Sabtu, 14 Mei 2016

Menyelami Purworejo, Kota Kecil Calon Ibukota Hindia-Belanda yang Terlupakan

Apa yang menjadikan kota Purworejo dijuluki sebagai kota pensiun ? Entahlah. Saya yang lahir dan tumbuh di kota itu sampai sekarang tidak tahu asal muasal julukan tadi. Namun ketika berjalan mengelilingi kota kecil ini, julukan kota pensiun ada benarnya juga. Jalanan yang lengang dengan pohon-pohon asam besar di kanan-kirinya dan segudang bangunan tua peninggalan masa Belanda yang masih utuh tampaknya menjadi sebuah perpaduan yang bagus untuk para pensiunan yang ingin menghabiskan masa tuanya. Pada tulisan Jejak Kolonial kali ini, saya akan memandu berkeliling kota Purworejo, menggali sekilas kejayaan masa lampau Purworejo lewat peninggalan-peninggalan yang bertaburan di berbagai penjuru kota kecil ini. Tulisan saya kali ini akan saya dedikasikan untuk kota Purworejo tercinta……
Persebaran bangunan kolonial yang ada di Purworejo.
Saya kini berdiri di tengah alun-alun Purworejo, sebuah ruang terbuka yang terletak di tengah kota Purworejo. Alun-alun itu dikepung dengan bangunan-bangunan penting seperti kediaman bupati dan residen, masjid, gereja, kantor pos, kantor pengadilan, dan penjara. Dengan ukuran sebesar 250 m x 250 m, ia menjadi alun-alun kota tradisional terluas di Jawa yang pernah dibangun. Dalam konsep tatanan kota tradisional Jawa, alun-alun menjadi komponen utama sebuah kota. Di sinilah berbagai upacara penting dihelat, rakyat berkumpul dalam sukacita perayaan dan juga sebagai tempat beranjangsana. Sepasang pohon beringin ditanam di tengah alun-alun sebagai bentuk legitimiasi bahwa seorang bupati tak hanya sebagai seorang penguasa wilayah saja, namun juga merupakan wakil Tuhan di muka bumi. Di sisi utara alun-alun, dapat dijumpai dua buah paseban, tempat para tamu bupati dulu singgah sebelum diperkenankan menghadap ke bupati. Di kejauhan, saya dapat melihat sedikit puncak perbukitan Menoreh, dimana lembah-lembahnya dulu menjadi palagan utama Perang Jawa yang dahsyat. Kota Purworejo modern yang dikenal saat ini, sesungguhnya lahir di atas abu perang itu…
Suasana alun-alun Purworejo tempo dulu. Di kejauhan tampak rumah Residen yang kini menjadi kantor bupati Purworejo.
Waktu sejenak mundur kembali ke belakang, ke era berkecamuknya Perang Jawa yang terjadi pada tahun 1825 hingga 1830. Perang yang banyak menelan biaya itu merupakan titik puncak kekecewaan Pangeran Diponegoro terhadap kekuasaan pemerintah kolonial Belanda yang semakin ikut mencampuri urusan internal Kraton Yogyakarta. Palagan pertempuran Pangeran Diponegoro dengan Belanda membentang dari Sungai Progo di timur hingga Sungai Bogowonto di barat. Setelah sekian lama dipusingkan dengan strategi gerilya, Belanda mengatasi permasalahan itu dengan mempersempit ruang gerak pengikut Pangeran Diponegoro. Disusunlah strategi benteng stelsel, dimana militer Belanda mendirikan beberapa benteng dan garnisun di titik-titik yang dianggap dapat mempersempit ruang gerak pengikut Pangeran Diponegoro. Salah satu titik itu adalah Kedungkebo, cikal bakal kota Purworejo modern saat ini (Musadad, 2002; 6 )
Foto tangsi Kedungkebo pada tahun 1870an. Foto ini menghadap ke arah timur dan diambil dari lapangan latihan atau excertieplein yang sekarang menjadi kompleks SMA N 7 Purworejo (sumber : troppenmuseum.nl).
Lukisan  yang kemungkinan dilukis oleh R. R. Toelaer yang menggambarkan panorama kota Purworejo pada tahun 1845. Di belakang tampak panorama pegunungan Menoreh (sumber : troppenmuseum.nl).
Tertangkapnya Pangeran Diponegoro di Magelang pada tahun 1830 menjadi tanda berakhirnya Perang Jawa. Sebagai pampasan perang, Kasunanan Surakarta merelakan Bagelen untuk diambil oleh pemerintah kolonial Belanda. Gubernur Jenderal Van den Bosch, melalui besluit tanggal 18 Desember 1830 mengumumkan Bagelen dijadikan sebagai karesidenan yang mencakup wilayah seperti Tanggung (Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Remo Jatinegara (Karanganyar), Kutowinangun (Kebumen), Ledok (Wonosobo), dan Ambal dengan. Setelah Karesidenan Bagelen diresmikan, pemerintah kolonial mengutus Pieter Herbert Baron van Lawick van Pabst ke Brengkelan untuk membentuk pemerintahan kolonial di sana. Nama Brengkelan yang dirasa kurang patut untuk sebuah hoofdplaats atau pusat pemerintahan akhirnya diganti dengan nama Purworejo yang berarti “Awal dari Kemakmuran” ( Carey, 2017; 199-200 ).
Kios bensin yang menjual bensin produksi Shell yang dulu berada di sebelah timur alun-alun, tepatnya di depan SD Maria. Keberadaan kios bensin ini menunjukan di masa itu sudah ada beberapa orang Purworejo yang memiliki kendaraan mesin. Terlihat di foto seorang priyayi yang sedang mengisi bensin sepeda montornya. Dengan pakaian seperti itu, tidak diketahui bagaimana dia bisa naik sepeda montornya.
Bangkitnya Purworejo paska Perang Jawa tidak bisa dilepaskan dari jasa bupati perdana Purworejo, Cokrojoyo atau Cokronegoro I, mantan abdi dalem Kasunanan Surakarta yang di masa muda pernah satu seperguruan dengan Pangeran Diponegoro. Karena dia merupakan abdi Kasunanan Surakarta yang dimana pada waktu itu terikat perjanjian dengan Belanda, maka dengan berat hati dia bergabung dengan pihak kolonial melawan Diponegoro sebagai bentuk baktinya kepada Kasunanan Surakarta. Meskipun dia berada di pihak kolonial, beliau tidak pernah berhadapan secara langsung dengan Pangeran Diponegoro dan lebih memilih untuk menghindar karena dia merasa masih satu saudara seperguruan dengan Pangeran Diponegoro. Setelah perang usai, pemerintah kolonial mengangkat Cokronegoro I yang saat itu menjabat Bupati Brengkelan sebagai bupati pertama Purworejo pada tanggal 9 Juni 1830 dengan gelar Cokronegoro I. Menariknya, berbeda dari kebanyakan bupati saat itu yang memiliki darah biru, Cokronegoro berasal dari keluarga priyayi desa. Karena latar belakangnya itulah kecakapan ia dalam memimpin sempat diragukan Gubernur Jenderal. Namun akhirnya Cokronegoro I berhasil membuktikan bahwa ia adalah administrator yang cakap. Jauh lebih cakap dari pejabat kolonial sendiri lantaran ia sendiri pernah memiliki pengalaman sebagai abdi dalem di Kasunanan. Dalam mengatur pemerintahan ia tak sendiri karena ia dibantu pula oleh administrator Jawa kawakan dari Blora, Tumenggung Ario Suronegoro ( Carey. 2017; 204-206 ).
Peta tata kota Purworejo pada tahun 1905 (sumber : maps.library.leiden.edu).
Dalam perjalanannya, kota Purworejo rupanya sempat dicalonkan sebagai ibukota Hindia-Belanda yang baru menggantikan Batavia. Dalam literatur “De Indische Stad op Java en Madoera”, Ronald R. Gill menyebutkan bahwa pada 1846, von Gogem sempat mengusulkan pemindahan ibukota pemerintahan kolonial dari Batavia ke Purworejo. Gagasan Von Gogern ini didasarkan dengan berbagai pertimbangan, antara lain iklimnya yang cukup sehat, terdapat garnisun militer yang dapat dikembangkan sebagai sarana pertahanan, lokasinya yang strategis serta posisinya yang berada jauh di pesisir selatan sehingga kecil kemungkinan musuh menjangkau sampai sini (Gill. R. Ronald, 1990; 151). Bahkan  seandainya negeri Belanda di Eropa sana jatuh, keluarga kerajaan Belanda akan diboyong ke kota ini. Sayangnya, gagasan Von Gogern itu akhirnya menguap begitu saja setelah pemerintah kolonial lebih memilih Bandung sebagai calon ibukota baru Hindia-Belanda.

Masjid Agung Purworejo sekarang dan dulu.
Berbagai bangunan peninggalan Bupati Cokronegoro I dapat ditemukan di sekitar alun-alun. Berada di sebelah barat alun-alun ialah Masjid Agung Purworejo. Berdasarkan prasasti yang terpampang di atas pintu masuk ruang shalat utama, masjid ini didirikan tahun 1834. Layaknya masjid-masjid tua di Jawa, masjid itu memilliki atap tajug tumpang tiga dengan hiasan mustaka yang bertengger di puncak. Konstruksi masjid ditopang oleh empat tiang sokoguru atau tiang utama dengan umpak yang diambil dari bekas Yoni peninggalan masa klasik. 12 tiang soko rowo membantu konstruksi di dalamnya. Arsitektur masjid tradisional seperti masjid ini sudah semakin jarang ditemukan pada alun-alun di Jawa. Rata-rata bangunan masjid lain sudah dirombak menjadi modern dengan atap berbentuk kubah ala Timur Tengah. Sementara itu, di bagian serambi depan terdapat sebuah bedhug berukuran raksaksa yang dikenal sebagai Bedug Agung Pendhowo. Pembuatan bedhug ini bersamaan dengan pembangunan masjid ini. Menariknya, bedhug ini dibuat dengan kayu jati utuh tanpa sambungan…
Saluran air Kedung Putri.
Di belakang masjid itu, mengalir sebuah saluran air Kedung Putri yang membelah kota Purworejo. Kehebatan Cokronegoro dan trahnya tak hanya di bidang administrasi saja. Namun juga di bidang infrastruktur. Infrasturktur saat itu menjadi  bidang yang sangat diutamakan oleh Cokronegoro karena saat itu wilayah Purworejo adalah wilayah terpencil yang saking terpencilnya oleh Kolonel Cleerens disebut ‘buiten het wereld’, di luar dunia. Apalagi saat itu pertanian di Bagelen sempat terpuruk akibat perang. Maka pada 1832, Cokronegoro menggagas pembangunan saluran air yang airnya diambil dari sungai Bogowonto di dekat Geger Menjangan. Proyek raksaksa itu dikerjakan selama satu setengah tahun  dengan tenaga sebanyak 5.000 orang. Pembangunan saluran air itu kemudian dilanjutkan oleh para penerus Cokronegoro I. Mereka sadar jika Purworejo adalah daerah pertanian, kekuatan utama Purworejo. Dampak pembangunan saluran air itu sangat dirasakan oleh para petani Purworejo sampai hari ini. Sejarawan Robert van Niel menyebut jumlah lahan yang dibuka di Karesidenan Bagelen meningkat 220 persen, jauh lebih unggul dibandingkan Karesidenan Cirebon, Surabaya, atau Tegal ( Carey, 2017; 209-214 ).
Pendhopo Kabupaten Purworejo dulu (1930an) dan kini (2016). Tidak ada yang berubah selain bendera yang berkibar di depan pendhopo. Jika dulu bendera triwarna Belanda, kini bendera Merah Putih yang berkibar di depan pendhopo.
Di sebelah utara alun-alun, berdiri bangunan berbentuk Joglo yang kini menjadi kediaman resmi bupati Purworejo. Setelah diangkat menjadi bupati, tindakan pertama yang Cokronegoro lakukan adalah menggabungkan dua kota kuno, yakni Brengkelan dan Kedungkebo (Oteng Suherman, 2013; 38-39). Kediamannya yang semula berada di Brengkelan ( kini jadi Hotel Suronegaran ), dipindah ke utara alun-alun. Gedung kediamannya purna dibangun tahun 1833 dan seterusnya dihuni oleh keturunannya. Ia sengaja dibangun menghadap ke arah selatan karena dalam konsep kosmologi Jawa, di selatan terdapat samudera Hindia yang dipercaya menjadi kediaman Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk tidak membelakangi Keraton Surakarta yang dihormati oleh Cokronegoro. Bangunan Pendopo Agung ini terdiri dari dua bagian, yakni bagian pendopo beratap joglo di bagian depan, tempat menerima tamu serta penyelenggaran upacara penting, dan kediaman utama bupati Purworejo yang berarsitektur Indis di belakang pendopo. Menurut buku harian Cokronegoro I yang dihibahkan pada Bernhard von Sachsen Weimar, bupati sering mengadakan perjamuan dengan hidangan daging banteng, rusa, babi hutan, ayam hutan, dan merak yang diburu penduduk sekitar untuk santapan tamu bupati ( Carey, 2017;158 ).
Kediaman Residen yang kini beralih menjadi kantor bupati. Masih tetap menjadi pusat kuasa pemerintahan Purworejo.
Sebagai upaya pemerintah kolonial untuk menundukan kuasa pemerintah pribumi, di sekitar alun-alun terdapat bangunan-bangunan penting milik pemerintah kolonial. Yang terpenting tentu saja kediaman sang residen Bagelen, pusat kuasa pemerintah kolonial di Bagelen. Bangunan berlanggam Indisch Empire Style ini memiliki kolom-kolom besar di beranda depannya yang dimaksudkan sebagai bentuk kekuasaan mereka dihadapan orang-orang pribumi. Bangunan yang didirikan sekitar pertengahan abad ke 19 ini dibuat menghadap ke arah utara, tempat tinggal bupati, sebagai perlambang pengawasan pemerintah kolonial terhadap segala aktivitas di kediaman bupati, sehingga dapat dikatakan ada nuansa politis pada pemilihan lokasi kediaman residen. Dengan sedikit perubahan pada bagian wajah, bangunan itu masih menjadi pusat kekuasaan di Purworejo, kali ini sebagai kantor bupati Purworejo. Entah bagaimana perasaan residen seandainya ia hidup kembali dan melihat bendera Merah Putih berkibar di depan kediamannya. Pada tahun 1901, setelah kota Purworejo kehilangan statusnya sebagai ibukota akibat Karesidenan Bagelen dilebur dengan Karesidenan Kedu, maka bangunan tadi turun statusnya menjadi kediaman asisten residen. Walaupun Purworejo tak lagi menjadi kota penting namun pembangunan berbagai fasilitas masih terus dilanjutkan oleh pemerintah kolonial…
GPIB Purworejo (Indische Kerk).
Terletak di sebelah timur alun-alun, GPIB Purworejo adalah gereja yang masih mempertahankan bentuk lamanya. Sentuhan langgam neo-gotik begitu kentara dengan jendela-jendela kaca berbentuk jarumnya. Itulah Indische Kerk, tempat dimana orang-orang Belanda yang mayoritas menganut agama Kristen Protestan dulu beribadah. Gereja yang diresmikan pada tanggal 12 November 1879 itu aslinya memiliki menara lonceng beratap tajug, lalu atap menara itu diubah menjadi kubah. Sebagai bagian dari Indische Kerk, gereja tersebut berada di bawah otoritas pemerintah kolonial. Saat itu, selain sebagai pusat pemerintahan dan militer, Purworejo juga menjadi pusat zending atau penyebaran agama Kristen di Jawa tengah bagian selatan yang dilakukan oleh para penginjil dari kota Utrecht yang membentuk N.G.Z.V ( Nederlandsch Gereformerde Zending Vereeniging ). Di masa kolonial, dalam penyebaran agama Kristen setiap lembaga zending memiliki wilayah penyebaran tersendiri. N.G.Z.V saat itu memiliki wilayah zending yang mencakup Karesidenan Banyumas, Bagelen, Kedu, dan Vorstenlanden ( Pol, 1922; 7 ). Salah satu pegiat zending Belanda di Purworejo adalah Christina Pertonella-Phillips Steven. Mereka yang dibaptis di Purworejo antara lain fotografer terkenal, Kassian Cephas dan seorang kerabat Paku Alam V, Raden Mas Suryahasmara Natataroena .
Beginilah foto udara kota Purworejo pada tahun 1920an yang memperlihatkan tangsi militer Kedungkebo atau sekarang menjadi kompleks Yonif 412. 
Dari alun-alun, saya kemudian berjalan menyusuri jalan Urip Sumoharjo. Nama jalan itu diambil dari nama jenderal pendiri BKR, organisasi cikal bakal TNI, yang lahir di kota ini. Kota ini memang banyak melahirkan para petinggi di jajaran militer, mulai dari Jend. Urip Sumoharjo, Ahmad Yani, hingga Sarwo Eddhie Wibowo. Banyaknya orang Purworejo yang terjun ke kancah militer barangkali dilatarbelakangi oleh peran kota ini sebagai kota tangsi di masa lampau. Purworejo merupakan markas dari Batalyon Infanteri 18 dengan kekuatan sebesar 600 orang. Tangsi atau komplek militer selalu dibangun di tengah kota. Tiap tangsi memiliki barak yang di dalamnya terdapat tempat tidur sesuai kompi pasukan yang dilengkapi kelambu dan mebel sederhana. Karena ruangan terbatas, maka anak-anak serdadu tinggal di bawah kolong tempat tidur ( yang dari situlah lahir istilah anak kolong ). Setiap tangsi diberi batas berupa pagar kawat dan terdapat penjagaan 24 jam untuk menjaga ketertiban. Di dalam tangsi, ada kantor, gudang senjata, barak tempat tinggal, dapur, istal, kantin, dan ruang olahraga. Serdadu mandi di sebuah ruangan besar dengan bak mandi panjang. Di luar kompleks, terdapat lapangan tembak dan baris berbaris serta lapangan untuk apel prajurit. Semasa pendudukan Jepang, tangsi-tangsi itu dipakai untuk menampung tawanan. Sejak 1949, tangsi-tangsi tinggalan Belanda diserahkan kepada TNI ( Rocher & Iwan Santosa, 2016; 208 ). 
Rumah-rumah tua di sepanjang jalan Urip Sumoharjo, Purworejo (depan gedung DPRD). Rumah-rumah ini dahulu ditempati oleh para opsir militer berpangkat kapten. Sayangnya banyak bangunan rumah yang terlantar. Bangunan-bangunan ini sebisa mungkin segera diselamatkan karena lokasinya yang strategis membuatnya rawan dibongkar untuk bangunan baru.
Selama saya menyusuri jalan ini, terlihat deretan rumah-rumah tua yang dulu pernah dipakai untuk para perwira militer Belanda. Sayang, beberapa rumah-rumah tua itu ada yang sudah rusak, menjadikan wajah pusat kota Purworejo kurang sedap dipandang. Seandainya rumah-rumah tersebut masih lestari dengan baik, mungkin wajah pusat kota ini akan terlihat cantik. Untunglah, tahun ini ( 2017 ), rumah-rumah tua itu mulai dipugar.
Rumah sakit DKT Purworejo.
Salah satu rumah tua di jalan Sapta Marga, tepatnya di depan kompleks RS. DKT. Di sepanjang jalan ini, terdapat 8 rumah dengan bentuk yang serupa dengan rumah ini. Rumah yang tergolong dalam tipe kopel (dua rumah dalam satu atap) ini dahulu menjadi rumah dinas opsir militer berpangkat letnan
Saya berbelok ke Jalan Panca Marga. Di seberang deretan bangunan kopel tua, terdapat sebuah rumah sakit militer yang kini menjadi RS DKT. Sebagaimana kota garnisun, di kota Purworejo dapat ditemukan rumah sakit yang sejatinya dikhususkan untuk kepentingan militer. Kendati ia diperuntukan untuk kalangan militer, namun di masa kolonial, rumah sakit yang didirikan tahun 1915 ini menjadi jujugan orang Eropa dan pribumi papan atas karena pelayanannya dianggap memuaskan. Oleh karena itulah pada tahun 1919 rumah sakit ini tidak diperkenankan menerima pasien di luar kalangan militer kecuali rumah sakit zending sudah penuh. Beberapa saat sesudah kemerdekaan, rumah sakit ini sempat menjadi kamp internir untuk orang-orang Eropa.
Bekas kantin militer yang kondisinya rusak parah.
Dari Jalan Panca Marga, saya menyeberang ke Jalan Ksatrian. Jalan ini merupakan akses utama ke kompleks Yonif 412, sebuah kompleks militer yang menempati bekas tangsi militer Belanda. Di depan kompleks itu, terdapat sebuah gerbang besar dengan sengkalan 1918 yang terpampang di atas pintu masuk. Tentara dengan seragam hijau loreng berjaga di depan pintu masuk, tanda bahwa kompleks itu tidak dapat sembarangan dimasuki orang. Di ujung Jalan Ksatrian, terdapat sebuah bangunan tua dengan kondisi yang memprihatinkan. Itulah bekas kantin militer. Di tengah kehidupan tangsi yang monoton dan suntuk, kantin militer serasa menjadi surga tersendiri. Di tempat itulah, para serdadu Belanda mencari kesenangan sesudah latihan atau bertugas. Di sana, mereka dapat menonton pertunjukan sandiwara, film, atau memesan minuman keras yang telah diatur porsinya. Di sini masih bisa ditemukan bekas sebuah ruang proyektor, lalu ruang penonton dengan lantai berundak agar penonton di belakang tidak terhalang oleh penonton di depannya, dan panggung untuk memutar film atau untuk menampilkan pertunjukan sandiwara. Sebelum rusak, bangunan ini digunakan sebagai Balai Prajurit dan warga sekitar sering menggunakan bangunan ini untuk kegiatan masyarakat.
SMA N 7 Purworejo,dulu Hoogere Kweekschool Poerworedjo.
Berikutnya, saya kembali ke Jalan Urip Sumoharjo. Persis di seberang barat kompleks militer, terdapat sebuah kompleks sekolah peninggalan Belanda yang kini ditempati SMA N 7 Purworejo. Sekolah yang dulu bernama Hoogere Kweekschool Poerworedjo itu hanya satu dari sekian sekolah yang dibuka oleh Belanda di beberapa sudut kota Purworejo ( ulasan lebih lengkap tentang HKS Purworejo dapat dibaca di " HKS Purworejo, Tetenger Pendidikan Guru di Indonesia " ). Hoogere Kweekschool Purworejo adalah sekolah yang sangat kondang di masanya. Ia bisa disejajarkan dengan Tehnicshe Hoogeschool ( kini ITB ) di Bandung. Bedanya Hoogere Kweekschool Purworejo melahirkan para guru-guru yang berjasa di dunia pendidikan. Tak mengherankan jika Purworejo disebut sebagai kota pusat pendidikan. Keberadaan institusi pendidikan di Purworejo sejatinya sudah hadir bahkan sejak kota itu dibangun. Kala itu, sebuah sekolah dibuka di kompleks tangsi Kedungkebo untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak dari keluarga serdadu Belanda yang masih aktif atau yang sudah pensiun. Perkembangan pendidikan di Purworejo kian pesat setelah politik etis diterapkan di Hindia-Belanda pada awal abad ke-20, ditandai dengan semakin banyak sekolah yang dibuka di Purworejo, baik yang dibuka oleh pemerintah maupun dari lembaga zending dan misi. Sekolah-sekolah itu antara lain Inlandsche School (SD N 1 Purworejo), Chr. Hollandsch. Javaansche School (SMP N 4 Purworejo), Hollandsch Inlandsche School (SMP N 1 Purworejo), Hollandsch Chineese School (SMP Widhodo), dan Lageree Europesche School (SMP N 2 Purworejo). Di sekolah-sekolah itulah orang Belanda atau pribumi yang mampu menyekolahkan putra-putri mereka.
SMP N 2 Purworejo, dulu Lageree Europesche School.
SMP N 1 Purworejo, dulu Hollandsch Inlandschool, sekolah dasar yang diperuntukan untuk orang Eropa dan pribumi yang mampu.
SD N 1 Purworejo, dulu Inlandsche School. Di dalam SD ini terdapat sebuah ruang kelas yang bangku-bangkunya masih asli dari zaman dahulu.
SMP N 4 Purworejo, dulu Chr. Hollandsch Javaansche School.
Dari kompleks SMA N 7 Purworejo, saya menyusuri Jalan Mayjend. Sutoyo yang dinaungi oleh rindangnya pohon-pohon asam tua yang sudah menjulang sedari zaman Belanda, menjadikan jalanan kota Purworejo terasa sejuk dan teduh di mata orang Eropa. Tidak heran jika mereka menyanjung Purworejo sebagai tempat terbersih dan terindah di selatan pulau Jawa. Salah satu dari mereka, Van Gelder, yang pernah mengunjungi Purworejo di tahun 1893, menulis :

Tempat yang memiliki jumlah penduduk sekitar 12.000 jiwa ini merupakan salah satu tempat terbersih di Jawa. Sisi kanan dan kiri jalan ditanam dengan pohon asam. Rumah bupati dan residen merupakan sebuah bangunan yang indah ” (Gill. G. Ronald, 1990; 216).

Becking dalam tulisan berjudul Eene Beschrijving van Poerworedjo en Omstreken yang diterbitkan dalam majalah Indie menyebutkan Purworejo "memiliki jalan jalan yang lebar, dipayungi oleh pohon asam dan kenari yang tua".
Suasana  jalan di Purworejo pada tahun 1905. Suasana jalan seperti ini memikat hati para pengelana dari Eropa seperti Van Gelder dan Van Veth. Hingga saat ini, beberapa ruas jalan di Purworejo masih dapat ditemukan pohon-pohon asam yang menjadi peneduh jalan (sumber : media-kitv.nl).


Pohon asam tua yang masih berdiri tegak di tengah kota Purworejo. Pohon-pohon inilah yang membuat para pengelana Eropa memuji Purworejo sebagai tempat terbersih di Jawa.
Di sepanjang jalan itu, berdiri beberapa bangunan bergaya kolonial yang dahulu digunakan sebagai kantor-kantor ambtenar atau pamong pemerintah kolonial seperti Waterstaat Kantoor (Kantor BKSDA), Irrigatie Kantor (Dinas Pengairan), Landraadgebouw (Museum Tosan Aji) dan Djaksaakantoor (Satlantas Purworejo,eks Polres Purworejo). Beruntung, beberapa bangunan ini wujud aslinya masih terlihat sampai sekarang. Apabila berbelok ke Jalan Makam Kerkhof, di ujung jalan itu terdapat permakaman yang menjadi tempat peristirahatan terakhir orang-orang Belanda. Di permakaman itu masih dapat dilihat makam-makam Belanda yang sayangnya banyak yang kondisinya rusak ( ulasan lebih lengkap tentang kerkhof Purworejo dapat dibaca di " Pusara Tua nan Renta di Kerkhof Purworejo " ).
Museum Tosan Aji, dulu Landraadgebouw atau pengadilan. Di sinilah dahulu orang-orang dijatuhi hukuman untuk selanjutnya dimasukan ke penjara yang berada di depan gedung ini.
Satlantas Purworejo, dulu Djaksakantoor atau kantor jaksa. Lokasi gedung ini berada persis di samping gedung pengadilan yang sekarang Museum Tosan Aji.
Kantor Dinas Pengarian, dulu kantor dinas Irragatie. Fungsi bangunan ini tidak berubah dari waktu ke waktu, yakni sebagai kantor dinas irigasi.
Rumah yang cukup besar di jalan Mayjen. Sutoyo yang kini menjadi kantor Badan Kepegawaian Daerah. Rumah ini dahulu dihuni oleh insinyur pengairan Belanda.
Kantor BKSDA, dulu Waterstaat Kantoor.
Gapura Kerkhof Purworejo.
Sesungguhnya, masih ada banyak bangunan bersejarah lain di kota ini. Taruhalah Gereja Santa Perawan Maria yang terletak di Jalan Wahid Hasyim. Dibandingkan dengan GPIB, ia memang lebih muda. Ia baru didirkan pada tahun 1933, menempati bekas lahan kantor B.O.W (DPU-nya zaman Belanda) sebelum dibeli oleh pastor ordo Serikat Jesuit dan selanjutnya diserahkan kepada pastor ordo MSC (Tarekat Hati Kudus). Ia merupakan satu-satunya bangunan kolonial di Purworejo yang dibikin oleh arsitek professional dari biro arsitek Hulswit, Fermont en Cuypers. Selain gereja ini, rata-rata bangunan yang ada di Purworejo dirancang oleh arsitek amatiran dari zeni militer, pemborong Tionghoa, atau dari B.O.W. Gereja ini diresmikan dan diberkati pada tanggal 13 Agustus 1933 oleh Mgr. B. J. J Visser M. S. C. Di sebelah utara gereja ini terdapat kompleks pastoran, bruderan, susteran dan sekolah.
Gereja Katolik Santa Perawan Maria.
Sebuah prasasti yang terpahat sudut luar gereja. Prasasti ini menunjukan arsitek yang merancang gereja ini, yakni biro arsitek Fermont en Cuypers.
Di tengah kota Purworejo, tengara bangunan kolonial lain berupa stasiun masih ada meski sekarang tidak dipakai lagi. (ulasan lebih lengkap mengenai stasiun ini dapat dibaca pada Membongkar Ingatan di Stasiun Purworejo )
Stasiun Purworejo.


Zending Hospitaal yang didirkan oleh lembaga zending. Saat ini menjadi RSU  Dr. Tjitrowardojo. Sebagian besar bangunan sudah berubah kecuali rumah dinas dokter yang ada di sebelah barat rumah sakit.
Selain rumah sakit milik militer, di Purworejo masih ada satu rumah sakit lagi yang dirintis oleh seorang zending bernama Dr. J. C. Flach. Tanggal 15 Februari 1918, rumah sakit zending resmi dibuka untuk pasien dari masyarakat umum. Untuk menunjang pelayanannya, rumah sakit zending dilengkapi mobil ambulan yang membantu sekali saat Purworejo dilanda epidemi kolera pada bulan Juni 1918 ( Pol, 1992;264 ) Rumah sakit ini memiliki beberapa poliklinik pembantu di Bener, Loano, Kaliboto, Cangkrep, Krendetan, dan Kemanukan. Pendanaan rumah sakit zending selain disokong oleh lembaga zending juga dibantu oleh PG Jenar. Hari ini, rumah sakit zending itu dikelola oleh pemerintah daerah dan berubah nama menjadi RSU Dr. Tjitrowardojo. Bagian depan rumah sakit ini memang sudah banyak yang berubah, namun beberapa bangsal masih menggunakan bangunan lama. Di samping rumah sakit ini juga terdapat sebuah rumah tua yang dahulu menjadi rumah dinas untuk dokter.
Pasar Baledono tempo doeloe.
Jantung perekenomian Purworejo di masa lalu hingga sekarang terletak di pasar Baledono. Di pasar itulah, masyarakat Purworejo dari berbagai penjuru berkumpul untuk mengais rezeki agar dapur di rumah bisa mengepul. Beraneka barang didagangkan di pasar itu. Di pertengahan tahun 2013, si jago merah melalap habis pasar itu. Tahun ini (2017) bangunan pasar akan dibangun kembali dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya. Di sekitar pasar, dapat dijumpai deretan bangunan ruko bergaya Tionghoa (ulasan lebih lengkap mengenai Pecinan Purworejo dapat dibaca di sini " Menyusuri Warisan Budaya Tionghoa di Purworejo" 

Pejagalan hewan yang terletak di ujung jalan Jagalan, Baledono, Purworejo. Sampai sekarang masih difungsikan sebagai rumah potong hewan.
Pabrik Es Purworejo yang sudah berdiri sejak tahun 1886.
Guna memenuhi permintaan daging masyarakat Purworejo di zaman dahulu, sebuah abbatoir atau pejagalan hewan resmi milik pemerintah kolonial dibangun di daerah Jagalan, Baledono. Lokasi pejagalan dibangun di dekat kali Kedungputri untuk memudahkan pembuangan bagian hewan yang tidak dikonsumsi seperti darah.

Gedung bioskop pada tahun 1930an. Bioskop ini sekarang menjadi Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo, di perempatan jalan Pemuda dan Jalan Urip Sumaharjo. Meski bioskop ini sudah beralih rupa, namun pohon di depan bioskop masih ada hingga sekarang.
Sarana hiburan di Puworejo pada masa kolonial terbilang cukup untuk sebuah kota yang lewat jam 6 malam sudah sepi. Becking menyebutkan ada sebuah soceiteit, tempat orang-orang Eropa menghabiskan waktu senggangnya dengan bermain bilyar, minum-minum, berdansa, berkumpul dengan orang Eropa lain atau mendengarkan musik tonil. Societeit yang kini menjadi gedung DPRD Purworejo itu juga mengelola gelanggan bowling dan lapangan tenis. Tenis merupakan jenis olahraga yang digemari oleh kalangan elit Belanda. Selain tenis, para ambtenaar atau pegawai kolonial dapat mengikuti klub sepakbola, klub membaca, klub renan, dan klub berburu. Di Purworejo dulu juga pernah ada tiga buah bioskop yang dahulu oleh seorang Tionghoa. Salah satu bioskop di kemudian hari bioskop itu menjadi bioskop Bagelen sebelum akhirnya dibongkar menjadi Gedung Kesenian Sarwo Edhi Wibowo. Selain bioskop tadi, masih ada bioskop lain di kota ini, yakni bioskop Pusaka yang kini menjadi pasar swalayan Jodo dan bioskop di Jalan Buntu.
Kamar mesin pompa air di Tuksongo. Di bagian atas pintu masuk terdapat inskripsi "1925" yang menunjukan tahun pembangunan bangunan tersebut.
Salah satu gardu listrik di jalan Jenderal Sudirman tinggalan N. V Poerworedjo Electricitbedrijf. Gardu listrik ini berfungsi sebagai transformator penurun tegangan listrik dari tingkat tinggi ke tingkat yang aman bagi keperluan rumah tangga.
Untuk mendukung kehidupan masyarakat Belanda di Purworejo, maka dibangunlah berbagai sarana pendukung yang tersebar di penjuru kota. Untuk sumber penerangan, dibangun sebuah PLTA di Baledono. Airnya disadap dari saluran Kedungputri dan dialirkan melalui pipa-pipa besi besar. Listrik itu kemudian dialirkan ke rumah-rumah orang Belanda setelah dikurangi tegangannya oleh gardu-gardu listrik kecil yang tersebar di dekat kantong permukiman orang Belanda. Dengan jaringan listrik itu, maka orang-orang Belanda di Purworejo dapat menikmati gemerlapnya cahaya lampu listrik di malam hari. Sementara itu, orang pribumi harus berpuas dengan kelap temaram lampu teplok. Sementara itu, sumber air bersih orang Belanda berasal dari sumur di Tuksongo yang airnya disedot oleh rumah mesin pompa yang dibangun tahun 1925.
Rumah-rumah dinas untuk guru HKS yang ada di sepanjang jalan Ki Mangun Sarkoro. Deretan rumah tua di sini dapat dikatakan merupakan yang paling terawat di kota Purworejo.
Rumah-rumah tua yang ada di Purworejo. Dari kiri atas, searah jarum jam. Rumah tua di Jln. Sarwo Edhi Wibowo. Rumah tua di depan Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo. Rumah tua di jln. Mayjend. Sutoyo. Rumah tua di kompleks Bruderan.
Beberapa rumah-rumah tua yang ada di Purworejo. Dari kiri atas, searah jarum jam. Rumah tua di Jln. Sarwo Edhi Wibowo. Rumah tua di depan Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo. Rumah tua di jln. Mayjend. Sutoyo (dekat kantor Dinas Peternakan). Rumah tua di kompleks Bruderan.
Tersebar di setiap sudut kota, dapat ditemukan berbagai rumah-rumah tua dengan bentuk yang beragam. Nasibnyapun juga beragam. Ada yang masih terawat baik dan ada juga yang nyaris rubuh ditelan usia.
Bekas rumah dinas kepala HKS Purworejo yang masih terawat dengan baik.
Sebuah rumah lama di jalan Jenderal Sudriman, dekat perempatan Koplak. Rumah bergaya Indis ini dahulu dihuni oleh Van Frassen, seorang direktur perkebunan. Tidak ada perubahan sama sekali pada bangunan ini selain teras depan yang ditutup untuk menambah ruangan. Bangunan ini sekarang menjadi kantor GKJ klasis Purworejo. Sebelumnya rumah in menjadi SMK Widhodo.
Salah satu rumah kuno di Gang Afrikan.

Satu lagi peninggalan sejarah istimewa yang ada di Purworejo adalah Gang Afrikan. Tempo dulu, gang ini dihuni oleh Londo Ireng atau orang-orang kulit hitam dari Afrika yang didatangkan pemerintah Belanda ke Purworejo untuk bekerja sebagai serdadu. Orang-orang Afrika ini direkrut dari Kerajaan Ashanti (sekarang Guinea). Mereka direkrut karena dikenal kuat dan mudah beradaptasi dengan iklim tropis meski mereka dimata para perwira dianggap sebagai pemalas (Kessel,1995; 49). Itulah asal-usul mengapa tempat ini dinamakan Gang African. Keberadaan rumah-rumah ini menjadi bukti bahwa kota Purworejo dahulu merupakan sebuah kota yang multietnis dan semakin mempertegas keistimewaan kota Purworejo di masa lalu karena kehadiran masyarakat kulit hitam jarang sekali dijumpai pada sebuah kota di Indonesia.


Dari begitu banyaknya peninggalan masa kolonial di kota Purworejo, dapat disimpulkan bahwa ternyata kota Purworejo di masa lalu termasuk sebuah kota yang luar biasa penting, yakni sebagai pusat pemerintahan, pusat penyebaran agama, dan pusat pendidikan. Maka wajarlah jika pemerintah kolonial nyaris menjadikan Purworejo sebagai ibukota Hindia-Belanda. Daya tarik kota ini juga mendapat pujian oleh para pengelana Eropa yang pernah singgah di sini. Sayang kegemilangan Purworejo sebagai salah satu kota terbersih dan teratur di Jawa harus pensiun ketika memasuki masa modern, saat dimana secara licik pemerintah kolonial menggulingkan bupati Cokronegoro IV yang berjasa bagi rakyat Purworejo karena ia terlalu dekat dengan pergerakan nasional. Kebesaran kota Purworejo di masa lampau akhirnya telah selesai, maka wajarlah jika kota ini menyandang sebagai kota pensiun. Selama bertahun-tahun, Purworejo hanyalah terpinggirkan dalam sejarah nasional dan semakin menyedihkan jika mengetahui kalau kota ini adalah salah satu kota paling miskin di Jawa. Namun apakah pensiun berarti harus berhenti berkarya ? Epilog Profesor Peter Carey dalam bukunya Sisi Lain Diponegoro, Historiografi Perang Jawa sekiranya bisa menjadi renungan. Dengan keistimewaan Purworejo di masa lampau, akankah keistimewaan itu dibiarkan saja sehingga Purworejo menjadi kota yang datar-datar saja atau dikembangkan sebagai sebuah destinasi sejarah yang luar biasa ? Semua tergantung dari kebijakan pemerintah dan dukungan masyarkat…

Referensi

Carey, Peter. 2017. Sisi Lain Diponegoro ; Babad Kedungkebo da Historiografi Perang Jawa. Jakarta; Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia.

Gill, Ronal. G. 1990. De Indische Stad op Java en Madoera. Delft : TU Delft.

Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Kessel, Ineke van. 2005. " West African Soldiers in The Dutch Indies ; From Donkos to Black Dutchmen" dalam Jurnal Transactions in Historical Society of Ghana, No. 9 tahun 2005.

Musadad. 2001. " Dari Pemukiman Benteng Ke Kota Administrasi ( Tataruang Kota Purworejo Tahun 1831-1930 ) ". Tesis. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

---------, 2002, " Arsitektur dan Fungsi Stasiun Kereta Api bagi Perkembangan Kota Purworejo Tahun 1901-1930 ". Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. 

Radix Penadi. 2000. Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad ke XIX. Lembaga Study dan Pegembangan Sosial Budaya.


Pol.D. 1922. Onze Zendingvelden, Midden Java ten Zuiden, Utrecht ; Zendingstudie-Raad.

Suherman, Oteng dan Supriyo. 2013. Kiprah RAA Cokronegoro I Membangun Kabupaten Purworejo. Purworejo : Pustara Srirono

21 komentar:

  1. Koreksi nama jalan di dekat rumah sakit DKT bukan panca marga tapi marga cakra

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas koreksinya,nanti saya akan betulkan

      Hapus
  2. Menarik banget. Sudah lama ingin tahu seperti apa bangunan tua yang masih tersisa di Purworejo, dna ternyata ada buanyakkk banget. Fix bisa seharian atau malah lebih untuk mengeksplorasi kota kecil tapi besar sejarahnya ini. Nice share bro ^_^

    BalasHapus
  3. WIH...baru tau kalau Purworejo punya sejarah cukup erat dengan hindia-belanda, salam dari Banjarnegara

    BalasHapus
  4. purworejo banyak sekali peninggalan kolonial.cuma pemerintahnya sepertinya kurang memperhatikan nilaisejarahnya contoh nya yg di jl urip sumoharjo banyak rumah dinas yang rusak seharusnya di jaga kelestariannya,dlu waktu kecil kantin 412 juga masih bagus sering digunakan warga plaosan untuk acara2 pertemuan sekarang malah runtuh tanpa ada perawatan sungguh disayangkan...salam.

    BalasHapus
  5. Blog yang sangat bagus...
    Kebetulan saya juga suka mengamati rumah, bangunan dan tata kota eks jaman kolonial..
    Sukses selalu dan ditunggu tulisan2 berikutnya...

    BalasHapus
  6. petilasan tentara gurkha kok belum ada, pada perang dunia I kota ini dipersiapkan sebagai tempat persembunyian ratu dan raja kerajaan belanda juga belum diceriterakan. tambahin dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk soal itu, saya butuh referensi tertulis terlebih dahulu. Jika referensi tertulis sudah ketemu baru saya tambahkan. Terima kasih

      Hapus
  7. jadi terpikir untuk main ke purworejo city

    BalasHapus
  8. Info yg paling komprehensif di antara blog purworejo kuno lain mas sampai ke peruntukan bangunan indische huis pada jaman kolonial.
    Silahkan menambahkan foto2 mas di wikipedia purworejo versi indo n versi bhs inggrisnya :)

    BalasHapus
  9. sungguh sangan mengesankan tempat leluhurku MBAH CITRO pangen juru tengah

    BalasHapus
  10. wah...gedung smp-smaku masuk dalam daftar bgedung kuno (smp-sma widhodho). sayang sebagai gedung kuno kedua sgedung itu sudah mengalami perombakan yg seharusnya tidak boleh. di gedung smp, bagian depan ditambahi gedung tingkat. di gedung sma, degung utama sekarang sudah ditembok bagian berandanya padahal dulu saat aku masih sekolah beranda itu cukup luas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu bapak saya juga sekolah di SMA Widhodo.

      Hapus
  11. BanaspatiMandhito18 September 2017 00.31

    Kebanyakan gedung-gedung tua yang tidak terawat - bahkan sampai runtuh - merupakan rumah dinas militer yang memang di luar kewenangan pemerintahan sipil.
    Jadi teringat mendiang bapak yang sempat bertutur, menirukan ucapan seorang pejabat militer (jenderal) di Jakarta yang mengatakan bahwa tidak satu jengkal pun tanah milik TNI yang akan dijual / diserahkan ke pihak lain.

    BalasHapus
  12. WauooOW ! masa kecilku di kota tercinta Purworejo Kedu.
    Ortu dulu tahun 40an rumah di Jl. Kesatrian no 1.
    Sekolahku di SR /SD Negeri 10 Kontroliran, 1 gedung dengan SR / SD Negri 1, belakang Gereja GPIB Alun-alun. Dan lanjut ke SMPN 3 / Sekarang SMPN 4, sebelah gedung bioskup Bagelen. di SMP cuma sampai klas 2, terus kembali sekolah di SMP Kristen Solo, lanjut ke SMK Kanisius di Semarang.
    Meski asli Solo, tapi ada banyak banget kenangan yang takkan terlupakan.
    Sampai sekarang saya masih sering ke Purworejo, masih ada mbakayu kandung tinggal di Kapelmen, Romo Ibu juga di makamkan di Kerkhof Purworejo. Makanan favorit, 'geblek' sambel pecel, klanthing, gethuk dan dawet ireng. Kapan-kapan mau nostalgi mancing di Kali Bogowonto.
    Terima kasih sudah berbagi kenangan kota Purworejo.
    Salam.
    Cinta Renjana (67thn) Penulis. usia pensiun tinggal di Salatiga.

    BalasHapus
  13. Sebagai pelengkap dokumentasi saya mengapresiasi isi blog ini. Namun kadang terlintas juga rasa haru dan 'nyeri di dalam kedalaman hati', sebab bangunan jejak kolonial itu berdiri di atas derita panjang rakyat pribumi (baca : pahlawan2 tak dikenal dan tak tercatat), yang menjadi korban / tumbal kala gugur sebagai pasukan - pendukung Pangeran Diponegoro kala melawan kelicikan kolonialisme Belanda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kolonialisme jelas meninggalkan luka yg begitu dalam, tapi jangan salahkan Bangunan nya. ia hanya benda mati, yg harus dilawan adalah sikap ketidakadilan dan kesewenangan. Bagi saya, bangunan2 itu justru adalah bentuk perjuangan kita bagaimana perjuangan kita merebut bangunan yg semula milik penjajah, bisa menjadi milik bangsa Indonesia. Salam

      Hapus
  14. Salam kenal mas.. Saya Rizky asal Jakarta, asal usul buyut desa Bener Purworedjo.
    Saya ada artikel mengenai jejak kolonial yang lain http://www.sama.id/2018/06/13/memang-pemerintahan-belanda-ada-di-indonesia-tidak-yang-ada-perusahaan/, dan menurut saya sebagai reverensi yg bagus untuk dapat lebih mengenal peranan wilayah Purworedjo khususnya desa Bagelen selain sejarah yg lain yg sudah ada. Semoga mas dpat membantu mendapatkan lebih banyak lagi tambahan reverensi mengebai sejarah Purworedjo.

    Salam

    BalasHapus
  15. Bagus sekali tulisan sejarah ini. Pemerintah sendiri malah mungkin tidak menghargai sejarah besar Purworejo. Terbukti sudah banyak gedung peninggalan jaman Hindia Belanda yg tidak kita sadari sebelumnya telah rusak dan hilang. SD negeri Doplang sekolahku dulu juga bangunan peninggalan jaman Hindia Belanda dengan bangku-bangku khas dari kayu jati gede-gede, meja dan bangku jadi satu, sekarang sudah hilang tidak membekas. Kepada masyarakat dan pemerintah Purworejo saya menyarankan untuk memelihara dan mengembangkan, memperbaiki gedung dan tempat bersejarah yang dapat dijadikan dan dikembangkan sebagai obyek obyek wisata bersejarah. Mungkin bisa lebih besar dan lebih luas dari wisata lawing sewunya Semarang atau Kota Tua-nya Jakarta. Gaasan ini mudah-mudahan di dengar dan di wujudkan oleh departemen pariwisata Purworejo yang miskin akan obyek wisata dan dapat dijadikan pemasukan pajak dan pendapatan masyarakat sekitar. Tolong bantu buat semuanya untuk menyampaikan hal ini kepada Pemerintah Purworejo. Semoga jaya Purworejo dengan obyek wisata barunya. Terimakasih

    BalasHapus