Minggu, 03 September 2017

Selidik Jejak Kerkhof-Kerkhof di Pelosok Perkampungan di Klaten

Pada mulanya, tak banyak orang yang mengira, bahwa di sebagian pelosok perkampungan di Kabupaten Klaten, tersempil jejak-jejak kerkhof atau makam Belanda yang masih dapat dijumpai. Inilah tulisan saya di Jejak Kolonial mengenai ikhtiar menyelediki jejak-jejak yang terlupakan tersebut.
Letak kerkhof Ceper ( dalam lingkaran merah ) pada peta tahun 1925. Sumber : maps.library.leiden.edu.
Lawatan kerkhof di Klaten yang pertama ialah di sebuah kerkhof yang terletak tidak begitu jauh dari PG Ceper, sebuah pabrik gula yang kini menyandang gelar almarhum. Kerkhof itu saya temukan ketika saya sedang mahsyuk menerawang pola tata ruang PG Ceper yang tergambar cukup detail pada sebuah peta topografi. Secara tak sengaja, mata saya menangkap seberkas simbol salib kecil yang terpampang di sebelah atas area PG Ceper. Ya, simbol tersebut tak lain ialah simbol dari sebuah permakaman Belanda.
Gerbang kerkhof Ceper.
Tak lama kemudian, saya menyambangi lokasi kerkhof tadi. Sesampainya di tempat, sebuah plengkung gerbang tua  menyambut kedatangan saya. Sayapun bergegas melangkah masuk melewati gerbang itu untuk menguak jeroan kerkhof itu. Sayang beribu sayang, begitu langkah kaki ini semakin masuk ke dalam, harapan saya dapat menjumpai makam – makam monumental di kerkhof itu segera pupus. Apa yang saya dapati hanyalah seonggok makam remuk yang rasanya mustahil untuk dikenali lagi. Penasaran apakah masih ada makam lainnya di sini, saya berusaha mencari makam lain. Namun usaha saya tadi sia-sia belaka. Tiada makam lain lagi di situ.
Satu-satunya makam yang tersisa di kerkhof Ceper.
Sebelum saya beranjak meninggalkan tempat itu, saya bersua dengan seorang warga yang sedari tadi mencari rumput di sekitar kerkhof itu. Berbagai pertanyan seputar sejarah permakaman langsung saya todongkan pada warga tadi. “Sejak saya kecil ya kondisinya sudah seperti ini mas” tutur warga yang sepertinya berusia empat puluhan tahun itu. “Jadi saya tidak tahu persis siapa yang dimakamkan di sini”, sambungnya. “ Tapi, kalau mas nya mau mencari makam Belanda…”, beliau seperti ingin memberi tahu sesuatu pada saya “ Coba saja cari di pemakaman umum di dekat sini. Kalau dari sini jalan ke timur sampai ketemu pertigaaan yang keempat. Lalu belok ke kanan. Nah, nanti pintu masuknya ada di ujung jalan”, jelasnya sambil memberi petunjuk jalan pada saya. Penasaran dengan perkataan warga tadi, saya lantas menuju makam yang dimaksud warga tadi.
Makam Belanda di tengah makam lokal.
Sebuah makam tua yang batu prasastinya rusak.
Apa yang dikatakan warga tadi benar adanya. Setibanya di lokasi pemakaman umum yang dimaksud, saya menemukan makam Belanda yang jumlahnya lebih dari satu. Namun anehnya, makam Belanda itu tergeletak tengah-tengah pemakaman pribumi yang di peta topografi lama disimbolkan dalam bentuk bulan sabit. Inilah kali pertama saya mendapati hal tersebut. Makam-makam Belanda itu nyaris luput dari perhatian saya jika saja saya tak bertemu dengan warga tadi.
Makam Alexander Portier.

Dari berbagai makam yang ada, ada sebuah makam yang berhasil mencuri perhatian saya. Bukan dari segi ukuran atau keindahannya yang membuat saya tertarik. Makam itu ukurannya setidaknya hanya sebesar kotak mainan dan ornamen yang terlihat hanyalah pahatan berwujud tengkorak, simbol dari kematian. Namun hal yang benar-benar membuat saya tertarik pada makam itu ialah pada pilhan bahasa yang digunakan pada makam itu…
Aksara Arab Pegon pada makam A. Portier.
Aksara Jawa Baru pada makam A. Portier.
Lazimnya, makam-makam Belanda memakai satu jenis bahasa saja, yakni bahasa Belanda. Namun di makam milik Alexander Portier itu, ia ternyata menggunakan dua bahasa dan tiga jenis aksara dalam epitafnya, yakni bahasa Belanda beraksara Latin dan bahasa Jawa dengan aksara Jawa Baru dan Arab Pegon. Oleh sebab itulah, saya menjuluki makam ini sebagai sebuah makam polyglot.
Letak kerkhof Wonosari ( dalam lingkaran merah ) pada peta topografi tahun 1925. Sumber : maps.library.leiden.edu
Dari Kerkhof Ceper, saya beranjak ke sebuah kerkhof yang terletak di Wonosari, Klaten. Sebagaimana kerkhof di Ceper tadi, kerkhof ini juga saya temukan secara tidak sengaja ketika sedang mengamati peta topografi tinggalan Belanda. Sesampainya di lokasi, saya menjumpai semacam struktur pagar tua yang tampaknya dulu pernah berdiri mengelilingi kompleks kerkhof.
Tembok kerkhof Wonosari.
Di kerkhof yang terletak di sepetak kebun yang terkungkung hamparan sawah itu, makam yang saya temukan hanyalah sebuah makam renta berbentuk menyerupai sebuah monumen kecil. Kendati mulai remuk, keantikan dari makam itu belum sepenuhnya hilang. Sayang, saya tak dapat menemukan petunjuk apapun perihal siapa yang dimakamkan di situ. Akhirnya saya berasumsi bahwa kerkhof ini merupakan makam dari salah satu keluarga pembesar PG Wonosari karena kebetulan lokasi pabrik, dimana di sekitarnya pernah ada tanda-tanda permukiman orang Belanda, berada lumayan dekat dengan makam ini. Sayapun kemudian mencoba menyisir area sekitar makam itu, tapi ternyata hasilnya nihil. Ingin bertanya dengan warga juga percuma karena di sekitar makam tiada satupun batang hidung yang terlihat. Asa saya akhirnya pupus dan segera saja saya meninggalkan lokasi dengan sejumput kekecewaan di hati.
Satunya makam Belanda yang tersisa di Kerkhof Wonosari.
Beberapa saat kemudian, kawan saya bernama Surya yang kebetulan tinggal di dekat Wonosari memberi tahu saya bahwa tak jauh dari makam yang saya temukan di Wonosari tadi, ada jejak-jejak makam Belanda yang masih tergeletak utuh di tengah permakaman umum. Tak menunggu lama, saya segera berangkat ke lokasi yang dimaksud kawan saya.
Makam-makam tua.
Tiba di lokasi, mata saya langsung menangkap beberapa benda yang terlihat amat mencolok di tengah kijing-kijing baru. Benda itu seperti sebuah kubus kecil dengan atap berbentuk pyramid. Ya, benda itu tak lain dan tak bukan adalah makam dari zaman Belanda.

Makam Johannes N. De Bruijn.
Salah satu makam yang saya temukan merupakan makam dari seorang pria Belanda bernama Johannes-Nicolaas De Bruijn, lahir di Semarang tahun 1810 dan meninggal di Gawok tahun 1868. Selain makam tadi, di sini ditemukan pula beberapa makam anggota keluarga Breton van Groll, antara lain Gerardien Nicolien Breton van Groll, Albertien Louise Breton van Groll, Gustaaf Adolf Adriaan Breton van Groll, Rosalie Adolphie Breton van Groll, Henri Gerardus Adolf Breton van Groll dan Theodora Breton van Groll ,yang sebelum menikah bernama Theodora De Bruijn. Dari marga kecilnya, sepertinya Theodora masih berkerabat dengan Johannes-Nicolaas De Bruijn. Menariknya ialah hampir semua anggota keluarga Breton van Groll lahir di Gawok, Klaten.
Makam Breton van Groll bersaudari.
Obituari Albertiene Louise van Groll yang dimuat di harian De Locomotie taanggal 2 Oktober 1877.
Saya kemudian bertemu dengan seorang perempuan dewasa yang baru saja membersihkan sebuah makam. “ Masih ada keluarga yang menziarahinya kok mas”, jawab ibu itu sesudah saya mengajukan pertanyaan seputar makam keluarga Breton van Groll itu. “ Itu lihat mas, prasastinya saja baru saja diganti”, jabarnya sambil menujukan saya sebuah makam yang prasastinya telah diganti dengan batu granit baru. Makam itu merupakan tempat perisitirahatan terakhir Henri Gerardus Adolf Breton van Groll, meninggal tahun 1943. Usia makam itu relatif lebih muda dibandingkan makam lain. Tepat di sampingnya, terbaring makam seorang perempuan Jawa. Sarinah namanya, lahir tahun 1893 di Kopen dan meninggal tahun 1946 di Gondangsari, Klaten. Dari kedua makam itu, setidaknya saya berhasil melacak jejak-jejak keluarga Indo tempo dulu.
Makam Theodora Breton van Groll ( terlahir Theodora de Bruijn ).
“Waktu saya kecil dulu, saya sering bermain pasaran di bawah cungkup makam itu“, kenang ibu itu. Cungkup yang dimaksud ibu tadi sudah hilang. “ Dulu makam-makamnya dilapisi marmer putih, tapi saya tidak tahu hilang ke mana marmer-marmer putih itu “. Sebelum pamit, ibu itu tidak lupa menitip pesan kepada saya agar datang ke sini lagi suatu hari nanti untuk menengok makam itu kembali….

Seperti itulah rupa kerkhof-kerkhof yang berhasil saya temukan di pelosok perkampungan Klaten. Berbagai kerkhof-kerkhof tadi setidaknya membuktikan bahwa kehadiran orang-orang Belanda di Indonesia tak hanya terpusat di kota saja, namun adakalanya mereka tinggal di pelosok desa. Dari kerkhof-kerkhof itu, saya setidaknya mendapat pengetahuan baru bahwa tidak semua makam Belanda tercantum di peta topografi lama. Kadangkala makam-makam itu bisa terselip bersama dengan makam-makam biasa. Hal ini semakin memacu saya untuk mengungkap lebih banyak kerkhof yang siapa tahu masih tersembunyi di suatu tempat…

4 komentar:

  1. Didekat bekas pabrik gula sing punyane suktan jogja (lali aku namane) kalau gk salah ada kerkof jg yg menyatu sama pemakaman warga. Dl pingin mampir ke makam tapi kondisi pas rame. Takut dicurigai... cobo cek ken yen pas mrono...
    trus karo nang komplek pg kedung banteng dihalaman salah satu rumah sinder ak dapat info ada satu makam. Tapi lokasj teoatnya ak gk tahu. Soale orang yg ngsih info dl pas tgl d rumah sinder itu masih kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang dimaksud PG Sewugalur kan ? Di sana memang ada kerkhof dan sudah berkali-kali saya menyambanginya. Dekati saja gpp, gak bakal ada yang curiga karena itu bukan tanah pribadi.

      Hapus
  2. di sekitar ketandan - klaten banyak makam belanda, mas
    baik di pemakaman umum maupun di dalam kompleks bangunan bangunan peninggalan kolonial

    BalasHapus
  3. kata ibu saya didaerah sekitar bejagan dekat pasar gentongan ada 3 makam belanda tanpa nama, katanya makam tersebut makam kakek keluarga kami. sampai sekarang saya ingin tahu, apakah ada informasi tentang itu ?
    saya tinggal di jakarta .
    terima kasih .

    BalasHapus