Minggu, 04 Juni 2017

Secuil Eropa di Kota Lama Semarang.

Di bantaran Sungai Semarang, bangunan-bangunan tua bekas kantor kongsi niaga Belanda itu masih tampak berdiri megah. Air Kali Semarang yang keruh sedikit memantulkan aura kekunoan bangunan itu. Berjarak 200 meter ke timur, sebuah kubah gereja kuno berdiri menjulang lebih lama daripada bangunan tadi. Ya, hari itu saya sedang menapakan kaki di Kota Lama atau Oudestad Semarang, sepotong kawasan di kota Semarang yang sarat dengan bangunan kuno.
Menara syahbandar Semarang ( sumber : media-kitlv.nl )
Reruntuhan menara syahbandar di masa sekarang.
Berada di kampung Sleko Semarang, menjulang begitu merana sebuah reruntuh menara yang dulu menjadi kantor syahbandar sekaligus sebagai menara pengawas. Di menara yang dibangun tahun 1825 silam itu, setiap kapal yang bersauh harus melapor kepada Syahbandar. Rasanya sungguh tepat jika bekas menara syahbandar itu menjadi tambatan pertama saya pada penjelajahan Kota Lama Semarang karena selain sebagai salah satu simbol Semarang sebagai kota bandar yang penting, di tempat itu pula pernah berdiri benteng Vijfhoek yang menjadi cikal bakal permukiman Eropa di Semarang. Saya lantas mulai menggali ingatan akan sejarah kota bandar dengan geliat niaga yang ramai itu.
Pemandangan kota Semarang pada tahun 1770 ( sumber : commons.wikimedia.org ).
Sulit dibayangkan bahwa kota yang sekarang padat penduduk ini, hanya berjarak lima abad ke belakang dulunya masih berupa dasar laut. Tahun 1476, ketika seorang penyebar agama Islam bernama Ki Ageng Pandanarang membuka perkampungan di Bergota, tempat itu masih berada di tepi pesisir. Memasuki abad ke-16, erosi dari Sungai Garang menghasilkan dataran alluvial yang membuat garis pesisir menjauh ke utara dan permukiman pun ikut bergeser ( Brommer dkk, 1995;7 ). Pada masa kekuasaan kerajaan Demak, pengganti Ki Ageng Pandanarang, Ki Ageng Pandanarang II diangkat sebagai bupati Semarang. Hatta, Kerajaan Demak kemudian runtuh dan kuasa kota Semarang berpindah ke tangan kerajaan Mataram Islam pada 1575.
Perkembangan kawasan kota lama Semarang dari tahun 1719, 1741, 1866, hingga 1917. Perhatikan pada peta tahun 19719 dan 1741, di dekat Kali Semarang terdapat benteng berbentuk segi lima bernama benteng Vijfhoek ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Perkiraaan tembok keliling yang dahulu pernah mengeliling pemukiman Eropa.
Barangkali di bawah reruntuh itu masih terpendam sisa benteng Vijfhoek, sebuah benteng berbentuk segi lima yang didirikan VOC setelah kota itu jatuh ke tangan kompeni. Pada 1678, kota itu dihadiahkan kepada VOC oleh Amangkurat II karena mereka sudah membantu menumpas perlawanan Trunojoyo di Jawa Timur. Kompeni pun memindahkan markas dagang utamanya di Jawa Tengah dari Jepara ke Semarang pada 1708. Pada tahun itulah benteng Vijfhoek dibangun. Dari balik tembok benteng inilah, kompeni menjalankan roda kuasanya atas pesisir Jawa bagian tengah dan di sini pula para pegawai kompeni bermukim sekaligus mengawasi gerak gerik penguasa pribumi yang tinggal di seberang benteng.
Pemandagan udara Kali Semarang tahun 1930 ( sumber : Semarang beeld van een stad ).
Dari Sleko, saya melangkahkan kaki ke jembatan Berok yang dahulu menghubungkan kampung Eropa dengan kampung pribumi. Jembatan ini membentang di atas Sungai Semarang yang dahulu dapat dilalui oleh perahu-perahu kecil yang mengangkut barang-barang dari gudang ke kapal besar yang bersauh di tengah laut. Nama Jembatan Berok itu sendiri ia dapatkan dari pelesetan kata Belanda “Brug”  yang berarti jembatan. Sekejap saya pun membayangkan ketika perniagaan dan pelayaran di kota bandar itu mulai maju pada pertengahan abad ke-18. Sebagai kota bandar gerbang Jawa bagian tengah pada masa lampau, berbagai pedagang dari negeri asing berbondong-bondong datang ke sana, mulai dari Melayu, Tiongkok, Arab, hingga Eropa. Gudang-gudang di kota itu penuh dengan tumpukan beras, kayu, dan kapuk yang nantinya akan dijual keluar. Karena kemakmurannya, kota yang dulunya rawa itupun menjelma menjadi “Batavia Kedua” ( Poerwanto dan Soenarso, 2012 ; 47 ).
Kampung Melayu pada permulaan abad ke 20 ( sumber : media-kitlv.nl ).
Suasana Kampung Melayu di zaman sekarang. Tampak menjulang menara Masjid Layur yang dulu merupakan sebuah mercusuar.
Para pedagang Melayu, Tiongkok, Arab, dan Eropa tak hanya berdagang saja. Mereka perlahan juga mendirikan permukiman tersendiri. Orang Melayu dan Arab tinggal di Kampung Melayu, mendirikan sebuah masjid dan sebuah bekas mercusuar dipakai sebagai menaranya pada pertengahan abad ke 19. Orang Tiongkok mendirikan ruko-ruko bergaya Tiongkok selatan di dekat pasar. Sementara itu dengan bertambahnya jumlah orang Eropa, permukiman Eropa pun ikut melebar hingga di luar dinding benteng. Benteng lamapun dirobohkan, diganti dengan tembok kota yang mengitari permukiman Eropa. Namun usia tembok itu tak bertahan lama. Oleh gubernur jenderal H.W. Daendels, tembok kota Semarang yang menurutnya dianggap kurang berguna itu dibongkar seperti halnya yang telah ia lakukan pada tembok kota Batavia.
Alun-alun Semarang. Di kejauhan tampak masjid kauman dengan atap tumpangnya. Tampak sebuah trem yang melintas di tengah alun-alun Semarang ( sumber : media-kitlv.nl ).
Sebagian lahan alun-alun Semarang yang terlihat paska kebakaran Pasar Johar.
Gedung Kantor Pos Besar Semarang.
Sebelum saya berbelok ke kawasan kota lama, saya sejenak mampir ke bagian barat kali Semarang, dimana di sana pernah terhampar alun-alun, pusat kota Semarang yang kini tinggal nama saja. Di sekelilingnya, berdiri berbagai bangunan penting, misalnya masjid agung di sebelah barat, kediaman bupati Semarang yang kini menjadi Kampung Kanjengan, penjara dan pasar. Berbagai kantor pemerintah kolonial juga terdapat di sana seperti kantor pos, kantor telepon, dan bank. Semenjak tahun 1970an, luas alun-alun mulai berkurang dengan dibangunnya sebuah hotel dan perguruan tinggi yang memakan sebagian lahan alun-alun. Apalagi setelah Pasar Yaik diperluas , sehingga bagian alun-alun yang tersisa tinggal sepenggal kecil lahan di timur Masjid Kauman.
Kantor cabang Bank Mandiri ini dulunya merupakan kantor dari perusahaan Nederlansche Handel Maatschappij, perusahaan dagang yang didirikan pada 1824 oleh raja Willem I paska bubarnya VOC. Pada masa tanam paksa, perusahaan ini mengumpulkan dan memperdangankan semua hasil tanam paksa. Oleh karena itu NHM kadang disebut sebagai “ VOC kecil ”. Perusahaan NHM membuka cabang di Semarang pada tahun 1826. Bangunan yang ada sekarang dibangun pada tahun 1908. Sebelumnya di tempat yang sama pernah berdiri rumah penguasa VOC dan menjadi kantor pertama NHM di Semarang. Pada 1854, bangunan lama habis dilalap si jago merah, lalu di bekas bangunan tadi dibangun Societeit Amicita.
Persis di kiri Bank Mandiri, kita bisa melihat sebuah bangunan tua berlanggam art deco yang dirancang oleh arsitek Ir. H. Th. Karsten pada 1930. Dahulu gedung ini ditempati oleh perusahaan pelayaan Stoomvart Maatschappij Nederland yang didirikan tahun 1870 untuk melayani pelayaran penumpang dan barang antara Belanda dan Koloni. Gedung ini sekarang menjadi kantor PT. Djakarta Llyod
Gedung tua ini dahulunya adalah kantor dari Koninkljike Paketvaart Maatschappij ( KPM ), perusahaan pelayaran penumpang dan barang antar pulau di Hindia-Belanda yang didirikan pada tahun 1888. Setelah dinasionalisas, KPM berubah menjadi PT.Pelni. Gedung kantornya sendiri baru dibangun tahun 1917. Bangunan yang dirancang biro arsitek A.I.A di bawah pimpinan F.J.L. Ghijsels ini memiliki dua menara sudut berbentuk lonceng. Sesuai dengan semboya Ghijsles, “ Simplicity is the shortest path to beauty “, gedung ini dirancang dengan kesan rapi dan tidak berlebihan.
Gedung Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden dengan menara kembarnya. Salah satu menara pernah runtuh, namun kemudian dibangun kembali dalam bentuk semula.
Bekas kantor Koloniaale Bank.
Bekas kantor Handelsverniging Semarang.
Saya kembali melintasi Jembatan Berok dan dari sana saya dapat memandang bangunan kolonial yang berdiri amat megah di bantaran Kali Semarang. Beberapa diantaranya merupakan tiga dari enam perusahan perkebunan kolonial terbesar di Jawa.  Nederlandsch Handel Maatschappij, kongsi niaga Belanda terbesar yang mendapat julukan VOC kecil, mendirikan kantornya di atas lahan bekas societeit. Gedungnya tampak mencolok dengan sebuah menara kecil di sudut bangunan yang seakan menyambut siapapun yang akan masuk ke Kota Lama. Koloniaale Bank membuat sebuah gedung dengan tampilan muka yang terilhami dari gedung tua di bantaran kanal Amsterdam. Menempel di sebelahnya, kantor perusahaan agrobisnis Cultuurmaatschappij der Vorstnenlanden berdiri begitu anggun dengan dua menara kembarnya. Gedung-gedung itu seolah menguatkan kedudukan Semarang sebagai kota niaga yang penting.
Bangunan bergaya ekletik ini dahulunya merupakan kantor pertama De Javaasche Bank cabang Semarang yang dibangun awal abad ke-20. Desain gedung ini dibuat oleh biro arsitek Hulswit-Fermont en Cuypers yang juga merancang kantor De Javaasche Bank di tempat lain. Pada tahun 1934, De Javaasche Bank pindah ke kantor baru di Bojong. Bangunan saat ini digunakan oleh PT Telkom.
Kantor Perusahaan Asuransi Jiwasraya ini dulunya juga ditempati oleh perusahaan asuransi juga. Namanya Nederlandsch-Indisch Lijfrente Maatschappij ( Nillmij ). Gedung ini didirikan tahun 1916 dan dirancang oleh arsitek yang namanya sudah melekat dengan kota Semarang, Ir. H. Thomas Karsten. Bangunan yang memiliki kubah ini memiliki hiasan art deco dengan lubang centilasi yang dekoratif. Sebagai upaya adaptasi terhadap iklim lokal, maka bangunan ini diberi beranda keliling.
Di seberang gedung Nillmij, terdapat bangunan bergaya geomoteris modern yang dahulu ditempati perusahaan dagang Borneo-Sumatra Maatschappij ( Borsumij ). Bangunan ini dibuat tahun 1939 dengan rancangan dari arsitek J.K.L Blankenberg. Saat ini menjadi kantor Indonesian Trading Center. Di sebelah utara bangunan ini terdapat gudang milik Borsumij yang masih menyatu dengan kantor.


Bangunan pabrik rokok “Praoe Lajar” terletak di jalan Merak. Dulunya bangunan ini merupakan kantor dari firma Maintz& co. Pada persitiwa pertempuran lima hari, bangunan ini mengalami rusak berat dan akhirnya dibangun kembali. Jalan Merak sendiri dulunya bernama “Noorderwaalstraat” atau “Jalan Dinding Utara” sebagai pengingat bahwa dahulu di jalan ini pernah terdapat tembok yang mengelilingi kota lama Semarang.
Teriknya sinar matahari membuat wajah saya kini bermandikan peluh tatkala melangkah menyusuri Jalan Letjend Suprapto, jalan tersibuk di Kota Lama Semarang. Jalan yang nyaris tak pernah sepi lalu lintas kendaraan itu dulu bernama Heerenstraat. Pada masa Daendels, jalan itu dijadikan sebagai bagian dari Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan ( Pratiwo, 2010; 33 ) Karena merupakan jalan utama, maka tak heran di sepanjang jalan itu pernah berdiri kantor-kantor, toko-toko yang menjual pernak-pernik untuk golongan elit, dan hotel sekelas Hotel Janssens yang kini tinggal nama saja.
Restoran Ikan Bakar Cianjur, menempati gedung dari abad ke-18.
Dekor lubang angin bergaya barok.
Selagi saya sedang berjalan, mata saya melihat sebuah bangunan yang memiliki atap pelana amat curam dengan. Bagian depannya tak memiliki beranda sehingga pintu masuknya langsung bersentuhan dengan jalan. Apabila memasuki bagian dalam bangunan yang saat ini menjadi Restoran Ikan Bakar Cianjur itu, akan terjumpa ukiran bergaya barok di atas ambang pintu. Ya, bangunan ini tinggal satu-satunya rumah tinggal dari zaman VOC yang masih berdiri di Semarang. Rentang usia bangunan itu jelas lebih tua daripada bangunan tua manapun di Kota Lama Semarang selain Gereja Blenduk. Pada masa silam, bangunan itu menjadi kantor Landraad tempat dimana orang-orang kulit putih diadili. Namun lama sebelumnya, gedung itu merupakan kediaman pendeta Gereja Blenduk. Walau sempat dibiarkan kosong selama bertahun-tahun, bangunan itu akhirnya dapat diselamatkan keberadaanya pada 2007.




Gereja Blenduk.
Berdiri dengan elegan di jantung Kota Lama, Gereja Blenduk merupakan tengara utama Kota Lama Semarang dengan atap kubah yang begitu anggun membelah langit dan sepasang menara lonceng yang mendamipinginya. Di tengah kepungan bangunan – bangunan kuno lain, ia menjadi satu-satunya bangunan suci di kawasan yang sarat urusan duniawi itu dan seakan sebagai pengingat bahwa sesibuk-sibuknya manusia dengan urusan dunia, mereka masih harus tetap ingat dengan urusan akhirat.




Wajah Gereja Blenduk sebelum dirombak tahun 1893. ( sumber : Locale Techniek ).
Gereja Blenduk atau GPIB Imannuel dibangun ketika kompeni mulai mapan di Semarang, tepatnya pada tahun 1753 dengan bentuk yang masih terbilang sederhana. Empat puluh tahun berikutnya, bangunan sebelumnya digantikan dengan bangunan gereja bersisi delapan dengan tiga pintu masuk dan dilengkapi dengan kubah. Seabad kemudian, gereja itu disempurnakan seperti yang terlihat saat ini oleh H.P.A. de Wilde dan W. Weestmas. Dua menara bergaya barok dan sebuah portico klasik diimbuhkan pula pada bagian depan gereja itu.




Bagian dalam gereja.
Saya memasuki gereja itu lewat pintu timur gereja, tempat dimana pengunjung umum masuk selain hari Minggu. Gereja itu bersisi delapan dengan mimbar tempat pendeta berkhotbah sebagai titik perhatian jemaat. Orgel bagus bergaya barok masih ada di gereja itu namun sudah tidak dipakai lagi. Lantainyapun masih beralaskan tegel-tegel lama dengan motif yang menarik.
Paradeplein, jantung kota lama Semarang. Di sini kerap diadakan pentas drum band militer. Se ( sumber : colonialarchitecture.eu ).


Persis di seberang Taman Srigunting, terdapat bangunan yang mengingatkan kita pada saloon ala wildwest. Bangunan dari akhir abad ke-19 ini dahulunya merupakan Toko Ziken, toko retail pertama di Semarang. Bata merahnya yang khas berasal dari pabrik yang sama dengan bata di Gereja Gedangan. Di atas pintu masuk, terdapat tulisan Marba, merujuk nama Martha Badjuri, nenek moyang pemilik bangunan ini yang berasal dari negeri Yaman. Gaya arsitektur Spanish Colonial cukup menonjol. Seperti halnya banguna Restoran Ikan Bakar Cianjur, gedung ini tidak dilengkapi  beranda atau teritisan.
Dari gereja, saya sejenak berteduh di Taman Srigunting yang ada samping timur Gereja Blenduk. Taman kecil itu di masa silam merupakan bagian dari sebuah lapangan parade atau paradeplein. Di lapangan itulah para serdadu Belanda berparade dengan iringan musik militer. Kini lapangan itu telah lenyap, separo menjadi sebuah gedung kosong dan separonya lagi menjadi taman yang sedang saya singgahi ini.
Pemandangan udara kota Semarang pada tahun 1930. Kala itu Semarang sudah berkembang pesat menjadi kota niaga yang ramai. Menurut Baldinger, beberapa faktor yang menyebabkan majunya perniagaan di Semarang antara lain, upah buruh yang cukup rendah, mudah mendapatkan bahan mentah, harga tanah murah, dan perdagangan berjalan lancar. Sayangnya majunya perekonomian Semarang belum didungkung dengan baiknya sarana transportasi ; pelabuhan masih belum teratur dan stasiun kereta masih belum tersambung ( sumber foto : commons.wikimedia.org ).
Bekas toko buku Van Dorp, toko buku terkenal di Semarang. Toko buku ini membuka cabang di kota-kota besar lain seperti Batavia, Surabaya, dan Bandung. Selain menjual buku, Van Dorp juga menjual alat-alat tulis dan membuka usaha percetakan.
Bekas kantor perusahaan asuransi Liverpool & London & Globe Insurance  dan merangkap sebagai konsulat Inggris di Semarang.


Sebuah bangunan tua di Jalan Branjangan. Dahulu jalan ini bernama Oudestadhuisstraat ( Jalan Balai Kota Lama ) karena di sini pada zaman VOC pernah terdapat Balai Kota.
Bertaburkan berbagai gedung kolonial di setiap sudutnya, kota lama menjelma laksana galeri pamer terbuka dimana para arsitek Belanda berlomba membuat gedung-gedung niaga yang paling megah dan berseni. Berbagai gedung itu menunjukan suburnya praktik niaga di Semarang pada zaman kolonial, terutama setelah keran investasi di Hindia Belanda dibuka pada tahun 1870. Bagai cendawan di musim hujan, banyak firma dagang, perusahaan transportasi, lembaga keuangan dan perusahaan jasa  mendirikan kantornya di Kota Lama. Namun pada saat yang bersamaan, orang-orang Eropa mulai meninggalkan kawasan itu sebagai tempat hunian karena buruknya kondisi lingkungan di kota lama. Orang Eropa lebih memilih untuk memindahkan huniannya ke Bojong atau di perbukitan selatan Semarang. Oleh sebab itu, kota lama akhirnya bertansformasi dari kawasan hunian menjadi distrik bisnis atau dalam bahasa Belanda disebut zakencentrum.


Contoh rumah-rumah dari abad ke-19 yang juga merangkap sebagai toko.




Bangunan yang sekarang digunakan sebagai Galeri Semarang ini dulunya merupakan kantor perusahaan dagang milik Francis Peek yang dibangun pada tahun 1895. Oleh karena itu bangunan ini kadang disebut sebagai Peekhouse. Bangunan ini berdiri di bekas rumah yang dahulu pernah dipakai sebagai gereja darurat untuk umat Katolik sebab pada waktu itu gereja Katolik belum dibangun.
Sayangnya, sesudah kemerdekaan kawasan Kota Lama Semarang perlahan mulai menujukan gejala kemunduran seperti yang tergambarkan pada beberapa bangunan kuno di Jalan Kepodang. Kondisi lingkungan yang kerap terkena rob menjadi salah satu sebab mengapa kawasan itu mundur. Banyak gedung kuno di sini yang masih kosong lantaran perusahaan-perusahaan enggan untuk berkantor di Kota Lama. Kawasan bersejarah itupun akhirnya menjadi kawasan mati di malam hari dengan tingkat kriminalitas yang tinggi.
Gedung Bank Mandiri yang berada di Jalan Kepodang ini dahulunya adalah kantor Nederlansch Indisch-Handel Bank. Jalan Kepodang sendiri dahulunya bernama Hogerndorpstraat. Di sepanjang jalan ini pernah berkantor firma-firma terkenal seperti Oei Tiong Ham Concern, Escompto Maatschappij, Spaarbank dan lain-lain. Di jalan ini pula dahulu pernah ada kantor surat kabar yang menjadi corong orang-orang Belanda yang memperjuangkan politik etis, De Locomotief. Sayangnya bangunan yang seharusnya menjadi monument pers Indonesia ini kini sudah runtuh akibat ditelantarkan dalam waktu lama.
Gedung Spaarbank Semarang. Spaarbank didirkan pada tahun 1853 oleh para anggota Loge Constante et Fidele, sebuah loge Freemason di Semarang. Tujuan pendirian bank ini yakni untuk membantu para penabung kecil dan orang-orang yang mengalami kesulitan keuangan. Bank ini juga mengajak orang-orang untuk mulai menabung di bank.
Bekas kantor firma Escompto yang dibangun tahun 1912.
Salah satu sisa bangunan lama dengan ornamen kala di atas pintu masuk. Ornamen tersebut sering ditemukan pada pintu masuk candi. Bangunan ini dirancang oleh arsitek terkenal bernama Wolff Schoemaker.


Bangunan yang memiliki gable seperti lonceng ini dahulu ditempati oleh toko kebutuhan sehari-hari milik H.Spiegel. Sempat tidak terawat selama bertahun-tahun, bangunan ini berhasil diperbaiki dan sekarang dimanfaatkan sebagai cafĂ© pada lantai satu dan sebagai workspace pada lantai dua. Dai balkon yang ada di atas pintu masuk, kita dapat melihat pemandangan jantung kawasan kota lama.
Untungnya pemerintah tidak tinggal diam melihat kawasan bersejarah itu terlantar. Sejak tahun 1992, kawasan kota lama ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Meskipun ada hambatan dalam pembiayaannya, proyek rehabilitasi mulai dijalankan baik oleh pemerintah maupun swasta. Gedung Der Spiegel yang sempat terlantar selama bertahun-tahun dan kini terlihat elok sebagai cafe setidaknya memunculkan asa akan masa depan Kota Lama Semarang. Dengan aura kekunoan bangunan-bangunanya yang masih kentara, kawasan Kota Lama akhirnya menjadi bagian dari jatidiri kota Semarang sebagaimana ungkapan “ Kota tanpa bangunan berserajah adalah kota yang kehilangan jatidirinya “..

Referensi
ir. H. Th. Baldinger. 1938. " Semarang als industrie-stad " dalam Locale Techniek bulan Maret-April 1938.

Brommer dkk. 1995. Semarang, Beeld van een stad. Purmerend : Asia Maior.

Leushuis, Emile. 2014. Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Poerwanto, L.M.F dan Soenarso, R. 2012. Menapak Jejak-Jejak Sejarah Kota Lama Semarang. Bandung; Bina Manggala Widya.

Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

http://yogifajri.blogspot.co.id/search/label/kota%20lama