Sabtu, 22 April 2017

Remah-Remah Jejak Sejarah di Kutoarjo

Suatu siang di bulan September 2016, udara Kutoarjo terasa panas dan rasanya begitu menyengat di kulit. Kepala saya segera dibanjiri dengan peluh sehingga saya memutuskan berteduh di emperan Pendopo Kutoarjo. Dipayungi dengan atap pendopo berbentuk tajug, terlihat beberapa orang yang duduk berteduh untuk melepas rasa gerah. Mungkin mereka belum tahun jika pendopo tempat mereka berteduh dulunya adalah kediaman bupati Kutoarjo.
Peta Kutoarjo tahun 1909. Tempat-tempat pejabat penting seperti Bupati ( Reg.= Regent ), Patih ( D = District ), dan Kontrolir ( C = Controloeur ) ditandai dengan tiang bendera Belanda. Di sebelah timur tampak Kali Jali yang menjadi batas alami kabupaten Purworejo dengan kabupaten Kutoarjo. ( Sumber ; maps.library.leiden.edu ).
Persearan peninggalan bersejarah di Kutoarjo. Keterangan ; 1. Pendhopo Kutoarjo ; 2. Masjid Agung Kutoarjo ; 3. Rumah Patih ( sekarang kantor Kecamatan Kutoarjo ) ; 4. Rumah Kontrolir ; 5. Bekas rumah mayor Tionghoa ; 6. Stasiun Kutoarjo ;7. Rumah gaya Victorian ( sekarang Hotel Kencana ) ; 8. Jembatan Kali Jali.
Ya, Kutoarjo di masa lampau adalah sebuah kabupaten tersendiri, terpisah dengan kabupaten Purworejo. Pada saat itu, Kabupaten Kutoarjo lebih dikenal sebagai kabupaten Semawung. Secara administratif, ia berada di bawah Karesidenan Bagelen yang dibentuk pemerintah kolonial Belanda pada 1830. Kabupaten Semawung membawahi beberapa distrik seperti Distrik Sucen, Distrik Madijer, Distrik Kendal, Distrik Paitan, Distrik Kiangkong, dan Distrik Pituruh. Pada masa kolonial, urusan orang-orang pribumi diserahkan kepada Bupati dan anak buahnya, bukan kepada pejabat Belanda. Pemerintah kolonial rupanya telah belajar dari pengalaman bahwa pemaksaan ide asing terhadap suatu negeri seringkali mengalai pertentangan dari penduduk pribumi. Maka, kepercayaan, adat istiadat, dan tradisi kaum pribumi dihormati dan dibiarkan berkembang menurut kemampuan mereka. Seperti yang diakui sarjana seni asal Amerikaa John C. Van Dycke, pemerintahan Belanda sukses membuktikan diri  sebagai pemerintah kolonial paling berhasil di era modern dan pemerintah kolonial Inggris dan Amerika perlu belajar dari mereka ( Rush, 2013; 212 ).
Pendhopo Kutoarjo, bekas kediaman bupati Kutoarjo yang kini menjadi ruamh dinas wakil bupat Purworejo. Terlihat bentuk atapnya seperti masjid-masjid lama.


Perpaduan budaya Jawa dan Eropa sangat terasa pada bekas rumah Bupati Kutoarjo seperti yang terlihat pada tiang saka guru pendhopo dan pilar-pilar Yunani di belakangnya.
Kutoarjo sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi memiliki beragam remah sejarah. Bangunan pendopo ini contohnya. Ia dibangun pada masa Bupati R.A. Soerokoesomo dan dirampungkan pada masa bupati R.A.A. Pringgoatmodjo. Berbeda dengan rumah pejabat Jawa yang pendoponya menggunakan atap Joglo, bangunan yang sekarang dipakai sebagai kediaman wakil bupati Purworejo ini menggunakan atap tajug yang umumnya dipakai pada bangunan masjid. Gaya arsitektur bangunan ini memadukan gaya arsitektur tradisional Jawa - seperti yang terlihat pada empat tiang soko guru dari kayu yang menopang atap pendopo dan aristektur kolonial - yang tampak pada pilar-pilar Yunani di bagian rumah di belakang pendopo. Tahun 1933 adalah tahun terakhir bupati Kutoarjo tinggal di pendopo itu. Seiring dengan perombakan susunan administratif yang dilakukan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1930an, maka pada tahun 1933 Kabupaten Kutoarjo dilebur dengan Kabupaten Purworejo. Dengan demikian pusat pemerintahannya juga turut digeser ke Purworejo. Hilang sudah peran Kutoarjo sebagai pusat pemerintahan ( Musadad, 2002; 8 ).
Alun-alun Kutoarjo.
Di sebelah selatan pendopo, terdapat lapangan luas yang disebut alun-alun. Alun-alun itu dibangun sesudah perpindahan kedudukan pemerintah kabupaten Kutoarjo dari Semawung Daleman ke Desa Senepo pada masa bupati R.M. Soerokosoemo. Di tempat barunya, seperti halnya Bupati Tjokronegoro I, R.M. Soerokoesoemo juga membangun Kutoarjo dalam pola kota tradisional Jawa. Sebagai pusat kota adalah alun-alun yang terletak di samping utara jalan utama Purworejo – Kebumen. Berbagai perhelatan atau perayaan digelar di alun-alun. Pohon beringin ditanam di tengah alun-alun sebagai salah satu perwujudan dari nilai persatuan pemimpin dengan rakyatnya.
Masjid Agung Kutoarjo.
Masjid Agung Kutoarjo pada tahun 1900an. Bandingkan dengan kondisinya sekarang. ( sumber : troppenmuseum.nl ).


Kantor Pengadilan Agama dan penghulu.
Seperti lazimnya kota-kota tradisional di Jawa, di sebelah barat alun-alun terdapat masjid. Masjid itu dibangun pada tahun 1860 oleh bupati R.A.A. Pringgoatmodjo. Lima belas tahun kemudian, oleh putra R.A.A. Pringgoatmodjo, R.A.A. Poerboatmodjo, masjid itu dipugar. Sayangnya bentuk masjid yang sekarang sudah tidak asli lagi. Atap masjid yang seharusnya berupa atap tumpang kini sudah menjelma menjadi atap kubah. Di dekat halaman pintu masuk masjid, terdapat bangunan lama yang dulu diperuntukan sebagai kantor pengadilan agama dan penghulu.
Rumah dengan tulisan 1918 di bagian depan.
Pendopo Kecamatan Kutoarjo, bekas rumah kediaman patih.
Beranjak ke kawasan di utara pendopo Kutoarjo, di sana masih dapat dijumpai beberapa remah sejarah lain seperti kediaman patih Kutoarjo yang kini menjadi kantor Kecamatan Kutoarjo. Sebagaimana bupati, patih adalah pembesar pribumi yang diangakt sebagai pegawai pemerintah jajahan dan diberi gaji. Hal ini mengakibatikan mereka tunduk pada ketentuan atasan yang tak lain adalah pemerintah kolonial Belanda seperti yang dijabarkan Djoko Soekiman dalam buku karangannya, “Kebudayaan Indis”. Mereka, kaum priyayi seperti patih, disediakan rumah tinggal yang sudah ditentukan oleh pemerintah kolonial. Walau ditentukan oleh pemerintah kolonial, namun bukan berarti pembangunannya sama sekali tidak melibatkan pekerja lokal (pribumi). Pemerintah kolonial membekali para pekerja lokal dengan ilmu seni bangun dari Barat. Selama pembangunan rumah-rumah pegawai kolonial seperti bupati, patih, residen, dan kontroleur, mereka diawasi insinyur dari Burgerlijke Openbare Werken ( Dinas Pekerjaan Umum ) ( Djoko Soekiman, 2014 ;160 ).
Seperangkat boneka yang menggambarkan bupati Kutoarjo, Pangeran Poerboatmodjo dan istrinya. Foto diambil pada tahun 1895. ( sumber ; gahetna.nl ).
Saluran air Kali Anyar, saluran air peninggalan Pangeran Poerboatmodjo.
Sebuah kanal kecil mengalir di sepanjang sisi utara kota. Masyarakat setempat menyebutnya Kali Anyar. Kanal kecil yang melindungi penduduk Kutoarjo dari ancaman banjir itu adalah buah karya dari Pangeran Poerboatmodjo, bupati Kutoarjo dari 1870-1915. Beliau termasuk sosok yang sangat terpelajar. Pemanfaatan sumber daya alam, konservasi lingkungan, dan tata guna air adalah bidang ilmu yang ia pelajari, ilmu yang terbilang langka dipelajari oleh orang pribumi kala itu, sehingga boleh dibilang jika beliau adalah enviromentalis Indonesia pertama. Sebelum menjabat sebagai bupati, beliau bertugas di Dinas Topografi Karesidenan Bagelen dan mantra pengairan Bendungan Boro. Bersama residen Bagelen, beliau melawat ke Kalkuta, India untuk menimba ilmu pengairan dan irigasi dari para insinyur pengairan Inggris yang berhasil membendung sungai Gangga. Sebelum Kali Anyar dibangun, banjir yang disebabkan oleh meluapnya Kali Jali senantiasa menerjang Kutoarjo. Puncaknya terjadi pada 23 Februari 1861 ketika banjir besar setinggi 4,5 meter menggenangi Kutoarjo. Beberapa tempat tertimbun sedimen banjir setinggi satu meter. Tidak kuasa melihat derita rakyat Kutoarjo akibat banjir, Pangeran Poerboatmodjo lantas membangun Kali Anyar berikut sejumlah bendung, kanal, dan pintu air di sekitar Kutoarjo. Tak hanya berhenti sampai di situ, beliau pun juga turut menghijaukan kembali tanah perbukitan di sebelah utara Kutoarjo. Wilayah pantai selatan Kutoarjo juga turut dihijaukan dengan menanam pohon Nyamplung sehingga pantai menjadi teduh dan tidak tergerus angin. Atas pengabdiannya di bidang lingkungan, Pangeran Poerboatmodjo mendapat banyak penghargaan dari kerajaan Belanda. Oleh karena itu, sudah sepantasnya masyarakat Kutoarjo berterima kasih kepada Pangeran Poerboatmodjo karena berkat jasanya, Kutoarjo terbebas dari banjir besar ( Pranoto, 2017; 1-3 ).
Pejagalan Hewan Kutoarjo.
Masih di sebelah utara Kutoarjo, di sana terdapat bangunan pejagalan hewan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Pejagalan tersebut didirikan oleh pemerintah kolonial untuk mempermudah pemeriksaan hasil penyembelihan. Di masa lalu, dimana ilmu kesehatan hewan masih belum berkembang pesat seperti sekarang, hewan-hewan yang sering dikonsumsi seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi rentan terkena penyakit. Jika orang menyembelih hewan disembarang tempat, tentu orang tidak akan tahu apakah hewan yang disembelih itu sehat dan dagingnya layak dikonsumsi, sehingga penyakit hewan seperti anthrax dapat menular ke tubuh manusia. Untuk mencegah hal yang tidak-tidak, pemerintah kolonial mendirikan tempat khusus pejagalan hewan. Pejagalan ini diatur sedemikian rupa. Ada tempat untuk pemeriksaan hewan, tempat pengulitan, tempat membersihkan jeroan, tempat pembuangan bagian hewan yang tidak dikonsumsi, dan kantor untuk pengurus pejagalan. Tempat penyembelihan untuk hewan babi yang haram dikonsumi oleh umat Islam juga dipisahkan dari tempat penyembelihan lain. Letak pejagalan tersebut sengaja ditaruh tidak jauh dari saluran air agar mudah membersihkan isi perut hewan, membuang bagian yang tidak diperlukan seperti darah dan tempat para juru jagal membersihkan diri. Pada masa kolonial, pejagalan Kutoarjo sebenarnya termasuk pejagalan yang sudah ketinggalan zaman karena di kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, dan Malang, pejagalan hewan sudah dibangun dengan taraf lebih baik dan dilengkapi kamar pendingin atau freezer, laboratorium, penggunaan besi anti karat untuk penggantung, dan tersedia tempat khusus untuk mencuci perut hewan dengan air hangat yang mengalir, bukan dari saluran air kotor ( Treffers, 1935 ; 8 ).
Bangunan bergaya Victorian yang saat ini menjadi Hotel Kencana.
Jalan Pangeran Diponegoro adalah jalan utama yang melintas di tengah kota Kutoarjo. Ia menghubungkan Kutoarjo dengan Purworejo di timur dan Kebumen di barat. Di sepanjang jalan itu masih berdiri beberapa bangunan kuno bekas rumah tinggal orang Belanda. Beberapa di antaranya dijadikan hotel seperti Hotel Kencana yang bentuk bangunannya terpengaruh dari gaya Victorian. Menara kecil pada salah satu sisi bangunan menjadi penandanya. Di Purworejo sendiri tidak dijumpai bangunan yang bergaya Victorian selain hotel ini.
Bekas kediaman controleur Kutoarjo. Perbedaan rumah pejabat Belanda dengan pribumi adalah tiadanya pendopo di bagian depan rumah pejabat Belanda. Sebagai ganti pendopo adalah sebuah beranda di bagian depan.
Di belakang kantor Polsek Kutarjo, terdapat remah sejarah lain berupa bangunan tua yang dulu dihuni oleh controleur Kutoarjo. Dalam Binnelandsch Bestuur atau birokrasi pemerintahan kolonial, pemerintahan dipecah menjadi dua, yakni Europesche Bestuur atau pemerintahan Eropa dan Inlandsch Bestuur atau pemerintahan pribumi yang dipimpin oleh seorang bupati. Untuk mengawasi tindak-tanduk pemerintahan prib contreleur dipasang dengan bupati. Pangkat controleur setingkat di bawah asisten residen ( Cribb dan Kahin, 2000 ; 67-68 ).  Secara sekilas, rumah ini bergaya arsitektur perpaduan Jawa dan Eropa atau sering disebut arsitektur Indis. Ciri arsitektur Indis bisa dilihat dari atapnya yang berbentuk atap kampung yang lebar seperti rumah-rumah Jawa, jendelanya tinggi besar dan ada beranda di bagian depan. Ukurannya yang besar seakan menunjukan keangkuhan penguasa kolonial di hadapan bangsa pribumi walaupun sesungguhnya tujuan rumah itu dibangun dalam ukuran sebesar itu supaya ruangan di dalam tidak terasa panas. Kendati demikian, mereka setidaknya masih memiliki rasa hormat pada bupati dengan tidam membangun rumah memunggungi kediaman bupati. Apabila rumah bupati dibangun menghadap ke selatan, mereka ( orang Belanda ) membangun rumah menghadap ke utara. John C. van Dyke menyebutkan kepercayaan, adat istiadat, dan tradisi kaum pribumi masih dihormati oleh penjajah karena tujuan penjajahan Belanda di sini bukanlah untuk mengubah kebudayaan, melainkan “hanya untuk menguras sumber daya alam” ( Rush, 2013; 8 ).
Stasiun Kutoarjo pada masa sekarang. Sebelum dirombak banguann Stasiun Kutoarjo mirip sekali dengan Stasiun Purworejo.
Rumah-rumah tua di sekitar Stasiun Kutoarjo. Rumah-rumah ini dahulu dihuni oleh para pegawai Stasiun Kutoarjo.
Dari Jalan Pangeran Diponegoro, saya beringsut ke Stasiun Kutoarjo. Stasiun yang bangunan aslinya telah beralih rupa itu dibuka beriringan dengan pembukaan jalur kereta yang menghubungkan Yogyakarta-Cilacap. Di sekitar stasiun masih terjumpai beberapa rumah tua yang dulu ditempati pegawai stasiun. Dibanding Stasiun Purworejo, Stasiun Kutoarjo jauh lebih ramai dan tak pernah tidur karena ia dilalui oleh jalur kereta dari Jakarta-Yogyakarta sehingga banyak kereta yang lewat Kutoarjo. Berbeda dengan Stasiun Purworejo yang terletak di ujung sehingga tidak semua kereta berhenti di Purworejo.
Para perempuan yang bekerja sebagai pemintal benang di sebuah pabrik benang di Kutoarjo. Dibandingkan Purworejo, perekonomian Kutoarjo jauh lebih maju. ( sumber ; media-kitlv.nl ).
Seorang perwira Belanda dan Indonesia yang sedang mengamati parade para prajurit TNI di sepanjang jalan yang kini menjadi Jalan M.T. Haryono. Di sebelah kiri tampak barisan rumah Tionhoa yang rusak. ( sumber : gahetna.nl )
Deretan bangunan berlanggam Tionghoa di sepanjang jalan M.T. Haryono.
Kaki saya kemudian melangkah ke jalan M.T. Haryono, pecinannya Kutoarjo karena di sana masih banyak rumah-toko kuno bergaya Tionghoa Selatan. Kutoarjo, seperti arti namanya yang berarti " Kota yang Makmur " memang lebih semarak kehidupan perekonomian Kutoarjo dibanding Purworejo karena di sana tinggal pengrajin tenun dan barang pecah belah. Jika diibaratkan, Purworejo dan Kutoarjo mirip dengan kota Washington DC dan New York di Amerika Serikat dimana kota New York memiliki kehidupan perekonomian yang lebih ramai daripada ibukotanya, Washington DC. Roda perekonomian semakin bergeliat dengan dibangunnya jalur kereta Yogyakarta-Cilacap pada tahun 1887 oleh Staatspoorwegen, yang melewati Kutoarjo dan dibangun sebuah stasiun di sini ( Anonim, 58 ). Konon komunitas Tionghoa di sini lebih lama eksis dibanding Purworejo. Mereka pun juga sangat aktif dalam dunia pendidikan golongan Tionghoa seperti usaha mereka dalam membangitkan kembali perkumpulan Hak Boe Tjong Hwee pada 1926 ( Liem, 1933;236 ).
Rumah besar milik Bapak Budi.
Pintu utama dengan ornamen yang menarik.
Di salah satu sisi jalan itu, saya jatuh hati dengan sebuah rumah tua bergaya Tionghoa yang tampak berbeda dari yang lain. Berbeda dengan rumah lain yang nir hiasan, rumah itu begitu menawan dengan aneka hiasan seperti tiang dan teritisan yang berbalut sesuluran. Saya pun mencoba masuk ke dalam dan disambut baik oleh bapak Budi. Sebagaimana tampak luarnya, tampak dalam rumah itu juga masih terjaga baik. Saya pun menduga jika dulu mungkin rumah ini adalah tempat tinggal seorang kapitan Tionghoa. Dalam pengaturan masyarakat, pemerintah kolonial biasanya memberi gelar militer titular seperti mayor, letnan atau kapten pada seorang Tionghoa terpandang. Merekalah yang nantinya akan mengurus segala perkara yang menyangkut orang Tionghoa. Namun ada dugaan lain bahwa bangunan ini dipakai sebagai kantor untuk semacam perhimpunan Tionghoa di Kutoarjo. Bagi saya pribadi, rumah ini adalah salah satu remah sejarah Kutoarjo yang patut dijaga.
Jembatan Kali Jali pada tahun 1930.


Jembatan Kali Jali pada masa sekarang.
Sebelum saya beranjak pergi dari Kutoarjo untuk kembali ke Purworejo, saya melewati remah sejarah terakhir. Remah terakhir itu adalah sebentang jembatan tua berbentuk busur yang masih tampak perkasa. Walau demikian, jembatan ini sudah pensiun sebagai jembatan penghubung utama karena kian ramai kendaraan yang melintas sehingga dikhawatirkan ia tidak sanggup memanggul beban.

Referensi :
Cribb, Robert dan Kahin, Audrey. 2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok; Komunitas Bambu.

Treffers, Dr.W. 1935. " De Modernising Van Het Slachthuis voor Groot Vee en Geiten Te Cheribon " dalam Locale Techniek 4e Jaargang No.3 Mei 1935. Bandung.

Musadad. 2002. Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.

Penadi, Radix . 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad ke XIX. Lembaga Study dan Pegembangan Sosial Budaya.

Pranoto, Agung. 2017. Kisah Tokoh Poerworedjo Djaman Doeloe : Pangeran Poerboatmodjo.

Rush. James. R. 2013. Jawa Tempo Doeloe ; 650 Tahun Bertemu Dunia Barat 1330-1985. 

7 komentar:

  1. Terima Kasih,sangat menarik.kebetulan konon kakek kami prawoto danusendjojo berasal dari pituruh.tabik.

    BalasHapus
  2. Purworejo ada komunitas sejarahnya nggak ya,..

    BalasHapus
  3. trimaksih atas tayangan ini menambh wawasan bagi saya yg dilahirkan disini dan pergi meninggalknya untuk sebuah pekerjaan

    BalasHapus
  4. Kali jali nggon nggo dolanan gethek-gethek'an sell dhebog

    BalasHapus
  5. disebutkan Distrik Sucen adalah bagian dari Kutoarjo.
    padahal jika dilihat secara geografis, saat ini desa bernama Sucen lebih dekat ke Purworejo. Sucen merupakan sebuah desa bagian dari kecamatan Bayan, di seberang sungai Jali.
    ataukah mungkin yg dimaksud adalah SUREN? karena posisinya tidak jauh dari Kiangkong.
    mohon penjelasannya, trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk itu saya masih belum ketemu karena bisa jadi ada perubahan nama tempat di kemudian hari. Contoh dulu Kelurahan Kledung di Banyuurip yang dulunya satu dipecah jadi dua, yakni Kledung Kradenan dan Kledung Karangdalem.

      Hapus
  6. Terima kasih sekali informasi yang telah di berikan. Kedua orang tua saya berasal dari Kutoarjo dan sampai sekarang saya masih sering berkunjung ke kota kecil ini

    BalasHapus