Jumat, 24 Maret 2017

Pesona Pecinan Parakan, ‘Tiongkok’ Kecil di Kaki Gunung Sindoro

Parakan, sebuah kota kecil yang berada di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Meskipun kecil, namun kota yang berada di kaki gunung Sindoro ini ternyata menyimpan segudang peninggalan bangunan berarsitektur Tionghoa yang pesonanya tidak kalah dengan kawasan pecinan di daerah pesisir yang sudah tenar seperti Lasem. Seperti apa pesona pecinan Parakan dan cerita dibaliknya akan saya bahas pada tulisan Jejak Kolonial edisi ini.

Sekilas Sejarah
Lokasi Parakan pada peta Jawa Tengah. Perhatikan jika kita membuat garis imajiner dari Brebes ke Gunung Lawu dan dari Lasem ke Cilacap, maka Parakan berada persis di pertemuan garis imanjiner tadi.
Secara geografis, kota Parakan berada di lereng gunung Sindoro dan gunung Sumbing dengan elevasi sekitar 800 mdpl. Lokasi Parakan cukup strategis karena berada di pertigaan jalan yang menghubungkan wilayah pesisir utara dengan wilayah pedalaman Jawa bagian tengah seperti Temanggung di timur dan Wonosobo di barat. Letaknya yang strategis menjadikan Parakan memiliki peradaban yang cukup maju di masanya. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan situs arkeologi Liyangan yang letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota Parakan sekarang. Menariknya, jika kita membuat garis imajiner yang membentang dari Lasem sampai Cillacap, lalu dari Brebes ke Gunung Lawu, maka posisi Parakan persis di pertemuan kedua garis imajiner tadi.
Peta Parakan pada tahun 1907. Perhatikan persebaran lokasi pemukiman Tionghoa ( arsir hitam ) yang memanjang dari jalan utama Wonosobo-Temanggun dan Parakan-Weleri. Selain tinggal di sepanjang jalan utama, pemukiman Tionghoa juga dapat ditemukan pada jalan-jalan kecil. Selain itu, amati pula bahwa jalan utama Parakan-Temanggung masih berada di sebelah timur  dari jalan sekarang, lewat sebuah jembatan yang berada di belakang Restoran Sari Ayam sekarang
( sumber : maps.library.leiden.edu).
Menurut legenda, asal nama Parakan berasal dari kyai yang mendapat sebutan parak. Namun hal ini perlu penelitian tersendiri karena ada banyak nama tempat di Jawa yang menggunakan nama Parakan. Pada masa perjuangan kemerdekaan, Parakan dikenal dengan senjata bambu runcingnya. Para pejuang sebelum berangkat berperang, pergi menemui kyai-kyai terkenal seperti K.H. Subchi, K. H. Nawawi, dan lain-lain untuk memberikan kekuatan spiritual pada senjata bambu runcing yang mereka gunakan.
Peta Parakan pada tahun 1940. Perhatikan akses jalan utama Parakan-Temanggung yang sudah dipindah ke lokasi sekarang yang berada kira-kira tiga ratus meter dari jalan sebelumnya ( sumber : maps.texas.lib.edu ).
Lalu sejak kapan komuntias Tionghoa hadir di Parakan ?  Tidak ada bukti tertulis sejak kapan orang Tionghoa hadir di Parakan dan bagaimana mereka datang. Berdasarkan makam Tionghoa tertua yang ada di Gunung Manden, makam itu sudah ada sejak tahun 1821 sehingga dapat dipastikan komunitas Tionghoa sudah ada di Parakan sebelum tahun tersebut. Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa komunitas Tionghoa di Parakan merupakan eksodus dari komunitas Tionghoa yang dahulu tinggal di Jono, Purworejo. Namun sekali lagi pendapat ini perlu dibukitkan dengan penelitian. Namun satu hal yang pasti adalah, komunitas Tionghoa di Parakan sebagian besar merupakan pelarian dari kota-kota lain seperti Semarang, Yogyakarta dan wilayah Kedu dan Banyumas yang berusaha mencari tempat tinggal yang aman ketika terjadi Perang Jawa ( 1825- 1830 ). Selain aman, tanah di sekitar Parakan sangat subur karena berada di lereng kedua gunung vulkanis, sehingga tidak heran banyak orang Tionghoa yang menjadi pedagang tembakau, tanaman yang banyak dibudidayakan di sekitar Parakan.

Dengan latar belakangnya sebagai pusat penyebaran agama Islam di sekitar Temanggung dan juga sekaligus sebagai kantong pemukiman Tionghoa yang cukup penting di kaki gunung Sindoro, kehidupan bersama berbagai etnis di Parakan berlangsung secara harmonis dalam kurun waktu yang cukup panjang. Di Parakan seolah tidak ada isitilah pribumi ataupun pendatang.

Pesona Pecinan
Lokasi peninggalan sejarah utama di Parakan.
Tetenger bangunan Tionghoa yang dapat kita lihat pertama kali apalagi kalau bukan bangunan kelenteng yang menjadi tempat peribadatan orang Tionghoa. Klenteng Parakan atau klenteng Hok Tek Tong terletak di jalan Letnan Suwaji, Parakan. Kunjungan saya bersama rombongan komunitas Roemah Toea sendiri ke klenteng Parakan disambut dengan hangat oleh om The Han Tong atau akrab disapa koh Bo Dong, salah satu dari pengurus klenteng Parakan. Tidak ada catatan resmi kapan klenteng Parakan didirikan, namun diperkirakan bangunan klenteng dibangun pada  1830, lalu bangunan klenteng dipermegah pada 1844 oleh Lie Tiauw Pik, letnan Tionghoa di Parakan. Dengan demikian, klenteng Parakan dapat dikatakan sebagai klenteng tertua di Karesidenan Kedu. Dalam pembangunan klenteng Parakan, selain orang Tionghoa, orang lokal pun juga terlibat dalam pembangunan. Pada masa penjajahan Jepang, klenteng ini dalam kondisi terabaikan namun untungnya setelah Jepang angkat kaki, bangunan klenteng dan aktivitasnya dapat dipulihkan kembali ( sumber : http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2545-hikayat-berdirinya-kelenteng-hok-tek-tong-parakan ).
Klenteng Hok Tek Tong dilihat dari halaman luar. Halaman klenteng ini termasuk luas dan menandakan bahwa klenteng ini memiliki aktivitas yang padat.
Klenteng Hok Tek Tong dilihat dari dalam. Terlihat shi zi atau sepasang singa batu yang terdapat di muka klenteng. Hewan singa bukanlah hewan asli Tiongkok dan tampaknya hewan ini mulai dikenal di Tiongkok setelah adanya hubungan dagang antara negeri Tiongkok dengan bangsa-bangsa di Asia Barat.
Bangunan klenteng Parakan sendiri tidaklah semegah atau seistimewa bangunan klenteng di kota-kota pesisir seperti Semarang, Surabaya atau Lasem. Bangunan klenteng hanya terdiri dari pendopo kecil yang dibawahnya terdapat wadah dupa besar, bangunan utama tempat pemujaan dewa utama, dan bangunan tambahan untuk dewa-dewi lain. Posisi kelenteng ini berada di ujung pertigaan jalan atau tusuk sate. Tujuannya adalah sebagai “benteng” terhadap energi buruk. Halaman depan kelenteng ini termasuk sangat luas, menunjukan bahwa kelenteng ini dahulu memiliki banyak sekali aktivitas masyarakat. Menurut Ardian Cangianto ( 2013 ), dahulu kelenteng merupakan pusat tempat dimana masyarakat Tionghoa melakukan aktivitas hidup, mulai dari beribadah, tempat rapat membahas masalah sosial, tempat pendidikan, rumah jompo, panti asuhan, hingga pos pertahanan yang sayangnya aktivitas tadi sekarang mulai berkurang dan aktivitas yang menonjol hanyalah aktivitas religius saja.
Bagian dalam klenteng.
Di dalam klenteng ini, terdapat arca dewa atau Toapekong yang dipuja sebagai tuan rumah di tempat tersebut, Hok Tek Cing Sin, Dewa Bumi, dewa yang dipuja di wilayah pedalaman yang mayoritas masyarakat bekerja di sektor agraris. Menariknya, Toapekong tersebut bukan berasal dari Parakan, melainkan dibawa dari Semawung di Kutoarjo, Purworejo oleh seorang Tionghoa totok yang belum diketahui namanya. Ketika terjadi wabah pada 1902 dan 1918, Toapekong tadi dibawa keluar untuk diarak keliling Parakan dengan maksud menghilangkan wabah.
Rumah Gambiran.
Di antara semua bangunan bergaya Tionghoa yang ada di Parakan, bangunan yang akan membuat pikiran kita terhantui dengan kecantikannya adalah bangunan yang oleh masyarakat sekitar disebut Rumah Gambiran. Memang ada benarnya sebutan tersebut karena rumah tersebut dibangun pada tahun 1905 oleh juragan gambiran bernama Siek Oen Soei. Lalu siapakah sosok Siek Oen Soei ? Siek Oen Soei merupakan salah satu anak dari Siek Tiauw Kie, juragan gambir terkenal di Parakan. Siek Oen Soei merupakan penerus bisnis gambir yang sudah dikembangkan pada abad ke-19 di Parakan oleh moyangnya, Siek Hwie Soe, yang lahir di negeri Tiongkok dan kemudian merantau ke Parakan pada tahun 1821. Di Parakan, Siek Hwie Soe menikahi anak perempuan majikannya, Loe Tjiat Djie dan mewarisi bisnis gambir milik mertuanya. Pada abad ke-19, gambir merupakan bahan pewarna pakaian untuk warna yang dikenal sebagai warna “khaki”.
Bekas gudang gambir.
Setelah sukses, Siek Hwie Soe kembali ke negeri Tiongkok dan mengajak keponakannya, Siek Hwie Kie untuk bergabung dengannya. Bisnis gambir ini kemudian berkembang dan akhirnya keluarga Siek mendirikan sebuah firma bernama “ Hoo Tong Kiem Kie ” yang juga memiliki bisnis lain di Semarang. Nama “ Hoo Tong “ merujuk pada tempat asal leluhur keluarga Siek di negeri Tiongkok. Setelah Siek Hwie Soe meninggal pada 1882, firma ini dibagi menjadi dua, yakni satu di Semarang dan satunya lagi di Parakan. Firma yang ada di Parakan dipegang oleh Siek Tiauw Kie yang kemungkinan dibawa ke Parakan oleh pamannya pada 1840. Siek Tiauw Kie memiliki beberapa istri dan memiliki tiga anak, Siek Kiem Tan, Siek Oen Soei, dan Siek Kiem Ing. Sepeninggal Siek Tiauw Kie yang meninggal dalam pelayaran dari Tiongkok ke Parakan, bisnis keluarga tadi semakin berkembang dengan terjunnya mereka ke bisnis perdagangan beras dan tembakau. Pada tahun 2006, rumah ini dibeli oleh seorang biarawan Buddha. Setelah dibeli, bangunan rumah ini direstorasi menjadi wihara retret. Restorasi ini selesai pada akhir tahun 2007. ( Knapp, 2010; 191-192 ).
Beranda depan rumah Indis. Beranda ini menghadap ke selatan.
Bagian bangunan utama Rumah Gambiran ini dibagi menjadi tiga, yakni bagian beranda depan, bagian tengah yang terdiri dari altar leluhur yang diapit oleh kamar tidur di kedua sisinya dan bagian beranda belakang yang juga diapit oleh kamar tidur di kedua sisinya, kemudian di samping kanan dan kiri terdapat bangunan samping yang menghadap bangunan utama.
Ilustrasi yang menunjukan bagaimana dahulu Siek Oen Soei menikmati senja di beranda depan rumahnya. Ilustsrasi ini diperankan oleh om The Han Thong.
Pada beranda depan, kita dapat melihat balok rangka konstruksi atap yang dihiasi dengan begitu indah atau dalam bahasa Tionghoa disebut che shang ming zhao. Di sini, kita juga dapat menemukan kursi santai tua. Mungkin kita bisa membayangkan tuan Siek Oen Soei duduk di kursi itu, menikmati sore hari di beranda depan sambil memikirkan berapa keuntungan yang akan diperoleh setelah panen tembakau.
Bagian kamar samping.
Dari beranda depan ke bagian tengah, kita akan melewati sebuah pintu kayu besar. Persis menghadap ke pintu, terdapat bekas altar leluhur yang kini diubah menjadi altar Buddha. Pada rumah keluarga Tionghoa, jamak sekali ditemukan altar leluhur yang posisinya menghadap pintu masuk utama. Keberadaan altar leluhur ini menunjukan bahwa kebiasaan menghormati leluhur dijunjung tinggi sekali dalam kebudayaan Tionghoa. Di balik altar leluhur, terdapat partisi dari kayu yang kaya dengan ornamen tradisional Tionghoa. Partisi kayu ini memisahkan bagian tengah dengan bagian belakang yang sifatnya privat ( Pratiwo, 2010; 200 ).
Beranda belakang rumah yang dibangun tahun 1905.
Beranda belakang rumah Indis.
Pada bagian belakang, terdapat pintu masuk menuju kamar tidur yang berada di samping kanan dan kiri. Bergerak ke beranda belakang, bagian ini dahulunya merupakan ruang makan keluarga. Bagian beranda belakang ini diapit oleh kamar tidur di kedua sisinya. Di samping kanan dan kiri bangunan utama, terdapat bangunan tambahan yang dahulu menjadi kamar tidur tambahan, ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Bagian ini kadang dapat dipakai untuk tempat tinggal anggota keluarga yang sudah menikah namun belum memiliki tempat tinggal, dapat dibayangkan betapa ramainya rumah ini di masa lalu. Rumah ini memiliki sebuah halaman tengah atau courtyard yang berfungsi sebagai tempat hawa udara dan sinar matahari masuk. Di tengah-tengah halaman, terdapat meja batu yang dahulu bisa digunakan untuk meja judi.
Bagian dalam rumah Indis milik Siek Oen Soei.
Menariknya, persis di belakang bangunan utama yang memiliki gaya arsitektur Tionghoa, berdiri sebuah bangunan lain dengan gaya arsitektur Indis. Jadi dalam satu tapak bangunan, terdapat dua bangunan dengan gaya arsitektur yang berbeda, yakni bangunan berasitektur Tionghoa di sebelah utara dan bangunan berasitektur Indis di sebelah selatan. Ciri arsitektur Indis dapat dilihat dari keberadaan kolom di beranda depan yang menghadap ke selatan dan di dalam rumah terdapat koridor tengah dengan dua kamar di sisi kanan-kirinya. Menurut Knapp, diperkirakan rumah ini sudah lebih dahulu ada sebelum rumah bergaya Tionghoa dibangun di sebelah utaranya. Rumah ini sengaja dibangun dalam gaya Indis yang notabene merupakan gaya yang banyak dipakai pada rumah-rumah pembesar Belanda di Jawa sebagai usaha si pemilik rumah mengikuti trend yang berkembang di kalangan elit. Ketika Siek Oen Soei pergi ke negeri leluhurnya di Tiongkok, identitas dia sebagai orang Tionghoa menjadi kembali kuat. Ketika kembali lagi ke Parakan, barulah dia membangun rumah dengan bentuk yang serupa dengan yang ada di negeri nenek moyangnya ( Knapp, 2010 ; 194 ).
Rumah milik bapak Go Kiem Yong.
Di sebelah timur Rumah Gambiran, kita dapat mengunjungi rumah tinggal milik keluarga bapak Go Kiem Yong. Rumah ini memang tidak semewah Rumah Gambiran, namun kondisi rumah ini sama terawatnya dengan Rumah Gambiran. Dari jalan, rumah ini tidak terlihat karena tertutup oleh tembok tinggi yang melindungi privasi rumah ini. Untuk masuk ke dalam, kita masuk lewat sebuah gerbang kecil di tengah-tengah tembok pagar. Di balik tembok kecil, kita dapat melihat bangunan utama rumah dengan halaman yang asri nan hijau. Di halaman ini, tampak bekas alat latihan kebugaran yang dahulu pernah dipakai oleh Louw Djieng Tie. Siapakah sebenarnya Louw Djieng Tie ?
Potrait Louw Djieng Tie yang terpasang di dalam rumah. Louw Djieng Tie memiliki peran cukup besar dalam memperkenalkan seni bela diri kungfu di Indonsia. Meski sudah menjadi master, namun beliau tetap rendah hati.
Louw Djieng Tie merupakan seorang pendekar kungfu yang lahir di kota Haiting, Provinsi Hokkian, Tiongkok pada tahun 1855. Ketertarikannya beliau pada seni bela diri kungfu muncul ketika dia diselamatkan dari kejaran seorang biksu jahat bernama Thi Tjeng oleh seorang tukang masak tahu. Setelah mempelajari ilmu kungfu cukup lama dari berbagai guru, Louw Djieng Tie mendirikan perguruan sendiri di kota Hok Ciu, Provinsi Hok Kian. Alkisah, pada suatu hari Louw Djieng Tie membuat sebuah kesalahan gara-gara dia nyaris membunuh seorang lawan dari kawannya, Lie Wan pada sebuah seleksi guru kungfu yang diadakan oleh pemerintah setempat. Untuk menghindari hukuman berat, Louw Djieng Tie memutuskan pergi ke luar dari negeri Tiongkok.
Alat-alat yang pernah dipakai oleh Louw Djieng Tie dan murid-muridnya. yang masih terawat dengan baik Benda ini merupakan salah satu artefak sejarah per-kungfu-an di Indonesia.
Awalnya, Louw Djieng Tie hijrah ke Singapura. Dari Singapura, Louw Djieng Tie pindah ke Jawa dengan Batavia sebagai tempat persinggahan pertamanya. Nasib Louw Djieng Tie di Batavia kurang mujur, sehingga beliau pindah lagi ke Semarang dan kemudian pindah lagi ke Kendal. Dari Kendal, beliau diajak pindah ke Ambarawa oleh kawannya. Di Ambarawa, Louw Djieng Tie sempat mendirikan perguruan kungfu secara diam-diam karena pada waktu itu mempelajari ilmu beladiri dilarang oleh pemerintah. Louw Djieng Tie selain dikenal ahli kungfu, juga dikenal orang yang ringan tangan. Pernah suatu hari, Louw Djieng Tie berhasil mengalahkan belasan serdadu Belanda yang mengobrak-abrik toko milik warga pribumi.

Akhirnya Louw Djieng Tie memutuskan pindah ke Parakan dan  menumpang di rumah milik keluarga bapak Go Kiem Yong. Pada suatu hari, ada seorang guru kungfu setempat bernama The Soei yang juga tidak kalah mahir dalam ilmu kungfu. The Soei ingin mengajukan tantangan adu ilmu kungfu kepada Louw Djieng Tie. Untuk menghindari cidera keduanya, maka pada pertandingan, senjata tajam diganti dengan kuas cina. Pertandingan berjalan cukup seru dan Louw Djieng Tie berhasil mendesak lawannya. Namun untuk menjaga harga diri The Soei, Louw Djieng Tie sengaja mengalah. Pertandingan dinyatakan imbang dan Louw Djieng Tie semakin dihormati kehebatannya. Di usia senja, Louw Djieng Tie memiliki banyak murid dan perguruan  yang diampu olehnya semakin besar. Meskipun demikian, Louw Djieng Tie tidak pernah bosan melatih muridnya dan tetap rendah hati. Louw Djieng Tie meninggal pada tahun 1921 pada usian 66 tahun.  Berkat Louw Djieng Tie, ilmu kungfu menjadi semakin terkenal di Indonesia. Untuk mengenangnya, perjalanan hidupnya diabadikan dalam buku “Garuda Mas dari Cabang Siaouw Liem” yang ditulis oleh tetangganya, Tjiu Khing Soei. Begitulah kisah Louw Djieng Tie yang juga sukses mengantarkan nama Parakan terkenal di dunia persilatan Indonesia dan rumah milik Bapak Go Kim Yong inilah saksi bisunya ( sumber : https://kebudayaantionghoa.wordpress.com ).

Masih di Parakan, kita dapat menemukan berbagai bangunan lama. Ada bangunan yang nuansa Tionghoanya masih kental. Ada pula bangunan yang mulai terpengaruh oleh budaya Indis. Pada salah satu rumah yang saya masuki, terdapat sebuah dapur lama. Ciri dapur tradisional Tionghoa adalah orientasinya yang menghadap ke timur.
Salah satu rumah bergaya Tionghoa di Parakan yang menjadi korban vandalisme. Sudah seharusnya masyarakat dan pemerintah Parakan bertanggung jawab pada pelestarian warisan budaya ini.
Rumah beraya Tionghoa lain yang juga tak luput dari aksi Vandalisme.
Rumah bergaya Tionghoa di jalan Brigjen. Katamaso.


Rumah-rumah yang sudah mendapatkan pengaruh arsitektur Indis.
Peninggalan sejarah lain yang masih dapat kita temukan di Parakan adalah Stasiun Parakan. Meski secara arsitektur Stasiun Parakan ini tidak bergaya Tionghoa, namun bangunan stasiun yang diperkirakan dibangun pada tahun 1907 ini juga tidak kalah mempesona dengan bangunan Tionghoa lain di Parakan meski pesonanya sudah mulai pudar serta masih ada sedikit hubungan dengan keberadaan etnis Tionghoa di Parakan.
Stasiun Parakan di masa kolonial ( sumber : media-kitlv.nl ).
Stasiun Parakan merupakan Stasiun paling ujung dari jalur kereta Secang-Parakan yang mulai dioperasikan oleh perusahaan kereta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij pada tahun 1907. Jalur kereta tersebut pembangunannya dilaksanakan oleh kontraktor Tionghoa asal Parakan bernama Ho Tjong An. Dengan demikian, stasiun ini masih ada hubungannya dengan keberadaan komuntias Tionghoa di Parakan. Meskipun letaknya di ujung, tipe bangunan stasiun Parakan bukanlah stasiun ujung, melainkan stasiun tepi. Mengapa demikian ? Rupanya pemerintah Hindia Belanda berencana meneruskan pembangunan jalur kereta dari Secang ke arah Wonosobo dan Weleri, sehingga nantinya Stasiun Parakan akan menjadi stasiun percabangan. Oleh karena itulah di masa lalu Stasiun Parakan juga memiliki emplasemen yang sangat lebar. Pembangunan jalur tersebut sudah dipersiapkan blueprint nya dan tinggal menunggu dana saja karena butuh dana besar untuk membangun kedua jalur tersebut, terutama jalur Parakan-Wonosobo karena harus membelah perbukitan di wilayah Kledung. Sayangnya, rencana tadi tinggal rencana saja karena Jepang keburu menduduki Indonesia pada tahun 1942 dan setelah kemerdekaan, pemerintah RI tampaknya tidak tertarik mengembangkan jalur ini dan malah menutup jalur Secang-Parakan pada tahun 1970an. Kebijakan yang akan disesalkan di kemudian hari…
Bangunan Stasiun Parakan pada masa sekarang, saksi bisu sejarah perkeretapian di Parakan yang mulai memudar pesonanya.
Jembatan kereta api Kali Galeh, saksi bisu sejarah perkeretapian di Parakan yang lain.
Secara arsitektural, Stasiun Parakan memiliki gaya arsitketur NIS-Chalet dengan bentuk atap tipe jerkinhead. Di stasiun ini, kita dapat melihat keahlian tukang-tukang zaman dahulu yang dapat dibuktikan dengan ekspose pada setiap spasi bata. Peron Stasiun Parakan berada di sebelah timur. Di sini kita dapat menemukan lantai stasiun yang masih dilapisi dengan tegel kotak-kotak khas stasiun. Kondisi bangunan sekarang agak baik meski kurang terawat dan ada penambahan bangunan serta dinding lubang tiket yang berada di tempat yang tidak semestinya. Dahulu, stasiun ini pernah memiliki bangunan depo, gudang dan rumah dinas pegawai stasiun. Namun kini yang tersisa hanyalah bangunan gudang yang ada di sebelah utara stasiun dan rumah dinas di sebelah barat stasiun. Sementara bangunan depo sekarang sudah menjadi pasar.

Demikianlah tulisan Jejak Kolonial edisi Parakan ini. Meski namanya sebagai pecinan tidak setenar Lasem atau Semarang, namun Parakan juga menyimpan cukup banyak warisan budaya Tionghoa dengan cerita-cerita menarik di dalamnya. Keberadaan pecinan Parakan ini juga menujukan adanya nilai toleransi kehidupan antar etnis di Parakan dari dahulu hingga sekarang. Nilai inilah yang seharusnya perlu disebarkan di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang nilai toleransinya mulai turun…

Referensi
Cangianto, Ardian. 2013. Menghayati Kelenteng sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa dalam web.budaya-tionghoa.net.

Knapp, G.Ronald. 2010. Chinese Houes of South East Asia ; The Ecletic Architecture of Sojournes & Settlers. Vermont : Tuttle Publishing.

Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2545-hikayat-berdirinya-kelenteng-hok-tek-tong-parakan


https://kebudayaantionghoa.wordpress.com/2009/07/18/louw-djing-tie/

Jumat, 17 Maret 2017

Penggalan Warisan PG Gembongan Kartasura

Kartasura, sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Meskipun kecil, kota ini sangat strategis karena berada di petigaan jalan menuju Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Menurut sejarah, Kartasura bediri pada masa Kerajaan Mataram Islam. Peninggalan yang tersisa dari masa ini kini hanyalah tinggal sepenggal tembok bekas keraton Kartasura. Tidak hanya itu saja, di Kartasura kita juga dapat melihat peninggalan sejarah lain, berupa pabrik gula tua peninggalan masa kolonial. Bangunan pabrik gula tadi dikenal sebagai PG Kartasura atau kadang disebut juga sebagai PG Gembongan. Kejayaan apa saja yang masih tersisa dari PG Gembongan ? Mari kita telusuri bersama-sama.

PG Gembongan Dalam Lintasan Sejarah
PG Gembongan ketika baru saja dibuka. Terlihat para pegawai berdarah Eropa ( kanan ) dan pribumi ( kiri ) yang sedang berpose. Ketika PG Gembongan baru dibangun, bentuk dan ukuran bangunan lebih sederhana daripada sekarang. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Kapan PG Gembongan berdiri ? Jawaban pertanyaan tersebut tidak saya temukan pada literatur sejarah dan justru saya temukan pada sebuah foto hitam-putih. Pada foto tersebut, terlihat bangunan cerobong PG Gembongan. Jika diamati dengan teliti, pada bagian atas cerobong tersebut yang terlihat samar pada foto, tampak tulisan “Kartasura 1899”. Angka “ 1899 “ tersebut bisa dipastikan sebagai tahun berdirinya PG Gembongan. Sayangnya angka tahun tadi kini sudah tidak tampak sehingga generasi di masa sekarang tentu sudah tidak mengetahui kapan bangunan pabrik gula ini dibangun. Dalam buku Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie yang berisikan daftar perkebunan di Hindia-Belanda, kepemilikan PG Gembongan dipegang oleh Kartasoera Cultuur Maatschappij yang dikuasai oleh W.G.Wolbers ( Anonim, 1914 ; 206 ).


Bangunan penimbang tebu. Tebu yang akan diproses terlebih dahulu ditimbang di sini. Di kejauhan tampak cerobong PG Gembongan dengan angka tahun 1899 yang terlihat samar ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Selama PG Gembongan ini berdiri, tentu banyak cerita sejarah yang terjadi di dalamnya. Salah satu yang terdokumentasikan adalah cerita perampokan yang menimpa salah satu rumah milik pegawai PG Gembongan yang tercatat dalam koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indische edisi 8 November 1909. Menurut koran tadi, pada malam tanggal 2 November, sekitar jam setengah satu malam, sebuah rumah milik pegawai pa brik gula berdarah Tionghoa bernama Ang Ing Gwan disatroni oleh perampok berjumlah 5 orang. Kelima perampok ini semuanya berdarah Jawa. Dengan membawa senjata berupa pistol revolver dan golok, perampok ini berhasil menyandera tuan rumah untuk menunjukan dimana dia menyimpan harta bendanya. Mengetahui telah terjadi perampokan, istri si tuan rumah berusaha keluar untuk mencari bantuan, namun dicegah oleh perampok dengan memukul golok ke lengan istri tuan rumah yang malang tadi. Lalu muncul anak perempuan si tuan rumah yang berusia 10 tahun yang membawa celengan berisi 40 f  untuk diberikan kepada perampok dengan harapan ayahnya dapat dibebaskan. Setelah dibebaskan, si tuan rumah bergegas ke kamar tidurnya untuk mengambil pistol revolver miliknya. Menyadari hal tersebut, perampok tadi melepaskan tembakan tapi beruntung tembakan tadi meleset. Setelah si tuan rumah berhasil mengambil pistol, terjadi tembak-menembak yang melukai beberapa perampok. Suara tembakan pistol yang terdengar keras membuat para pegawai pabrik lain yang mayoritas berdarah Eropa terbangun dan mereka segera menghampiri asal suara tadi. Menyadari massa semakin banyak, gerombolan perampok tadi kemudian melarikan diri.
Emplasemen lori PG Gembongan. Tampak lokomotif diesel yang berada di tengah emplasemen
( sumber : troppenmuseum.nl ).
Sebuah lori milik PG Gembongan yang sedang menarik rangkaian gerbong berisi tebu. Agar tidak bertubrukan dengan kereta penumpang, dibuat sebuah underpass untuk jalur lori di bawah jalur kereta.
PG Gembongan pada masa lalu dapat dikatakan sebagai pabrik gula yang istimewa karena pabrik gula ini sudah menggunakan  lori bermesin diesel seperti yang terlihat pada foto di atas. Pada masa kejayaan PG Gembongan, teknologi lori bermesin diesel masih jarang dipakai. Kebanyakan pabrik gula pada waktu itu masih menggunakan teknologi lori bermesin uap. Sayangnya, tidak diketahui bagaimana nasib dari lori diesel tersebut di masa sekarang.


Tidak diketahui apakah PG Gembongan selamat dari badai krisis malaise yang mengakibatkan merosotnya jumlah PG di Jawa. Tapi tampaknya PG ini masih sanggup bertahan hingga masa sesudah kemerdekaan. Sesudah kemerdekaan, sebagian lahan PG Gembongan dikuasai oleh PTPN dan sebagian lainnya dikuasai oleh ABRI. Tak berapa lama kemudian, bangunan pabrik ini kemudian dibeli oleh PT Karep Bojonegoro pada 1968. Pada 1985, bangunan PG dijual lagi kepada PT Pandusata Utama, dan setelah itu bangunan PG ini beberapa kali berpindah tangan. Terakhir bangunan PG Gembongan dimiliki oleh PT Sinar Grafindo. Meski sudah beberapa kali berpindah tangan, namun pemilik yang baru tampaknya tidak tertarik untuk melestarikannya…

Menapak Penggalan PG Gembongan
Kondisi PG Gembongan pada masa sekarang dilihat dari citra satelit. Keteangan : 1. Kompleks pabrik ; 2. Rumah dinas yang masih tersisa ; 3. Bekas emplasemen lori.
Kedatangan saya ke eks PG Gembongan kali ini ditemani oleh teman saya dari Boyolali yang juga penikmat bangunan kolonial, Mas Benu. Dengan bantuan dari Mas Benu, saya bisa masuk lebih dalam ke area eks PG Gembongan. Sebelum itu, saya hanya bisa puas melihat kemegahan PG Gembongan dari luar saja. Begitu kami berdua masuk ke pabrik, kami disambut dengan ramah sekali oleh Pak Widodo, penjaga  eks PG Gembongan yang rumahnya masih satu kampung dengan lokas eks PG Gembongan berdiri. Setelah ramah tamah dengan Pak Widodo, kami meneruskan agenda semula, mengeksplorasi jengkal demi jengkal dari eks PG Gembongan.
Bangunan PG Gembongan dilihat dari luar.
Detail fasad art deco pada bangunan PG Gembongan.
Bangunan pabrik yang kita lihat sekarang bukanlah bangunan yang asli dibangun pada tahun 1899. Berdasarkan insripsi yang terdapat pada fasad pabrik, bangunan pabrik, terutama bagian fasad, direnovasi pada tahun 1920 dengan gaya arsitektur art deco yang sedang banyak dipakai pada waktu itu. Ciri art deco dapat dilihat dari permainan garis vertikal tegak lurus dan profil bangunan yang lugas. Fasad art deco dengan ukuran monumental ini memancarkan aura modern dan megah pada bangunan PG Gembongan ini.
Bangunan gudang.
Bagian dalam bangunan gudang yang ditopang oleh pilar-pilar berbentuk kotak.
Sebelum kami masuk ke bangunan utama pabrik, kami terlebih dahulu melihat bangunan gudang PG Gembongan yang terletak di sebelah barat bangunan utama pabrik. PG Gembongan memiliki dua bangunan gudang yang masih asli. Kamipun masuk ke salah satu bagian gudang untuk melihat kondisi bagian dalamnya. Bagian dalam gudang ini benar-benar kosong. Nyaris tak ada yang tersisa selain sampah dan debu yang mengotori lantai gudang. Kami selanjutnya memasuki bangunan lain yang terletak di ujung barat area PG. Bangunan ini dahulu merupakan remise atau depo lokomotif pengangkut tebu. Barisan-barisan lokomotif yang dahulu memenuhi bagian dalam, kini digantikan dengan  tumpukan gulungan kertas yang entah sampai kapan mengisi gudang ini.
Tampak luar bangunan bekas remise atau depo lori PG Gembongan. Terlihat angka tahun 1918 di bagian atas.
Kondisi bagian dalam bekas remise.
Di antara bangunan gudang lama dan bangunan utama pabrik, terdapat bangunan gudang baru. PG ini memang sudah berulangkali berpindah kepemilikan. Ketika sudah berpindah tangan, tentu saja akan ada penambahan atau pengurangan, tergantung dari kebutuhan si empunya. Beruntung, bangunan utama pabrik tidak dijamah samasekali. Di lahan antara gudan baru dan bangunan lama PG, dahulu pernah terdapat jalur kereta lebar 1067 mm yang nanti akan menyambung dengan jalur kereta jurusan Boyolali – Purwosari yang kini tinggal sejarah saja. Jalur kereta ini tentu mempermudah bagi kereta besar yang akan mengangkut gula sehingga pengangkutan gula menjadi lebih efisien.
Bagian yang dahulu menjadi akses masuk utama PG Gembongan
Relief berwujud gilingan tebu yang terdapat di atas pintu masuk PG Gembongan.
Dari gudang, kamipun selanjutnya masuk ke bagian dalam bangunan utama pabrik, tempat dahulu dimana tebu digiling dan diproses menjadi gula. Bangunan ini sangat tinggi sehingga udara di dalam pabrik tidak begitu panas. Sinar matahari menembus ke dalam ruangan lewat jendela kaca yang sangat tinggi. Di dalam pabrik ini, kita jangan berharap dapat menemukan mesin-mesin tua berukuran raksaksa seperti halnya pabrik gula peninggalan Belanda lainnya. Sejak PG Gembongan ditutup, mesin-mesin yang dahulu suaranya bisa menggetarkan bangunan pabrik sudah tidak diketahui rimbanya. Barangkali mesin-mesin tadi sudah berakhir di peleburan besi rongsok. Bagian dalam pabrik kini diisi dengan berbagai mesin-mesin pengepras dan pembungkus tembakau yang sudah berdebu.
Bagian dalam PG Gembongan. Tampak dudukan cerobong PG.
Plakat di bagian dudukan cerobong.
Di dalam pabrik yang suasananya sangat lengang ini, kita dapat melihat dudukan cerobong yang dari luar terlihat menjulang tinggi sekali. Dari luar, cerobong yang dahulu berwarna putih ini terlihat kusam. Di dudukan cerobong, kita dapat menemukan sebuah sebuah papan tulisan yang berbunyi :
Tempat pembikinan bahan bakaran
Haroes didjaga
Dengan Kebersihan
Dibawah tulisan itu, terdapat tulisan lain dalam aksara Jawa. Dari ejaanya, tampaknya plakat ini berasal dari tahun 1950an, periode dimana PG Gembongan masih aktif beroperasi.
Bagian dalam PG Gembongan. Tampak langit-langit dari anyaman bambu yang mulai ambrol. Meski terlantar, tapi aura kejayaan PG ini masih bisa dirasakan hingga sekarang.
Lantai tegel lama yang sudah ditimbun.
Jika kita mendongak ke atas, kita bisa melihat langit-langit bangunan yang masih terbuat dari anyaman bambu dan beberapa di antaranya sudah lapuk karena sudah termakan oleh usia. Sebaliknya, jika kita mendongak ke bawah, kita dapat melihat lantai pabrik yang aslinya terbuat dari tegel kotak-kotak berwarna kuning impor dari Belanda dan permukaan tegel tadi kemudian ditutup dengan tegel lokal yang warnanya abu-abu gelap. Dua lapis tegel tadi menunjukan bahwa perjalanan PG Gembongan sudah melewati dua masa, yakni masa kolonial dan masa kemerdekaan. Dari salah satu potongan tegel, tegel ini diproduksi oleh pabrik tegel “ Alfred Regout & Co.” yang pabriknya ada di kota Maastricht, Belanda. Tegel buatan pabrik tersebut dikenal akan kualitasnya yang bagus sehingga banyak bangunan dari masa kolonial mulai dari stasiun, kantor, hingga pabrik gula menggunakan tegel ini.
Sumuran kecil di bagian sisi timur pabrik.
Kami kemudian menjelajah bangunan yang terdapat di sisi timur pabrik. Butuh perjuangan untuk menuju ke sini karena kami harus menembu rumput-rumput liat yang lebat nan tinggi. Perjuangan belum selesai karena untuk masuk ke dalam bangunan, kami harus memanjat undak-undakan yang sudah tertutup tanaman. Kondisi bangunan ini kosong melompong dan sangat lembab. Sinar matahari dengan mudahnya masuk ke dalam karena sebagian atap bangunan ini sudah hilang. Tampak kuda-kuda kayu yang sudah mulai lapuk dan sewaktu-waktu bisa ambruk. Beberapa tanaman paku liar tumbuh subur pada salah satu ruangan dan seolah membawa kami ke dimensi lain. Di bangunan ini, kami menemukan sebuah sumuran kecil berbentuk kotak. Sumuran ini begitu kecil sehingga saya yang tubuhnya kecil pun tidak dapat masuk ke dalam. Di bawah sumuran ini, terdapat sebuah terowongan kecil yang tampaknya untuk saluran irigasi.
Tampak luar bangunan kantor.
Bagian dalam kantor.
Dari bangunan tadi, kami menuju bekas bangunan kantor yang terdapat di selatan pabrik. Kondisi di bagian dalam begitu kotor dan gelap. Di sini tampak beberapa bekas dinding tripleks untuk tambahan ruangan baru. Kami tak menemukan apapun di sini selain kegelapan dan kesunyian.

Setelah berjelajah ria mengelilingi eks PG Gembongan, kami beristirahat di tempat dimana Pak Widodo biasa bersitirahat. Di sini, kami mengobrol tentang berbagai hal, termasuk ketika bangunan eks PG Gembongan diguncang gempa tahun 2006. “Waktu gempa 2006 dulu mas, bangunan baru di sekitar PG banyak yang ambruk mas. Tapi bangunan PG ini cuma goyang aja mas, gak ambruk. Padahal usianya sudah tua mas. Gimana ya mas kok bisa kaya gitu ? “. Pertanyaan yang masih belum bisa saya jawab. Kondisi bangunan PG ini sebenarnya masih bagus tapi sayangnya bangunan PG sebagus ini hanya disia-siakan menjadi sebuah gudang saja. Saya sendiri memiliki gagasan jika seandainya bangunan ini dapat diadaptasi untuk gedung serbaguna yang dapat disewakan untuk berbagai acara seperti resepsi pernikahan, pameran, pertunjukan seni, atau lapangan olahraga indoor. Dengan demikian, bangunan PG ini dapat dilestarikan lebih baik serta memberi banyak manfaat bagi masyarakat dan juga menambah pemasukan bagi si pemiliknya. Yah, semoga saja gagasan saya ini dapat terwujud dan tidak sekedar mengendap di pikiran saya saja.
Cerobong PG Gembongan dilihat dari sebelah timur.
“ Oh ya, masnya sudah lihat bekas bunker di dalam PG ini ?”  tanya pak Widodo. “ Hah, bunker ? belum pak. Memangnya di mana itu pak ?” tanya saya dengan perasaan kaget. “ Ayo mas tak tunjukin”. Kami pun bergegas menuju bekas lokasi bunker yang ada di dalam pabrik. “ Dulu di sini ada bunker. Saya pernah masuk ke dalamnya. Cukup gede mas di dalam. Setelah tahu kalau di sini ada bunker, pemilik yang baru minta ditutup biar ndak dieksploitasi”. Bekas bunker memang masih ada, tapi bagian pintu masuknya sudah ditutup dengan rapi sehingga sudah sulit dikenali. Namun jangan bayangkan bunker-bunker tadi dipakai untuk menyimpan barang berharga atau untuk penjara. Tidak demikian. Bunker-bunker tadi sebenarnya merupakan rongga yang berfungsi untuk menyerap panas dari bumi sehingga hawa di dalam ruangan tidak terlalu panas. Yah, di mana detail lokasi bunker tadi berada tidak akan saya tunjukan pada tulisan ini. Biarlah bunker itu bersemayam dengan tenang bersama pabrik ini.


Bekas rumah dinas PG Gembongan yang masih tersisa
Keberadaan sebuah pabrik gula tentu tidak akan terlepas dari rumah dinas pegawai pabrik. Dahulu, PG Gembongan memiliki kompleks rumah dinas yang berdiri di sepanjang jalan masuk pabrik dan di sebelah barat pabrik. Di sepanjang jalan masuk pabrik, dahulu pernah terdapat tiga buah rumah kopel, yakni dua rumah yang menempati satu bangunan, sehingga di sini total ada enam buah rumah. Dari keenam rumah tadi, kini hanya tinggal dua saja yang masih tersisa. Sementara itu, di sebelah barat pabrik dahulu pernah terdapat rumah dinas administrateur yang sayangnya kini sudah tidak ada bekasnya lagi dan masih ada satu bangunan rumah dinas yang dalam kondisi terlantar.

Begitulah hasil penyusuran saya pada penggalan-penggalan kejayaan PG Gembongan yang kini nasibnya tidak sejaya dahulu lagi. Kejayaan PG Gembongan kini tereduksi menjadi tembok tua yang berdiri menatap wilayah sekitarnya yang sudah mulai berubah mengikuti zaman. Akankah bangunan PG Gembongan tinggal cerita saja seperti cerita perampokan tadi ? Jawaban ini tergantung dari kepedulian kita…

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie. Batavia : Landsdrukkerij
.