Rabu, 19 Juli 2017

Gedung Volksschouwburg Sobokartti, Gedung Teater Citarasa Jawa

Kota Semarang menyimpan banyak sekali gedung yang menjadi Cagar Budaya selain gedung Lawangsewu dan gedung-gedung di Kota Lama Semarang. Salah  satu gedung Cagar Budaya di Semarang yang sayangnya banyak dilewatkan orang adalah Gedung Volkstheater Sobokartti. Berbeda dengan bangunan kolonial lain di Semarang yang bergaya Barat, bangunan ini justru terlihat sangat njawani. Seperti apa keunikan dan cerita dibaliknya ?

Berawal dari Perkumpulan Kesenian
Gagasan mendirikan Gedung Sobokartti berawal dari kesadaran-kesadaran baru yang timbul di Keraton-keraton Jawa. Salah satu bentuk kesadaran baru itu ialah demokratisasi kesenian. Sebelumnya, beberapa pertunjukan kesenian hanya bisa ditampilkan ekskelusif di dalam tembok keraton saja dan merupakan pantangan bagi orang biasa untuk melihat dan mempelajarinya. Akhirnya pada tahun 1918, dibentuklah perkumpulan Kridha Beksa Wirama di Yogyakarta yang mengijinkan kesenian yang semula ekslusif itu untuk diajarkan dan digelar di luar dinding keraton.
K.G.P.A.A. Mangkunegara VII, pendiri sekaligus pendukung perkumupulan seni Sobokartti ( Sumber : commons.wikipedia.org ).
Thomas Karsten dan keluarga. Thomas Karsten merupakan salah satu perintis yang membentuk perkumpulan seni Sobokartti ( Sumber : sobokartti.wordpress.com ).
Di Semarang pada tanggal 6 September 1929 dibentuk sebuah perkumpulan kesenian bernama Sabhakirti atau Sobokartti atau Kunstvereenging Sobokartti. Perkumpulan ini dibentuk oleh beberapa orang, antara lain Walikota/burgemeester Semarang yaitu Ir de Jonghe, Bupati Semarang RMAA Purbaningrat, Keraton Surakarta yang diwakili oleh GPH Kusumayudha, serta pemimpin surat kabar De Locomotief. Tujuan dibentuknya Kunstvereenging Sobokartti ialah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian bangsanya sendiri.
Berita pembukaan gedung Sobokarti pada koran Algemeen Handelsblad tanggal 13 Ontober 1931. 
Maket rancangan awal gedung Sobokartti ( Sumber : http://www.kompasiana.com/purwanti_asih_anna_levi/gedung-sobokartti-tonggak-demokratisasi-seni_54f3640c745513972b6c7371 ).
Masa awal dibentuk Sobokartti, kegiatan-kegiatan masih menumpang di gedung paseban Kabupaten Semarang dan di Stadstuin. Baru pada tahun 1930, perkumpulan Sobokartti berhasil mendirikan sebuah gedung permanen sebagai tempat dimana mereka nantinya bisa melatih dan menampilkan kesenian Jawa. Gedung itu sendiri dirancang oleh Ir, Thomas Karsten dengan memadukan arsitektur gedung teater barat dengan arsitektur tradisional Jawa. Awalnya gedung ini akan dirancang dalam ukuran cukup besar, namun karena keterbatasan dana akhirnya gedung yang terwujud lebih kecil seperti yang terlihat sekarang.


Gedung Sobokartti yang terlihat lebih tinggi daripada sekarang. Karena sering diterjang banjir rob, maka tanah di sekitar Sobokartti akhirnya ditinggikan meskipun gedung Sobokartti sampai sekarang masih tergenang banjir rob. ( Sumber http://arsip.tembi.net/sites/default/files/styles/large/public/field/image/2015/09/1_16.jpg?itok=dv4hzdLO )
Sayangnya, kegiatan kesenian di Sobokartti sempat terhenti pada masa penjajahan Jepang. Oleh militer Jepang, gedung Sobokartti diduduki dan difunsikan sebagai markas. Pada Pertempuran 5 Hari, para pemuda pemberani berusaha melucuti senjata dari tentara Jepang. Dua belas pemuda gugur dan sampai tahun 1960 mereka dimakamkan di halaman gedung ini. Setelah penjajahan Jepang, kegiatan kesenian di Sobokarti dapat dipulihkan seperti semula.


Gedung Teater ala Jawa



Jangan membayangkan Gedung teater Sobokartti sebagai sebuah gedung teater bergaya barat yang mewah dan besar. Tidak! Meskipun merupakan sebuah gedung teater, namun wujud luar gedung ini justru lebih mengingatkan kita pada rumah tradisional Jawa. Selain itu, sekalipun gedung ini berada di pinggir jalan DR.Cipto yang ramai, namun tidak sedikit orang yang terkecoh ketika mencari gedung ini. Penyebabnya ialah orientasi gedung ini yang tidak menghadap ke arah jalan, melainkan menghadap ke selatan. Padahal jalan DR.Cipto merupakan jalan satu arah dari arah utara.
Tampak depan gedung Sobokartti.
Lalu mengapa gedung teater ini dirancang dalam gaya tradisional Jawa? Untuk mengetahuinya, kita harus mempelajari sejarah arsitektur di Indonesia pada paruh pertama abad ke 20. Masa ini ditandai dengan kedatangan arsitek profesional yang mendapatkan pendidikan ilmu arsitektur dari Belanda. Pada masa itu, para arsitek berusaha untuk mencari jatidiri bentuk arsitektur Hindia-Belanda yang baru setelah jenuh dengan gaya arsitektur klasik Eropa. Salah satu bentuk usaha pencarian jatidiri tersebut ialah dengan memadupadankan arsitektur Eropa modern dengan aristektur vernacular Nusantara yang disesuaikan dengan iklim, bahan bangunan, serta teknologi yang sedang berkembang. Proses ini menyebabkan terciptalah gaya arsitektur “Indo-European Style”. Nama-nama yang terkenal sebagai pelopor gaya arsitektur ini antara lain Henri Maclaine Pont dan Thomas Karsten ( Handinoto, 2012; 88-89 ). Sebagai pelopor gaya arsitektur “Indo-European Style” dan penggemar budaya Jawa, tentu saja Karsten tidak akan menciptakan sebuah gedung teater bergaya barat untuk pertunjukan kesenian Jawa. Pertunjukan kesenian Jawa idealnya juga harus ditampilkan dalam bangunan bergaya Jawa. Namun selama ini, pementasan kesenian tradisional Jawa diadakan di pendopo yang ke tengah semakin tinggi, sehingga penonton di belakang akan terhalang oleh penonton di depannya. Solusi cerdas Karsten untuk permasalahan ini dapat kita lihat nanti ketika memasuki bagian dalam gedung.
Bagian ruang depan.
Loket karcis.
Pintu masuk berbentuk seperti gerbang paduraksa.
Bagian depan Gedung Sobokartti merupakan ruang penerima yang mengingatkan kita pada beranda depan sebuah rumah tradisional Jawa. Ruang penerima ini berfungsi sebagai hall sebelum memasuki ruang pertunjukan. Di antara dua pintu masuk utama, terdapat ruang penjualan tiket dengan tiga loket dari kayu. Pintu masuknya tampil elegan dengan gaya khas Nusantara dengan bentuk seperti gerbang masuk pada sebuah candi.
Tiang-tiang soko guru dan bukaan atap sebagai sumber penghawaan dan pencahayaan dalam ruangan.
Panggung penampilan.
Memasuki ruang pertunjukan kita dibuat terkesan dengan keangguan interior bagian dalam yang menyerupai sebuah rumah Jawa. Tiang sokoguru sebagai salah satu elemen utama konstruksi bangunan tradisional Jawa menopang atap utama bangunan ini. Untuk memberikan penerangan dan penghawaan secara natural, maka seluruh sisi dinding ( kecuali sisi utara ) dan atap bangunan diberi bukaan lebar.
Dekorasi ventilasi. 
Meskipun bangunan ini sudah berusia lebih dari 80 tahun, namun bangunan masih tampak utuh dan kokoh. Ini menujukan bahwa dalam pembangunan gedung ini di masa lalu tidak hanya menekankan pada aspek keindahan ornamentasi semata, namun juga pada ketelitian perhitungan. Hanya bangunan yang dibuat dengan perhitungan yang benar dan jujur saja yang dapat berdiri lama seperti gedung Sobokartti ini.
Tempat duduk penonton yang semakin meninggi ke belakang.
Ruang kontrol dan panggung kecil yang terdapat di sebelah selatan.
Ketika diminta merancang sebuah gedung pertunjukan untuk kesenian Jawa, Thomas Karsten memikirkan bagaimana caranya agar seluruh penonton dapat menikmati pertunjukan. Solusi cerdas yang digunakan Karsten ialah dengan menggunakan konsep gedung teater ala Eropa. Akar konsep ini dapat ditelusuri pada zaman Yunani Kuno, ditandai dengan posisi tempat duduk yang semakin belakang  semakin meninggi. Pengaturan ini menyebabkan penonton di belakang dapat melihat pertunjukan tanpa terhalang penonton di bagian depan. Di gedung Sobokartti, konsep ini dapat kita lihat pada posisi tempat duduk penonton yang semakin meninggi ke belakang. Sementara itu bagian tengah gedung merupakan stage tempat pentas para pemain sebagai obyek utama tontonan. Berdasar denah yang ada, gedung Sobokartti termasuk gedung teater tipe thrust stage.
Pintu masuk ke bagian ruang pemain dengan bentuk seperti gerbang paduraksa, menambah kesan tradisional pada gedung Sobokartti.
Lambang perkumpulan Sobokartti Semarang.
Di sebelah utara, terdapat dinding yang memisahkan ruang pertunjukan dengan ruang pemain. Dinding ini didesain menyerupai seperti gerbang paduraksa yang dapat ditemukan pada keraton-keraton Jawa. Di atas gerbang terdapat potret  Pangeran Prangwadana ( kelak menjadi Mangkunegara VII ) dan Ir. Thomas Karsten, dua sosok yang berperan penting dalam Volkskunstvereeneging Sobokartti. Di balik dinding ini, terdapat ruang pemain, tempat dimana para pemain menyiapkan diri sebelum pentas.
Kegiatan pentas seni yang sering dipentaskan di gedung Sobokartti ( Sumber : sobokartti.wordpress.com ).
Ketika saya berkunjung ke gedung ini, suasana gedung terlihat sepi karena pada hari itu sedang tidak ada kegiatan. Ada beberapa kegiatan yang sering diadakan di sini, mulai dari latihan tari, karawitan, pedhalangan, pranatacara, dan membatik. Jika datang di waktu yang tepat, kita bisa menyaksikan anak-anak yang sedang berlatih tari sambil diiringi suara gamelan. Beberapa di antaranya masih satu keturunan dengan para pemain yang puluhan tahun silam tampil di Gedung Sobokartti. Mereka-pemain yang dahulu tampil di Sobokartti-tinggal di perkampungan dekat gedung ini. Yah, mungkin para pemainnya sudah beda generasi, namun setidaknya saya dapat membayangkan suara gamelan yang ditabuh adalah suara yang sama dengan yang ditabuh puluhan tahun silam di ruang yang sama. Semoga irama tersebut senantiasa mengisi gedung ini sebagai simbol pelestarian budaya Jawa yang adiluhung di tengah masifnya gempuran budaya modern.


Referensi
Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta; Penerbit Graha Ilmu.

Tim Penyusun. 2014. Yang Tersisa dari Kolonial. Klaten; Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

sobokartti.wordpress.com

4 komentar:

  1. di blognya gak ada sumber yang jelas asal muasal foto lama nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua foto yang tidak saya cantumkan sumbernya merupakan dokumentasi pribadi saya. Terima kasih

      Hapus
  2. Hallo mas, saya sedang menulis skripsi tentang sobokartti dengan tujuan untuk menyebar luaskan gedung kesenian sobokartti yang berada di Semarang. apa mas punya data" yang kiranya bisa membantu saya mas ? Terima kasih sebelum nya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Referensi di akhir tulisan sekiranya dapat membantu. Terima kasih.

      Hapus