Jumat, 07 April 2017

Lawangsewu, Masterpiece Arsitektur Kolonial di Indonesia

Mendengar nama Lawangsewu, bisa jadi kita akan mengenalnya sebagai sebuah bangunan sangat angker sekali. Ya, citra Lawangsewu sebagai sebuah bangunan angker sudah cukup melekat di benak masyarakat, namun citra angker bangunan yang menjadi salah satu landmark kota Semarang ini sebenarnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan nilai sejarah, arsitektur, dan seni yang terkandung di dalamnya. Jika kita mengenal Candi Borobudur sebagai masterpiece arsitektur klasik Jawa, maka Lawansewu merupakan masterpiece arsitektur kolonial di Indonesia. Bagaimana riwayat bangunan Lawangsewu dan apa saja yang menjadikan Lawangsewu bisa menjadi masterpiece arsitektur kolonial di Indonesia ? Semuanya akan saya bahas pada tulisan Jejak Kolonial edisi kali ini.

Lawangsewu, sebuah kantor untuk perusahaan kereta...
Lawangsewu pada masa kolonial dikenal sebagai “Hoofdkantoor van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij ( N.I.S.M ) “ atau “ Kantor Pusat Perusahaan Kereta Hindia-Belanda”. Oleh karena itu, sejarah berdirinya Lawangsewu tidak terlepas dari sejarah transportasi kereta api di Indonesia. N.I.S.M merupakan perusahaan kereta api milik swasta yang merintis jalur kereta api dari Semarang ke Tanggung di Grobogan yang mulai dibangun pada tanggal 7 Juni 1864. Dari Tanggung, pembangunan jalur kereta api pertama di Indonesia ini diteruskan sampai wilayah Vorstenlanden  ( sekarang mencakup wilayah karesidenan Surakarta dan Provinsi D.I.Y ) yang ketika itu merupakan area perkebunan yang produktif namun masih sulit dijangkau. Tujuan pembangunan jalur ini ialah supaya hasil-hasil bumi dari wilayah Vorstenlanden dapat diangkut ke pelabuhan di Semarang dengan mudah. Awalnya, segala aktivitas administrasi N.I.S.M berada di Stasiun Semarang N.I.S di desa Kemijen. 
Stasiun Semarang N.I.S. di desa Kemijen yang didirkan tahun 1864. Di sinilah  N.I.S.M., berkantor sebelum pindah ke Lawangsewu. Lingkungan yang kurang bersahabat dan kebutuhan yang semakin banyak menjadi alasan N.I.S.M.untuk membangun kantor baru yang lebih representatif. Stasiun pertama di Indonesia ini sekarang tinggal sedikit saja bekasnya karena sebagian besar sudah terendam oleh rob ( sumber : media-kitlv.nl).
Seiring dengan perkembangan perusahaan N.I.S.M yang ditandai dengan semakin banyaknya jalur kereta yang dibuka, maka aktivitas administrasi perusahaan juga semakin sibuk dan personelnya semakin banyak. Oleh karena itu, mereka menyewa beberapa bangunan milik perorangan. Selain dirasa tidak efisien, kantor N.I.S.M di Stasiun Semarang N.I.S.M juga dirasa kurang bersahabat karena lokasinya berada di rawa-rawa yang penuh nyamuk, sehingga banyak pegawai yang jatuh sakit akibat penyakit malaria. Maka sebab itu, selain menyewa bangunan milik perorangan, N.I.S.M juga mulai memikirkan untuk mendirikan kantor baru yang lebih besar di lokasi baru yang lingkungannya lebih ramah. Lokasi yang dipilih akhirnya jatuh pada lokasi di dekat taman Wilhelmina Plein ( kini dikenal sebagai bunderan Tugu Muda ) yang lahannya sudah dimiliki oleh N.I.S.M pada akhir tahun 1863. Pilihan N.I.S.M tidak salah karena selain lokasinya lebih ramah lingkungan, juga lebih strategis karena berada di dekat pertigaan Bodjongweg ( sekarang Jalan Pemuda ) yang merupakan jalan utama di kota Semarang dengan Kendalweg  yang merupakan jalan raya menuju Kendal ( Unit Konservasi dan Heritage, 2013 ; 1-4).
Masterplan denah lantai 1 gedung A Lawansewu ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Masterplan denah lantai 2 gedung A Lawangsewu. Bagian lantai 2 dahulu merupakan ruang kantor untuk pejabat tinggi N.I.S.M. Bagian ini sekarang tidak dibuka untuk umum setiap harinya ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Sesudah lahan untuk kantor baru ditentukan, N.I.S.M menugaskan seorang arsitek bernama Ir. P. de Rieu untuk membangun rumah pengelola kantor dan gedung percetakan di lahan tersebut. Dalam perencanaanya, ada beberapa cetak biru yang dipersiapkan untuk gedung kantor baru N.I.S.M. namun rencana pembangunan sedikit terhambat sehingga cetak biru tadi tidak jadi dipakai. N.I.S.M akhirnya menunjuk tiga arsitek terpandang dari Belanda, Prof. Klinkhamer, B.J. Oendag, serta dibantu oleh arsitek muda bernama G.C. Citroen yang kelak pada tahun 1915 akan pindah ke Surabaya. Desain bangunan Lawangsewu dibuat di studio Prof. Klinkhamer di Amsterdam. 

Proses penggalian tanah untuk menyiapkan pondasi Lawangsewu ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).
Bengkel tukang kayu. Para tukang kayu ini membuat bagian-bagian seperti rangka kuda-kuda, kusen pintu dan jendela beserta daunnya ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 ).

Bangunan Lawangsewu ketika hampir selesai. Terlihat perancah dari bambu yang masih terpasang. Ketika foto ini dibuat tampaknya pembangunan Lawangsewu sudah mencapai tahap pengecatan. Tampak bagian jendela yang nantinya akan dipasangi kaca patri masih belum dipasang. ( sumber : Nederlandsch Indie Oud en Nieuw tahun 1916 )

Ketika dibuat direksi N.I.S.M memberi arahan kepada arsitek gedung ini agar gedung ini dibuat sesuai dengan filosofi N.I.S.M. yakni bangunan baru itu di satu sisi harus terkesan sederhana tapi di sisi lain juga harus dirancang dengan baik. Satu hal yang menarik adalah ketiga arsitek ini belum pernah tinggal di Hindia-Belanda sebelumnya !! Sehingga gambaran tentang iklim tropis Hindia-Belanda hanya mereka dapatkan dari literature atau cerita orang yang pernah tinggal di Hindia-Belanda saja. Entah bagaimana caranya, akhirnya mereka dapat membangun sebuah gedung yang ternyata sangat cocok dengan iklim tropis dan sesudahnya ditiru di tempat lain. Bangunan kantor baru N.I.S.M mulai dibangun pada tanggal 27 Februari 1904. Proses pembangunan memakan biaya yang banyak dan waktu yang lama karena sebagian besar material bangunan kecuali batu-bata, kayu jati, dan sirtu ( yang berasal dari Gunung Merapi dan diangkut dengan kereta ) didatangkan dari Eropa dan merupakan pesanan khusus. Tanggal 1 Juli 1907, gedung kantor baru N.I.S.M selesai dibangun dan langsung dipakai tanpa peresmian besar-besaran ( Klinkahmer & Ouendag,  1916; 23-31 ).
Gedung Lawangsewu setelah selesai dibangun ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Pada tahun 1916, bangunan yang lama dirasa masih kurang memadai sehingga dibangunlah gedung baru di sayap timur. Meski tampak luar bangunan baru ini sekilas sama dengan bangunan lama, namun teknologi konstruksi bangunan baru ini berbeda karena bangunan baru ini menggunakan teknologi beton bertulang yang pada waktu itu baru dipakai pertama kali di Hindia-Belanda pada bangunan ini. Bangunan lama masih menggunakan teknologi bearing wall, dimana struktur dinding memikul beban bangunan. Sementara dengan teknologi beton bertulang, maka struktur dinding tidak memikul semua beban bangunan. Belajar dari pengalaman pembangunan gedung lama yang memakan banyak biaya karena bahan bangunan harus diimpor, maka N.I.S.M memutuskan untuk menggunakan bahan bangunan lokal sebanyak mungkin ( Unit Conservation & Heritage, 2013; 7 ).
Para pegawai  Riyukyu Sokyoku yang sedang berpose di depan pintu masuk utama Lawangsewu. Para pegawai  Riyukyu Sokyoku terdiri dari bekas pegawai N.I.S.M  yang sebagian besar adalah orang Belanda dan perwira militer Jepang. Di bawah foto tampak keterangan para perwira militer Jepang yang ikut berfoto ( sumber : Semarang, Beeld van een Staad  ). 
Setelah Jepang menduduki Hindia-Belanda pada tahun 1942, bangunan Lawangsewu dipakai sebagai kantor Riyukyu Sokyoku ( Jawatan Transportasi ). Selain digunakan sebagi kantor, militer Jepang rupanya membuat beberapa modifikasi pada bangunan Lawangsewu. Salah satunya adalah mengubah ruang bawah tanah yang aslinya digunakan sebagai penyerap udara panas dari bumi menjadi ruang penjara. Kondisi penjara cukup menyiksa bagi para tahanan. Dengan luas satu petak hanya sebesar 2x3 meter, petak ini diisi sebanyak 5-6 orang dewasa dalam posisi jongkok. Ada juga penjara berdiri yang ditambahkan belakangan oleh Jepang, dimana para tahanan dimasukan ke dalam sel yang sangat sempit sehingga para tahanan tidak bisa merubah posisinya selain berdiri. Dengan kondisi seperti itu, maka wajar jika banyak tahanan yang tewas akibat kekurangan udara di dalam penjara dan jasad tahanan yang tewas kemudian dibuang begitu saja lewat lubang pembuangan.
Tugu Muda pada tahun 1953. Tugu ini dibangun pada tahun 1950 dan diresmikan oleh presiden Ir.Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Pembangunan tugu ini yakni sebagai monumen peringatan pertempuran Lima Hari di Semarang. Di belakang tampak gedung Lawangsewu yang menjadi salah satu saksi bisu pertempuran Lima Hari di Semarang.
Selanjutnya setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Lawangsewu menjadi kantor Djawatan Kereta Api Rebulik Indonesia ( DKARI ). Pada tahun yang sama, tepatnya tanggal 15 Oktober – 19 Oktober, Lawangsewu menjadi saksi bisu pertempuran para pemuda-pemuda Semarang dengan Korps Polisi Militer Jepang, Kido Butai.  Pertempuran yang kelak dikenal sebagai Pertempuran Lima Hari ini banyak memakan korban jiwa. Beberapa di antara korbannya ialah para pegawai DKARI yang tergabung dalam AMKA ( Angkatan Muda Kereta Api ) yang pada gugur di sekitar Lawangsewu. Mereka yang gugur antara lain, Noersam, Salamoen, Roesman, R.M. Soetardjo, dan R.M. Moenardi. Karena situasi masih tidak aman, maka kelima jenazah tadi dimakamkan di halaman gedung Lawangsewu. Kelima jenazah tadi baru dipindah ke TMP Giri Tunggal pada tahun 1973. Ketika militer Belanda menduduki Indonesia kembali, Lawangsewu digunakan sebagai markas militer Belanda. Lalu setelah Belanda pergi, Lawangsewu menjadi markas Kodam IV Diponegoro hingga pada tahun 1994, bangunan ini diserahkan dari militer kepada kereta api ( pada waktu itu masih bernama Perumka ). Sebelum direstorasi besar-besaran pada tahun 2009, bangunan ini dalam kondisi kosong dan nyaris terlantar, sehingga muncul isu-isu mistis yang masih berkembang di masyarkat sampai sekarang….

Melihat Lawangsewu lebih dekat..
Lokasi Lawangsewu pada peta kota Semarang tahun 1909 ( dengan keterangan Hoofdkantoor N.I.S ). Lawangsewu terletak di ujung kawasan Bojong yang dahulu merupakan kawasan hunian paling prestise di Semarang. Selain Lawangsewu, bangunan penting yang ada di kawasan ini adalah rumah kediaman residen Semarang yang saat ini menjadi rumah dinas gubernur Jawa Tengah ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Perlu diketahui bangunan Lawangsewu terdiri dari beberapa bangunan, yakni gedung A, Gedung B, dan Gedung C. Oh ya, nama Lawangsewu sebenarnya merupakan julukan dalam bahasa Jawa yang berarti “ Pintu Seribu”. Mengapa disebut demikian ? Karena bangunan Lawangsewu memiliki pintu yang sangat banyak sekali. Meski jumlah pintu sebenarnya tidak sampai seribu, namun karena jika dihitung satu persatu orang akan kesulitan menghitungnya, maka pintu yang ada di Lawansewu dibulatkan menjadi seribu. Lalu kenapa Lawansewu memiliki banyak sekali pintu ? Itu akan dijelaskan nanti.
Tampak depan gedung A.

Bagian belakang gedung A.
Bangunan yang selama ini terlihat dari area Tugu Muda dan sering kita lihat di media ini adalah gedung A Lawangsewu. Gedung A ini merupakan bangunan yang dibangun pada 1907 dan selesai pada dibangun pada 1909. Konsep layout gedung A ini terinspirasi dari bangunan sudut kota-kota Eropa yang memiliki fasad utama pada bagian sudut dan memiliki fasad ganda. Jika dilihat dari atas, bangunan gedung A berbentuk seperti huruf “L”. Bagian depan gedung A memiliki kanopi yang berfungsi untuk melindungi orang dari hujan atau panas ketika hendak turun dan masuk ke dalam gedung. Bagian atas kanopi ini juga berfungsi sebagai balkon lantai dua, dimana dahulu para petinggi N.I.S.M kerap bersantai di sini sambil melihat pemandangan Wilhelmina Plein yang pada waktu itu masih berupa taman. Di depan gedung ini dahulu pernah terdapat jalur trem yang melintas dari Stasiun Semarang Jurnatan sampai ke Halte Banjir Kanal Barat. Dari sini, mereka dapat melihat gedung kediaman residen Semarang yang sudah ada jauh sebelum Lawangsewu dibangun.
Salah satu menara.
Rumah sumur pompa yang menjadi sumber air untuk gedung Lawangsewu. Sumur ini dianggap keramat dan konon airnya tidak kering sekalipun di musim kemarau. Entah apakah sumur ini airnya masih sebanyak dahulu karena di sekitar Lawansewu sudah banyak bangunan baru yang sudah menghabiskan pasokan air tanah di kota Semarang.
Pesona kemegahan bagian depan Lawangsewu semakin terlihat berkat keberadaan dua menara dengan atap kubah yang mengapit atap bangunan main hall Lawangsewu. Menara ini selain berfungsi untuk menambah kesan megah Lawangsewu juga ada fungsi lain yang mungkin jarang orang mengetahuinya. Di dalam salah satu menara, terdapat bak air untuk menyuplai kebutuhan air untuk seluruh gedung. Air ini diambil dari rumah sumur pompa yang ada di dekat Gedung A. Uniknya, bak air yang yang ada di dalam menara teknik penyambungannya tidak dilas, tapi dengan paku keling. Nah, di puncak fasad depan Gedung A, kita dapat melihat ornamen relief berwujud kepala Batara Kala, Dewa Waktu dalam mitologi Hindu, yang sedang menaungi roda bersayap, lambang perusahaan N.I.S.M. Makna dari ornamen ini cukup dalam, yakni transportasi kereta tidak akan punah termakan waktu.
Bagian lobi.
Tangga utama menuju lantai dua.
Selanjutnya kita akan menuju ke bagian lobi Lawangsewu yang saat ini tidak bisa dibuka untuk umum setiap harinya. Di dinding sisi kanan lobi, kita dapat melihat prasasti berbahasa Belanda yang memperingati berdirinya 50 tahun N.I.S.M. Bagian lantai lobi terbuat dari batu marmer putih dan granit hitam yang disusun seperti papan catur. Batu granit ini didatangkan dari tambang batu granit di Pegunungan Fichtel, Bavaria, Jerman yang sudah dipotong begitu teliti di lokasi penambangan sesuai yang ada dalam blueprint, sehingga setiba di Semarang batu granit ini tinggal dipasang saja. Dari lobi, kita bergerak ke main hall Lawangsewu. Di sini terdapat selasar menuju ruangan kantor dan tangga utama menuju lantai dua Gedung A. Tepat di depan tangga utama, kita dapat melihat prasasti kecil yang didedikasikan oleh para karyawan N.I.S.M kepada G.C. Daum, kepala direksi N.I.S.M. yang pertama. Tangga utama ini akan membawa kita ke lantai dua gedung A yang dahulunya adalah ruang rapat direksi dan kantor eksekutif N.I.S.M.
Kaca patri yang menjadi daya tarik utama Lawangsewu.
Jika kita naik ke tangga utama, kita akan dibuat terpukau oleh keindahan kaca patri penuh warna yang dibuat oleh seniman ternama pada waktu itu, J.L. Schouten. Hiasan kaca patri ini dibuat di studi J.L Schouten di Delft. Sebelum dibawa ke Semarang, kaca patri ini terlebih dahulu dipamerkan di Belanda. Apabila kita mengamati kaca patri ini secara seksama, kita akan melihat berbagai simbol yang sarat dengan pesan tersirat. Simbol-simbol itu antara lain lambang kota Batavia dan Semarang sebagai kota bandar utama di Pulau Jawa, dan lambang kota Amsterdam, ibukota Kerajaan Belanda yang kesejahteraanya didukung oleh dua kota tadi. 
Salah satu ruas kaca patri yang menggambarkan Dewi Fortuna ( kanan ) dan Dewi Venus ( kiri ).
Pada salah satu ruas kaca, kita dapat melihat ornamen berbentuk sosok dua perempuan yang merupakan personifikasi dari figur Dewi Fortuna, dewi keberuntungan dan Dewi Venus, dewi cinta. Dua perempuan tadi mengapit lambang roda kereta bersayap, lambang perusahaan N.I.S.M. Pesan kaca patri ini adalah bahwa kedua dewi ini memiliki ikatan kepada tanah Hindia-Belanda untuk memberikan kejayaan pada transportasi kereta api. Di sini kita juga dapat melihat berbagai dekorasi tumbuhan dan kendaraan kereta api dan kapal uap, transportasi yang membawa pergi hasil kekayaan alam Pulau Jawa ( Handinoto, 2012 ; 46-48 ).
Cerat di bagian bawah untuk membuang air.
Cerat sisi atas.
Beranda keliling. 
Pintu-pintu yang banyak ini menjadi asal mula gedung ini dijuluki Lawangsewu.
Sebagai bentuk adaptasi terhadap iklim tropis, maka gedung A, baik bagian atas maupun bawah memiliki beranda keliling untuk melindungi bagian dalam bangunan dari tampias air hujan dan sengatan langsung sinar matahari. Agar sirkulasi udara di dalam ruangan lancar, maka gedung Lawansewu didesain memiliki banyak pintu krepyak. Dari sinilah bangunan ini menerima julukannya sebagai Lawangsewu. Lalu berapa jumlah pintu yang sebenarnya ? Hingga kini ada berbagai versi tentang jumlah pintu yang ada di Lawangsewu. Ada yang menyebutnya 400an adan juga yang menyebut 600an. Namun yang jelas jumlah pintu di Lawangsewu tidak sampai seribu buah seperti namanya. Untuk mengoptimalkan pengahwaan di dalam ruangan, maka ruangan didesain berukuran besar dan terhubung dengan pintu penghubung antar-ruangan. Bentuk adaptasi lainnya adalah adanya cerat kecil di bagian luar sebagai saluran air ketika bagian beranda tergenang air akibat hujan atau saat dibersihkan. Bentuk cerat yang terbuat dari batu granit ini mirip dengan cerat pada batu yoni (Handinoto, 2010; 28-29).
Bagian loteng Lawangsewu.
Lawangsewu memiliki loteng atau attic. Bagian ini dahulu digunakan sebagai ruang arsip. Karena ruangan ini berada langsung di bawah atap, maka rancangan atap sudah dibuat sedemikan rupa sehingga kedap air sekaligus tetap dingin. Agar ruangan tetap sejuk dan kering, maka solusinya adalah membuat atap ganda. Supaya aliran udara lebih lancar, maka di puncak atap terdapat menara ventilasi . Loteng Lawangsewu ini cukup besar, bahkan bisa digunakan untuk bermain badminton…
Gedung B.

Jembatan yang menghubungkan gedung A dengan gedung B.
Pintu penghubung antar ruang yang terdapat di gedung B. Seandainya semua pintu yang ada di Lawangsewu ditutup, butuh berapa lama kira-kira untuk membukanya satu persatu ? Silahkan anda coba sendiri :-)
Di sebelah timur gedung A, terdapat gedung B yang ditambahkan pada tahun 1916. Layout gedung B ini serupa dengan gedung A tapi teknologi konstruksi yang dipakai berbeda. Gedung B menggunakan teknologi beton bertulang yang pada waktu itu baru dipakai pada bangunan ini. Seluruh material gedung B sebagian besar menggunakan material lokal karena biayanya lebih murah. Bangunan gedung B terhubung dengan gedung A lewat sebuah jembatan. Ketika gedung ini masih digunakan oleh N.I.S.M, gedung B ini merupakan kantor untuk para pegawai pribumi. Pada masa kolonial para pegawai pribumi N.I.S.M tergabung dalam Verenigin van Spoor-en Tramegpersoneel, organisasi serikat buruh yang didirikan pada tahun 1908 di Semarang oleh Sneevliet, aktivis beraliran sosialis yang terkenal akan sikap radikanlya. Organisasi ini merupakan akar gerakan radikal  melawan ketidakadilan dan menjadi awal gerakan sosial modern di Hindia-Belanda. Salah satu aksi mereka yang paling berani adalah aksi pemogokan buruh kereta api secara serempak di Jawa pada 9 Mei 1923 yang dipimpin oleh Semaoen. Ya, jika kita berjalan-jalan di dalam gedung B, mungkin kita bisa membayangkan dahulu, di dalam gedung ini, para pegawai pribumi saling mengeluh tentang kesenjangan upah atau perlakuan semena-mena pegawai Belanda terhadap pegawai pribumi, walau tradisi di N.I.S.M sedikit egaliter daripada perusahaan sejenis.
Lorong menuju ruang bawah tanah. Bagian ini sekarang tidak dapat diakses untuk umum.
Di dalam gedung B, terdapat pintu masuk ke ruang bawah tanah yang ketika awal dibangun digunakan sebagai penyerap udara panas bumi sehingga hawa di dalam ruangan tidak terasa panas. Namun di masa pendudukan Jepang, bunker ini dibubah fungsinya menjadi penjara.
Lavatory gedung A yang dihubungkan dengan bangunan utama lewat sebuah jembatan.
Lavatory gedung B
Wastafel yang sudah ada sejak zaman Belanda.
Detail cap yang menujukan asal wastafel.
Baik di gedung A maupun gedung B, masing-masing memiliki fasilitas tambahan berupa lavatory atau kamar kecil yang dibuat terpisah dari gedung utama dengan tujuan untuk menjaga higenitas. Bangunan toilet dihubungkan dengan gedung utama lewat selasar agar orang dari gedung utama tidak kehujanan ketika hendak menuju bangunan lavatory. Selasar ini juga berfungsi sebagai jembatan. Di dalam lavatory, kita dapat melihat wastafel porselen dari pabrik Van der Berg and Co, Amsterdam dan urinoir merk “ The Adamant “ yang capnya masih dapat kita lihat sampai sekarang. Keberadaan lavatory ini menunjukan bahwa orang zaman dahulu sudah menjunjung tinggi kebersihan.
Bangunan Gedung C.
Terpisah dari gedung A dan gedung B, terdapat bangunan kecil yang disebut sebagai gedung C. Gedung ini merupakan gedung yang berdiri pertama kali di area Lawangsewu. Arsitek gedung ini ialah Ir. P. de Rieu. Di masa lalu, gedung ini merupakan tempat percetakan karcis kereta api. Sekarang gedung ini dipakai untuk museum. Di dalamnya, kita dapat melihat berbagai material bangunan yang ditemukan saat restorasi Lawangsewu seperti genting yang berasal dari Belanda. Di dalam gedung ini kita juga dapat menjumpai lift kuna yang digunakan untuk mengangkut barang dari lantai satu ke lantai dua dan digerakan dengan sistem katrol manual, seperti orang menimba sumur.
Rak tempat untuk menyandarkan sepeda yang sudah ada sejak zaman Belanda. Keberadaan rak ini menunjukan bahwa N.I.S.M  memperhatikan kebutuhan karyawannya yang bersepeda dari rumah ke kantor. Bangunan baru di masa sekarang belum tentu ada fasilitas seperti ini sehingga banyak orang zaman sekarang yang malas bersepeda.
Demikianlah tulisan Jejak Kolonial edisi Lawangsewu ini. Lawansewu merupakan contoh bangunan masa kolonial yang sukses memadukan aspek estetika dan fungsional dari sebuah bangunan sehingga tidak heran jika bangunan ini dianggap sebagai contoh masterpiece arsitektur kolonial di Indonesia. Dari sebuah bangunan Lawangsewu saja, kita sudah mendapat cerita yang sangat banyak sekali. Mulai dari cerita pembangunannya hingga material yang dipakai pada bangunan ini. Ya, sudah saatnya masyarakat datang ke Lawangsewu untuk mengapresiasinya sebagai masterpiece arsitektur kolonial di Indonesia, bukan sekedar mencari hantu belaka saja….

Referensi

Handinoto, 2010, Arsitektur Kolonial dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial, Graha Ilmu, Yogyakarta.

--------------, 2012, Pemberian Ciri Lokal Pada Arsitektur Kolonial Lewat Ornamen pada Awal Abad ke 20, dalam Jurnal Arsiktekur Dimensi Vol.39, No.1 Juli 2012.

Klinkahmer & Ouendag, 1916, Het Administratiegebouw der Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij te Semarang dalam Nederlandsch-Indie Oud en Nieuw vol 1, Issue 1.

Unit Conservation & Heritage, 2013, Lawangsewu in Watercolor, PT. Kereta Api Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar