Rabu, 19 Juli 2017

Menziarahi Karya Karsten; Dari Pasar, Kantor, Gedung Pertunjukan hingga Museum

Dalam belantika sejarah arsitektur Indonesia, nama Thomas Karsten termasuk nama yang populer. Beragam karyanya masih berdiri megah pada beberapa kota di Indonesia, utamanya di Semarang. Dalam kesempatan kali ini, saya mengajak anda untuk menziarahi karya Karsten, menelisik seluk beluk sejarahnya, dan memahami pandangan Karsten mengenai jatidiri arsitektur Indonesia. Adapun karya yang akan diangkat pada tulisan ini meliputi gedung pasar, kantor, gedung pertunjukan, hingga museum.
Keluarga Karsten pada tahun 1930an ( sumber : Semarang Beeld van een Stad ).
1914 adalah tahun ketika Karsten menjejakan kakinya ke Hindia-Belanda. Dengan mengantongi ijazah arsitektur dari kampus Technische Hoogeschool Delf, arsitek kelahiran Amsterdam, 22 April 1884 itu mengikuti ajakan seniornya, Henri Maclaine Pont yang memiliki biro arsitek di Hindia-Belanda. Di sinilah Karsten meniti karirnya hingga ia menjadi arsitek yang cemerlang dalam semester arsitektur kolonial. Kecermelangannya diakui oleh banyak orang karena ia mampu hidup di dua alam pikir, yakni alam barat modern dan alam Jawa tradisional. Alam pikirnya dituangkan dalam wujud karyanya yang dapat menyesuaikan arsitektur modern dengan kondisi alam setempat ( Brommer, 1995 ; 27 ).
Pasar Johar sesaat diresmikan ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Karya karsten yang paling dikenang banyak orang tentu saja adalah pasar Johar. Membicarakan Pasar Johar seolah tak lepas dari sosok Karsten karena ialah sosok utama yang membentuk rupa Pasar Johar seperti sekarang. Menengok asal-usul pasar ini ke belakang, maka kembalilah ke waktu yang lebih belakang, yakni tahun 1860, ketika Pasar Johar masih merupakan bagian dari alun-alun Semarang. Di tepi alun-alun itu, tumbuh pohon-pohon Johar atau mahoni yang memberi keteduhan bagi orang yang ada di bawahnya. Di dekat alun-alun itu, dulu pernah ada sebuah penjara dan sanak keluarga yang hendak menejenguk saudaranya yang dibui biasanya berteduh di bawah pohon johar itu. Lantaran tempat itu dekat dengan pasar terbesar waktu itu, Pasar Pedamaran, maka lambat laun tempat itupun tumbuh menjadi pasar. Karena para pedagang berjualan di bawah pohon-pohon Johar, maka pasar itu dikenal dengan nama Pasar Johar. Pada 1890, pasar itu pun kian ramai dan geliatnya mampu menyaingi Pasar Pedamaran yang sudah lama ada. Tahun 1898, sudah ada 240 pedagang yang menjual barang-barang seperti mangkuk, piring, kain, barang kelontong, barang besi, dan sebagainya.( Liem, 1931 ; 176-177 ).
Gambar teknis potongan Pasar Johar ( sumber : Locale Techniek ).


Tiang-tiang cendawan yang menopang konstruksi Psar Johar.
Memasuki tahun 1930an, pemerintah kotapraja Semarang mencetuskan gagasan untuk mendirikan sebuah Pasar Centraal dengan bangunan pasar bergaya modern. Pasar Centraal ini nantinya akan menggantikan peran pasar Johar, Pedamaran, Beteng, Jurnatan, dan Pekojan. Untuk mempersiapkan proyek ini, pemerintah kota Semarang membongkar los-los Pasar Johar dan Pedamaran dan karena masih dirasa sempit, bangunan lain di sekitar alun-alun seperti penjara, beberapa toko, dan sebagian pekarangan rumah bupati dan alun-alun juga turut dibongkar. Ir. Thomas Karsten kemudian didapuk pemerintah kotapraja untuk membikinkan rancangan bangunan Pasar Centraal. Karena bangunan itu berada di pusat kota yang hargan tanahnya mahal, sebisa mungkin ia mendayagunakan lahan yang tersedia. Karsten pun sengaja memilih beton sebagai materialnya agar pasar itu senantiasa bersih, tangguh, dan mampu bertahan dari ancaman kebakaran ( Karten, 1938 ;66 ).
Suasana Pasar Johar di masa kolonial ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Sepanjang tahun 1920an dan 1930an, yakni saat gedung Pasar Johar sedang dirancang Karsten, banyak arsitek yang terpengaruh oleh gerakan modernisme. Gerakan ini berjalan seiring dengan penemuan teknologi dan penggunaan bahan bangunan baru sehingga memberi kelelusaan bagi arsitek untuk menciptakan bentuk bangunan baru yang lebih lentur. Salah satu arsitek ternama dari gerakan modernisme adalah Frank Llyold Wright. Salah satu karya Wright yang termahsyur adalah gedung markas Johnson Wax di Wisconsin, Amerika Serikat, yang dibangun tahun 1936. Bagian dalam gedung ini tersusun dari tiang-tiang berbentuk cendawan untuk menciptakan kesan lentur. Karya Wright ini tampaknya memberi ilham bagi Karsten dalam merancang gedung Pasar Johar sehingga bangunan Pasar Johar pun didirikan dengan banyak tiang berbentuk cendawan untuk memantapkan bangunan pasar. Berbeda dengan tiang cendawan bikinan Wright yang berbentuk melingkar lurus, Karsten menghadirkan tiang cendawannya dalam bentuk segi banyak. Tiang-tiang cendawan ini menyangga atap datar dari beton yang memiliki bukaan berbentuk segi delapan sebagai sumber udara dan pencahayaan alami. Dengan bukaan ini, maka pemakaian energi yang dipakai untuk penerangan dan udara dapat dikurangi. Saat pasar ini tuntas dibangun, pasar ini adalah pasar paling besar dan modern di Asia Tenggara.
Lubang atap sumber pencahayaan dan udara alami.
Bagian lantai dua Pasar Johar.
Sekian tahun lamanya Pasar Johar menjadi kawasan perdagangan terbesar di kota Semarang dengan komoditinya yang lengkap. Di bawah tiang-tian cendawan rancangan Karsten, berkumpulah segenap orang-orang dari berbagai penjuru, mengais rezeki dengan berdagang agar dapat menyambung hidup. Namun malang tak dapat dihindarkan ketika si jago merah melalap pasar itu pada 10 Mei 2015. Usaha yang dibesarkan selama bertahun-tahun, hangus menjadi abu dalam semalam saja. Perasaan pedih yang dirasakan para pedagang tentunya dirasakan Karsten di alam sana manakala melihat pasar yang ia rancang, kini berdiri dalam kesunyian panjang, bergumul dengan abu hitam yang bisu…

Gedung Zuustermaatshappijen yang sekarang menjadi kantor DAOP IV Semarang.
Karya Karsten lain yang menujukan kemahirannya sebagai arsitek adalah kantor perusahaan Zustermaatschappijen yang dibangun tahun 1930. Zustermaatschappijen sendiri adalah perusahaan patungan antara beberapa perusahaan trem uap swasta seperti Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij, Semarang-Cheribon  Stoomtram Maatschappij, Serajoedaal Stoomtram Maatschappij, dan Oost-Java Stoomtram Maatschppij. Tidak seperti umumnya bangunan Belanda yang diletakan di jalan-jalan besar strategis, gedung yang saat ini menjadi kantor DAOP IV Semarang ini berada di tempat yang tidak terlalu strategis, sehingga dengan leluasa Karsten dapat menciptakan sebuah gedung dengan halaman yang luas di sisi-sisinya. Tampak luar gedung yang terletak di jalan M.H. Thamarin, Semarang ini begitu ringkas dan minim pernak-pernik. Gedung ini dikelilingi oleh tiang kotak yang terbuat dari beton. Tiang-tiang ini menopang atap emperan datar yang juga terbuat dari beton. Sementara bagian ris tiang-tiang ini ditutup dengan ubin dan teraso ( Sumalyo, 2002; 122 ).
Denah kantor yang dibuat Karsten.
Denah dasar gedung ini mirip dengan rumah tradisional orang Jawa, Joglo, dimana tiang-tiang yang tinggi menopang atap dua susun yang memungkinkan pertukaran udara dari lubang atap. Penghawaan di dalam ruang juga didukung dengan keberadaan ventilasi berbentuk lingkaran. Pada denah buatan Karsten yang dimuat pada Locale Techniek edisi Maret 1938, terlihat bahwa pengaturan denah gedung ini dilakukan secara cermat sehingga ukuran lantai dasar cocok dengan ubin. Bagian ruang tengah yang paling luas dan lebar diperuntukan bagi pegawai menengah dan di keempat sisinya terdapat kamar-kamar untuk pegawai yang lebih tinggi pangkatnya ( Karsten, 61; 1938 ).
Lorongdi bagian dalam.
Suasana kantor di masa kolonial ( sumber : Locale Techniek ).
Bersinggungan sekian lama dengan alam dan budaya Jawa membuat ia tertarik untuk memasukan unsur budaya Jawa dalam karyanya. Persinggungan ini mungkin bermula sejak ia menikah dengan perempuan Jawa bernama Soembinah Mangoenredjo pada 1921. Ketertarikannya pada budaya Jawa juga barangkali dipengaruhi oleh seniornya, Henri Maclaine Pont yang bersama dengan Karsten menjadi bidan kelahiran arsitektur Indo-Eropa. Bagi kedua arsitek itu, biarlah Jawa menjadi Jawa. Tak perlulah bangunan berlanggam Eropa ditaruh di alam yang masyarakatnya telah memiliki identitas kuat seperti Jawa. Berdua, mereka berusaha mendobrak pakem arsitek Belanda yang secara mentah membawa arsitektur modern ke Hindia-Belanda dengan membuat bangunan yang citarasa nusantaranya lebih kental seperti gedung ITB Bandung dan Gereja Pohsarang Kediri, gedung Sobokartti Semarang dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Namun gagasan itu ditentang oleh arsitek lain, C.P. Wolff Schoemaker. ( Handinoto, 2012; 89 )Alhasil, timbul perdebatan yakni seperti apa sejatinya identitas arsitektur Hindia-Belanda itu ? Jawaban yang tentunya tak akan saya ulas pada tulisan ini karena itu sudah menjadi pokok bahasan lain.
Gedung Sobokartti.
Salah satu gagasan luhur Karsten memadukan unsur budaya Jawa dengan arsitektur modern dituangkan dalam wujud gedung pertunjukan Sobokartti. Gedung pertunjukan ini terbangun berkat peran dari perkumpulan kesenian Sobokartti atau Kuntsvereeniging Sobokartti yang dibentuk tanggal 9 Desember 1929. Pembentukan Kuntsvereeniging Sobokartti diprakarsai oleh walikota Semarang, Ir De Jonghe, bupati Semarang RMAA Purbadiningrat, GPH Kusumayuda sebagai perwakilan dari Keraton Surakarta, dan direktur surat kabar De Locomotief. Tujuan perkumpulan ini dibentuk ialah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap keseniannya sendiri. Pada saat itu, beberapa kesenian, utamanya seni tari hanya eksklusif untuk dipelajari dan dipentaskan kalangan dalam keraton. Setelah dibentuknya perkumpulan ini, tarian yang semula hanya dapat dinikmati di dalam kungkungan tembok tebal keraton, kini dapat ditampilkan di hadapan khalayak umum. Sebelum gedung Sobokartti didirikan, kegiatan perkumpulan ini dilaksanakan di rumah bupati atau Balaikota.
Bagian depan gedung Sobokartti.

Pintu masuk ke ruang pertunjukan.
Pada tahun 1930, perkumpulan Sobokartti meminta Karsten untuk merancang sebuah gedung pertunjukan. Barangkali karena pertunjukan kesenian Jawa idealnya juga dipentaskan di gedung bergaya Jawa, maka Karsten berpikir untuk mencoba membuat sebuah bangunan jenis pendopo yang dapat mewadahi fungsi sebagai gedung pertunjukan rakyat. Dari luar, bangunan itu nantinya akan terlihat seperti sebuah rumah Joglo besar, namun bagian dalam bangunan itu akan dibuat dalam pola seperti sebuah gedung teater. Karsten berpandangan jika semua jenis pertunjukan, baik pertunjukan tradisional Jawa atau barat agar dapat disaksikan penonton dengan baik, maka posisi duduk penonton harus dibuat nyaman dan dapat melihat ke satu arah panggung proscenium seperti gedung teater Eropa. Salah satu ciri khas dari gedung teater Eropa ialah tempat duduk yang semakin meninggi ke belakang, warisan dari bangsa Yunani Kuno.
Bagian dalam gedung Sobokartti.
Gedung Sobokartti yang terletak di jalan DR.Cipto ini memiliki ruang depan terbuka dengan atap berbentuk limasan. Ruang depan ini merupakan ruang tunggu sekaligus tempat penonton membeli tiket pertunjukan. Untuk masuk ke ruang utama, penonton melewati dua buah pintu bergaya paduraksa. Di ruang utama, terdapat sebuah panggung atau stage. Podium tempat duduk penonton dibuat pada tiga sisi dengan ukuran yang semakin meninggi ke belakang, sehingga pandangan penonton yang duduk di belakang tak terhalang oleh penonton di depan. Seperti halnya gedung Pasar Johar dan kantor Zustermaatschappij, Karsten melengkapi gedung Sobokartti dengan bukaan di bagian atap sebagai sumber pencahayaan dan udara alami. Di bagian belakang ruang utama, terdapat ruangan untuk persiapan pemain sebelum pentas.
Museum Sonobudoyo.
Usaha Karsten lain dalam memadupadankan arsitektur modern dengan arsiktetur vernakular  tampak pula dalam perancangan gedung museum Sonobudoyo di Yogyakarta. Museum Sonobudoyo didirikan atas prakarsa lembaga Java Instituut yang dibentuk di Surakarta pada 1919 oleh P.A.A.P Prangwadono ( kelak Pangeran Mangkunegara VII ), R. Dr. Hoesien Djajadiningrat, dan Dr. F.D.K Bosch. Lembaga ini merupakan lembaga ilmiah pertama di Hindia-Belanda yang berisikan intelektual campuran orang pribumi dengan orang Eropa. Menyelamatkan kebudayaan lokal seperti Jawa, Madura, Sunda dan Bali yang mulai tergerus akibat penetrasi budaya barat pada masa kolonial menjadi landasan dibentuknya lembaga ini. Apabila kebudayaan suatu bangsa telah punah, maka akan sukar dalam membangun kesadaran dan jatidiri sebuah bangsa yang utuh. Sebab itulah salah satu upaya lembaga ini dalam memajukan kebudayaan lokal ialah dengan cara mendirikan sebuah museum sebagai pusat informasi mengenai seluruh aspek kebudayaan lokal. Keputusan untuk mendirikan museum disahkan pada konggres Java Institut di Surakarta pada 1924. Sebagai langkah awal, Java Instituut mengumpulkan dan mempelajari beragam data etnografi, sejarah dan arkeologi di Nusantara.
Prasasti peresmian Museum Snonobudoyo.
Bagian kantor pengelola Museum.
Tampak luar museum.
Pendopo Pagelaran.
Pendopo utama.
Pada tahun 1934, Karsten yang juga anggota Java Instituut meracang sebuah gedung museum yang akan menjadi tempat Java Instituut mengenalkan khazanah budaya Nusantara kepada masyarakat luas. Museum ini menempati lahan yang dihibahkan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang terletak di utara alun-alun lor. Oleh Karsten, gedung Museum Sonobudoyo dirancang dalam bentuk seperti rumah bangsawan Jawa. Banyak elemen arsitektur nusantara yang dimasukan dalam gedung ini. Bentuk atap meniru rumah joglo, pagarnya menyerupai pagar keliling masjid kuno di Jawa, pintu gerbangnya seperti pintu masuk ke dalam kompleks pemakaman raja, dan di kompleks museum ditambahkan tiruan pura Bali. Selain elemen arsitektur lokal, museum ini juga ditambahkan dekorasi barat seperti kaca patri. 
Gerbang bergaya Padurakasa. Dibuat seperti gapura makam-makam raja Jawa.
Gerbang bergaya Candi Bentar yang jamak ditemukan pada bangunan pura di Bali.
Sesuai dengan sengkalan di pintu masuk, Museum Sonobudoyo diresmikan pada 6 November 1935 oleh Sultan Hamengkubuwono VIII. Bangunan utama Museum Sonobudoyo hingga hari ini masih sintas sebagai tempat menyimpan dan memamerkan beragam koleksi benda budaya seperti keris, kain batik, gamelan, patung kayu, topeng dan arca-arca batu. Selain bangunan utama, Museum Sonobudoyo juga dilengkapi tempat pagelaran, perpustakaan dan kantor pengurus. Pengurus pertama Museum Sonobudoyo adalah Samuel Koperberg ( Bruggen, 1995;52 ).
Hiasan kaca patri.
Bagian dalam museum.
Begitulah uraian sebagian karya dari sang arsitek humanis Thomas Karsten yang masih bisa disaksikan sampai sekarang. Karya-karya yang dibuat oleh Karsten seolah menunjukan bahwa ia berusaha untuk meletakan arsitektur nusantara sebagai unsur dasar, sementara bentuk dan teknologi konstruksi barat hanya pelengkap saja. Sang maestro memang sudah lama tiada, namun namanya tak akan pernah terhapus dari sejarah seni bangun di Indonesia dan karyanya akan menjadi ilham untuk anak bangsa dalam penarian jatidiri kebudayaan mereka.

Referensi
Brommer dkk. 1995. Semarang, Beeld van een Stad. Purmerend : Asia Maior.

Bruggen dkk. 1995. Djoca Solo, Beeld van Vorstenlanden. Pumerend : Asia Maiaor.

Handinoto. 2010. Arsitektur dan kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Karsten, Thomas. 1938. 'Twee Semarangse Kantoorgebouwen' dalam Locale Techniek edisi Maret 1938.

Karsten, Thomas. 1938. 'Iets Over De Centraale Pasar' dalam Locale Techniek edisi Maret 1938.

Liem Thian Joe. 1931. Riwajat Semarang. Batavia : Drukkerij Boekhandel.

Sumalyo, Yulianto. 2002. 'Usaha Penyatuan : Arsitek Belanda di Hindia' dalam Indonesian Heritage : Arsitektur. Jakarta : Widyadara.

5 komentar:

  1. di blognya gak ada sumber yang jelas asal muasal foto lama nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua foto yang tidak saya cantumkan sumbernya merupakan dokumentasi pribadi saya. Terima kasih

      Hapus
  2. Hallo mas, saya sedang menulis skripsi tentang sobokartti dengan tujuan untuk menyebar luaskan gedung kesenian sobokartti yang berada di Semarang. apa mas punya data" yang kiranya bisa membantu saya mas ? Terima kasih sebelum nya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Referensi di akhir tulisan sekiranya dapat membantu. Terima kasih.

      Hapus
  3. usaha bertahan sia2 hanya dalam semalam Malang tak dapat dipinjamkan, dan tinggal menjadi debu, saya kira tidak tepat mas. nyatanya di lalap api demikian hebat pasar ini masih berdiri tegak, sementara pasar lain roboh jika mengalami kebakaran. ada advertentie tentang pasar ini saat di awal berdiri nya, bahwa pasar ini di klaim tiada takut kebakaran, dan ini dibuktiken. tinggal renovasi memang masih menunggu waktu.

    BalasHapus