Jumat, 07 April 2017

Lawangsewu, Sebuah Adikarya Arsitektur Kolonial

Sebagai salah satu tengara kota Semarang, reputasinya lebih mencorong sebagai satu dari sepuluh tempat angker di Asia. Padahal gedung itu sesungguhnya merupakan sebuah adikarya arsitektur kolonial dan istana dari kerajaan bisnis kereta api yang didirkan pada era transportasi kereta mencapai kedigdayaannya. Inilah ikhtiar saya untuk menggali sisi lain dari Lawangsewu.
Gedung Lawangsewu setelah selesai dibangun tahun 1907 ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Suatu siang di bulan Oktober 2016, saya berdiri di bawah bayang-bayang Tugu Muda, sebuah monumen berbentuk lilin raksaksa yang didirikan untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Di sekeliling bundaran yang dahulu bernama Wilhelmina Plein itu, berdiri bangunan-bangunan penting seperti rumah dinas Gubernur Jawa Tengah yang memakai bekas kediaman Residen Semarang, Gereja Katedral Semarang, dan sebuah gedung elok dengan dua menara kembarnya berbentuk cerutu yang sekarang dikenal sebagai Lawangsewu. Dengan citra mistis yang sudah terlanjur melekat padanya, Lawangsewu lebih dikenal masyarakat luas sebagai sebuah gedung tua nan angker yang sarat cerita horror. Alih-alih dihantui oleh “penunggu” gedung ini, kecantikan bangunan inilah yang justu menghantui pikiran saya ketika berjumpa pertama kali dengannya.
Stasiun Semarang N.I.S. di desa Kemijen yang didirkan tahun 1864. Di sinilah  N.I.S.M., berkantor sebelum pindah ke Lawangsewu. Lingkungan yang kurang bersahabat dan kebutuhan yang semakin banyak menjadi alasan N.I.S.M.untuk membangun kantor baru yang lebih representatif. Stasiun pertama di Indonesia ini sekarang tinggal sedikit saja bekasnya karena sebagian besar sudah terendam oleh rob ( sumber : media-kitlv.nl).
Berjuluk Lawangsewu atau Pintu Seribu dalam bahasa Jawa, karena ia memiliki pintu yang sangat banyak sehingga orang Jawa asal menyebutnya memiliki seribu pintu. Walau mungkin jumlahnya belum tentu ada seribu buah, mengapa ada begitu banyak pintu di gedung ini mejadi pertanyaan besar di benak saya. Sembari menyusuri satu demi satu pintu krepyaknya, saya melayang ke masa lampau, ketika para pegawai Eropa dan pribumi ramai berseliweran di lorong-lorongnya. Ya, gedung megah laksana istana itu sejatinya “hanyalah” hoofdkantoor atau kantor pusat dari perusahaan kereta api partikelir yang sudah berjasa mengenalkan kereta api di Indonesia, Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij.
Proses penggalian tanah untuk menyiapkan pondasi Lawangsewu ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Bengkel tukang kayu. Para tukang kayu ini membuat bagian-bagian seperti rangka kuda-kuda, kusen pintu dan jendela beserta daunnya ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).

Bangunan Lawangsewu ketika hampir selesai. Terlihat perancah dari bambu yang masih terpasang. Ketika foto ini dibuat tampaknya pembangunan Lawangsewu sudah mencapai tahap pengecatan. Tampak bagian jendela yang nantinya akan dipasangi kaca patri masih belum dipasang. ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 )
1867, ketika jalur kereta api dari Stasiun Semarang N.I.S ke Tanggung baru saja dirampungkan oleh Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij, maskapai itu masih berkantor di Stasiun Semarang N.I.S di Desa Kemijen. Sejalan dengan kemajuan transportasi kereta, maka kegiatan administrasi mereka kian sibuk dan makin banyak pula jumlah pegawainya. Lokasi di sekitarnya juga terasa kurang bersahabat karena letaknya yang ada di dekat rawa-rawa, sarang idaman para nyamuk. Tak ayal, banyak pegawai jatuh sakit terkena malaria. Lantaran itulah N.I.S.M menyewa beberapa bangunan di tempat lain. Sebenarnya sudah terencanakan di benak mereka, sebuah gedung baru yang berada di lokasi yang nyaman dan lebih besar sebagai unjuk kedigdayaan transportasi kereta api. Lokasi yang mereka pilih sebagai cikal bakal istana baru mereka jatuh pada sepetak lahan luas di dekat Wilhelmina Plein yang sudah dikuasai oleh N.I.S.M di akhir tahun 1863. Sebuah pilihan yang tepat karena selain lingkungan lebih ramah, juga strategis karena berada di simpul pertemuan jalur Bodjongweg ( sekarang Jalan Pemuda ) yang menjadi jalan utama Kota Semarang dengan Kendalweg yang menjurus ke arah Kendal ( Unit Konservasi dan Heritage, 2013 ; 1-4). Sesudah lahan dipilih, N.I.S.M membangun rumah pengelola kantor dan gedung percetakan yang dirancang oleh Ir. P. de Rieu di lahan dimana Lawangsewu akan berdiri.

Lokasi Lawangsewu pada peta kota Semarang tahun 1909 ( dengan keterangan Hoofdkantoor N.I.S ). Lawangsewu terletak di ujung kawasan Bojong yang dahulu merupakan kawasan hunian paling prestise di Semarang. Selain Lawangsewu, bangunan penting yang ada di kawasan ini adalah rumah kediaman residen Semarang yang saat ini menjadi rumah dinas gubernur Jawa Tengah ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Kemapanan N.I.S.M tercermin pada pemilihan arsitek yang akan membangun kantor baru mereka.Tidak tanggung-tanggung, gedung itu dirancang oleh maestro arsitektur dari Belanda, Prof. Klinkhamer. Tatkala merancang Lawangsewu di studionya di Amsterdam, ia dibantu oleh arsitek lain seperi B.J.Ouendag dan seorang arsitek muda bernama G.C. Citroen yang kelak pada tahun 1915 pindah ke Surabaya dan berkarya di sana. 27 Februari 1904, proses pembangunanpun dimulai. Bahan bangunan yang dipakai bermutu prima dan dipesan khusus dari Eropa sehingga tidak heran jika memakan banyak biaya dan waktu. Selain bahan bangunan dari Eropa, bahan bangunan lokal juga dipakai, seperti pasir dan batu berasal dari Gunung Merapi dan diangkut dengan kereta. Tanggal 1 Juli 1907, gedung kantor baru N.I.S.M selesai dibangun dan tanpa gempita upacara peresmian, N.I.S.M memboyong kegiatan perkantoran ke istana barunya ( Klinkahmer & Ouendag,  1916; 23-31 ).
Tampak depan gedung A.
Bagian belakang gedung A.
Sedari awal, direksi N.I.S.M sudah memiliki konsep tentang sebuah gedung yang di satu sisi terlihat sedehana, namun dirancang dengan baik. Konsep tersebut diwujudkan begitu sempurna oleh tangan dingin Klinkhamer yang sekarang dapat saya rasakan tatkala memandang keanggunan Gedung A, bagian utama Lawangsewu yang sering terlihat di berbagai media. Bentuk tapaknya terlihat seperti huruf “L” apabila dipandang dari atas, meniru bangunan sudut di Eropa. Bagian depannya memiliki kanopi yang juga merangkap sebagai balkon, tempat para petinggi N.I.S.M bersantai. Sulit dibayangkan bahwa pemandangan yang dulu dinikmati oleh para petinggi N.I.S.M dapat berubah kurang dari seratus tahun. Ketika ia dibangun, bagian depannya masih berupa sebuah taman lapang bernama Wilhelmina Plein. Kurang dari lima puluh tahun, taman tersebut menghilang dan tergantikan oleh sebuah monumen yang dibangun oleh bangsa yang pernah mereka jajah. Trem yang dulu sempat melintas di depan Lawangsewu sekarang juga sudah tiada.
Cetak biru denah lantai 1 gedung A Lawansewu ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).

Cetak biru denah lantai 2 gedung A Lawangsewu. Bagian lantai 2 dahulu merupakan ruang kantor untuk pejabat tinggi N.I.S.M. Bagian ini sekarang tidak dibuka untuk umum setiap harinya ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Tiada bangunan di sekitar Lawangsewu yang melampaui kemegahannya, bahkan kediaman sang residen Semarang yang berdiri di seberangnya terlihat tiada bandingnya dengan Lawangsewu. Pancaran kemegahan Lawangsewu kian terlihat dengan adanya sepasang menara beratap kubah. Menara itu tak hanya sebagai pemanis saja. Pada salah satu menara, di dalamnya terdapat bak air untuk memenuhi kebutuhan air seluruh gedung. Air itu diambil dari sebuah sumur pompa yang ada di dekat Gedung A. Uniknya, bak air itu teknik penyambungannya tidak dilas, melainkan dengan paku keling. Bertengger di puncak fasad depan Gedung A,ada sebuah batu kecil yang menampakan roda bersayap yang tampak ditelan oleh sosok kepala Batara Kala, Dewa Waktu dalam mitologi Hindu. Batu itu mengandung sebuah pesan, pesan bahwa transportasi kereta tidak akan punah termakan waktu.
Salah satu menara.
Rumah sumur pompa yang menjadi sumber air untuk gedung Lawangsewu. Sumur ini dianggap keramat dan konon airnya tidak kering sekalipun di musim kemarau. Entah apakah sumur ini airnya masih sebanyak dahulu karena di sekitar Lawansewu sudah banyak bangunan baru yang sudah menghabiskan pasokan air tanah di kota Semarang.
Lobi Lawangsewu memang hanya dibuka pada saat tertentu saja, namun setidaknya lewat jendela di ruang sampingnya saya dapat mengintip rupa lobi itu. Sebuah prasasti berbahasa Belanda terpajang di dinding sisi kanan lobi. Isinya tentang peringatan berdirinya 50 tahun N.I.S.M. Batu granit hitam dan marmer putih tampak mengalasi lobi itu, disusun seperti papan catur. Berlempeng-lempeng granit hitam ditambang nun jauh dari Pegunungan Fichtel, Bavaria, Jerman, dipotong sesuai pesanan dan manakala sampai di sini, ia tinggal dipasang saja. Dari lobi, terdapat sebuah undakan besar yang menjurus ke lantai dua. Di mulut undakan itu, terpancang sebuah batu prasasti dari marmer putih yang didedikasikan oleh para pegawai N.I.S.M untuk G.C. Daum, direktur N.I.S.M yang pertama.
Bagian lobi.
Tangga utama menuju lantai dua. Terlihat sebuah tugu kecil di bawah undakan yang didirikan untuk mengenang direktur pertama N.I.S.M, G.C. Daum.
Cahaya mentari menembus kaca patri yang terpampang di undakan besar, menghasilkan bayang-bayang elok yang memukau indera penglihatan saya. Kaca patri yang berhasil membuat saya terbuai sesaat itu merupakan salah satu adikarya dari seorang seniman terpandang Belanda bernama J.L. Schouten. Ia membuat kaca-kaca itu di studionya di Delft dan sempat dipamerkan di Belanda sebelum dibawa ke sini. Dari pengamatan saya, di kaca patri itu terdapat dua sosok perempuan berparas ayu yang tak lain ialah dua dewi pagan, yakni Dewi Fortuna, dewi keberuntungan dan Dewi Venus, dewi cinta. Roda kereta bersayap, lambang perusahaan N.I.S.M, tampak diapit oleh dua sosok perempuan tadi. Hiasan kaca patri itu memang bukan sekedar pernik pemanis saja, namun di dalamnya tersirat sebuah doa, doa agar transportasi kereta selalu dilimpahkan dengan keberuntungan dan cinta. Berbagai lambang kota-kota penting diimbuhkan pula pada kaca patri itu, mulai dari lambang kota Batavia dan Semarang sebagai kota bandar utama di Pulau Jawa, dan lambang kota Amsterdam, ibukota Kerajaan Belanda yang kesejahteraanya didukung oleh dua kota tadi ( Handinoto, 2012 ; 46-48 ).
Kaca patri buatan J.L. Schouten.
Salah satu ruas kaca patri yang menggambarkan Dewi Fortuna ( kanan ) dan Dewi Venus ( kiri ).
Dalam pencapaian teknik yang luar biasa, banyaknya pintu yang ada di gedung itu memungkinkan udara mengalir alami, menghasilkan ruangan yang terasa sejuk bagi siapapun yang ada di dalamnya. Dari situlah Lawangsewu mendapat namanya. Terjawab sudah pertanyaan saya di awal. Beranda keliling yang melindungi Lawangsewu dari tampias air hujan dan panas matahari merupakan contoh kejeniusan Klinkhamer yang lain dalam membuat bangunan tropis, yang mana ia bahkan belum pernah mengunjungi wilayah tropis. Gambaran wilayah tropis hanya ia dapatkan lewat berbagai pustaka dan tutur orang yang pernah tinggal di Hindia-Belanda. Di kemudian hari, konsep itu menjadi acuan para arsitek-arsitek Belanda dalam mendesain bangunan-bangunan kolonial modern di kemudian hari. Wujud penyesuaian lainnya ialah cerat kecil yang berfungsi sebagai saluran air ketika bagian beranda tergenang air akibat hujan atau saat dibersihkan. Bentuk cerat yang terbuat dari batu granit itu mirip dengan cerat pada batu yoni (Handinoto, 2010; 28-29).
Cerat di bagian bawah untuk membuang air.
Cerat sisi atas.
Beranda keliling. 
Pintu-pintu yang banyak ini menjadi asal mula gedung ini dijuluki Lawangsewu.
Puas menikmati keindahan gedung A, saya kemudian beringsut ke gedung B yang ada di samping timur gedung A. Ia dihubungkan dengan gedung A lewat sebuah jembatan yang juga berfungsi sebagai doorlop. Gedung B sendiri baru dibangun tahun 1916, tatkala jumlah pegawai N.I.S.M kian bertambah. Secara konsep, ia masih serupa dengan gedung A, namun dari segi teknologi rancang bangunnya, ia sudah menggunakan teknologi mutakhir di zamannya. Inilah gedung pertama di Hindia-Belanda yang menggunakan beton bertulang. Belajar dari pengalaman pendirian gedung A, gedung B menggunakan material lokal yang lebih murah. Gedung B ini dulunya merupakan ruang kerja para pegawai dari golongan bumiputra.
Tampak luar Gedung B.
Jembatan yang menghubungkan gedung A dengan gedung B.
Pintu penghubung antar ruang yang terdapat di gedung B. Seandainya semua pintu yang ada di Lawangsewu ditutup, butuh berapa lama kira-kira untuk membukanya satu persatu ? Silahkan anda coba sendiri :-)
Di dalam ruang yang lengang itu, saya membayangkan berdiri bersama para pegawai-pegawai bumiputra, dengan raut wajah yang terlihat lembut, namun di hatinya tersimpan bara perlawanan terhadap ketidakadilan yang menimpa mereka. Ya, para pegawai itu dulu tergabung dalam Verenigin van Spoor-en Tramegpersoneel, serikat buruh yang dibentuk di Semarang pada tahun 1908 oleh Sneevlietaktivis sosialis yang terkenal akan sikap radikalnya. Akar gerakan radikal dan progersif tumbuh dari serikat itu dan ia menjadi awal gerakan sosial modern di Hindia-Belanda. 9 Mei 1923, hanya berselang beberapa hari setelah Hari Buruh, dikomando oleh Semaoen, mereka menggelar aksi pemogokan buruh kereta api secara serempak di Jawa. Saya kembali membayangkan, dinding dan pintu di ruangan itu merekam segala keluh kesah para pegawai pribumi. Entah tentang perkara kesenjangan upah atau perlakuan semena-mena pegawai Belanda terhadap pegawai pribumi, walau tradisi kerja di N.I.S.M sedikit egaliter daripada perusahaan sejenis.
Lorong menuju ruang bawah tanah. Bagian ini sekarang tidak dapat diakses untuk umum.
Di dalam gedung B, terdapat pintu masuk yang mengarah ke ruang bawah tanah yang kini tergenang air. Inilah ruang bawah tanah yang kerap dibicarakan orang sebagai ruang paling angker di Lawangsewu. Semula, ia digunakan sebagai penyerap udara panas bumi sehingga hawa di dalam ruangan tidak terasa panas. Namun pada pendudukan Jepang, selain dipakai sebagai kantor Riyukyu Sokyoku ( Jawatan Transportasi ) bagian ruang bawah tanah Lawangsewu oleh militer Jepang diubah menjadi penjara yang cukup menyiksa bagi para tahanan. Dengan luas satu petak hanya sebesar 2x3 meter, petak sempit itu diisi sebanyak 5-6 orang dewasa dalam posisi jongkok. Ada juga penjara berdiri yang ditambahkan belakangan oleh Jepang, dimana para tahanan dimasukan ke dalam sel yang sangat sempit sehingga para tahanan tidak dapat bergerak sama sekali. Banyak tahanan yang meregang nyawa di situ akibat kekurangan udara di dalam penjara dan jasad mereka hanya dibuang begitu saja lewat lubang pembuangan.

Para pegawai  Riyukyu Sokyoku yang sedang berpose di depan pintu masuk utama Lawangsewu. Para pegawai  Riyukyu Sokyoku terdiri dari bekas pegawai N.I.S.M  yang sebagian besar adalah orang Belanda dan perwira militer Jepang. Di bawah foto tampak keterangan para perwira militer Jepang yang ikut berfoto ( sumber : Semarang, Beeld van een Staad  ). 
Lewat sebuah tangga, saya mendaki ke bagian loteng Lawangsewu, tempat dahulu arsip-arisp disimpan. Walaupun sekedar loteng, ukurannya hampir menyamai sebuah aula. Kelelawar dan burung walet masih terlihat, namun tampaknya mereka tak lagi bersarang di situ.  Karena ruangan ini berada langsung di bawah atap, maka rancangan atap sudah dibuat sedemikan rupa sehingga kedap air sekaligus tetap dingin. Agar ruangan tetap sejuk dan kering, maka solusinya adalah membuat atap ganda dan di puncak atap ditambahkan menara ventilasi.
Bagian loteng Lawangsewu.
Terpisah dari gedung utama dengan tujuan untuk menjaga higenitas, ada bangunan tambahan berupa lavatory atau kamar kecil tempat para pegawai membuang hajat mereka. Hal yang membuat saya takjub adalah di dalam situ saya masih bisa mendapati artefak-artefak toilet masa lampau berupa wastafel porselen dari pabrik Van der Berg and Co, Amsterdam dan urinoir merk “ The Adamant “ yang capnya masih menempel di situ.
Lavatory gedung A yang dihubungkan dengan bangunan utama lewat sebuah jembatan.
Lavatory gedung B
Wastafel yang sudah ada sejak zaman Belanda.
Detail cap yang menujukan asal wastafel.
Di belakang gedung A dan gedung B, terdapat sebuah bangunan kecil yang disebut sebagai gedung C. Inilah gedung yang berdiri pertama kali di area Lawangsewu, gedung yang dirancang oleh Ir. P. de Rieu itu. Di gedung itulah karcis-karcis kereta api dicetak. Deru suara mesin pencetak di dalamnya, kini tergantikan oleh heningnya suasana museum. Berbagai material bangunan yang ditemukan saat restorasi Lawangsewu seperti genting yang berasal dari Belanda dipamerkan di museum itu. Sebuah lift kuna penagngkut barang yang digerakan seperti orang menimba sumur masih berada di tempatnya.
Bangunan Gedung C yang didirikan oleh Ir. P. de Rieu. Dahulu menjadi tempat percetakan karcs kereta.

Rak tempat untuk menyandarkan sepeda yang sudah ada sejak zaman Belanda. Keberadaan rak ini menunjukan bahwa N.I.S.M  memperhatikan kebutuhan karyawannya yang bersepeda dari rumah ke kantor. Bangunan baru di masa sekarang belum tentu memiliki fasilitas seperti ini sehingga banyak orang zaman sekarang enggan bersepeda.
Sebelum saya undur diri, saya menyempatkan diri melihat sebuah monumen kecil yang ada di halaman depan Lawangsewu. Monumen itu didirikan untuk mengenang pegawai DKARI ( Djawatan Kereta Api Rebulik Indonesia ) yang  tewas pada Pertempuran Lima Hari yang bekecamuk pada tanggal 15 – 19 Oktober 1945, ketika Lawangsewu menjadi kantor DKARI. Kala itu, para pemuda-pemuda Semarang bentrok dengan Korps Polisi Militer Jepang, Kido Butai. Banyak jiwa yang berguguran. Beberapa di antara ialah para pegawai DKARI yang tergabung dalam AMKA ( Angkatan Muda Kereta Api ) yang guugur di sekitar Lawangsewu. Mereka yang gugur antara lain Noersam, Salamoen, Roesman, R.M. Soetardjo, dan R.M. Moenardi. Situasi masih belum aman, sehingga jenazah mereka untuk sementara dimakamkan di halaman gedung Lawangsewu. Kelima jenazah tadi baru dipindah ke TMP Giri Tunggal pada tahun 1973. Tatkala militer Belanda kembali menduduki Indonesia, Lawangsewu digunakan sebagai markas militer Belanda. Lalu setelah Belanda pergi, Lawangsewu menjadi markas Kodam IV Diponegoro.
Tugu Muda pada tahun 1953. Tugu ini dibangun pada tahun 1950 dan diresmikan oleh presiden Ir.Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Tujuan pembangunan tugu ini yakni sebagai monumen peringatan pertempuran Lima Hari di Semarang. Di belakang tampak gedung Lawangsewu yang menjadi salah satu saksi bisu pertempuran Lima Hari di Semarang.
Setelah sekian lama dipakai oleh militer, Lawangsewu akhirnya kembali diserahkan kepada perusahaan kereta api pada tahun 1994. Namun ketika ia diserahkan, kondisi Lawangsewu benar-benar kosong dan nyaris terlantar, membuatnya terlihat sebagai sebuah gedung angker yang menjulang di tengah keramaian kota. Isu-isu berbau mistis pun bermunculan. Mulai dari penampakan hantu yang kerap bergentayangan di sepanjang lorong gelapnya hingga ada orang yang meninggal seusai uji nyali di gedung itu. Karena keangkerannya itulah, Lawangsewu dinobatkan sebagai salah satu dari 10 gedung terangker di Asia. Saking kuatnya, bahkan restorasi besar-besaran di tahun 2009 pun nampaknya belum memudarkan kesan mistis Lawangsewu. Entah sampai kapan citra mistis menyelubungi gedung yang sejatinya merupakan adikarya arsitektur kolonial itu.

Referensi
Handinoto. 2010. Arsitektur Kolonial dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Penerbit Graha Ilmu.

--------------. 2012. " Pemberian Ciri Lokal Pada Arsitektur Kolonial Lewat Ornamen pada Awal Abad ke 20 ", dalam Jurnal Arsiktekur Dimensi Vol.39, No.1 Juli 2012.

Klinkahmer & Ouendag. 1916. " Het Administratiegebouw der Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij te Semarang " dalam Nederlandsch-Indie Oud en Nieuw vol 1, Issue 1.

Unit Conservation & Heritage. 2013. Lawangsewu in Watercolor. Bandung : PT. Kereta Api Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar