Selasa, 23 Mei 2017

Selamat Datang di Kerkhof Dezentje, Makam Si Raja Kecil dari Ampel

 “ Welcome to the Jungle, we’ve got fun’ n’ games…” bait pertama lagu dari Gun’s n Roses tadi sepertinya menjadi gambaran yang tepat ketika saya mendatangi kerkhof Dezentje untuk pertama kalinya. Bagaimana tidak ? kondisi kerkhof ini nyaris menyerupai hutan belantara. Pohon berdaun lebat yang tumbuh di sela-sela makam menciptakan kesan gelap pada kompleks makam yang sudah lama tak terawat itu. Nyamuk menyebalkan dengan setia menemani saya selama berada di dalam kompleks makam. Tampaknya nyamuk-nyamuk ini berhasil memanen darah dari tubuh saya, meninggalkan jejak bentolan kecil di sekujur tubuh saya.
Kerkhof Dezenje dipandang dari atas.



Keadaan Kerkhof Dezentje setelah dibersihkan.
Satu persatu tanaman liar dibabat hingga ke akar, makam-makam tua yang semula tertutup mulai tersingkap bentuknya. Begitu antik sekali bentuk makam-makam di sini. Dengan pilar-pilar bergaya Roman, makam ini terlihat seperti reruntuhan Forum Romanum di Roma. Selain berbentuk pilar, ada pula makam yang berbentuk seperti monumen obelisk buatan bangsa Mesir Kuno. Menariknya lagi, saya mengamati ada sebuah makam yang berbentuk bong, makam orang Tionghoa. Bentuk makam tersebut sebelumnya sudah pernah saya temukan di Kerkhof Ngawi. Satu hal lagi yang sungguh unik dan belum pernah saya dapati di kerkhof manapun adalah sebuah makam yang menyerupai atap rumah tradisional Jawa. Ya, dapat dikatakan juka empat peradaban besar bertemu dan menyatu di kompleks kerkhof ini…
Monumen-monumen berbentuk pilar patah di kompleks makam. Pilar patah merupakan perlambang dari putusnya kehidupan seseorang.
Salah satu makam berbentuk obelisk.
Sebuah makam yang unik karena berbentuk seperti atap rumah Jawa.
Makam berbentuk seperti bongpay atau makam Tionghoa.
Dari semua makam yang ada di kompleks kerkhof ini, terdapat empat buah makam yang berada dalam satu bangunan. Dari luar, bangunan ini sekilas mirip dengan kuil Yunani kuno. Makam itu dilindungi oleh teralis besi yang berbentuk cangkang keong. Bagian dalam makam ini terasa lembab. Jamur dan lumut hijau menghiasi dinding tua makam yang sepertinya baru saja dikunjungi orang karena di sini saya temukan sebuah dupa yang baru saja dibakar. Entah siapa dia yang berkunjung ke makam ini sebelum saya…


Makam berbentuk seperti bangunan kuil
 
Makam berbentuk sepeti kubus kecil.
Nisan yang diganti.
Betapa menyedihkan keadaan makam-makam di sini. Di samping terlantar, bongkah-bongkah batu prasasti yang dulu melekat tak diketahui kemana rimbanya. Andai saja tidak ada tulisan spidol yang terbubuh di atas salah satu makam, niscaya saya tak bakal tahu siapa gerangan yang dibaringkan di sini. Di sudut kerhof ini, terdapat dua makam prasastinya masih melekat di tempat meskipun itu prasasti baru. Dengan demikian ada tanda bahwa masih ada anak keturunan yang menziarahi makam ini. Menariknya ialah, semua nama yang ada di kerkhof ini memiliki nama belakang Dezentje dan salah satu makam terdapat tulisan gelar bangsawan Jawa ,“Raden Ayu “. Entah siapa nama lengkapnya karena separo tulisan tidak dapat terbaca, namun ini menjadi petunjuk bahwa ada orang Jawa yang dimakamkan di tengah-tengah makam Belanda. Siapakah beliau sehingga dapat dimakamkan bersama orang Belanda dan yang paling penting, siapakah sejatinya Dezentje ??
Rusak dan tidak  bisa dikenali. 
Dezentje, nama ini mungkin sudah tenggelam dalam ingatan banyak orang. Namun dalam sejarah agraris dan sosial di Surakarta, nama Dezentje adalah nama yang melegenda. Bagaimana tidak ? Dialah yang menjadi perintis perkebunan Eropa pertama di Surakarta sebelum tanam paksa digulirkan. Nama Dezentje setara dengan Kerkhoven di Priangan, atau Jacob Nienhuys di Medan.
Johannes-Augustinus Dezetnje ( 1797-1839 ), legenda perkebunan dari Ampel ( sumber : Djocja-Solo, Beeld van de Vorstenlanden ).
Johannes Augustinus Dezentje alias Tinus ( 1797-1839 ) merupakan putra dari seorang pengawal Eropa di Keraton Surakarta bernama August Jan Caspar ( 1765-1826 ). Dai gajinya sebagai seorang perwira di masa pendudukan inggris, pada 1816, Caspar menyewa tanah Kasunanan yang terbentang dari Salatiga, Ampel, hingga Boyolali. Sepeninggal Caspar, tanah itu diwariskan kepada Tinus ( Bruggen dan Wassing, 1995; 23 ). Menginjak usia 18 tahun, Tinus menikah dengan Johanna Dorothe Boode. Berselang tiga tahun kemudian, untuk memperluas tanah perkebunannya, Tinus menikah dengan saudari raja Surakarta bernama Raden Ayu Tjokrokoesoemo. Pernikahan kedua Tinus dihelat di Keraton Surakarta dalam rangakaian acara yang akbar dan mewah. Setelah menikah, Tinus dan istri barunya menetap di Ampel, Boyolali. Dari pernikahan keduanya, Tinus dikaruniai 6 anak yang semuanya diberi nama dengan awalan huruf ‘A’ seperti Arnold, Alexander, Adrian, Alphonse, Augustinius dan Annipellma sebagai bentuk penghormatannya terhadap tanah perkebunan Ampel. Dalam buku Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden, karangan Bruggen dan Wassing, dituturkan bahwa sekalipun darah Erop mengalir di dalam tubuhnya, namun karena persinggungannya dengan keraton, maka gaya hidup Tinus bak seorang bangsawan Jawa.
Rumah keluarga Dezentje di Ampel yang lebih menyerupai ndalem bangsawan Jawa ( sumber : media-kitlv.nl ).
Pendeta S. Buddingh yang pernah bertamu ke kediaman Tinus, menguraikan keadaan kediaman Tinus “ yang dibangun dalam gaya seperti rumah bangsawan Surakarta atau bupati Jawa, lengkap dengan kebun binatang dan tembok tebal yang mengelilingi rumah seperti benteng yang diperkuat dengan bastion dan gardu pengawas”. Setiap kali Tinus berjalan, rombongan pembantunya akan ikut serta. Rakyat di pinggir jalan mesti bersimpuh sebagaimana adat seorang bangsawan Jawa waktu itu. Kendati bergaya hidup glamour, Tinus sendiri jauh dari kesan tuan tanah yang kejam dan kikir. Setiap petani yang bekerja kepadanya dihibahkan kerbau atau bibit tanam secara cuma-cuma.
Gapura masuk ke kediaman Dezentje. Seperti yang diceritakan oleh Buddingh, rumah Dezentje dikelilingi oleh tembok dan parit layaknya keraton raja ( sumber : media-kitlv.nl ).
Demi melindungi perkebunannya dari gangguan Perang Jawa, Tinus rela mengeluarkan banyak uang untuk menyewa detasemen serdadu bayaran berkekuatan 1500 personel. Detasemen itu dikenal sebagai Detasemen Dezentje. Tak hanya untuk mengamankan perkebunan, detasemen itu juga dikirim ke palagan sebagai hulptropen. Begitu lengketnya Dezentje dengan lingkaran dalam Kasunanan Surakarta sehingga Susuhunan Surakarta berhasil ia lobi untuk bersikap netral selama Perang Jawa. ( Soekiman, 2014; 50 ). Atas jasanya, Kerajaan Belanda memberi penghargaan Orde de Nederlandse Leeuw ( Orde Singa Belanda ) kepada Tinus. Sesudah perang, Tinus membuat sebuah proyek ambisius berupa saluran irigasi besar sepanjang 60 kilometer. Untuk mendanai proyek ini, Tinus meminjam uang dari Nederlandsch Handel Maatschappij.
Kunjungan putra mahkota keraton Surakarta ke rumah keluarga Dezentje. Keluarga Dezentje memiliki pengaruh cukup kuat pada Kasunanan Surakarta berkat hubungan pernikahan J.A. Dezentje dengan saudari raja Surakarta ( sumber : media-kitlv.nl ).
Sayangnya, sebelum proyek ambisius itu kelar, Tinus mendadak meninggal dunia pada 7 November 1839. Waktu itu, Tinus yang masih berusia 42 tahun sudah memiliki lahan perkebunan seluas 1275 ha. Sepeninggal Tinus, perkebunannya sempat mengalami masa sulit akibat gagal panen dan utang yang menumpuk untuk membiayai perkebunan yang luas dan gaya hidup keluarga Tinus. Akhirnya kejayaan perkebunan keluarga Dezentje kembali berlanjut pada tahun 1849 dan perkebunan itu dibagi-bagi kepada keluarga Dezentje atau dijual kepada orang lain.
J.A.C. Dezentje, salah satu keturunan J.A. Dezentje. Perhatikan wajahnya yang lebih menyerupai orang Jawa daripada orang Eropa ( sumber : media-kitlv.nl ).
Tahun 1860an, Keluarga Dezentje menjadi raja perkebunan di kaki timur gunung Merbabu-Merapi hingga masa akhir kolonial meskipun para pendatang baru dari Eropa mulai menyaingi usaha perkebunan Dezentje. Sebelum pendudukan Jepang, salah satu keturunan Dezentje, Ny. Ch. E. Dezentje membangun sebuah rumah mewah di Jalan Slamet Riyadi. Rumah itu kini dikenal sebagai Loji Gandrung. Menjelang Jepang masuk, keluarga Dezentje diperingatkan oleh keraton supaya bergegas meninggalkan Hindia-Belanda karena apabila Jepang masuk ke Hindia-Belanda, nasib-nasib orang Eropa dan Indo-Eropa akan diperlakukan dengan buruk oleh Jepang. Lantaran peringatan tersebut, keluarga Dezentje segera meninggalkan Hindia-Belanda dan kini, keluarga Dezentje terpencar ke seluruh penjuru dunia.
Loji Gandrung, bekas kediaman salah satu keluarga Dezentje.
Dalam buku “Djocja Solo, Beeld van Vorstenlanden”, keluarga Dezentje memiliki sebuah lahan makam  keluarga di Ampel. Untuk ukuran keluarga Dezentje, makam-makam ini terhitung sederhana. Melihat kemegahan sisa-sisa makam-makam yang masih tersisa, tampaknya ukuran sederhana keluarga Dezentje lebih tinggi daripada ukuran sederhana orang kebanyakan. Jadi dapat bayangkan betapa tingginya selera keluarga Dezentje.

Sosok yang dibaringkan di bawah nisan-nisan tua kerkhof ini rupanya bukan sembarang orang. Dia adalah perintis perkebunan di wilayah Vorstenlanden dengan gaya hidupnya yang mewah dan unik. Sayangnya, seperti halnya kerkhof ini, nama Dezentje di masa kini sepertinya telah hanyut bersama arus zaman.

Referensi
Soekiman, Djoko. 2014. Kebudayaan Indis. Depok : Penerbit Bambu.

Van Bruggen, M.P. dan Wassing, R.S. 1995. Djocja Solo, Beeld van de Vorstenlanden. Pumerend : Asia Maior.

Minggu, 14 Mei 2017

Sibak Keindahan Gereja dan Susteran Gedangan, Semarang

Panas yang menyengat Semarang siang itu menemani saya ketika menyusuri Jalan Ronggowarsito, seruas jalan sepanjang tiga ratus meter yang membelah kawasan Gedangan. Tak kuat dengan udara panas itu, saya pun memutuskan untuk melepas lelah sejenak di bawah naungan sebuah pohon yang tumbuh di halaman Gereja St. Yusuf Gedangan. Seorang ibu yang yang baru saja menyapu halaman gereja itu tiba-tiba menyapa saya, “Selamat siang mas, habis darimana ? kok sepertinya terlihat lelah ? “.
 “Habis jalan-jalan dari Kota Lama bu “, tukas saya. “ Oh begitu, ya sudah silahkan kalau mau lihat-lihat mas, saya mau ke dalam dulu “, tutur Ibu yang ternyata koster gereja itu. Ia lalu masuk ke pastoran yang terlihat cantik dengan dinding bata merahnya itu, meninggalkan saya sendiri di halaman gereja yang sepi…
Gereja St.Yusuf Gedangan.
Gereja St.Yusuf Gedangan pada tahun 1925 ( sumber : Semarang, Beeld van een Stad ).
Saya kini berhadapan dengan gereja berwarna merah. Warna merahnya ia dapatkan dari bata merah yang dibawa dari Eropa. Sementara itu jendela-jendelanya dibuat dalam gaya neo-gotik. Menara loncengnya semula akan dibuat lebih tinggi, namun karena khawatir akan bahaya gempa bumi, akhirnya rencana itu urung dibuat. Dirancang oleh W.van Bakel, gereja itu dibangun tahun 1870 sebagai tempat ibadah umat Katolik di Semarang yang sebelumnya kesulitan mencari tempat ibadah. Hingga tahun 1822, ibadah umat Katolik menumpang pada gereja milik umat Protestan Semarang, yang kini lebih dikenal sebagai gereja Blenduk. Setelah itu, tempat ibadah mereka berpindah ke bangunan yang sekarang menjadi Galeri Semarang. Ketiadaan dana dan tanah menjadi alasan mengapa umat Katolik belum memiliki gereja sendiri sehingga tempat ibadah mereka masih berpindah tempat. Ketika Gubernur Jenderal melawat ke Semarang pada tahun 1859, ia mendapati kondisi tempat ibadah umat Katolik yang memprihatinkan. Akhirnya pemerintah kolonial memberi hibah dana sebesar f.50.000 yang baru dicairkan sepuluh tahun berikutnya. Semula, gereja itu akan dibangun di Heerenstraat ( sekarang Jalan Letjend. Suprapto ), di dalam lingkungan Kota Lama, namun entah mengapa rencana itu diurungkan.
Bagian dalam gereja pada tahun 1920an. Di sebelah kanan tampak mimbar khotbah yang sudah tidak ada lagi ( sumber : media-kitlv.nl ).

Batu peringatan Pastor Lijnen.
Melalui pintu samping gereja, saya melangkahkan kaki ke dalam bangunan suci itu, mendapati bangku-bangku gereja yang kosong karena hari itu memang sedang tidak ada jadwal misa. Di sudut barat daya gereja, tepatnya di samping kiri pintu masuk utama, terletak batu nisan Pastor Lijnen, pastor yang memimpin upacara peletakan batu pertama gereja pada 1 Oktober 1870, disaksikan oleh pengurus gereja, suster, dan anak-anak panti asuhan. Pembangunan gereja itu sendiri menghadapi banyak persoalan, mulai dari kendala biaya hingga ambruk di tengah pengerjaan lantaran tiang penopang kurang kokoh dan mutu bata yang jelek ( 2 Abad Menjadi Terang dan Garam, 2008 ; 20 ).
Bekas balkon tempat paduan suara.
Orgel yang sudah tidak berfungsi lagi.
Di atas pintu masuk utama, terdapat sebuah balkon yang menghadap ruang utama. Dulu dari balkon itu, para anggota paduan suara melantunkan kidung-kidung kudus, diiringi dengan sebuah orgel bikinan tahun 1903 yang masih ada di tempatnya. Sayang, keindahan nada-nada orgel itu tak dapat didengar lagi karena orgel itu sudah lama rusak. Orgel dan paduan suara sengaja ditempatkan di tempat yang tinggi agar suara mereka terdengar oleh seisi gereja.
Bagian nave gereja.
Bangku gereja yang masih asli.
Denah Gereja St.Yusuf Gedangan jelas-jelas berbentuk galeri memanjang. Bagian tengah disebut nave. Sementara koridor di samping kanan-kiri nave disebut aisle. Denah seperti itu disebut sebagai denah basilica, merujuk pada bangunan tempat pertemuan, pasar dan ruang sidang pada masa kekaisaran Romawi yang diadopsi oleh umat Kristen awal sebagai tempat ibadah karena dapat menampung banyak jamaat ( Sumalyo, 2014; 54-55 ). Sebagai tambahan, di samping kanan dan kiri gereja terdapat bilik kecil untuk ruang pengakuan dosa.

Bagian triforium yang melukiskan salah satu kisah dari Perjanjian Baru. Di bawah lukisan terdapat penggalan doa Bapa Kami dalam bahasa Belanda.
Berikutnya, saya menyusuri bagian nave gereja dengan jejeran pilar-pilar yang menopang langit-langit berbentuk rib vault. Pada bagian bawah atap, terdapat panil-panil lukisan yang memperlihatkan kisah-kisah sarat hikmah dari Alkitab. Lukisan-lukisan itu tak hanya sebagai pemanis interior gereja saja, namun juga sebagai media ajaran moral untuk para jemaat. Pada bagian bawah lukisan itu, terpampang rangkaian penggalan Doa Bapa Kami dalam bahasa Belanda yang seakan membuat bangunan gereja itu sedang mendoakan perlindungan bagi orang-orang yang ada di dalamnya.

Altar lama bergaya gotik ( belakang ) dan altar baru ( depan ).
Setelah menyusuri nave yang penuh dengan bangku lama bikinan tahun 1885, saya kini berhadapan dengan apse atau ruang altar. Bagian apse adalah bagian paling sakral dalam sebuah bangunan gereja Katolik, maka posisinya selalu dibuat lebih tinggi.  Di ujung apse, terdapat altar bergaya Gotik dari Duesseldorf, Jerman, yang sudah tidak dipakai lagi semenjak Konsili Vatikan II tahun 1962 mengingat setelah konsili itu, pastor yang menggelar misa tak lagi menghadap ke altar di bagian apse ( ad apsidem ) namun menghadap ke arah jemaat. Jendela-jendela berbentuk jarum di bagian apse diisi dengan kaca patri yang memperlihatkan para santo-santa.
Salah satu hiasan kaca patri di Gereja Gedangan. Di sebelah kanan tampak sosok St. Ignatius Loyola, mantan tentara yang kemudian mendirikan ordo Serikat Jesuit. Ordo Serikat Jesuit banyak mengirimkan anggotanya ke wilayah misi yang jauh seperti Jawa. Sebagian besar misionaris di Jawa Tengah pada masa kolonial adalah anggota Serikat Jesuit. Di sebelah kiri ialah St.Aloysius Gonzaga, seorang pemuda bangsawan yang gigih untuk menjadi seorang Jesuit meski keluarganya tidak mengizinkan. Ketika kota Roma diserang wabah, dia menolong para korban sebelum akhirnya meninggal akibat wabah yang sama. Dalam ikonografi, atribut bunga lili tidak lepas darinya.
Sukma ini terasa bergetar tatkala memandang kehalusan kaca patri yang diterpa sinar dari luar, menghasilkan bayang-bayang janasuci dengan raut wajah yang lembut, namun tak menyiratkan senyuman sesuai halnya dengan kaidah ikonografi tradisional Kristen ( iconreader.wordpress.com ). Setiap janakudus digambarkan sesuai atribut ikonografinya masing-masing. Terpampang di bagian halo atau lingkar cahaya di belakang kepala, nama-nama para janakudus seperti St.Fransiscus Asissi, St. Antonius Padua, St. Cecilia, St.Anna, St. Elisabeth, St. Agnes, St. Fransiscus Xaverius, St. Ignatius Loyolla dan lain-lain yang masing-masing memiliki kisah yang menggugah hati.
Bangunan Pastoran Gedangan.
Mgr. Albertus Soegijapranata S.J.  Selama beberapa tahun sempat tinggal di Pastoran Gedangan( sumber : wikimedia.org ).
Beringsut dari gereja, saya kini berhadapan kembali dengan gedung Pastoran gereja, tempat pastor tinggal. Di bubungan atapnya, terlihat hiasan atap bermotif seperti sesuluran dengan penunjuk arah mata angina yang bertengger di puncaknya. Ketika saya singgah di terasnya, di situ saya mendapati foto Romo Soegija yang tergantung di tembok. Pastoran ini memang sempat menjadi bagian dari babak kehidupan Romo nasionalis itu, ketika ia menjadi Pastur Kepala di gereja itu hingga tahun 1946. Rasa simpati dengan kemerdekaan RI ia tunjukan dengan mengibarkan bendera merah putih di halaman gereja. Dari Pastoran itu pula, romo yang terkenal akan motto " 100% Katolik, 100% Indonesia " itu menyerukan pesan agar Sekutu menghentikan penyerangan karena rakyat menjadi sengsara akibat serangan itu. Saking lekatnya gereja itu dengan sosok Romo Soegija, maka sungguhlah tepat rasanya jika film “Soegija” mengambil sebagian gambarnya di kompleks gereja ini.
Batu peringatan peletakan batu pertama rumah sakit kompeni oleh Frederik Julius Coyet pada tahun 1732.

Jalan Ronggowarsito atau Kloosterstraat pada tahun 1915. Tampak jalur trem yang ada di sebelah kiri jalan ( sumber : media-kitlv.nl ).
Dari gereja, saya melintas Jalan Ronggowarsito. Kloosterstraat atau Jalan Biara merupakan nama Jalan Ronggowarsito pada masa silam, merujuk pada kompleks biara yang berdiri persis di seberang gereja ini. Biara milik susteran Ordo Fransiskan itu berdiri menempati rumah sakit yang dibangun tahun 1732 oleh seorang pejabat VOC, Frederik Julius Coyet. Batu peringatan pendirian rumah sakit itu sampai sekarang masih terpajang di dinding belakang susteran. Ketika Semarang masih berada di bawah panji VOC, wilayah ini masih termasuk wilayah pinggiran yang sepi, tempat yang ideal untuk sebuah rumah sakit karena kala itu penyakit masih mudah menular dan sebab itulah pasien harus dijauhkan dari orang-orang sehat yang tinggal di Kota Lama ( Brommer, 1995; 123-124 ).
Gerbang Susteran dan Kapel Gedangan pada 1930 ( sumber : Semarang Beeld van een ).
Kompleks susteran dan gerbang utama.
Bangunan Susteran dilihat dari samping.
Beranda depan susteran dengan pilar-pilar berorder dorik.
Sebuah pintu gerbang antik menyambut saya di kompleks susteran Fransiskan Gedangan. Letaknya sedikit berada di bawah permukaan jalan karena jalan itu kerap digenangi air rob sehingga, bertahun-tahun jalan itu ditinggikan. Biara beraristektur Indis Neo Klasik itu sejatinya menempati bekas kediaman keluarga Buck dan Raadhoven. Kemudian gereja membeli kediaman itu dengan harga f. 46.360. ( Deus Providebit – 125 Tahun Tarekat OSF Indonesia, 1995 : 34-35 ).
Pastor Lambertus Prinsen, perintis misi di Semarang.

Prasasti peringatan seratus tahun berdirinya panti asuhan ( 1809-1909 ) yang didirikan oleh Pastor Prinsen dan empat pastor pembantu.
Pada salah satu sudut tembok biara, terpajang dua prasasti berbahasa Belanda yang memperingati seratus tahun kedatangan Pastor Prinsen, pastor pertama di Semarang yang tiba di sini tahun 1809. Prasasti itu seakan membangkitkan rasa ingin tahu saya akan sejarah perkembangan umat Katolik di Semarang.
Anak-anak putri asuhan PGPM yang sedang makan bersama ( sumber : media-kitlv.nl ).
Menoleh ke belakang, situasi umat Katolik di Hindia-Belanda didera banyak cobaan, terutama di bawah bayang-bayang kuasa VOC. Para imam-imam Katolik dijebloskan ke penjara dan ibadah umat Katolik dilarang. Kebencian VOC terhadap agama Katolik bersumber pada Perang Belanda-Spanyol dan persaingan niaga di Asia. Setelah sekian lama menderita, angin perubahan pun berhembus dan siapa sangka, Gubernur Jenderal yang selama ini dikenal galak dan kejam justru adalah orang yang meniupkan angin perubahan itu. Siapa lagi kalau bukan H.W. Daendels. Di bawah kuasanya, orang-orang Katolik diizinkan untuk beribadah bersama. Vatikan pun segera mengutus dua pastornya, Jacobus Nielesen dan Lambertus Prinsen sebagai misionaris pada 8 Mei 1807. Tanggal itu kemudian dikenang sebagai hari kelahiran misi Katolik di Hindia-Belanda (Florimund, 1936; 12.)
Kompleks Gedangan pada peta Semarang tahun 1909 ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Semarang 1808, Pastor Lambertuss Prinsen, Pr. tiba di Semarang setelah berpuluh tahun lamanya kota itu tidak memiliki pastor. Ia tak hanya melayani umat di Semarang saja, namun juga yang ada di Rembang, Jepara, Pemalang, Salatiga, Klaten, dan Yogyakarta ( 2 Abad Menjadi Terang dan Garam, 2008 ; 19 ).  Meskipun cakupan wilayahnya cukup luas dan umatnya banyak, namun secara hierarki Semarang masih berada di bawah Vikariat Apostolik ( semacam provinsi dalam Gereja Katolik ) Batavia. Semarang baru resmi menjadi Vikariat Apostolik atau keuskupan pada tahun 1940 dengan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ sebagai uskupnya sekaligus menjadikannya sebagai uskup pertama dari kalangan bumiputra ( Utami , 2012;16 ).
Sesudah kedatangan Pastor Prinsen, dibentuklah Pengurus Gereja dan Papa Miskin (PGPM ) yang beranggotakan empat orang, terdiri dari dua orang Belanda, satu orang Jerman dan satu orang Perancis yang nama-namanya dapat disaksikan di prasasti yang ada di tembok Susteran. Posisi Pastor Prinsen digantikan oleh Pastor J.J. Scholten, Pr. pada tahun 1828.  Pada mulanya, PGPM baru menerima dua anak dan menempati rumah koster. Seiring waktu berjalan, PGPM berkembang pesat. Anak-anak yang ditampun kian banyak dan mereka berhasil memperoleh tempat penampungan yang lebih besar, yakni di bekas sebuah rumah sakit yang dibangun oleh Coyett. Namun perjalanan PGPM bukannya tanpa rintangan. Di tahun 1834 sempat terjadi petikaian antara PGPM dengan pemerintah karena Residen Semarang berusaha mencampuri kepengursan PGPM antara orang Katolik dengan Protestan tapi persoalan itu akhirnya dapat diselesaikan ( Sejarah Gereja St. Yusuf Gedangan, 2000; 15 ).
Batu prasasti peringatan kedatangan sebelas suster dari biara Heythuisen pada tahun 1870.
Di sebelah prasasti yang memperingati kedatangan Pastor Prinsen tadi, saya juga mendapati sebuah prasasti lain. Isinya memperingati kedatangan pertama sebelas suster-suster ordo Fransiskan pada 5 Februari 1870. Memasuki pertengahan abad ke-19, PGPM dipegang oleh Pastor Mgr. Lijnen, Pr., pastor yang juga membangun Gereja Gedangan. Tak mampu mengurus PGPM sendirian karena panti semakin besar, ia mencari bantuan ke Belanda pada 1868. Para susteran dari biara OSF di kota Heythuisen bersedia membantu Pastor Lijnen dan mereka mengirim sebelas suster ke Semarang dan kedatangan mereka diperingati pada prasasti tadi.

Bangunan kapel dilihat dari luar.
Dari gedung susteran, saya beranjak ke kapel yang ada di samping utara susteran,  tersambung dengan sebuah doorlop atau selasar. Di belakang kapel bergaya neo gotik ini, terdapat sebuah penanda berbahasa Latin yang berbunyi “Hic Primarius Lapis Positus Est. Die 17 Septembris A: MDCCCXCI”, sebagai tengara upacara peletakan batu pertama kapel ini pada tanggal 17 September 1891.
Bagian dalam kapel pada tahun 1914. Tampak seorang suster yang sedang berdoa ( sumber : media-kitlv.nl ).

Interior kapel.
Memasuki kapel yang diberkati oleh Pater Keyzer pada 6 Agustuss 1892, saya dibuat terpikat dengan interiornya yang masih asli. Sayapun duduk tergeming di bangku umat, menikmati jendela bergaya gotik yang diisi dengan kaca patri penuh warna dan langit-langit berbentuk rib-vault dari kayu. Di situ saya seakan terdampar di sebuah gereja Eropa abad pertengahan. Menambah keindahan kapel itu, hamparan tegel halus berornamen menarik yang mengalasi lantai kapel. Namun apabila dibandingkan dengan foto lama, interior kapel saat ini lebih bersahaja.
Jendela bergaya gotik dengan hiasan kaca patri. Hiasan kaca ini dapat dibuka tutup

Hamparan tegel kaya warna pada bagian lantai kapel.
Pada saat itu, saya melihat hanya ada dua orang yang sedang khusyuk berdoa di deretan depan bangku kapel. Suasana kapel siang itu begitu tenang, kontras dengan jalanan yang berada di luar tembok kapel yang ramai lalu lalang kendaraan truk-truk besar yang hendak menuju pelabuhan. Dengan tenang, saya duduk pada salah bangku kapel yang masih asli. Bangku itu sendiri dihiasi dengan ukiran buah anggur, simbol dari darah Kristus yang di zaman Yunani Kuno menjadi lambang salah satu dewa Pagan, Dewa Dionysus, Dewa Anggur.
Bekas novisiat yang kini menjadi Sekolah Tinggi Pastoral Katekik.
Masih di dalam tembok susteran, tepatnya di sebelah utara kapel, terdapat sebuah bangunan kuno lain dengan ekspos bata merahnya yang tampak serasi dengan kapel. Bangunan itu dulu merupakan novisiat untuk calon biarawati ordo Fransiskan yang dibangun tahun 1923, bangunan tua paling muda di kompleks ini. Saat ini ia dipakai sebagai Sekolah Tinggi Pastoral Katekik.
Bekas bangunan panti untuk anak perempuan yang kini menjadi sekolah.
Bekas bangunan panti untuk anak laki-laki.
Saya beranjak keluar dari kompleks susteran, kembali ke Jalan Ronggowarsito. Di sana, saya dapat mengagumi keindahan gedung kuno yang kini dipakai sekolah milik yayasan Marsudirini. Bangunan bergaya ekeltik bikinan arsitek W. van Bakel itu dahulunya merupakan panti asuhan putra-putri yang didirikan pada 19 Maret 1872. Pada tahun yang sama, gereja juga membuka sekolah baru untuk anak-anak dari luar panti. Sekolah itu diberi nama Eksternat ( Deus Providebit – 125 Tahun Tarekat OSF Indonesia, 1995 : 34-35 ). Kompleks sekolah dan panti asuhan itu kemudian diberkati oleh Pastor Lijnen pada 1 Mei 1873. Pada mulanya, panti asuhan itu mengasuh anak-anak laki-laki dan perempuan dalam satu kompleks. Namun setelah jumlah anak laki-laki yang diasuh kian bertambah, panti asuhan anak laki-laki dipindah ke Karangpanas.

Merujuk pada catatan sejarah, masa-masa suram merundung kompleks Susteran dan gereja Gedangan ketika militer Jepang menguasai Hindia-Belanda. 21 Oktober 1943, kompleks suci itu dirampas oleh pemerintah militer Jepang dan dijadikan sebagai kamp tawanan anak-anak dan perempuan beserta sejumlah kecil orang lanjut usia. Setidaknya kamp yang terbilang sempit itu pernah menampung 2.440 tawanan. Menjelang kuasa Jepang runtuh, para tawanan dipindah ke kamp Bangkong dan Lampersari ( Brommer, 1995; 52-55 ).


Referensi
Brommer, B. dkk. 1995. Semarang, beeld van een stad. Purmerend : Asia Maior.

Dewan Paroki Santo Yusuf Gedangan. 2000. Sejarah Gereja St. Yusuf Gedangan ; Dalam Rangka Peringatan 125 Tahun Gedung Gereja. Semarang.

Pater Florimund. 1936. Het Kruis in Onze Oost, Geschiedenis der Missie. Amsterdam : N.V. Uitgevers Mij. 'Fidelitas'.

Istianingsih, Sri Mulyo. 2010. “Strategi Pengelolaan Bangunan Kolonial di Jalan Ronggowarsito ( Gedangan ) Semarang “. Skripsi. Fakultas Ilmu Budaya. Yogyakarta.

Utami, Ayu. 2012. Soegija, 100% Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Pantian Dua Abad Paroki Santo Yusuf Gedangan Semarang. 2008. Dua Abad menjadi Terang dan Garam. Peziarahan Umat Paroki Santo Yusuf Gedangan Selama Dua Abad 1808-2008.

Sumalyo, Yulianto. 2014. Arsitektur Klasik Eropa. Yogyakarta: UGM Press.

Tarekat OSF Provinsi Tritunggal Mahakudus. 1995. Deus Providebit: 125 Tahun Tarekat OSF di Indonesia. Tarekat OSF Provinsi Indonesia. Semarang.

https://iconreader.wordpress.com/2013/06/15/why-do-the-saints-never-smile-in-icons/