Selasa, 07 Februari 2017

Kepingan Peninggalan Kolonial di Kota Yogyakarta

Semua tentu mengenal Yogyakarta sebagai kota yang masih kental dengan tradisi Jawanya. Tidak salah memang karena sejak ratusan tahun silam, kota ini menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan tradisional Jawa yang dilindungi oleh keraton. Meskipun terdapat pengaruh kolonial pada kekuasaan kraton, tapi pengaruh ini tidak sebesar pengaruh kolonial di tempat-tempat lain. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan memandu anda, untuk menapaki kepingan-kepingan peninggalan kolonial di Kota Yogyakarta yang masih bisa kita lihat. Kira-kira kepingan apa saja yang akan kita temui ?

Sejarah kehadiran Belanda di Yogyakarta

Sebelum kita menapaki berbagai jejak kolonial di Yogyakarta, alangkah baiknya jika kita mengetahui sekilas sejarah berdirinya kota Yogyakarta dan kehadiran masyarakat kolonial di kota ini. Seperti yang kita ketahui, berdirinya kota Yogyakarta sebenarnya merupakan dampak dari konflik antara Pangeran Mangkubumi terhadap Sunan PB III yang menjadi penguasa keraton Surakarta. Konflik ini tercipta akibat tidak puasnya Pangeran Mangkubumi terhadap Sunan PB III yang mendapat pengaruh VOC. Selama enam tahun, terjadi perseteruan antar dua pihak ini. Untuk mengakhiri perseteruan ini, maka pada tahun 1755, dibuatlah Perjanjian Giyanti. Isi perjanjian ini yakni membelah Keraton Mataram menjadi dua dan kemudian Pangeran Mangkubumi mendapat gelar Sultan Hamengkubuwono I (HB I).
Pemandangan jalan Malioboro tahun 1930an. Terlihat suasana jalan jauh lebih lengang dibandingkan di masa sekarang (sumber : media-kitlv.nl).
Setahun kemudian, Sultan HB I mendirikan sebuah keraton baru yang berada di dekat Kotagede,, ibukota pertama Keraton Mataram. Lokasi ini terletak di antara Sungai Winongo di barat dan Sungai Code di timur. Di lokasi inilah yang menjadi cikal bakal Yogyakarta. Dari keraton ini kemudian berkembang sebagai civic center dengan komponen utama kota dan tata ruang sesuai dengan tradisi Jawa seperti alun-alun, masjid agung, keraton dengan tembok kelilingnya, pasar, tempat pesanggrahan raja atau yang dikenal sebagai Tamansari, Tugu, Panggung Krapyak, jaringan jalan, dan pemukiman penduduk yang dibagi berdasarkan jenis pekerjaan, lapisan sosial, dan etnisitas (Inajati, 2009; 132).

Nah, setelah kota Yogyakarta berdiri, rupanya VOC berusaha menyisipkan pengaruh mereka di sini. Hal ini tampak dari usaha mereka untuk membangun sebuah benteng yang kini dikenal sebagai benteng Vredeburg. Benteng ini selain sebagai tempat pengawasan, juga menjadi pos terdepan VOC di wilayah pedalama Jawa. Untuk memantapkan kekuasaan mereka, maka pada tahun 1755-1761, VOC mengangkat C.Donkel sebagai residen (L.F.Dingemans, 1925; 25). Kedudukan residen setara dengan Sultan dan bertanggung jawab atas kehidupan masyarakat barat. Pada awal kehadiran masyarkat barat di Yogyakarta, kesibukan perdagangan dan kehidupan sehari-hari berpusat di dalam benteng (Djoko Soekiman, 2014;2). Hingga tahun 1870, wilayah Yogyakarta yang ditetapkan pemerintah kolonial sebagai wilayah Vorstenlanden. Di Vorstenlanden, para investor barat dapat menyewa tanah para bangsawan dan mendirikan  perusahaan perkebunan swasta berbasis ekspor, sehingga selain terdiri dari tentara dan pegawai pemerintah kolonia, kelompok mayarakat barat juga terdiri atas para pengusaha-pengusaha perkebunan. Salah satu keluarga pengusaha perkebunan di Yogyakarta yang cukup terkenal di masanya adalah Wijnschenk.

Kehidupan masyarkaat barat di Yogyakarta sempat terusik akibat Perang Jawa (1825-1830) yang sebenarnya juga sebagai buah dari kehadiran mereka di sini. Pangeran Diponegoro, tokoh yang memulai Perang Jawa, merasa kehidupan mereka (komunitas kolonial) sudah terlalu merasuk ke dalam kehidupan keraton. Banyak bangsawan Jawa yang meniru kultur barat yang diperkenalkan oleh masyarakat barat tadi seperti minum-minuman keras, sebuah kultur yang tidak disenangi Pangeran Diponegoro yang teguh memegang ajaran Islam. Setelah perlawanan Pangeran Diponegoro berakhir, masyarakat barat mulai menetap di luar tembok benteng.
Kawasan Loji kecil sekitar tahun 1910an 
( sumber : media-kitlv.nl)
Masyarakat barat mulai menetap di kawasan di sebelah timur benteng Vredeburg. Kawasan ini dikenal sebagai Loji Kecil. Disebut Loji Kecil untuk membedakan dengan Loji Besar yang menjadi sebutan pada benteng Vredeburg. Sayangnya, kita sudah tidak bisa melihat bangunan-bangunan lama di kawasan ini .

Keberadaan masyarakat barat semakin banyak setelah UU Liberal diterapkan pada tahun 1870 yang membolehkan para pengusaha dan investor dari Eropa menanamkan sahamnya di Hindia-Belanda. Dengan diterapkannya UU ini, maka terjadi pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pembangunan jalur kereta antara Semarang dengan Vorstenlanden pada tahun 1873 semakin membuat perekonomian di Yogyarkata semakin terbuka, sehingga semakin banyak orang barat yang tinggal di sini. Jumlah kedatangan mereka semakin banyak pada masa pemerintahan Sultan HB VII (1877-1921).



Foto udara kota Yogyakarta sekitar tahun 1930an 
( sumber : Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden)
Seiring dengan perkembangan masyarakat barat di Yogyakarta, maka dibangunlah berbagai sarana seperti rumah tinggal, toko, tempat rekreasi, sekolah, rumah sakit, hotel, bank, penjara, gereja, dan lain sebagainya. Selain tinggal di kawasan Loji kecil, masyarakat barat mulai tinggal menyebar pada kawasan lain di kota ini, mulai dari Bintaran, Kotabaru, Jetis, dan Lempuyangan. Menariknya hampir tidak ada masyarakat barat yang tinggal di sebelah selatan keraton. Beberapa kampung di Yogyakarta ada yang namanya diambil dari nama orang Eropa, misalnya kampung Kleringan yang namanya berasal dari nama Tuan Klierens (Djoko Soekiman, 2014; 172).

Kota Yogyakarta kemudian diduduki oleh Jepang pada tahun 1942. Situasi politik berubah lagi setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Meski sudah merdeka, situasi politik masih belum menentu karena Belanda bisa saja kembali sewaktu-waktu. Benar saja, setelah ibukota RI dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946, Belanda melancarkan agresi militer ke Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 dan menawan para pejabat tinggi RI.  Meski demikian, pemerintah RI sudah mengantisipasi hal ini dengan membentuk pemerintah darurat di Sumatera. Belum genap satu tahun, pendudukan militer Belanda di Yogyakarta berakhir setelah TNI melakukan serangan Umum Satu Maret ke titik penting di kota Yogyakarta. Akibat desakan dari dunia internasional, sebelum Juni 1949, pasukan Belanda ditarik dari Yogyakarta. Pengaruh kolonial di Yogyakarta baru berakhir secara resmi pada tanggal 27 Desember 1949 (Suhartono W.P, dkk, 2002; 155).

Jejak yang tersisa

Setelah mengetahui sejarah dari kehadiran masyarakat kolonial di Yogyakarta. Mari kita mulai menapaki satu demi satu jejak yang tersisa dari kehadiran mereka di sini.

Penelusuran ini akan kita mulai dari kawasan Titik Nol. Kawasan ini sejak lama sudah menjadi jantung dari kota Yogyakarta. Disebut Titik Nol karena menjadi patok jarak pengukuran kota Yogyakarta ke tempat lain. Nah, di kawasan yang ramai oleh kendaraan dan turis ini, kita bisa menemukan banyak bangunan-bangunan dari masa kolonial. Penempatan bangunan kolonial di kawasan ini sebagai bentuk upaya pemerintah kolonial untuk memotong sumbu imajiner Keraton-Tugu, sebuah sikap konfrontatif terhadap lembaga kesultanan…..
Benteng Vredeburg.
Nah, bangunan pertama yang dapat kita temukan di sini adalah Benteng Vredeburg. Benteng yang menjadi cikal bakal pemukiman barat di Yogyakarta ini dibangun tahun 1756 oleh VOC untuk pengawasan kekuasaan keraton. Benteng ini memiliki bentuk persegi di setiap sudutnya kita bisa melihat bastion. Di dalam benteng ini, terdapat bangunan penunjang seperti barak, tempat tinggal perwira, gudang, dapur, societeit, istal, dan lain-lain. Dengan lengkapnya fasilitas yang ada, benteng Vredeburg hampir menyerupai kota yang dikelilingi tembok. Konsep ini dikenal sebagi  intramuros. Setelah kemerdekaan, benteng ini sempat digunakan untuk instansi militer dan sejak tahun 1987 hingga sekarang dibuka untuk umum. (Tulisan lebih lengkap mengenai benteng ini dapat dibuka di Benteng Vredeburg, Jejak Kompeni di Bumi Mataram )

Gedung Agung Yogyakarta.
Di seberang barat benteng Vredeburg, dibalik pagar tinggi dan halaman hijau yang luas, kita dapat melihat bangunan kolonial yang dikenal sebagai Istana Kepresidenan Gedung Agung atau dulu dikenal sebagai Resident woning. Masyarakat Yogya zaman dahulu lebih mengenal bangunan ini sebagai loji kebon karena memiliki halaman yang luas. Nah bangunan ini sendiri aslinya dibangun pada tahun 1824, namun di tahun 1867, bangunan yang lama hancur akibat gempa bumi sehingga pada tahun 1869 gedung ini dibangun kembali dengan gaya arsitektur Indis Neo-Klasik yang pada waktu itu sedang menjadi trend. Bangunan ini sendiri menyimpan cukup banyak kisah di dalamnya. Di masa kolonial, bangunan ini merupakan kediaman residen Belanda dan di tempat inilah sang tuan residen menerima tamu-tamu penting seperti Gubernur Jenderal yang pernah datang ke Yogyakarta di tahun 1924. Setelah Jepang menduduki Yogyakarta, bangunan ini menjadi kediaman Koochi Zimmukyoku Tyookan. Nah, ketika ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta pada tahun 1946, bangunan ini menjadi tempat tinggal Presiden Sukarno hingga beliau ditangkap oleh Belanda di sini pada akhir tahun 1948.

Gedung Agung Yogyakarta pada tahun 1948. Pada waktu itu bangunan ini menjadi istana presiden RI ketika ibukota RI dipindah dari Jakarta ke Yogykarta (sumber : geheugenvannederland.com).
Gaya Indis Neo-Klasik sangat menonjol di bangunan ini. Tiang-tiang, baik yang berupa tiang besi dengan dekorasi flora maupun tiang bergaya Yunani yang besar terlihat di serambi depan yang tinggi nan luas. Seluruh permukaan lantai dilapisi dengan marmer italia yang menambah kesan mewah pada bangunan ini. Di sini, kita dapat menjumpai sembilan buah pintu depan yang sangat tinggi sekali. Jumlah yang cukup banyak untuk rumah tipe ini, karena biasanya rumah-rumah seperti gedung agung ini cuma memiliki tiga buah pintu saja. Mengapa bisa demikian ? Hal ini tentu saja berkaitan dengan kedudukan seorang residen yang merupakan jabatan tertinggi di lingkungan pemerintahan kolonial pada suatu daerah. Jabatan residen hanya berada di bawah gubernur jenderal saja. Di Yogyakarta, jabatan residen setara dengan sultan. Bangunan inipun juga dibangun dengan begitu megahnya, nyaris mengalahkan kemegahan kraton Yogyakarta. Tujuan bangunan ini dibangun megah tentu saja sebagai bentuk upaya menunjukan kekuasaan pemerintah kolonial terhadap kekuasaan penguasa tradisional. Di halaman depan, kita dapat melihat beberapa koleksi arca yang dikumpulkan oleh residen terdahulu.

Bangunan yang tersisa dari societeit  De Vereeniging yang kini dikenal sebagai gedung Senisono.
Gedung societieit (kiri jalan) sebelum hancur terkena bom (sumber : geheugenvannederland.nl).
Nah, di sebelah selatan gedung agung, kita bisa melihat gedung Senisono. Dahulu, gedung ini merupakan bagian bangunan dari Societeit De Vereeniging yang didirikan pada tanggal 4 Juni 1822 atas prakarsa orang-orang Belanda yang dipelopori Luitnant de Terrie. Pada zaman kolonial, gedung ini merupakan pusat hiburan masyarakat Eropa. Di tempat ini, mereka bisa melakukan berbagai aktifitas hiburan, seperti pesta, menonton pentas pertunjukan, music, opera, sandiwara, bermain billiar (oleh karena itulah kadang tempat ini disebut sebagai kamar bola), atau hanya bercengkrama saja. Societeit ini sifatnya ekslusif. Hanya orang Eropa yang boleh masuk. Pada bulan November 1945, bagian depan societeit yang terbuat dari kayu hancur terkena bom salah sasaran dari angkatan udara Inggris. Aslinya bom ini akan dijatuhkan di instalasi radio republik yang menempati gedung BNI. Nah bagian societeit yang selamat dari bom tadi kini dikenal sebagai Gedung Senisono. Dahulu gedung ini digunakan sebagai ruang pertunjukan dan sandiwara.
Kantor pos besar pada tahun 1920 (sumber : media-kitlv.nl).
Kantor Pos Besar pada masa sekarang. 
Di perempatan Titik Nol yang ramai ini, kita dapat melihat beberapa bangunan kolonial monumental. Bangunan pertama yang bisa kita saksikan adalah Gedung Kantor Pos Besar yang berada di sebelah tenggara perempatan titik nol. Gedung berlantai dua ini dibangun pada dari tahun 1910 hingga 1912 dengan desain oleh arsitek-arsitek dari Burgerlijke Openbare Werken (BOW) (Emile Leushuis, 2014;185). Di masa kolonial, gedung ini dikenal sebagai Post, telegraaf en telefoon kantoor. Bangunan simetris ini tampak menonjol dengan jendela besar setengah lingkaran dan sebuah balkon yang mencuat dari lantai dua. Oh ya, lokasi kantor pos biasanya dibangun di dekat titik nol. Hal ini bertujuan untuk memudahkan penghitungan jarak yang biasanya berpengaruh pada biaya pengiriman surat.

Gedung kantor Nillmij pada tahun 1930an yang kini dikenal sebagai Gedung BNI Yogyakarta. Di tengah perempatan Titik Nol terlihat tiang lampu jalan yang cukup tinggi. Elemen garis horizontal tampak mendominasi eksterior bangunan (sumber : colonialarchiteture.eu).
Gedung BNI 46. Aslinya gedung ini memiliki sebuah pintu masuk yang terletak di susut perempatan. Namun karena jalan semakin ramai, pintu masuk ini ditutup.
Lalu di seberang barat Kantor Pos Besar, di sudut jalan yang lain, kita juga dapat melihat sebuah bangunan kolonial yang lebih monumental daripada Kantor Pos Besar. Bangunan ini dikenal sebagai Gedung BNI yang masih terawat dengan baik. Lalu apa fungsi bangunan ini di masa kolonial ? Dahulu gedung ini merupakan kantor dari perusahaan asuransi Nederlandsch-Indisch Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij atau lebih mudahnya disingkat Nillmij. Gedung ini dibangun pada tahun 1923 dengan rancangan yang dibuat oleh arsitek kondang pada waktu itu, Ir. F.J.L Ghijsels. Gedung ini didesain dengan gaya arsitektur art deco geometris yang populer pada tahun 1920an. Di sini kita dapat melihat garis-garis vertical yang tegas, hiasan-hiassan geomteris, dan dekorasi besi dan tiang bendera yang indah. Di samping Nillmij, gedung ini juga merupakan kantor dari perusahaan Nederlandsch Handel Maatschappij, Escompto Maatscahppij, dan makelar Buyn & Co (Emile Leushuis, 2014; 185).
Gedung De Javaasche Bank ketika sedang dibangun. Terlihat perancah bambu yang masih belum dibongkar (sumber : Het Nederlandsch-Indisch oud en nieuw tahun 1915).
Gedung De Javaasche Bank yang kini menjadi Bank Indonesia.
Di sebelah timur kantor pos, kita juga dapat melihat bangunan kolonial lain yang juga berukuran cukup monumental. Yup, bangunan itu adalah bangunan Bank Indonesia. Dahulu, bangunan ini juga ditempati oleh sebuah bank yang dikenal sebagai De Javaasche Bank cabang Yogyakarta yang dibuka pada tahun 1879. Adapun bangunan yang kita lihat sekarang merupakan bangunan yang dibuat oleh biro arsitek Hulswit, Fermont, en Cuypers pada tahun 1914 dengan langgam klasik ekletik yang sudah menjadi ciri khas biro arsitek ini (Emile Leushuis, 2014;185). Di bangunan ini, kita bisa melihat relief singa Belanda (simbol kerajaan Belanda) dan lambang kota Batavia di bagian bawah balkon. Di bagian fronton segtiga, kita juga dapat melihat tameng dengan hiasan sepasang sayap, dua buah ular dan sebuah tongkat yang menjadi simbol dewa Merkurius, dewa perdagangan bangsa Romawi. Menariknya, meski secara layour bangunan ini simetris, namun karena pintu masuk berada di pojok kiri maka bangunan ini menjadi terlihat asimetris. Nah selain itu, meski ini bangunan kolonial, tapi kita dapat menemukan detail hiasan yang mirip dengan hiasan pada candi-candi masa klasik.
Kompleks sekolah Katolik di dekat gereja Kidul Loji tempo doeloe (sumber : Djocja Solo.)
Kompleks sekolah Katolik yang saat ini menjadi kompleks sekolah Pangudi Luhur. Kompleks sekolah yang memiliki gaya arsitektur Neo-Romanesque ini sekarang tidak terlihat lagi dari pinggir jalan karena tertutup oleh parkiran bus dan kios pedagang.
Bergerak ke sebelah timur Bank BI, terdapat sebuah kompleks Katolik yang terdiri dari gereja, bruderan, dan sekolah. Selain gereja, seluruh  bangunan yang yang terdapat di sini masih asli. Komunitas Katolik di Yogyakarta sudah ada sejak tahun 1812, ketika di Yogyakarta mulai dilaksanakan baptisan pertama untuk 32 orang Belanda. Memasuki pertengahan abad ke-19, jumlah ini semakin banyak. Kebanyakan para penganut Katolik ini merupakan pegawai militer yang tinggal di sekitar benteng Vredeburg. Dengah jumlah yang semakin banyak, maka pada tahun 1869 dibangunlah gereja Katolik yang dikenal sebagai Gereja Kidul Loji karena letaknya berada di sebelah selatan benteng Vredeburg (Jan Wietjens, 1995; 32).
Bekas Militaire Socsieteit yang kini menjadi Taman Budaya Yogyakarta.
Selain societeit yang berada di dekat Gedung Agung, kota Yogyakarta juga memiliki sebuah societeit yang berada di sebelah timur benteng Vredeburg. Bedanya, societeit ini diperuntukan untuk kalangan militer. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan sebagai balai pertemuan dan tempat latihan Samurai. Sejak tahun 1992, bekas societiet ini direnovasi dan difungsikan sebagai Taman Budaya Yogyakarta.


Pasar Beringharjo sebelum direnovasi (sumber : Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden ).
Pasar Beringharjo setelah direnovasi oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1928 (sumber : Gegevens over Djocjacarta ). 
Bagian depan Pasar Beringharjo.
Nah sentra perekonomian Yogyakarta yang sudah ada sejak kota ini berdiri pada abad ke-18 adalah pasar Beringharjo. Pasar sendiri merupakan salah satu komponen utama dalam tata kota tradisional di Jawa. Lokasi pasar Beringharjo berada di utara benteng Vredeburg. Ada dugaan bahwa penempatan lokasi pasar ini merupakan bagian dari pertahanan Benteng Vredeburg. Perlu diketahui bahwa di masa lalu, musuh yang akan menyerang Yogyakarta pasti akan datang lewat utara, dari perempatan Tugu, bergerak lurus ke selatan menyusuri jalan ke arah keraton. Nah sebelum musuh sampai tujuan, maka akan terjadi keributan di Pasar Beringharjo dan tentu saja keributan ini mudah diketahui oleh tentara di dalam benteng sehingga pertahanan benteng dapat dipersiapkan. Oh ya, nama Pasar Beringharjo sendiri berasal dari pohon-pohon beringin yang pernah tumbuh ketika pasar ini mulai ada. Awalnya, bangunan Pasar Beringharjo masih berupa los dengan tiang kayu berlantai tanah. Lalu pada tahun 1928, Sultan HB VIII memerintahkan pemborong Indische Beton Maatschappij dari Surabaya untuk merenovasi pasar ini dalam langgam arsitektur Art Deco. Ketika pasar selesai dibangun, Pasar ini mendapat pujian sebagai ”Eender Mooiste Passers op Java” atau salah satu pasar terindah di Jawa.
Suasana jalan Malioboro pada tahun 1931. Foto ini menghadap ke arah selatan. Terlihat pada waktu itu suasana Jalan Malioboro masih teduh dengan pohon-pohon yang terdapat di kiri jalan (sumber : media-kitlv.nl).
Tiga bangunan lama yang berada di depan Hotel Inna Garuda.
Apotik Kimia Farma yang dahulunya adalah Apotik Rathkamp.
Bangunan tua di ujung Jalan Malioboro yang di masa kolonial adalah sebuah coffieur atau tukang cukur premium. Konon tukang cukur ini merupakan tukang cukur langganan orang Belanda yang tinggal di Yogyakarta.
Selain Pasar Beringharjo, sentra perekenomian kota Yogyakarta lainnya adalah kawasan Jalan Malibooro yang dari dulu hingga sekarang menjadi jantung perekonomian kota Yogyakarta. Di sini terdapat deretan toko-toko, baik yang dimiliki oleh pengusaha Tionghoa atau Eropa. Contoh toko dari zaman kolonial yang masih dapat kita jumpai antara lain bangunan tua yang berada di dekat pertigaan jalan Malioboro dengan jalan pasar kembang. Kemudian di sebelah selatan, di hotal Inna Garuda terdapat bangunan dengan gable berbentuk seperti lonceng. Bangunan ini dahulu merupakan apotik Juliana yang dibuka pada tahun 1865. Di sebelahnya lagi juga ada bangunan lama bergaya art deco. Kemudian di sebelah selatannya lagi, terdapat perpustakaan provinsi yang menempati bekas toko buku dan penerbit Kolf Bunning. Masih di jalan Malioboro, selain Apotik Juliana, juga terdapat satu apotik lagi, yakni Apotik Rathkamp yang kini menjadi Apotik Kimia Farma. Apotik-apotik ini menjual obat-obatan kimia dari negara barat dan keberadaanya bersaing dengan toko-toko obat tradisional Cina.
Gedung DPRD Yogyakarta yang dahulu digunakan sebagai tempat pertemuan anggota Freemason.
Masih di Jalan Malioboro, kita dapat menemukan sebuah bangunan bergaya klasik yang memiliki hubungan erat dengan sebuah tarekat yang terkenal akan simbol Jangka dan penggaris siku-nya, Freemason. Yap, kehadiran Freemason di bumi Mataram ditandai dengan dibukanya Loge Mataram, pada tahun 1870. Nama loge ini diambil dari nama kerajaan besar yang dahulu pernah menguasai Pulau Jawa. Pemilihan nama ini menunjukan bahwa para anggota mason di Yogyakarta sadar akan masa lampau Jawa yang besar. Anggota Mason di Yogyakarta tidak terbatas pada kalangan barat saja. Ada orang Tionghoa seperti Ko Ho Sing (1825-1900) dan ada juga orang pribumi seperti Pangeran Arjo Soerjodilogo (1835-1900) yang menjadi anggota Freemason pada tahun 1871. Gedung loge ini disewa dari sultan Yogya. (Dr. Th. Stevens. 2004;149-151). Setelah pengaruh Freemason mulai pudar, gedung ini dialihfungsikan untuk kantor BKNIP (Badan Komite Nasional Indonesia Pusat). Di gedung ini pulalah, politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif pertama kali dicetuskan oleh Moh. Hatta pada tahun 1948. Dapat dibilang gedung yang sekarang menjadi kantor DPRD Yogyakarta ini selain menjadi bukti kehadiran Freemason di Yogyakarta juga menjadi saksi dari sejarah lahirnya politik luar negeri Indonesia.

Kita tentunya tahu jika Kota Yogyakarta mendapat julukan sebagai kota pelajar. Memang tidak salah jika julukan ini disematkan pada kota Yogyakarta karena di sini terdapat berbagai gedung sekolah peninggalan zaman Belanda yang masih bisa kita temukan. Kemunculan gedung-gedung sekolah ini tidak lepas dari penerapan praktik politik etis yang mulai diterapkan di Hindia-Belanda sejak paruh pertama abad ke-20.
Bangunan sekolah SD Ngupasan didirikan pada tahun 1920 sebagai meisjes school , yakni sebuah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan. Sejak tahun 1950, gedung ini digunakan untuk SD sampai sekarang.
Bangunan SMP Bopkri I ini terletak di Jl. Mas Suharto 48, Yogyakarta. Awalnya merupakan bekas sekolah HCS atau Hollandsch Chineesche School, yakni sekolah untuk anak-anak Tionghoa dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Sejak tahun 1952 gedung ini menjadi SMP Bopkri I Yogyakarta.
Di jalan Sultan Agung, tepatnya di sebelah timur jembatan Sayidan, terdapat gedung sekolah lama milik SMP Bopkri II Yogyakarta. Gedung sekolah ini sendiri dibangun pada tahun 1913 untuk Hollandsch Javaasche School, yakni sekolah untuk orang Jawa dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.
Nah, semula bangunan sekolah dibangun tidak jauh dari pusat pemerintahan, dengan siswa terpilih dari golongan masyarakat tertentu. Namun seiring dengan tuntutan dunia pendidikan di Hindia-Belanda yang semakin banyak, maka gedung-gedung sekolah mulai didirikan di wilayah pinggiran seperti Jetis yang pada waktu tanahnya masih luas sehingga bisa dibangun gedung sekolah yang lebih luas. Lokasinya yang berada di pinggiran yang masih sepi membuat suasana belajar menjadi kondusif (Djoko Soekiman, 2014; 165).
Bangunan ini di zaman Belanda dikenal sebagai Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzen. Adapun gedung sekolah ini dibuka pada tahun 1897. Gedung sekolah ini cukup bersejarah karena pernah dipakai sebagai tempat Kongres Budi Utomo I pada bulan Oktober 1908. Budi Utomo sendiri adalah organisasi pergerakan pertama di Indonesia. Saat ini digunakan sebagai SMA N 11 Yogyakarta.

Sementara itu, bangunan ini merupakan kantor dari sekolah Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzen tadi. Saat ini digunakan sebagai markas militer. Lokasi bangunan ini berada di sebelah utara SMA N II. ( sumber foto lama : colonialarchitecture.eu).
SMK N 2 Yogyakarta dulu dan sekarang. Sekolah yang terletak di depan kompleks SMA N 11 Yogyakarta ini sendiri didirikan pada tahun 1919 untuk sekolah Princes Juliana, sebuah sekolah menengah yang khusus mengajarkan keterampilan teknik. Setelah kemerdekaan gedung sekolah dipakai oleh sekolah menengah yang khusus mengajarkan pendidikan teknik (pada waktu itu bernama STM). Gedung ini sendiri baru dipakai sebagai SMK N 2 Yogyakarta pada tahun 1997.( sumber : Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden ).
Masih di Jetis, tepatnya di selatan SMK N 2 Yogyakarta, terdapat gedung sekolah lama yang kini dipakai sebagai SMP N 6 Yogyakarta. Gedung sekolah ini dibangun pada tahun 1914 untuk Hollandsch Inlandschool. Di masa Jepang gedung ini dipakai sebagai sekolah rakyat dan sejak tahun 1960 sampai sekarang digunakan sebagai SMP N 6 Yogyakarta.
Selain dibangun sekolah, di wilayah pinggiran juga dibangun fasilitas pelayanan umum berupa rumah sakit. Nah contoh rumah sakit yang dibangun di wilayah pinggiran adalah Rumah Sakit Panti Rapih yang berada di wilayah Sagan, tidak jauh dari kampus UGM. Di zaman Belanda, wilayah Sagan dan sekitar masih berupa wilayah pinggiran, sementara lokasi yang kelak akan dibangun menjadi kampus UGM masih berupa lahan sawah yang luas.
Rumah sakit Panti Rapih dulu dan sekarang. Rumah sakit ini sendiri dibuka pada tanggal 14 September 1928 atas inisiatif dari Nyonya CTM Schmutzer van Rijekervorrel, istri administrator pabrik gula Bambanglipuro yang juga mendirikan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran dan RS St. Elizabeth. Bangunan rumah sakit dirancang oleh arsitek yang juga merancang kantor untuk Nilmij cabang Yogyakarta, Ir. F.J.L Ghijsels. Ciri paling menonjol dari rumah sakit ini adalah atapnya bergaya tropis dan garis lengkung pada pintu masuk dan jendela. Garis lengkung ini berhubugan dengan ordo suster yang mengelola rumah sakit ini, yakni Ordo Onder der Bogen yang berarti “Di Bawah Lengkungan”.

Seiring dengan keberadaan komunitas Belanda di Yogyakarta yang menganut agama Nasrani, maka di Yogyakarta dibangun pula berbagai gereja untuk tempat peribadatan umat Nasrani. Gereja-gereja ini rupanya bukan hanya diperuntukan orang barat saja. Ada juga gereja-gereja yang diperuntukan untuk warga pribumi yang sudah memeluk agama Nasrani.
GPIB Margomulyo pada tahun 1930an. Gereja ini merupakan gereja pertama yang dibangun di Yogyakarta. Gereja yang terletak di Jalan A.Yani no.5 ini diresmikan dan diberkati pada hari Minggu tanggal 11 Oktober oleh pendeta Ds. C.G.S. Begemann. Namun pada tahun 1867, bangunan gereja yang lama runtuh akibat digoncang gempa bumi yang getarannya cukup kuat, namun tidak lama kemudian gereja ini dibangun kembali. ( sumber : Djocja Solo Beeld van Vorstenlanden).
GPIB Margomulyo. Gereja ini kadang  disebut sebagai Gereja Ngejaman karena di depan gereja ini terdapat tugu jam yang merupakan hadiah masyarakat Belanda terhadap kota ini. Saat ini bagian depan gereja mulai tertutup oleh kioas pedagang kaki lima.
Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran terletak di Jalan Bantul. Pembagunan gereja ini bertujuan untuk menampung umat Katolik di bagian selatan Yogyakarta dan Bantul utara karena pada waktu itu hanya ada satu gereja, yaitu di Ganjuran. Bangunan gereja ini dirancang oleh arsitek Van Oyen dengan gaya arsitektur yang memadukan arsitektur art deco (jendela geometris) dan tradisional (atap tajug tumpang yang disangga oleg empat tiang soko guru yang melambangkan empat penginjil, Santo Mateus, Santo Markus, Santo Yohannes, dan Santo Lukas). Gereja ini diresmikan pada tanggal 8 Juli 1934 oleh Romo van Kalken. Di masa Perang Kemerdekaan, gereja ini memiliki peran vital karena gereja ini digunakan sebagai penghubung rahasia antara pejuang gerilyawan di dalam dan di luar kota Yogyakarta. Selain itu, gereja ini juga menjadi tempat pengungsian bagi penduduk di sekitar gereja (Inajati, 2009; 239). Oleh karena itulah gereja ini dapat disebut sebagai gereja perjuangan. Untuk mengenang perannya di masa Perang Kemerdekaan, di depan pintu masuk gereja terdapat sebuah monument kecil.
Gereja tua lain yang dapat kita temukan di Yogyakarta adalah GKJ Sawokembar, Gondokusuman. Gereja yang berada di depan kampus UKDW ini diresmikan pada tanggal 11 Desember 1931 oleh pendeta Sularso Sopater. Elemen art deco seperti ventilasi horizontal dan lubang angin vertical pada menara depan dapat kita jumpai pada bangunan ini. Di dinding depan gereja ini kita dapat melihat sengkalan yang berbunyi “Toemengeng Woelang Pranawing Jagad” (Menengadah untuk mendapatkan pelajaran yang menjadi terang dunia) atau tahun 1930…
Dengan dibangunnya jalur kereta api dari Yogyakarta ke Semarang pada tahun 1872 oleh Nederlansch Indisch Spoorweg Maatschappij dan Yogyakarta ke Cilacap pada tahun 1887 oleh Staatspoorwegen, dibangunlah stasiun kereta api, bengkel, gudang, dan rumah dinas pejabat kereta api. Di sekitarnya juga ikut pula dibangun hotel (Djoko Soekiman, 2014;165).
Emplasemen timur Stasiun Lempuyangan. Terlihat bangunan bercat putih yang merupakan rumah sinyal.
Salah satu rumah dinas Stasiun Lempuyangan.
Gudang NIS Lempuyangan.
Stasiun kereta api pertama yang dibuka di Yogyakarta adalah Stasiun Lempuyangan yang dioperasikan oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indisch Maatshappij pada tanggal 2 Maret 1872 (Musadad, 36). Bangunan asli dari Stasiun Lempuyangan sudah sulit dikenal karena mengalami penambahan bangunan. Meski demikian, kita dapat menjumpai bekas gudang stasiun Lempuyangan di sebelah barat dimana kita dapat melihat monogram NISM di dindingnya. Selain itu kita juga dapat melihat bangunan rumah sinyal berlantai dua. Di sebelah selatan stasiun Lempuyangan, terdapat rumah dinas pegawai stasiun yang kini tertutup oleh deretan kios-kios pedagang. Ada alasan kuat mengapa NIS membangun stasiun di sebelah timur Sungai Code yang lahannya luas, yakni NIS memiliki pemikiran jangka panjang bahwa stasiun ini harus dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung mulai dari emplasemen, bengkel perbaikan lokomotif, garasi lokomotif dan perumahan pegawai kereta yang tentu saja membutuhkan area yang luas.
Bengkel kereta milik NIS yang sekarang menjadi Balai Yasa Pengok ( sumber : colonialarchitecture.eu).
Bekas bangunan kantor NIS cabang Yogyakarta yang masih satu kompleks dengan Balai Yasa.
Kompleks rumah dinas pegawai NIS Yogyakarta di wilayah Klitren, yang berada di sebelah utara Balai Yasa. Asal nama Klitren berasal dari kata Belanda " Koolie Terrein" yang merujuk pada tempat tinggal para karyawan bengkel NIS 
( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Rumah dinas pegawai NIS dahulu dan sekarang.
Sarana bengkel perbaikan lokomotif dan gerbong, serta garasi lokomotif dari Stasiun Lempuyangan kini dikenal dengan nama Balai Yasa yang terdapat di daerah Pengok, sebelah timur jembatan layang Lempuyangan. Di masa kolonial, bengkel perbaikan lokomotif ini juga merangkap kantor NISM cabang Yogyakarta. Di sebelah utara, terdapat kompleks rumah dinas pegawai NIS yang rumah-rumah lamanya masih dapat kita lihat. Di sebelah timur, terdapat kompleks rumah dinas untuk pegawai pribumi yang ukurannya lebih kecil.
Stasiun Tugu pada masa sekarang.
Selanjutnya, stasiun kedua yang dibanun oleh pemerintah kolonial di Yogyakarta adalah Stasiun Tugu yang dibuka pada tanggal 2 Mei 1887 oleh Staatspoorwegen untuk melayani jalur kereta Yogyakarta-Batavia. Lokasi stasiun Tugu berada di lokasi sangat strategis, yakni berada di dekat pusat bisnis Malioboro. Meski dibangun oleh SS, operasional stasiun ini dijalankan bersama-sama oleh SS dan NIS. Nah, bentuk arsitektur stasiun yang asli sebenarnya bukanlah seperti yang kita lihat pada masa sekarang. Semula stasiun Tugu memiliki arsitektur bergaya klasik yang indah. Bahkan harian Bataviaasch Handelsblad menyebutnya sebagai stasiun Tugu sebagai stasiun paling anggun di Hindia-Belanda. Seiring dengan tuntutan zaman, stasiun ini diperluas dan bagian fasad dirombak menjadi bergaya art deco pada tahun 1927. Renovasi bangunan stasiun Tugu berada di bawah pengawasan F. Cousin, kepala Bouwkundig Bureau dari SS. Stasiun Tugu termasuk stasiun pulau yang memiliki dua emplasemen.
Beginilah wujud asli Stasiun Tugu sebelum dirombak (sumber : media-kitlv.nl).
Gubernur Jenderal Tjarda van Stakenbroug-Stachower ketika tiba di Stasiun Tugu. Kedatangannya disambut oleh Sultan HB VIII dengan sebuah seremoni yang mewah. Tjarda van Stakenbroug-Stachower menjadi Gubernur Jenderal terakhir di Hindia-Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, dia menjadi tawanan perang di Manchuria ( sumber : media-kitlv.nl ).
Dahulu stasiun Tugu termasuk stasiun percabangan yang cukup sibuk karena melayani empat jalur sekaligus, yakni jalur Yogyakarta-Magelang, Yogyakarta-Batavia, Yogyakarta-Brosot, dan Yogyakarta-Surakarta. Banyak orang penting yang pernah turun di stasiun ini. Mulai dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Sultan Surakarta, hingga Presiden RI. Di dalam stasiun ini, terdapat ruang VIP yang dahulu menjadi ruang tunggu eksklusif untuk Sultan Yogyakarta dan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda.
Bekas gudang Stasiun Tugu yang terbuat dari seng.
Rumah-rumah dinas pegawai Stasiun Tugu di Bumijo.
Stasiun Tugu dilengkapi juga dengan kompleks rumah dinas pegawai di daerah Bumijo yang terletak di sebelah utara stasiun. Rumah dinas ini memiliki bentuk yang agak berbeda dengan milik NIS. Ciri khas rumah dinas stasiun Tugu (dan juga Stasiun SS yang lain) adalah memiliki gable berupa atap pelana dengan lubang angin di tengahnya. Di sebelah timur kompleks perumahan, terdapat bangunan-bangunan gudang stasiun yang dinding dan atapnya terbuat dari seng.
Bekas stasiun Ngabean.
Nah, selain dua stasiun tadi, di kota Yogyakarta sebenarnya kita masih bisa menemukan satu jenis bangunan stasiun lagi, namun karena lama sudah tidak aktif, maka keberadaan stasiun ini perlahan mulai dilupakan. Stasiun apa itu ? Yap, Stasiun Ngabean. Stasiun ini berada di sebelah selatan parkir bis Ngabean atau di sebelah barat pojok beteng kulon. Stasiun kecil ini dibuat pada tahun 1893 bersamaan dengan pembangunan jalur kereta Yogyakarta – Brosot. Meski kecil, stasiun ini memiliki peran cukup vital karena stasiun ini menghubungkan kota Yogyakarta dengan wilayah Yogyakarta selatan yang dahulu banyak terdapat pabrik gula sepert Bantul, Plered, Pundong, hingga Galur di Kulonprpogo. Di masa Agresi Militer II, untuk sementara stasiun ini ditutup. Stasiun ini baru dibuka pada tahun 1955 ketika Sri Sultan HB IX membuka PG Madukismo dan stasiun ini digunakan untuk jalur pengangkutan bahan-bahan dan hasil produksi PG Madukismo ke stasiun Lempuyangan. Sejak tahun 1975, jalur dari Stasiun Ngabean ke jalur selatan ditutup dan otomatis stasiun ini sudah tidak aktif lagi.
Kondisi Hotel Tugu di masa sekarang.
Tidak jauh dari Stasiun Tugu, kita dapat menemukan dua bangunan hotel yang sudah ada sejak zaman kolonial. Keberadaan hotel ini cukup membantu bagi para penumpang kereta yang hendak bermalam karena pada waktu itu kereta malam masih belum ada. Hotel yang pertama adalah Hotel Tugu yang berada di sebelah utara. Hotel ini diperkirakan dibangun pada paruh pertama abad ke 20. Awalnya hotel ini bernama Naamloose Venotschap Grand Hotel de Djocja. Dalam buku Mooi Djocdjakarta, hotel ini disebutkan sebagai hotel terbaik di Yogyakarta. Di tahun 1920an, hotel ini membuka restoran yang diresmikan oleh Sultan HB VIII. Karena takut diracun oleh orang-orang dalam kraton, Sultan HB VIII memerintahkan agar semua makanan harus dimasak di dapur hotel ini dan kemudian dibawa ke kraton dengan wadah tertutup setiap hari !!
Hotel Tugu ketika masih berjaya (sumber : colonialarchitecture.eu).
Bangunan Hotel Tugu terdiri dari sebuah bangunan induk dan dua bangunan pengapit. Ciri khas arsitektur bangunan ini adalah fasad berupa stepped gable yang diapit oleh dua menara kecil. Pada salah satu menara, bagian ujungnya terdapat sirene yang di masa pendudukan Belanda tahun 1948 dibunyikan sebagai tanda serangan udara dan jam malam. Bunyi sirene ini kemudian juga menjadi penanda Serangan Umum Satu Maret. Pada waktu itu, terjadi pertempuran sengit di sekitar hotel dimana para pejuang berusaha menguasai hotel ini yang ketika itu menjadai pusat markas kekuatan tentara Belanda di bawah Letkol DBA. Van Langen. Meski tahun 2000an awal bangunan hotel Tugu pernah direnovasi dan digunakan menjadi toko,  namun sayangnya, hotel cantik dan memiliki nilai sejarah tinggi ini sekarang dalam kondisi terlantar dan hanya bisa kita lihat dari kejauhan karena tertutup oleh pagar seng tinggi. Sungguh ironis, ketika di kota Yogyakarta mulai menjamur banyak hotel, justru nasib salah satu hotel tertuanya berada dalam kondisi yang terlantar.
Hotel Inna Garuda.
Bentuk lama Hotel Inna Garuda (sumber : Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden ).
Di sebelah selatan Hotel Tugu, terdapat bangunan hotel tua juga yang kondisinya lebih baik daripada bangunan hotel Tugu. Hotel ini dikenal sebagai hotel Inna Garuda yang dibuka pada tahun 1911 dengan nama Grand Hotel Djogjakarta. Pada tahun 1938, bangunan hotel dirombak dengan gaya arsitektur art deco seperti yang kita lihat pada masa sekarang. Pada waktu itu, hotel ini merupakan hotel termewah di Yogyakarta. Ketika Jepang menduduki Yogyakarta, hotel ini diubah namanya menjadi Hotel Asahi. Setelah kemerdekaan, hotel ini berubah nama lagi menjadi Hotel Merdeka. Salah satu kamar di hotel ini pernah digunakan oleh Jenderal Sudirman ketika hotel ini digunakan untuk markas militer.

Nah setelah kita melihat-lihat bangunan kolonial yang pernah terdapat di Yogyakarta, kita akan melihat-lihat rumah-rumah lama yang tersebar di beberapa kantong pemukiman orang barat di Yogyakarta seperti Kotabaru, Bintaran, Jetis, sekitar Pakualaman dan di sepanjang jalan Jenderal Sudirman. Dua kawasan pertama sudah pernah saya bedah pada tulisan "Yang Tidak Baru di Kotabaru" dan "Menjelajah Bangunan Indis di Kawasan Bintaran Yogyakarta" maka dua kawasan ini saya lewatkan pada tulisan ini.
Rumah-rumah tua yang berada di kawasan Lempuyangan.
Untuk dua rumah di atas, lokasinya berada di jalan Sultan Agung, tepatnya di sebelah timur Pura Pakualaman. Aslinya ada tiga rumah dengan bentuk seperti ini, namun kini satu bangunan sudah dirobohkan. Sementara itu, dua rumah di bawah berada di Jalan Roro Mendut.
Kantong pemukiman pertama terdapat di sebelah timur Kali Code. Kantong pemukiman barat terbesar berada di kawasan Bintaran, lalu di sebelah selatan Stasiun Lempuyangan, dan di sekitar penjara Wirogunan. Di sini kita dapat menjumpai rumah-rumah tua yang sebagian besar sudah beralih fungsi.
Rumah yang saat ini menjadi Museum Kirti Grya ini dahulu adalah rumah tinggal dari bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Pada tahun 1934, rumah ini dibeli oleh Tamansiswa dari seorang janda perkebunan Belanda bernama Ajeng Ramsinah. Di sebelah selatan, terdapat pendopo Tamansiswa yang dibuka oleh Ki Hajar Dewantara untuk menandingi lembaga pendidikan yang dibuka oleh pemerintah kolonial.
Rumah-rumah tua di Kawasan Jetis.
Banguann tua yang berada di jalan A.M Sangaji, Jetis ini dahulu merupakan rumah direktur Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzen (saat ini menjadi SMA N 11 Yogyakarta). Foto lama dari bangunan ini dapat dilihat pada foto di atas ( sumber : colonialarchitecture.eu).
Kantong pemukiman selanjutnya berada di wilayah Jetis yang berada di sebelah utara perempatan Tugu.
Beberapa bangunan tua yang berada di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.
Di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman yang dahulu menjadi jalan utama keluar kota, terdapat beberapa rumah atau villa besar yang dahulu dihuni oleh elit-elit kolonial atau orang Tionghoa kaya. Jalan ini tampaknya menjadi kawasan pemukiman prestise sebelum kawasan Kotabaru dibangun.
Hotel Phoenix.
Hotel Phoenix, dibangun oleh orang Tionghoa bernama Kwik Djoen eng pada tahun 1918. Lalu dibeli pada tahun 1930an oleh D.N.E. Franckle untuk hotel Splendid. Sempat menjadi kantor Konsulat Cina pada tahun 1946-1949. Sejak tahun 1993 digunakan untuk Hotel Phoenix.

Nah, selain ditandai dengan kawasan pemukiman, keberadaan komunitas kolonial pada suatu wilayah juga dapat ditandai dengan keberadaan kerkhof atau pemakaman untuk orang barat. Nah, di kota Yogyakarta sendiri dahulu pernah memiliki dua kerkhof, yakni di sebelah timur Pasar Beringharjo, tidak jauh dari Benteng Vredeburg dan di sebelah timur Kraton yang saat ini sudah berubah menjadi Purawisata. Kerkhof yang saat ini menjadi Purawisata dahulu merupakan kerkhof terluas di Yogyakarta. Namun pada tahun 1970an, sebagian lahan kerkhof yang berada di sisi barat dibersihkan untuk dijadikan terminal dan kemudian berubah lagi menjadi Purawisata. Lahan kerkhof yang tersisa kini tinggal lahan kerkhof sisi timur yang saat ini menjadi TPU Sasana Laya. Di TPU ini, kita masih dapat menemukan makam-makam Belanda yang kadang masih ada yang menziarahinya. Selain itu di TPU ini juga terdapat makam pahlawan nasional Arie Frederik Lasut dan Noel Constantine, pilot yang membawa pesawat pembawa obat-obatan dari India yang kemudian ditembak jatuh Belanda di Maguwo.
Makam-makam Belanda yang masih tersisa di TPU Sasana Laya.
Demikianlah ulasan Jejak Kolonial mengenai sejarah beberapa bangunan kolonial yang ada di Yogyakarta. Bagaimana ? Cukup banyak kan bangunan kolonial yang ada di Yogyakarta ? Namun sayangnya, seiring dengan pertumbuhan dunia pariwisata di Yogyakarta, beberapa keberadaan bangunan kolonial tadi mulai terancam dengan pembangunan yang ada, padahal kota Yogyakarta sendiri sering dianggap sebagai barometer pelestarian warisan budaya di Indonesia. Meskipun kota Yogyakarta sudah ada perda yang mengatur perlindungan bangunan-bangunan tua ini, namun hal itu saja masih belum cukup. Setidaknya, perlu ditumbuhkan rasa kepedulian terhadap bangunan-bangunan bersejarah ini. Hal ini bukan tugas pemerintah saja, namun juga merupakan tugas kita semua…

Referensi

Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. 2014. Lensa Budaya 2 ; Menguak Fakta Mengenali Keberlanjutan.


Djoko Soekiman. 2014. Kebudayaan Indis. Komunitas Bambu. Depok.

Dr. Th. Stevens. 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia-Belanda dan Indonesia 1764-1962. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.


Inajati Andrisjantiromli, dkk. 2009. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Ombak. Yogyakarta.

Suhartono WP, dkk. 2002.  Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.

5 komentar:

  1. Nice. Ditunggu terbitnya di gramedia

    BalasHapus
  2. Terima kasih banyak sudah mau mampir, semoga bisa diwujudkan

    BalasHapus
  3. Tambah lagi pengetahuan saya... makasih

    BalasHapus
  4. Mas, bahas rumah2 kuno di kotabaru, sagan, dan baciro dong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk Kotabaru sudah saya bahas di sini http://jejakkolonial.blogspot.co.id/2016/03/yang-tidak-baru-di-kotabaru.html. Sementara untuk Sagan dan baciro sedang saya cari data sejarahnya. Terima kasih sudah berkunjung :-)

      Hapus