pertahanan utama benteng ini ialah sebuah tembok setinggi kira-kira 4-5 meter dengan ketebalan kira-kira 80 cm. Di balik tembok itu, terdapat tangga naik menuju bagian rampart, yakni bagian atas dinding benteng tempat para serdadu berpatroli mengawasi keadaan sekitar benteng. Bagian rampart benteng ini juga terhubung dengan lantai dua bangunan yang ada di dalam benteng yang bisa kita masuki lewat undakan kayu. Sayapun segera menaiki tangga tersebut untuk mengetahui bagian atas dinding benteng itu. Dari sini, pemandangan Gunung Ungaran dengan puncak kehijaunnya terlihat amat jelas. Pemandangan ini sesungguhnya adalah pemandangan serupa yang dilihat oleh para serdadu Belanda ketika mereka bersiap-siap menghadapi gempuran Inggris pada pertengahan tahun 1811…
Salah satu bagian bastion benteng Willem II.
Bagian bastion timur laut.
Tahun 1806, sang penakluk dari Perancis, Napoleon Bonaparte, menunjuk saudaranya sendiri, Louis Bonaparte sebagai Raja Belanda. Maka secara tidak langsung, wilayah Pulau Jawa ada di bawah kekuasaan Perancis. Louis kemudian memberi mandat kepada Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda untuk mempertahankan Jawa dari invasi Inggris yang kala itu menjadi musuh bebuyutan Napoleon. Namun kuasa Daendels di Jawa tak berlangsung lama dan ia segera digantikan oleh Janssens. Sayangnya, ketidakcakapan Janssens dalam mengatur strategi dan memimpin pasukan membuat tentara Inggris dibawah komando Jenderal Auchmuty semakin mudah merebut Batavia. Takluk di Batavia, Janssens mundur ke Semarang. Namun sesampainya di sana, ia masih dikejar oleh tentara Inggris sehingga Janssens bersama pasukan memindahkan pusat komandonya ke Benteng Willem II Ungaran. Sayang, jumlah pasukan yang ikut dengannya semakin menipis akibat desersi. Dengan perasaan kecewa, ia memerintahkan pasukannya untuk mundur ke seberang Sungai Tuntang.
Gubenur Jenderal Janssens. Di masa pemerintahannya, Hindia-Belanda akhirnya jatuh ke tangan Inggris (sumber : common.wikimedia.com).
Sir Samuel Auchmuty ( 1756-1822 ), Jenderal Inggris yang menjadi rival Jansen ( sumber : commons.wikimedia )
Pasukan Sepoy, pasukan Inggris yang direkrut dari bangsa India. Sebagian besar pasukan Inggris yang terkibat invasi ke Jawa merupakan pasukan sepoy. ( sumber : collection.nam.ac.uk )
Iwan Santosa dalam bukunya Legiun Mangkunegaran (1908-1942), Tentara Jawa-Perancis Warisan Napoleon Bonaparte , memaparkan bahwa sebelum perintah Janssens ini hendak dijalankan, pasukan Inggris yang sebagian besar terdiri dari tentara sepoy mulai terlihat. Dentuman tembakan meriam pihak penyerbu segera meruntuhkan mental pihak bertahan. Banyak pasukan yang melarikan diri setelah membunuh perwira yang mencegah mereka desersi. Lokasi di sekitar benteng dibakar. Benteng yang hanya diperkuat oleh tembok batu yang tidak terlalu tebal dan delapan pucuk meriam empat pound itu mulai dikelilingi kobaran api sehingga pihak bertahan mulai khawatir jika persedian mesiu di dalam benteng terbakar dan meledakan benteng tersebut. Setelah persenjataan di dalam benteng dibongkar dan Inggris terlihat berhenti mengejar, Janssens meninggalkan benteng ini. 26 Agustus 1811 dini hari, beberapa desertir mendatangi kemah Jenderal Rollo Gillespie dan menawarkan diri untuk membantu Inggris. Setelah melalui pertempuran sengit, benteng itu akhirnya takluk. Bendera Union Jack pun akhirnya berkibar di atap benteng.
Jenderal Rollo Gillespie, jenderal Inggris yang berhasil merebut benteng Willem dari tangan Belanda ( sumber : commons.wikipedia.com ).
Lalu bagaimana nasib Janssens ? Setibanya di Tuntang, Janssens mendapati jumlah pasukan yang masih setia dengannya sangat sedikit. Akan menjadi suatu hal yang nekad jika dengan pasukan sekecil ini ia masih melawan Inggris. Satu-satunya jalan yang tersedia untuk Janssens hanyalah menyerah. Demikianlah, dengan berat hati dan terpaksa, Janssens menerima kapitulasi yang diajukan oleh Auchmuty. Lewat kapituliasi pada tanggal 18 September 1811 ini, kuasa Pulau Jawa diserahkan kepada Inggris  (Iwan Santosa,2011; 127-129).
Bangunan untuk tempat tinggal komandan benteng.
Jendela kayu.
Setelah puas mengelilingi dinding benteng, saya melanjutkan penjelajahan ke bagian dalam benteng. Karena ukurannya yang tidak terlalu luas, maka tidak begitu banyak pula bangunan yang berdiri di sini. Di sebelah barat benteng, terdapat bangunan bertingkat dua yang dahulu digunakan sebagai barak dan ruang penjaga. Lalu di tengah-tengah benteng terdapat sebuah lapangan kecil yang menjadi tempat diadakannya apel prajurit. Beranjak ke sebelah timur, terdapat sebuah bangunan berlantai dua yang dahulu menjadi tempat tinggal komandan benteng. Di lantai dua bangunan ini, terdapat serambi yang cukup luas. Dahulu, sebelum ada bangunan baru yang berdiri di sebelah timur benteng, pemandangan lembah Ungaran dapat dilihat secara jelas dari sini. Bagian lantai pertama dari bangunan ini sekarang digunakan sebagai klinik milik kepolisian. Sementara itu, di sebelah utara dan selatan benteng, terdapat bangunan kecil untuk fasilitas pendukung benteng seperti gudang amunisi, latrine atau toilet untuk tentara dan komandan, dan penjara. Dibandingkan dengan bagian benteng yang lain, bagian ini sudah banyak mengalami perombakan.
Bekas bangunan barak tentara.
Peranan Benteng Willem II mulai bekurang semenjak Belanda mendirikan sebuah benteng baru yang lebih besar di Ambarawa. Benteng itu bernama Benteng Willem I. Kini benteng Willem II mulai menikmati peran barunya sebagai benteng tetirah untuk para serdadu yang ingin memulihkan raganya. Pada masa itu, banyak serdadu yang berdinas di garnisun Semarang mengidap penyakit tropis akibat buruknya kondisi lingkungan. Agar penyakit yang diderita serdadu itu tidak menular ke yang lain, sejak tahun 1840, serdadu yang sakit "dibuang" ke Benteng Willem II Ungaran yang lingkungannya lebih sehat dan jauh dari permukiman. Tentara yang bertugas di sini juga semakin sedikit. Akhirnya pada tahun 1865, benteng Willem II dicoret oleh militer Belanda sebagai sarana pertahanan dan sepenuhnya diperuntukan sebagai tempat terirah hingga tahun 1908 ( Tim Penyusun, 2012; 120-123).
Kondisi benteng Willem II pada tahun 1930an. Pada waktu foto ini dibuat, benteng ini sudah berusia cukup tua sehingga sebagian bangunan benteng mulai rusak.
Banguan sebelum direnovasi (sumber : Forts in Indonesia halaman 119).
Kondisi kolom-kolom Yunani yang terdapat pada benteng Willem II sebelum direnovasi (sumber ; Forts in Indonesia halaman 122).
Kemudian, benteng ini diubah menjadi sebuah hotel prodeo alias penjara. Pada periode paska-kemerdekaan, 105 tawanan warga Indo-Eropa ditampung di benteng ini oleh Jepang sebelum mereka dipindah ke Benteng Willem I Ambarawa pada tanggal 23 November 1945. Selanjutnya bangunan benteng dimanfaatkan sebagai kantor polisi dan tempat tinggal keluarga polisi hingga tahun 2007. Ketika sebuah kantor polisi yang baru dibangun di seberang benteng, sebagian keluarga polisi masih tinggal di dalamnya hingga tahun 2008. Setelah itu benteng ini sepenuhnya dalam kondisi kosong dan mulai merana nasibnya. Beruntung, tidak lama kemudian, bangunan benteng dipugar sehingga benteng sarat nilai sejarah ini dapat diselamatkan….


Referensi
Abbas, Novida. 1996. " Penempatan Benteng Kolonial di Kota-Kota Abad XVII-XIX M di Jawa Tengah " dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04 TH. II/1996.

Heuken, A. 1997. Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta : Yayasan Loka Cipta Caraka.

Santosa, Iwan. 2011. Legiun Mangkunegaran (1908-1942), Tentara Jawa-Perancis Warisan Napoleon Bonaparte. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.


Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

4 komentar:

  1. Bagus sekali blog anda. Saya penikmat sejarah jaman penjajahan dulu. Sebenernya saya lebih ke railfans pecinta kereta makanya saya suka segala sesuatu berbau belanda mulai dari, pabrik gula, bengkel kereta api, stasiun tua dll, tapi akhirnya merembet ke segala sesuatu berbau belanda. Keren nih semua artikel disini. Lanjut kan !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah membaca, selama masih ada bangunan kolonial yg bisa dibedah, akan saya lanjutkan

      Hapus
  2. bro, anda keren abis....sebagai warga semarang saya sangat suka dengan artikel di blog anda. Dengan yakin saya akan menjadi pembaca setia blog anda. Terimakasih telah memuaskan dahaga saya terhadap sejarah, terutama sejarah masa kolonial. Anda semacam pahlawan bagi saya. Teruskan karya-karya anda, saudara!

    BalasHapus
  3. Sangat bagus ulasannya, Pak Sanggar..

    BalasHapus