Sabtu, 05 Agustus 2017

Benteng Karangbolong : Satu-satunya Benteng “Menara Napoleon“ di Indonesia

Dari Benteng Klingker, perjalanan saya di Nusakambangan berlanjut ke Benteng Karangbolong yang terletak di timur pulau. Tak ada jalan darat yang menghubungkan Benteng Klingker dengan Karangbolong, sehingga perjalanan ditempuh menggunakan perahu. Sembari perahu menyusuri perairan Cilacap, seketika bayangan saya pun bergerak ke masa PD II, ketika konvoy kapal-kapal sekutu yang hendak mengangkut pengungsi, satu persatu dikirim ke dasar laut oleh pesawat-pesawat Jepang yang menyerbu kota pelabuhan itu tiga hari sebelum Belanda menyerah. Bangkai-bangkai kapal itu mungkin masih terbaring di bawah riak gelombang perairan yang sedang saya seberangi ini. Tak hanya menenggelamkan kapal, pesawat-pesawat Jepang juga menghujam kota Cilacap dengan bom, menghancurkan beberapa bangunan penting seperti stasiun dan societeit. Jika pernah menonton film Pearl Harbour, seperti itulah kondisi Cilacap kala itu.
Gerbang masuk ke area Benteng Karangbolong.
Perjalanan dari pantai ke lokasi benteng Karangbolong jauh lebih lama dibandingkan perjalanan benteng sebelumnya. Kami harus melalui jalan tanah yang tidak rata dan menyeberangi sungai kecil. Di ujung jalan, sebuah bangunan berbentuk persegi dengan pintu melengkung menyambut kedatangan kami. Tanaman liar tampak merambat di sekujur dinding tuanya. Memasuki bagian dalam, bangunan itu memiliki ruangan dengan langit-langit setengah melingkar. Pada mulanya, saya menyangka jika bangunan itu merupakan benteng Karangbolong. Rupanya prasangka saya salah. Bangunan tadi ternyata hanyalah pintu gerbang benteng Karangbolong. Untuk menuju bagian utama benteng Karangbolong, kami masih harus berjalan lagi, melewati beberapa tanjakan dan jurang yang cukup dalam.
Tampak luar benteng dengan bekas pintu masuknya.

Bagian dalam benteng.
Akhirnya sampailah kami di bagian utama dari benteng Karangbolong. Seperti halnya, benteng Klingker, benteng Karangbolong juga digerayangi oleh akar pohon yang entah bagaimana caranya bisa tumbuh di atas benteng. Terbuat dari batu-bata, benteng Karangbolong berbentuk persegi yang keempat sudutnya sedikit melengkung. Kami selanjutnya menuruni semacam parit untuk masuk ke dalam benteng. Dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela kecilnya, saya mendapati keanehan ruangan ini; jarak langit-langit dengan lantai terlampau tinggi dan ada semacam bekas pintu yang tidak menyentuh lantai dasar. Saya akhirnya menyadari jika ternyata benteng Karangbolong sejatinya memiliki dua tingkat. Tampaknya tingkat kedua lantainya terbuat dari kayu, maka tak heran jika lantai tingkat dua sudah hilang.

Contoh benteng Napoleon Tower ( sumber : commons.wikipedia.org ).
Benteng Karangbolong termasuk benteng langka karena ia merupakan satu-satunya benteng jenis 1811 Model-Tower yang ada di Indonesia. Jenis benteng 1811 Model-Tower lebih dikenal dengan nama Napoleon Tower karena teknologi benteng itu dikembangkan oleh Napoleon Bonaparte, sang penakluk dari Perancis  ( Tim Penyusun, 2012 : 142 ). Pada tahun 1811, Napoleon memerintahkan agar garis pantai di utara Perancis diperkuat dengan benteng untuk melindungi Perancis dari serangan Inggris, musuh bebuyutan Napoleon. Berbeda dengan benteng yang dibangun di masa sebelumnya, benteng yang dikembangkan Napoleon ini menyatukan elemen-elemen benteng yang dulu dibangun terpisah seperti gudang makanan, amunisi, barak, dan tempat pengintaian dalam sebuah bangunan. Setelah kekuasaan Napoleon jatuh, jenis benteng Napoleon Tower dikembangkan oleh Louis-Phillipe dan menjadi patokan pembangunan benteng di sepanjang pesisir Perancis (https://en.wikipedia.org/wiki/Model-tower,_1811_type ).

Sumuran yang berfungsi sebagai lubang ventilasi.
Berikutnya, kami menuruni sebuah terowongan. Sial, rombongan kami ternyata tak ada satupun yang membawa senter. Akhirnya kami hanya mengandalkan senter hp yang tentu saja tak cukup menerangi terowongan gelap itu. Walau gelap, udara sepanjang terowongan terasa sejuk karena lorong ini dilengkapi dengan lubang udara. Terowongan itu kemudian berkelok ke kiri. Di dekat kelokan, terdapat sebuah ruangan yang juga yan sama gelapnya dengan terowongan yang kami susuri.
Pintu masuk ke ruang bawah tanah.

Terowongan bawah tanah.
Setelah menuruni undakan terowongan, sampailah kami di bagian bawah tanah benteng. Bagian bawah benteng Karangbolong memiliki jalinan terowongan yang sedikit rumit dan empat ruangan yang entah dulu dipakai untuk apa. Sungguh luar biasa, walau usianya sudah seratus tahun lebih namun langi-langit terowongan itu belum memperlihatkan tanda-tanda akan runtuh. Bangunan yang lama kosong dan kondisinya gelap lagi lembab menjadi sarang yang nyaman untuk ratusan kelelawar. Mereka bergelantungan di langit-langit sebuah ruang bawah tanah, meninggalkan timbunan kotoran yang baunya jelas kurang sedap. Entah sudah berapa lama mereka menjadi penghuni benteng.

Letak Benteng Karangbolong pada peta Cilacap tahun 1944 ( sumber : maps.library.leiden.edu ).
Dibanding benteng Klingker, letak benteng Karangbolong lebih dekat dengan garis pantai dan lebih tinggi, membuat benteng itu seolah sedang menatap perairan Cilacap.  Kendati bukan kota bandar yang seramai Semarang atau Surabaya, namun Cilacap memiliki nilai penting. Cilacap pada waktu itu mejadi pintu terakhir pemerintah kolonial Belanda seandainya Pulau Jawa sudah dikuasai oleh musuh. Dari Cilacap, mereka dengan mudah dapat dievakuasi ke Australia tanpa melewati Selat Sunda atau Selat Bali. Walau tidak ada satupun kapal yang mampu memblokade Cilacap, namun kapal perang masih bisa menembus perairan muara ( Abbas, 1996 ; 51 )

Dilandasi oleh rasa cemas pemerintah kolonial jikalau Cilacap diserbu oleh musuh, maka pemerintah kolonial membangun benteng di Pulau Nusakambang pada tahun 1840an. Benteng yang pertama didirikan ialah Benteng Karangbolong yang posisinya di ujung timur pulau. Musuh sukar mendaratkan pasukannya di sana karena karakter pantainya yang curam. Untuk memperluas perimeter, dibangunlah benteng kedua, yakni Benteng Klingker yang telah dibahas sebelumnya. Bentuk Martello Tower dan Napoleon Tower menjadi pilihan karena bentuknya sesuai sebagai benteng pengawas pantai.
Seorang prajurit Belanda yang sedang mengecek salah satu meriam yang baru saja dirusakkan ( sumber : media-kitlv.nl ).
Alih-alih dikalahkan oleh musuh dengan persenjataan kuat, serdadu yang ada di benteng justru dikalahkan oleh nyamuk pembawa malaria. Satu persatu nyawa serdadu pun melayang dengan sia-sia. Benteng itu akhirnya ditinggal serta merta oleh Militer Belanda. Situasi politik di Eropa yang cenderung damai dan tidak mengancam keamanan Hindia-Belanda menjadi alasan lain untuk tidak memakai lagi benteng Klingker dan Karangbolong. Pulau Nusakambangan kemudian ditetapkan sebagai pulau penjara dan cagar alam dan benteng-benteng di Nusakambangan mulai terlupakan keberadaanya selama puluhan tahun  ( Tim Penyusun, 2012 : 144 ).
Seonggok meriam tua yang masih tergeletak di tempatnya.
Singkat cerita, setelah sekian lama mati suri, benteng Karangbolong dihidupkan kembali oleh pemilik barunya, Jepang. Kali ini benteng Karangbolong dilengkapi meriam modern yang kalibernya lebih besar yang dilindungi oleh redoubt dari beton. Setelah Indonesia merdeka, TNI sempat menduduki benteng ini bahkan pada tahun 1946, sebuah kapal perang Belanda ditenggelamkan oleh meriam dari benteng ini. Sebagai balasan, benteng ini dibombardir dari udara dan laut oleh militer Belanda dan akhirnya berhasil direbut oleh prajurit marinir Belanda ( Tim Penyusun, 2012 : 144 ).

Benteng Karangbolong yang dahulu berdiri angkuh mengawasi perairan Cilacap, kini merana dalam kesendiriannya di sebuah pulau yang sunyi. Seandainya Benteng Karangbolong dapat berbicara, mungkin hanya ada satu pertanyaan yang akan saya tanyakan pada benteng ini, “ Sampai kapan kamu akan berdiri ? “

Referensi
Abbas, Novida. 1996. “ Penempatan Benteng Kolonial di Kota-kota Abad XVII-XIX di Jawa Tengah “ dalam Jurnal Penelitian Arkeologi No.04-TH II/1996.

Oktaviadi, Abrianto. 2008. “ Perkembangan Teknologi Bangunan Pertahanan Sebelum dan Setelah Abad ke-20 Masehi “ dalam Yulianto,Kresno. Dinamika Pemukiman Dalam Budaya Indonesia. Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Tim Penyusun. 2012. Forts in Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.


https://en.wikipedia.org/wiki/Model-tower,_1811_type