Senin, 31 Juli 2017

Benteng Klingker, Si Benteng Bundar dari Nusakambangan

Mendengar nama Nusakambangan, barangkali kita akan membayangkan sebuah penjara dengan pengamanan super ketat yang terletak di sebuah pulau di lepas pantai Cilacap. Selain pengamanannya yang ketat, kondisi alamnyapun masih liar. Nyaris tiada satupun napi yang berhasil lolos dari ganasnya alam Nusakambangan. Maka tidak heran jika Pulau Nusakambangan dijuluki sebagai Alcatraz-nya Indonesia. Namun dibalik kengerian Nusakambangan sebagai pulau penjara, Nusakambangan ternyata menyimpan benteng-benteng tua dari masa kolonial. Seperti apa bentengnya dan mengapa benteng-benteng itu didirikan di pulau ini ?

Perjalanan ke Nusakambangan…
Penjelajahan saya ke benteng-benteng di Nusakambangan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan jelajah yang diadakan oleh Komunitas Banjoemas Heritage, sebuah komunitas pelestari dan pecinta sejarah Banyumas dan sekitarnya. Kegiatan jelajah yang diadakan selama tiga hari tersebut mengunjungi berbagai obyek yang ada di sekitaran Banyumas seperti eks PG Klampok, Pecinan Sokaraja, PG Kalibagor, Kerkhof Purbalingga, Jalur SDS, dll. Sementara pulau Nusakambangan merupakan obyek terakhir yang dikunjungi dalam kegiatan jelajah tersebut.

Untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan, jika ombak tidak terlalu tinggi, kita bisa menyewa perahu montor yang bersandar di Pantai Teluk Penyu dengan tarif rata-rata berkisar dua puluh lima ribu rupiah pulang-pergi.

Benteng jenis Martello Tower
Benteng Klingker, demikianlah masyarakat lokal menyebut benteng yang akan kita kunjungi terlebih dahulu. Untuk menuju benteng ini, kita harus berjalan sejauh seratus meter dari bibir pantai. Untungnya air sedang dalam kondisi pasang karena jika air sedang surut, kita akan berjalan lebih jauh lagi.
Tampak luar benteng Klingker.
Sampai di lokasi benteng, kita akan mendapati reruntuhan benteng yang nyaris ditelan oleh akar-akar pohon yang merambat di setiap jengkal benteng. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi keindahan benteng ini dan malah membuat kesan eksotis seperti reruntuhan kuil Angkor Wat di Kamboja. Maka tidak heran jika benteng ini mendapat gelar “ The Most Exquisite Ruins in Indonesia”.
Bekas tangga ke lantai dua.
Struktur kolom besar di tengah benteng.
Benteng yang materialnya terbuat dari batu-bata merah ini memiliki denah dasar berbentuk lingkaran. Cukup unik karena rata-rata benteng di Indonesia memiliki denah berbentuk persegi dengan bastion di keempat sisinya. Karena berbentuk lingkaran itulah maka benteng ini disebut sebagai benteng Klingker ( lingkaran ). Cukup sulit untuk merekonstruksi seperti apa pembagian ruangannya karena banyak bagian benteng yang sudah ambruk. Namun dari sisa-sisa yang ada, benteng ini tampaknya memiliki tiga lantai. Hal ini dapat dilihat dari sisa tangga melingkar yang sepertinya terbuat dari kayu.
\
Bentuk melengkung yang menopang konstruksi benteng.
Bekas pintu pada lantai dua.
Pada masa benteng dibangun, teknologi tulang besi belum ditemukan sehingga beban bangunan disangga oleh massa dinding itu sendiri. Agar mampu menopang beban, maka dinding benteng ini dibuat tebal dan disusun melengkung pada langit-langitnya. Teknik ini dikenal dengan nama teknik rib-vault. Tepat di tengah-tengah benteng, terdapat semacam kolom besar yang menopang bagian tengah benteng.
Pintu masuk ke bangunan pengintai.
Tidak jauh dari benteng, kita dapat menemukan ruang bawah tanah yang dahulu tampaknya digunakan sebagai ruang pengintaian dan ruang-ruang kecil yang belum diketahui fungsinya. Untuk masuk ke dalam, kita masuk lewat sebuah tangga menuju ke bawah yang juga sudah dirambat oleh akar. Bagian dalam sangat lembab dan gelap. Tidak ada satupun pencahayaan selain dari senter ponsel genggam sehingga saya segera keluar dari tempat itu.

Berdasarkan jenisnya, benteng ini termasuk benteng jenis Martello Tower ( Tim Penyusun, 2012 ; 145 ). Apa itu Martello Tower ? Martello Tower sendiri ialah jenis benteng yang dikembangkan oleh kerajaan Inggris sewaktu terjadi Perang Revolusi Perancis. Adapun nama Martello Tower berasal dari sebuah benteng berbentuk lingkaran yang terletak di Mortella ( Martello ) Point, Pulau Corsica, Perancis. Ketika Inggris menyerbu Corsica dalam Perang Revolusi Perancis, mereka gagal merebut benteng yang hanya dipertahankan 38 orang tadi. Terkesan dengan keunggulan benteng tersebut, Inggris mengembangkan teknologi benteng tersebut dan membangun di sepanjang garis pantai untuk pertahanan mengingat Inggris merupakan negara pulau yang mudah diserang musuh dari laut ( Abrianto, 2008 ; 118 ). Dapat dikatakan benteng jenis Martello Tower merupakan desain benteng khas Inggris dan dapat ditemukan di belahan dunia yang dahulu pernah diduduki Inggris seperti Australia, Kanada, Afrika Selatan, Saint Helena, Bermuda, dan Sri Lanka ( https://en.wikipedia.org/wiki/Martello_tower ). Sementara itu, di Indonesia selain Benteng Klingker, benteng jenis Martello Tower juga dapat ditemukan di Pulau Cipir dan Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu.

Prince of Wales Tower di Kanada, contoh benteng jenis Martello Tower yang masih terawat baik.

Pembagian ruangan dalam benteng jenis Martello Tower ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Dalam sistem benteng Martello Tower, bangunan-bangunan benteng yang dulunya terpisah seperti gudang makanan dan amunisi, ruang perwira, dan ruang tembak, dijadikan dalam satu bangunan seperti menara. Biasanya benteng Martello Tower memiliki dua lantai lebih dan kadang dilengkapi dengan ruang bawah tanah. Ruang bawah tanah untuk menyimpan suplai makanan dan air, lantai pertama untuk menyimpan senjata dan amunisi, lantai kedua untuk tempat tinggal prajurit dan perwira, dan bagian paling atas sendiri merupakan ruang tembak terbuka yang dilengkapi dengan meriam yang dapat diputar 360 derajat. Umumnya, benteng Martello Tower dibangun di tepi pantai karena kelebihan rancangannya yang dapat mengawasi semua wilayah dalam 360 derajat dan dapat menembak ke segala arah. Apabila melihat peta lama Belanda, Benteng Klingker ini sendiri bernama Fort Banjoenjapa yang berarti “bertemu air”. 

Lokasi Benteng Klingker. Dalam peta Cilacap tahun 1944, Benteng Klingker masih bernama Fort Banjoenjapa ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Sekian dulu cerita saya mengenai Benteng Klingker di Nusakambangan. Namun bukan berarti penjelahan benteng di Nusakambangan berakhir di Benteng Klingker saja. Masih ada satu benteng lagi di Nusakambangan yang harus kita sambangi. Benteng apa itu ? Tunggu tulisan saya di Jejak Kolonial selanjutnya.

Referensi
Abbas, Novida. 1996. “ Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad XVII-XIX di Jawa Tengah “ dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04-TH II/1996.

Oktaviadi, Abrianto. 2008. “ Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Setelah Abad ke-20 Masehi “ dalam Yulianto,Kresno. Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.


Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://en.wikipedia.org/wiki/Martello_tower

Jumat, 28 Juli 2017

Stasiun Tanggung, Stasiun Kecil Monumen Sejarah Kereta Api di Indonesia

Stasiun Tanggung merupakan sebuah stasiun kecil di daerah Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Meskipun berukuran kecil, stasiun ini ternyata menyimpan sejarah yang sangat besar karena merupakan saksi bisu dari pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa. Bagaimana kisahnya dan seperti apa kondisi stasiun ini sekarang ? Simak tulisan saya di Jejak Kolonial edisi kali ini.

Putaran Sejarah Kereta di Jawa

Entah benar atau tidak, kehadiran kereta api di Pulau Jawa rupanya sudah diramalkan jauh sebelum penjajah Eropa menginjakan kakinya ke Nusantara. Maharaja Jayabhaya, raja kerajaan Kediri yang memerintah pada abad ke 12 dipercaya membuat sebuah ramalan yang menggambarkan kondisi Pulau Jawa di masa depan. Salah satu ramalan tersebut berbunyi “Kelak akan ada kereta yang berjalan tanpa kuda dan Pulau Jawa akan berkalung baja”. Tentu ramalan tersebut sulit dipahami orang pada masa itu. Bagaimana bisa ada sebuah kereta yang bisa berjalan tanpa kuda dan yang lebih mengherankan, bagaimana membuat Pulau Jawa berkalung baja ? Sebuah jawaban yang akan terjawab tujuh abad kemudian.
Stasiun Samarang, stasiun pertama di Indonesia yang berdiri tahun 1867. Foto diambil sekitar tahun 1905. ( sumber : media-kitlv.nl ).
Abad 19 nun jauh di benua Eropa sana, muncul penemuan-penemuan cemerlang mahakarya dari Revolusi Industri. Salah satu dari sekian penemuan yang cemerlang tersebut adalah lokomotif uap yang ditemukan oleh George Stephenson pada 1829. Mesin baru tersebut dapat menarik beban lebih banyak dan sedikit lebih cepat ketimbang kuda ( Burschell, 1984;14 ). Dua dasawarsa sejak keberhasilan Stephenson, jalur kereta api segera dibuka di seantero Eropa termasuk wilayah jajahan mereka seperti Hindia-Belanda yang menjadi jajahan Belanda. 

Gagasan pembangunan jalur kereta di Jawa sesungguhnya sudah dicetuskan sejak tahun 1840. Kolonel Jhr. Van der WIjk-sang penggagas ide tersebut-melihat bahwa kereta api merupakan jawaban atas kendala prasarana dan sarana transportasi di Jawa. Sayangnya ide tersebut malah menimbulkan perdebatan di Parlemen hingga akhirnya tenggelam. Gagasan tersebut mencuat kembali ketika semakin banyak perkebunan yang dibuka oleh orang-orang koloni. Apalagi setelah melihat kesuksesan Inggris membuat jalur kereta di India pada tahun 1853. Sebagai langkah pertama, dilakukan sebuah studi banding oleh Stieljtes yang menyarankan untuk membangun jalur kereta dari Semarang-Ungaran-Salatiga karena di sana terdapat garnisun militer dan terdapat populasi orang Eropa dalam jumlah cukup banyak. Berbeda dengan saran dari Stieljtes, sebuah konsorium yang dibentuk oleh Poolman, Fraser, dan Kol mengusulkan agar membangun jalur kereta dari Semarang-Solo-Yogyakarta dengan pertimbangan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur yang diusulkan oleh Stieljtes. Pertimbangan lain karena  daerah Solo dan Yogyakarta ( Vorstenlanden ) sendiri merupakan wilayah penghasil ekspor yang kaya. Setelah melobi pemerintah, akhirnya konsorium milik Poolman cs mendapat konsensi membangun jalur kereta dari Semarang- Vorstenlanden. Tahun 1862 konsorsium tersebut berubah namanya menjadi Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij dan perusahaan tersebut menjadi perusahaan kereta pertama di Hindia-Belanda ( Tim Telaga Bakti Nusantara, 1997; 48-53 ).
Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele ( 1806-1890 ), Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang meresmikan pembangunan jalur kereta api di Hindia-Belanda.
Tidak lama kemudian, 16 Juni 1864 diadakan sebuah upacara sebagai tanda dimulainya pembangunan jalur kereta. Gubernur Jenderal Mr. Baron Slur ( Sloet ) van de Beele tiba di Semarang dengan kereta kebesaran diiring dengan para pembesar dan serdadu untuk meresmikan upacara pencangkulan pertama yang diadakan esok hari. Di sepanjang Jalan Bojong ( kini jalan Pemuda ), dari kediaman Residen ( kini rumah dinas Gubernur Jawa Tengah ), lewat Heerenstraat ( kini Jalan Letjen. Suprapto ), hingga lokasi pencangkulan pertama di Tambaksari, masyarakat bederet-deret memadati jalan. Sesuai dengan adat kolonial, ketika Gubernur Jenderal lewat mereka harus berjongkok. Trap-trap yang dihias indah di lokasi pencangkulan menyambut sang gubernur. Masyarakat Semarang tumpah ruah di lokasi itu, maklum lawatan seorang Gubernur Jenderal merupakan hal yang jarang terjadi pada waktu itu. Pada 17 Juni 1864, dengan diiringi musik militer dan gamelan, Gubernur Jenderal melakukan upacara menyerok tanah, tanda dimulainya pembangunan jalur kereta Semarang-Vorstenlanden dan serokan pertama itu sekaligus menjadi awal sejarah transportasi kereta di Nusantara ( Liem Thian Joe, 1931; 162 ).
Foto Stasiun Tanggung ketika baru saja dibuka pada tahun 1867. Wilayah sekitar stasiun masih terlihat seperti sebuah frontier. Foto ini diambil oleh agensi foto Woodbury & Page, co ( Sumber : media-kitlv.nl ).
Selama pembangunan jalur Semarang-Tanggung oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, tersiar rumor yang cukup menggemparkan di masyarkat. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa banyak penculik anak kecil yang keluar masuk perkampungan. Anak kecil ini nantinya akan dijadikan sebagai tumbal pembangunan jembatan mengingat takhayul masyakat pada waktu itu bahwa setiap pembangunan jembatan memperlukan sesajen agar selamat. Rumor tersebut menyebar begitu cepat bagai kabar hoax pada masa sekarang. Orang-orang tua mengawasi anaknya dengan lebih ketat sehingga setiap menjelang sore anak-anak tersebut pasti sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Setelah pembangunan jalur kereta selesaipun juga masih muncul rumor-rumor aneh. Mula-mula banyak orang yang tidak berani naik kereta api sebab mereka percaya jika orang yang naik kendaraan itu bisa hilang, dimakan oleh penunggu kereta. Masyarakat, terutama masyarakat pribumi dan Tionghoa percaya bahwa lokomotif itu dijalankan dengan kekuatan setan karena lokomotif itu bisa bergerak sendiri tanpa ditarik kdua. Namun sedikit demi sedikit orang mulai berani menaiki kereta ( Liem Thian Joe, 1931; 163 ).

Pembangunan jalur kereta api tentu tidak hanya berhenti sampai Tanggung saja. Ketika itu, wilayah Tanggung dapat dikatakan sebagai wilayah frontier yang nyaris tidak tersentuh oleh peradaban. Namun karena kesulitan finansial akibat biaya pembangunan yang ternyata melonjak dari perkiraan, maka pembangunan jalur kereta api terhenti sampai Tanggung, Grobogan yang selesai pada tanggal 10 Agustus 1867.  Bahkan tahun 1868 pembangunan kereta api di Jawa terancam gagal. Setelah mendapat bantuan dana dari pemerintah dan pengusaha, akhirnya pembangunan jalur kereta dapat diselesaikan sampai Surakarta pada 1870 dan Yogyakarta pada 1872. Dengan demikian, akhirnya wilayah Vorstenlanden terkoneksi dengan Semarang dan hasil-hasil perkebunan berhasil diangkut sampai pelabuhan membawa keuntungan besar bagi Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij sebagai operator. Kesuksesan jalur kereta Semarang-Vorstenlanden menginspirasi dibangunnya jalur kereta api lain yang dioperasikan oleh pemerintah atau swasta. Hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa dibangun jalur rel baja yang saling menyambung satu sama lain tanpa putus, seolah Pulau Jawa berkalung besi. Di atas rel baja tersebut, melintas kereta-kereta yang tidak ditarik oleh kuda lagi, melainkan oleh lokomotif uap yang perkasa. Ya, Ramalan Maharaja Jayabhaya dari ratusan tahun silam sudah terwujud…

Stasiun yang Terbuat dari Kayu
Monumen peringatan di depan Stasiun Tanggung.
Ketika sampai di Stasiun Tanggung, rasanya kita nyaris tidak akan percaya bahwa dari stasiun sederhana ini, sejarah kereta api akan bermula. Kita baru akan disadarkan dengan sebuah tugu peringatan yang terletak di depan pintu masuk stasiun. Di tugu itu, tertulis “Di Bumi inilah kita bermula” sebagai pengingat sejarah bermulanya kereta api di Indonesia. Seharusnya tugu tersebut didirikan di eks Stasiun Samarang di Kemijen, Semarang yang menjadi titik awal pembangunan jalur kereta api. Sayangnya stasiun bersejarah tersebut sekarang nyaris terbenam rob dan sulit dikenali bekasnya. Ya, bertambah satu lagi monumen sejarah kita yang terlupakan…
Beberapa contoh bangunan stasiun dari kayu yang ada di Jawa. Kiri atas merupakan bangunan Stasiun Gresik ( sumber foto : flickr.com ), kanan atas ialah bangunan Stasiun Mayong, Jepara yang kini dipindah di sebuah resort di Magelang ( sumber foto : jejakbocahilang.wordpress.com ), kanan bawah Stasiun Tanggun, dan kiri bawah adalah Stasiun Maguwo Lama. Dari keempat stasiun tersebut, hanya Tanggung saja yang masih aktif.
Hampir seluruh bangunan ini terbuat dari kayu, baik dindingnya maupun tiang-tiangnya. Hanya genting dan lantainya saja yang tidak. Sangat sedikit stasiun yang yang bangunannya terbuat dari kayu. Setidaknya hanya empat stasiun di Jawa yang masih terbuat dari kayu, yakni Stasiun Tanggung, Stasiun Maguwo Lama di Yogyakarta, Stasiun Mayong di Jepara ( yang bangunannya dipindahkan ke sebuah resort di Magelang ), dan Stasiun Gresik. Dari sekian Stasiun tersebut, saat ini hanya Stasiun Tanggung saja yang masih aktif. Kayu-kayunya masih kuat menyangga konstruksi stasiun meskipun sudah berumur lebih dari seratus tahun. Pada tahun 1980, bangunan Stasiun Tanggung hampir dipindah ke TMII, untunglah hal tersebut batal dilakukan. Jika tidak terpaksa, memang lebih baik situs sejarah tetap berdiri di tempatnya.
Stasiun Tanggung dilihat dari sisi barat. Tampak bangunan kamar mandi yang terpisah dari Stasiun.
Peron stasiun Tanggung. Terlihat hamparan lantai tegel yang masih asli.
Kamar tunggu Stasiun Tanggung yang sederhana.
Stasiun Tanggung sendiri terbilang bersahaja, hanya memiliki empat ruang saja, yakni ruang kepala stasiun merangkap ruang penjualan loket, gudang, kamar tunggu, dan ruang PPKA. Untuk ruang yang terakhir, ruangan tersebut merupakan tambahan baru paska kemerdekaan. Stasiun ini terletak di sebelah utara rel dan hanya memiliki dua jalur dengan jalur 2 sebagai jalur sepur lurus. Aslinya, Stasiun Tanggung dahulu aslinya memiliki lebar rel 1435 mm. Lebar rel tersebut merupakan lebar rel standar Eropa yang disyaratkan dalam awal pembangunan. Namun pada masa penjajahan Jepang, jalur rel tersebut digeser menjadi 1067 mm sampai sekarang.
Dinding sisi barat Stasiun Tanggung. Stasiun Tanggung merupakan stasiun bergaya Swiss-Chalet.
Bagian belakang Stasiun Tanggung.
Dari sisi arsitektur, bangunan Stasiun Tanggung memiliki gaya arsitektur Swiss Chalet. Gaya arsitektur ini aslinya dari Swiss dan dipakai pada bangunan lumbung, kandang, atau rumah tinggal. Banyak orang yang senang dengan gaya Swiss Chalet karena kesannya sederhana namun cantik. Dengan banyaknya turis yang bertamasya menikmati hawa sejuk Alpen di Swiss, maka pada abad ke-18, arsitektur Swiss Chalet menyebar ke Eropa, utamanya di Jerman dan Belanda. Ciri gaya arsitektur Swiss Chalet dapat kita lihat pada bagian atap pelana yang diberi dekorasi dan ekspose tiang konstruksi ( Davies dan Jokkinemi, 2008; 373 ). Entah bagaimana ceritanya gaya arsitektur dari pegunungan Swiss yang dingin tiba-tiba dipakai pada sebuah stasiun yang terletak di dataran rendah beriklim tropis yang panas. Barangkali karena gaya arsitektur tersebut sesuai untuk bangunan kecil tanpa harus mengurangi nilai estetikanya.
Litografi karya Josias C.Rappard yang menggambarkan beberapa penumpang sedang menunggu kereta. Terlihat tidak ada penumpang pribumi yang menunggu karena pada waktu itu orang pribumi belum berani menumpang kereta. Sumber : troppenmuseum.nl
Berdasarkan data dari litografi karya Josias C. Rappard dan foto yang dibuat agensi fotografi Woodbury & Page co tahun 1867, rupanya bangunan Stasiun Tanggung yang sekarang bukanlah bangunan Stasiun Tanggung yang dibangun tahun 1867. Usut punya usut ternyata bangunan yang berdiri sekarang merupakan hasil rombakan oleh N.I.S.M sekitar tahun 1900-1910an. Pada waktu itu N.I.S.M memang sedang gencar merombak stasiun-stasiunnya agar terlihat lebih menarik ( Tim Penyusun, 2015; 2-3 ). Bangunan ini sendiri sudah berulangkali direnovasi karena wilayah Tanggung kerap diterjang banjir. Terakhir kali direnovasi yakni tahun 2007.
Rumah dinas Stasiun Tanggung.
Reruntuhan gudang Stasiun Tanggung.
Dekat dengan Stasiun Tanggung, terdapat sebuah rumah tua kecil yang dahulu menjadi rumah dinas kepala Stasiun Tanggung. Sama halnya dengan Stasiun Tanggung, bangunan ini terbuat dari kayu dan uniknya, bangunan ini berbentuk seperti rumah panggung. Cukup unik karena rata-rata rumah dinas pegawai stasiun merupakan terbuat dari bata dan tidak berbentuk rumah panggung. Masih di area Stasiun Tanggung, terdapat reruntuhan bangunan yang dahulunya merupakan sebuah gudang.

Demikianlah ulasan singkat saya mengenai Stasiun Tanggung di tulisan Jejak Kolonial kali ini. Kesederhanaan stasiun ini menyembunyikan cerita sejarah besar, cerita yang sayangnya tidak ditulis dalam buku pelajaran sejarah sekolah. Padahal berkat kereta api, kota-kota di Jawa yang dulunya terisolasi akhirnya tersambung satu persatu dan terkoneksi dengan dunia luar. Tidak terbayangkan jika seandainya kereta api tidak pernah dibangun di Jawa, mungkin selamanya Jawa akan terbelakang seperti pulau-pulau lain yang belum memiliki jalur kereta. Semoga keberadaan stasiun kecil ini dapat dilestarikan dengan baik.

Referensi
Burschell, S.C. 1984.  Abad Kemajuan. Jakarta : Penerbit Tira Pustaka

Davies, Nikolas dan Erkki Jokiniemi. 2008. Dictionary of Architecture and Building ConstructionOxford : Architectural Press.

Liem Thian Joe, 1931, Riwajat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij.

Tim Penyusun. 2015. Stasiun Kereta Api , Tapak Bisnis dan Militer Belanda. Klaten ; Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Tim Telaga Bakti Nusantara. 1997. Sejarah Perkereta-apian Indonesia Jilid I. Bandung ; Penerbit Angkasa.

Rabu, 19 Juli 2017

Gedung Volksschouwburg Sobokartti, Gedung Teater Citarasa Jawa

Kota Semarang menyimpan banyak sekali gedung yang menjadi Cagar Budaya selain gedung Lawangsewu dan gedung-gedung di Kota Lama Semarang. Salah  satu gedung Cagar Budaya di Semarang yang sayangnya banyak dilewatkan orang adalah Gedung Volkstheater Sobokartti. Berbeda dengan bangunan kolonial lain di Semarang yang bergaya Barat, bangunan ini justru terlihat sangat njawani. Seperti apa keunikan dan cerita dibaliknya ?

Berawal dari Perkumpulan Kesenian
Gagasan mendirikan Gedung Sobokartti berawal dari kesadaran-kesadaran baru yang timbul di Keraton-keraton Jawa. Salah satu bentuk kesadaran baru itu ialah demokratisasi kesenian. Sebelumnya, beberapa pertunjukan kesenian hanya bisa ditampilkan ekskelusif di dalam tembok keraton saja dan merupakan pantangan bagi orang biasa untuk melihat dan mempelajarinya. Akhirnya pada tahun 1918, dibentuklah perkumpulan Kridha Beksa Wirama di Yogyakarta yang mengijinkan kesenian yang semula ekslusif itu untuk diajarkan dan digelar di luar dinding keraton.
K.G.P.A.A. Mangkunegara VII, pendiri sekaligus pendukung perkumupulan seni Sobokartti ( Sumber : commons.wikipedia.org ).
Thomas Karsten dan keluarga. Thomas Karsten merupakan salah satu perintis yang membentuk perkumpulan seni Sobokartti ( Sumber : sobokartti.wordpress.com ).
Di Semarang pada tanggal 6 September 1929 dibentuk sebuah perkumpulan kesenian bernama Sabhakirti atau Sobokartti atau Kunstvereenging Sobokartti. Perkumpulan ini dibentuk oleh beberapa orang, antara lain Walikota/burgemeester Semarang yaitu Ir de Jonghe, Bupati Semarang RMAA Purbaningrat, Keraton Surakarta yang diwakili oleh GPH Kusumayudha, serta pemimpin surat kabar De Locomotief. Tujuan dibentuknya Kunstvereenging Sobokartti ialah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian bangsanya sendiri.
Berita pembukaan gedung Sobokarti pada koran Algemeen Handelsblad tanggal 13 Ontober 1931. 
Maket rancangan awal gedung Sobokartti ( Sumber : http://www.kompasiana.com/purwanti_asih_anna_levi/gedung-sobokartti-tonggak-demokratisasi-seni_54f3640c745513972b6c7371 ).
Masa awal dibentuk Sobokartti, kegiatan-kegiatan masih menumpang di gedung paseban Kabupaten Semarang dan di Stadstuin. Baru pada tahun 1930, perkumpulan Sobokartti berhasil mendirikan sebuah gedung permanen sebagai tempat dimana mereka nantinya bisa melatih dan menampilkan kesenian Jawa. Gedung itu sendiri dirancang oleh Ir, Thomas Karsten dengan memadukan arsitektur gedung teater barat dengan arsitektur tradisional Jawa. Awalnya gedung ini akan dirancang dalam ukuran cukup besar, namun karena keterbatasan dana akhirnya gedung yang terwujud lebih kecil seperti yang terlihat sekarang.


Gedung Sobokartti yang terlihat lebih tinggi daripada sekarang. Karena sering diterjang banjir rob, maka tanah di sekitar Sobokartti akhirnya ditinggikan meskipun gedung Sobokartti sampai sekarang masih tergenang banjir rob. ( Sumber http://arsip.tembi.net/sites/default/files/styles/large/public/field/image/2015/09/1_16.jpg?itok=dv4hzdLO )
Sayangnya, kegiatan kesenian di Sobokartti sempat terhenti pada masa penjajahan Jepang. Oleh militer Jepang, gedung Sobokartti diduduki dan difunsikan sebagai markas. Pada Pertempuran 5 Hari, para pemuda pemberani berusaha melucuti senjata dari tentara Jepang. Dua belas pemuda gugur dan sampai tahun 1960 mereka dimakamkan di halaman gedung ini. Setelah penjajahan Jepang, kegiatan kesenian di Sobokarti dapat dipulihkan seperti semula.


Gedung Teater ala Jawa



Jangan membayangkan Gedung teater Sobokartti sebagai sebuah gedung teater bergaya barat yang mewah dan besar. Tidak! Meskipun merupakan sebuah gedung teater, namun wujud luar gedung ini justru lebih mengingatkan kita pada rumah tradisional Jawa. Selain itu, sekalipun gedung ini berada di pinggir jalan DR.Cipto yang ramai, namun tidak sedikit orang yang terkecoh ketika mencari gedung ini. Penyebabnya ialah orientasi gedung ini yang tidak menghadap ke arah jalan, melainkan menghadap ke selatan. Padahal jalan DR.Cipto merupakan jalan satu arah dari arah utara.
Tampak depan gedung Sobokartti.
Lalu mengapa gedung teater ini dirancang dalam gaya tradisional Jawa? Untuk mengetahuinya, kita harus mempelajari sejarah arsitektur di Indonesia pada paruh pertama abad ke 20. Masa ini ditandai dengan kedatangan arsitek profesional yang mendapatkan pendidikan ilmu arsitektur dari Belanda. Pada masa itu, para arsitek berusaha untuk mencari jatidiri bentuk arsitektur Hindia-Belanda yang baru setelah jenuh dengan gaya arsitektur klasik Eropa. Salah satu bentuk usaha pencarian jatidiri tersebut ialah dengan memadupadankan arsitektur Eropa modern dengan aristektur vernacular Nusantara yang disesuaikan dengan iklim, bahan bangunan, serta teknologi yang sedang berkembang. Proses ini menyebabkan terciptalah gaya arsitektur “Indo-European Style”. Nama-nama yang terkenal sebagai pelopor gaya arsitektur ini antara lain Henri Maclaine Pont dan Thomas Karsten ( Handinoto, 2012; 88-89 ). Sebagai pelopor gaya arsitektur “Indo-European Style” dan penggemar budaya Jawa, tentu saja Karsten tidak akan menciptakan sebuah gedung teater bergaya barat untuk pertunjukan kesenian Jawa. Pertunjukan kesenian Jawa idealnya juga harus ditampilkan dalam bangunan bergaya Jawa. Namun selama ini, pementasan kesenian tradisional Jawa diadakan di pendopo yang ke tengah semakin tinggi, sehingga penonton di belakang akan terhalang oleh penonton di depannya. Solusi cerdas Karsten untuk permasalahan ini dapat kita lihat nanti ketika memasuki bagian dalam gedung.
Bagian ruang depan.
Loket karcis.
Pintu masuk berbentuk seperti gerbang paduraksa.
Bagian depan Gedung Sobokartti merupakan ruang penerima yang mengingatkan kita pada beranda depan sebuah rumah tradisional Jawa. Ruang penerima ini berfungsi sebagai hall sebelum memasuki ruang pertunjukan. Di antara dua pintu masuk utama, terdapat ruang penjualan tiket dengan tiga loket dari kayu. Pintu masuknya tampil elegan dengan gaya khas Nusantara dengan bentuk seperti gerbang masuk pada sebuah candi.
Tiang-tiang soko guru dan bukaan atap sebagai sumber penghawaan dan pencahayaan dalam ruangan.
Panggung penampilan.
Memasuki ruang pertunjukan kita dibuat terkesan dengan keangguan interior bagian dalam yang menyerupai sebuah rumah Jawa. Tiang sokoguru sebagai salah satu elemen utama konstruksi bangunan tradisional Jawa menopang atap utama bangunan ini. Untuk memberikan penerangan dan penghawaan secara natural, maka seluruh sisi dinding ( kecuali sisi utara ) dan atap bangunan diberi bukaan lebar.
Dekorasi ventilasi. 
Meskipun bangunan ini sudah berusia lebih dari 80 tahun, namun bangunan masih tampak utuh dan kokoh. Ini menujukan bahwa dalam pembangunan gedung ini di masa lalu tidak hanya menekankan pada aspek keindahan ornamentasi semata, namun juga pada ketelitian perhitungan. Hanya bangunan yang dibuat dengan perhitungan yang benar dan jujur saja yang dapat berdiri lama seperti gedung Sobokartti ini.
Tempat duduk penonton yang semakin meninggi ke belakang.
Ruang kontrol dan panggung kecil yang terdapat di sebelah selatan.
Ketika diminta merancang sebuah gedung pertunjukan untuk kesenian Jawa, Thomas Karsten memikirkan bagaimana caranya agar seluruh penonton dapat menikmati pertunjukan. Solusi cerdas yang digunakan Karsten ialah dengan menggunakan konsep gedung teater ala Eropa. Akar konsep ini dapat ditelusuri pada zaman Yunani Kuno, ditandai dengan posisi tempat duduk yang semakin belakang  semakin meninggi. Pengaturan ini menyebabkan penonton di belakang dapat melihat pertunjukan tanpa terhalang penonton di bagian depan. Di gedung Sobokartti, konsep ini dapat kita lihat pada posisi tempat duduk penonton yang semakin meninggi ke belakang. Sementara itu bagian tengah gedung merupakan stage tempat pentas para pemain sebagai obyek utama tontonan. Berdasar denah yang ada, gedung Sobokartti termasuk gedung teater tipe thrust stage.
Pintu masuk ke bagian ruang pemain dengan bentuk seperti gerbang paduraksa, menambah kesan tradisional pada gedung Sobokartti.
Lambang perkumpulan Sobokartti Semarang.
Di sebelah utara, terdapat dinding yang memisahkan ruang pertunjukan dengan ruang pemain. Dinding ini didesain menyerupai seperti gerbang paduraksa yang dapat ditemukan pada keraton-keraton Jawa. Di atas gerbang terdapat potret  Pangeran Prangwadana ( kelak menjadi Mangkunegara VII ) dan Ir. Thomas Karsten, dua sosok yang berperan penting dalam Volkskunstvereeneging Sobokartti. Di balik dinding ini, terdapat ruang pemain, tempat dimana para pemain menyiapkan diri sebelum pentas.
Kegiatan pentas seni yang sering dipentaskan di gedung Sobokartti ( Sumber : sobokartti.wordpress.com ).
Ketika saya berkunjung ke gedung ini, suasana gedung terlihat sepi karena pada hari itu sedang tidak ada kegiatan. Ada beberapa kegiatan yang sering diadakan di sini, mulai dari latihan tari, karawitan, pedhalangan, pranatacara, dan membatik. Jika datang di waktu yang tepat, kita bisa menyaksikan anak-anak yang sedang berlatih tari sambil diiringi suara gamelan. Beberapa di antaranya masih satu keturunan dengan para pemain yang puluhan tahun silam tampil di Gedung Sobokartti. Mereka-pemain yang dahulu tampil di Sobokartti-tinggal di perkampungan dekat gedung ini. Yah, mungkin para pemainnya sudah beda generasi, namun setidaknya saya dapat membayangkan suara gamelan yang ditabuh adalah suara yang sama dengan yang ditabuh puluhan tahun silam di ruang yang sama. Semoga irama tersebut senantiasa mengisi gedung ini sebagai simbol pelestarian budaya Jawa yang adiluhung di tengah masifnya gempuran budaya modern.


Referensi
Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta; Penerbit Graha Ilmu.

Tim Penyusun. 2014. Yang Tersisa dari Kolonial. Klaten; Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

sobokartti.wordpress.com

Rabu, 05 Juli 2017

Menyusuri Kembali Sisa Kejayaan PG Jenar, Pabrik Gula Pertama dan Terakhir di Purworejo

Mungkin tidak banyak masyarkat Purworejo, terutama generasi sekarang yang tahu bahwa Purworejo dahulu pernah memiliki sebuah pabrik gula besar yang dibangun oleh industrialis Belanda. Namanya PG Jenar. Minimnya literatur dan saksi-saksi sejarah yang mulai berkurang menjadikan sejarah PG ini nyaris terkubur oleh zaman. Jejak Kolonial kali ini akan mencoba untuk menyusur kembali sisa-sisa dari pabrik gula tersebut. Apa saja sisa-sisanya dan bagaimana latar belakang dibalik berdirinya PG Jenar ?

Rekam Sejarah PG Jenar
Depo lori PG Jenar yang terletak di ujung utara kompleks pabrik. Di sinilah tebu-tebu yang berasal dari berbagai penjuru Purworejo dikumpulkan untuk selanjutnya diolah. Sumber : troppenmuseum.nl
Tahun 1900an merupakan “era ke-emasan” pemerintahan kolonial di Nusantara. Satu persatu wilayah di Nusantara yang belum tunduk pada kekuasaan Belanda mulai dikuasai. Bidang perekonomian di Hindia-Belanda juga sedang mengalami gairah puncaknya. Jalur-jalur kereta mulai dibangun di seantero pulau Jawa, transportasi dari Eropa ke Hindia-Belanda dan sebaliknya semakin mudah berkat dibukanya Terusan Suez, diterapkannya liberalisasi ekonomi Hindia-Belanda memberikan kesempatan besar bagi para kapitalis untuk menanam modalnya di Hindia-Belanda. Waktu itu, usaha yang menjadi primadona ialah usaha perkebunan tebu.
Proses pembangunan depo lokomotif. Tampak emplasemen yang sudah terpasang rel. Sumber : troppenmuseum.nl
Proses instalasi mesin sentrifugal. Sumber : troppenmuseum.nl
Proses pendirian rangka bangunan pabrik. Sumber : troppenmuseum.nl
Mesin-mesin penggiling yang baru saja tiba. Sumber : troppenmuseum.nl
Jalan di kompleks perumahan pegawai pabrik yang sedang diperkeras. Sumber : troppenmuseum.nl
Dibandingkan dengan wilayah lain, keberadaan pabrik gula di Purworejo termasuk terlambat. PG Jenar baru mulai berdiri pada tahun 1910an. Bandingkan dengan PG Tasikmadu di Karanganyar yang dibangun tahun 1871 atau lebih tua lagi, PG Gondangwinangun di Klaten yang sudah berdiri sejak tahun 1860. Selain itu, PG Jenar juga merupakan satu-satunya pabrik gula yang pernah dibangun di Purworejo. Meskipun jumlahnya hanya satu tapi pabrik gula ini memiliki ladang tebu yang terhitung luas sekali.
Maket PG Jenar. Sumber : Indie.
Proses penggilingan tebu di PG Jenar. Sumber : troppenmuseum.nl
Mesin-mesin yang ada di dalam pabrik. Sumber : troppenmuseum.nl
Menurut arsip, PG Jenar dibangun oleh perusahaan “N.V. Suikeronderneming Poerworedjo” pada tahun 1909. Perusahaan tersebut dibentuk di Amsterdam pada tahun 1908 dengan modal sebesar 5 juta gulden. Lokasi PG dibangun di tempat yang cukup strategi, yakni berada di tidak jauh dari jalan raya Yogyakarta-Purworejo. Lokasi pabrik gula yang aslinya bernama “Suikerfabriek Poerworedjo” berada di Desa Plandi, Purwodadi. Namun karena berada di dekat Desa Jenar yang cukup populer pada waktu itu, maka orang-orang lebih mengenalnya sebagai PG Jenar.
Lokasi PG Jenar pada peta tahun 1920 ( simbol bangunan pabrik ). Sumber : maps.library.leiden.edu
Dikutip dari tulisan Pak Slamet Wijadi di http://bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/, disebutkan bahwa di setiap pabrik akan memulai menggiling tebu, diadakan sebuah tradisi yang dikenal sebagai cengbengan. Hampir semuah pabrik gula di Jawa memiliki tradisi seperti ini. Tujuannya supaya hasil gilingan melimpah dan tidak ada kecelakaan dan halangan selama proses penggilingan.
Bangunan kantor administrasi PG Jenar. Sumber : colonialarchitecture.eu.
Laboratorium PG Jenar. Tampak para pegawai laboratorium berasal dari kalangan bumiputera. Sumber : troppenmuseum.nl
Sekalipun PG Jenar memiliki keuntungan yang melimpah ruah, namun sebuah studi menunjukan bahwa dari sisi sosial dan ekonomi, PG Jenar tidak memberikan dampak positif di daerah Purworejo. Keuntungan hanya dinikmati oleh segelintir orang seperti orang Belanda sebagai pemilik modal dan orang Tionghoa sebagai pedagang perantara. Sementara itu penduduk sekitar hanya sebagai penonton dan paling banter hanya bisa menjadi petani tebu biasa. Dari segi sosial, PG Jenar juga tidak memberikan sumbangan konkrit untuk masyarkat sekitar. Berbeda sekali dengan PG Gondanglipuro yang dikelola oleh Schmutzer bersaudara, dimana mereka membuka banyak belasan sekolah, sebuah klinik, dan sebuah gereja untuk penduduk sekitar. Maka wajar saja jika PG Jenar mendapat karma yang akan menimpanya tidak lama lagi.
Kompleks perumahan pegawai PG Jenar dengan taman yang tertata rapi. Sumber : troppenmuseum.nl
Kompleks PG Jenar dilihat dari barat laut. Terlihat bangunan pabrik dan kompleks rumah pegawai. Di kejauhan, Perbukitan Menoreh terlihat samat. Sumber : troppenmuseum.nl
Berbagai macam bentuk rumah dinas pegawai PG Jenar yang dirancang dalam bentuk arsitektur Indis. Sumber : troppenmuseum.nl
Tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa salah satu Pahlawan Revolusi kebanggan orang Purworejo, Jenderal A.Yani lahir di lingkungan PG Jenar. Jenderal Achmad Yani yang lahir pada tanggal 19 Juni 1922 merupakan putra dari seorang supir untuk pemilik PG Jenar. Namun tidak lama kemudian, beliau pindah ke Desa Rendeng di Gebang dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di sana. Ya, satu lagi fakta sejarah dari PG Jenar yang mulai terkuak. Sayangnya, rumah kelahiran sang Jenderal sudah tidak ada lagi tapaknya.
Bangunan PG Jenar dilihat dari sebelah timur. Sumber : troppenmuseum.nl
Bangunan pabrik dilihat dari sebelah barat. Sumber : troppenmuseum.nl
Ketika industri gula di Jawa sedang berada di masa-masa puncaknya, tiba-tiba terjadi sebuah guncangan hebat yang menjadikan hampir semua PG di Jawa nasibnya berada di ujung tanduk. Guncangan itu asalnya bukan dari Jawa, melainkan dari ribuan kilometer jauhnya dari PG Jenar, tepatnya di Gedung Bursa Wallstreet New York. Oktober 1929, Bursa saham Wallstreet ambruk. Arus globalisasi yang sudah terasa pada waktu itu menjadikan krisis ini menjalar ke penjuru dunia. Sejalan dengan krisis itu, permintaan gula anjlog padahal suplai gula dari Jawa bisa dikatakan lebih dari cukup. Kenyataan pahit ini memaksa diadakanya perjanjian Charbourne tahun 1931, dimana Jawa harus menurunkan produksi gulanya. Produksi turun, maka banyak pabrik gula yang tentu harus ditutup atau dilikudiasi dan salah satunya adalah PG Jenar. Tahun 1932, PG Jenar mulai menunjukan tanda-tanda kematiannya dan setahun kemudian, PG Jenar akhrinya benar-benar mati. Berakhirlah sudah episode PG Jenar. PG yang meninggal di usia yang masih muda. Sementara itu, beberapa PG lain yang usianya jauh lebih tua dari PG Jenar malah ada yang masih bisa bertahan sampai sekarang.

Lalu bagaimana nasib PG Jenar setelah ditutup ? Semua bangunan PG diratakan dan nyaris tiada yang tersisa. Lahan parbrik dan rumah dinas dibeli oleh Johannes Cornelis Suzenaar, kemudian separo lahan PG dijual kepada Van Mook untuk lahan peternakan. Sebagian lahan PG kemudian dibangun menjadi penggilingan beras pada zaman Jepang.

Sisa-sisa
Di kebun-kebun tengah sawah itulah, pernah berdiri PG Jenar yang legendaris.
Butuh sedikit perjuangan untuk mengetahui dimana tepatnya lokasi PG Jenar berada karena peta topografi lama Purworejo yang saya temukan di internet kebanyakan berasal dari tahun 1905 kebawah. Sementara itu PG Jenar belum dibangun pada tahun itu dan alhasil, pada peta topografi Belanda PG Jenar belum tercantumkan. Padahal peta-peta topografi Belanda biasanya memetakan kompleks sebuah pabrik gula secara detail sehingga kita dapat mengetahui dimana persisnya lokasi pabrik gula serta pola tata ruangnya. Oleh karena itulah ketika pertama kali mengeksplorasi PG Jenar, saya sempat mengira jika bangunan pabrik tua di tengah sawah adalah lokasi PG Jenar berdiri. Untungnya, warga sekitar kemudian menunjukan kepada saya lokasi PG Jenar yang sebenarnya yang ternyata berada agak ke barat.
Peta PG Jenar saat ini. Keterangan; A. Lokasi bangunan pabrik gula ; B. Kompleks perumahan pegawai pabrik.
Lokasi dimana bangunan pabrik gula Jenar pernah bediri sekarang menjadi area kebun warga dengan beraneka ragam tanaman. Karena banyak pepohonan, kebun ini terasa gelap, lembab dan suasana cukup sepi. Kontras sekali dengan suasana ketika PG Jenar masih berdiri dimana kita mungkin bisa membayangkan dengungan suara-suara mesin pabrik yang berisik. Menurut warga lokal yang saya temui, bangunan pabrik ini sudah lama dibongkar, kira-kira sebelum penjajah Jepang masuk.
Sisa struktur beton di tengah rimbunnya kebun.
Bekas pondasi yang diduga merupakan kolam pembuangan limbah.
Struktur pondasi beton di tengah sawah.
Struktur pondasi dari sebuah platform dari baja.
Bekas pondasi yang cukup besar.
Bekas pondasi dari sebuah dinding yang sekarang menjadi pematang sawah.
Bagian yang diperkirakan menjadi lokasi cerobong pabrik.
Meskipun bangunan pabrik gula sudah tidak bisa dikenali, tapi jika telaten mengeksplorasi, kita dapat menemukan sebagian struktur bangunan dinding. Misalnya terdapat sebuah pondasi di tengah-tengah kebun, lalu tembok kolam air berbentuk persegi yang diperkirakan sebagai kolam pembuangan. Kemudian di tengah pematang sawah yang berlumpur juga terdapat beberapa pondasi dari beton seperti bekas pondasi stasiun gilingan. Ada pula pondasi dinding yang sudah menjadi jalan pematang sawah. Karena sebagian besar sisa-sisa pondasi PG Jenar berada di tengah persawahan, maka disarankan untuk mengeksplorasi PG Jenar setelah musim panen sehingga tidak perlu berlumpur-lumpur ria dan pondasi terlihat lebih jelas karena tidak tertutup oleh tanaman padi.
Bekas jalan lori menuju emplasemen lori.
Sungguh sulit dipahami bagaimana bangunan pabrik gula yang dahulu berdiri megah, kini sudah melebur bersama tanah, menjadi pekarangan dan persawahan warga sekitar. Tapi itulah kenyataanya. Imajinasi liar dari memori foto lama dan puing-puing yang tersisa tinggal menjadi satu-satunya cara untuk mengenang era keemasan PG ini, yang asapnya dahulu pernah mengepul di langit Purworejo.
Satu-satunya bangunan rumah dinas PG Jenar yang masih tersisa.
Namun apakah hanya itu saja yang tersisa dari PG Jenar ? Tentu saja tidak. Di sekitar PG Jenar, tepatnya di pinggir jalan masuk pabrik dari arah Jalan Jogja, terdapat sebuah rumah tua yang dari bentuk dan ukurannya jelas tidak dibangun pada masa sekarang. Halaman depannya cukup luas dengan pepohonan yang cukup rindang. Di puncak atap terdapat hiasan pion yang menjadi ciri khas rumah peninggalan Belanda. Saya beruntung bisa berkenalan dengan keluarga pemilik rumah yang ramah meski sudah memasuki usia senja. Rumah ini sendiri dibeli oleh Raden Tjokropawiro, kakek pemilik rumah pada tahun 1941 dari seorang Johannes Cornelis Suzenaar yang namanya sudah disebutkan di atas. Sebelum membeli rumah ini, Raden Tjokropawiro merupakan pegawai tambang emas di Redjang-Lebong, Bengkulu. Karena rumah ini sudah dibeli oleh orang, maka nasib rumah ini setidaknya bisa diselamatkan. Bandingkan dengan rumah-rumah dinas PG Jenar lainnya yang sudah terlanjru dibongkar dan nyaris tak berbekas selain pondasi-pondasi bata dan beton di tengah sawah.
Hiasan kaca patri di ruang tamu,
Rekonstruksi rumah kopel.
Arsitektur rumah ini sendiri tidak begitu mencolok, tapi masih terlihat sedap dipandang. Oleh karena itulah remaja sekitar biasanya sering berfoto ria di depan rumah ini. Bagian beranda depan sudah ditutup untuk tambahan ruang tamu. Dari ruang tamu terdapat ruang tengah dan ruang tidur yang memiliki langit-langit yang tinggi layaknya rumah dari zaman Belanda. Di samping rumah terdapat bangunan tambahan untuk garasi dan kamar tambahan. Aslinya rumah ini memiliki rumah kembaran di sebelahnya, yang dindingnya masih saling menempel. Namun kembaran rumah ini terlanjur dibongkar warga. Ya, semoga saja ruma tadi bisa dilestarikan karena hanya inilah satu-satunya warisan sejarah PG Jenar yang dapat kita nikmati saat ini.
Bekas railbed kereta besar dari arah Stasiun Jenar.
Pondasi jembatan di railbed.
Kemudian masih adakah sisa-sisa PG Jenar lainnya ? Ada. Tapi kita harus menyusurinya satu persatu. Sisa yang pertama ialah bekas railbed atau gundukan tanah untuk jalur kereta masuk ke pabrik yang terlihat jelas dari jalur kereta Kutoarjo-Yogyakarta. Adanya railbed ini menunjukan bahwa transportasi pengangkutan gula PG Jenar sudah terintegrasi dengan baik. Kereta yang hendak mengangkut gula tinggal mengikuti jalur yang sudah ada. Di gundukan tanah yang terlihat melengkung jika dilihat dari atas, kita bisa menemukan sisa pondasi jembatan kereta.
Jembatan tua di desa Pulutan, Ngombol.
Prasasti pada pagar jembatan.
Selanjutnya di Desa Pulutan, Ngombol terdapat sebuah jembatan tua kecil. Pada salah satu sisi jembatan, terdapat prasasti berbahasa Belanda yang berbunyi “ K.W. POELOETAN UITGEVORD DOOR DE SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925“. Jika diartikan, jembatan tersebut didirikan oleh perusahaan perkebunan gula Purworejo pada tahun 1925.
Bekas jembatan lori di belakang gardu induk Banyuurip. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai jembatan bolong telu ( lubang tiga ) karena jembatan ini memiliki tiga plengkungan ( yang hanya nampak satu saja di foto ).
Bekas jembatan lori di tepi Kali Kedungputri yang tinggal satu sisi saja.
Ketika masih aktif, PG Jenar memiliki jaringan lori tebu yang sangat luas. Panjang jaringan mencapai 184 kilometer. Untuk mendukung jaringan lori yang sangat luas itu, PG Jenar memiliki armada lokomotif uap sebanyak 17 buah dan 1216 lori tebu.  Cukup sulit untuk menelusuri sejauh mana jaringan lori tersebut tersebar mengingat tiadanya data berupa peta jaringan lori. Namun diperkirakan jaringan lori PG Jenar mencapai hampir setengah wilayah kabupaten Purworejo. Untungnya, sebagian bukti-bukti fisik jalur lori tersebut dapat dilihat di beberapa desa di Purworejo. Misalnya jembatan lori di belakang gardu induk Banyuurip dan jembatan lori di tepi Kali Kedungputri, di area persawahan Kelurahan Pangen.

Demikianlah penelusuran mengenai sisa-sisa dari PG Jenar. Meskipun awalnya terlihat sedikit, namun apabila kita telusuri kembali satu persatu, ternyata masih banyak juga peninggalan yang tersisa dari PG Jenar, satu-satunya PG yang pernah berdiri di Purworejo dan PG terbesar di Karesidenan Kedu. Semoga penanda yang masih terlihat bisa dilestarikan sehingga generasi Purworejo sekaran dan di masa depan nanti dapat mengetahui bahwa di wilayahnya pernah berdiri sebuah pabrik gula… 

Referensi
Anonim. 1914. Lijst van Ondernemingen van Nederlandsch Indie. Batavia : Landsdrukkerij

http://bloggerpurworejo.com/2011/05/pabrik-gula-jenar/