Senin, 31 Juli 2017

Benteng Klingker, Si Benteng Bundar dari Nusakambangan

Mendengar nama Pulau Nusakambangan yang berada di Cilacap, barangkali kita akan membayangkan sebuah pulau yang memiliki penjara untuk narapidana kelas berat. Dengan pengamanan ketat dan tempatnya yang terisolir, mustahil bagi para narapidana untuk kabur dari tempat itu. Di balik kegaharannya sebagai pulau penjara, Pulau Nusakambangan juga menyimpan peninggalan sejarah berupa benteng peninggalan Belanda. Bagaimana kisahnya ?
Lokasi Benteng Klingker. Dalam peta Cilacap tahun 1944, Benteng Klingker masih bernama Fort Banjoenjapa ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Debur ombak mengguncang perahu yang baru saja bertolak dari Pantai Teluk Penyu. Di perahu itu bersama dengan saya adalah rombongan Komunitas Banjoemas Heritage yang baru saja menyambangi Benteng Pendem Cilacap. Ya, saat itu saya sedang mengikuti acara jelajah di Cilacap yang diselenggarakan oleh Komunitas Banjoemas Heritage. Acara jelajah dibuka dengan kunjungan ke Kerkhof Cilacap dan dilanjutkan ke Benteng Pendem. Masih belum puas, kamipun akhirnya menyeberang ke Pulau Nusakambangan.
Tampak luar benteng Klingker.
Pulau Nusakambangan, pulau yang hendak saya tuju dari dulu sudah dikenal sebagai pulau bui. Disadur dari artikel di laman tirto.id berjudul Balada Pulau Penjara Nusakambangan, pulau ini di masa silam masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang karena tidak terjamah oleh jalur pelayaran. Persinggungan Nusakambangan dengan peradaban baru dimulai pada masa kolonial Belanda. Saat itu, Belanda masih mengabaikan keberadaan pulai ini. Namun begitu tersiar kabar ada kapal berbendara Inggris yang mendarat di Nusakambangan, gusarlah VOC. Sebagai tindak lanjut, mereka mengirim tim penjelajah yang dipimpin Paulusz. Ia kemudian membuat laporan bahwa pulau itu cocok untuk dibangun benteng walau VOC tidak sempat membangun benteng di sana. Tahun 1836, barulah Belanda mendirikan benteng di sana yang sekarang dikenal sebagai Benteng Klingker. Saat itu, perairan Nusakambangan menjadi tempat berkeliaraanya para perompak dari Bali, Bugis, dan Timor. Untuk pembangunannya, Belanda mempekerjakan para narapidana. Keberadaan Benteng Klingker, membuat para perompak gentar dan aktivitas perompakan di sana pun berkurang. Selain Benteng Klingker, Belanda juga mendirikan benteng lain di ujung timur pulau. Tahun 1850, merebak wabah malaria di Nusakambangan. Serdadu di Nusakambangan kemudian dipindah ke Benteng Pendem yang ada di daratan Cilacap. Sejak 1908, Belanda mengkonversi pulau itu menjadi pulau bui dan juga sebagai cagar alam. Hingga sekarang, Nusakambangan masih kondang sebagai pulau para pesakitan dengan hotel prodeonya yang memiliki tingkat pengamanan tinggi ( https://tirto.id/balada-pulau-penjara-nusakambangan-dari-amangkurat-hingga-teroris-cKgf )
Bekas tangga ke lantai dua.
Perahu akhirnya menepi di tepi pantai yang sepi. Dari pantai, kami berjalan menyusuri jalan tanah yang dipenuhi pecahan batu karang. Di ujung jalan ini, terlihat sebuah pohon besar yang akarnya menutupi sebuah bangunan kuno dari bata. Bangunan kuno itu tak lain adalah Benteng Klingker. Kala memandang benteng itu untuk pertama kalinya, rasa iba terbit di hati saya. Benteng itu tampak berdiri sebatang kara di tengah rimba Nusakambangan yang liar. Akar tanaman tumbuh di sekujur dindingnya yang tersusun dari batu bata, membuat benteng itu nyaris ditelan oleh alam. Namun hal itulah yang membuat benteng ini tampak eksotis di mata saya.

Struktur kolom besar di tengah benteng.
Benteng Klingker, demikianlah masyarakat sekitar menamakan benteng ini. Nama itu ia dapatkan dari bentuknya yang seperti lingkaran. Cukup unik mengingat kebanyakan benteng-benteng yang pernah saya sambangi berbentuk persegi. Benteng berbentuk lingkaran dalam istilah ilmu perbentengan disebut Martello Tower. Istilah Martello Tower diambil dari nama sebuah benteng yang terletak di Mortella ( Martello ) Point di Corsica, Perancis. Sewaktu Inggris menyerbu Pulau Corsica pada Revolusi Perancis, mereka gagal merebut benteng yang hanya dipertahankan oleh 38 orang tadi. Terkesan dengan keunggulan benteng tersebut, Inggris kemudian membangun benteng serupa di sepanjang pantainya mengingat Inggris adalah negara pulau yang rentan diserang dari laut ( Abrianto, 2008 ; 118 ). Selain Inggris, benteng Martello Tower juga terdapat di Australia, Kanada, Afrika Selatan, Saint Helena, Bermuda, Sri Lanka, dan Indonesia. Selain Benteng Klingker, benteng jenis Martello Tower juga terdapat di Pulau Cipir, Kepulauan Seribu.

Bentuk melengkung yang menopang konstruksi benteng.
Dinding Benteng Klingker tersusun dari batu-bata merah. Karena pada saat itu belum ada teknologi tulang besi, maka konstruksi dinding benteng hanya bertumpu pada tembok benteng yang tebal. Agar beban yang disangga tak terlalu berat, maka bagian langit-langit dibuat melengkung. Karena faktor usia dan tak ada upaya perawatan, beberapa bagian dinding benteng akhirnya runtuh.
Prince of Wales Tower di Kanada, contoh benteng jenis Martello Tower yang masih terawat baik.

Pembagian ruangan dalam benteng jenis Martello Tower ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Seperti apa wujud Benteng Klingker di masa lampau ? Benteng ini tampaknya memiliki tiga tingkat dan setiap tingkat dihubungkan oleh tangga yang terbuat dari kayu. Karena tiada arsip atau catatan sejarah yang menerangkan penggunaan benteng ini, wujud Benteng Klingker saya reka dari bentuk benteng jenis Martello Tower secara umum. Pada dasarnya, benteng Martello Tower adalah sebuah menara pertahanan yang di dalamnya terdapat ruang tidur, gudang makanan dan amunisi, serta sumur air. Pada puncak menara, terdapat ruang tembak terbuka yang diperkuat dengan meriam. Karena bentuknya yang melingkar, maka meriam dapat diarahkan ke segala penjuru. Inilah keunggulan benteng Martello Tower dibanding benteng biasa yang sudut tembak meriamnya terbatas.
Pintu masuk ke bangunan pengintai.
Tak jauh dari benteng, terdapat sebuah tangga yang menjurus ke ruang bawah tanah. Di ruangan itu, terdapat sebuah jendela kecil yang sudah tertutup tanah. Jika ditarik, lubang itu akan mengarah ke perairan Cilacap. Boleh jadi ruangan ini dulu dipakai sebagai tempat pengintaian. Saya tak berlama-lama di situ karena keadaan ruangan terasa lembab dan gelap.

Benteng Klingker ternyata bukan satu-satunya benteng peninggalan kolonial di Nusakambangan. Di ujung timur pulau Nusakambangan, Benteng Karangbolong dengan keunikannya yang tak ditemukan di tempat lain sedang menunggu untuk dijelajahi…..

Referensi
Abbas, Novida. 1996. “ Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad XVII-XIX di Jawa Tengah “ dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04-TH II/1996.

Oktaviadi, Abrianto. 2008. “ Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Setelah Abad ke-20 Masehi “ dalam Yulianto,Kresno. Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.


Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

https://en.wikipedia.org/wiki/Martello_tower


https://tirto.id/balada-pulau-penjara-nusakambangan-dari-amangkurat-hingga-teroris-cKgf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar