Selasa, 24 Oktober 2017

Yang Tersisa dari Masa Lampau Pecinan Semarang

Ia adalah salah satu pecinan termakmur di Jawa, bertaburkan kelenteng –klenteng tua yang menawan. Seperti pasang surut rob yang kerap menggenanginya, demikian juga yang dia alami di masa lalu. Hari ini, ia berusaha tetap tegak berdiri menghadapi pembangunan kota yang bertubi-tubi menderanya. Inilah kisah saya di Jejak Kolonial, ikhtisar melawat kembali jejak Pecinan Semarang…
Ruko-ruko yang telah berganti wajah. Walaupun sudah berganti, namun bentuk atap ruko-ruko kecil terlihat masih asli.
Jalan Gang Pinggir, salah satu jalan utama di Pecinan.
Panas sengatan matahari dan semrawutnya jalanan kawasan Pecinan Semarang siang itu tidak menyurutkan langkah saya untuk menjelajahi kawasan padat yang sarat dengan bangunan komersil. Mereka berdiri berimpitan satu sama lain dan nyaris tak menyisakan ruang sedikitpun. Walau jejeran ruko itu sudah berganti topeng, namun di antaranya masih terlihat sisa tembok samping atap berbentuk seperti kipas atau shan yang dibuat melebihi tinggi atap bangunan, tujuannya untuk melindungi dari bahaya kebakaran. Di rumah-rumah toko itulah, dulu orang-orang Tionghoa berhuni sekaligus mencari rejeki. Dalam  literatur“ Indonesia Heritage : Aristektur “, J.Widodo menyebutkan bahwa deretan ruko-ruko yang berdiri memanjang di sepanjang jalan sempit ini merupakan bentuk permukiman yang lazim di Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Bukan tanpa sebab, karena sebagian besar pendatang Tionghoa di Semarang memang berasal dari sana. Wujud luarnya sekilas memang masih terlihat serupa dengan yang ada di kampung halaman mereka, namun tentunya ada sedikit perbedaan demi penyesuaian lingkungan. Sebut saja adanya penggunaan jendela krepyak atau penggunaan kanopi yang disokong oleh tiang-tiang besi.

Ruko-ruko yang telah mendapat pengaruh arsitektur Indis.
Sekalipun banyak ruko-ruko itu yang wajah depannya telah bersalin rupa, namun bentuk atapnya yang khas tidak mampu menyembunyikan jati diri  sebenarnya. Perubahan wajah itu merupakan buah dari kebijakan pemerintah Orde Baru yang secara arogan berusaha menyeragamkan bangunan di kawasan ini. Berkembangnya kepentingan komersil juga menjadi penyebab lain rusaknya citra kawasan tersebut. Bayangkan saja, tepat di samping sebuah rumah tua bergaya Tionghoa yang hanya dibatasi oleh dinding saja, akan didapati sebuah gedung baru berjendela kaca besar nan silau dengan gaya arsitektur yang “pasaran”. Selain itu, atas nama pembangunan kota, banyak rumah yang harus bagian depannya dipotong karena terkena dampak pelebaran jalan, jika ada pelebaran sungai hal serupa jugaakan menimpa bagian belakang rumah. Rumah-rumah di Jalan Petudungan adalah korbannya. Di tahun 1980an, guna mengatasi masalah banjir, beberapa wilayah Pecinan yang harusnya dilindungi, akhirnya dikorbankan untuk  pelebaran sungai. Apabila ke sana, dapat kita jumpai beberapa bangunan yang telah terpenggal dan menyisakan lebar rumah yang sangat sempit. Sayangnya, pelebaran sungai yang akhirnya memakan beberapa badan bangunan di Jalan Petudungan itu berakhir sia-sia, karena ternyata banjir tetap terjadi. Jikapun masih utuh, kebanyakan rumah itu ditinggalkan dalam kondisi kosong dan terlantar. Lingkungan yang semakin burukmembuat semakin banyak yang enggan berhuni di sini dan memilih menetap jauh di pinggiran kota. Alhasil, Pecinan Semarang di siang hari ramai bak pasar, namun di malam hari ia akan berubah menjadi kota hantu yang senyap dan gelap. Saya akhirnya hanya bisa menatap nanar pada bangunan ruko-ruko tua malang dengan takdir yang suram itu.
Ruko berlantai satu yang masih terlihat pintu Dutch Door nya. 
Sembari merunut ruwetnya gang-gang di dalam area pecinan, saya berusaha mengingat kembali sejarah asal usul pecinan ini. Nun jauh sebelum pecinan ini ada, pada mulanya orang Tionghoa di Semarang bermukim di sekitar lokasi yang sekarang dikenal sebagai Gedong Batu, lokasi berdirinya kelenteng Sam Poo Kong. Sekitar tahun 1400an awal, sebuah kapal jung berukuran besar membuang sauhnya di muara Sungai Garang. Kapal itu membawa seorang laksamana muslim sekaligus utusan wangsa Ming, Cheng Ho. Dari bandar ke bandar, ia berlayar membawa pesan diplomatik dari Kaisar Tiongkok yang membiayai pelayarannya. Pelayaran akbar itu harus berhenti sejenak di dekat Semarang lantaran salah seorang awaknya yang bernama Ong King Hong, tiba-tiba jatuh sakit. Dengan kapal kecil, beberapa awak kapal ini menyusuri sungai sampai di sebuah gua di Simongan dan tinggal sejenak untuk merawat rekan yang sakit. Setelah pulih, beberapa awak termasuk Ong King Hong memilih bermukim di sini, sementara Cheng Ho meneruskan pelayarannya. Di belakang hari, permukiman yang didirikan oleh para anak buah kapal Cheng Ho tadi semakin berkembang dengan kedatangan para perantau dari Tiongkok yang berusaha meraih asa di tanah rantau atau melarikan diri dari penguasa zalim. Merunut tulisan Liem dalam buku “Riwajat Semarang”, Semarang saat itu “masih berupa sebuah tegalan dengan beberapa rumah penduduk pribumi dan sangat tidak sehat karena letaknya berdampingan dengan rawa-rawa “. Permulaan abad ke-17, Semarang kedatangan pendatang baru lainnya, kali ini dari Belanda. Pendatang baru ini rupanya bukan pendatang yang baik sebab setiap kapal yang memasuki sungai ditarik bea oleh mereka. Merasa kesal atas tingkah pendatang baru tadi, orang-orang Tionghoa menyerang tangsi Belanda namun gagal. Agar mereka mudah diintai, kompeni memaksa mereka memindahkan permukimannya dari Simongan ke Semarang ( Liem Thian Joe, 2-6 ). Semula mereka bertempat tinggal di sisi timur sungai. Berikutnya di tahun 1740, mereka lagi-lagi dipindahkan ke seberang barat sungai. Sejak saat itu, pecinan Semarang perlahan mulai tumbuh.



Ruko-ruko yang masih tampak asli.
Di tempat barunya, orang-orang Tionghoa mendirikan rumah mereka dengan bahan yang juga dipakai oleh rumah orang pribumi seperti papan kayu atau anyaman bambu. Karena tidak ada perencanaan, maka bentangan jalan yang ada tidak lurus benar dan lebarnyapun tidak sama. Permukiman itu pertama kali dibangun di sepanjang Gang Beteng ( Sin-kee , Gang Warung ( A-Long-Kee ), dan Gang Pinggir ( Tang-Kee ). Pemukiman ini mengelilingi tanah terbuka dengan sebuah kolam yang dikenal sebagai Bale Kambang yang sudah diurug karena menjadi sarang nyamuk malaria. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak perantau Tionghoa yang datang ke Semarang untuk mencari peluang atau memperbaiki nasib. Mereka mendirikan permukiman di tengah-tengah pecinan sehingga lama kelamaan, tanah terbuka di tengah pecinan semakin berkurang, dipenuhi oleh deretan rumah-rumah dan akhirnya menjadi perkampungan baru. Di tengah perkampungan itu, muncul gang-gang baru seperti Say-kee (Gang Blumbang/Gang Belakang), Ting-ouw-kee (Gang Gambiran), Pecinan Tengah (Gang Tengah), Pan-shia (Jalan Beteng), Moa-phay-kee (Gang Mangkok), Hoay-kee (Gang Cilik).

Situasi Pecinan Semarang, puluhan tahun silam. Sayang, detail lokasi foto tidak diketahui. ( Sumber : colonialarchitecture.eu  )
Dengan berdagang aneka barang seperti mangkok, sutera, piring, dan lain-lain, penghidupan mereka di sini semakin baik. Mereka akhirnya dapat mendirikan rumah dengan bahan lebih kuat seperti batu dan genting yang kala itu harganya termasuk dalam kategori mahal karena masih sukar diperoleh. Karena belum adanya tenaga untuk membangun rumah-rumah mereka, maka tenaga tukang bangunan dari Batavia didatangkan ke Semarang. Semakin majunya perdagangan menjadikan semakin banyaknya petak-petak rumah toko yang dibangun. Dengan bangunan yang dibuat dalam gaya seperti bangunan di negeri leluhur mereka, kawasan padat penduduk itu menjelma menjadi semacam kota Tiongkok kecil, sehingga ketika orang memasuki kawasan tersebut, mereka seolah-olah tidak di Semarang lagi, melainkan berada di sebuah kota dinegeri Tiongkok sana. Kawasan pecinan Semarang akhirnya menjadi pusat perekonomian yang ternyata jauh lebih ramai ketimbang kawasan Eropa.
Peta Pecinan Semarang atau Chineshe Kamp pada peta Semarang tahun 1909. Terlihat Bale Kambang ( kotak biru , di sebelah kiri Gang Belakang), masih belum diurug.
Seorang pria tua terlihat sedang tekun memahat sebongkah batu yang datar di salah satu gang sempit. Bidang datar batu itu dipahat dengan sangat telaten , menghasilkan semaracam karakter tulisan yang pinggirannya diberi motif tumbuhan. Ya, pria tua itu sedang mengerjakan bong pai atau prasasti makam Tionghoa. Dimana ada tempat untuk orang hidup, tentu ada tempat untuk menguburkan orang yang telahmeninggal. Belum ada bukti fisik lokasi permakaman Tionghoa yang pertama di Semarang. Sejauh ini, wilayah di sekitar Kampung Pekojan dipercaya sebagai lokasi pertama orang Tionghoa dikebumikan. Ketika Belanda ingin mengembangkan kawasan tersebut, mereka hendak menyingkirkan makam-makam yang ada, namun hal itu ditentang masyarakat Tionghoa. Seusai Belanda berunding dengan kapiten, akhirnya diputuskan bahwa makam-makam tua tersebut akan dipindah di selatan kota. Seiring dengan pertumbuhan kota, lahan-lahan makam Tionghoa mulai tersisihkan dengan perumahan atau gedung komersil.
Gapura ke kompleks perkuburuan Tionghoa di Semarang ( sumber : media-kitlv.nl ).

Dua buah bong yang masih tersisa di Peterongan, Semarang.
Saya kemudian menelusuri Gang Baru. Di gang kecil itu, berjejal para pedagang yang menjual aneka barang dagangan. Kebanyakan adalah bahan-bahan makanan seperti bumbu dapur, daging, ikan, dan sayur mayur. Di ujung selatang gang baru, terdapat Kelenteng Siu Hok Bio atau Tjap Kauw King, kelenteng perdana di Pecinan Semarang yang didirikan tahun 1753 secara bergotong royong oleh penduduk Pecinan. Didirikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur penduduk pecinan kepada Dewa Bumi, Thouw Tee Kong/ Tu Di Gong atas berkah kemakmurannya. Pendirian kelenteng itu ditanggung bersama-sama oleh penduduk pecinan. Toapekong atau patung dewa didatangkan dari Tiongkok. Setelah patung itu tiba, diadakanlah pesta dan perjamuan yang meriah walaupun tanpa pentas wayang potehi karena dalang wayang itu belum ada di Semarang. Letaknya yang berada di depan pertigaan diyakini dapat melindungi pecinan ini dari energi jahat ( Liem, 1933; 27 ).
Kelenteng Siu Hok Bio. Di masa lalu bernama kelenteng Cap Kauw King.
Kelenteng Siu Hok Bio merupakan kelenteng yang didirikan pertama kali oleh penduduk Pecinan Semarang pada tahun 1753. Didirikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur penduduk pecinan kepada Dewa Bumi, Thouw Tee Kong/ Tu Di Gong atas berkah kemakmurannya. Pendirian kelenteng itu ditanggung bersama-sama oleh penduduk pecinan. Toapekong atau patung dewa didatangkan dari Tiongkok. Setelah patung itu tiba, diadakanlah pesta dan perjamuan yang meriah walaupun tanpa pentas wayang potehi karena dalang wayang itu belum ada di Semarang. Letaknya yang berada di depan pertigaan diyakini dapat melindungi pecinan ini dari energi jahat.
Kelenteng Ling Hok Bio.
Kelenteng Tek Hay Bio atau TITD Sinar Samudera. Kelenteng ini adalah klenteng kedua yang dibangun di Pecinan Semarang. Klenteng dibangun oleh penduduk Tionghoa untuk mengenang Kwee Lak Kwa. Pekarangan depan klenteng ditinggikan karena Kali Semarang dahulu kerap banjir. Di masa awal klenteng berdiri, klenteng ini memiliki bidang tanah di Gambiran dan Pekojan.
Kelenteng Tong Pek Bio. Dibangun pad 1782 oleh Tuan Khouw Ping.
Kelenteng Hoo Hok Bio.
Masyarakat Tionghoa kala itu sangat percaya bahwa dengan semakin banyak kelenteng, maka semakin banyak kebaikan yang akan dibawa. Selepas mendirikan kelenteng Tjap Kauw King, beberapa kelenteng barupun dibangun di dalam Pecinan Semarang seperti Kwee Lak Kwa ( Tek Hay Bio ), Tang Kee ( Tong Pek Bio ),May Phay Phee ( Ho Hok Bio ), dan Ling Hok Bio. Klenteng Kwee Lak Kwa dibangun oleh marga Kwee tiga tahun setelah pembangunan Klenteng Tjap Kauw King. Klenteng Tang Kee atau Tong Pek Bio dibangun tahun 1782 oleh Khouw Phing. Karena kebanyakan klenteng terletak di sebelah selatan pecinan, maka penduduk di utara pecinan mendirikan Klenteng Hoo Hok Bio pada 1792. Walau setiap kelenteng tersebut memiliki pernik yang berbeda, namun secara umum, kelenteng-kelenteng tersebut termasuk jenis kelenteng satu unit atau jian yang sederhana karena keterbatasan lahan. Jian adalah ruang persegi empat yang diberi dinding atau hanya dibatasi kolom. Kelenteng semacam ini memiliki dua jian, yakni serambi depan dan bangunan utama. Bangunan serambi depan terlihat seperti sebuah pendopo yang ditopang oleh empat kolom bujur sangkar yang sisi-sisi sudutnya ditumpulkan ( mu jioa fu ). Atap bangunan serambi depan memiliki struktur pemikul atap terbuka yang disebut che shang ming zao yang diukir. Bangunan utama memiliki denah bujur sangkar dengan pintu satu pintu masuk yang menghadap ke utara. Dindingnya terbuat dari batu bata. Sementara bagian atap berbentuk sepert jurai ekor walet atai yanwei yang menjadi ciri arsitektur Minnan. Bentuk atap seperti ini hanya diperuntukan untuk pejabat kekaisaran dan tempat ibadah. Bangunan utama memiliki jendela peninjauan yang disebut kan chuang. Di dalam bangunan utama, terdapat miniatur bangunan yang disebut ya jiao zhang sebagai tempat menaruh arca Dewa Bumi yang menjadi tuan rumah kelenteng.
Klenteng Tay Kak Sie.
Kelenteng Tay Kak Sie tempo doeloe.
Dari semua kelenteng di Pecinan Semarang, kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, kelenteng yang paling kondang dari semua kelenteng di pecinan Semarang. Berdiri persis menghadap Sungai Semarang, kelenteng yang unsur Buddhismenya lebih dominan itu didirikan pada tahun 1771 atas prakarsa penduduk pecinan. Ia dibangun sebagai rumah baru untuk patung Dewi Kwan Im yang semula ada di Bale Kambang yang dipindah karena dianggap kurang baik. Setelah para petinggi Tionghoa berunding , dipilihlah sebuah tanah di pinggir timur kali, di luar kawasan penduduk. Untuk pembangunannya, para penduduk mengumpulkan dana secara swadaya. Tukang-tukang bangunannya khusus didatangkan jauh-jauh dari Tiongkok. Sesudah kelenteng dibangun dan patung dipindah ke rumah barunya, diadakan sebuah perayaan besar-besaran dan kali ini, dipentaskan wayang potehi yang dalangnya dibawa dari Batavia. 
Klenteng Tay Kak Sie dan gedung Kong Tik Soe tempo dulu. ( Sumber : colonialarchitectute.eu ).
Saat itu, kelenteng Tay Kak Sie adalah kelenteng pertama di pecinan Semarang yang menggunakan pola siheyuan dimana ciri utamanya yakni adanya halaman terbuka di tengah bangunan atau inner courtyard atau sumur langit ( tianjing ). Karena menggunakan pola siheyuan, maka ukuran kelenteng ini lebih besar dibanding kelenteng-kelenteng di Gang Pinggir Dalam penataan ruangannya, kelenteng ini dibangun berdasarkan acuan pembangunan sebuah kelenteng, yakni denah harus simetris. Oleh karena itulah bangunan utama atau zheng dian yang menjadi ruang pemujaan Dewi utama kelenteng ini, yakni Kwan Im Po Sat diapit oleh bangunan samping tambahan atau er fang. Bangunan tambahan ini memiliki altar dewa-dewa lain seperti Hok Tik Tjing Sin, Kwan Seng Tee Koen, Hian Djing Tjoei Soe, dan lain-lain. Atap bangunan utama berbentuk seperti jurai ekor walet atai yanwei, ciri arsitektur Minnan dan bentuk atap seperti ini hanya diperuntukan untuk  rumah pejabat kekaisaran atau tempat ibadah. Genting tabung bergelasir yang disebut liuliwa digunakan sebagai penutup atap dan genting ini pun khusus diperuntukan untuk istana atau tempat ibadah. Bagian wuwungan dihiasi dengan dekorasi yang meriah dari porselen, patung naga berjalan atau xing long, dan bola api atau huo zhu. Halaman depan kelenteng yang luas menjadi penanda bahwa kegiatan kelenteng ini sangat ramai di masa lalu.
Bagian depan Kong Tik Soe, dulunya tempat para dewan kongkoan bertemu. 
Gedung Kong Tik Soe tempo dulu.

Orang akan menyangka, bangunan yang bersanding dengan kelenteng Tay Kak Sie itu merupakan sebuah kelenteng, padahal tidak demikian. Bangunan itu secara kasat mata memang sama persis  dengan bangunan kelenteng. Namun apabila melangkahkan kaki ke dalam, alih-alih altar dewa, kita justru menjumpai satu rak penuh bilah kayu yang bertuliskan nama leluhur yang disebut shen wei atau sin-ci. Bangunan yang dikenal dengan nama Kong Tik Soe itu dibangun pada tahun 1845, bersamaan dengan perbaikan kelenteng Tay Kak Sie oleh para dermawan Tionghoa di Jawa Tengah. Maksud bangunan itu dibangun ialah untuk tempat pertemuan kongkoan yang baru. Kongkoan merupakan semacam dewan yang mengatur segala perkara kehidupan masyarakat di lingkungan pecinan yang semula ditangani oleh seorang kapitan. Kongkoan di Semarang ini sebenarnya sudah ada tahun 1835, namun baru disahkan oleh pemerintah kolonial tahun 1885. Pemerintah kolonial menjadikan kongkoan sebagai kepanjangan tangan mereka untuk mengurus orang-orang Tionghoa sebagaimana mereka memanfaatkan bupati untuk mengatur orang pribumi. Perkara yang ditangani kongkoan meliputi pajak, undang-undang, perkawinan, kelahiran, dan sejenisnya. Di gedung Kong Tik Soe itulah, orang-orang Tionghoa yang sedang menghadapi suatu perkara dapat mengadu kepada kongkoan untuk diselesaikan dan Dewan Kongkoan bersidang 3( Liem, 1931 ; 124-132 ).
Bekas Tiong Hoa Hwee Koan.
Di Gang Tengah, terdapat sebuah gedung yang sekarang menjadi klinik yayasan Tunas Harum Harapan Kita. Gedung itu dulunya adalah gedung bekas sekolah Tiong Hoa Hwee Koan yang mulai buka sejak tahun 1904. Sekolah itu didirikan atas prakarsa orang-orang Tionghoa sebagai upaya mengembangkan sekolah modern untuk kalangan Tionghoa. Tiong Hoa Hwee Koan ini dibentuk untuk menggantikan sekolah Tionghoa model lama yang disebut Gie Ook yang kolot karena anak-anak yang bersekolah di situ hanya libur lima hari dalam setahun dan bersekolah dari pagi sampai sore ( Liem, 1933; 210 ). Kemunculan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan mendesak pemerintah kolonial untuk membuka sekolah Hollandsch Chinese School yang akhirnya menjadi saingan sekolah Tiong Hoa Hweee Koan.
Rumah Kapiten Tan Tiang Tjhing.


Kediaman Be Biauw Tjoan. Beranda depan terlihat menggunakan kolom-kolom Yunani, pengaruh dari arsitetkur Indis ( sumber : colonialarchitecture.eu ).
Dari kelenteng Siu Hok Bio, saya memutuskan berpindah ke kampung Sebandaran yang ada di seberang selatan sungai. Mengapa disebut Sebandaran ? Karena di sana pernah terdapat rumah milik seorang pemegang pachter atau bandar yang bernama Tan Tiang Tjhing. Maka disebutlah tempat itu sebagai Sebandaran. Di sana pernah berdiri dua rumah megah milik dua orang pemuka Tionghoa yang menjulang laksana istana, menjadikannya bangunan termegah dan terindah di pecinan Semarang. Rumah-rumah itu milik dua orang Tionghoa kaya di Semarang, yakni Tan Tiang Tjhing dan Be Ing Tjioe. Tan Tiang Tjhing yang berhasil mengembangkan usaha ayahnya membangun sebuah rumah indah bergaya Tionghoa di atas bekas gudang gula ( Liem, 1933; 96 ). Bergeser ke timur, pernah terdapat rumah megah lain milik Kapitan Be Ing Tjioe yang sebelumnya pernah menjadi kapiten Tionghoa di Purworejo. Ia membantu bisnis amfiun milik Tan Tiang Tjhing di Bagelen. Raja Siam, Chulalongkorn ketika melawat di Semarang pernah bertandang ke kediaman Be Ing Tjioe yang saat itu sudah dihuni oleh putranya, Be Biauw Tjoan. Rumah Be Biauw Tjoan itu dikelilingi dengan kebun yang indah dan dari situlah asal nama kampung Kebon Dalem  ( Liem, 1933; 125 ). Ada kesamaan dari kedua rumah, yakni  menggunakan atap berjurai seperti ekor walet atau yan-wei yang hanya boleh dipakai pada rumah pejabat kekaisaran atau tempat ibadah.
Kali Semarang tahun 1900an. Kebanyakan ruko-ruko di Pecinan Semarang dibangun membelakangi sungai.
Saya menyeberangi jembatan yang membentang di atas Sungai Semarang yang dangkal dan berair keruh itu. Kondisinya sangat kontras  dengan dua ratus tahun silam. Kala itu, Sungai Semarang masih cukup dalam, sehingga masih dapat dilewati perahu. Sungai ini tak hanya dipakai untuk saran pengangkutan saja, namun juga sebagai tempat pesiar. Orang-orang yang mampu berpesiar dengan menumpang perahu yang telah dihias begitu elok. Sambil berlayar, mereka ditemani oleh penari dan diiringi dengan orkes musik  Tionghoa. Namun pemandangan itu sudah tak terlihat lagi semenjak dibangunnya Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Debit air jauhberkurang, sehingga sungai menjadi dangkal dan tak lagi dapat dilalui perahu. Kini, satu-satunya benda yang dapat berlayar di Sungai Semarang hanyalah sampah-sampah domestik saja.
Kelenteng See Hok Kiong.


Kelenteng Tan Seng Ong.
Masih di Sebandaran, di sana saya menjumpai dua kelenteng yang kemegahannya mungkin melampaui Kelenteng Tay Kak Sie. Kelenteng yang dimaksud  yakni Tan Seng Ong dan Kelenteng See Hoo Kiong. Kelenteng Tan Seng Ong dibangun tahun 1814 oleh Tan Tiang Tjhing dan diperuntukan bagi marga Tan. Kelenteng ini termasuk kelenteng terbesar di kawasan Pecinan Semarang karena tapak lahannya sangat luas. Tidak heran karena si pembangun kelenteng sendiri adalah orang terkaya di masanya. Beringsut ke barat, ada kelenteng See Hoo Kiong yang dibangun oleh marga Liem pada 1881 untuk didedikasikan kepada Ma Tjouw Kiong atau Dewi Laut. Alih-alih dicat warna merah emas seperti kelenteng lain, kelenteng itu justru masih mempertahankan keaslian warnanya yang coklat gelap. Kelenteng See Hoo Kiong tergolong kelenteng dengan status tinggi jika menilik jumlah undakan tangganya. Kendati demikian, dua kelenteng tadi tak seramai kelenteng Tay Kak Sie, apalagi Sam Poo Kong lantaran letaknya yang  tersembunyi di sebuah jalan kecil sehingga tak banyak orang yang mengetahuinya.

Bekas kediaman Kapiten Kwee Lian Tjong.


Bekas kediaman Ong Ing Lip di Jalan Kranggan No.58.

Rumah tua yang kini menjadi toko Bandung Jeans. Ornamen kaca patri masih dipertahankan.
Dari Sebandaran, langkah kaki saya ayunkan ke kawasan Kranggan. Dulunya kawasan Kranggan adalah tanah milik seorang rangga atau bangsawan Jawa. Lalu Kapiten Kwee Lian Tjong, kapiten cum pemborong bangunan mendirikan rumah di sana pada 1795. Rumah itu dikelilingi dengan kebun yang ditanami aneka sayuran dan bunga. Dari situlah muncul nama Kampung Kebon Lancung. Rumah Kapiten Kwee Lian Tjong masih ada sampai sekarang. Letaknya jauh berada di dalam gang, tepatnya di ujung jalan Kranggan Dalam dan sekarang menjadi rumah keluarga Hj.Wiwiek. Tak hanya rumah Kapiten Kwee Lian Tjong, saya mendapati rumah kuno lain. Rumah kuno dua lantai itu tersembunyi di balik ruko-ruko baru. Rumah ini begitu kaya akan dekorasi, dari lantainya yang dilapisi marmer, beranda depan yang ditopang pilar bergaya korintian, dan lisplang kayu yang penuh ukiran. Jelas bukan orang Tionghoa sembarangan yang dulu tinggal di sini. Dari keterangan penjaga, rumah ini dulu ditempati oleh juragan sandal dan percetakan bernama Ong Ing Lip. Di sana, ada pula toko Bandung Jeans yang menempati sebuah rumah kuno yang masih terpelihara dengan baik.
Salah satu rumah tua di Wotgandul.


Rumah Kopi Wotgandul. Masih berada di dalam lingkungan Pecinan, rumah ini terlihat unik karena menonjolkan arsitektur Indis ketimbang arsitektur Tionghoa yang banyak terlihat pada bangunan di Pecinan.
Lawatan saya di pecinan Semarang saya tuntaskan di hadapan sebuah rumah tua di Wotgandul yang masih terawat dengan baik. Dengan kolom-kolom art deco di beranda depannya dan kolom klasik di balkonnya, rumah itu amatlah unik karena langgam kolonial terlihat lebih menonjol ketimbang langgam Tionghoanya. Atap pelananya dipermanis dengan hiasan kemucak yang dikenal sebagai geveltoppen. Saya beruntung dapat berjumpa dengan Bapak Basuki Dharmowiyono, pemilik dan penghuni rumah itu. Sehari-hari, ia berdagang biji kopi mentah di samping rumahnya, mewarisi usaha leluhurnya yang sudah tiga generasi tinggal di rumah itu. Di belakang rumah ini, terdapat bekas pabrik pengolahan kopi yang dibangun oleh Tan Tiong Ie, kakek bapak Basuki, yang merintis usaha pengolahan biji kopi di Cimahi sebelum pindah ke Semarang pada tahun 1925. " Di masa jayanya, rumah ini kemudian direnovasi pada 1927. Beranda depan yang semula sejajar dimajukan dan tiangnya diganti gaya art deco. Untuk arsiteknya, kakek saya mempercayakan pada Liem Bwan Tjie. Selain itu, dia juga memesan altar leluhur baru dari arsitek J.Th. van Oyen ", terang bapak Basuki sembari menunjuk altar yang dimaksud. Dua nama yang disebutkan tadi merupakan arsitek terpandang di masanya. Liem Bwan Tjie adalah arsitek modern pertama yang berdarah Tionghoa. Sementara J.Th. van Oyen sudah membikin banyak bangunan gereja di Semarang dan Jakarta. Dengan bersemangat, beliau kemudian bertutur panjang lebar bagaimana ikhtiarnya untuk melestarikan bangunan peninggalan leluhurnya. “Dalam pelestarian, saya menggunakan konsep CIUM, C untuk Cinta, I untuk ilmu, U, untuk uang, dan M untuk Manajemen", tuturnya. " Pelestarian tumbuh dari rasa cinta atau rasa ikatan emosional pada tinggalan, kemudian kita harus tahu ilmunya agar tidak asal-asalan dalam prosesnya, selanjutnya jelas kita butuh uang sebagai modalnya, terakhir adalah manajemen. Percuma jika tiga hal tadi dijalankan namun tidak melalui manajemen yang baik ", jelas bapak Basuki lebih rinci tentang konsep yang beliau anut. Saya kagum dengan semangat Bapak Basuki ini, semangat yang sepantasnya tertanam di sanubari para pemilik bangunan cagar budaya. Saking asyiknya berbincang dengan Bapak Basuki, saya tak sadar kalau sore sudah berganti malam.

Usai berpamitan, saya berjalan menyusuri jalanan pecinan yang kini telah dipenuhi para pedagang kaki lima. Di bawah bayang-bayang langit malam yang gelap tanpa bintang, saya berandai-andai jika semua penduduk pecinan ini memiliki semangat seperti Bapak Basuki,  tentu Pecinan Semarang kilau pesonanya akan sepadan dengan pecinan Malaka yang kini telah menjadi Warisan Dunia. Sayang, keruhnya Sungai Semarang yang meliuk di tepiannya sepertinya menggambarkan nasib pecinan Semarang hari ini.


Referensi

Brommer dkk. 1995. Semarang, Beeld van een stad. Purmerend : Asia Maior.

Handinoto. 1999. " Lingkungan "Pecinan " dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial " dalam Dimensi Teknik Sipil Vol. 27, no.1 Juli 1999.


Liem Thian Joe. 1931. Riwayat Semarang. Batavia : Boekhandel Drukkerij


Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta : Penerbit Ombak.


Widodo. J. 2000. " Bangunan Toko dan Kelenteng " dalam Indonesian Heritage : Arsitektur. Jakarta : PT. Widyadara.

1 komentar:

  1. All thumbs up untuk Lengkong! Akurat, enak dibaca.

    BalasHapus