Minggu, 12 Agustus 2018

Bayang-Bayang Masa Lalu Magelang, Bergstad van Midden Java



Ada sebuah puncak bukit yang menyembul di tengah sebuah kota. Bukit itu adalah Bukit Tidar yang tersohor sebagai pakunya Pulau Jawa. Sementara di kakinya ada kota Magelang, kota yang tumbuh dari garnisun militer menjadi kota pegunungan terindah di Jawa Tengah. Karena letaknya di tengah lingkar pegunungan, orang Belanda di masa lampau kerap menjuluki Magelang sebagai Bergstad van Midden Java, kota pegunungan di Jawa Tengah. Kendati tak sebesar kota-kota lain di Jawa, Magelang mengoleksi banyak sekali bangunan kuno yang menarik. Inilah ikhtiar saya dalam melihat bayang-bayang masa lalu kota Magelang.
Pemandanan udara kota Magelang dilihat dari sebelah barat. Rumah besar di kiri foto adalah kediaman residen Kedu.
Di tengah lingkaran kaki gunung berapi Sumbing, Merbabu, Sindoro, Menoreh, dan Merapi, terhampar sebuah dataran luas yang dikenal sebagai dataran Kedu. Berbagai monumen peradaban kuno karya besar leluhur terserak di dataran yang terhampar bagai permadani hijau itu. Letaknya yang berada di ketinggian 400 mdpl menjadikan iklim dataran Kedu cukup ramah untuk ukuran orang Eropa yang tak tahan iklim tropis. Tidak terlalu panas di siang hari, namun tidak terlalu dingin pula di malam hari. Iklimnya setara dengan iklim Italia Selatan. Dengan segala keindahan dan kenyamanan yang melekat padanya, tak heran jika dataran ini menyandang gelar sebagai Tuin van Java, tamannya Pulau Jawa. Di Jawa, hanya dataran bumi Priangan saja yang dapat mengalahkan keindahan dataran Kedu. Persis di tengah dataran subur itu, menyembul sebuah bukit kecil. Bukit Tidar namanya yang menurut legenda adalah pakunya Pulau Jawa dan di kaki bukit itulah kota Magelang berada ( Anonim, 1936; 10 ).
Alun-alun Magelang, jantung kota Magelang ( sumber : media-kitlv.nl ).
Ada banyak kisah tentang asal-usul nama Magelang. Salah satunya berdasarkan tafsir dari M.M. Soekarto yang menyebutkan asalnya dari nama Desa Glang-glang sebagaimana disebutkan pada prasasti Poh yang dikeluarkan atas titah Dyah Balitung. Magelang memang telah ada sejak masa peradaban Mataram kuno, walau saat itu masih berupa desa kecil yang terdiri dari beberapa kampung yaitu Dukuh, Tulung, Boton Kopen, Boton Bolong dan Meteseh. Gaung Magelang kemudian sempat tenggelam selama beberapa abad. Pada era kerajaan Mataram Islam, Magelang merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta sebelum akhirnya jatuh ke pangkuan pemerintah kolonial Inggris pada 1810. Dua tahun kemudian, Magelang diserahkan kepada Belanda. Karena letaknya yang strategis, pemerintah kolonial menjadikan Magelang sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Kedu pada 1818 ( Anonim, 1936; 18 ).
Peta kota Magelang pada awal 1900an.
1828, Jenderal De Kock memindahkan markas besarnya dari Surakarta ke Magelang pada kala Perang Jawa sedang bergemuruh. Kala itu, kota Magelang terkepung oleh pasukan pengikut Diponegoro dan rakyat yang bersimpati kepadanya. Militer Belanda pun lantas mengembangkan garnisun tentara di sana. Bersama dengan Purworejo, Magelang menjadi garnisun Belanda yang penting saat Perang Jawa. Perlawanan Diponegoro melawan Belanda berangsur-angsur dipatahkan dan berakhir sesudah Pangeran Diponegoro ditangkap di kediaman Residen Kedu. Perang Jawa pun usai, namun riwayat kota Magelang tak berhenti sampai di sini seperti yang terlihat pada beragam jejaknya yang masih tersisa..
Rumah bupati Magelang.
Alun-alun Magelang, sebagaimana tata kota sebuah kota Indis, dikerumuni oleh gedung-gedung penting, dari masjid, dalem bupati, gereja, kantor Pos dan Telepon, kantor Esompto, sekolah MOSVIA, sosieteit, kelenteng, hingga hotel. Alun-alun Magelang mulai dibuka saat Inggris mensahkan kota itu sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Kedu pada 1810. Sebagai kepala pemerintahan, Inggris menunjuk Mas Ngabehi Danoekromo sebagai bupati. Gelar Raden Tumenggung Danuningrat baru diberi setelah kekusaan Inggirs diserahkan kepada Belanda ( Anonim, 1936;18 ). Bersamaan dengan itu, bupati Magelang membangun rumah kediamannya atau dalem di utara alun-alun. Rumah bupati sudah lama hancur pada persitiwa bumihangus Magelang saat perang revolusi kemerdekaan.

Masjid Agung Magelang tampak sebelum dirombak tahun 1930an dan sekarang ( sumber : media-kitlv.nl ).


GPIB Magelang.
Kelenteng Magelan awal tahun 1900an ( sumber : media-kitlv.nl ).


Gereja St. Ignatius Magelang sebelum dirombak tahun 1960an. Gedung gereja dibangun dalam gaya Neo-Romanesque ( sumber : media-kitlv.nl ).
Pastoran Gereja St. Ignatius Magelang.



Berada di sebelah barat adalah Masjid Agung Magelang yang sudah ada sejak zaman pra-kolonial. Dari masa bupati Magelang yang pertama, masjid ini berulangkali beralih rupa. Rupa masjid yang sekarang merupakan hasil perombakan bupati Magelang ke 5, R.T. Danoesoegondo dengan bantuan dari arsitek Belanda H.Pluyter. Oleh Pluyter, masjid agung Magelang diberi sentuhan langgam Indo-Mughal pada serambi depannya; yang menurut majalah Locale Techniek tidak serasi dengan lingkungan sekitarnya ( Soesilo, 1937; 154 ). Masih di dekat alun-alun, Belanda membangun gereja denominasi Protestan dengan langgam neogotik. Gereja yang usianya telah menginjak lebih dari dua abad ini masih dipakai untuk ibadah. Lalu tak jauh dari gereja ini, terdapat kompleks gereja Katolik St.Ignatius yang didirikan oleh Romo F. Voogel S.J pada 1900 ( https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/04/gereja-st-ignatius/ ). Kendati bangunan gereja telah beralih rupa, namun bangunan pastoran yang halamannya masih menyatu dengan gereja ini masih asli. Bergeser ke selatan alun-alun yang menjadi gerbang masuk ke kawasan Pecinan, terdapat tempat ibadah orang Tionghoa yang disebut kelenteng. Sayang bangunan asli kelenteng Magelang sudah terlalap api dan kini diganti dengan bangunan baru yang tidak mencermikan bangunan asli. Keberadaan tiga tempat ibadah di sekitar alun-alun merupakan cermin kemajemukan komunitas masyarakat yang tinggal di Magelang, yakni Tionghoa, Belanda dan, pribumi.
Menara air Magelang, salah satu tengara kota Magelang.
Bangunan menara air atau watertoren di salah satu sudut alun-alun masih terlihat perkasa. Ukurannya yang besar, bentuknya yang unik, serta letaknya di alun-alun yang banyak didatangi orang adalah alasan bangunan ini menjadi bangunan paling ikonik kota Magelang. Bangunan bundar raksaksa ini berperan sebagai tempat menyimpan air bersih untuk warga kota. Bangunan ini hanyalah salah satu dari upaya pemerintah Belanda untuk memelihara kota koloninya semenjak Belanda berhasil menancapkan kuku kekuasaanya. Saat itu, kota Magelang mulai memasuki masa “tenang dan damai”. Pembangunan infrastruktur mulai digalakan, terutama jalan raya yang menghubungkan Magelang dengan tempat lain seperti jalan ke Salaman yang dibangun tahun 1942 ( Anonim, 1936 ; 22 ). Sungai Elo dan Progo yang membujur dari utara ke selatan memberi bentuk kota Magelang dengan Jalan raya Semarang-Yogyakarta sebagai jalan utama. Menemani di sepanjang jalan Grooteweg atau kini menjadi Jalan Ahmad Yani, adalah pohon-pohon besar yang memberi kesejukan udara pada siapapun yang berjalan di bawahnya.
Salah satu plengkung Kali Manggis.
Air adalah salah satu kebutuhan penting dalam permukiman, oleh karena itu pemerintah kolonial menggali sebuah akuaduk atau saluran air yang airnya berasal dari Kali Manggis. Masyarakat Magelang masa kini mengenalnya dengan nama Saluran Kali Manggis. Saluran itu mulai digali pada 1857 dan kemudian disempurnakan beberapa tahun berikutnya ( Anonim, 1936; 22 ). Hingga sekarang, air masih senantiasa mengalir lewat saluran yang membelah kota Magelang itu. Begitu banyak fungsi saluran air ini, dari sebagai saluran irigasi, sarana air minum, hingga untuk menanggulangi bencana kebakaran yang kerap melanda Magelang di masa lampau karena saat itu masih banyak bangunan dari bambu. Karena saluran itu melintang di tengah kota, maka dibuatlah tiga buah pelengkung ( https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/30/saluran-air-kali-manggis/ ).
Kantor dewan kotapraja Magelang. Bangunan sudah hilang.
Kota itu kian menonjol setelah Karesidenan Bagelen dilebur bersama Karesdienan Kedu. Magelang akhirnya memainkan peran penting sebagai ibukota karesidenan dan pangkalan militer Belanda di Kedu. Puncaknya adalah tahun 1906, lewat UU Decentralisasiewet, Magelang disahkan sebagai kotamadya sejak 21 Februari 1906 ( Anonim, 1836; 7 ). Dengan adanya kebijakan ini, kota Magelang memiliki pemerintahan otonom yang dikelola secara profesional layaknya kota-kota di dunia barat . Sebagai kepala wilayah, ditunjuk seorang walikota atau kepala daerah. Gementee Magelang sempat memiliki sebuah kantor atau raadhuis yang sayangnya sudah hancur sewaktu perang kemerdekaan.
Kawasan kampung Kwarasan dewasa ini.
Miniatur Kampung Kwarasan.
Bekerja sama dengan arsitek Thomas Karsten, gementee Magelang melakukan pemekaran wilayah dengan membuat sebuah kampung yang sekarang dikenal dengan nama Kwarasan pada 1937. Sesuai artinya dalam bahasa Jawa yang berarti “sehat”, perancangan kampung itu memperhatikan betul kualitas hidup sehat masyarakat seperti yang dianjurkan oleh H.F. Tillema pada bukunya, Kromoblondo. Antar rumah diberi sedikit ruang dengaan jarak yang tidak terlalu renggang agar udara dan cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah. Di kampung itu disediakan pula tanah lapang agar warga bisa berolahraga. Jalan diaspal dan di kanan kirinya diberi pohon perindang. Selain menata perkampungan, tugas utama Gementee lainnya mencakup memperindah taman-taman umum, membersihkan jalan raya, memperkeras jalan dan membersihkan saluran pembuangan. ( https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/30/kampung-kwarasan/ ).


Perumahan-perumahan tentara. Ukuran dan bentuk rumah tergantung pangkatnya. Sebagian besar masih dalam kondisi baik. ( sumber : media-kitlv.nl )

Bekas markas polisi militer zaman Belanda ( sumber : media-kitlv.nl ).

Military ziekenhuis dulu dan sekarang ( sumber : media-kitlv.nl ).
Hingga hari ini, Magelang dikenal sebagai kota militer. Selain keberadaan Akademi Militer yang ada di selatan kota, keberadaan sarana militer yang dibangun di tepi utara kota menjadi alasan kuat gelar kota militer disematkan pada kota ini. Gill berpendapat bahwa alasan garnisun ditempatkan di pinggir utara kota ialah adanya niatan pemerintah kolonial untuk melanjutkan pembangunan berdasarkan karakter bentuk kota Magelang ( Gill, 1995; 220 ). Memang pada akhirnya Magelang sengaja dibesarkan oleh pemerintah kolonial sebagai garnisun militer utama Belanda di Jawa bersama Cimahi, Bandung, dan Malang. Garnisun atau militaire encampment di Magelang sudah ada jauh sebelum Perang Jawa pecah, tepatnya pada tahun 1817. Saat itu, barak-barak tempat tinggal serdadu masih terbuat dari bambu dan baru pada pertengahan abad ke-19 bangunan di dalam kompleks garnisun itu diperkuat dengan batu ( Anonim, 1936; 20 ). Besarnya tentara yang berkedudukan di Magelang membuat militer Belanda membentuk kesatuan polisi militer untuk mendisiplinkan mereka. Kesatuan itu bermarkas di sebuah gedung di ujung lapangan latihan ( kini lapangan RINDAM ). Berikutnya militer Belanda melalui Military Geneeskundige Dienst mendirikan sebuah rumah sakit militer pada 1867 ( https://historicalhospitals.com/hospitals-2/military-hospitals/garrison-hospital-magelang/ ). Rumah sakit ini dikenal memiliki peralatan kesehatan yang lengkap dan dokter spesialis yang ahli di bidangnya Militer Belanda juga mendirikan rumah-rumah untuk para perwira berpangkat letnan dan kapten dengan gaya zeni yang sangat khas.

Bekas sekolah Kweekschool voor Inlandsch Ambtenaaren ( sumber : media-kitlv.nl ).
Selain bangunan militer, Magelang juga memiliki banyak bangunan sekolah yang dapat dijumpai di setiap penjuru kota, tanda bahwa pendidikan di Magelang sudah menjadi perhatian utama semenjak dulu kala. Total ada 39 sekolah dari berbagai jenjang untuk setiap kelompok masyarakat yang dibuka. Sekolah-sekolah itu ada yang milik pemerintah ada pula yang milik swasta. Pendidikan mula-mula hanya menyasar untuk anak-anak keturunan Eropa, namun seiring waktu orang pribumi juga mendapat jatah kursi di sekolah milik Belanda walau hanya dididik sekedar untuk menjadi pamong pemerintah tanpa mengembangkan keilmuan mereka. Kompleks sekolah terbesar di Magelang adalah sekolah Kweekschool voor Inlandsch Ambtenaren yang kini menjadi kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Dibangun tahun 1899, sekolah di Jalan Yos Sudarso No.31 itu dibuka dengan maksud mencetak tenaga guru dari kalangan bumiputera. Guru-guru ini nantinya akan mengajar pada sekolah-sekolah kader pamong praja kolonial.

Societeit "De Eendracht" dan ruang bilyar di dalamnya. Gedung societeit hancur sewaktu perang kemerdekaan ( sumber : media-kitlv.nl ).
Mengenai hiburan, ada banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh orang Eropa untuk mencari kegembiraan di waktu senggang. Buku Magelang de Middlepunt van Den Tuin van Java menyebutkan beberapa sarana hiburan di masa kolonial seperti Societeit  “De Endracht” di dekat alun-alun, societeit militer, tiga buah kedai teh, dan dua bioskop modern yang memutar 6 film per minggunya ( Anonim, 1936; 56 ). Sarana hiburan paling elit adalah Soceiteit “ De Endracht”, dimana hanya orang kulit putih saja yang boleh masuk ke sana. Di sana mereka dapat bermain bilyard, minum-minum, berdansa-dansi, atau menonton pertunjukan musik tonil.
Bekas depo kereta Stasiun Magelang.
Stasiun Magelang Pasar di kanan gambar ( sumber : media-kitlv.nl ).
Sebuah bangunan tua tampak teronggok bisu di salah satu sudut sub terminal angkutan kota Kebonpolo. Sebelum menjadi tempat pemberhentian angkutan kota, tempat itu pernah menjadi satu dari dua stasiun kereta api di kota Magelang. Bangunan tua tadi adalah bekas depo kereta stasiun ini. Jalur kereta mulai melewati Magelang pada tahun 1898. Jalur itu menghubungkan Magelang dengan Yogyakarta dan pada tahun 1905 dibuka jalur kereta ke arah Secang. Selain Stasiun Magelang Kota ada pula Stasiun Magelang Pasar dan sebuah halte di tengah alun-alun Magelang ( https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/01/30/sejarah-perkeretaapian-di-magelang-temanggung/ ). Ada alasan mengapa kota ini bisa memiliki dua stasiun. Saat itu, Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij perusahaan kereta swasta masa kolonial, diminta pemerintah untuk membangun jalur kereta melewati Magelang. Pertimbangannya, Magelang adalah kota militer terbesar di Jawa Tengah. Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij menyanggupi permintaan ini. Namun timbul tarik ulur mengenai dimanakah stasiun kereta akan ditempatkan. Pemerintah kolonial meminta untuk ditempatkan di utara kota, dekat dengan garnisun sehingga pergerakan militer menjadi mudah. Namun insting bisnis Nederlandsch Indsche Spoorweg Maatshappij, melihat bahwa stasiun itu akan jauh lebih menguntungkan jika ditempatkan di dekat Pasar Rejowinangun, urat perdagangan kota Magelang. Maka jadilah kota ini memiliki dua buah stasiun. Kejayaan kereta di Magelang telah lama berlalu, kira-kira pada tahun 1970an, yakni saat moda angkutan kereta mulai dikalahkan oleh angkutan lain.

Bekas pabrik cerutu milik Ko Kwat Ie.
Di sektor industri, cerutu adalah yang paling menonjol di antara beberapa industri di Magelang seperti industri pembuatan es dan tegel. Maklum jika industri cerutu yang paling menonjol karena wilayah sekitar Magelang merupakan penghasil tembakau utama. Kira-kira ada delapan industri rokok yang pernah berjaya di Magelang. Tujuh di antaranya dipegang oleh orang Tionghoa dan yang paling mahsyur adalah industri rokok milik Ko Kwat Ie. Dengan nama dagang Panama-ster dan Deli-Havana, cerutu itu dibuat di pabrik yang bangunannya saat ini masih berdiri di Jalan Tarumanegara. Cerutu Magelang memiliki kualitas yang terjamin, maka bukanlah suatu hal yang mengherankan jika cerutu ini mampu menembus pasaran Eropa. Berkat industri ini, lapangan pekerjaan untuk masyarakat Magelang terbuka luas. Bayangkan, untuk pabrik cerutu Ko Kwat Ie saja bisa memiliki tiga ribu karyawan lebih, belum pabrik yang lain (  https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2015/02/27/mengenal-ko-kwat-ie-sang-raja-cerutu-liputan-djeladjah-sang-raja-tjeroetoe/ ).
Sisa gerbang kerkhof Magelang.
Rumah Sakit Jiwa Kramat.

Kala pinggiran kota Magelang yang masih luas, dibangun bangunan pelayanan umum. Misalnya Rumah Sakit Jiwa atau Krankzinnigengesticht Kramat di pinggir utara kota. Tanah sekitar saat itu masih kosong dan belum banyak penduduk sehingga masih memungkinkan untuk diadakan perluasan dan tempat yang sepi sangat membantu dalam memulihkan kejiwaan orang. Dibangun tahun 1923, Krankzinnigengesticht Kramat merupakan rumah sakit jiwa ketiga yang dibangun Belanda setelah Malang dan Bogor ( https://historicalhospitals.com/specialized-hospitals/psychiatry/psychiatry-hospital-magelang/ ). Di selatan kota tak jauh dari lereng Bukit Tidar, sebuah lahan pemakaman orang Eropa atau kerkhof dibuka. Saat ini yang bisa disaksikan dari kerkhof itu hanyalah pintu gerbang dan beberapa makam yang tersembunyi di balik dereta kios-kios jalan Ikhlas.

Rumah residen Kedu.
Saat kota Magelang tumbuh menjadi pusat pemerintahan kolonial, baik bangunan milik orang Eropa ataupun orang Tionghoa banyak yang masih terbuat dari bambu. Hanya sedikit saja bangunan yang menggunakan batu, yakni rumah residen, rumah kontrolir dan rumah perwira. Pada masa awal kolonial di Magelang, rumah terindah adalah rumah residen Kedu yang kini menjadi Kantor Bakorwil Kedu. Sebagai hoofdnegorij atau ibukota pemerintahan kolonial di Kedu, keberadaan rumah residen adalah hal mutlak. Dibangun tahun 1819 oleh kolonel J.C. Schultze, pembangunan rumah ini menelan biaya sebesar 10.000 gulden ( Anonim, 1936; 20 ). Rumah ini menjadi tersohor dalam sejarah nasional setelah Belanda menjadikan rumah ini sebagai tempat melaksanakan tipu daya untuk menjebak Pangeran Diponegoro. Setelah Perang Jawa usai, rumah ini dirubah bentuknya. Semburat Gunung Sumbing terlihat elok dari beranda belakang gedung ini, tempat residen menjamu tamu. Di belakang rumah ini, ada sebuah taman indah yang dilengkapi gazebo, rusa-rusa jinak, dan pajangan patung-patung kuno yang diambil di sekitar Magelang.
Kantor residen Kedu yang kini menjadi Museum BPK.
Sebagaimana pembagian tata permukiman di Jawa pada abad ke-19, kawasan permukiman di kota Magelang dibagi tiga jenis. Pertama adalah permukiman orang Eropa dan elite pribumi berupa kompleks rumah tembok berhalaman luas. Kedua adalah kawasan pecinan yang berupa dereta rapat rumah toko. Ketiga adalah permukiman golongan pribumi berupa rumah kampung beratap ijuk dan berdinding bambu. Mulanya orang Eropa biasanya akan kembali ke negeri asalnya setelah masa bekerjanya di sini sudah habis. Namun pada akhirnya, mereka kemudian memutuskan untuk tinggal di sini sepanjang hidupnya. Dari situlah muncul rumah-rumah gaya Indis, sebuah gaya yang memadukan unsur Eropa dengan lokal. Gaya inipun rupanya ditiru pula oleh orang Tionghoa kaya. Magelang, seperti halnya kota-kota di pedalaman yang fungsi perdagangan kurang menonjol, bentuk kotanya kabupaten tidak teralu berbeda dengan lingkungan pedesaan dimana setiap rumah memiliki halaman depan yang sangat luas. Dengan iklim yang boleh dikatakan sejuk dan sarana yang lengkap, banyak warga Eropa yang betah tinggal di sini. Tersimpan harapan di hati ereka agar masih dapat tinggal tenang di sini dalam waktu yang lebih lama. Namun apa daya, harapan mereka pupus, sirna ditelan kenyataan setelah Hindia-Belanda ditaklukan Jepang pada 1942 dan mereka terusir dari Magelang. Walau orang Belanda telah lama pergi, cukup banyak rumah kuno peninggalan mereka yang masih dapat disaksikan.




Aneka rupa rumah Indis Empire di Magelang.


Rumah-rumah kuno yang dibangun sekitar tahun 1890-1910an.
Omah Bunder, gaya arsitekturnya terilhami dari Villa Isola di Bandung.
Seperti itulah kiranya kisah beberapa bangunan kuno yang telah menemani hari tua kota Magelang,kota yang begitu dibanggakan oleh gementee Magelang, kota pegunungan yang kenyamanannya disetarakan dengan Bandung dan Malang. Sudah sepatutnya warga Magelang bangga dengan kota yang masih menyimoan segudang bangunan sarat kisah yang menjadikan sejarah Magelang terasa lebih hidup. Kebanggan itu dapat diwujudkan dengan bersama-sama menjaga bangunan berserajah itu, agar kebanggan yang dirasakan oleh generasi masa kini dapat dirasakan oleh generasi berikutnya. Sekianlah tulisan singkat Jejak Kolonial kali ini mengenai bayang-bayang masa lalu Magelang, . permata berharga yang dimiliki oleh ibu alam Kedu.

Referensi
Anonim, 1936. Magelang, Middlepunt van den Tuin van Java. Magelang ; Bestuur der Stadsgementee Mgaelang.
Gill, Ronald G. 1995. De Indische Stad op Java en Madoera. Delft ; Publikatieburo, Faculteit der Bouwkunde, Techinse Universiteit Delft.
Soesilo. 1937. Inhemeesche Missigitgebouw dalam Locale Techniek No.6 November-Desember 1937.
https://historicalhospitals.com/hospitals-2/military-hospitals/garrison-hospital-magelang/
https://historicalhospitals.com/specialized-hospitals/psychiatry/psychiatry-hospital-magelang/
https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/04/gereja-st-ignatius/
https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/30/saluran-air-kali-manggis/
https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/01/30/sejarah-perkeretaapian-di-magelang-temanggung/
https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2015/02/27/mengenal-ko-kwat-ie-sang-raja-cerutu-liputan-djeladjah-sang-raja-tjeroetoe/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar