Kamis, 27 April 2017

Benteng Willem I Ambarawa, Hikayat Benteng Tua di Tepi Rawa

Salah satu peninggalan sejarah yang kondang di Ambarawa, selain Stasiun Ambarawa adalah Benteng Willem I, sebuah benteng tua yang terletak di tepian Rawa Pening. Benteng itu dibangun pada pertengahan abad ke-19, sebagai upaya pemerintah kolonial Belanda menangkal serbuan bangsa asing ke Hindia-Belanda. Seperti apakah kisah selanjutnya dari benteng yang namanya diambil dari nama Raja Belanda itu ?

Sebuah jalan setapak kecil yang terletak di samping RSUD Ambarawa mengantarkan saya ke area benteng yang dikelilingi oleh persawahan itu. Berlatar pemandangan Gunung Telomoyo yang begitu permai, benteng itu ingin bertutur tentang sebuah kisah. Sembari melangkah menyusuri setiap sudut benteng, saya mencoba untuk mendengarkan kisahnya.
Peta Ambarawa, tahun 1905 yang menunjukan lokasi Benteng Willem I. Sumber : maps.library.leiden.edu.
Pendirian benteng itu sesungguhnya masih ada sangkut paut dengan bergolaknya Revolusi Belgia di Eropa pada tahun 1830. Wilayah Belgia yang dikenal sekarang, kala itu masih berada di bawah naungan kerajaan Belanda yang meraih kemerdekaan dari Spanyol tahun 1581. Sebagian besar penduduk Belgia masih setia sebagai penganut Katolik, kontras dengan mayoritas penduduk Belanda yang telah berpindah menjadi penganut Kristen Protestan. Wilayah Belgia yang menjadi basis revolusi Industri segera menjadi rebutan Belanda, Perancis, dan Austria ( Simon, 1983 ; 83-86 ). Berakar dari perbedaan agama dan ekonomi, tahun 1830, Belgia dengan bantuan bangsa lain berusaha memisahkan diri dari Belanda sehingga timbul apa yang dikenal sejarah sebagai Revolusi Belgia. Situasi politik dalam negeri Belanda yang sedang bergolak memaksa Gubernur Jenderal Van den Bosch untuk mendirikan benteng-benteng di beberapa titik strategis di Pulau Jawa karena khawatir jika gejolak itu meluas hingga Pulau Jawa ( Tim Penyusun, 2012; 133-134 ). Begitulah benteng ini memulai kisahnya.
Raja Willem I ( 1772 -1843 ) yang namanya diabadikan menjadi nama Benteng di Ambarawa. Pemerintahannya diwarnai dengan Revolusi Belgia. ( sumber : wikipedia ).
Selanjutnya, benteng itu menuturkan bahwa Ambarawa merupakan salah satu titik yang dipilih oleh Van der Bosch lantaran letaknya berada di jalur yang menghubungkan Semarang dengan pedalaman. Di jalur itu sejatinya sudah ada benteng lain, yakni Benteng Ontmoeting Ungaran ( yang selanjutnya dikenal sebagai Willem II ), namun benteng itu dirasa kurang mumpuni karena benteng kecil itu gagal menahan invasi Inggris di Jawa tahun 1811. Belajar dari pengalaman tersebut, selain di Ambarawa, Van den Bosch mendirikan benteng baru lain di Gombong dan Ngawi. Dari ketiga benteng baru yang biayanya ditanggung kerajaan Belanda tadi, benteng di Ambarawa lah yang paling penting sebab ia akan menjadi titik kumpul pasukan apabila seluruh wilayah pesisir sudah jatuh ke tangan musuh dan dari sini, mereka dapat melancarkan serangan balik  ( Tim Penyusun, 2012; 134 ). Ya, secara tidak langsung, Benteng Willem I menjadi semacam patron kolonialisme Belanda di Nusantara, melindungi kuasa mereka dari bangsa asing lain yang lebih kuat.
Sebuah lukisan yang menggambarkan panorama Gunung Andon dan Telomoyo. Di kejauhan terlihat Benteng Willem dengan Tanggul yang masih mengelilingi benteng. ( sumber : troppenmuseum.nl ).
Berbagai keperluan disiapkan dengan matang dan terencana untuk mendirikan benteng ini. Perkampungan pekerja, barak prajurit, dan bengkel kerja dengan daya tampun 4.500 pekerja didirikan di dekat benteng. Para pekerja yang terlibat dalam proyek itu antara lain insinyur zeni yang ahli dalam perbentengan, penjaga, dan 3.000 kuli pribumi serta beberapa tahanan yang dihukum kerja paksa. Guna menghemat biaya pengangkutan, batu-bata dan genting dibuat di dekat benteng dengan mendirikan tungku-tungku pembakaran. Untuk kayu dan batu kapur, dua barang itu masih didatangkan dari tempat lain. Selama pembangunan, tiada halangan yang berarti selain bahan bangunan yang datang terlambat dan kebakaran di kamp pekerja. Pada tahun 1844, sekalipun belum tuntas pengerjaanya, benteng ini sudah mulai ditempati prajurit. Sebagai penghormatan kepada Raja Belanda kala itu, Willem I, benteng yang rampung dibangun tahun 1850 itu diberi nama Willem I. Namun pembangunan benteng ini berakhir percuma setelah gejolak perang di Eropa rupanya tak merembet sampai Nusantara. Benteng inipun akhirnya menganggur begitu saja.
Foto udara benteng Willem. Parit dan dinding tanah sudah diratakan ( sumber : Forts in Indonesia ).
Sambil berjalan menuju benteng, pandangan saya melihat sebuah bangunan bata berlantai dua yang berdiri di tengah sawah. Apabila diamati dari atas, rupa bangunan itu berbentuk seperti trapesium sama kaki atau seperti tanduk. Bangunan bata itu tak lain ialah bagian benteng yang disebut ravelin dan hornwork. Ia seolah ingin menjelaskan perihal teknologi yang dipakai pada benteng ini. Benteng Willem I walau dibangun pada abad ke-19, sejatinya ia masih menerapkan teknologi benteng abad-17 yang diciptakan oleh insinyur zeni Perancis, Le Preste de Vauban. Sistem itu pada dasarnya menekankan adanya sistem pertahanan luar yang dapat berdiri sendiri, sehingga apabila pertahanan luar diserang tidak berdampak langsung pada bagian utama benteng. Mula bagian ravelin atau hornworks yang ada di sudut benteng dibuat terpisah. Bagian ravelin atau hornworks memiliki dua tingkatan. Tingkat pertama digunakan untuk gudang, tingkat kedua untuk tempat tinggal prajurit, dan bagian paling atas untuk mengintai. Karena tertutup oleh gundukan tanah yang mengelilingi, maka hanya bagian atas ravelin atau hornworks yang terlihat dari luar benteng, sehingga kadangkala benteng Willem I disebut sebagai benteng pendem. Sementara itu, pergerakan musuh juga diperlambat dengan membuat jalan utama memutar ke utara dan pintu masuk utama benteng diletakan di sebelah timur, menghadap ke jalan lingkar Ambarawa yang sekarang. Danau Rawa pening yang terhampar di timur benteng juga menjadi pelindung alami benteng ini.
Bekas raveline.
Bekas hornworks.
Bangunan bekas bengkel artileri.
Sekalipun dengan pertahanan yang sungguh tangguh, prajurit yang berdiam di sini akhirnya harus menyingkir dari benteng ini. Bukan musuh bersenjata kuat yang membuat mereka tersingkir, melainkan oleh rentetan gempa bumi yang pernah mengguncang Ambarawa tahun 1865 dan 1872. Walaupun tak ada korban jiwa yang jatuh, namun konstruksi benteng dinilai sudah tidak aman lagi, sehingga para prajurit dipindah ke barak di luar benteng. Selain itu, hal yang membuat mereka keluar dari benteng ini ialah karena langit-langit ruangan lantai dua rupanya dirasa terlalu rendah dan alhasil, ruangan menjadi terasa pengap dan tentu terasa gerah untuk ukuran orang Eropa yang tidak biasa dengan iklim panas.
Foto benteng Willem tahun 1947 ( sumber : gahetna.nl ).
Bagian benteng yang dipakai penjara. Foto tahun 1940an. ( Sumber : media-kitlv.nl )
Benteng ini selanjutnya bercerita bagaimana ia mulai berkurang kegarangannya. Pada saat benteng Willem I dibangun, tembakan artileri dari arah perbukitan belum mampu menjangkau benteng. Namun di pertengahan tahun 1850an, ditemukan teknologi meriam yang dikenal sebagai Meriam Armstrong. Berbeda dengan meriam bikinan era sebelumnya, meriam tersebut bagian dalam larasnya dibuat beralur, sehingga peluru dapat ditembak lebih akurat dan daya jangkaunya lebih jauh. Apabila meriam-meriam berteknologi mutakhir itu ditempatkan di perbukitan yang ada di sekeliling Ambarawa, benteng itu tentu saja hanya akan menjadi bulan-bulanan tembakan meriam itu. Berhadapan dengan teknologi seperti itu, tanggul tanah dan parit yang melindungi benteng ini dirasa ketinggalan zaman sehingga keduanya akhirnya diratakan. Selain itu, benteng ini juga perlahan ditinggalkan oleh prajuritnya pasalnya di luar benteng sudah ada barak dan Hindia-Belanda ternyata aman-aman saja dari ancaman luar. Sepeninggal para prajurit itu, separo benteng kemudian dikonversi menjadi penjara militer yang masih digunakan sampai sekarang.
Jembatan kayu di dalam benteng.


Bagian benteng yang masih dihuni.
Saya kemudian berjalan menyusuri beceknya tanah benteng yang tampaknya baru saja diguyur hujan. Di hadapan saya sekarang, terbentang sebuah jembatan yang menghubungkan bagian utara dan selatan benteng. Kayu-kayu jembatan itu sudah mulai lapuk sehingga sudah tidak bisa dilalui lagi. Aura kekunoan benteng ini terasa begitu kentara. Lihatlah lengkungan-lengkungan yang menopang konstruksi benteng itu. Ia dibuat ketika teknologi beton bertulang belum ditemukan, sehingga tumpuan beban hanya bergantung pada tebalnya dinding bangunan itu sendiri. Supaya beban di atasnya dapat disangga, digunakanlah sebuah teknik kuno warisan bangsa Romawi yang dikenal sebagai teknik lengkung, dimana batu-bata dibuat agak mirip baji sehingga ketika ditata menghasilkan bentuk setengah lingkaran. Dengan teknik lengkung, ia mampu kokoh berdiri hingga hari ini meskipun tidak memakai tulangan besi.
Sudut Benteng Willem I.
Batu-bata merah yang menyusun konstruksi benteng.
Bagian benteng yang terlantar.
Di beranda lantai dua benteng Willem I, seorang ibu terlihat sedang menggedong anaknya yang tertidur lelap di gendongannya. Selain sebagai penjara, separo benteng ini juga masih dipakai sebagai rumah tinggal anggota keluarga tentara, sehingga tidak semua bagian benteng dapat dikunjungi demi kenyamanan mereka. Dari bekas barak yang masih ditempati oleh beberapa keluarga itu, setidaknya saya mendapat cerita dari benteng ini, bagaimana kehidupan keluarga para tentara di masa kolonial. Menyadur catatan Philibert Dabry De Thiersant, seorang diplomat Perancis, prajurit militer Hindia-Belanda atau KNIL “ diizinkan membawa istri dan anak keluarga, kecuali di saat perang “. Di dalam barak yang luas dan ramai itu, “ mereka makan, menyiapkan makanan, dan membersihkan barak bersama “. Hukum militer harus mereka patuhi dengan baik. Tempat tidur diatur sesuai kompi pasukan yang ada. Masing-masing prajurit memiliki tempat tidur yang tinggi dilengkapi kelambu, mebel sederhana dan kelengkapan lain ( untuk personel Eropa disediakan selimut katun tebal dan personel bumiputra disediakan sarung yang dicap khusus agar tidak tertukar ). Karena tidak cukup ruang di dalam tangsi, maka anak-anak mereka tidur di kolong tempat tidur, sehingga lahirlah istilah anak kolong yang menuju pada anak-anak tentara. Setiap tentara dijatah dengan daging segar roti, beras, garam, dan merica yang pembagiannya tidak ada perbedaan antara tentara Eropa dengan Bumiputera, kecuali bagi daging babi yang tidak diberikan untuk yang beragam Islam. Supaya gerak-gerik tentara Bumiputera dapat diawasi, sejumlah bintara Eropa tinggal di dalam barak kompi Bumiputera dan Kompi Eropa tinggal dekat kompi Bumiputera ( Santosa, 2016; 141-142 ).
Letnan S.W. Albreda dan istrinya di beranda depan rumahnya. Terlihat pot-pot tanaman yang tertata rapi di halaman depan rumah ( sumber : media-kitlv.nl ).
Kediaman S.W. Albreda saat ini.
Puing bangunan rumah perwira bergaya Indis.
Ketika melangkah ke arah penjara militer yang ada di selatan benteng, entah mengapa saya merasa aura militer benteng ini hidup kembali, apalagi ketika melihat petugas berseragam yang sedang berjaga di pintu masuk penjara. Tembok tinggi yang berdiri melintang di tengah-tengah benteng memisahkan pengunjung luar dengan kelamnya dunia penjara. Di hadapan tembok penjara itu, berdiri tiga buah bangunan berlanggam Indis Klasik dengan pilar-pilar Yunaninya yang bertengger di beranda depan. Dari tiga rumah itu, satu bangunan kini hanya menyisakan puing dindingnya saja. Rumah-rumah itu sejatinya ditempati oleh komandan tentara benteng ini. Bagian depannya dihiasi dengan pot-pot tanaman tropis yang menjadi digemari oleh orang-orang Eropa kala itu.
Pintu utama benteng. Aslinya ada menara jam di atasnya.
Pintu masuk benteng sisi utara.
Dari dalam benteng, saya menjajal untuk jalan kaki mengitari benteng ini. Benteng Willem I rupanya masih belum selesai bercerita. Kali ini, dengan raut sedih, ia bertutur kisah kelam di masa penduduka Jepang. Kala itu, ia dipakai sebagai kamp internir orang Eropa dan mereka yang dicurigai membangkang kepada pemerintah militer Jepang. Setidaknya ada seribu orang yang ditahan di dalam benteng itu. Jatah ransum untuk mereka amat sedikit. Dalam dua kali sehari, yakni di pagi dan siang hari, mereka memasak jagung yang seringkali tidak matang dimasak. Malam harinya, mereka harus puas dengan nasi dan sayuran yang sedikit. Tiada air untuk mencuci, tapi untungnya, masih ada air untuk diminum.
Parade tentara Belanda di dalam benteng pada tahun 1947. Di masa agresi, benteng ini diduduki Belanda dan menjadi markas tentara hingga agresi berakhir ( sumber : gahetna.nl ).
Dengan berapi-api, benteng ini kembali bertutur, kali ini di masa republik ini masih belia. Kala itu oleh para republikan dijadikan kamp tahanan orang Eropa dan tentara Jepang yang sudah menyerah. Tentara sekutu datang ke sini untuk mengevakuasi para tawanan itu dari benteng ini. Namun tanpa diduga, pemerintah Belanda membonceng mereka dan berusaha menegakan kembali kuasa mereka di negeri yang baru saja merdeka itu. Mula meletuslah pertempuran yang berjuluk Palagan Ambarawa itu. Tatkala pengepungan dilakukan oleh TKR ( tentara Indonesia pada saat itu ), segala serangan balik dilancarkan oleh sekutu. Pesawat Thunderbolt meraung di langit Ambarawa, menjatuhkan bom-bom ke tanah. Tembakan artileri bertubi-tubi menghujam bumi Ambarawa. Namun serangan itu gagal mematahkan perlawanan TKR sehingga pada bulan Desember, Sekutu bergegas mengevakuasi rombongan tawanan dan mundur kembali ke Semarang.

Begitulah benteng tua di tepi rawa itu menceritakan hikayatnya, sebuah hikayat yang menceritakan perjalanan sejarah sebuah bangsa, dari puncak masa kolonial, dimana pemerintah kolonial berupaya mengamankan Hindia-Belanda dari ancaman asing, berlanjut ke masa pendudukan Jepang, ketika orang-orang barat diperlakukan sebagai tawanan oleh orang timur yang dulu dipandang rendah, hingga awal kemerdekaan, ketika benteng ini menjadi saksi dari perjuangan anak bangsa yang mati-matian mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta. Dahsyatnya kisah sejarah yang dituturkan benteng ini ternyata tidak sebanding dengan perlakuan yang diterimanya saat ini. Entah karena tiada biaya untuk mengurusnya atau ia dianggap sebagai peninggalan penjajah sehingga sengaja dibiarkan rusak termakan usia. Entah apakah benteng ini di kemudian hari masih dapat bercerita atau tidak…

Referensi
Santosa, Iwan. 2016. KNIL, Perang Kolonial di Nusantara Dalam Catatan Perancis. Jakarta: Penerbit Kompas.

Tim Penyusun. 2012. 
Forts in Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://www.indischekamparchieven.nl/

Sabtu, 22 April 2017

Remah-Remah Jejak Sejarah di Kutoarjo

Suatu siang di bulan September 2016, udara Kutoarjo terasa panas dan rasanya begitu menyengat di kulit. Kepala saya segera dibanjiri dengan peluh sehingga saya memutuskan berteduh di emperan Pendopo Kutoarjo. Dipayungi dengan atap pendopo berbentuk tajug, terlihat beberapa orang yang duduk berteduh untuk melepas rasa gerah. Mungkin mereka belum tahun jika pendopo tempat mereka berteduh dulunya adalah kediaman bupati Kutoarjo.
Peta Kutoarjo tahun 1909. Tempat-tempat pejabat penting seperti Bupati ( Reg.= Regent ), Patih ( D = District ), dan Kontrolir ( C = Controloeur ) ditandai dengan tiang bendera Belanda. Di sebelah timur tampak Kali Jali yang menjadi batas alami kabupaten Purworejo dengan kabupaten Kutoarjo. ( Sumber ; maps.library.leiden.edu ).
Persearan peninggalan bersejarah di Kutoarjo. Keterangan ; 1. Pendhopo Kutoarjo ; 2. Masjid Agung Kutoarjo ; 3. Rumah Patih ( sekarang kantor Kecamatan Kutoarjo ) ; 4. Rumah Kontrolir ; 5. Bekas rumah mayor Tionghoa ; 6. Stasiun Kutoarjo ;7. Rumah gaya Victorian ( sekarang Hotel Kencana ) ; 8. Jembatan Kali Jali.
Ya, Kutoarjo di masa lampau adalah sebuah kabupaten tersendiri, terpisah dengan kabupaten Purworejo. Pada saat itu, Kabupaten Kutoarjo lebih dikenal sebagai kabupaten Semawung. Secara administratif, ia berada di bawah Karesidenan Bagelen yang dibentuk pemerintah kolonial Belanda pada 1830. Kabupaten Semawung membawahi beberapa distrik seperti Distrik Sucen, Distrik Madijer, Distrik Kendal, Distrik Paitan, Distrik Kiangkong, dan Distrik Pituruh.
Pendhopo Kutoarjo, bekas kediaman bupati Kutoarjo yang kini menjadi ruamh dinas wakil bupat Purworejo. Terlihat bentuk atapnya seperti masjid-masjid lama.

Perpaduan budaya Jawa dan Eropa sangat terasa pada bekas rumah Bupati Kutoarjo seperti yang terlihat pada tiang saka guru pendhopo dan pilar-pilar Yunani di belakangnya.
Kutoarjo sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi memiliki banyak remah sejarah. Bangunan pendopo ini contohnya. Ia dibangun pada masa Bupati R.A. Soerokoesomo dan dirampungkan pada masa bupati R.A.A. Pringgoatmodjo. Berbeda dengan rumah pejabat Jawa yang pendoponya menggunakan atap Joglo, bangunan yang sekarang dipakai sebagai kediaman wakil bupati Purworejo ini menggunakan atap tajug yang umumnya dipakai pada bangunan masjid. Gaya arsitektur bangunan ini memadukan gaya arsitektur tradisional Jawa - seperti yang terlihat pada empat tiang soko guru dari kayu yang menopang atap pendopo dan aristektur kolonial - yang tampak pada pilar-pilar Yunani di bagian rumah di belakang pendopo. Tahun 1933 adalah tahun terakhir bupati Kutoarjo tinggal di pendopo itu. Seiring dengan perombakan susunan administratif yang dilakukan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1930an, maka pada tahun 1933 Kabupaten Kutoarjo dilebur dengan Kabupaten Purworejo. Dengan demikian pusat pemerintahannya turut diboyong ke Purworejo. Akhirnya Kutoarjo mulai kehilangan perannya sebagai pusat pemerintahan ( Musadad, 2002; 8 ).
Alun-alun Kutoarjo.
Di sebelah selatan pendopo, terdapat lapangan luas yang disebut alun-alun. Alun-alun itu dibangun sesudah perpindahan kedudukan pemerintah kabupaten Kutoarjo dari Semawung Daleman ke Desa Senepo pada masa bupati R.M. Soerokosoemo. Di tempat barunya, seperti halnya Bupati Tjokronegoro I, R.M. Soerokoesoemo juga membangun Kutoarjo dalam pola kota tradisional Jawa. Sebagai pusat kota adalah alun-alun yang terletak di samping utara jalan utama Purworejo – Kebumen. Berbagai perhelatan atau perayaan digelar di alun-alun. Pohon beringin ditanam di tengah alun-alun sebagai salah satu perwujudan dari nilai persatuan pemimpin dengan rakyatnya.
Masjid Agung Kutoarjo.
Masjid Agung Kutoarjo pada tahun 1900an. Bandingkan dengan kondisinya sekarang. ( sumber : troppenmuseum.nl ).

Kantor Pengadilan Agama dan penghulu.
Seperti lazimnya kota-kota tradisional di Jawa, di sebelah barat alun-alun terdapat masjid. Masjid itu dibangun pada tahun 1860 oleh bupati R.A.A. Pringgoatmodjo. Lima belas tahun kemudian, oleh putra R.A.A. Pringgoatmodjo, R.A.A. Poerboatmodjo, masjid itu dipugar. Sayangnya bentuk masjid yang sekarang sudah tidak asli lagi. Atap masjid yang seharusnya berupa atap tumpang kini sudah menjelma menjadi atap kubah. Di dekat halaman pintu masuk masjid, terdapat bangunan lama yang dulu diperuntukan sebagai kantor pengadilan agama dan penghulu.
Rumah dengan tulisan 1918 di bagian depan.
Pendopo Kecamatan Kutoarjo, bekas rumah kediaman patih.
Beranjak ke kawasan di utara pendopo Kutoarjo, di sana masih dapat dijumpai beberapa remah sejarah lain seperti kediaman patih Kutoarjo yang kini menjadi kantor Kecamatan Kutoarjo. Berikutnya sedikit masuk ke jalan Wismoaji, terdapat bangunan rumah tua berangka tahun 1918 yang kini dimanfaatkan sebagai PAUD.
Seperangkat boneka yang menggambarkan bupati Kutoarjo, Pangeran Poerboatmodjo dan istrinya. Foto diambil pada tahun 1895. ( sumber ; gahetna.nl ).
Saluran air Kali Anyar, saluran air peninggalan Pangeran Poerboatmodjo.
Sebuah kanal kecil mengalir di sepanjang sisi utara kota. Masyarakat setempat menyebutnya Kali Anyar. Kanal kecil yang melindungi penduduk Kutoarjo dari ancaman banjir itu adalah buah karya dari Pangeran Poerboatmodjo, bupati Kutoarjo dari 1870-1915. Beliau termasuk sosok yang sangat terpelajar. Pemanfaatan sumber daya alam, konservasi lingkungan, dan tata guna air adalah bidang ilmu yang ia pelajari, ilmu yang terbilang langka dipelajari oleh orang pribumi kala itu, sehingga boleh dibilang jika beliau adalah enviromentalis Indonesia pertama. Sebelum menjabat sebagai bupati, beliau bertugas di Dinas Topografi Karesidenan Bagelen dan mantra pengairan Bendungan Boro. Bersama residen Bagelen, beliau melawat ke Kalkuta, India untuk menimba ilmu pengairan dan irigasi dari para insinyur pengairan Inggris yang berhasil membendung sungai Gangga. Sebelum Kali Anyar dibangun, banjir yang disebabkan oleh meluapnya Kali Jali senantiasa menerjang Kutoarjo. Puncaknya terjadi pada 23 Februari 1861 ketika banjir besar setinggi 4,5 meter menggenangi Kutoarjo. Beberapa tempat tertimbun sedimen banjir setinggi satu meter. Tidak kuasa melihat derita rakyat Kutoarjo akibat banjir, Pangeran Poerboatmodjo lantas membangun Kali Anyar berikut sejumlah bendung, kanal, dan pintu air di sekitar Kutoarjo. Tak hanya berhenti sampai di situ, beliau pun juga turut menghijaukan kembali tanah perbukitan di sebelah utara Kutoarjo. Wilayah pantai selatan Kutoarjo juga turut dihijaukan dengan menanam pohon Nyamplung sehingga pantai menjadi teduh dan tidak tergerus angin. Atas pengabdiannya di bidang lingkungan, Pangeran Poerboatmodjo mendapat banyak penghargaan dari kerajaan Belanda. Oleh karena itu, sudah sepantasnya masyarakat Kutoarjo berterima kasih kepada Pangeran Poerboatmodjo karena berkat jasanya, Kutoarjo terbebas dari banjir besar ( Pranoto, 2017; 1-3 ).
Pejagalan Hewan Kutoarjo.
Masih di sebelah utara Kutoarjo, di sana terdapat bangunan pejagalan hewan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Pejagalan tersebut didirikan oleh pemerintah kolonial untuk mempermudah pemeriksaan hasil penyembelihan. Di masa lalu, dimana ilmu kesehatan hewan masih belum berkembang pesat seperti sekarang, hewan-hewan yang sering dikonsumsi seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi rentan terkena penyakit. Jika orang menyembelih hewan disembarang tempat, tentu orang tidak akan tahu apakah hewan yang disembelih itu sehat dan dagingnya layak dikonsumsi, sehingga penyakit hewan seperti anthrax dapat menular ke tubuh manusia. Untuk mencegah hal yang tidak-tidak, pemerintah kolonial mendirikan tempat khusus pejagalan hewan. Pejagalan ini diatur sedemikian rupa. Ada tempat untuk pemeriksaan hewan, tempat pengulitan, tempat membersihkan jeroan, tempat pembuangan bagian hewan yang tidak dikonsumsi, dan kantor untuk pengurus pejagalan. Tempat penyembelihan untuk hewan babi yang haram dikonsumi oleh umat Islam juga dipisahkan dari tempat penyembelihan lain. Letak pejagalan tersebut sengaja ditaruh tidak jauh dari saluran air agar mudah membersihkan isi perut hewan, membuang bagian yang tidak diperlukan seperti darah dan tempat para juru jagal membersihkan diri. Pada masa kolonial, pejagalan Kutoarjo sebenarnya termasuk pejagalan yang sudah ketinggalan zaman karena di kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, dan Malang, pejagalan hewan sudah dibangun dengan taraf lebih baik dan dilengkapi kamar pendingin atau freezer, laboratorium, penggunaan besi anti karat untuk penggantung, dan tersedia tempat khusus untuk mencuci perut hewan dengan air hangat yang mengalir, bukan dari saluran air kotor ( Treffers, 1935 ; 8 ).
Bangunan bergaya Victorian yang saat ini menjadi Hotel Kencana.
Jalan Pangeran Diponegoro adalah jalan utama yang melintas di tengah kota Kutoarjo. Ia menghubungkan Kutoarjo dengan Purworejo di timur dan Kebumen di barat. Di sepanjang jalan itu masih berdiri beberapa bangunan kuno bekas rumah tinggal orang Belanda. Beberapa di antaranya dijadikan hotel seperti Hotel Kencana yang bentuk bangunannya terpengaruh dari gaya Victorian. Menara kecil pada salah satu sisi bangunan menjadi penandanya. Di Purworejo sendiri tidak dijumpai bangunan yang bergaya Victorian selain hotel ini.
Bekas kediaman controleur Kutoarjo. Perbedaan rumah pejabat Belanda dengan pribumi adalah tiadanya pendopo di bagian depan rumah pejabat Belanda. Sebagai ganti pendopo adalah sebuah beranda di bagian depan.
Di belakang kantor Polsek Kutarjo, terdapat remah sejarah lain berupa bangunan tua yang dulu dihuni oleh controleur Kutoarjo. Dalam Binnelandsch Bestuur atau birokrasi pemerintahan kolonial, pemerintahan dipecah menjadi dua, yakni Europesche Bestuur atau pemerintahan Eropa dan Inlandsch Bestuur atau pemerintahan pribumi yang dipimpin oleh seorang bupati. Untuk mengawasi tindak-tanduk pemerintahan prib contreleur dipasang dengan bupati. Pangkat controleur setingkat di bawah asisten residen ( Cribb dan Kahin, 2000 ; 67-68 ).  Secara sekilas, rumah ini bergaya arsitektur perpaduan Jawa dan Eropa atau sering disebut arsitektur Indis. Ciri arsitektur Indis bisa dilihat dari atapnya yang berbentuk atap kampung yang lebar seperti rumah-rumah Jawa, jendelanya tinggi besar dan ada beranda di bagian depan. Ukurannya yang besar seakan menunjukan keangkuhan penguasa kolonial di hadapan bangsa pribumi walaupun sesungguhnya tujuan rumah itu dibangun dalam ukuran sebesar itu supaya ruangan di dalam tidak terasa panas. Kendati demikian, mereka setidaknya masih memiliki rasa hormat pada bupati dengan tidam membangun rumah memunggungi kediaman bupati. Apabila rumah bupati dibangun menghadap ke selatan, mereka ( orang Belanda ) membangun rumah menghadap ke utara. John C. van Dyke menyebutkan kepercayaan, adat istiadat, dan tradisi kaum pribumi masih dihormati oleh penjajah karena tujuan penjajahan Belanda di sini bukanlah untuk mengubah kebudayaan, melainkan “hanya untuk menguras sumber daya alam” ( Rush, 2013; 8 ).
Stasiun Kutoarjo pada masa sekarang. Sebelum dirombak banguann Stasiun Kutoarjo mirip sekali dengan Stasiun Purworejo.
Rumah-rumah tua di sekitar Stasiun Kutoarjo. Rumah-rumah ini dahulu dihuni oleh para pegawai Stasiun Kutoarjo.
Dari Jalan Pangeran Diponegoro, saya beringsut ke Stasiun Kutoarjo. Stasiun yang bangunan aslinya telah beralih rupa itu dibuka beriringan dengan pembukaan jalur kereta yang menghubungkan Yogyakarta-Cilacap. Di sekitar stasiun masih terjumpai beberapa rumah tua yang dulu ditempati pegawai stasiun. Dibanding Stasiun Purworejo, Stasiun Kutoarjo jauh lebih ramai dan tak pernah tidur karena ia dilalui oleh jalur kereta dari Jakarta-Yogyakarta sehingga banyak kereta yang lewat Kutoarjo. Berbeda dengan Stasiun Purworejo yang terletak di ujung sehingga tidak semua kereta berhenti di Purworejo.
Para perempuan yang bekerja sebagai pemintal benang di sebuah pabrik benang di Kutoarjo. Dibandingkan Purworejo, perekonomian Kutoarjo jauh lebih maju. ( sumber ; media-kitlv.nl ).
Seorang perwira Belanda dan Indonesia yang sedang mengamati parade para prajurit TNI di sepanjang jalan yang kini menjadi Jalan M.T. Haryono. Di sebelah kiri tampak barisan rumah Tionhoa yang rusak. ( sumber : gahetna.nl )
Deretan bangunan berlanggam Tionghoa di sepanjang jalan M.T. Haryono.
Kaki saya kemudian melangkah ke jalan M.T. Haryono, pecinannya Kutoarjo karena di sana masih banyak rumah-toko kuno bergaya Tionghoa Selatan. Kutoarjo, seperti arti namanya yang berarti " Kota yang Makmur " memang lebih semarak kehidupan perekonomian Kutoarjo dibanding Purworejo karena di sana tinggal pengrajin tenun dan barang pecah belah. Jika diibaratkan, Purworejo dan Kutoarjo mirip dengan kota Washington DC dan New York di Amerika Serikat dimana kota New York memiliki kehidupan perekonomian yang lebih ramai daripada ibukotanya, Washington DC. Roda perekonomian semakin bergeliat dengan dibangunnya jalur kereta Yogyakarta-Cilacap pada tahun 1887 oleh Staatspoorwegen, yang melewati Kutoarjo dan dibangun sebuah stasiun di sini ( Anonim, 58 ). Konon komunitas Tionghoa di sini lebih lama eksis dibanding Purworejo. Mereka pun juga sangat aktif dalam dunia pendidikan golongan Tionghoa seperti usaha mereka dalam membangitkan kembali perkumpulan Hak Boe Tjong Hwee pada 1926 ( Liem, 1933;236 ).
Rumah besar milik Bapak Budi.
Pintu utama dengan ornamen yang menarik.
Di salah satu sisi jalan itu, saya jatuh hati dengan sebuah rumah tua bergaya Tionghoa yang tampak berbeda dari yang lain. Berbeda dengan rumah lain yang nir hiasan, rumah itu begitu menawan dengan aneka hiasan seperti tiang dan teritisan yang berbalut sesuluran. Saya pun mencoba masuk ke dalam dan disambut baik oleh bapak Budi. Sebagaimana tampak luarnya, tampak dalam rumah itu juga masih terjaga baik. Saya pun menduga jika dulu mungkin rumah ini adalah tempat tinggal seorang kapitan Tionghoa. Dalam pengaturan masyarakat, pemerintah kolonial biasanya memberi gelar militer titular seperti mayor, letnan atau kapten pada seorang Tionghoa terpandang. Merekalah yang nantinya akan mengurus segala perkara yang menyangkut orang Tionghoa. Namun ada dugaan lain bahwa bangunan ini dipakai sebagai kantor untuk semacam perhimpunan Tionghoa di Kutoarjo. Bagi saya pribadi, rumah ini adalah salah satu remah sejarah Kutoarjo yang patut dijaga.
Jembatan Kali Jali pada tahun 1930.

Jembatan Kali Jali pada masa sekarang.
Sebelum saya beranjak pergi dari Kutoarjo untuk kembali ke Purworejo, saya melewati remah sejarah terakhir. Remah terakhir itu adalah sebentang jembatan tua berbentuk busur yang masih tampak perkasa. Walau demikian, jembatan ini sudah pensiun sebagai jembatan penghubung utama karena kian ramai kendaraan yang melintas sehingga dikhawatirkan ia tidak sanggup memanggul beban.

Referensi :
Cribb, Robert dan Kahin, Audrey. 2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok; Komunitas Bambu.

Treffers, Dr.W. 1935. " De Modernising Van Het Slachthuis voor Groot Vee en Geiten Te Cheribon " dalam Locale Techniek 4e Jaargang No.3 Mei 1935. Bandung.

Musadad. 2002. Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Penadi, Radix . 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad ke XIX. Lembaga Study dan Pegembangan Sosial Budaya.

Pranoto, Agung. 2017. Kisah Tokoh Poerworedjo Djaman Doeloe : Pangeran Poerboatmodjo.

Jumat, 07 April 2017

Lawangsewu, Sebuah Adikarya Arsitektur Kolonial

Sebagai salah satu tengara kota Semarang, reputasinya lebih mencorong sebagai satu dari sepuluh tempat angker di Asia. Padahal gedung itu sesungguhnya merupakan sebuah adikarya arsitektur kolonial dan istana dari kerajaan bisnis kereta api yang didirkan pada era transportasi kereta mencapai kedigdayaannya. Inilah ikhtiar saya untuk menggali sisi lain dari Lawangsewu.
Gedung Lawangsewu setelah selesai dibangun tahun 1907 ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Suatu siang di bulan Oktober 2016, saya berdiri di bawah bayang-bayang Tugu Muda, sebuah monumen berbentuk lilin raksaksa yang didirikan untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Di sekeliling bundaran yang dahulu bernama Wilhelmina Plein itu, berdiri bangunan-bangunan penting seperti rumah dinas Gubernur Jawa Tengah yang memakai bekas kediaman Residen Semarang, Gereja Katedral Semarang, dan sebuah gedung elok dengan dua menara kembarnya berbentuk cerutu yang sekarang dikenal sebagai Lawangsewu. Dengan citra mistis yang sudah terlanjur melekat padanya, Lawangsewu lebih dikenal masyarakat luas sebagai sebuah gedung tua nan angker yang sarat cerita horror. Alih-alih dihantui oleh “penunggu” gedung ini, kecantikan bangunan inilah yang justu menghantui pikiran saya ketika berjumpa pertama kali dengannya.
Stasiun Semarang N.I.S. di desa Kemijen yang didirkan tahun 1864. Di sinilah  N.I.S.M., berkantor sebelum pindah ke Lawangsewu. Lingkungan yang kurang bersahabat dan kebutuhan yang semakin banyak menjadi alasan N.I.S.M.untuk membangun kantor baru yang lebih representatif. Stasiun pertama di Indonesia ini sekarang tinggal sedikit saja bekasnya karena sebagian besar sudah terendam oleh rob ( sumber : media-kitlv.nl).
Berjuluk Lawangsewu atau Pintu Seribu dalam bahasa Jawa, karena ia memiliki pintu yang sangat banyak sehingga orang Jawa asal menyebutnya memiliki seribu pintu. Walau mungkin jumlahnya belum tentu ada seribu buah, mengapa ada begitu banyak pintu di gedung ini mejadi pertanyaan besar di benak saya. Sembari menyusuri satu demi satu pintu krepyaknya, saya melayang ke masa lampau, ketika para pegawai Eropa dan pribumi ramai berseliweran di lorong-lorongnya. Ya, gedung megah laksana istana itu sejatinya “hanyalah” hoofdkantoor atau kantor pusat dari perusahaan kereta api partikelir yang sudah berjasa mengenalkan kereta api di Indonesia, Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij.
Proses penggalian tanah untuk menyiapkan pondasi Lawangsewu ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Bengkel tukang kayu. Para tukang kayu ini membuat bagian-bagian seperti rangka kuda-kuda, kusen pintu dan jendela beserta daunnya ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).

Bangunan Lawangsewu ketika hampir selesai. Terlihat perancah dari bambu yang masih terpasang. Ketika foto ini dibuat tampaknya pembangunan Lawangsewu sudah mencapai tahap pengecatan. Tampak bagian jendela yang nantinya akan dipasangi kaca patri masih belum dipasang. ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 )
1867, ketika jalur kereta api dari Stasiun Semarang N.I.S ke Tanggung baru saja dirampungkan oleh Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij, maskapai itu masih berkantor di Stasiun Semarang N.I.S di Desa Kemijen. Sejalan dengan kemajuan transportasi kereta, maka kegiatan administrasi mereka kian sibuk dan makin banyak pula jumlah pegawainya. Lokasi di sekitarnya juga terasa kurang bersahabat karena letaknya yang ada di dekat rawa-rawa, sarang idaman para nyamuk. Tak ayal, banyak pegawai jatuh sakit terkena malaria. Lantaran itulah N.I.S.M menyewa beberapa bangunan di tempat lain. Sebenarnya sudah terencanakan di benak mereka, sebuah gedung baru yang berada di lokasi yang nyaman dan lebih besar sebagai unjuk kedigdayaan transportasi kereta api. Lokasi yang mereka pilih sebagai cikal bakal istana baru mereka jatuh pada sepetak lahan luas di dekat Wilhelmina Plein yang sudah dikuasai oleh N.I.S.M di akhir tahun 1863. Sebuah pilihan yang tepat karena selain lingkungan lebih ramah, juga strategis karena berada di simpul pertemuan jalur Bodjongweg ( sekarang Jalan Pemuda ) yang menjadi jalan utama Kota Semarang dengan Kendalweg yang menjurus ke arah Kendal ( Unit Konservasi dan Heritage, 2013 ; 1-4). Sesudah lahan dipilih, N.I.S.M membangun rumah pengelola kantor dan gedung percetakan yang dirancang oleh Ir. P. de Rieu di lahan dimana Lawangsewu akan berdiri.

Lokasi Lawangsewu pada peta kota Semarang tahun 1909 ( dengan keterangan Hoofdkantoor N.I.S ). Lawangsewu terletak di ujung kawasan Bojong yang dahulu merupakan kawasan hunian paling prestise di Semarang. Selain Lawangsewu, bangunan penting yang ada di kawasan ini adalah rumah kediaman residen Semarang yang saat ini menjadi rumah dinas gubernur Jawa Tengah ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Kemapanan N.I.S.M tercermin pada pemilihan arsitek yang akan membangun kantor baru mereka.Tidak tanggung-tanggung, gedung itu dirancang oleh maestro arsitektur dari Belanda, Prof. Klinkhamer. Tatkala merancang Lawangsewu di studionya di Amsterdam, ia dibantu oleh arsitek lain seperi B.J.Ouendag dan seorang arsitek muda bernama G.C. Citroen yang kelak pada tahun 1915 pindah ke Surabaya dan berkarya di sana. 27 Februari 1904, proses pembangunanpun dimulai. Bahan bangunan yang dipakai bermutu prima dan dipesan khusus dari Eropa sehingga tidak heran jika memakan banyak biaya dan waktu. Selain bahan bangunan dari Eropa, bahan bangunan lokal juga dipakai, seperti pasir dan batu berasal dari Gunung Merapi dan diangkut dengan kereta. Tanggal 1 Juli 1907, gedung kantor baru N.I.S.M selesai dibangun dan tanpa gempita upacara peresmian, N.I.S.M memboyong kegiatan perkantoran ke istana barunya ( Klinkahmer & Ouendag,  1916; 23-31 ).
Tampak depan gedung A.
Bagian belakang gedung A.
Sedari awal, direksi N.I.S.M sudah memiliki konsep tentang sebuah gedung yang di satu sisi terlihat sedehana, namun dirancang dengan baik. Konsep tersebut diwujudkan begitu sempurna oleh tangan dingin Klinkhamer yang sekarang dapat saya rasakan tatkala memandang keanggunan Gedung A, bagian utama Lawangsewu yang sering terlihat di berbagai media. Bentuk tapaknya terlihat seperti huruf “L” apabila dipandang dari atas, meniru bangunan sudut di Eropa. Bagian depannya memiliki kanopi yang juga merangkap sebagai balkon, tempat para petinggi N.I.S.M bersantai. Sulit dibayangkan bahwa pemandangan yang dulu dinikmati oleh para petinggi N.I.S.M dapat berubah kurang dari seratus tahun. Ketika ia dibangun, bagian depannya masih berupa sebuah taman lapang bernama Wilhelmina Plein. Kurang dari lima puluh tahun, taman tersebut menghilang dan tergantikan oleh sebuah monumen yang dibangun oleh bangsa yang pernah mereka jajah. Trem yang dulu sempat melintas di depan Lawangsewu sekarang juga sudah tiada.
Cetak biru denah lantai 1 gedung A Lawansewu ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).

Cetak biru denah lantai 2 gedung A Lawangsewu. Bagian lantai 2 dahulu merupakan ruang kantor untuk pejabat tinggi N.I.S.M. Bagian ini sekarang tidak dibuka untuk umum setiap harinya ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Tiada bangunan di sekitar Lawangsewu yang melampaui kemegahannya, bahkan kediaman sang residen Semarang yang berdiri di seberangnya terlihat tiada bandingnya dengan Lawangsewu. Pancaran kemegahan Lawangsewu kian terlihat dengan adanya sepasang menara beratap kubah. Menara itu tak hanya sebagai pemanis saja. Pada salah satu menara, di dalamnya terdapat bak air untuk memenuhi kebutuhan air seluruh gedung. Air itu diambil dari sebuah sumur pompa yang ada di dekat Gedung A. Uniknya, bak air itu teknik penyambungannya tidak dilas, melainkan dengan paku keling. Bertengger di puncak fasad depan Gedung A,ada sebuah batu kecil yang menampakan roda bersayap yang tampak ditelan oleh sosok kepala Batara Kala, Dewa Waktu dalam mitologi Hindu. Batu itu mengandung sebuah pesan, pesan bahwa transportasi kereta tidak akan punah termakan waktu.
Salah satu menara.
Rumah sumur pompa yang menjadi sumber air untuk gedung Lawangsewu. Sumur ini dianggap keramat dan konon airnya tidak kering sekalipun di musim kemarau. Entah apakah sumur ini airnya masih sebanyak dahulu karena di sekitar Lawansewu sudah banyak bangunan baru yang sudah menghabiskan pasokan air tanah di kota Semarang.
Lobi Lawangsewu memang hanya dibuka pada saat tertentu saja, namun setidaknya lewat jendela di ruang sampingnya saya dapat mengintip rupa lobi itu. Sebuah prasasti berbahasa Belanda terpajang di dinding sisi kanan lobi. Isinya tentang peringatan berdirinya 50 tahun N.I.S.M. Batu granit hitam dan marmer putih tampak mengalasi lobi itu, disusun seperti papan catur. Berlempeng-lempeng granit hitam ditambang nun jauh dari Pegunungan Fichtel, Bavaria, Jerman, dipotong sesuai pesanan dan manakala sampai di sini, ia tinggal dipasang saja. Dari lobi, terdapat sebuah undakan besar yang menjurus ke lantai dua. Di mulut undakan itu, terpancang sebuah batu prasasti dari marmer putih yang didedikasikan oleh para pegawai N.I.S.M untuk G.C. Daum, direktur N.I.S.M yang pertama.
Bagian lobi.
Tangga utama menuju lantai dua. Terlihat sebuah tugu kecil di bawah undakan yang didirikan untuk mengenang direktur pertama N.I.S.M, G.C. Daum.
Cahaya mentari menembus kaca patri yang terpampang di undakan besar, menghasilkan bayang-bayang elok yang memukau indera penglihatan saya. Kaca patri yang berhasil membuat saya terbuai sesaat itu merupakan salah satu adikarya dari seorang seniman terpandang Belanda bernama J.L. Schouten. Ia membuat kaca-kaca itu di studionya di Delft dan sempat dipamerkan di Belanda sebelum dibawa ke sini. Dari pengamatan saya, di kaca patri itu terdapat dua sosok perempuan berparas ayu yang tak lain ialah dua dewi pagan, yakni Dewi Fortuna, dewi keberuntungan dan Dewi Venus, dewi cinta. Roda kereta bersayap, lambang perusahaan N.I.S.M, tampak diapit oleh dua sosok perempuan tadi. Hiasan kaca patri itu memang bukan sekedar pernik pemanis saja, namun di dalamnya tersirat sebuah doa, doa agar transportasi kereta selalu dilimpahkan dengan keberuntungan dan cinta. Berbagai lambang kota-kota penting diimbuhkan pula pada kaca patri itu, mulai dari lambang kota Batavia dan Semarang sebagai kota bandar utama di Pulau Jawa, dan lambang kota Amsterdam, ibukota Kerajaan Belanda yang kesejahteraanya didukung oleh dua kota tadi ( Handinoto, 2012 ; 46-48 ).
Kaca patri buatan J.L. Schouten.
Salah satu ruas kaca patri yang menggambarkan Dewi Fortuna ( kanan ) dan Dewi Venus ( kiri ).
Dalam pencapaian teknik yang luar biasa, banyaknya pintu yang ada di gedung itu memungkinkan udara mengalir alami, menghasilkan ruangan yang terasa sejuk bagi siapapun yang ada di dalamnya. Dari situlah Lawangsewu mendapat namanya. Terjawab sudah pertanyaan saya di awal. Beranda keliling yang melindungi Lawangsewu dari tampias air hujan dan panas matahari merupakan contoh kejeniusan Klinkhamer yang lain dalam membuat bangunan tropis, yang mana ia bahkan belum pernah mengunjungi wilayah tropis. Gambaran wilayah tropis hanya ia dapatkan lewat berbagai pustaka dan tutur orang yang pernah tinggal di Hindia-Belanda. Di kemudian hari, konsep itu menjadi acuan para arsitek-arsitek Belanda dalam mendesain bangunan-bangunan kolonial modern di kemudian hari. Wujud penyesuaian lainnya ialah cerat kecil yang berfungsi sebagai saluran air ketika bagian beranda tergenang air akibat hujan atau saat dibersihkan. Bentuk cerat yang terbuat dari batu granit itu mirip dengan cerat pada batu yoni (Handinoto, 2010; 28-29).
Cerat di bagian bawah untuk membuang air.
Cerat sisi atas.
Beranda keliling. 
Pintu-pintu yang banyak ini menjadi asal mula gedung ini dijuluki Lawangsewu.
Puas menikmati keindahan gedung A, saya kemudian beringsut ke gedung B yang ada di samping timur gedung A. Ia dihubungkan dengan gedung A lewat sebuah jembatan yang juga berfungsi sebagai doorlop. Gedung B sendiri baru dibangun tahun 1916, tatkala jumlah pegawai N.I.S.M kian bertambah. Secara konsep, ia masih serupa dengan gedung A, namun dari segi teknologi rancang bangunnya, ia sudah menggunakan teknologi mutakhir di zamannya. Inilah gedung pertama di Hindia-Belanda yang menggunakan beton bertulang. Belajar dari pengalaman pendirian gedung A, gedung B menggunakan material lokal yang lebih murah. Gedung B ini dulunya merupakan ruang kerja para pegawai dari golongan bumiputra.
Tampak luar Gedung B.
Jembatan yang menghubungkan gedung A dengan gedung B.
Pintu penghubung antar ruang yang terdapat di gedung B. Seandainya semua pintu yang ada di Lawangsewu ditutup, butuh berapa lama kira-kira untuk membukanya satu persatu ? Silahkan anda coba sendiri :-)
Di dalam ruang yang lengang itu, saya membayangkan berdiri bersama para pegawai-pegawai bumiputra, dengan raut wajah yang terlihat lembut, namun di hatinya tersimpan bara perlawanan terhadap ketidakadilan yang menimpa mereka. Ya, para pegawai itu dulu tergabung dalam Verenigin van Spoor-en Tramegpersoneel, serikat buruh yang dibentuk di Semarang pada tahun 1908 oleh Sneevlietaktivis sosialis yang terkenal akan sikap radikalnya. Akar gerakan radikal dan progersif tumbuh dari serikat itu dan ia menjadi awal gerakan sosial modern di Hindia-Belanda. 9 Mei 1923, hanya berselang beberapa hari setelah Hari Buruh, dikomando oleh Semaoen, mereka menggelar aksi pemogokan buruh kereta api secara serempak di Jawa. Saya kembali membayangkan, dinding dan pintu di ruangan itu merekam segala keluh kesah para pegawai pribumi. Entah tentang perkara kesenjangan upah atau perlakuan semena-mena pegawai Belanda terhadap pegawai pribumi, walau tradisi kerja di N.I.S.M sedikit egaliter daripada perusahaan sejenis.
Lorong menuju ruang bawah tanah. Bagian ini sekarang tidak dapat diakses untuk umum.
Di dalam gedung B, terdapat pintu masuk yang mengarah ke ruang bawah tanah yang kini tergenang air. Inilah ruang bawah tanah yang kerap dibicarakan orang sebagai ruang paling angker di Lawangsewu. Semula, ia digunakan sebagai penyerap udara panas bumi sehingga hawa di dalam ruangan tidak terasa panas. Namun pada pendudukan Jepang, selain dipakai sebagai kantor Riyukyu Sokyoku ( Jawatan Transportasi ) bagian ruang bawah tanah Lawangsewu oleh militer Jepang diubah menjadi penjara yang cukup menyiksa bagi para tahanan. Dengan luas satu petak hanya sebesar 2x3 meter, petak sempit itu diisi sebanyak 5-6 orang dewasa dalam posisi jongkok. Ada juga penjara berdiri yang ditambahkan belakangan oleh Jepang, dimana para tahanan dimasukan ke dalam sel yang sangat sempit sehingga para tahanan tidak dapat bergerak sama sekali. Banyak tahanan yang meregang nyawa di situ akibat kekurangan udara di dalam penjara dan jasad mereka hanya dibuang begitu saja lewat lubang pembuangan.

Para pegawai  Riyukyu Sokyoku yang sedang berpose di depan pintu masuk utama Lawangsewu. Para pegawai  Riyukyu Sokyoku terdiri dari bekas pegawai N.I.S.M  yang sebagian besar adalah orang Belanda dan perwira militer Jepang. Di bawah foto tampak keterangan para perwira militer Jepang yang ikut berfoto ( sumber : Semarang, Beeld van een Staad  ). 
Lewat sebuah tangga, saya mendaki ke bagian loteng Lawangsewu, tempat dahulu arsip-arisp disimpan. Walaupun sekedar loteng, ukurannya hampir menyamai sebuah aula. Kelelawar dan burung walet masih terlihat, namun tampaknya mereka tak lagi bersarang di situ.  Karena ruangan ini berada langsung di bawah atap, maka rancangan atap sudah dibuat sedemikan rupa sehingga kedap air sekaligus tetap dingin. Agar ruangan tetap sejuk dan kering, maka solusinya adalah membuat atap ganda dan di puncak atap ditambahkan menara ventilasi.
Bagian loteng Lawangsewu.
Terpisah dari gedung utama dengan tujuan untuk menjaga higenitas, ada bangunan tambahan berupa lavatory atau kamar kecil tempat para pegawai membuang hajat mereka. Hal yang membuat saya takjub adalah di dalam situ saya masih bisa mendapati artefak-artefak toilet masa lampau berupa wastafel porselen dari pabrik Van der Berg and Co, Amsterdam dan urinoir merk “ The Adamant “ yang capnya masih menempel di situ.
Lavatory gedung A yang dihubungkan dengan bangunan utama lewat sebuah jembatan.
Lavatory gedung B
Wastafel yang sudah ada sejak zaman Belanda.
Detail cap yang menujukan asal wastafel.
Di belakang gedung A dan gedung B, terdapat sebuah bangunan kecil yang disebut sebagai gedung C. Inilah gedung yang berdiri pertama kali di area Lawangsewu, gedung yang dirancang oleh Ir. P. de Rieu itu. Di gedung itulah karcis-karcis kereta api dicetak. Deru suara mesin pencetak di dalamnya, kini tergantikan oleh heningnya suasana museum. Berbagai material bangunan yang ditemukan saat restorasi Lawangsewu seperti genting yang berasal dari Belanda dipamerkan di museum itu. Sebuah lift kuna penagngkut barang yang digerakan seperti orang menimba sumur masih berada di tempatnya.
Bangunan Gedung C yang didirikan oleh Ir. P. de Rieu. Dahulu menjadi tempat percetakan karcs kereta.

Rak tempat untuk menyandarkan sepeda yang sudah ada sejak zaman Belanda. Keberadaan rak ini menunjukan bahwa N.I.S.M  memperhatikan kebutuhan karyawannya yang bersepeda dari rumah ke kantor. Bangunan baru di masa sekarang belum tentu memiliki fasilitas seperti ini sehingga banyak orang zaman sekarang enggan bersepeda.
Sebelum saya undur diri, saya menyempatkan diri melihat sebuah monumen kecil yang ada di halaman depan Lawangsewu. Monumen itu didirikan untuk mengenang pegawai DKARI ( Djawatan Kereta Api Rebulik Indonesia ) yang  tewas pada Pertempuran Lima Hari yang bekecamuk pada tanggal 15 – 19 Oktober 1945, ketika Lawangsewu menjadi kantor DKARI. Kala itu, para pemuda-pemuda Semarang bentrok dengan Korps Polisi Militer Jepang, Kido Butai. Banyak jiwa yang berguguran. Beberapa di antara ialah para pegawai DKARI yang tergabung dalam AMKA ( Angkatan Muda Kereta Api ) yang guugur di sekitar Lawangsewu. Mereka yang gugur antara lain Noersam, Salamoen, Roesman, R.M. Soetardjo, dan R.M. Moenardi. Situasi masih belum aman, sehingga jenazah mereka untuk sementara dimakamkan di halaman gedung Lawangsewu. Kelima jenazah tadi baru dipindah ke TMP Giri Tunggal pada tahun 1973. Tatkala militer Belanda kembali menduduki Indonesia, Lawangsewu digunakan sebagai markas militer Belanda. Lalu setelah Belanda pergi, Lawangsewu menjadi markas Kodam IV Diponegoro.
Tugu Muda pada tahun 1953. Tugu ini dibangun pada tahun 1950 dan diresmikan oleh presiden Ir.Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Tujuan pembangunan tugu ini yakni sebagai monumen peringatan pertempuran Lima Hari di Semarang. Di belakang tampak gedung Lawangsewu yang menjadi salah satu saksi bisu pertempuran Lima Hari di Semarang.
Setelah sekian lama dipakai oleh militer, Lawangsewu akhirnya kembali diserahkan kepada perusahaan kereta api pada tahun 1994. Namun ketika ia diserahkan, kondisi Lawangsewu benar-benar kosong dan nyaris terlantar, membuatnya terlihat sebagai sebuah gedung angker yang menjulang di tengah keramaian kota. Isu-isu berbau mistis pun bermunculan. Mulai dari penampakan hantu yang kerap bergentayangan di sepanjang lorong gelapnya hingga ada orang yang meninggal seusai uji nyali di gedung itu. Karena keangkerannya itulah, Lawangsewu dinobatkan sebagai salah satu dari 10 gedung terangker di Asia. Saking kuatnya, bahkan restorasi besar-besaran di tahun 2009 pun nampaknya belum memudarkan kesan mistis Lawangsewu. Entah sampai kapan citra mistis menyelubungi gedung yang sejatinya merupakan adikarya arsitektur kolonial itu.

Referensi
Handinoto. 2010. Arsitektur Kolonial dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Penerbit Graha Ilmu.

--------------. 2012. " Pemberian Ciri Lokal Pada Arsitektur Kolonial Lewat Ornamen pada Awal Abad ke 20 ", dalam Jurnal Arsiktekur Dimensi Vol.39, No.1 Juli 2012.

Klinkahmer & Ouendag. 1916. " Het Administratiegebouw der Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij te Semarang " dalam Nederlandsch-Indie Oud en Nieuw vol 1, Issue 1.

Unit Conservation & Heritage. 2013. Lawangsewu in Watercolor. Bandung : PT. Kereta Api Indonesia.