Selasa, 07 Februari 2017

Kepingan Kolonial di Sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta

Hari ini, Jalan Malioboro masih menjadi magnet wisatawan yang beranjangsana ke Yogyakarta. Di sepanjang jalan yang ramai itu, berjajar beberapa gedung tua peninggalan Belanda yang masih tersisa, memperkental nuansa sejarah di kota istimewa itu. Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya mencoba untuk merangkai kembali kepingan-kepingan peninggalan kolonial di sepanjang jalan itu.

Sejarah jalan Malioboro sama panjangnya dengan sejarah kota ini. Kota Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan dari Kasultanan Yogyakarta yang didirikan oleh Mangkubumi pada tahun 1756. Kasultanan ini lahir dari Perjanjian Giyanti yang ditandatangani tahun 1755 sebagai hasil pemecahan kekuasaan Keraton Mataram pimpinan Pakubuwono III. Sebagai seorang raja baru, Mangkubumi yang bergelar Hamengkubuwono I mendapat jatah kekuasaan di barat Sungai Opak. Ia kemudian memilih sebuah hutan antara Kali Code dengan Kali Winongo, dan mendirikan keraton yang ditata mengikuti pola Catur Tunggal sebagai bentuk legitimasi kekuasaanya. Pola tersebut mencakup keraton sebagai tempat berdiamnya penguasa, dan masjid sebagai pusat keagaamaan yang dibangun mengelilingi sebuah tanah terbuka yang disebut alun-alun. Tak berhenti sampai di situ. Kejeniusan Sultan Hamengkubuwono I dalam menata kota juga terlihat dari keberadaan sumbu imajiner yang membujur lurus dari Panggung Krapyak di selatan, keraton di tengah hingga tugu Pal di utara. Sumbu imajiner tadi sejajar persis dengan sebuah jalan yang di kemudian hari dikenal sebagai jalan Malioboro.
Foto udara kawasan titik Nol Yogyakarta sekitar tahun 1930an. Keterangan. 1 : Benteng Vredeburg. 2 : Gedung Agung. 3 : Kantor Nillmij ( kini BNI 46 ). 4 : Kantor Pos. 5 : Kantor De Javaasche Bank  ( kini Bank BI ).
( sumber : Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden)
Persimpangan Titik Nol barangkali merupakan persimpangan paling padat di Yogyakarta. Siang-malam tanpa putus persimpangan itu ramai dengan lalu lalang kendaraan dan semakin ramai jika musim liburan tiba. Seperti namanya, persimpangan Titik Nol menjadi titik nol penyusuran saya di sepanjang jalan Maliboro, berjalan melawan arus kendaraan sekaligus arus waktu.
Gedung BNI 46. Aslinya gedung ini memiliki sebuah pintu masuk yang terletak di susut perempatan. Namun karena jalan semakin ramai, pintu masuk ini ditutup.
Di seputaran Titik Nol, berdiri gedung-gedung kantor monumental peninggalan perusahaan swasta Belanda. Menyingsing diberlakukannya UU Liberal pada 1870, perusahaan swasta mulai merintis cabang di Yogyakarta. Salah satunya adalah perusahaan asuransi Nederlandsch-Indisch Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij atau lebih mudahnya disingkat Nillmij mendirikan kantornya di barat perempatan Titik Nol pada tahun 1923. Ir. F.J.L Ghijsels, arsitek Belanda yang cukup kondang kala itu merancang gedung kantor perusahaan asuransi itu dengan gaya arsitektur art deco yang sedang digemari pada tahun 1920an. Selain Nillmijperusahaan Nederlandsch Handel Maatschappij, Escompto Maatscahppij, dan makelar Buyn & Co  juga ikut menumpang kantor di gedung itu ( Leushuis, 2014; 185 )
Kantor Pos Besar pada masa dulu dan sekarang. 
Jawatan pemerintah kolonial yang menjalankan urusan komunikasi, Post, telegraaf en telefoon kantoor juga tak ketinggalan dengan membuka kantornya di dekat perempatan Titik Nol. Sengaja dibangun di sana untuk memudahkan penghitungan jarak yang berpengaruh pada besar kecilnya biaya pengiriman surat. Dibangun tahun 1910 hingga 1912, gedung itu dibuat oleh arsitek-arsitek dari Burgerlijke Openbare Werken (BOW) yang biasanya membuat gedung kantor milik pemerintah. Gaya bangunannya memang tidak terlalu menonjol, namun masih tampak anggun.
Gedung De Javaasche Bank pada saat dibangun, setelah selesai dibangun dan di masa kini.
Bersanding di sebelah timur Gedung Kantor Pos Besar, berdiri sebuah gedung bergaya Eropa yang dipermanis oleh dua menara kecil. Sekalipun bergaya Eropa, namun jika didekati, akan terlihat hiasan-hiasan yang sering dijumpai pada candi-candi Jawa. Gaya arsitektur demikian merupakan ciri khas dari biro arsitek Hulswit, Fermont, en Cuypers yang telah merancang banyak bangunan kolonial di Hindia-Belanda dan menjadikannya sebagai biro arsitek tersukses. Salah satu klien mereka adalah De Javaasche Bank, bank terbesar di Hindia-Belanda yang telah memiliki cabang di segala penjuru kota di Hindia-Belanda. De Javaasche Bank membuka kantor cabangnya di Yogyakarta pada 1879 dan tahun 1914, mereka telah membangun sebuah kantor yang lebih megah yang kelak menjadi milik Bank Indonesia.
Benteng Vredeburg.
Keadaan sekitar benteng Vredeburg tahu 1830. Keterangan. A : Benteng. B : Kediaman Residen. C : Kantor Residen. D : Kampung Eropa. F : Makam Belanda. H : Pasar.


Berada di sudut timur laut Titik Nol, berdiri sebuah benteng Belanda dengan bastion-bastion gaharnya di keempat sudutnya. Bersamaan dengan dibangunnya kota Yogyakarta oleh HB I, Belanda mulai menancapkan pengaruhnya di kerajaan baru itu lewat VOC dengan mendirikan benteng tak jauh dari Keraton. Benteng itu adalah benteng Vredeburg, atau Rustenburg ketika baru saja berdiri pada tahun 1756. Lokasinya yang menyisip di sumbu filosofi Keraton Tugu seakan menandakan usaha mereka mengintervensi urusan Keraton. Ia tak hanya sekedar sarana pertahanan dan pengawasan saja, namun juga sebagai sebuah kota Eropa kecil. Di dalamnya, terdapat hunian untuk tentara, gudang, societeit ,kantor, dan penjara.  Ketika Belanda baru menancapkan kukunya di kota ini, orang Eropa masih tinggal di dalam kungkungan tembok Benteng Vredeburg yang memberi rasa aman kepada mereka dari lingkungan yang asing. Setelah melewati beberapa generasi, mereka secara berangsur-angsur mulai bermukim di luar tembok benteng, kira-kira di sebelah timur benteng. Permukiman itu kemudian dikenal sebagai Loji Kecil. Dari Loji Kecil, mereka mulai menyebar di penjuru kota seperti di  Kotabaru dan Bintaran, Gondolayu, dan Jetis.(Tulisan lebih lengkap mengenai benteng ini dapat dibuka di Benteng Vredeburg, Jejak Kompeni di Bumi Mataram )
Gedung Agung Yogyakarta.
Persis di seberang Benteng Vredeburg, di balik pagarnya yang tinggi, saya dapat menyaksikan Gedung Agung yang dulunya menjadi kediaman Residen. Kedaulatan Kasultanan Yogyakarta memang diakui Belanda, namun bukan berarti Keraton lepas dari bayang-bayang Belanda. Seorang residen ditempatkan di Yogyakarta oleh Belanda sebagai wakil mereka dan ia diberi kedudukan yang setara dengan Sultan. Apabila Sultan memiliki keraton sebagai kediamannya, maka residen Yogyakarta, selaku wakil Belanda di Kasultanan Yogyakarta memiliki Gedung Agung sebagai istana kebesarannya. Bangunan kuno itu sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1824, namun gempa bumi tahun 1867 meratakan bangunan yang lama. 1869, bangunan itu didirikan kembali dengan bentuk yang masih bisa dilihat sampai sekarang. Selama perjalanannya, rentetan penguasa silih berganti menghuni gedung itu. Di zaman Belanda, gedung itu merupakan kediaman resmi Residen Yogyakarta dan juga tempat menerima tamu-tamu agung seperti Gubernur Jenderal yang melawat ke Yogyakarta tahun 1924. Belanda hengkang, Jepang datang. Jepang menjadikan gedung itu sebagai kediaman Koochi Zimmukyoku Tyookan, wakil Jepang di Yogyakarta. Tatkala ibukota RI pindah ke Yogyakarta tahun 1946, Presiden Sukarno menjadikannya sebagai kediaman resminya hingga ia ditangkap Belanda tahun 1948. Gedung itu pun hari ini tetap menjadi kediaman seorang penguasa dengan dijadikan sebagai Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Mungkin ketika tuan residen Belanda dulu tinggal di sana, tak terpikirkan bahwa di kemudian hari bendera Merah Putih akhirnya berkibar lunglai di halaman depannya yang luas.
Gedung Agung Yogyakarta pada tahun 1948. Pada waktu itu bangunan ini menjadi kediaman presiden RI ketika ibukota RI dipindah dari Jakarta ke Yogykarta (sumber : geheugenvannederland.com).
Pilar-pilar berlanggam Yunani di beranda depan menjadikan gedung itu tampak seperti sebuah istana kecil. Kemewahan gedung itu kian kentara dengan lantai marmer putih nan mulus yang mengalasi setiap ruang. Segala kemewahan tersebut merupakan bentuk unjuk kekuasaan seorang residen yang menjadi kepala pemerintahan kolonial di Yogyakarta dan kedudukannya “disetarakan” dengan Sultan. Begitu megahnya gedung ini, nyaris mengalahkan Keraton Yogyakarta.
Bangunan yang tersisa dari societeit  De Vereeniging yang kini dikenal sebagai gedung Senisono.
Masih berada di dalam pagar Gedung Agung, terdapat bekas bangunan dari Societeit De Vereeniging. Orang-orang Belanda di Yogyakarta setidaknya dapat berkunjung ke dua societeit, tempat orang Eropa dulu bergembira dan menghabiskan waktu senggangnya. Societeit yang paling tersohor adalah Societeit De Vereeniging yang berada di samping Gedung Agung. Dibuka tanggal 4 Juni 1822 atas prakarsa Luitnant de Terrie. Societeit De Verenneging sendiri kini hanya tersisa bagian belakangnya. Bagian depan yang terbuat dari kayu hancur terkena bom salah sasaran yang dijatuhkan sekutu.  Selain Soceiteit De Vereeniging, ada pula Militaire Societeit di sebelah timur Benteng Vredeburg yang diperuntukan untuk kalangan militer. Di Soceteit, mereka dapat berpesta, menonton pentas sandiwara, mendengarkan orkes musik, bermain biliar, atau hanya duduk sembari menikmati minuman keras. Hanya orang Eropa saja yang boleh masuk. Tabu bagi orang pribumi untuk memasuki bangunan ini.
Bagian depan Pasar Beringharjo.

Pasar Beringharjo setelah direnovasi oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1928 (sumber : Gegevens over Djocjacarta )
Deretan ruko-ruko Tionghoa di utara pasar Beringharjo.


Para pedagang Pasar Beringharjo tumpah ruah hingga trotoar, membuat saya sedikit tidak nyaman berjalan. Denyut perekenomian rakyat Yogyakarta berpusat di Pasar Beringharjo. Sebagai bagian dari pola Catur Tunggal, pasar itu sama tuanya dengan kota Yogyakarta. Letak pasar dalam tata kota tradisional Jawa diletakan di utara alun-alun. Saat itu, yang namanya pasar tidak memiliki bangunan permanen. Selama ada tempat berteduh dan ada keramaian, di sanalah pedagang akan menggelar dagangannya dan mereka umumnya berteduh di bawah pohon beringin yang masih banyak tumbuh di sana. Dari situlah Pasar Beringharjo mendapat namanya. Pasar itu kemudian berkembang menjadi los-los sederhana. Tiangnya masih terbuat dari kayu dan pedagang menggelar dagangan di atas tanah. Atas prakarsa Sultan Hamengkubuwono VIII, pasar itu disempurnakan pada 1928. Tiang-tiang kayu diganti dengan tiang beton bikinan Indische Beton Maatschappij dari Surabaya. Pasar berlanggam Art Deco itupun dipuji sebagai ”Eender Mooiste Passers op Java” atau salah satu pasar terindah di Jawa. Keramaian Pasar Beringharjo semakin semarak dengan keberadaan kampung Ketandan, permukiman utama orang-orang Tionghoa di Yogyakarta. Berada persis di sebelah utara pasar, mereka membuka toko-toko yang juga merangkap sebagai tempat tinggal.
GPIB Margomulyo.
Di seberang Pasar Beringharjo, bangunan GPIB Margomulyo tertutup oleh kios PKL. Gereja itu merupakan bangunan gereja tertua di Yogyakarta. Dengan semakin banyaknya orang Belanda yang tinggal di Yogyakarta, maka berbagai sarana turut dibangun untuk memenuhi kebutuhan orang Belanda seperti stempat ibadah. Kebutuhan tempat ibadah orang Belanda di Yogyakarta dipenuhi dengan gereja-gereja yang tersebar di beberapa tempat. Gereja pertama yang dibangun di Yogyakarta adalah gereja yang kini menjadi GPIB Margomulyo di Jalan A.Yani. Ia dibangun pada masa residen Brest van Kempen. Sementara bangunan gereja dirancang oleh arsitek B.O.W., J.G.H. De Valette. Akhirnya Gereja itu diresmikan 11 Oktober 1857 oleh pendeta Ds. C.G.S Begeman ( Dingermans, 1925; 98 ).
Pemandangan jalan Malioboro tahun 1930an. Terlihat suasana jalan jauh lebih lengang dibandingkan di masa sekarang (sumber : media-kitlv.nl).

Suasana jalan Malioboro tempo dulu. (sumber : media-kitlv.nl dan Djocja Solo Beeld van Vorstenlanden ).
Tiga bangunan lama yang berada di depan Hotel Inna Garuda. Bangunan yang menjadi Indomaret Point dahulu adalah apotik Juliana.
Apotik Kimia Farma yang dahulunya adalah Apotik Rathkamp.
Bekas toko buku dan percetakan Kolf & Bunning yang kini menjadi perpustakaan.
Bangunan tua di ujung Jalan Malioboro yang di masa kolonial adalah sebuah coffieur atau tukang cukur premium. Konon tukang cukur ini merupakan tukang cukur langganan orang Belanda yang tinggal di Yogyakarta.
Dari Pasar Beringharjo, geliat perekonomian Yogyakarta kemudian mengalir di sepanjang Jalan Malioboro. Di sepanjang jalan itu, saya masih menjumpai bangunan toko-toko milik orang Tionghoa maupun Belanda yang dulu berjejalan di sepanjang jalan, menjual beraneka barang dan jasa; dari sembako, sandang, obat-obatan, buku, hingga tukang cukur. Karena itulah di jalan ini dapat dijumpai toko bergaya barat yang bersanding dengan ruko bergaya Tionghoa selatan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, banyak bangunan tersebut yang bersalin rupa. Beberapa bangunan toko bergaya barat yang masih utuh antara lain Apotik Juliana, Apotik Rathkamp, Toko Buku dan Penerbit Kolf Bunning, dan bekas coffieur atau tukang cukur di ujung utara Jalan Malioboro.
Gedung DPRD Yogyakarta yang dahulu digunakan sebagai tempat pertemuan anggota Freemason. Gedung ini dulunya menyewa kepada Sultan Yogya.
Kepingan kolonial yang saya jumpai berikuntya adalah Gedung DPRD DIY yang menempati bekas tempat pertemuan sebuah persaudaraan yang erat dengan lambang jangka dan penggaris siku, Freemason. Tahun 1870 adalah tahun kehadiran Freemason di Yogyakarta yang ditandai dengan dibukanya Loge Matatram. Dengan mengambil nama sebuah kerajaan besar yang pernah ada di Jawa, para anggota Mason berusaha menunjukan rassa hormatnya pada masa lampau Jawa. Dari loge ini pula, orang-orang pribumi mulai bergabung dengan Freemason seperti Pangeran Arjo Soerjodilogo yang bergabung pada tahun 1871. Sehingga pupuslah kesan Freemason sebagai persaudaraan khusus orang kulit putih. Dr. Th. Stevens dalam bukunya yang berjudul Tarekat Mason Bebas di Hindia-Belanda dan Indonesia 1764-1961 ( 2004 ) menyebutkan loge ini diharpakan akan menjadi loge induk kegitan masonic di Indonesia selepas kemerdekaan. Harapan itu pupus ketika Belanda pergi dan Freemason dilarang oleh pemerintah. Setelah tak dipakai sebagai Loge, gedung itu dipakai sebagai kantor BKNIP (Badan Komite Nasional Indonesia Pusat). Di gedung yang sama wakil presiden Moh. Hatta merumuskan kebijakan politik luar negeri Indonseia yang bebas dan aktif pada tahun 1948.
Hotel Inna Garuda.
 Grand Hotel Djogjakarta sebelum dan sesudah direnov
 (sumber : Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden ).
Di ujung Jalan Maliboro, hanya dipisahkan oleh jalur kereta, terdapat dua bangunan hotel peninggalan Belanda yang nasib akhirnya begitu berbeda. Dahulu, para penumpang kereta yang turun di Stasiun Tugu dapat bermalam sejenak di kedua hotel itu karena saat itu belum ada kereta malam. Di selatan Stasiun Tugu, terdapat Hotel Inna Garuda. Ketika dibuka tahun 1911, hotel itu bernama Grand Hotel Djogjakarta. Sebagaimana Stasiun Tugu, hotel itu juga terkena demam arsitektur Art Deco yang menjadikan tampilan hotel ini diubah pada tahun 1938. Sudah beberapa kali hotel itu berganti nama. Di masa Jepang, namanya Hotel Asahi. Dalam euphoria kemerdekaan, hotel itupun lantas diubah namanya menjadi Hotel Merdeka.
Keadaan Hotel Tugu di masa sekarang.
Hotel Tugu ketika masih berjaya (sumber : colonialarchitecture.eu).
Berbanding terbalik dengan Grand Hotel Djocjacarta yang masih lestari, nasib Hotel Toegoe terbilang malang. Dibalik pagar seng yang tinggi, hotel itu setidaknya masih berdiri dengan kedua menara kecil yang di kemuncaknya masih terpasang sirene. Entah bagaimana keadaan di bagian dalamnya. Keadaannya sungguh berbanding terbalik ketika hotel itu masih menjadi hotel terbaik di Yogyakarta pada masa kolonial. Salah satu pelayanan terbaik dimiliki hotel ini adalah restorannya. Sultan Hamengkubuwono VIII konon karena takut diracun oleh kalangan dalam keraton, ia memerintahkan agar makanan yang ia santap harus dimasak di restoran itu dan dibawa ke keraton dalam wadah tertutup. Ketika pecah Serangan Umum Satu Maret, hotel ini menjadi sasaran para pejuang yang berusaha merebut hotel ini. Saat itu, hotel ini menjadi markas Belanda di bawah Letkol DBA. Van Langen. Sirene yang terpasang di puncak menara hotel dijadikan tanda serangan udara dan jam malam sekaligus sebagai tanda dimulainya Serangan Umum Satu Maret. Tahun 2000an awal, bangunan hotel difungsikan sebagai toko. Namun hotel cantik ini sekarang ditelantarkan begitu saja dan terkesan dibiarkan roboh perlahan agar dapat dibangun bangunan baru. Terasa ironis manakala hotel-hotel mulai menjamur di kota Yogyakarta, nasib salah satu hotel tertuanya justru memprihatinkan.
Stasiun Tugu pada masa sekarang.
Beginilah wujud asli Stasiun Tugu sebelum dirombak (sumber : media-kitlv.nl).
Gubernur Jenderal Tjarda van Stakenbroug-Stachower ketika tiba di Stasiun Tugu. Kedatangannya disambut oleh Sultan HB VIII dengan sebuah seremoni yang mewah. Tjarda van Stakenbroug-Stachower menjadi Gubernur Jenderal terakhir di Hindia-Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, dia menjadi tawanan perang di Manchuria ( sumber : media-kitlv.nl ).
Stasiun Tugu menjadi kepingan kolonial terakhir saya. Sejarah kehadiran kereta di Yogyakarta bermula dari hasrat Belanda untuk membangun jalur kereta yang menghubungkan Yogyakarta dengan kota bandar Semarang. Hasrat itu akhirnya diwujudkan oleh Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij pada tahun 1872 dengan dibukanya Stasiun Lempuyangan. Gairah pembangunan kereta tak hanya berhenti pada Stasiun Lempuyangan saja. Pada tahun 1887, Staatspoorweg, selaku perusahan kereta milik pemerintah kolonial mendirikan Stasiun Tugu yang menghubungkan Yogyakarta dengan Cilacap dan Batavia. Letaknya yang berada di dekat Malioboro diharapkan dapat menjaring penumpang sebanyak-banyaknya. Kala Stasiun Tugu dibuka untuk pertama kalinya dengan gaya bangunan neo klasik, koran Bataviaasch Handelsblad menyanjungnya sebagai stasiun paling jelita di Hindia-Belanda. Namun bangunan bergaya neoklasik mulai dianggap ketinggalan zaman ketika memasuki paruh 1920an. Staatspoorweg lantas merombak Stasiun Tugu dengan gaya Art Deco yang sedang digandrungi banyak orang. Perombakan Stasiun Tugu berada di bawah pengawasan F. Cousin, kepala Bouwkundig Bureau dari SS. Dibanding Stasiun Lempuyangan, Stasiun Tugu derajatnya lebih tinggi. Di stasiun inilah tamu-tamu penting menginjakan kakinya di Yogyakarta, mulai dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Sultan Surakarta, hingga Presiden RI pertama Sukarno, semuanya pernah singgah di Stasiun Tugu. Stasiun Tugu juga termasuk stasiun yang sibuk dan ramai karena ia melayani empat jalur sekaligus, yakni jalur Yogyakarta-Magelang, Yogyakarta-Batavia, Yogyakarta-Brosot, dan Yogyakarta-Surakarta. Walau telah melintasi perjalanan waktu yang lama, dan jalur Yogyakarta-Magelang dan Yogyakarta-Brosot telah lama mati, stasiun Tugu masih senantiasa ramai.

Referensi
Andrisjantiromli, Inajati dkk. 2009. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta : Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Dingemans. L.F. 1925. Gegevens Over Djocjacarta.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis. Depok : Komunitas Bambu.


Suhartono WP dkk. 2002. Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia.  Yogyakarta : Penerbit Kanisius.


Dr. Th. Stevens. 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia-Belanda dan Indonesia 1764-1962. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. 


Tim Penyusun, 2014. Lensa Budaya 2 ; Menguak Fakta Mengenali Keberlanjutan. Kalasan : Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta

12 komentar:

  1. Nice. Ditunggu terbitnya di gramedia

    BalasHapus
  2. Terima kasih banyak sudah mau mampir, semoga bisa diwujudkan

    BalasHapus
  3. Tambah lagi pengetahuan saya... makasih

    BalasHapus
  4. Mas, bahas rumah2 kuno di kotabaru, sagan, dan baciro dong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk Kotabaru sudah saya bahas di sini http://jejakkolonial.blogspot.co.id/2016/03/yang-tidak-baru-di-kotabaru.html. Sementara untuk Sagan dan baciro sedang saya cari data sejarahnya. Terima kasih sudah berkunjung :-)

      Hapus
  5. Halo mas. Saya kalau mau email,bisa kemana nih? Tmks sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan email saja di sini : mynameislengkong@gmail.com

      Hapus
    2. MAS BISA MINTA KONTAK YANG BISA DI HUBUNGI. SAYA MAU NELITI TENTANG KEBUDAYAAN INDIS DI YOGYAKARTA NAMU SAYA MASI KEKUARANGAN SUMBER

      Hapus
    3. Silahkan hubungi saya via FB. thanks

      Hapus
  6. Jogja kampung saya walaupun lahir dan besar di Jakarta,, ada gerja unik di Kecamtan Godean nama nya GKJ Rewulu, Terima kasih info2 nya

    BalasHapus
  7. terima kasih ceritanya sangat menarik.,.,.salam
    cvtugu_rentcar

    BalasHapus